3 Years Leter
Sungmin POV
Aku sedikit kesal dan ragu membaca undangan ditangan ku. Aku bahkan sudah mengatakan pada Kibum jika aku tidak ingin menghadirinya. Tidak ada gunanya dan yang ada aku hanya akan selalu diingatkan oleh kenangan-kenangan menyakitkan itu. Tapi gadis ini benar-benar bersikeukeh untuk membujuk ku.
"Sampai kapan kau akan menghindar Sungmin ?"
Aku menghela nafas panjang ku dan mendongak kearah langit yang cukup cerah. "Masih terlalu sulit untuk ku bum-ah."
Aku menyampingkan kepala ku menghadap Kibum yang duduk disebelah ku.
"Hanya karena orang itu, kau tidak hadir ? itu sungguh keterlaluan."
Aku tersenyum kecut ketika Kibum mengatakan kata 'Orang itu'. Ya, aku tahu jika Kibum berusaha tidak menyebut nama Kyuhyun didepan ku. Lalu apa pengaruhnya, nama itu sudah terlalu melekat diotak dan hati ku. Selalu menyakitkan, sampai kadang aku menggumamkan namanya disetiap tidur ku.
"Ya, aku tidak ingin melihatnya lagi." Aku berbohong, aku ingin sekali melihat Kyuhyun tapi hati ku sudah terlalu sakit.
Kibum menggenggam tangan ku begitu erat seolah memberikan kekuatan lebih didalamnya. "Kau pasti bisa menghadapinya. Lagi pula Kangin selalu bersama mu."
Mata ku kembali memanas, rasanya hati ku bergejolak mendengar kata 'Selalu' bersama Kangin. Dia terlalu baik dan aku juga tidak tahu harus bagaimana membalas semua perlakuannya terhadap ku selama ini.
*Flashback ON*
Ini bahkan sudah 3 tahun beralalu semenjak kejadian itu, dimana hari kami berpisah. Hari dimana Taemin mengalami kecelakaan yang Kyuhyun tuduhkan pada ku.
Taemin sempat tak sadarkan diri beberapa hari waktu itu. Semua orang hampir putus asa dan kami memutuskan untuk membawa Taemin ke Seoul kembali untuk mendapatkan perawatan lebih baik. Setelah koma selama 5 hari akhirnya Taemin sadar dan semua orang menangis terharu karena merasa lega melihat gadis stoic itu bangun kembali. Dokter mengatakan jika tidak hal serius lagi yang mungkin akan dialami Taemin dan berangsur-angsur Taemin kembali pulih.
Aku dan kedua orang tua ku sempat menjenguknya beberapa kali dan meminta maaf atas semua kejadian tersebut namun tanpa aku duga Taemin memeluk ku dan mengatakan jika ia benar-benar menyesal dan meminta maaf.
"Aku sudah mendengarnya, kalian berpisah. Maafkan aku Sungmin, aku tidak bisa meyakinkan Kyuhyun. Maaf.."
Aku sedikit meringis merasakan jika luka dihati ku semakin dalam ketika Taemin mengatakan ia berusaha menjelaskan pada Kyuhyun tapi namja dingin itu bahkan tak merespon apapun.
Selama berhari-hari aku menunggu Kyuhyun datang padaku dan mengatakan jika ia menyesal ingin kembali pada ku. Jika saja Kyuhyun mengatakan tersebut aku akan memaafkannya dan kembali padanya tapi tak ada hal yang bisa kuharapkan dari namja dingin itu. Semua berlalu begitu saja, aku benar-benar tampak seperti orang sinting setiap harinya. Datang kesekolah dengan muka yang cukup mengenaskan. Mata ku sembab dan lingkaran mata hitam menghiasi mata ku. Dan betapa terkejutnya aku, karena berpisah dari Kyuhyun berat badan ku turun drastis nafsu makan ku tak sebanyak dulu, ibu ku sampai mengkhawatirkan keadaan ku yang semakin parah. Rasanya sudah tak ada hal lagi yang kuinginkan didunia ini. Semua terasa hambar.
Sampai Kangin datang menyadarkan ku dari mimpi buruk itu. Dia seolah menampar kesadaran ku, jika semua sudah berlalu dan tak ada hal bisa diperbaiki lagi. Saatnya membuka lembaran baru kembali bukan menyesali dan terus menangisi masalalu. Namja urakan seperti Kangin bisa menjadi sandaran yang nyaman untuk ku. Entah kenapa aku sedikit merasa nyaman didekatnya mesti tak kupungkiri nama Kyuhyun masih terpatri dihati ku. Setidaknya bersama Kangin aku bisa melewati masa-masa sulit ku tidak sendiri. Kangin selalu menggenggam tangan ku ketika aku hendak terjatuh kembali dan ia selalu mengatakan.
"Semua baik-baik saja, cukup genggam tangan ku min."
Namun dari sekian kejadian tersebut aku sedikit merasa lega melihat Minho dan Taemin yang tak berujung sama dengan ku. Setidaknya mereka sudah berbaikan. Bahkan sebelum Ujian Nasional mereka memutuskan untuk bertunangan. Minho mengatakan jika ia berniat membawa Taemin ke Jepang tinggal bersamanya setelah mereka lulus nanti.
Selama ujian berlangsung aku bahkan tak pernah melihat Kyuhyun dimanapun. Kewarasan ku bahkan hampir hilang ketika aku benar-benar merindukannya, aku nekad untuk menemuinya meski dari jarak jauh sekalipun namun Kyuhyun benar-benar tak bisa kutemukan dimanapun.
Fakta yang lebih mengejutkan lagi ketika aku mendengar jika Kyuhyun tak lagi tinggal bersama Jaejoong ajuma. Namja dingin itu benar-benar membenci ku sampai tak ingin melihat ku lagi.
Malam itu aku menangis kembali dan keputusan Kyuhyun pindah dari rumahnya sendiri membuat ku tersadar jika Kyuhyun benar-benar muak melihat ku yang selalu berputar-putar didepannya. Mungkin Kyuhyun sudah tak ingin melihat ku lagi jadi kuputuskan tidak akan lagi mengikutinya. Mengikuti kata hati ku yang selalu mengatakan jika aku merindukannya dan mencintainya. Sudah kuputuskan jika hari itu aku akan berhenti mencintainya.
*Flashback Off*
Dan sialnya, selama 3 tahun berlalu pun perasaan ku tak pernah berubah. Aku masih, tidak aku memang mencintainya. Aku masih berharap bertemu dengannya. Meski hanya dari jarak jauh sekalipun, kumohon muncullah lagi untuk sekali lagi dihadapan ku. Tapi aku juga takut jika perasaan ku yang sudah kujaga goyah kembali ketika melihatnya nanti.
Makanya setelah Kibum membujuk ku untuk menghadiri acara reuni angkatan kami aku memikirkan semalaman dan aku fikir aku tidak harus mengorek masa lalu ku. Aku sudah terlalu lelah jatuh berkali-kali dihadapan Kyuhyun. Lagi pula dia mungkin tidak akan melihat ku lagi.
Apa gunanya aku berharap, semuanya hanya akan jadi khayalan ku saja dan berakhir menyakitkan.
"Kangin mungkin akan sibuk dengan restorannya. Kau tahu bukan ?"
Setelah lulus High School dulu, Kangin memang memutuskan untuk meneruskan bisnis ibunya memegang kendali restoran keluarganya sendiri. Tidak seperti aku dan Kibum yang meneruskan untuk masuk universitas. Sayangnya aku tidak satu universitas dengan Kibum ataupun Eunhyuk. Mereka semua masuk ke universitas Kyunghee sedangkan aku hanya bisa masuk ke universitas Param.
Kyuhyun juga satu universitas dengan Kibum hanya saja aku baru tahu jika Kyuhyun sangat menyukai music sampai ia mengambil jurusan music modern disana. Bandnya yang ia berinama Kyu-Line bahkan sudah terkenal sampai ketelinga universitas kami.
"Ya, baiklah. Terserah kau saja, tapi aku berharap kau bisa datang nanti." Kibum beranjak dari tempat duduknya dan berdiri dihadapan ku. "Aku harus pergi, aku ada mata kuliah nanti. Sampai jumpa Sungmin."
Kulihat tubuh Kibum semakin mengecil dari jarak pandangan ku, sepertinya ia sudah hampir menghilang dari pandangan ku.
Aku juga ada hal yang harus kulakukan. Ya, jam kuliah ku juga akan segera dimulai tapi setidaknya aku tidak perlu bersusah payah menempuh jarak jauh seperti Kibum karena aku hanya perlu meninggalkan taman universitas ku ini.
Sungmin POV END
**********CL***********
Sungmin membuka loker miliknya berniat meletakan undangan reuni tadi. Tidak ada gunanya ia bawa kemanapun undangan tersebut jika pada akhirnya akan selalu sama. Berakhir ditong sampah.
Sungmin memekik kaget ketika menutup pintu lokernya karena ulah seseorang yang berdiri tepat disamping lokernya.
"Kau ! menyebalkan sekali, kau membuat ku kaget !" Semprot Sungmin pada namja disampingnya yang masih memasang wajah tak bersalah.
"Hehe, jangan marah seperti itu dong sunbe, kau bertambah manis ketika marah." Rayu namja muda tersebut.
" Diam kau Won ho !" Sungmin begitu jutek dan mengabaikan pemuda disampingnya tersebut.
"Yaa kenapa sunbe selalu mengabaikan ku eoh ?" Won ho mencegat tangan Sungmin yang hendak meninggalkannya.
"Karena kau menyebalkan ! Lepas !"
"Tidak, aku tidak mau. Lalu kau mau apa ?"
Sungmin menggigit bibir bawahnya, terlalu lelah menghadapi juniornya yang satu ini. Terlalu keras kepala dan tidak tahu diri. Ya, Shin Won Ho, namja yang usianya lebih muda 2 tahun dari Sungmin tersebut memang tak henti-hentinya menyatakan cinta padanya namun Sungmin sudah menolaknya berkali-kali pula namun sepertinya itu malah membuat namja jangkung tersebut semakin bersemangat mengejar Sungmin.
"Kau ingin mati ya ?" Teriak lantang seseorang dari arah belakang Sungmin.
Keduanya langsung menengok dan menatap kearah sumber suara tersebut.
"Aish apa lagi ini !" Gumam Sungmin begitu pelan.
"Yaa Shin sialan, lepaskan tangan mu dari Sungmin ku !" Ancam namja tersebut dari kejauhan.
Sungmin begitu merutuki nasibnya yang begitu menyedihkan dan malang. Malang karena ada 2 pemuda yang mengejar-ngejarnya tanpa tahu malu dan mengklaim bahwa ia kekasih atau milik mereka. Hey, mereka fikir jika Sungmin itu barang. Menyebalkan sekali bukan.
Kadang Sungmin dibuat geram dan pusing dengan kelakuan Junior dan Seniornya tersebut yang terus-terus merebutkannya. Sudah Sungmin katakan jika ia tidak tertarik pada salah satu mereka namun mereka masih saja belum menyerah.
Namja kekar tersebut langsung melepaskan cekalan tangan Won ho dan menyeret Sungmin agar berlindung dibelakang tubuhnya.
"Kau ini apa-apaan sunbe, kami baru saja akan berkencan. Kau ini keterlaluan." Sewot Won ho pada sosok tegap didepannya tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kau bermimpi saja anak kecil, mana mau Sungmin berkencan dengan mu."
Sungmin sudah cukup jengah mendengarkan pertengkaran mereka setiap hari apalagi ditambah dengan kejadian hari ini. Tentang undangan reuni tersebut membuat fikirannya kacau dan apa lagi ini, rasanya ia ingin marah bila perlu menghajar seseorang.
Belum sempat Won ho membalas perkataan Sunghyun, namja bertubuh kekar tersebut, Sungmin terlebih dahulu berteriak marah.
"Kalian ini kenapa ? Aku bukan kekasih kalian. Cukup melakukan ini, aku sudah cukup pusing ! jangan membuat ku marah lagi !" Semprot Sungmin dan langsung menepis kasar genggaman tangan Sunghyun.
"Menyebalkan !" Gerutu Sungmin sebelum benar-benar meninggalkan Won ho dan Sunghyun yang masih tercengang.
Keduanya saling menatap kemudian membuang muka satu sama lain.
"Eih bocah karena kau Sungmin ku marah !"
"Apa ? Itu semua karena kau sunbe. Tindakan mu sungguh kampungan !"
Selanjutnya hanya ada pertengakaran keduanya yang tak henti-hentinya menjadi bahan tontonan mahasiswa-mahasiswi lainya.
Sepanjang koridor menuju kelasnya, Sungmin tak henti-hentinya menggerutu akibat ulah senior dan juniornya tersebut Sungmin menjadi bahan pembicaraan. Ia begitu risih karena tak nyaman dengan pemberitaan miring terhadapnya tersebut.
Siapa yang tak kenal dengan Shin Won Ho namja tampan dan berotak encer berasal dari fakultas kedokteran yang baru saja memulai semester ke 2-nya tahun ini dan Choi Sunghyun namja bertubuh atletis yang begitu jago membuat komik. Bisa dibilang keduanya memang cukup terkenal di universitas param jadi tak salah jika banyak fangirl yang memuja mereka berdua.
Sungmin bahkan tak mengira jika keduanya begitu menyukai dirinya sampai tak tahu malu terus-menerus mengejarnya meski ia sudah menolaknya.
Kadang Sungmin merasa jika keduanya selalu mengingatkannya pada dirinya yang lama. Cinta bertepuk sebelah tangan. Karena itu Sungmin hanya tak ingin membuat harapan apapun untuk keduanya karena ia benar-benar tak merasakan apapun pada salah satunya.
Meski Won ho kadang mengingatkannya pada Kyuhyun, entah kenapa Sungmin merasa jika Won ho memiliki beberapa kesamaan dengan Kyuhyun. Cara mereka tersenyum jahil atau gaya sok cool Won ho begitu sangat mengingatkannya pada Kyuhyun. Sungmin bahkan pernah membayangkan jika Won ho itu Kyuhyun. Namun tetap saja mereka tak sama, karena Won ho tak sedingin Kyuhyun bahkan Won ho seperti kebalikan Kyuhyun, namja muda tersebut tampak konyol dan penuh percaya diri jika Sungmin ingat-ingat lagi.
Bahkan semenjak pertemuan mereka yang pertama saat digerbang sekolah Kirin high School dulu, Sungmin sedikit kesal karena pernyataan Won ho meski namja tersebut menyelamatkannya.
Shin Won Ho bahkan dengan terang-terangan mengatakan jika ia sejak awal sudah tertarik dengan Sungmin semenjak pertemuan mereka yang dulu. Bahkan tanpa Sungmin ketahui ia sudah mengikuti Sungmin semenjak dulu bahkan ia rela masuk ke universitas param hanya demi Sungmin.
.
.
"Wah...daebak ! Aku harus melihatnya." Gadis berambut sangat pendek tersebut menatap takjub dengan selembaran ditangannya. Tanpa henti-hentinya ia terus mengembangkan senyumnya melihat selembaran tersebut.
Brakkkk
Dengan kasarnya seseorang yang duduk didepannya meletakan tas ranselnya diatas maja begitu keras sampai berbunyi lantang. Namun tak seorangpun didalam kelas tersebut berniat memprotes karena melihat aura gelap dari yeoja tersebut.
Namun tidak dengan yeoja berambut pendek itu yang tersenyum jahil kemudian dengan sengaja menepuk keras bahu temannya tersebut.
"Yaa sakit !" Sungmin mendelik tak suka kearah belakangnya mendapati sosok tomboy tersenyum tanpa bersalah. "Kau ini apa-apaan sih, membuat mood ku bertambah buruk !" Semprot Sungmin. Tampaknya Sungmin benar-benar ingin menghajar seseorang.
"Yaa Amber-ah, kau sungguh keterlaluan." Bela temannya yang lain disebelahnya.
Amber tersenyum kecut, "Aku hanya ingin menyapa saja kok." Ucapnya begitu cuek.
"Tapi tak perlu seperti itu, Sungmin bermuka seperti itu pasti ia sedang dipusingkan dengan dua pangeran itu."
Sungmin kini mendelik tak suka kearah Luna. "Kalian ini sebenarnya teman ku atau bukan sih ? menyebalkan sekali." Sungmin mengerucutkan bibirnya sebal.
"Hahah," Amber dan Luna tertawa bersamaan.
"Eh tapi aku lebih suka kau memilih Shin Won Ho dibandingkan dengan senior Choi." Pikir Luna membayangkan jika Sungmin bisa menjalin hubungan dengan juniornya sendiri.
"Apa ?" Sungmin membeo.
"Eh, kau tidak tahu ya? Sigila Luna ini pendukung Won-Min couple." Jelas Amber.
Sungmin semakin mengerutkan dahinya tak faham dengan arah pembicaraan mereka berdua. "Hah ? aku tidak mengerti."
"Pabbo-ya !" Amber refleks mengumpat. "Won-Min, kau tidak tahu ?"
Sungmin menggelengkan kepalanya dengan cepat sedangkan Amber menepuk jidatnya sendiri. Luna sendiri masih asyik berkhayal.
"Itu, Won-Min semacam singkatan nama Won ho dan nama mu. Mereka juga ada yang membuat Hyun-Min."
Sungmin terperangah mendengarkan penjelasan Amber mengenai couple-couple tersebut. Ia bahkan sudah bisa menebak jika singkatan Hyun-Min adalah Sunghyun dan Sungmin. Gila, mereka bahkan bukan sepasang kekasih.
"Bukankah bagus ? Aku rasa kau cocok dengan Won ho. Dia tampan dan jenius, kau benar-benar beruntung min." Luna mulai merancau dan terlalu bersemangat menjodohkan Sungmin denga junior mereka tersebut.
Sungmin memutar bola matanya malas. "Lupakan, aku tidak tertarik."
"Yah, kau ini tidak asik sekali. Setidaknya kau harus memilih salah satu dari mereka."
"Sudalah jangan gila, Sungmin ini sudah memiliki kekasih bodoh !" Sembur Amber pada Luna. Luna terkaget mendengarnya.
"Benarkah ?"
"Apa ?"
Luna dan Sungmin berbarengan menatap Amber. Amber yang ditatap seperti itu sedikit merasa aneh. Apa ia berkata salah.
"Apa ? Bukankah kau sudah memilikinya min?"
"Aku tidak." Sanggah Sungmin begitu cepat.
Amber mengerutkan dahinya. "Lalu siapa namja yang sering mengantar mu ? tidak mungkin dia supir mu bukan ?"
Amber yakin jika ia memang sering sekali melihat Sungmin kerap diantar maupun dijemput oleh seorang namja.
Sungmin membuang nafasnya, ia hampir menduga-duga siapa yang Amber maksud. "Dia teman ku, hanya teman." Jelas Sungmin.
"Benarkah ? wah baik sekali teman mu itu, aku iri." Sindir Amber mengisyaratkan sesuatu.
"Benar, dia terlalu baik." Gumam Sungmin bernada kecil.
"Weh, kau mau melihat konser amal di fakultas seni music tidak ?" Luna jengah mendengarkan pembicaraan selain couple yang ia suka dan berusaha mengalihkan pembiraan tersebut.
"Oh ya benar, kau tahu tidak siapa yang akan datang ?" Kini Amber ikut antusias membicarakannya.
"Hm, aku tidak tahu."
"Kyaaaa itu Kyu-Line. Mereka sangat keren, aku ingin melihat mereka !" Amber bersorak dan membuat gerakan energic.
DEG !
Perasaan Sungmin berdesir aneh mendengar kata Kyu-Line. Bukankah itu nama band yang Kyuhyun dirikan. Berarti ia akan bertemu dengan Kyuhyun. Sungmin tak tahu tahu harus bagaimana.
Amber menghentikan euforianya ketika melihat wajah tegang Sungmin. "Kau ini kenapa ? kau pasti grogi ya hahah aku juga kkkk." Dengan polosnya Amber beramsusi seperti itu.
Sungmin hanya tersenyum kikuk dan tak berniat merespon membiarkan Amber berfikir sesuka hatinya.
"Wah Kyuhyun memang terlihat dingin diantara yang lain, aku heran bagaimana tipe wanitanya seperti apa ? Atau jangan-jangan dia itu..." Luna tersenyum jahil kearah Amber sedangkan gadis tomboy tersebut bisa menebak pikiran konyol sahabatnya tersebut.
"Gay ? hahhaha jangan gila kau !" Amber memukul keras kepala Luna sampai membuat yeoja berambut sebahu tersebut meringis kesakitan.
"Dia tidak seperti itu !" Bela Sungmin dengan perasaan menggebu-gebu.
"Aish ini sakit sekali." Luna menggerutu, "Aku hanya bercanda tenanglah kalian."
"Kau ini, bisa tidak berfikiran waras?" Amber mendumel tak terima jika idolanya dijatuhkan seperti itu meski ia tahu Luna hanya bercanda. Harus kalian tahu jika Amber memang sangat mengidolakan Kyuhyun.
"Maaf..." Gumam Luna begitu bersalah.
"Sudahlah kalian kenapa, jangan bertengkar lagi." Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya tersebut. Sungmin membalikan tubuhnya kembali ketika sudah tak berniat bergosip dengan keduanya.
"Tapi kudengar Kyuhyun sempat berkencan dengan yeoja saat High School dulu..." Bisik Amber pada Luna masih belum selesai bergosip. Sungmin sebenarnya tidak ingin mendengarkan obrolan mereka hanya saja suara bass Amber begitu menganggu. Dan satu hal yang tak mereka ketahui jika Sungmin merupakan mantan kekasih Kyuhyun.
"Ya, aku juga mendengarnya. Kudengar yeoja itu yang mengejar-ngejar Kyuhyun." Tambah Luna.
Sungmin mengerutkan dahinya, berita tersebut bahkan sampai terdengar disekolah lainnya tapi entah kenapa namanya tak tercantum hanya mengatakan 'Yeoja Itu'. Menyebalkan bukan. Mereka membicarakan dirinya didepannya sendiri.
"Ya benar, kasian sekali dia. Cho Kyuhyun itu terlalu dingin, dia pasti sangat berusaha keras. Tapi bagus mereka putus, artinya kita masih mempunyai kesempatan bukan ?" Guyon Amber tanpa tahu jika sahabat didepannya tengah meringis merasakan perih dihatinya.
"Kau saja dengan Sungmin. Aku tidak tertarik dengan manusia es itu. Aku lebih suka Jonghyun heheh dia tampak manis." Jelas luna, lebih memilih Jonghyun salah satu anggota Kyu-Line band lainnya.
"Hahah baiklah, kau tidak boleh menarik ucapan mu itu ! Hey Sungmin, bagaimana dengan mu ?" Amber menepuk bahu Sungmin kembali. Namun Sungmin tak berniat menolehkan kepalanya.
"Aku tidak tertarik." Ucapnya begitu berdusta.
"Hah baguslah...aku bisa memilikinya sendiri." Ucap Amber begitu menggebu-gebu.
'Miliki saja, jika kau bisa meruntuhkan dinding besar dihatinya.'-Sungmin.
*************CL*************
Sungmin tertawa kecil bergurau bersama Amber dan Luna sepanjang jalan menuju gerbang universitas mereka. Dari kejauhan namja tersebut menatap senang melihat Sungmin tengah bergurau dengan sahabat-sahabatnya. Namja tersebut keluar dari mobil pribadinya dan melangkah mendekat kearah ketiga yeoja muda tersebut.
Seketika tawa ketiganya terhenti melihat sosok namja tampan didepannya tersebut tersenyum ramah kearah mereka.
"Hai !" Sapanya pada ketiga yeoja tersebut. "Bisakah kita pulang sekarang ?" Tanyanya pada salah satu yeoja tersebut.
Sungmin menatap tak enak kearah Amber dan Luna. "Eum Amber-ah..."
Seolah keduanya mengerti dan langsung mempersilahkan Sungmin pulang terlebih dahulu.
"Sampai jumpa..." Amber dan Luna melambaikan tangannya melihat mobil yang Sungmin dan namja tadi kenakan sudah melesat jauh.
"Dia itu siapa ?" Tanya Luna penasaran.
"Sudah kukatakan itu kekasih Sungmin."
"Eh benarkah ?"
.
.
Dua sejoli tersebut tampak menikmati hidangan manis dimeja mereka, sesekali mereka melempar canda terlihat begitu ringan dan bahagia. Siapapun yang melihatnya mungkin akan iri dan juga mengira jika mereka sepasang kekasih. Tapi kenyataannya tak ada hubungan semacam seperti itu diantara keduanya. Mungkin hanya namja itu yang tampak kecewa dengan status hubungan mereka karena mungkin hanya dia yang mencintai sendiri. Tidak dengan yeoja tersebut yang hanya berfikiran polos jika diantara mereka memang hanyalah murni sebatas sahabat.
"Bagaimana ? apa enak ?" Tanya namja tersebut penuh harap.
"Eum..." Yeoja tersebut mengangguk karena mulutnya terlalu penuh dengan ceese cake didalamnya.
Namja didepannya terkekeh melihat tingkah yeoja tersebut. "Kau manis sekali." Gumamnya begitu kecil. Beruntungnya yeoja tersebut tak mendengarkannya dan lebih memilih asik memakan kue tersebut.
"Oh ya," Namja tersebut menyodorkan potongan kue lainnya. "Cobalah, ini cake inovasi baru chef hwang."
"Benarkah ? wah aku pasti bertambah gemuk nanti, kenapa makanan manis selalu menggiurkan."
"Tidak masalah bukan, kau tetap cantik kok." Puji namja tersebut.
Yeoja tersebut hampir tersedak karena potongan ceese cake tadi masih berada dimulutnya.
"Sudah jangan membual !" Dumelnya.
Cake didepannya tersebut tampak begitu menggiurkan dengan potongan strawberry diatas cake tersebut membuat matanya tampak berbinar tidak sabar untuk melahapnya.
Trakkk...
Yeoja tersebut mengerutkan dahinya ketika ia berusaha menyendok kue tersebut terasa sulit karena benda keras menghalangi niatnya. Ia sedikit mengorek kue tersebut karena penasaran.
Ia terkejut melihat sebuah benda putih berkilauan berlumuran cream didalamnya adalah sebuah cincin berlian.
"Kangin, ini milik siapa ? mungkin chef hwang menjatuhkannya." Gadis tersebut hendak memanggil salah satu pramusaji namun dengan cepat Kangin menggenggam tangan gadis tersebut.
"Eh ?" Gadis tersebut tersentak dan menatap bingung kearah namja didepannya tersebut.
Kangin merasa gugup bukan main, ia begitu takut mengatakan hal tersebut. Niatannya melamar gadis didepannya.
"Itu milik mu."
"Apa ?" Gadis tersebut semakin bingung bukan main.
"Menikahlah dengan ku." Pinta Kangin yang terdengar seperti perintah.
Secara refleks gadis tersebut menarik diri tangannya dari genggaman Kangin. Kangin sedikit menampakan senyum kecutnya melihat reaksi gadis tersebut.
Gadis tersebut menunduk tak tahu harus berbuat apa. Ia begitu bingung harus bertindak dan bersikap bagaimana. Rasanya terlalu mendadak dan terasa aneh. Hatinya bahkan terasa sakit, bukankah seharusnya ia senang. Tapi ia tidak merasakan itu, ia benar-benar tidak tahan. Mungkin ia akan menangis jika lebih lama lagi berada didepan Kangin.
"Maaf, aku tidak tahu harus menjawab apa. Maaf Kangin."
Seiringnya gadis didepannya tersebut berlalu begitu saja tanpa memberikan jawaban pasti. Kangin hanya terpaku menatap cincin berlian tersebut tanpa berniat mengejar sang gadis.
**********CL**********
"Hey hey !" Teriak Kibum dengan tergesah-gesah dan terlihat sedikit bersemangat tanpa menyadari jika ia tengah berada dalam perpustakaan.
Eunhyuk yang tengah membaca buku terperanjat kaget melihat tingkah aneh Kibum. "Astaga ada apa dengan mu ?" Eunhyuk berbisik pelan mengingat mereka masih berada dalam perpustakaan.
Kibum ikut tersadar ketika melihat orang disekitarnya melirik tak suka. Kibum tersenyum canggung dan meminta maaf. Setelah keadaan kembali kondusif Kibum memutuskan untuk segera duduk dihadapan Eunhyuk. Gadis berambut panjang tersebut menatap penuh semangat kearah Eunhyuk hingga membuat Eunhyuk benar-benar penasaran.
"Ada apa? Jangan membuat ku mati penasaran." Bisik Eunhyuk.
"Kangin..."
Tanpa kedua yeoja tersebut sadari jika ada seorang namja dibalik rak buku didekat mereka tengah menajamkan pendengarannya ketika mendengar nama 'Kangin'.
"Kangin-dia melamar Sungmin !"
Brakkkkk
"Jinjjayo ? Kangin melamar Sungmin ?" Secara refleks Eunhyuk mengebrak meja dengan keras sampai membuat penghuni perpustakaan tersebut kembali melirik sebal kearah mereka berdua.
Dengan cepat Kibum langsung membungkam mulut Eunhyuk dan meminta maaf pada penghuni perputakaan lainnya.
Pemuda tersebut benar-benar terpaku. Hatinya berdenyut sakit. Kenapa ia harus sakit hati, bukankah ini yang ia inginkan. Kenapa bisa sesesak ini, seharusnya ia sudah biasa saja.
"Diamlah, kau berisik sekali." Bisik Kibum melanjutkan obrolan mereka.
"Maaf, dari mana kau tahu jika Kangin melamar Sungmin ?"
"Sungmin
bercerita pada ku tadi malam." Jelas Kibum.
"Wah, Sungmin beruntung sekali."
"Benar"
"Eh lalu bagaimana dengan jawaban Sungmin ?" Eunhyuk ikut antusias melihat perkembangan hubungan Sungmin dan Kangin. Eunhyuk dan Kibum hampir satu pemikiran jika Sungmin lebih baik bersama Kangin dibandingkan dengan Kyuhyun.
"Itu-"
Kibum mengurungkan niatnya ketika mendengar nada dering ponsel milik seseorang. Ia membalikan tubuhnya mencoba mencari pemilik ponsel tersebut. Ia sedikit terkejut melihat siluet tubuh Kyuhyun melewati meja mereka begitu saja dengan ekspresi tenangnya.
Kyuhyun sedikit merutuki ponselnya yang tak ia mode silent. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri lebih lama lagi terlebih lagi ia tidak mau mendengar jawaban Sungmin tentang lamaran tersebut.
"Yeobseo ?"
"Bagaimana ? kau yakin tidak akan tampil kali ini ? Sangat disayangkan jika kau tak ada." Terdengar nada kecewa dari seseorang disebrang sana.
Kyuhyun masih memasang wajah dinginnya dan tengah berfikir keras.
"Ayolah Kyu, kau tahu mereka akan kecewa." Bujuk lagi seseorang disana.
"Baiklah, aku akan datang." Tanpa basa-basi lagi Kyuhyun langsung memutuskan sambungan tersebut dan melesat pergi. Ia tidak tahu kali ini apa bisa ia melakukan dengan benar mengingat hatinya kembali dikacaukan oleh serpihan masalalunya.
*******CL*******
Sungmin merenung menatap kosong kearah buku gambarnya. Ia meringis merasakan hatinya berdenyut sakit melihat gambar yang ia buat selalu sama. Tokoh utama dalam setiap khayalannya. Tokoh yang selalu ia gambar, meski sudah berkali-kali ia mencoba untuk mengubahnya namun selalu akan sama hasilnya.
Wajah orang itu selalu akan menjadi tokoh utama dalam hidupnya dan otaknya sudah tak bisa membayangkan selain wajah sempurna orang itu.
"Oh sunbe, kau menggambar ku lagi ya ?" Shin won ho berujar riang disebelah Sungmin dan langsung merebut buku gambar Sungmin.
Sungmin menatap malas kearah Won ho yang tengah berbinar menatap kearah hasil gambarnya. Ya, Won ho dan dirinya berada dalam satu club yang sama yaitu membuat komik. Dan lebih lagi, Choi Sunghyun sebagai ketua club tersebut.
"Wah daebak ! Apa aku sebegitu tampannya ?" Won ho mulai bermonolog memandangi gambar Sungmin yang tampak sempurna menggambarkan sosok tersebut.
Plakkkk
Dengan sadisnya Sunghyun menampar kepala juniornya tersebut. Won ho meringis kesakitan akibat tindakan kasar seniornya tersebut.
"Mana ada mirip dengan mu ! Itu pasti, Sungmin terinspirasi dari ku bodoh !" Semprot Sunghyun begitu kejam. "Benarkan Sungmin sayang ?" Sunghyun merubah nada suaranya menjadi lembut.
Sungmin hanya tersenyum kikuk bukan karena ia takut tapi terlebih ia sudah malas meladeni kedua namja berisik ini.
"Jangan memaksa sunbe, jelas sekali ini mirip dengan ku." Sela Won ho tak terima sambil membandingkan gambar tersebut dengan wajahnya.
Sunghyun langsung merebut buku tersebut dengan kasar. "Yang benar saja, jelas ini mirip dengan ku."
Sungmin menatap jengah kearah keduanya. Entah harus bagaimana lagi untuk menghentikan pertikaian keduanya. Sudah cukup banyak beban fikirannya saat ini dan bisakah mereka tak membuat kepalanya semakin berdenyut sakit.
Srakkkk
Sungmin menarik diri dari bangku hingga membuat decitan yang cukup keras untuk menghentikan pertengkaran keduanya.
"Eh ? Kau mau kemana ?" Tanya Sunghyun melihat Sungmin yang tengah memasukan peralatan tulisnya.
"Cheosonghaminda sunbenim, aku ada yang harus aku lakukan. Maaf."
Sungmin berlalu begitu saja tanpa mendengarkan hirauan kedua namja tersebut yang masih berdebat saling menyalahkan.
Ia berjalan menelusuri lorong beberapa fakultas lainnya. Tak ada tujuan dan entah fikirannya begitu melayang masih memikirkan jawaban atas lamaran Kangin. Ia bahkan sudah beberapa hari ini terus menghindar dari Kangin dan ia tidak mungkin terus melakukannya. Ia harus segera memberikan jawaban pasti tapi entah kenapa hatinya masih ragu.
Beberapa kali ia berfikir jika memang lebih baik menerima Kangin yang selalu bersamanya dan membuatnya tersenyum. Tapi hatinya selalu memberontak dan masih tak bisa menerima keadaannya saat ini.
Cinta datang seiring waktu berjalan, benarkah itu ? Sungmin kadang berfikir jika bisa semudah itu kenapa ia tidak bisa melakukannya atau kenapa hatinya masih tak bisa menerima sosok Kangin yang selalu bersama dengannya. Bukankah kebersamaan mereka tak bisa dibilang sebentar tapi kenapa tak ada sedikitpun ruang untuk Kangin dihatinya.
Gedung disebrang tampak bising suara dentuman musik yang begitu terdengar lantang. Bukankah itu gedung fakultas anak seni, Sungmin baru sadar jika dirinya sudah jauh berjalan sampai disini.
Sungmin memperhatikan jika suasana disekitar gedung tersebut memang cukup ramai dan beberapa mahasiswa-mahasiswi tengah bercengkrama dan membawa sebuah spanduk memasuki gedung tersebut.
Ia jadi teringat Amber memberikannya satu buah tiket konser amal digedung falkultas seni. Sungmin mengeluarkannya dari tas ranselnya. Ia menggigit bibir bawahnya ketika barusaja teringat jika hari ini Kyuhyun dan band-nya akan tampil di universitasnya.
Sungmin sedikit meremas tiket tersebut ragu untuk menonton. Tidak ada gunanya ia berdiri disana, sekalipun ia berdiri didepan Kyuhyun sekalipun ia tidak pernah terlihat dimata namja dingin itu.
Tapi...
Dia merindu, sangat merindu sosok yang dingin itu. Sungmin hanya ingin melihat saja, ya hanya melihat. Kini ia belajar sesuatu jika tidak semua hal didunia ini bisa kita miliki.
Cukup berdiri dari kejauhan seperti ini saja sudah cukup bagi Sungmin. Setidaknya dari tempat jauh ini, Sungmin masih bisa melihat samar wajah Kyuhyun yang tengah bernyanyi bersama temannya yang lain.
Pemuda dingin itu kini cukup jauh berubah dari sebelumnya. Setidaknya Sungmin merasa legah melihat Kyuhyun yang tampak begitu lepas tersenyum kearah penonton lainnya. Itu cukup manusiawi dibandingkan dirinya yang dulu pernah Sungmin kenal.
"Kenapa dia terlihat begitu semakin tampan..." Gumam Sungmin diantara kebisingan ruangan tersebut. "aku jadi goyah lagi." Sungmin langsung menutup matanya dengan telapak tangannya berharap jika debaran jantungnya bukan karena Kyuhyun lagi tapi karena suara dentuman musik diruangan tersebut.
Musik terdengar berhenti pertanda lagu beat tersebut sudah berakhir. Namun tak lama kemudian lagu berikutnya terdengar mengalun lebih lambat dibandingkan lagu sebelumnya.
Suara Kyuhyun dan Namja berkepala besar, salah satu vokalis utama Kyu-Line tersebut lebih mendominasi dalam lagu ini. Tanpa terasa air mata Sungmin sudah menggenang dipelupuk matanya ketika mendengarkan lirik demi lirik yang Kyuhyun nyanyikan. Terlebih lagi melihat ekspresi namja tersebut yang mungkin tak biasa. Seolah ada penyesalan didalam matanya. Mungkin Sungmin gila karena memikirkan hal tersebut, mana mungkin Kyuhyun seperti itu.
Bujokhaeteon naye moseup moduji ugo shipeo Naran saram neoyegen baral georagon eopgeji...
(Saya ingin menghapus semua diriku yang dulu...Sepertinya orang seperti ku tidak ada untuk bersamamu)
Hanbeon nal dorabwa neomu meolji anheun geose yeojeonhi seo ineun deuthae...
(Sekali saja,melihat padaku lagi Tampaknya kau masih tak berdiri terlalu jauh)
Sudah, kali ini Sungmin tidak bisa menahan lagi. Ia sudah menjatuhkan bulir-bulir dipeluk matanya. Entah kenapa lagu tersebut begitu menyayat hatinya. Kenapa perasaanya seperti ini lagi. Betapa bodohnya ia sekarang. Masih saja berharap jika Kyuhyun akan kembali padanya.
Nan jujeo hago meomchugo tto neol muneo tteurigo Ajik geogi itamyeon babo gateon nareul yong seohae...
(Saya ragu dan berhenti dan kemudian kau akan hancur Jika kau masih di sana,aku ini idiot, maafkan aku)
Sungmin benar-benar tak tahan, ia putuskan takan mendengarkan lebih lagi lirik-lirik lagu tersebut. Ia tidak mau membuatnya semakin dalam dan berharap. Sudah cukup luka selama ini yang ia terima. Dengan tergesah ia pergi meninggalkan gedung tersebut tanpa menunggu lagu tersebut usai. Dan tanpa Sungmin sadari jika Kyuhyun sudah menyadari kehadirannya semenjak gadis tersebut menatapnya sedari awal. Kyuhyun menatap kecewa ketika Sungmin pergi begitu saja.
Jogeum man...(Jogeum man)...
Deo georeoga...(deo georeoga)...
Naega geogi seo isseul teni...
Sedikit...(sedikit)...
Berjalan sedikit lebih jauh...(berjalan sedikit lebih jauh) ...
dan kemudian saya akan berada di sana...
(SuperJunior-Youre Eyes)
*******CL*******
Dengan membabi buta namja jangkung tersebut mendribel bola basket itu. Tanpa mengenal lelah namja tersebut mencetakannya ke dalam ring tanpa henti hingga membuat lawan mainnya terpengarah.
"Hey berhentilah ! apa yang sedang kau lakukan ? kau ingin mati eoh ?" Tanya lawan mainnya tersebut begitu penasaran. Bukannya ia tak mengerti, ia cukup paham jika sahabatnya tersebut dilanda rasa gelisah pasti akan melampiaskannya dengan bermain basket tanpa henti seperti ini. Ia hanya tidak ingin sahabatnya tersebut mati konyol karena dehidrasi.
Namun namja jangkung tersebut menghiraukannya dan masih sibuk memasukan bola tersebut kedalam ring. Dengan terpaksa namja betubuh lebih pendek darinya tersebut merebut dan menggagalkan tembakan tersebut dan menyita bola basket itu.
"Ada apa dengan mu ?" Tanya namja pendek itu lagi.
Bukannya menjawab, namja jangkung tersebut menepi dan mendudukan tubuhnya digaris lapangan bola basket tersebut. Namja bertubuh pendek tersebut mengikuti langkah sahabatnya tersebut dan ikut mendudukan dirinya disebelah namja tersebut. Ia tepuk halus pundak sahabatnya itu, ia cukup mengerti jika sosok batu disampingnya tersebut tak terlihat begitu kuat didalamnya. Ia tahu.
"Katakanlah, bukankah kita adalah keluarga?"
"..."
Sungguh sulit membujuk namja disampingnya tersebut untuk berbagi padanya. "Apa kau bertengkar lagi dengan ajuma ?"
Namja jangkung disebelahanya menggeleng lemah mulai merespon ucapannya.
"Baiklah, aku akan diam. Hah." Donghae menyerah dan membiarkan sahabatnya tersebut berfikir sejenak. Ia mendongak kearah langit malam yang tampak tak berbintang.
"Sungmin, dia-" Kini Donghae mengerti jika dibalik sikap Kyuhyun saat ini bukan tanpa alasan. Donghae bahkan masih teringat jelas 3 tahun lalu Kyuhyun tampak seperti orang gila yang begitu menyedihkan setelah perpisahannya dengan Sungmin. Sama halnya dengan hari ini. "Apa dia dan Kangin bahagia ?"
"Bodoh, kau ber IQ 200 tapi kau membuat pertanyaan konyol hei Cho !"
Kyuhyun mendengus kesal atas jawaban Donghae. "Aku serius."
"Kau fikir aku sedang bergurau? Kenapa kau bertanya hal seperti itu pada ku. Kenapa tidak kau tanyakan padanya saja." Jawab Donghae terdengar malas.
"..." Kyuhyun kembali bungkam.
"Kau pasti sudah mendengar tentang lamaran itu bukan ?" Donhae menebak jika Kyuhyun pasti sudah mendengar kabar tersebut. Ia bahkan sempat kaget mendengar kabar tersebut dari Eunhyuk dan Kibum.
"Ya."
"Kau hebat sekali Cho, kau masih bersikap tenang seperti ini. Jika itu Eunhyuk aku pasti akan kelabakan."
Secara refleks Kyuhyun menengokan kepalanya mendahadap Donghae yang tampak sibuk memainkan bola basket ditangannya. Dahinya berkerut mencoba mencerna perkataan Donghae.
"Lalu, jika itu kau. Apa yang akan kau lakukan ?"
Donghae menghela nafasnya, dan menatap geram kearah Kyuhyun. "Kau seharusnya tak melakukannya dulu. Kenapa kau selalu bertindak bodoh."
"Aku-tidak bisa." Gumam Kyuhyun begitu terlihat murung.
Sekali lagi Donghae menepuk bahu Kyuhyun begitu iba. "Aku tahu ini cukup berat untuk kalian, tapi tindakan mu memutuskan hubungan kalian itu terlalu gegabah. Dan akhirnya, jadi seperti ini bukan ? Hentikan sikap sok tegar mu itu, kau selalu menyimpan sendiri. Kau seharusnya lebih bisa berbagi pada orang disekitar mu !" Ucap Donghae begitu panjang lebar. Donghae begitu mengerti jika Kyuhyun banyak sekali menyembunyikan sesuatu dibalik wajahnya yang begitu dingin. Bahkan mengenai pertengkarannya dengan jaejoong selama ini sekalipun tak seorangpun tahu jika dibalik keluarganya yang terlihat begitu tenang tetap saja terselip duri didalamnya.
Donghae bahkan masih belum percaya jika Kyuhyun yang terlihat begitu penurut bisa membangkang terhadap ibunya sendiri dan memutuskan untuk pergi dari rumah besarnya itu.
"Aku tidak mungkin melakukan itu. Akan terlalu sulit jika aku meminta kembali, rasanya sungguh mustahil. Dia terlalu banyak menderita bersama ku. Jika bersama Kangin, bisa membuatnya tersenyum, Aku-"
Untuk pertama kalinya Donghae bisa benar-benar melihat kegundahan hati seorang Kyuhyun. Pemuda dingin itu jarang sekali membuka mulutnya begitu panjang lebar seperti ini.
"Aku-aku tidak tahu. Aku terlalu serakah." Entah kenapa, rasanya begitu berat mengatakan jika ia rela jika Kangin bersama Sungmin. Tidak, dia tidak rela. Hanya saja ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mungkin meminta Sungmin kembali padanya. Sungguh terlalu sulit.
"Kau akan mati berdiri jika sudah melihat gadis mu itu berdiri berdampingan dengan Kangin nanti." Ancam Donghae.
.
.
Suara Donghae begitu terngian ditelinga Kyuhyun. Kata-kata Donghae mengenai 'Berdampingan' entah kenapa terdengar begitu menyebalkan. Kenapa Donghae harus menggunakan kata-kata tersebut untuk mendoktrin pikirannya. Hatinya kembali goyah, dia kembali berharap.
Sepanjang jalan kepulangannya dari kompleks perumahan Donghae, Kyuhyun memutuskan untuk pulang kerumah ibunya. Sudah terlalu malam dan ia tahu ibunya sedang tak berada dirumah.
Kyuhyun mendribel bola basketnya sepanjang perjalanan untuk mengurangi rasa bosannya.
Duk duk duk
Saat tangkapan bola terakhir ditangannya ia memandang kaku dihadapannya. Tampak Sungmin juga berekspresi tak jauh berbeda dengannya.
Keduanya tampak saling terpaku menatap satu sama lain. Selama 3 tahun berlalu, kali pertamanya mereka saling menatap lagi seperti ini.
TBC
Kukkuku Mohon maaf lahir batin ya Chingu-deul ^^ Minnkyu mohon maaf kalo banyak salah typo(?) kkkk
Gk kerasa 1 chp lg bakal end...
Moga masih dapet respon positif dr kalian...Dr respon yg aku dapet dr chp kmrin, sebagian memprotes kenapa bisa begitu. kenapa kyuhyun yg mutusin, dll.
Satu jawban untuk kalian, percayalah cerita ini sudah pasti akan berakhir seperti pemikiran ku. Jadi percaya saja dan ikutin alurnya aja. ^^ Gk usah takut ini ff gk bakal tamat kkkk.
Minta sekuel kah ? gk perlu ya . ... kkkkk
Buat yg minta pin bbm sekali lg, aku gk sebarin d disini jd Add dulu aja FB aku ya...nanti inbox pasti aku balas atau bisa kirim pesan lewat akun ffn ini.
Nama FB aku sama kek nama akun ffn aku :
Lee Minnkyu
Double NN ya...^^
Buat ff ku yg 'I Really Like You' tenang bakal d lanjut ^^ dan 'Still Love' hm...mngkn bakal nanti...tp aku gk tau coz blm dpt inspirasi lg...
Typo tetap bersebaran jadi jan protes typo sudah jd budaya(?) LoL kekek
Give me ripyu...eoh ?
#SeeYou Lee minnkyu
