Sudah hampir seminggu berlalu semenjak percakapannya dengan Won Ho namun Sungmin masih saja terfikirkan oleh percakapan terakhir mereka itu.
"Kenapa ? Kenapa kau mengatakan semua itu pada ku ?"
Won ho menatap menatap penuh harap kearah Sungmin. "Jika aku benar, kau adalah sumber kebahagian hyung. Aku hanya ingin melihat kakak ku bahagia untuk kali ini saja."
Say I Love You
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Kangin
Part 10-B END
'Kau masih mencintainya, kau masih menginginkannya.'
'Dimana harga diri mu ? Apa kau masih punya keberanian ? Kau seorang wanita !'
Sungmin mengerang kesal pasalnya bisikan-bisikan hatinya terus terngiang dikepalanya. Betapa menyiksanya ketika hati mu berlawanan pendapat. Kepalanya hampir pecah memikirkannya, bahkan ia sudah tak peduli lagi ketika dosennya tengah menerangkan sesuatu. Isi kepalanya hanya berisikan 'Cho Kyuhyun'.
Rasanya ia hampir meledak jika harus seperti ini terus menerus. Sangat menyiksa.
Srakkkk
Tanpa pemikiran panjang, Sungmin langsung menarik diri untuk keluar dari kelas tersebut tanpa menghiraukan tatapan aneh semua mahasiswa-mahasiswi didalamnya. Bahkan profesor Lee meneriaki muridnya tersebut agar kembali, namun Sungmin acuh dan kekeuh untuk keluar.
********CL********
"Apa kau sudah gila ?" Maki Kibum, begitu gemas melihat tingkah Sungmin yang begitu sangat plinplan.
Baru saja kemarin Sungmin mengatakan jika dirinya sudah mantap untuk memilih Kangin dan minggu depan mereka berencana akan terbang ke Jepang untuk menemui orang tua Kangin disana. Tapi dengan gilanya hari ini Sungmin mengatakan jika ia kembali goyah pada Kyuhyun.
"Ya mungkin benar, isi kepala ku hampir meledak karena ini." Gumam Sungmin begitu sedih. Ia sempat memikirkan jika tadi ia akan langsung menemui Kyuhyun saja dan tidak akan perduli pendapat namja itu jika kembali menolaknya sampai ditengah perjalanannya mencari Kyuhyun diuniversitas Kyunghee tersebut ia bertemu dengan Kibum.
Ia sedikit bersyukur bertemu dengan Kibum, setidaknya gadis galak itu membuyarkan rencana konyolnya tadi.
"Sungmin," Kibum meraih tangan Sungmin yang terasa begitu dingin. "Jangan begini, kau akan melukai Kangin. Apa kau berfikir jika Kyuhyun akan kembali pada mu setelah kau memintanya. Jika Kyuhyun mencintai mu, kenapa kalian berpisah ? Fikirkan itu. Jangan bertindak konyol, kau bukan gadis 18 tahun lagi yang bisa seenaknya memutuskan sesuatu tanpa berfikir."
Kibum benar, ia kenapa begitu bodoh sampai berfikirkan hal-hal konyol seperti itu. Bukan hanya ia saja yang akan terluka jika saja ia bertindak gegabah, Kangin pasti kali ini akan jatuh berkeping-keping jika ia mengecewakannya. Bukankah ia sudah bertekad untuk menerima Kangin disisinya dan belajar mencintai namja itu.
"Maaf, mungkin pikiran ku sedang kacau." Sesalnya.
Dengan iba, Kibum mengelus pundak Sungmin perlahan.
"Jangan fikirkan lagi siapapun, kau harus terus bergerak. Jangan terpaut oleh masalalu. Kangin menunggu mu untuk itu. Jangan sia-siakan orang sebaik dia."
Sungmin mengangguk patuh. Kali ini ia tidak menangis atau apapun, ia hanya terlalu gamang dengan fikirannya. Ia bahkan tidak sadar jika sudah meninggalkan kelas dengan dosennya terkenal killer.
Kibum melirik arlogi ditangannya dan kelasnya akan segera dimulai 10 menit lagi. Ia sedikit ragu meninggalkan Sungmin sendiri mengingat gadis itu tampak linglung tapi kelasnya saat ini juga terlalu penting untuk ditinggalkan.
Sungmin mendongak mendapati wajah Kibum yang sedikit gelisah. Ia baru ingat jika sahabatnya itu juga harus menuntut ilmu tidak seperti dirinya yang malah kabur dan membolos.
"Kibum, aku pergi saja. Kau juga harus masuk kelas bukan ?"
"Apa tidak papa kau sendiri ? Aku bisa mengantar mu min."
"Tidak tidak ! Aku bisa naik bus. Kau pergi sana, kau akan terlambat nanti." Sungmin mendorong bahu Kimbum perlahan.
Sungmin meringis membayangkan jika saja dirinya bisa setegar dan setegas Kibum. Ia iri karena Kibum selalu memiliki pemikiran rasional sedangkan dirinya selalu bergerak mengikuti hatinya. Sampai detik ini pula itu menjadi alasan kenapa ia selalu tampak bodoh dan bertahan dengan Kyuhyun karena HATI-nya lah yang memilih seperti itu.
Jika saja ia punya pemikiran rasional seperti Kibum, sejak awal hubungan mereka Sungmin pasti sudah memutuskan untuk mundur bukannya seperti orang bodoh yang bertahan jatuh berkali-kali ditempat yang sama.
*******CL*******
"Kau baik-baik saja ?"
Entah sudah keberapa kalinya ketika mereka bersama, calon isterinya tersebut selalu tertangkap basah tengah melamun seperti saat ini. Kangin bingung, harus bagaimana lagi untuk membuat hubungan mereka seperti dulu. Tidak ada kecanggungan seperti ini. Ia sangat benci ketika Sungmin hanya terdiam dan melamun. Andai saja Sungmin mengatakan jika hubungan mereka tak bisa dilanjutkan lebih jauh lagi, ia masih bisa menerima itu. Tetapi Sungmin selalu bungkam dan tak menyuarakan isi hatinya. Bukankah dasar dari suatu hubungan adalah keterbukaan.
"Ah maaf kangin. Ya aku baik, hm kita akan pergi kemana ?"
Kangin melirik sekilas dan kembali fokus dengan jalanan didepannya.
"Kau pasti akan suka."
"Hm kau ini aneh, beritahu saja !"
Kangin terkekeh melihat tingkah Sungmin yang tidak sabaran dan merengek seperti itu.
"Bersabarlah."
Setelah menempuh perjalanan yang tak cukup banyak membuang waktu, akhirnya mereka tiba disalah satu restoran elit dengan nuansa yang begitu cukup romantis.
Sungmin sedikit terkesan dengan suasana dan tempat tersebut. Sepanjang perjalanannya menuju meja yang Kangin pesan hanya alunan music klasik memenuhi restoran tersebut.
"Silahkan tuan putri~"
Kangin menarik kursi untuk Sungmin, sangat terlihat sopan dan romantis. Sungmin terkekeh dengan rayuan Kangin untuknya yang terdengar menggelikan. Mungkin juga karena sebelumnya namja ini hanya selalu mengejek dan mencibirnya saja dan untuk pertama kalinya Sungmin mendengar rayuan Kangin yang terdengar lucu.
"Kkkk kau lucu sekali. Gomawo." Sungmin tersenyum tulus. Ia sedikit merasa bahagia dengan semua perlakuan Kangin untuknya.
Keduanya kemudian melebur dalam percakapan yang ringan dengan kekehan yang tak henti-hentinya keluar dari bibir tipis Lee Sungmin.
Selain suasana romantis yang restoran tersebut sajikan, ternyata pengunjung juga disuguhkan oleh beberap penyanyi band restotan tersebut. Pengunjung bahkan diperbolehkan jika ingin merikues lagu.
"Dari mana kau bisa tau restoran sebagus ini ?"
"Kau lupa jika calon suami mu ini pemilik restoran juga ? Sahabat ku pemilik restoran ini."
"Ah" Sungmin mengangguk mengerti kemudian melanjutkan acara memakannya. Sesekali ia melirik kearah panggung kecil dihadapannya. Seorang yeoja anggun melantunkan lagu slow begitu menyentuh.
"Sungmin.."
"Ye ?" Sungmin langsung memutar kepalanya menghadap Kangin.
"Aku membawa mu kesini karena ada yang harus kita bicarakan."
"Hm, apa ?"
Sungmin sedikit penasaran dan menghentikan pergerakan tangannya untuk memakan.
"Setelah kita kembali dari Jepang, aku berencana untuk membawa orang tua ku untuk melamar mu secara resmi. Apa kau tidak keberatan ?"
Sungmin sedikit tercekat, tidak menyangka jika ia akan melangkah sejauh ini bersama Kangin. Tapi mundurpun sudah tak bisa, ia tidak ingin kembali berfikiran untuk kembali bersama Kyuhyun. Sangat percuma.
"Ya tidak masalah kok." Sungmin mencoba tersenyum meski terlihat kaku. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya masih belum siap jika harus melangkah sejauh ini. Ia masih butuh waktu.
"Syukurlah. Oh ya, aku ingin memberikan mu sesuatu."
"Ne ?"
Kangin menjetikan jemarinya, tak lama kemudian seorang pelayan lelaki mendatanginya. Pelayan tersebut membukukkan badannya ketika Kangin membisikan sesuatu.
"Baik tuan." Jawab pelayan tersebut dengan patuh dan kemudian berlalu.
Sungmin sedikit terheran dengan rencana Kangin saat ini tapi Kangin masih saja tidak mau menjawabnya.
"Kangin-ah, kau mau kemana ?" Sungmin semakin tidak mengerti saat Kangin bergerak meninggalkannya menuju panggung kecil dihadapan mereka.
"Apa yang ingin dilakukannya ?" Sungmin bermonolog melihat Kangin yang kini sudah memegang mic. Apa namja itu akan bernyanyi ?
"Hm, selamat malam semua." Suara Kangin mulai menggema didalam ruangan tersebut. Beberapa pengunjung menghentikan aktifitasnya dan mulai memperhatikan Kangin diatas panggung. Namja tersebut tampak gagah dan tampan dengan setelah jas miliknya. Beberapa pengunjung wanita restoran tersebut berdecak kagum dengan ketampanan Kangin.
"Malam ini, aku ingin memberikan sesuatu untuk calon isteri ku. Ya yang diujung sana, gadis yang sangat cantik." Kangin terang-terangan menunjuk Sungmin. Pengunjung lainnya ikut melirik dan bertepuk tangan begitu riuh.
Sungmin membuat gestur mulutnya, 'Apa yang kau lakukan?' Kearah Kangin. Namun Kangin hanya tersenyum puas melihat Sungmin yang merona malu.
"Ini untuk mu sayang."
Sungmin tak terlalu fokus menatap kedepan. Yang dilakukannya hanya menunduk dan mentupi wajahnya yang merona.
Petikan gitar mulai mengalun indah, saat Kangin turun dari panggung tersebut. Seseorang telah mengisi panggung tersebut.
"Setelah melewati hari yang melelahkan~~
di bawah Sinar bulan, dua orang menjadi satu bayangan ~~
Kebahagiaan samar-samar yang tampaknya terjangkau adalah masih di sana."
DEG !
Suara ini, suara yang tak lagi asing ditelinga Sungmin. Kenapa rasanya suara ini selalu menghantui otaknya. Tidak, tidak mungkin Kyuhyun berada didekatnya saat ini.
Saat menoleh kearah panggung, rasanya hatinya begitu mencelos ketika Kyuhyun menyanyikan lagu tersebut dengan hanya petikan gitar yang dimainkannya sendiri. Kenapa rasanya begitu menyakitkan. Melihat Kyuhyun yang begitu lihai memainkan gitarnya membuat suasana terasa begitu sendu.
Sungmin tak mengerti kenapa Kyuhyun berada disana dan menyanyikan lagu tersebut. Lalu apa yang Kangin maksudkan untuknya. Memberikan Kyuhyun atau memberikan lagu ini untuknya ? Sungmin Sungguh tidak mengerti. Bisakah seseorang memberitahunya.
"Bahkan jika kejam angin bertiup lagi~~
kami mengatasi masa-masa sulit bersama-sama~~"
-Cho Kyuhyun-Two People Love-
Suara riuh tepuk tangan lagi-lagi memenuhi ruangan tersebut ketika Kyuhyun menutup lagu tersebut dengan petikan gitarnya begitu manis.
Kyuhyun hanya membungkukan badannya dan kemudian berlalu dari panggung tersebut dengan wajah dinginnya yang tak berekspresi sama sekali.
"Apa maksud mu Kangin ?"
Kangin yang memang sudah duduk sedari tadi hanya diam tanpa kata.
"Tidak ada, ini hanya kebetulan saja." Jawabnya begitu acuh.
"Kau berbohong !" Pekik Sungmin sedikit berteriak.
Kangin menghembuskan nafasnya menatap wajah Sungmin yang memerah hampir menangis. Ia begitu tidak sanggup melihat wajah Sungmin. Perasaan bersalah menggeluti hatinya. Ia memang berbohong mengenai ketidak sengajaan itu. Ialah sendiri yang merencakan semuanya, bahkan mengenai lagu tersebut yang Kyuhyun nyanyikan.
Kangin ingin Kyuhyun menyanyikan lagu tersebut untuk mereka, Kangin dan Sungmin. Kangin merasa jika Sungmin akan berpaling darinya, saat inilah tepat untuk menentukannya sebelum semuanya jauh lebih rumit lagi dan ia semakin sulit melepaskan Sungmin nanti.
"Sungmin, pergilah." Gumam Kangin terdengar begitu lemah. Sebelumnya ia tidak pernah merasa serapuh ini meski harus mendapati penolakan Sungmin berkali-kali. Tapi rasanya kali ini jauh 100 kali lipat menyakitkan dari sebelumnya.
"Pergilah jika kau mau, belum terlambat untuk mengakihiri semuanya."
Sungmin tertegun melihat tatap Kangin yang begitu berbeda. Selama ini belum pernah ia melihat mata tersebut terlihat sebegitu putus asa.
Sungmin langsung bergerak menarik diri dari bangkunya dan menghampiri Kangin dan memeluk namja tersebut.
Tidak
Tidak
Dirinya takan sekejam itu meninggalkan namja dipelukannya tersebut yang selama ini berada disampingnya. Menemaninya dalam masa-masa sulit.
"Jangan lagi berbicara seperti itu."
********CL*******
"Oi Kyu !" Seorang dengan seragam khas pelayan tersebut tampaknya tak asing lagi bagi Kyuhyun. Mereka tampak begitu akrab mengingat mereka bekerja ditempat yang sama. Hanya saja profesi mereka berbeda. Jika Tae Hyun menjadi pekerja part time sebagai pelayan lain halnya dengan Kyuhyun yang berprofesi sebagai penyanyi restoran tersebut.
"OH."
"Seseorang meminta mu untuk menyanyikan lagu ini." Tae Hyun menyerahkan selembar kertas kearah Kyuhyun. Ia memang sedikit pelupa jika saja ia tidak mencatat pesan pelanggan tadi.
"Two people love?"
"Ye, sepertinya mereka akan menikah."
Kyuhyun hanya menganggukan kepalanya mengerti. Saat seorang yeoja menghampirinya, ia sadar jika saatnya gilirannya tiba.
"Oh kyu, ini giliran mu. Semoga sukses !" Gadis tersebut tersenyum anggun menyemangati teman duetnya tersebut.
"Gomawo Seohyun-ah."
Kyuhyun masih ingat ketika pertama kalinya ia bekerja ditempat ini hanya Seohyun saja yang cukup ramah terhadapnya. Gadis itu cukup banyak membantunya yang masih belum berpengalaman lebih. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengannya.
Ketika Kyuhyun hendak memasuki panggung, seseorang memberikan kode agar Kyuhyun tidak masuk terlebih dahulu.
Tubuh Kyuhyun sedikit menegang ketika melihat Kangin berdiri dipanggung tersebut dan berkata jika ia ingin memberikan sesuatu untuk calon isterinya. Mungkinkah lagu yang akan dinyanyikannya ini merupakan hadiah tersebut. Rasanya Kyuhyun tidak ingin melakukannya dan mundur saja, tapi ia masih cukup waras dan masih membutuhkan pekerjaan tersebut.
Kyuhyun benci ini, pertama kalinya ia membenci profesinya ini. Kenapa harus ia yang melakukan semua ini. Ia yakin jika Kangin memang sudah merancakannya sejak awal. Kyuhyun masih mencoba bersikap tenang dan mulai duduk disingle kursi dihadapannya.
Perlahan-lahan petikan gitarnya mulai mengalun mengiringi suara hatinya yang begitu gamang dan terasa sakit seolah menyampaikan isi hatinya. Ia bahkan tak berani untuk menatap kedepan dan hanya memfokuskan penglihatannya pada gitarnya.
"Kau hebat sekali ! Itu sangat romantis, sangat menyentuh. Aku akan menyewamu jika aku menikah nanti heheh."
Kyuhyun hanya tersenyum sekilas menanggapi pujian Seohyun saat dirinya kembali ke backstage.
*******CL******
Tak pernah sebelumnya, menunggu terasa begitu membosankan dan melelahkan walau hanya baru saja satu jam ia menunggu. Ia kemudian berfikir jika sudah berapa kali ia membuat Sungmin menunggu dirinya seperti ini, pasti rasanya sangat menyiksa dan melelahkan.
Kyuhyun langsung menegakan badannya ketika melihat Sungmin yang tengah berjalan menunduk sambil memainkan sepatu ketsnya. Kebiasaan buruknya yang tak pernah hilang, tidak pernah memperhatikan jalan. Dulu, Kyuhyun sering memperingatinya hanya saja Sungmin tak pernah merubah kebiasaanya tersebut.
"Sungmin."
Gadis kelinci tersebut langsung menegakan kepalanya. Sungmin sedikit kaget melihat Kyuhyun yang berdiri didepan pintu gerbang keluarga Cho.
"Kyuhyun ? Apa yang kau-"
"Bisakah kita bicara sebentar saja ?"
Tanpa menunggu jawaban Sungmin lagi, Kyuhyun langsung menarik pergelangan tangan Sungmin agar mengikutinya. Kyuhyun hanya tidak ingin berdebat dengan Sungmin didepan rumah mereka.
Kyuhyun akhirnya membawa Sungmin ketaman, tempat dimana Sungmin suka sekali menghabiskan waktu kecilnya dulu.
"Ada apa ?" Sungmin yakin jika dirinya tak memulai sesuatu maka dipastikan mereka hanya duduk dan saling diam menunggu salah satu dari mereka mengalah untuk memulai pembicaraan.
Kyuhyun tak langsung menjawabnya dan meraih tas ransel miliknya dan mengeluarkan sesuatu dari tas tersebut.
Sebuket bunga mawar.
Kyuhyun menyodorkannya kehadapan Sungmin. Sungmin mengernyit tidak mengerti dengan tindakan Kyuhyun.
"Mungkin jika tidak sekarang, aku tidak tau kapan lagi aku bisa memberikannya pada mu. Janji ku, aku akan menepatinya hari ini."
Sungmin terenyuh, Kyuhyun masih memegang janjinya saat itu. Memberikannya sebuket bunga mawar. Sungmin meraih mawar tersebut dengan bergetar. Air matanya melesak ingin keluar. Betapa takdir kejam mempermainkan hati mereka.
"Dan-" Tidak sebelumnya Kyuhyun merasa lidahnya sekelu ini untuk berbicara. "Selamat atas rencana pernikahan mu."
Rasanya hatinya terasa tercubit ketika Kyuhyun mengatakan semua itu. Kenapa begitu menyakitkan, seharusnya ia sudah biasa dengan rasa sakit itu sendiri tapi kali ini benar-benar tak tertolong.
"Nde, gomawo." Jawab Sungmin merasa jika suaranya mulai bergetar.
"Sungmin-ah..."
"..."
"Maafkan aku."
Sungmin mendongak menatap Kyuhyun dengan sendu.
Kyuhyun tersenyum simpul, "Maaf atas perpisahan kita sebelumnya, seharusnya kita berpisah dengan cara yang baik."
'Tidak, seharusnya kita tidak berpisah Kyu.' Tambah Sungmin dalam hati.
"Wae ?" Sejak lama sekali Sungmin ingin sekali mengetahui segala hal kenapa hubungan mereka berakhir jika saja Kyuhyun mengetahui fakta dari Taemin, kenapa namja itu masih saja bersikeukeuh mengakhiri hubungan mereka. "Kenapa ? Kenapa kita berpisah ? Aku salah apa ?"
Sungmin sudah tidak bisa menyembunyikan lagi semua perasaannya terhadap Kyuhyun. Ia merasa lelah selalu memakai topeng jika ia baik-baik saja. Tidak, dia sakit. Sangat sakit, bisakah seseorang merasakannya ?
Kyuhyun meletakan tangannya diatas pucuk kepala Sungmin. Kebiasaan yang sering ia lakukan dulu hanya saja kali ini rasanya sudah berbeda, Sungmin bukan lagi miliknya. Ia belai dengan perlahan, mencoba mengalirkan perasaanya yang tulus untuk yeoja disampingnya tersebut.
"Kau tidak salah apapun dan aku tidak akan mencari alasan untuk semua kesalahan ku. Biarkan saja seperti ini."
Sungmin berdiri dari bangku tersebut dengan mata yang sudah berlinang air mata.
"Kau masih saja tidak mengerti ! Yang aku inginkan adalah kau bukan orang lain. Aku tidak bahagia dengan semua ini, bisakah kau melihat ku ? Aku...aku seperti orang bodoh saja. Lupakan !"
Seperti kehilangan kewarasannya Sungmin berteriak frustasi dengan wajah yang tak karuan lagi efek tangisnya dan berlari menjahui Kyuhyun. Ia sepertinya sudah tidak mengerti dengan perasaaanya. Menikah dengan Kangin sepertinya jalan satu-satunya agar dirinya lepas dari jerat Kyuhyun.
********CL********
Detuman music tersebut berkali-kali gagal mengalun mulus sesuai irama yang seharusnya. Beberapa anggota Kyu-Line band mulai mengeluh dengan salah satu vokalis mereka yang terlihat tak begitu fokus menjalankan latihan mereka.
"Kau ini kenapa hyung ?" Keluh Jonghyun sang drumer.
"Maaf, kita ulangi sekali lagi." Sesalnya.
1
2
3
Alunan drum Jonghyun mulai menghentak lagi ruangan kedap suara tersebut namun lagi-lagi saat Kyuhyun harusnya mengambil suara namja dingin tersebut gagal mengambil nada yang sama.
"Aish ! Sudah jangan diteruskan." Keluh Kim Yesung, ketua band tersebut jengah melihat tingkah Kyuhyun.
"Maaf, aku akan berusaha lagi. Ayo mulai." Sesal Kyuhyun dan kembali memegang mic miliknya tetapi anggota lainnya hanya diam tak berniat lagi latihan.
"Kenapa ? Ayo kita mulai lagi !"
Yesung masih tak bergeming dan memberikan kode pada anggota lainnya agar keluar dari ruangan tersebut meninggalkan mereka berdua.
"Hentikan Kyu !" Yesung menepuk bahu Kyuhyun perlahan. "Pergilah ! Aku fikir hati dan fikiran mu sekarang sedang tak berada disini ?"
Yesung hafal betul jika Kyuhyun bukanlah orang yang mudah terpecah konsentrasinya, tapi hari ini memang Kyuhyun tampak berbeda sekali dari awal ia datang. Namja terebut tak ubahnya dengan seonggok daging yang tak bernyawa. Tak memiliki jiwa. Seperti Kyuhyun biasanya yang selalu memainkan alat music dengan jiwanya.
Kyuhyun terus berkutat dengan fikirannya. Memikirkan bagaimana jika hari ini Sungmin benar-benar pergi ke Jepang yang artinya hubungannya dengan Kangin semakin terlihat serius. Ia tampak tak tenang memikirkan hal tersebut. Bahkan semenjak dirinya bertemu dengan Sungmin, malam-malamnya tak lagi sama. Sulit sekali menghapus ingatan wajah Sungmin yang begitu terluka menangis dihadapannya.
Perasaan ingin kembali muncul dibenaknya, ia tidak bisa memungkiri jika dirinya masih menginginkan dan selalu memikirkan Sungmin. Masih belum terlambat untuk memperjuangkannya. Persetan dengan semuannya, ia ingin kembali dan jika Sungmin kembali menolaknya ia tidak perduli. Setidaknya ia ingin sekali saja bertindak mengikuti hatinya bukan pemikirannya.
"Hyung, maaf aku harus pergi." Kyuhyun belari keluar ruangan tersebut dengan tergesah-gesah tanpa menunggu respon Yesung sebagai leader band mereka.
Satu hal yang ia sesalkan selama ini ia tidak pernah untuk belajar mengendarai mobil efeknya harus seperti ini. Disaat genting seperti ini dirinya harus bersusah payah mencoba men-stop taxi yang melintasi gedung luar Universitasnya. Sangat menyusahkan lagi jika ia harus manaiki bus dan menunggu berjam-jam itu hanya akan membuang waktu saja.
******CL******
"Ye ? Ah Kyuhyun." Wanita paruh baya tersebut setengah terkaget melihat kedatangan Kyuhyun. Sudah berapa lama ia tidak pernah melihat Kyuhyun sebagai anak tetangganya setelah namja dingin tersebut memutuskan untuk pindah dari rumahnya sendiri.
"Ajhuma..bisakah aku bertemu dengan Sungmin ?"
Raut wajah Heechul tiba-tiba saja berubah menjadi setengah murung. "Sungmin sejam lalu pergi bersama Kangin. Mereka akan pergi ke Jepang Kyu."
Kyuhyun berdecih dalam hatinya membenci situasi seperti ini. Kenapa semuanya selalu datang terlambat. Kyuhyun tertunduk lesu merasa patah semangat. Lee Sungmin sudah pergi dari kehidupannya dan tak ada lagi harapan untuk kembali.
"Belum terlambat."
Kyuhyun langsung mendongakan kepalanya menatap penuh harap kearah Heechul. "Ajhuma.."
"Cepatlah kejar Sungmin, semuanya belum terlambat."
Kyuhyun merasa mendapatkan asupan energi lebih lagi. Bukan waktunya untuk berputus asa, masih ada waktu untuk memperbaiki semua. Ia yakin itu.
Sial !
Ia melupakan fakta jika kompleks perumahan mereka jauh sekali dari jalan raya besar. Jika ia berlaripun belum tentu ia akan menemukan taxi nantinya. Satu-satunya jalan adalah meminta bantuan Donghae, jarak kompleks perumahan mereka tak terlalu jauh.
Ia sedikit bersyukur Donghae bisa membantunya ketika ia menghubungi pemuda childis tersebut. Tak memakan waktu lama, mobil milik Lee Donghae berhenti dihadapannya.
"Kita harus pergi kebandara Hae-ah." Kyuhyun bahkan berkata terlebih dahulu sebelum memasuki mobil tersebut membuat Donghae sedikit jengkel.
"Oh, kau ! Apa kalian ? Lupakan, cepatlah jalankan mobilnya !"
Sebenarnya didalam mobil Lee Donghae memang bukan hanya ada pemuda humor itu saja tetapi Lee Hyukjae juga berada didalam bangku belakang mobil tersebut. Jika harus dijelaskan, Donghae dan Eunhyuk memang tengah berencana pergi berkencan sebelum Kyuhyun menelponnya dengan suara seperti kesetanan beberapa saat lalu.
Suasana didalam mobil tersebut tampak begitu canggung. Baik Donghae dan Eunhyuk hanya diam, mereka sedikit tersipu malu karena Kyuhyun orang pertama yang mengetahui mereka berkencan. Sedangkan Kyuhyun terus berkutat dengan pikirannya tentang Sungmin, bandara, waktu dan Jepang. Sesekali ia bergerak gelisah melihat jarum jam tangannya yang tak berhenti bergerak.
"Hae ! Bisakah kau lebih cepat lagi ? Kenapa lama sekali ?" Dumel Kyuhyun tak tahan dengan cara menyetir Donghae.
Donghae mendengus sebal kearah Kyuhun yang terus mencibirnya. Tidakah Kyuhyun tau jika kecepatan mobil Donghae sudah ia maksimalkan mungkin. Bahkan Eunhyuk yang duduk dikursi belakang bergedik ngeri dengan cara Donghae mengendarai mobilnya.
"Apa kau sudah gila ? Kenapa tidak kau saja yang menyetir kalo begitu ?"
"Jika aku bisa melakukannya, aku tidak akan meminta bantuan mu." Balas Kyuhyun tak mau kalah.
Donghae yang kesal semakin menancapkan gasnya membuat Kyuhyun dan Eunhyuk terlonjak kaget. Dengan semakin brutal, Donghae mengendarai mobil miliknya menyalip beberapa mobil didepannya.
Setelah melakukan olahraga jantung, akhirnya ketiganya tiba juga dibandara Seoul. Kyuhyun yang tak sabar jika harus menunggu Donghae memakirkan mobilnya lebih memilih turun terlebih dahulu dan berlarian memasuki bandara tersebut.
Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, Kyuhyun bergerak tak tentu arah mencari informasi keberangkatan pesawat yang menuju Jepang.
Seolah dihempaskan dari gedung tertinggi didunia dan rasanya dunia seperti runtuh dimata Kyuhyun. Kyuhyun melihat dengan lesu layar besar dihadapannya, layar tersebut menampakan semua jadwal penerbangan untuk hari ini. Keberangkatan menuju Jepang pagi ini telah take off setengah jam yang lalu.
Semuanya sudah terlambat, penyesalan memang selalu timbul diakhir. Ia tidak menyangka jika rasanya sebegitu menyakitkan. Apa ini rasanya patah hati ? Sangat menyakitkan sampai membuat hulu hatinya berdenyut sakit bukan main. Nafasnya seolah tercekat. Ini sangat menyiksa.
******CL*****
Kangin melirik kearah bangku sebelahnya. Tempat dimana Sungmin harusnya berada disampingnya. Menempati sisi kosong bangku tersebut. Ini untuk terakhir kalinya, ia sudah berada diambang batasnya. Ia menyerah, menginginkan Sungmin seperti berharap memiliki bintang-bintang dilangit. Terlalu serakah, jika saja sejak awal ia bisa menyembunyikan perasaannya mungkin takan jadi seperti ini. Terluka berkali-kali.
*Flashback*
"Kau sudah siap ? Sebentar lagi pesawat kita take off. Kajja." Kangin terlebih dahulu berdiri dari tempat duduknya dan bersiap.
Namun Sungmin masih saja tak bergeming dari tempat duduknya.
"Sungmin ?" Panggil Kangin sekali kali.
Sungmin terkesiap dan langsung merapihkan tas ransel miliknya dan menyambut uluran tangan Kangin. "Nde, mian. Kajja."
Keduanya berjalan menuju kearah petugas pemeriksa tiket sambil bergandengan tangan. Layaknya sepasangan kekasih lainnya. Namun pikiran Sungmin masih saja berkecamuk setelah mendapatkan pesan singkat dari Heechul mengenai Kyuhyun yang akan menyusulnya.
Dirinya semakin dilema, antara berbalik arah atau melanjutkan semuanya.
"Nona bisakah anda menunjukan tiket anda ?" Petugas pria tersebut dengan sopan meminta Sungmin untuk menunjukan tiket miliknya. Sungmin sedikit terkesiap bahakn Kangin sudah lebih dulu mendahuluinya.
"Nona ?" Panggil petugas tersebut sekali lagi.
"Sungmin, tunjukan tiket mu." Bisik Kangin dari garis pembatas.
Sungmin merasa linglung dan berusaha mencari tiket tersebut didalam tas miliknya. Ketika ia sudah menemukan tiket tersebut, Sungmin semakin bingung harus menunjukannya atau tidak. Jika ia melakukannya, maka semuanya akan berakhir sampai disini.
Tangannya sedikit bergetar ketika menyerahkan tiket itu kehadapan petugas tersebut, namun belum sampai ditangan, Sungmin menarik kembali tiket tersebut sampai membuat petugas dan Kangin mengernyit bingung.
"Sungmin ?" Kangin bergerak mendekat kembali kearah Sungmin dan mencekal tangan Sungmin.
Mata Sungmin berkaca-kaca seolah mengatakan permohonan. "Kangin maaf." Gumamnya.
"Jangan, jangan pergi."
"Maafkan aku."
Sekalinya kau melepas, kau tidak akan lagi bisa menggenggamnya. Tidak, sekalipun Kangin belum pernah menggenggam hati Sungmin. Gadis itu masih milik Kyuhyun. Betapa menyedihkan dirinya yang selalu bertepuk sebelah tangan. Membiarkan Sungmin berlari dari hidupnya.
*Flashback Off*
******CL******
Tidak pernah sebelumnya Kyuhyun merasakan sehampa ini meski dalam keramaian. Betapa menyedihkan dirinya menunggu ditempat yang sama berharap pesawat tersebut berbalik arah kembali. Konyol. Ia duduk menunggu disalah satu bangku fasilitas bandara tersebut.
Pemuda dingin itu tertunduk menyembunyikan bulir-bulir air matanya yang berjatuhan. Ya, ia menangis untuk pertama kalinya ditempat ini. Sekuat apapun seseorang didunia ini, pasti akan menemukan dimana titik terlemahya dan disaat itu hanya air mata yang bisa menjelaskan semuanya.
Saat semuanya terasa runtuh, dunia seolah memusuhinya rengkuhan hangat menyelimuti hatinya yang dingin ketika seseorang tiba-tiba saja memeluknya. Kyuhyun tertegun dan seketika tangisnya tergantikan rasa kelegahan luar biasa mencium aroma tubuh Sungmin dihadapannya.
Ini bukan sebuah mimpi, ini terlalu nyata untuk dirasakan. Kyuhyun mendongakan wajahnya ketika Sungmin mengendurkan pelukannya. "Ming ?"
Sungmin tersenyum sendu, "Kenapa baru datang sekarang ?"
Rasanya terlalu kelu untuk mengatakan sesuatu yang terjadi hanyalah mereka saling menatap satu sama lain. Sungmin menatap sedih melihat Kyuhyun begitu terlihat kacau. Namja dingin itu menangis, karena ia ? Sungmin entah harus bahagia atau sedih karenanya. Kyuhyun akhirnya bisa merasakan perasaan itu, takut, marah dan kecewa.
"Jangan pergi..." Gumam Kyuhyun terdengar bergetar efek tangisnya. "Aku mencinta mu ming, ku mohon."
Sungmin runtuh, jika kali ini harus hancur kembali ia rela setelah mendengar dan melihat ketulusan Kyuhyun terhadapnya. Sungmin kembali menunduk dan merengkuh Kyuhyun dalam pelukannya.
"Aku tidak pernah pergi kemana pun, masih bersama mu. Kau tidak pernah melihat itu."
"Maaf."
Keduanya kembali saling mentap satu sama lain. Kali ini tidak ada lagi air mata menyakitkan, hanya ada pancaran kerinduaan dan cinta.
Sungmin menangkup kedua pipi Kyuhyun dan perlahan mendekatkan wajahnya. Dengan berani Sungmin mengecup bibir tebal Kyuhyun. Sangat perlahan sampai kecupan tersebut berubah menjadi lumatan. Mereka bahkan tidak perduli jika orang-orang melihat mereka. Hanya lakukan saja sesuai hati mereka.
.
.
Mencintai bukan hanya sekedar ucapan ataupun bukan tentang tindakan. Mencintai juga tentang mau menerima, memaafkan dan melepaskan.
Seseorang belajar melepaskan cintanya. Tetapi Tuhan pasti memiliki segudang cerita yang lebih indah lagi untuk menggantikannya. (Kangin)
Tuhan memberikannya akhir bahagia atas semua kesabarannya bertahan sampai akhir. (Lee Sungmin)
Proses pendewasaan diri bukanlah hal yang bisa kau lakukan dalam sekejap. Tertawa, bersedih, marah , menangis, semua ia lakukan dari tahun ketahun. Belajar merasakan semua itu, seperti keajaiban. Rasa kehilangan bisa mengajarkan seseorang untuk lebih menghargai apa yang Tuhan titipkan. (Cho Kyuhyun)
'Sejak awal melihat mu, hati ku mengatakan jika kita akan bersama nantinya. Aku percaya, dan aku bertahan sampai akhir.' -Lee Sungmin.
END
Prolog
"Syukurlah mereka akhirnya bersatu." Ucap Eunhyuk begitu lega melihat Sungmin akhirnya bisa bersama dengan Kyuhyun. Meski dirinya memang tak terlalu suka dengan Kyuhyun tetapi ia yakin jika hanya namja dingin itu saja yang mampu membuat sahabatnya tersebut bahagia.
"Ya," tambah Donghae sambil merangkul bahu Eunhyuk begitu mesra.
Dari balik pilar besar mereka melihat Kyuhyun dan Sungmin berciuman begitu mesra sampai membuat keduanya bersemu merah dan kikuk.
"Aish ! Mereka tak tau tempat !" Runtuk Eunhyuk kesal.
Donghae menyeringai, "Mau mencobanya juga ?"
"Ye ?"
Tak menghiraukan ekspresi Eunhyuk yang cengoh masih memproses perkataannya, Donghae langsung memberikan kecupan ringan dibibir Eunhyuk dengan lancang.
"YAA LEE DONGHAE !"
END
End beneran ya ^^
Maaf atas keterlabatan postingan chp terakhir ini. Beberapa minggu lalu kondisi kesehatan ku terganggu lg XD jd ngaret. Tolong kemaklumannya.
Untuk ada yg bertanya adakah sekuel.y ? Mungkin ada, aku bakal buat Season 2 untuk Say I Love You mungkin dengan judul yg berbeda. "And I Love You." Itu pun kalo masih ada yg berminat ya ^^ tidak jg tidak papa.
Bebrpa mash ada yg bertanya kapan Kyu bilang 'I love you'y ?' Aku jelasin ya, judul tsbt hanya terjemahan k dalam bahasa universal saja... biar keliatan enak didenger... judul takan berarti jika isinya tidak tersampaikan. Inti dari cerita ini kan seseorang berharap jika kekasihnya mengatakan jika dia juga mencintainya. Paham ?
Ok see you di FF "ERASE"
Give me ripyu ? Muahhh XD
