Part A END

Sungmin termenung menatap dua benda didepannya. Memikirkan siapa pemberi kedua benda tersebut membuat hatinya seakan teriris. Meski sudah 3 tahun berlalu tapi rasanya masih sama saja menyakitkan. Tidak sedikitpun perasaan itu berkurang.

Baik sakitnya atau cintanya terhadap sosok yang baru saja ia temui beberapa saat lalu. Ia bahkan masih ingat bagaimana ekspresi Kyuhyun beberapa saat lalu ketika untuk yang pertama kalinya mereka saling menatap satu sama lainnya setelah 3 tahun mereka berpisah. Ia bahkan terlalu gugup, tak tahu harus menyapa atau tidak dan yang ia lalukan hanya terburu untuk berlalu begitu saja tanpa menyapa Kyuhyun terlebih dahulu.

Sungmin sedikit menyesal, setidaknya ia harusnya menyapanya atau berbincang sebentar saja tapi yang ia lalukan hanya berlalu begitu saja. Ketika penyesalan itu muncul, ia berbalik kearah gerbang rumahnya dan tak lagi menemukan Kyuhyun dimanapun. Dengan tergesah menaiki tangga tanpa menghiraukan Heechul yang berteriak keras kaget mendapati sikap Sungmin yang tak biasanya. Ia melihat putrinya kembali bersemangat lagi setelah sekian lama.

Saat membuka pintu kamarnya, Sungmin langsung menghambur kearah balkon kamar sebelahnya. Berharap jika Kyuhyun menempati kembali kamar yang tampak begitu dingin itu. Namun tak ada yang berubah, tetap gelap yang terus mendominasi kamar itu. Sang pemilik mungkin sudah enggan untuk menempatinya kembali.

Sungmin kembali lemas dan membuang semua kemungkinan jika Kyuhyun bermalam dirumahnya sendiri. Lagi pula jika pemuda dingin itu dihadapannya sekalipun lalu apa yang hendak ia lakukan ? tidak ada bukan.

Sungmin menimang-nimang kedua benda tersebut ditangannya. Lalu bertanya dalam hati seberapa penting benda itu dalam hidupnya. Ketika ia termung, suara ketukan pintu membuatnya terkesiap.

"Kenapa tidak menyalakan lampunya ? kau baik-baik saja?"

Sungmin tersenyum miris, ia bahkan sampai melupakan hal-hal sepeleh karena hanya melihat Kyuhyun. Kewarasannya seolah ditarik begitu saja.

"Ya, aku baik-baik saja eomma."

Heechul bergerak mendekat kearah putri satu-satunya tersebut dengan sayangnya, ia belai rambut Sungmin.

"Aku ini mengandung mu sembilan bulan lamanya, hanya kau berbohong saja aku bisa tahu sayang."

Sungmin tahu, takan mudah baginya untuk berbohong didepan ibunya tersebut. "Aku hanya sedang berfikir, itu saja."

"Apa ini tentang Kyuhyun ? kau masih belum menyerah ?"

"Tidak, bukan itu." Dustanya kembali. Heechul tahu benar, hanya saja ia lebih memilih sampai putrinya tersebut berkata jujur terhadapnya.

"Eomma, Kangin melamar ku." Lirih Sungmin namun masih terdengar jelas oleh Heechul.

Heechul sedikit merasa terkejut dengan penuturan putrinya itu. Ia bahkan menganggap jika Sungmin masihlah putrinya yang kecil dan manis. Namun ia seakan sadar jika semakin hari ia mulai menua dan putrinya tumbuh menjadi wanita cantik seperti dirinya saat remaja dulu.

"Astaga, apa itu benar ?"

"Ya."

Heechul cukup antusias dengan kabar bahagia ini. Meski terselip rasa kecewanya karena berarti ia dan Jaejoong takan menjadi besan lagi. Walau begitu kebahagian Sungmin diatas segalanya, ia hanya berharap jika putrinya itu bisa merasa bahagia dengan pilihannya sendiri. Meski tak bersama Kyuhyun sekalipun.

"Lalu bagaimana dengan jawaban mu ?"

"Aku tidak tahu eomma." Jujur saja, Sungmin masih saja tidak tahu perasaan Kangin terhadapnya selama ini. Mungkin ia terlalu naif menganggap Kangin hanya bersimpati padanya dan berujung mereka saling mengerti sebagai teman.

Heechul cukup mengerti kegelisahan putrinya tersebut. Ia juga pernah mengalami hal serupa, rasa takut bingung menjadi satu ketika seseorang melamarnya dulu. Heechul berfikiran jika masalah Sungmin kali ini memang cukup serius, dan sepertinya ia harus sedikit ikut campur dalam masalah tersebut. Terlebih lagi ini mengenai pernikahan. Ia tidak mau sampai Sungmin menyesal dikemudian hari.

Heechul bergerak menempati sisi ranjanh Sungmin dan membelakangi putrinya. Sungmin langsung memutar kursinya agar menghadap Heechul, ia cukup waras tentang tata kramanya terhadap orang tua.

Heechul langsung menggenggam kedua tangan Sungmin penuh hangat.

"Tuhan selalu memberikan apa yang kau butuhkan, bukan keinginan mu. Jika kau tidak bisa hidup bersama orang yang kau cintai, setidaknya kau bisa hidup dengan seseorang yang bisa membuat mu merasa dibutuhkan." Heechul menghela nafasnya dan memandang penuh arti kearah Sungmin. Berharap putrinya mengerti arti maksud ucapannya.

"Apapun jawaban mu nanti, pastikan semua berasal dari hati mu. Pernikahan bukan hal yang main-main. Kau akan menjalaninya seumur hidup mu. Eomma selalu berharap jika kau bisa berbahagia sepanjang hidup eomma. Tidak perduli itu kau bersama Kangin, Kyuhyun ataupun yang lainnya."

Sungmin kembali menitihkan air matanya cukup terharu dengan kata-kata Heechul. "Kalo begitu, aku cuman ingin bersama mu saja." Seiringnya, Sungmin langsung menumbruk tubuh Heechul dengan sayang.

Heechul sedikit terkekeh dan membalas sayang pelukan tersebut. "Dasar anak manja." Cibirnya dengan canda.

*******CL********

Sungmin masih memikirkan perkataan Heechul kemarin malam mengenai jawabannya. Ia tidak mungkin terus menerus menghindar dari Kangin seperti ini. Ia harus memberikan jawabannya, meski ia belum yakin tentang hal tersebut.

Lelaki itu masih saja sama, tetap menunggunya meski beberapa hari ini ia terus menghindar. Tetapi Kangin terus menunggunya tanpa lelah, Sungmin sedikit tersadar jika sudah berapa banyak ia mengabaikan Kangin selama ini. Ia harusnya bisa melihat itu sejak awal jika pandangan Kangin selama ini memang terlihat berbeda. Tapi dengan bodohnya, ia hanya terus menatap punggung Kyuhyun dan mengabaikan sekitarnya.

"Hay."

Kangin terkesiap dan berdiri dari kap mobilnya. Usahanya menunggu 2 jam lamanya kali ini cukup berbuah manis, setidaknya Sungmin mau menemuinya dan menyapanya seperti biasa.

"Eum, apa sudah lama menunggu ?" tanya Sungmin kembali dengan raut tak enak hati.

Kangin sedikit salah tingkah, lebih tepatnya ia cukup kikuk setelah beberapa hari ini mereka tak saling menyapa satu sama lainnya semenjak lamaran itu. "Ehm, tidak masalah. Masuklah."

Kangin dengan sigap membukakan pintu mobil pribadinya dengan senang hati, namun Sungmin masih tak bergeming dari tempatnya berdiri.

"Bisakah kita hanya berjalan saja ?" tawar Sungmin begitu tak yakin jika Kangin mau menuruti keinginannya.

"Tak masalah."

Keduanya berjalan menelusuri jalan setapak sekitar universitas Sungmin. Kangin bahkan tak perduli dengan mobilnya, ia bisa menyuruh orangnya untuk mengambil alih mobil tersebut.

Hanya keheningan yang mereka ciptakan sepanjang jalan. Tak ada pembicaraan yang tercipta. Mereka benar-benar kikuk satu sama lainnnya.

"Khm," Kangin terbatuk kecil dengan sengaja agar memecahkan keheningan diantara mereka. "bagaimana kabar mu ?"

Sungmin melirik sekilas dan terkekeh dengan usaha Kangin yang cukup keras untuk menarik perhatiannya. "Ya baik."

"Eh, kenapa kau tertawa eoh ?"

Sungmin kembali terkekeh pelan, "Tidak, hanya membayangkan kenapa kita tampak begitu asing. Rasanya aneh."

Kemudian keduanya tertawa bersama merasa jika perkataan Sungmin memang benar. Jika diingat kembali, dulu bahkan mereka tak sungkan untuk saling melempar celaan satu sama lainnya. Rasanya merindukan saat-saat seperti itu.

"Kangin-ah..."

"Ya ?" Kangin menghentikan langkahnya dan menatap kearah Sungmin.

Entah keberanian dari mana, Sungmin dengan lancangnya menautkan tangan mereka hingga membuat Kangin tersentak akan tindakannya.

"Sungmin ?"

Namun Sungmin seolah menulikan pendengarannya dan menyeret jemari mereka agar terus berjalan. Layaknya sepasang kekasih, mereka berjalan saling menautkan jemari satu sama lainnya. Kangin merasakan jika seluruh sarafnya lumpuh hanya kerena Sungmin menautkan jemari mereka untuk pertama kalinya.

"Kau, sejak kapan kau menyukai ku ?"

Kangin masih belum percaya dengan semuanya, kenapa tiba-tiba saja Sungmin begitu lembut. Terakhir yang ia tahu jika Sungmin meninggalkannya direstoran waktu itu tanpa berkata apapun. Ia bahkan berfikir jika Sungmin menyimpan amarah terhadapnya.

"Sungmin, sebenarnya apa yang terjadi ?"

Kangin langsung menghentikan langkahnya kembali, hingga Sungmin mau tak mau ikut menghentikan langkahnya juga. Kemudian gadis itu menatap kearah Kangin dengan lekat.

"Hanya jawab saja." Pinta Sungmin melembut.

Kangin bukan tidak ingin menjawabnya, hanya saja ia tak tahu jelas kapan perasaan itu muncul didalam hatinya. Yang terlintas diotaknya hanya kenangannya ketika membully Sungmin begitu melekat dan ketika melihat gadis itu bersedih hatinya berdenyut sakit.

"Ini terlalu panjang dan membutuhkan waktu yang tak sedikit, tapi aku tahu pasti jika perasaan ini tumbuh sejak aku melihat mu pertama kali." Jawab Kangin dengan mantap menatap teguh kearah dua bola mata jernih Sungmin.

Sekarang Sungmin sudah mengerti arti ucapan Heechul semalam, ia semakin mantap menyampaikan jawaban lamaran tersebut. Tak butuh banyak hal lagi yang ia ingin kan didunia ini, asal ia merasa nyaman itu hal terpenting sekarang.

"Aku ingin mendengar semuanya, maka dari itu mari kita habiskan waktu bersama menceritakannya setiap hari."

Kangin membelalakan matanya menatap tak percaya kearah Sungmin. Ia bahkan berfikir jika siang ini ia masih tertidur dan bermimpi indah seperti ini. Cintanya bersambut meski harus menunggu beberapa saat lagi tapi bukan hal besar asalkan Sungmin akhirnya bersamanya.

"Sungmin, kau bersungguh ?"

Sungmin menganggukan kepalanya sekilas. Tanpa ragu lagi Kangin langsung merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukan hangatnya. Betapa bahagianya ia hari ini, dari sekian tahun usahanya selalu berdiri dibelakang gadis ini, akhirnya hari ini mereka bisa berdampingan bersama.

Tanpa Kangin tahu dibalik pelukan mereka, Sungmin merasa jika matanya menghambur merasakan jika air matanya akan jatuh. Seharusnya ia merasa bahagia, tapi entah kenapa hatinya begitu sakit.

Ia bahkan sudah menimang jawabannya dari semalam, seharusnya ia tak menyesal. Bahkan setelah kepergian Heechul dari kamarnya, ia tampak kembali memandangi kedua benda itu. Sebuah daun kering dan penjepit rambut berbentuk pita.

Ini bahkan sudah 3 tahun berlalu semenjak Kyuhyun memberikan daun mapel hijau ditangannya tersebut daun tersebut masih tak terlihat rapuh hanya saja warna daun tersebut berubah menjadi kecoklatan. Dan sebuah penjepit rambut yang ia dapatkan dari Kangin saat acara kelulusan sekolah mereka. Waktu itu Kangin mengatakan jika rambut Sungmin memang tampak cantik ketika lurus seperti itu dan memberikan sebuah penjepit tersebut untuk menemani sisi kosong dikepalanya.

Mungkin layaknya penjepit rambut tersebut, Kangin merupakan sosok yang pas untuk mengisi sisi kosong dalam jiwanya yang sudah 3 tahun melayang. Tak terbayangkan jika Kangin tak berada disisinya selama 3 tahun belakangan, mungkin Sungmin sudah hancur begitu parah. Namun Kangin selalu menopangnya, menjadikan bahunya sebagai sanggahan pas.

********CL*********

Tiba saatnya hari dimana pesta reuni tersebut diselenggarakan. Gedung tempat pesta tersebut sungguh elegan dan terkesan galamor. Dimana penampilan para alumni juga tak jauh berbeda glamornya.

Alunan music slow memenuhi gedung tersebut. Para alumni terbawa suasana untuk bercengkrama dengan kawan lama mereka.

Ketika Sungmin memasuki gedung tersebut ia hanya berharap tidak bertemu dengan Kyuhyun ditempat ini. Ia masih belum siap jika Kyuhyun mengtahui ia sekarang bersama dengan Kangin dan bergandengan tangan. Ya, bergandengan tangan. Tidak salah bukan, mereka bahkan baru saja menjadi sepasang kekasih setelah Sungmin menerima lamaran Kangin beberapa hari lalu. Dan ia masih belum sanggup memikirkan apa yang akan terjadi jika Kyuhyun mengatahui fakta tersebut. Bisa saja namja dingin itu hanya berlalu atau paling parahnya ia mengucapkan selamat pada mereka. Tidak, tidak Sungmin benar-benar tidak sanggup memikirkan hal tersebut.

"Min ? Kau baik-baik saja ?"

Sungmin terkesiap dan menatap bingung kearah Kangin yang berada disebelahnya. "Ah, maaf. Aku baik-baik saja kok."

Kangin mengerutkan dahinya, melihat perubahan wajah calon isterinya tersebut. Ia cukup mengerti kecemasan Sungmin, ia bukannya bodoh tidak menyadari akan ketidak nyamanan Sungmin ditempat ini.

"Aku akan mengambilkan minuman untuk mu, tunggu mengerti ?"

Sungmin mengangguk lemah sebagai jawabannya.

Setelah Kangin tak terlihat dari pandangannya, Sungmin kembali mengedarkan pandangannya kesegalah arah mencoba mencari seseorang. Dan tepat saat bola matanya memandangan kearah jam 9, ia menemukan sosok Cho Kyuhyun tengah bercengakrama dengan beberapa temannya, yang Sungmin tahu jika mereka teman sekelas Kyuhyun dulu.

Mata Sungmin kembali tak bisa lepas memandang wajah Kyuhyun. Dimatanya, Kyuhyun semakin hari semakin bertambah tampan ketika mereka tak bertemu satu sama lain. Entah sihir apa yang Kyuhyun gunakan, Sungmin merasa jika jantungnya selalu berdetak cepat hanya karena menatapnya.

DEG !

Sungmin langsung mengalihkan pandangannya ketika Kyuhyun menangkap basah perbuatannya. Ia mengumpat dalam hati, betapa bodohnya ia harus melakukan hal tersebut. Memalukan !

Beberapa saat ia mencoba mengalihkan pandangannya dan menyibukan diri memandang kesegala arah, sampai ia kembali tidak tahan untuk tidak mencuri pandangannya pada Kyuhyun. Namun saat ia kembali melirik kearah segerombolan teman Kyuhyun tadi, ia tak lagi mendapati Kyuhyun.

Sungmin mendesah kecewa dan masih mencari kehadiran sosok tersebut.

"Kau mencari seseorang ?"

"Aku hanya-" saat berbalik Sungmin tercekat mendapati sosok Kyuhyun sudah berdiri didepannya dengan gagah. Ia sempat berfikir jika suara bass tersebut adalah Kangin yang sedang bertanya padanya.

"Lama tak bertemu Lee Sungmin. Bagaimana kabar mu ?"

Kyuhyun tampak begitu tenang mengulurkan tangannya dan terkesan jika dirinya begitu baik. Jauh berbeda dengan Sungmin selama ini, hanya karena berhadapan saja seperti ini membuat hatinya kembali berdetak aneh.

"Ya, baik." Sungmin sempat berfikiran untuk tidak menyambut uluran tangan tersebut namun ia takan bisa sekejam itu.

Perasaan aneh berdesir dihati mereka saat keduanya saling berjabat tangan seperti ini. Sudah lama sekali mereka tak saling bersentuhan, terakhir kali saat Sungmin memeluknya dirumah sakit. Sudah sangat lama dan begitu menyakitkan untuk diingat.

"Kyuhyun-ah !"

Suasana canggung tersebut pecah begitu saja saat seorang yeoja dengan penampilannya yang cukup sexy mendekat kearah keduanya. Sungmin menggerutu melihat penampilan yeoja tersebut jika dibandingkan dengannya ia benar-benar kalah telak.

Yeoja tersebut memakai gaun malam yang begitu terbuka disemua bagian sedangkan dirinya hanya berpenampilan layaknya anak High School memakai gaun dengan lengan panjang berwarna peach. Benar-benar payah.

"Oh Haneul." Kyuhyun tersenyum simpul saat Kim Haneul, yeoja sexy tersebut menghampirinya.

Sungmin berdecih pelan saat mengingat siapa Kim Haneul dulu. Ia masih ingat jelas jika perempuan tersebut pernah ia jambak karena mendekati kekasihnya dulu. Ia benci, sampai sekarangpun masih sama.

"Oh Sungmin-ssi juga ada disini." Ucap Haneul terdengar begitu arogan dan sinis.

"Kau lupa jika kita satu angkatan eoh ?" Sungmin tak kalah sengitnya membalas perkataan yeoja tersebut.

"Ah, Kyuhyun-ah bagaimana jika mengobrol disana ?" bujuk Haneul begitu terdengar genit dan mamgabaikan pertanyaan Sungmin sambil menunjuk salah satu sudut ruangan yang cukup temaram.

Sungmin merutuk dalam hatinya, betapa ia membeci mereka berdua. Jika saja Kyuhyun masilah kekasihnya, ia pastikan jika Haneul takan lepas dari cengkramannya malam ini.

Tapi ia sadar kini ia bukanlah siapa-siapa bagi Kyuhyun. Ia bergerak kebelakang hendak pergi, ia cukup tahu diri sebelum namja dingin itu kembali meninggalkannya. Lebih baik ia pergi terlebih dulu. Namun Kyuhyun mencegatnya dan mengatakan, "Kita belum selesai, kau mau kemana ?"

Sungmin mengerutkan dahinya tak mengerti, bukankah mereka sedari awal tak dalam topik begitu penting, kenapa Kyuhyun berkata seolah mereka tengah mengobrolkan sesuatu sebelum Haneul muncul.

"Apa ?" Sungmin membeo tak mengerti.

Saat Kyuhyun hendak berbicara kembali seorang MC acara tersebut mengalihkan perhatian semua orang dengan suara lantangnya. MC itu mengatakan jika acara dansa akan segera diselenggarakan dan sebaiknya mereka cepatlah memilih pasangan mereka masing-masing.

Tanpa membuang waktu lagi Kim Haneul langsung bergelanyut manja pada lengan Kyuhyun.

"Kyu, ayo kita juga berdansa." Ajaknya begitu terdengar genit, sampai membuat telinga Sungmin sakit.

"Kyuhyun, baiklah aku menerima ajakan mu. Ayo !" Sungmin langsung menarik lengan Kyuhyun dengan kuat sampai membuat namja stoic tersebut terhuyung dan secara otomatis rangkulan Haneul terlepas.

Kini Kyuhyun yang tak mengerti arah pembicaraan Sungmin dan mengerutkan dahinya. "Ye ?"

Sungmin memutar otaknya, mencari kata-kata yang pas untuk berbohong kembali. "Iya, bukankah kau tadi mengajak ku untuk berdansa nanti. Ya, baiklah aku mau. Apa kau tuli ? Cepatlah, aku tidak akan berfikir dua kali."

Kyuhyun yang tampak bingung hanya menurut saja saat Sungmin menyeretnya kearah lantai dansa dan meninggalkan Haneul yang masih cengoh menatap mereka.

"Bukankah mereka sudah berpisah ? Bagaimana bisa mereka bersama kembali. Argh ! Menyebalkan."

.

.

Selalu dia yang melihat, hanya dia yang selalu merasakan sakit tersebut. Melihat bagaimana cara perempuan tersebut berbicara dan bertindak saat ini mengingatkannya pada sosok gadis yang 3 tahun lalu hilang.

Sudah sangat lama sekali Kangin tidak pernah melihat betapa posesifnya dan kecemburuan Sungmin begitu terlihat jelas jika berada didekat Kyuhyun.

Kangin merasa betapa bodohnya ia masih saja berfikiran jika Sungmin akan melupakan Kyuhyun dan menerima kehadirannya. Dengan lesu ia meletakan 2 gelas minuman ditangannya yang sedari tadi ingin ia berikan pada Sungmin disalah satu sudut meja terdekatnya.

.

.

'Apa yang kau lakukan Lee Sungmin ? Habislah riwayat mu !' Runtuk Sungmin dalam hatinya. Kenapa ia tak berfikir panjang menyeret Kyuhyun kearah lantai dansa hanya karena tak ingin melihat Kim Haneul membawa Kyuhyun.

Seharusnya ia sadar jika Kyuhyun adalah pria lajang sekarang, dia bebas berdetakan dengan semua gadis manapun. Tetapi ia bertindak posesif tak membiarkan yeoja manapun mendekati mantan kekasihnya tersebut. Tidak, mungkin dia hanya tidak suka melihat Haneul mendekati Kyuhyun, ya hanya karena Kim Haneul saja makanya ia tidak rela.

"Maaf, aku berlebihan." Sungmin melepaskan cekalan tangannya dan bergerak meninggalkan lantai dansa tersebut, namun Kyuhyun kembali mencegatnya dan langsung menyentakan tubuhnya hingga tubuh mereka terlihat begitu rapat dan intim.

"Tidak masalah bukan jika itu kau. Kita lakukan saja."

"Tidak, kau salah faham. Aku-"

Sungmin hampir memekik kaget ketika Kyuhyun kembali mengeratkan tubuh mereka dan menyatuhkan tangan mereka. Sebelah tangannya yang lain turun kepunggung Sungmin.

Alunan music mulai menggema dan terdengar begitu romantis. Beberapa pasangan lainnya terlihat begitu menikmati acara dansa tersebut. Sedangkan Sungmin gugup bukan main karena sosok didepannya tersebut adalah Cho Kyuhyun.

"Jika aku salah faham, lalu apa itu kau sedang cemburu pada ku ?" Tanya Kyuhyun begitu tenang dan terdapat kekehan didalamnya hingga membuat Sungmin jengkel bukan main.

Mereka terus bergerak mengikuti irama, Sungmin sedikit kesusahan mengikuti irama tersebut karena ini pertama kalinya ia berdansa.

"Kau terlalu percaya diri. Aku tidak mungkin." Ucap Sungmin begitu acuh sambil membuang wajahnya.

Kyuhyun semakin tersenyum lebar saat mendengar nada kesal didalamnya. Mereka bahkan sudah mengenal satu sama lain sejak mereka kecil, bagaimana bisa Sungmin bisa membohonginya.

Sungmin kembali memandang wajah Kyuhyun setelah tadi tak ada perbincangan kembali diantara mereka. "Wae ?" Sungmin heran ketika Kyuhyun memandangnya dengan terus tersenyum seperti itu.

"Tidak, hanya saja kau jauh terlihat cemburu sekarang."

"Sudah kukatakan aku tidak cemburu !"

"Benarkah ?"

Sungmin mendengus sebal karena Kyuhyun memang sangat terlihat baik dalam mengacaukannya.

"Terserah."

Kyuhyun semakin terkekeh, sudah sangat lama sekali ia tak melakukan hal semenyenangkan ini. Menggoda Lee Sungmin.

"Berhenti tertawa seperti itu Cho, itu sangat menyebalkan !" Gerutu Sungmin.

"Ya, itu sangat menyenangkan."

"Kau memang jahat Kyuhyun. Aku sangat membenci mu !"

Kyuhyun menghentikan tawanya saat Sungmin mengatakan sesuatu yang melenceng dari percakapan mereka tadi. Dan otomatis pergerakan dansa mereka juga terhenti.

Kyuhyun melihat jika mata Lee Sungmin tampak begitu berkaca-kaca.

"Aku sangat membenci mu, kenapa kau melakukan ini pada ku. Aku mppptt"

Rasanya Sungmin tak mampu lagi membendung perasaan kesal dan kecewanya pada Kyuhyun namun dengan cepat Kyuhyun membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman.

Selang beberapa detik mereka diam dalam ciuman tersebut sampai Kyuhyun lebih dulu menjauhkan wajahnya.

Plakkk

Kyuhyun tercekat ketika Sungmin dengan keras menampar wajahnya. Suara tamparan tersebut cukup keras sampai membuat beberapa orang disekitarnya memperhatikan mereka.

"Kenapa kau-hiks..." tangis Sungmin pecah seketika, ia benar-benar tak mampu lagi berkata, rasanya sudah terlalu sakit. Ia tidak tahu kenapa begitu saja menampar Kyuhyun, hanya saja hatinya mengatakan jika itu benar adanya.

"Ayo kita bicara sebentar." Kyuhyun tampak tenang dan tak tersinggung sama sekali dengan tindakan Sungmin tadi. Ia sadar jika ia memang pantas untuk mendapatkannya sejak dulu. Dibandingkan sakit dipipinya, Sungmin pasti jauh lebih merasakan sakit yang luar biasa didalam hatinya.

Sungmin masih diam tak bergeming saat Kyuhyun menarik lengannya, namun tiba-tiba saja seseorang datang dan menarik sisi lain tangannya sampai Sungmin terhuyung kearah tubuh namja tersebut.

"Tidak ada yang perlu kalian bicarakan. Sungmin, ayo kita pulang." Ucap namja tersebut.

Sungmin baru saja sadar jika ia datang bersama Kangin tadi, tetapi karena Kyuhyun ia melupakan Kangin begitu saja.

"Dengarkan aku sebentar saja." Kyuhyun masih bersikeukeuh menahan Sungmin dan menghiraukan Kangin.

Dengan ragu Sungmin menatap tautannya bersama Kangin dan Kyuhyun bergatian kemudian bergerak menatap Kangin dengan pandangan permohonan.

Kangin merasakan jika hatinya begitu terkoyak ketika menatap kedua bola mata Sungmin yang penuh isyarat tersebut. Ia seakan sadar jika Sungmin memintannya untuk melepaskannya.

"Ku mohon.."

Hati Kangin langsung mencelos begitu saja mendengarkan penuturan Sungmin didepannya. Dengan berat hati perlahan ia hendak melepaskan cengkaramannya pada lengan Sungmin namun tanpa Kangin duga Sungmin kembali melanjutkan kata-katanya.

"Lepaskan aku Kyuhyun, aku tidak ingin berbicara lagi."

Keduanya, Sungmin dan Kyuhyun merasakan jika hati mereka hancur seketika dalam waktu bersamaan. Sungmin berusaha agar tak lagi mengeluarkan air matanya mesti tak bisa ia pungkiri jika hatinya sedari tadi berdenyut sakit.

Kyuhyun masih terkaget dan tanpa ia sadar jika tautan tanganya terlepas ketika Sungmin sendiri yang melepaskanya. Ia baru merasakan bagaimana menjadi seseorang yang terabaikan. Rasanya begitu menyakitkan dan menyesakan. Selama ini ia yang selalu melepaskan tautan mereka dan mengabaikan Lee Sungmin. Tapi hari ini untuk pertama kalinya, Lee Sungmin memutuskan untuk bergerak maju.

Gadis itu bahkan melupakan janji mereka. Bukankah Sungmin pernah mengatakan tidak akan pernah meninggalkannya ? Tidak, ia baru saja sadar jika ialah yang mengingkari janji mereka dan meninggalkannya terlebih dulu.

***********CL***********

Sungmin menutup lokernya saat dirasa semua barang-barang persiapan clubnya sudah masuk semua. Ia tidak ingin direpotkan membawa sesuatu ditasnya saat barang-barang tersebut tak terlalu ia butukan nantinya dikelas.

Entah kenapa hatinya begitu ringan setelah acara reuni tersebut ia menangis sepuas hatinya dan meluapkan semua keraguan dihatinya pada Kangin, mungkin karena itu ia dan Kangin menjadi terbuka satu sama lainnya. Ia sudah bertekad akan belajar untuk menerima Kangin. Dan malam itu juga Kangin menyampaikan maksudnya untuk membawanya kehadapan kedua orang tua Kangin di Jepang untuk memperkenalkan Sungmin secara resmi.

Langkah Sungmin terhenti seketika ketika pemuda 3 tahun lebih muda darinya tersebut menghadang langkahnya.

"Wae ?"

"Noona, bisa kita bicara sebentar." Tanya namja tersebut dengan penuh harap.

"Ada apa memangnya ?"

"Tidak disini."

Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk disekitar taman universitas mereka. Sungmin cukup jengah melihat tingkah Won ho yang hanya diam sedari tadi.

"Kau ini serius tidak ingin bicara dengan ku ? Kelas ku akan dimulai sebentar lagi." Gerutu Sungmin hendak beranjak dari tempatnya.

"Kyuhyun, Cho Kyuhyun. Kau mengenalnya bukan ?"

Gerakan Sungmin terhenti ketika Won Ho menyebutkan nama itu kembali. Yang terlintas dibenaknya sekarang adalah betapa ia ingin melenyapkan semua kenangan-kenangan bersama pemuda tersebut. Sungmin bahkan masih ingat dengan jelas malam itu raut wajah Kangin yang begitu terluka karenanya. Ia takan sanggup lagi jika harus mengecewakan Kangin dan berharap kembali pada Kyuhyun.

"Kenapa kau bisa mengenalnya ?" Jawab Sungmin penasaran dan kembali melemparkan pertanyaan.

"Jadi benar, perempuan itu kau. Kau Sungmin yang sering hyung ceritakan pada ku."

Sungmin semakin mengerutkan dahinya tak mengerti. Dari mana Won Ho mengetahui semua itu, ia tidak percaya jika Kyuhyun bisa menceritakan sesuatu pada orang lain terkecuali Donghae. Dan juga bagaimana bisa Kyuhyun dan Won Ho saling mengenal satu sama lainnya. Beribu pertanyaan kini bermunculan diotaknya.

"Kau, siapa kau ini ?"

Won Ho menghela nafas beratnya, "Cho Kyuhyun adalah saudara kandung ku."

Sungmin terperangah tak percaya dengan ucapan Won Ho. Setahunya Jaejoong tidak memiliki putra selain Kyuhyun dan juga ayah Kyuhyun sudah meninggal. Lalu kapan Jaejoong bisa memiliki anak kembali sedangkan ia sampai kini belum menikah kembali.

"Kau berbohong." Sangkal Sungmin dengan wajah tak percaya.

Won Ho hanya menatapnya dengan pandangan berbeda, Sungmin mencoba mencari kebohongan didalamnya hanya saja ia tak menemukan kebohongan tersebut. "Bagaimana bisa ?" Sungmin masih belum bisa percaya dengan semua ini.

"Hyung pasti tidak pernah menceritakannya pada mu ? tentang ayah kami."

"Tidak, bukankah paman sudah meninggal ?" sejak kecil Sungmin hanya tahu jika Jaejoong membesarkan Kyuhyun seorang diri dan beranggapan jika ayah Kyuhyun telah meninggal.

Won Ho menggeleng lemah, "Tidak, aku adalah putra kedua ayah ku dari pernikahannya yang kedua."

Sungmin membekap mulutnya tak percaya dengan kenyataan rumit dihadapannya tersebut. Bagaimana bisa Kyuhyun menyembunyikan ini darinya sejak dulu.

"Karena aku dan ibu ku, hyung banyak melewati kesulitan. Tapi meski begitu dia masih saja menyangi ku dan beranggapan ibu ku adalah ibunya juga." Won Ho menerawang kedepan mengingat beberpa tahun lalu saat ia pertama kali berkenalan dengan Kyuhyun sebagai guru privatnya.

Kyuhyun saat itu memang membutuhkan pekerjaan tambahan dan menerima tawaran temannya untuk mengajar seseorang. Tanpa sengaja benang merah diantara mereka sudah adanya dan semakin diperjelan ketika Kyuhyun bertemu dengan tuan Shin, ayah Won Ho.

Won Ho saat itu kadang merasa aneh melihat sikap ayahnya yang begitu perhatian pada Kyuhyun. Ayahnya bahkan tak pernah begitu terhadapnya. Hanya saja ia beranggapan jika ayahnya menyukai Kyuhyun karena Kyuhyun cerdas, tenang dan beribawa tidak seperti dirinya yang urakan.

Namun saat dirinya begitu banyak menaruh curiga pada guru privatnya tersebut, diam-diam Won Ho menyelediki sesuatu. Betapa terkejutnya Won Ho mendapati fakta jika Kyuhyun anak kandung ayahnya dari pernikahan terdahulunya bahkan sebelum Won Ho berada didunia ini.

Semuanya menjadi pecah, Won Ho mengamuk dan memaki ayahnya. Ia bahkan sempat ingin menghajar Kyuhyun namun namja dingin itu hanya tak bergeming dengan ekspresinya yang begitu datar.

"Kau marah ? Seharusnya aku jauh lebih marah. Kau tidak mengerti apapun tapi kau bertindak seolah kau tahu segalanya."

Won Ho sadar jika Kyuhyun selama ini hidup tanpa kasih sayang dari ayah mereka tapi entah kenapa Won Ho bertingkah seolah hanya dia saja yang tengah dibohongi. Sedangkan mereka sudah mengetahui fakta tersebut, terkecuali dirinya.

Kyuhyun bahkan tak mempermasalahkannya lagi, bagi Kyuhyun ia cukup puas mengetahui siapa sosok ayahnya yang selama ini yang ia rindukan. Kyuhyun tumbuh dari keluarga broken home membuatnya berfikir jauh lebih dewasa dibandingkan anak remaja pada umumnya. Ia bahkan tak begitu mempermasalahkan status ibu Won Ho yang tak secara langsung menjadi ibu tirinya juga.

Beberapa kali ayahnya memang membujuk Kyuhyun untuk tinggal bersama mereka tapi Kyuhyun selalu menolaknya dan bersikeukeh untuk tinggal sendiri diapartemen miliknya. Ia hanya tidak ingin Jaejoong salah faham lagi dengannya.

"Bagaimana bisa ?" Hati Sungmin seketika teriris mendengarkan cerita Won Ho tadi. Ia tidak habis fikir, jika Kyuhyun bisa menyimpan dan melewatinya sendiri.

"Kau tahu hyung tidak akan banyak bicara, dia selalu menyimpannya sendiri. Bahkan tentang kau, aku mencari tahu tentang mu bukan dari mulutnya."

Sungmin terperangah, ia seharusnya tahu jika Kyuhyun memang selalu begitu. Tak banyak bicara, ia tidak mungkin menceritakannya pada Won Ho begitu saja.

"Gambar. Gambar yang selalu kau buat adalah Cho Kyuhyun bukan ? Sejak itu, aku mencari tahu tentang kalian." Jujur saja Won Ho memang menyukai Sungmin dan mengjarnya sampai sejauh ini tapi ketika ia sadar jika gambar yang Sungmin buat lebih mengarah pada wajah Kyuhyun ia menjadi penasaran mencari tahu segalanya. Ketika mendapati fakta jika keduanya pernah menjalin kasih membuat Won Ho mengerti jika keduanya memang saling mencintai tapi ia masih belum mengerti kenapa mereka sampai berpisah.

"Kau tahu semuanya ?"

Won Ho mengangguk lemah dan bergerak lebih mendekat kearah Sungmin.

"Lalu apa maksud mu menceritakan ini pada ku ?" Tanya Sungmin begitu penasaran. Ia hanya tidak ingin menggoyahkan lagi hatinya pada Kyuhyun.

Tbc

Heheh gk jadi tamat d chp ini, aku fikir ini terlalu panjang jika dipaksakan. Jadi aku berfikir untk membaginya menjadi 2 part. ^^ maaf atas keterlambatan ku ini, sebagai bonus.y aku sudah mempst 1 ff baru "ERASE"

No edit ya, jd jangan protes banyak typo XD

See you next time...