.
Disclaimer:
Fairy Tail by Hiro Mashima
Broken Vow
By
Minako-chan Namikaze
Genre: Drama, Romance, hurt, etc.
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di AN ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca.
Ini sekuel dari fic You're Not Her Father!
.
Enjoy!
.
.
"Aku pulang," Natsu membuka pintu rumahnya. Dia mengernyit heran melihat Lucy tidak datang menyambutnya. Biasanya Istrinya itu tidak akan tidur sebelum dirinya pulang, dan menungguinya semalaman tak peduli sampai jam berapa pun.
"Ke mana Lucy?" gumamnya. Kemudian Natsu melepaskan sepatunya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu, dia mendapati sebuah gundukan di kasur. Lucy tengah mengubur dirinya di dalam selimut.
"Luce, aku pulang..." gumam Natsu. Pria itu melepaskan jas kantornya dan meletakkan tas kerjanya di dekat tempat tidur. Kemudian pria itu duduk di tepi tempat tidur, di dekat Lucy. Dia bisa merasakan tubuh Lucy bergetar saat dia menyentuh pundaknya.
"Luce, kau belum tidur?" tanya Natsu, lembut.
Lucy hanya diam, kemudian dengan perlahan menurunkan selimut dari wajahnya. Natsu langsung terkejut mendapati wajah Lucy memerah dan basah karena air mata.
"Lucy, kenapa kau menangis? Jangan bersedih. Kita akan segera punya anak lagi. Kita hanya perlu menunggu lebih lama. Semuanya akan baik-baik saja," Natsu menenangkan Lucy seraya mengusap kepala pirang Istrinya.
Lucy merasa hatinya mencelos. Baik-baik saja? Apanya yang akan baik-baik saja? Kenapa Natsu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Kenapa pria itu bersikap kalau dia tidak pernah selingkuh di belakang Lucy? Kenapa pria itu bersikap seolah apa yang dilihat Lucy tadi siang tidak pernah terjadi? Kenapa? Dia butuh penjelasan! Kenapa Natsu lakukan ini padanya?!
Namun, lidahnya terasa kelu bahkan untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya terlalu sakit untuk bertanya. Suaranya bergetar, dan dia tidak mau Natsu mendengarnya bertanya dengan suara yang menyedihkan. Dia sudah tidak mau menangisi Natsu lagi, tidak ingin meragukan cinta Natsu padanya, tidak ingin membencinya lagi... tapi kenapa Natsu menghancurkan kepercayaannya? Setelah apa yang diperbuat pria itu dulu, sekarang dia men.gulanginya lagi dengan cara yang bahkan lebih kejam. Dia anggap Lucy ini apa? Kenapa dia tega melakukan ini padanya? Apa dia lupa dengan sumpah pernikahan mereka? Apa dia lupa dengan janji-janjinya tempo hari? Sungguh Lucy tidak habis pikir!
Rasa sakit kembali menyergap hatinya ketika pandangan matanya bertemu dengan sepasang onyx yang menatapnya dengan penuh cinta. Lucy muak dengan tatapan palsu itu. Muak dengan wajah tanpa dosa pria ini!
Menyadari Lucy hanya diam saja dan menatapnya dengan tatapan gelisah, Natsu kembali membuka suara. "Aku tidak akan menghianatimu. Aku tidak akan merasa bosan padamu dan mencari kesenangan di luar. Bukankah aku sudah berjanji?" Natsu tersenyum lembut.
Lucy terdiam mendengarnya, kemudian dia tersenyum, tetapi senyum miris yang tidak terbaca oleh Natsu. "Kau benar. Kau sudah berjanji. Dan aku harus mempercayaimu, 'kan?" bisik Lucy. Hatinya sakit. Natsu bahkan bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya. Apa pria itu tidak ingat apa yang dia lakukan siang tadi? Atau dia salah mengenali orang? Tidak! Dia sangat yakin kalau yang dia lihat tadi siang adalah Natsu Dragneel.
Natsu mengangguk, walaupun dia merasa aneh dengan tingkah Lucy, tapi dia hanya menganggap itu hanya perasaannya saja.
Natsu mengecup kening Lucy. "Aku sudah membelikan donat yang kau inginkan. Maaf, kemarin aku sudah kasar kepadamu. Sekarang tidurlah." Katanya dengan lembut, yang malah semakin membuat hati Lucy semakin sakit. Natsu menaruh bungkusan yang berisi sekotak besar donat di atas nakas. Kemudian beranjak ke kamar mandi.
Lucy menatap donat itu kemudian kembali menenggelamkan dirinya di balik selimut. Dia begitu sakit bahkan hanya untuk berteriak pada Natsu agar tidak menyentuhnya. Dia benar-benar dibuat tidak mengerti dengan suaminya. Bagaimana bisa Natsu bersikap begitu biasa? Kenapa dia tidak bisa menumpahkan semua kemarahannya tadi? Apakah gara-gara sikap Natsu yang begitu lembut padanya tadi membuatnya tidak yakin bahwa Natsu benar-benar menghianatinya? Tapi dia benar-benar yakin kalau yang dia lihat tadi siang adalah Natsu...
Oh, tuhan... apa yang harus dia lakukan?
XXX
Esoknya, ketika sarapan. Lucy bersikap dingin pada Natsu. Bahkan Luna pun sampai bertanya-tanya apakah mamanya sedang marahan sama papa atau tidak. Karena sikap Lucy benar-benar aneh dan itu terlihat begitu nyata.
"Lucy, mana susuku?"
Lucy menuangkan susu dan menaruhnya di depan Natsu tanpa berkata apapun.
"Lucy, hari ini aku ada rapat di luar kota, kemungkinan aku tidak pulang malam ini. Jadi tidak usah menungguku,"
"Ohh..."
"Jangan tidur terlalu larut dan mengabaikan kesehatanmu. Istirahatlah... Kau kelihatan pucat pagi ini,"
"Hn..."
Natsu mengerutkan keningnya. Apakah perasaannya saja atau memang Lucy yang kelihatannya marah padanya pagi ini? Tidak biasanya Lucy menanggapinya seperti itu.
"Luce, kau marah padaku? Kenapa? Apa yang sudah kulakukan?" tanya Natsu, bingung.
Lucy meminum susunya. "Entahlah..." jawabnya.
"Jawabanmu malah semakin membuatku penasaran. Sebenarnya apa yang sudah kuperbuat? Dari semalam tingkahmu aneh sekali. Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Ada apa katamu? Coba kau tanyakan itu pada dirimu sendiri! kenapa kau terus bertanya seolah kau tidak berbuat kesalahan apapun?! Kenapa kau terus mendesakku untuk mengatakannya!?" jerit Lucy, dalam hati.
"Tidak ada." Jawab Lucy, dingin.
Natsu tidak mempercayainya. Sebaliknya, dia memandang Lucy dengan tatapan menuntut.
"Luna sudah selesai! Pa, ayo berangkat!" suara Luna memecah ketegangan di antara kedua orang tuanya. Gadis kecil itu melompat turun dari kursinya dan meraih tasnya.
Lucy memakaikan Luna topi SD-nya dan mengecup kedua pipi Putri kecilnya itu. "Jangan nakal di sekolah, ya, sayang," pesan Lucy.
Luna mengangguk lalu mencium pipi Lucy.
Lucy mengantar Luna dan Natsu sampai pintu depan.
"Ma, Luna berangkat!" Luna melambai. Lucy membalas lambaiannya dengan senyuman lembut.
"Luce, aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik."
Lucy segera menepis tangan Natsu yang akan memegang pipinya. Wanita itu memandang Natsu dengan datar. "Pergilah. Bisa-bisa kau terlambat ke kantor gara-gara mengurusi seorang wanita di rumah ini," ucap Lucy pelan dengan sorot mata dingin.
Natsu terhenyak mendengarnya. "Luce, apa yang-"
"Pergilah, kau bisa terlambat menemui klien-mu itu."
"Iya, pa! Ayo pergi! Nanti Luna kena marah Bu Guru gara-gara terlambat lagi!" Luna menarik-narik ujung lengan baju Natsu.
Akhirnya dengan terpaksa Natsu berjalan ditarik Luna ke mobil. Dia masih memandangi Lucy yang sudah menutup pintu tanpa mau menatapnya.
Ada apa dengan Lucy?
XXX
Lucy menghempaskan dirinya ke atas sofa. Menghela nafas gusar berkali-kali seraya menempelkan telapak tangannya di kening. Mencoba berpikir apa semua yang terjadi ini nyata? Iya, dia yakin semua hal yang dia lihat kemarin itu nyata. Natsu bermesraan dengan seorang wanita di ruangannya. Bukan wanita itu yang menyerang, tapi Natsu yang menyerang wanita itu.
Kenapa?
Hanya 'kenapa' yang terus terngiang di kepalanya. Tidak pernah terbesit di pikirannya, Natsu, suaminya akan melakukan hal menjijikkan seperti itu. Dia bisa maklum kalau wanita itu adalah Lisanna, karena Natsu pernah mencintai wanita itu dulu, namun yang dia lihat adalah seorang wanita asing berambut hitam yang belum pernah dia lihat!
Lucy mengigit bibir bawahnya, cairan bening kembali keluar dari matanya. Ini menyesakkan. Apa Natsu mempermainkannya saat pria itu mengucapkan kata-kata cinta padanya? Apa perasaan Natsu terhadapnya hanya omong kosong dan pria itu menikahinya hanya karena perasaan bersalah kkarena sudah membuatnya menderita dulu?
Tiba-tiba Lucy merasa mual. Dia buru-buru ke wastafel dan memuntahkan sarapan paginya, terbatuk-batuk lalu mencuci mulutnya dengan air. Wajahnya memerah. Dia merasakan deja vu. Ketika dia muntah-muntah sendirian di wastafel tanpa ada seorang suami yang menggosok punggungnya dan memijat tengkuknya. Kesepian yang dia rasakan sekarang sama seperti yang dulu dia rasakan. Namun sakit hati yang dia alami sekarang, melebihi rasa sakit yang dia rasakan dulu. Seperti merobek-robek hatinya dan membuatnya berdarah-darah.
XXX
Lucy tengah duduk di mobilnya. Saat ini dia sedang menunggui Luna di depan gerbang. Cuaca yang panas membuatnya tiba-tiba menginginkan sesuatu yang dingin. Sesuatu yang saat dimakan, membuat kepalanya yang seakan ingin meledak ini menjadi dingin dan sekalian memanjakan lidahnya.
"Jadi ingin makan es krim," gumamnya.
Teng... Nong... Neng...
Bel pulang sudah berbunyi. Lucy menunggu Luna keluar seraya menghitung jumlah anak-anak yang berhamburan keluar dari gerbang. Kurang kerjaan sekali, tapi memang dia tidak ada kerjaan.
"Ah, mama!" pekik Luna dari kejauhan.
Lucy tersenyum lalu melambai. Luna segera berlari ke arahnya setelah berbicara sebentar dengan teman-temannya.
"Bagaimana sekolahmu, sayang?" tanya Lucy begitu Luna sudah duduk dengan manis di sampingnya.
Luna tersenyum lebar. "Menyenangkan! Ne, ne, tadi saat Luna mau membuka loker kelas buat ngambil sapu, tiba-tiba sapunya pada jatuh dan nimpukin kepala Luna! Lalu Alvin-kun datang dengan wajah cemas dan mengelus kepala Luna! Rasanya begitu menyenangkan!" serunya dengan semangat. Lucy bisa melihat rona merah di pipi gadis kecilnya. Lalu dia mengelus rambut pink Luna dengan sayang.
"Papa pasti bakal sebal mendengar Luna begitu dekat dengan anaknya Om Gray," ucap Lucy. Tiba-tiba saja hatinya merasakan nyeri saat nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Biarin. Luna suka bikin papa sebal! Hehehe," Luna cengengesan.
Lucy tersenyum kaku. "Bagaimana kalau kita makan es krim dulu sebelum pulang?"
Luna langsung melompat dari duduknya. "Es krim?! Mauuuu!"
Lucy tertawa. "Baiklah. Pakai sabuk pengamanmu dan pesta es krim!" seru Lucy.
"Yeay!"
XXX
Lucy menggandeng Luna dan membuka pintu cafe. Mereka duduk di sebuah bangku. Seorang waitress datang menghampiri mereka. Lucy langsung memesan banyak es krim. Luna sampai melongo mendengar mamanya menyebutkan berbagai macam jenis es krim sambil menunjuk satu persatu gambar es krim di menu.
"Ma, kok mama pesannya banyak banget? Siapa yang mau ngabisin nanti? Luna gak sanggup kalau disuruh ngabisin semuanya," ucap Luna dengan raut lugunya.
Lucy tersenyum lebar mendengarnya. "Tenang. Mama pesan es krim es krim itu untuk mama kok. Tapi untuk punya Luna, mama sudah pesankan yang spesial."
Luna langsung berseru girang mendengarnya.
"Jangan mempermainkanku, dasar pria brengsek!"
Sebah teriakan mengalihkan perhatian mereka dan pengunjung cafe lain. Lucy segera menoleh ke belakang, dan mendapati sepasang kekasih tengah bertengkar di meja sudut cafe. Seorang wanita cantik dengan wajah yang memerah marah, dan seorang pria tampan dengan wajah tenang seperti air di bak.
Tunggu! Pria itu kan...!
"Kak Zeref?!" pekik Lucy, tertahan.
"Lho, Om Zeref juga di sini." Gumam Luna dengan mata yang membulat senang.
Wanita di hadapan Zeref berdiri dengan raut wajah kesal, sementara Zeref hanya menatapnya dengan tenang tanpa mau mengubah eskpresi datarnya, membuat wanita itu semakin marah melihatnya. Dia meraih minuman di hadapannya dan menyiramkannya langsung ke muka Zeref.
Dan splash! Jus jeruk yang manis dan lengket itu berhasil mengenai wajah tampan Zeref. Wanita itu mendengus dan langsung pergi sambil memaki-maki pria itu.
Lucy tertegun melihat kejadian barusan. Dia melihat Zeref yang masih diam di tempatnya. Pria itu menyentuh pipinya yang berlumuran air jus dan menatap jarinya. Lucy berniat menghampiri kakak sepupu iparnya itu, namun dia ragu-ragu.
"Om Zeref kok disiram sama tante itu?"
Lucy nyaris terjatuh dari kursinya mendapati Luna sedang berdiri di samping Zeref dan menatap pria itu dengan raut polosnya. Zeref sempat terkejut dengan kehadiran Luna, kemudian tersenyum lalu mengusap kepala pink yang halus itu.
"Luna, kamu ada di sini? Mana mamamu?" tanya Zeref.
Luna menunjuk Lucy yang tengah duduk bengong memperhatikannya. Lucy segera sadar dan buru-buru menghampirinya dengan wajah cemas.
"Kak, kakak tidak apa-apa? Uhh... maaf. Aku tidak sengaja melihat kejadian tadi."
Zeref menggeleng. "Tidak apa-apa. Lagipula, kejadian tadi memang tidak terelakkan untuk dilihat. Kakak yakin seluruh pengunjung cafe juga melihatnya."
Lucy segera mengeluarkan tisu dari tasnya dan mengelap air jus yang sudah mulai melengket di wajah Zeref. "Duh, pasti lengket sekali. Kalau aku jadi kakak, pasti aku sudah menerjang wanita tadi dan mengacak-acak wajah sok cantiknya itu! Ih, mana dia nyiram pakai jus jeruk, lagi!" rutuk Lucy.
Zeref tertawa mendengarnya membuat Lucy menatapnya dengan bingung.
"Tidak apa-apa. Lagipula, kakak yang salah sudah menyakitinya," ucap Zeref.
"Oh, jadi yang tadi itu pacar kakak?" tanya Lucy.
"Bukan."
"Lha? Terus?"
"Bagaimana menjelaskannya ya? Dia itu simpanan kakak?"
Lucy langsung tersedak air liurnya sendiri mendengarnya.
Zeref lagi-lagi tertawa melihat reaksi Lucy. "Tidak, kakak bercanda. Wanita itu sudah mendekati kakak akhir-akhir ini. Kakak menanggapinya dengan ramah karena dia termasuk klien kakak yang berharga. Tapi dia menyalahartikan perhatian kakak. Kakak menolaknya, dan dia marah lalu menyiram kakak dengan jus. Mengingat harga dirinya yang begitu tinggi, kurasa wajar kalau dia memperlakukan kakak seperti ini." Jelasnya dengan tenang.
"Kenapa kakak menolaknya? Bukankah dia cantik?" tanya Lucy, heran. Biasanya pria tampan selalu menyukai wanita cantik, bukan?
"Kenapa? Karena kakak tidak mencintainya? Lagipula, untuk apa melakukan sebuah hubungan hanya dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan?"
Lucy terdiam mendengarnya.
"Kakak ke toilet sebentar. Jus jeruk ini membuat kakak tidak nyaman," Zeref berdiri dari duduknya.
"Ya, itu ide yang bagus." Lucy berjengit membayangkan dirinya berada di posisi Zeref.
"Ma, es krimnya sudah datang nih!" Luna melambai dari tempat duduk mereka.
Astaga! Sejak kapan Luna berada di sana?! Lucy mendesah seraya berjalan kembali ke mejanya. Putri kecilnya memang pandai dalam hal menyelinap.
XXX
Zeref kembali dari toilet dengan kemeja yang sedikit basah di bagian dada dan kerahnya. Dia sudah tidak memakai jasnya lagi. Lucy segera melambai dari mejanya. Pria itu langsung menghampiri meja Lucy dan Luna.
Zeref terperangah melihat cangkir es krim yang hampir memenuhi meja. Dia melihat Lucy dan Luna yang memakan es krim itu dengan lahap.
"Kalian lapar apa doyan?" tanya Zeref sambil menarik kursi di dekat Luna.
Lucy tertawa mendengarnya. Ternyata Zeref bisa bercanda juga. Dia pikir hidup pria satu ini tidak pernah memiliki gairah dan kerjanya cuma bisa merengut terus.
"Kalau Luna sih doyan aja, kalau mama, mungkin keduanya!"
Lucy dan Luna tertawa bersamaan. Zeref menggelengkan kepalanya, ibu dan anak sama saja.
"Kak Zeref mau? Ambil saja yang kakak inginkan." Tawar Lucy.
Zeref menggeleng sambil tersenyum simpul. "Tidak. Kakak sudah kenyang."
Lucy mengangguk. "Baiklah. Omong-omong, soal wanita tadi, aku yakin bukan cuma wanita itu yang tergila-gila dengan kakak. Pasti masih banyak lagi. Yah, secara, wajah kakak kan sekelas sama artis-artis Korea. Tampan gila!" Lucy nyengir saat mengatakannya. Dia memang jujur saat mengatakan Zeref tampan. Bahkan saat pertama kali bertemu, pria di depannya ini begitu bersinar di matanya. Sayangnya, dia sepertinya gak doyan perempuan. Sayang banget kan? Udah tampan, mapan, tapi nikahnya kapan-kapan. Huahahaha! Oke, Lucy merasa ada yang tidak beres di otaknya. Mood-nya cepat sekali berubah-ubah. Efek dari kehamilan, sepertinya...
"Tidak juga." Kata zeref
Lucy mencibir. Masih rendah diri seperti biasa. "Kakak sudah punya pacar?"
"Belum."
Tuh kan! Ini laki gak doyan perempuan! Nikahnya kapan-kapan! Batin Lucy, tidak habis pikir dengan Zeref di umurnya yang sudah mencapai 30 tahunan tapi masih belum memiliki pacar.
"Kenapa? Di usia kakak yang sekarang ini, bukankah sudah saatnya mencari pendamping hidup yang bisa menemani dan menyenangkan kakak? Apalagi dengan posisi kakak sekarang. Beuh! Pasti banyak wanita yang ngantri demi mendapat kesempatan jadi pacar kakak!"
Zeref hanya tersenyum."Memang banyak, tapi kakak belum menemukan seseorang yang pas."
"Bagaimana dengan Luna? Luna mau kok jadi istrinya om Zeref!" seru Luna, menimpali dengan lugunya.
Zeref tertawa sementara Lucy mengomeli Luna. Pria itu mengusap kepala Luna dan mengatakan, "cepatlah besar dan jadilah wanita dewasa yang cantik seperti Mamamu. Mungkin Om akan mempertimbangkannya."
Luna menanggapinya dengan semangat. "Baiklah! Luna pasti bisa mengalahkan kecantikan mama!"
Lucy hanya tersenyum mendengarnya. Pria yang begitu hangat... dan keliahatan setia pada pasangannya nanti.
XXX
"Tumben pulang awal." Ucap Lucy saat dia menyambut Natsu yang baru pulang kerja. Sudah tiga hari sejak pertemuannya dengan Zeref di cafe.
"Yah, kerjaan hari ini sedikit." Jawab Natsu seraya membuka sepatunya.
"Pekerjaan yang sedikit atau hari ini wanita itu tidak ada di kantormu?" Batin Lucy.
"Luce, aku lapar," ucap Natsu seraya memasuki ruangan sambil melonggarkan dasinya.
"Itu sudah kusiapkan makan malam di meja. Kau tinggal makan saja. Aku harus mengajari Luna membuat PR di kamarnya," dan Lucy meninggalkan Natsu sendirian.
Natsu terdiam. Sikap Lucy semakin hari semakin aneh saja. Wanita itu bersikap seolah dia begitu membencinya. Apa yang telah dia lakukan? Tidak mungkin 'kan Lucy mengetahui rahasia-nya? Tidak ada yang tahu selain dia dan 'wanita' itu. Lalu apa alasan Lucy marah padanya? Dia benar-benar tidak mengerti isi hati wanita!
Natsu berjalan ke ruang makan setelah dia selesai mandi. Tiba-tiba saja ponsel di sakunya bergetar. Dia mengernyit begitu melihat sebuah nama tertera di sana.
"Sudah kubilang jangan meneleponku ketika aku ada di rumah." Sahut Natsu ketus ketika dia menjawab panggilan itu.
"Aku kangen denganmu. Bagaimana kalau kita makan malam di luar? Di restoran biasa dengan suasana romantis. Lalu kita menghabiskan malam di hotel bersama lagi." Jawab seorang wanita dengan nada manja di seberang sana.
Natsu berjengit mendengarnya. "Aku tidak bisa sekarang,"
"Kenapa? Apa istrimu sudah tahu? Baguslah. Jadi kita tidak perlu menutup-nutupi hubungan kita lagi." Suaranya terdengar ketus.
"Tidak. Dia belum tahu,"
"Kenapa kau tidak memberitahunya? Beritahu saja dia agar kita bisa lebih leluasa dan kau tidak perlu meninggalkanku pulang tengah malam seperti biasa di kamar hotel!"
"Say... aku tidak bisa. Aku lelah." Natsu menghela nafas gusar.
"Hah... baiklah. Besok aku akan menemuimu di kantor. Kalau begitu, sampai ketemu besok. Selamat malam, Natsu-ku."
Bersambung...
AN: Hayooo! Siapa si 'Say' yang Natsu maksud? Adakah yang bisa nebak? Pasti reaksi reader sekalian 'HUWAT?! NATSU MAIN BEGITUAN SAMA NIH CEWEK SIALAN DI HOTEL SETIAP MALEM?!' saya mengerti perasaan kalian. Saya pun bereaksi sama dengan Anda-anda sekalian. Jangan heran dengan kebusukan fic ini. Hal-hal yang kayak gini udah biasa di Jepang. Dan inilah yang bikin semuanya jadi seru. Huahahaha! Natsu jadi brengsek beneran! #ditabok
Saya gak biasanya update secepat ini untuk sebuah fanfic. Biasanya... nunggu waktu berbulan-bulan dulu buat bikin lanjutan. Itu pun harus maksain badan dulu buat merangkak ke depan lappy. XD
Makasih reviewnya! Maaf ya gak bisa balas satu-satu! Yang jelas, saya tahu ada yang suka sama fic ini dan sebagian pengreview merasa heran akan ketidakbisa hamilnya Lucy di sini karena di epilog You're Not Her Father si Lucy udah tekdung sebulan. Jadi, saya udah update OVA atau lebih tepatnya spesial chapternya buat memperjelas sequel ini. Silahkan cek di chapter 14 You're Not Her Father.
Oke, sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
