.

Disclaimer:

Fairy Tail by Hiro Mashima

Broken Vow

By

Minako-chan Namikaze

Genre: Drama, Romance, hurt, etc.

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.

Ini sekuel dari fic You're Not Her Father

.

Enjoy!

.

.

Hari ini adalah weekend. Dan biasanya Natsu selalu mengajak Lucy dan Luna liburan ke suatu tempat. Karena kesibukan pria itu di kantor yang memaksanya harus terus-terusan menelantarkan anak dan Istrinya yang haus kasih sayang di rumah, Natsu akhirnya menetapkan libur pada hari sabtu dan juga minggu di kantornya. Namun, untuk minggu ini, Natsu memberi libur selama lima hari pada pegawai kantor, tentunya untuk pegawai dengan posisi-posisi tertentu saja. Jadi, hari ini Natsu ingin mengajak Lucy dan Luna untuk piknik di pantai dan menginap selama lima hari empat malam di hotel.

Lucy awalnya mau menolak, karena dia merasa belum ingin berada dekat-dekat dengan Natsu sekarang. Namun dia memikirkan Luna, tidak mungkin dia mengorbankan kebahagiaan putrinya demi egonya saja. Lagipula, Natsu tetap bersikap biasa saja sejak kejadian itu. Membuat Lucy tidak yakin apakah yang dilihatnya waktu itu adalah sungguhan atau hanya ilusinya belaka.

Mungkin sebaiknya dia menganggap hal itu cuma ilusi. Natsu tidak mungkin berbuat seperti itu padanya. Dia mungkin salah mengenali orang. Dia juga tidak ingin terus-terusan bersikap dingin pada Natsu. Hal itu juga sangat menyiksanya. Dia akan memikirkan hal itu lagi. Tapi sekarang dia akan menuruti keinginan Luna.

Lucy mulai mem-packing pakaiannya dan memasak makanan-makanan enak untuk piknik sementara Natsu bermain dengan Luna di ruang keluarga.

Tiba-tiba Natsu menerima telepon dan pria itu segera beranjak dari ruang tamu.

"Luce, sepertinya kita tidak jadi liburan. Barusan sekretarisku menelepon. Ada klien yang ingin mengadakan pertemuan. Mungkin aku akan pulang besok, jadi tidak usah menungguku." Jelas Natsu sebelum mengambil kunci mobilnya.

Lucy hanya berdiri diam mendengarkan penjelasan Natsu.

Natsu mencium kening Luna setelah itu berjalan ke arah Lucy, ingin mencium Istrinya namun Lucy segera menghindarinya.

Natsu tersenyum miris lalu mengusap kepala Lucy. "Aku pergi dulu, ya, sayang,"

Dan Natsu berjalan pergi meninggalkannya.

Lucy terduduk diam di sofa bersama Luna di sampingnya. Wanita itu tampak memikirkan sesuatu dengan sangat serius, hingga Luna sampai tidak berani mengajaknya berbicara.

Lucy meraih ponselnya dan menelepon sekretaris Natsu, Sherry.

"Ya, ada yang bisa saya bantu, Ibu Lucy?" sahut Sherry dari seberang.

"Apa benar kamu menelepon Natsu barusan?" tanya Lucy, langsung.

"Tidak. Saya sama sekali tidak menelpon Pak Natsu." Nada suara Sherry terdengar heran.

Lucy mengerutkan keningnya. "Tapi, dia bilang kalau kamu meneleponnya. Katanya kamu bilang ada klien yang ingin mengadakan pertemuan dengannya."

"Maafkan saya, Bu. Tapi saya sama sekali tidak berbohong. Saya sedang bersama dengan tunangan saya. Dan bukannya kerja sama dengan klien sudah disepakati dalam rapat kemarin? Dan kami para pegawai diberikan cuti lima hari karena kerjaan di kantor juga sudah beres dan terkendali," jelas Sherry.

"Ah, begitu. baiklah. Terima kasih," Lucy menutup teleponnya.

Luna menatap wajah mamanya dengan bingung. Lucy menggenggam erat ponselnya. Wajahnya memerah, bibirnya bergetar, matanya menyorot tajam.

Natsu membohonginya. Natsu sama sekali tidak bertemu klien. Dia pasti menemui wanita itu. Lucy mendengus. Tentu saja. Siapa lagi memangnya. Ternyata Natsu lebih memilih menghabiskan weekend bersama selingkuhannya dibanding Istri dan anaknya. Padahal dia sudah mulai mempercayai Natsu dan menghilangkan kecurigaannya pada pria itu. Tapi, pria itu kembali menghancurkannya dalam hitungan menit. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sudah diperbuat suaminya. Sungguh, dia benar-benar tidak mempercayai kalau Natsu bisa seperti ini. Pria itu...

"Ma, mama kok nangis?" tanya Luna, kaget. Gadis kecil itu menghapus air mata Lucy dengan jari mungilnya.

Lucy langsung memeluk Luna dan meredam suara tangisnya di pundak kecil putri kesayanganny itu.

"Jangan sedih, ya, Ma. Minggu depan kita pasti jadi kok ke pantainya." Luna menepuk-nepuk punngung Lucy.

Lucy tersenyum miris lalu menciumi puncak kepala Luna sambil terus bergumam 'Luna anak mama. Mama sayang Luna' terus menerus.

Bel pintu depan tiba-tiba berbunyi.

"Biar Luna yang bukakan." Luna beranjak dari pangkuan Lucy dan berlarian ke arah pintu depan. Sementara Lucy mengelap semua air mata di wajahnya. Luna kembali dengan seorang pria di belakangnya.

"Kak Zeref?" Lucy memandang pria yang beberapa hari lalu bertemu dengannya.

"Lucy, apa kabar?" Zeref tersenyum.

"Kabarku baik. Kenapa kakak ke sini?" tanya Lucy, pelan.

Zeref mengernyit menyadari suara serak Lucy dan bekas air mata di wajahnya. Pria itu segera menghampiri Lucy dan duduk di sebelahnya.

"Lucy? Kamu menangis? Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah cemas.

"Tidak apa-apa. Tadi aku kelilipan debu saat bersih-bersih rumah," jawab Lucy. Dia memaksakan senyum ke arah Zeref. Pria di depannya ini selalu berbicara lembut kepada semua orang. Bahkan dia tidak pernah memanggilnya 'Kau' dan malah menggunakan kata 'Kamu'.

"Jangan berbohong. Mana mungkin hanya karena debu bisa bikin wajahmu kusut dan sembab begini," ujar Zeref menatap Lucy dengan tajam.

"Mama sedih karena gak bisa jalan-jalan ke pantai," Luna menjawab pertanyaan Zeref.

Zeref menatap Lucy sambil memicingkan mata. "Kakak tahu kamu dan Natsu sedang memiliki masalah. Akhir-akhir ini kakak lihat Natsu sering marah-marah pada pegawainya. Tidak biasanya dia bersikap begitu."

Lucy hanya diam.

"Kakak tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan masalah kalian atau tidak. Tapi kakak juga melihat seorang wnaita yang selalu bergelayut mesra di lengan Natsu." Ucap Zeref, dengan hati-hati.

Lucy tetap diam, namun pundaknya bergetar. Dia mengangkat wajahnya dan menghirup nafas dalam-dalam.

"Luna, bagaimana kalau kamu main dengan Hana-chan di luar?" Lucy tersenyum ke arah Luna.

Luna mengangguk dan pergi menuruti keinginan mamanya.

"Jadi, memang benar ada hubungannya, ya?" tanya Zeref dengan raut serius.

"Dia selingkuh." Jawab Lucy.

Zeref terdiam.

"Dia sudah lama melakukannya, namun dia bersikap biasa seperti dia tidak pernah menyimpan seorang wanita di luar sana," lanjutnya.

"Menurut kakak, aku harus apa? Apa yang sebaiknya harus kulakukan?" Lucy menoleh ke arah Zeref. Raut wajahnya begitu kebingungan. Pandangan matanya begitu terluka.

Zeref membuka mulutnya, namun dia segera mengatupkannya kembali.

Lucy tertawa hambar. "Kakak pasti akan menyaranku untuk bercerai bukan? Bagaimana mungkin aku bercerai begitu saja setelah apa yang sudah kulalui selama ini? Bagaimana aku bercerai ketika putriku telah begitu menyayangi Natsu? Bagaimana bisa aku bercerai di saat..." Lucy meneguk ludahnya. "Di saat aku tengah mengangdung?"

Zeref membulatkan matanya. "Kamu hamil?"

Lucy mengangguk.

"Bagaimana mungkin Natsu berselingkuh di saat dia tahu kalau kamu sedang hamil?" tanyanya, tidak percaya.

"Tidak. Dia belum tahu. Aku tidak ingin memberitahunya di tengah kekacauan ini," jawab Lucy, seraya menyedot ingusnya dengan sedikit gerakan di bahunya.

Zeref tertegun. Kemudian perlahan, dia menarik Lucy ke dalam pelukannya, membuat Lucy tersentak.

"Kakak tidak akan menyarankanmu untuk bercerai. Karena itu memang bukan pilihan yang bagus dan mudah untuk dilakukan. Namun, kalau tidak begitu, hubungan dan juga rumah tanggamu dengan Natsu tidak akan sama lagi seperti dulu," ucapnya sambil mengelus kepala pirang itu dengan lembut.

Lucy mengangguk. "Yah, aku tahu. Namun aku bisa apa? Aku melakukannya demi anak-anakku."

"Tenanglah. Untuk saat ini jangan terlalu dipikirkan. Ini bisa membahayakan kandunganmu. Kamu pasti akan menemukan solusinya nanti," ujar Zeref.

"Ma, Hana-chan tidak ada di rumah. Dia liburan dengan Papa sama Mamanya." Luna berjalan dengan lesu ke arah Lucy. Wajahnya memenunduk sedih. "Apa cuma Luna yang hanya berdiam diri di rumah sementara teman-teman asyik liburan dengan keluarganya?" gadis kecil itu mulai terisak.

"Luna, ke sini sebentar, sayang." Zeref menepuk-nepuk pahanya, menyuruh Luna untuk duduk di pangkuannya. Luna menurutinya tanpa banyak bertanya. Zeref mengelus kepala Luna kemudian berdeham. "Bagaimana kalau kita pergi ke villanya Om di desa Croccus? Di sana ada sebuah air terjun yang tinggi dan indah, lho!" ajak Zeref.

Wajah Luna langsung kembali cerah. "Eh? Benarkah itu, Om? Iya! Luna mau! Mau banget!" Luna melompat dan memeluk leher Zeref.

"Eh, tapi..." ucap Lucy, tertahan. Dia diam sejenak, ragu untuk menerima tawaran Zeref.

Zeref tersenyum menyadari kebingungan Lucy. Yah, Lucy 'kan sudah bersuami. Akan menimbulkan banyak pertanyaan kalau dia bepergian bersama pria lain. Lalu, bagaimana dengan Natsu? Bukankah pria itu lebih parah? Lagipula, dia bukan pria asing. Dia adalah sepupu Natsu, yah... sepupu.

"Udara di sana juga amat sejuk dan cocok sebagai tempat penghilang stress." Tambah Zeref.

"Hmm... Bagaimana, ya...?"

"Ma! Ayo pergi, Ma! Luna mau liat air terjun! Ya? Ya? Ma! Ayo pergi!" rengek Luna seraya bergelayut di pelukan Lucy.

Lucy hanya bisa tersenyum kikuk dan langsung menyetujui ajakan Zeref begitu saja. Yah, melihat Luna yang terus mendesaknya, dia bisa apa? Dia tidak punya kekuatan untuk menolak tatapan memohon putri kesayangannya.

"Kalau kamu mau, kita bisa ke sana sekarang. Kebetulan tadinya kakak berencana mau ke sana setelah mampir dari sini."

Lucy mengangguk setuju. Dia sudah mem-packing pakaiannya dan Luna untuk liburan ke pantai yang tidak jadi tadi, jadi dia bisa pergi kapanpun. Zeref membantu membawakan tas Lucy ke dalam mobilnya. Dan mereka segera memulai perjalanan mereka ke desa Croccus.

Lucy dan Luna mengisi perjalanan itu dengan bernyanyi dan juga bercanda. Perjalanan menuju desa Croccus adalah 4 jam. Untungnya Lucy sudah memasak makanan untuk piknik tadi, jadi mereka bisa memakannya selama perjalanan. Luna terus-terusan menyodorkan Zeref yang sedang berkonsentrasi menyetir dengan sandwichnya. Dan Zeref tidak mampu menolaknya karena aromanya yang benar-benar menggugah selera makan. Matahari sudah berubah warna menjadi jingga. Luna pun telah tertidur di pangkuan Lucy.

"Masih lama sampainya, ya, kak?" tanya Lucy, terdengar lemah.

"Sebentar lagi. Kalau kamu mengantuk, tidur saja. Nanti akan kakak bangunkan." Jawab Zeref.

"Hmmm... omong-omong, kenapa kakak membangun sebuah villa di desa terpencil begitu?"

"Tidak ada alasan khusus. Kakak hanya menyukai lokasinya yang dekat dengan air terjun dan daerah perbukitan. Setiap weekend,kakak selalu ke sana untuk melepaskan stress akibat pekerjaan di kantor."

"Ohh... kirain." Gumam Lucy.

"Apanya?"

"Kukira kakak membangun villa itu untuk bulan madu dengan Istri kakak." Lucy tertawa cengengesan.

"Haha, begitu juga boleh." Zeref tersenyum.

"Apanya yang begitu juga boleh? Kakak tidak berniat untuk menikah?" Lucy menatapnya tidak percaya.

"Kakak belum menemukan yang pas," jawab Zeref dengan santai.

"Memangnya kriteria Istri kakak seperti apa, sih? Kok kayaknya ribet banget buat ditemuin. Jangan-jangan kakak doyannya lelaki, ya?" tanya Lucy, curiga.

Zeref tergelak mendengarnya. "Kamu kebanyakan baca novel yaoi, ya? Pikiranmu selalu melenceng." Ejek Zeref.

Lucy mencibir. "Ya, habisnya. Lalu kriteria Istri idaman kakak seperti apa?" desak Lucy.

"Wajahnya enak dipandang, pintar memasak, dan bisa membuat kakak terus jatuh cinta padanya." Jawab Zeref tanpa pikir panjang.

"Hmmm... kriteria yang sederhana. Dan juga mudah ditemukan di mana-mana tapi kok bisa gak dapet-dapet?" gumamnya, heran.

"Sudah kakak bilang kalau kakak belum menemukan yg pas."

"Ribet banget, ya, kalau setiap lelaki di dunia ini hidupnya macam kakak." Cibir Lucy.

"Pilih-pilih itu wajar dan harus daripada menyesal pada akhirnya." Ucap Zeref.

Lucy tersenyum pahit. "Yah, bisa-bisa berakhir menyedihkan seperti diriku."

"Lucy..." Zeref baru menyadari kesalahannya dalam memilih kalimat.

"Aaaa! Aku tidak boleh terus bersedih! Kak Zeref sudah bersusah payah menculikku ke vilanya! Aku tidak boleh menyusahkannya dengan masalahku!" Lucy merentangkan tangannya.

Zeref mendengus geli. "Kakak bukan penculik. Kakak hanya pria baik yang berusaha membantumu,"

"Ya, ya, apapun itu,"

"Tidurlah. Kamu butuh istirahat."

"Hm," Dan Lucy tertidur tanpa menunggu waktu lama.

Tepat pukul 6 sore, mereka sampai di sebuah vila besar di puncak bukit. Bangunan vila itu terbuat dari pohon jati. Warna bangunannya pun sangat kontras dengan pemandangan di sekelilingnya, membuat siapapun yang melihatnya merasa nyaman.

Zeref membangunkan Lucy. Dia mengambil Luna dari pangkuan Lucy dan menggendongnya. Lucy merentangkan tangannya dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Dia menatap ke sekelilingnya dengan takjub.

"Aku bahkan bisa langsung rileks begitu menginjakkan kakiku di sini," Lucy tersenyum lebar.

Zeref ikut tersenyum. "Baguslah. Di sini memang tempat yang nyaman. Ayo masuk!" Zeref menggendong Luna yang sama sekali tidak terbangun memasuki teras vila.

Mereka disambut oleh pelayan yang merawat vila itu. Zeref membawa Lucy dan juga Luna menuju kamar mereka. Pria itu membaringkan Luna di tempat tidur dengan perlahan kemudian menyelimutinya. Kemudian dia berbalik demi menatap Lucy yang tengah berdiri di hadapan jendela, menatap keluar dengan senyuman lebarnya.

"Mandilah. Kemudian keluar dan ikut makan malam. Kakak akan menyuruh pelayan membuatkanmu sup yang enak."

Lucy hanya mengangguk.

Dan Zeref segera meninggalkan kamar Lucy. Lucy kembali menatap keluar jendela. Kamarnya menghadap ke sebuah ladang bunga tulip yang tumbuh disepanjang jalan setapak menuruni bukit. Pohon-pohon pinus tumbuh menjulang, memberikan kesan nyaman bagi siapapun yang memandangnya. Di sana juga terdapat meja dan kursi putih yang digunakan untuk sekedar bersantai dan membaca buku sambil meminum teh.

Sepertinya dia akan betah berada di sini.

XXX

Lucy sedang mondar-mandir bersama beberapa pelayan untuk menaruh berbagai masakan di atas meja. Saat ini dia tengah menyiapkan makan malam untuk Zeref.

"Lucy-sama, Anda tidak perlu melakukan ini. Kalau Zeref-sama tahu, saya bisa dimarahi," ucap seorang pelayan paruh baya. Rautnya memelas, menatap Lucy dengan tatapan memohon agar dia saja yang melakukannya.

"Tidak, tidak, Mary-san. Aku tidak apa-apa, kok. Lagipula, ini sebagai ucapan terima kasihku pada Kak Zeref yang telah membawaku ke sini." Ucap Lucy sambil menata sendok.

Mary, kepala pelayan di vila itu hanya menghela nafas pasrah.

"Wah, sepertinya enak." Zeref datang bersama Luna di gendongannya.

Lucy tersenyum melihat kedua orang itu. "Yap, semuanya sudah siap! Ayo kita makan!"

"Ma, ma! Om Zeref bilang mau ngajak kita liat bintang nanti malam!" seru Luna, girang.

"Wah, mama jadi tidak sabar," tanggap Lucy.

Zeref hanya tersenyum. "Baiklah, bagaiamana kalau kita makan dulu? Ular di perut Om sudah minta tumbal,"

Lucy dan Luna tertawa mendengar candaan Zeref.

Zeref mendudukkan Luna di kursi di samping Lucy. Lucy memberikan Zeref sepiring nasi begitu juga dengan Luna, kemudian wanita itu baru mendudukan dirinya di kursi setelah mengambil nasinya.

"Maafkan saya, Zeref-sama. Semua masakan ini dibuat oleh Lucy-sama. Saya tidak bisa mencegahnya untuk melakukannya. Padahal dia adalah Tamu di sini. Saya benar-benar minta maaf!" Mary membungkukkan tubuhnya.

"Ah, tidak! Pelayan lain juga ikut memasak, kok! Aku cuma menumis bumbu-bumbunya saja!" Lucy menyangkal.

"Tidak apa-apa, Mary. Dia memang keras kepala." Zeref menenangkan Mary, kemudian menyantap makanannya. "Hmm... jadi ini buatan Lucy. Pantas ini enak sekali." komentarnya sambil terus menyantap makanannya dengan cepat.

Lucy tidak bisa menahan senyumannya. "Kak Zeref tidak pernah bosan, ya, ngegombalnya."

"Kakak tidak menggombal. Masakanmu memang enak,"

"Ya, ya, apapun deh. Cari istri sana yang bisa digombalin. Jangan Istri orang yang diembat juga." Ujar Lucy seraya memakan makanannya.

"Baiklah, nantin kakak bawakan wanita yang kakak temukan dipinggir jalan lalu kakak gombali di depan kamu," jawab Zeref seenaknya sambil terus menyendokkan nasi ke mulutnya.

Lucy mengerucutkan bibirnya. "Ya tidak begitu juga kali. Kakak ini bersikap seolah mustahil untuk mendapatkan seorang Istri, ya. Ckckck," Lucy menggelengkan kepalanya.

Zeref hanya tertawa hambar mendengarnya.

XXX

Saat ini Zeref, Luna, dan Lucy tengah duduk di balkon kamar Lucy. Zeref berdiri di samping Luna yang tengah memandangi bintang dengan teleskop, sementara Lucy duduk di kursi balkon.

Luna menunjuk salah satu rasi bintang di langit sambil matanya tetap menempel pada lensa teleskop. "Om, bintang-bintang yang berbaris di sana itu apa namanya?"

Zeref memicingkan matanya menatap langit, mencari-cari bintang yang ditunjuk Luna. "Yang mana?"

"Itu, yang bentuknya menyerupai huruf 'V',"

"Oh, itu namanya rasi bintang Andromeda." Jawab Zeref.

"Ana... Anaconda?" Luna menatap Zeref dengan bingung.

Zeref mengusap kepala Luna sambil tertawa. "Andromeda. Itu adalah salah satu rasi bintang yang terletak di belahan langit Utara. Karena ini sudah memasuki musim gugur, jadi wajar kita bisa melihatnya. Apalagi malam ini langit begitu cerah," jelas Zeref.

Luna ber-ooh ria, lalu kembali mendekatkan sebelah matanya pada lensa Teleskop. "Kalau yang itu?" Luna lagi-lagi menunjuk salah satu rasi bintang.

"Hmm, itu namanya rasi bintang Aquarius. Itu adalah zodiak orang-orang yang lahir pada tanggal 16 Februari sampai 11 Maret,"

"Heee..."

Lucy hanya diam mendengarkan sambil tersenyum.

"Luna lahir tanggal berapa?" tanya Zeref.

"Eh? Tanggal 11 Desember..." jawab Luna.

"11 Desember, ya. Berarti rasi bintang Luna adalah Ophiuchus," ucap Zeref sambil mengarahkan teleskop Luna ke arah rasi bintang Ophiuchus.

"Ophiuchus? Luna baru dengar ada zodiak dengan nama itu," Luna meneliti rasi bintang-nya itu.

"Ophiuchus adalah rasi bintang yang baru muncul baru-baru ini karena disebabkan sumbu bumi yang telah bergeser. Zodiaknya sendiri adalah dari tanggal 29 November sampai dengan 18 Desember." Jelas Zeref, lagi.

"Heee... AH! KALAU ITU OM? ITU NAMANYA APA?!" Luna berteriak tiba-tiba, membuat Zeref terlonjak kaget.

"Mana?"

"Itu yang paling terang! Yang itu!" Luna menunjuk-nunjuk sebuah rasi bintang yang terletak amat jauh namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang Zeref. Bentuknya yang tidak beraturan membuat Zeref langsung bisa mengenali identitas rasi bintang itu.

"Oh, itu rasi bintang Orion."

"Orion? Nama yang indah," komentar Luna sambil terus memandanginya dengan teleskop.

Zeref mengangguk. "Orion adalah rasi yang paling mudah dilihat dengan mata telanjang. Bintang-bintangnya juga begitu terang. Zaman dulu, Orion digunakan sebagai penunjuk arah barat, karena dia muncul di langit sebelah barat. Dan tiga bintang yang sejajar itu dan sangat terang itu namanya Sabuk Orion atau Orion's Belt," jelas Zeref seraya mengulurkan tangannya menunjuk bintang itu.

Luna hanya mangut-mangut sambil berdecak kagum. Zeref meninggalkan Luna yang kelihatannya senang menatapi bintang-bintang, dan duduk di sebelah Lucy.

"Kakak sepertinya sangat menyukai bintang, ya," komentar Lucy.

"Yah... Begitulah. Dulu kakak pernah masuk klub astronomi ketika SMA." Sahut Zeref.

"Hoo... Aku juga suka bintang. Dulu, aku selalu melihat bintang dengan mamaku sebelum tidur. Aaaa... jadi kangen pelukan mama, deh..." dengus Lucy sambil menaikkan kedua bahunya sementara kedua tangannya meremas kain celana di atas pahanya.

Mendengar itu, Zeref tanpa ragu menggeser tubuhnya dan merangkul Lucy, menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Lucy tersentak dan memandang Zeref dengan tatapan bingung.

"Apa yang kakak lakukan?" tanyanya, heran.

"Kamu bilang kamu ingin pelukan?" Zeref tersenyum penuh arti.

"Memangnya kakak Ibuku?"

"Anggap saja kakak sedang memakai dress tidur dan berwajah seperti Ibumu," Zeref mengangkat kedua bahunya tanpa melepaskan rangkulannya.

Lucy terdiam sejenak, mencoba membayangkan apa yang dikatakan Zeref barusan. "Kenapa aku jadi ingin tertawa membayangkannya, ya?" gumamnya sambil terkikik geli, iya geli dalam artian yang sebenarnya.

Zeref tersentak. "Hei, jangan membayangkan yang aneh-aneh!" protesnya.

"Ya, habis kakak yang ngasih bayangan yang aneh-aneh sih! Aku Cuma mengembangkannya saja." Lucy mengangkat bahu sambil tersenyum jahil.

Zeref mengacak rambut Lucy dengan gemas. "Omong-omong, kamu sudah memberitahu Natsu kalau kamu akan liburan selama tiga hari di sini?" tanyanya.

"Hmmm... belum." Gumam Lucy, malas.

Zeref mengernyitkan sebelah alisnya. "Kenapa? Bisa-bisa nanti dia mengira kalau kamu sudah diculik dan melaporkannya pada polisi. Kamu mau kakak ditangkap?"

"Aku malas memberitahunya. Memangnya dia peduli? Dia pasti sedang bersenang-senang bersama selingkuhannya sekarang." Jawab Lucy dengan tatapan tajam.

"Tapi tetap saja, dia adalah suamimu. Kamu tetap harus memberitahunya. Kakak yakin Natsu pasti khawatir padamu!" Zeref bersikeras.

"Hmmm..." Lucy hanya menanggapinya dengan gumaman.

"Lucy Dragneel!" Zeref mengguncang tubuh Lucy, membuat wanita itu mengernyit kesal.

"Astaga! Kakak ini cerewet sekali! Iya, iya aku beritahu!" dengusnya lalu menyabet ponselnya dari atas meja.

"Dan jangan bilang kalau kakak yang membawamu pergi." Pesan Zeref.

"Kenapa? Takut ya disangka penculik?" Lucy meliriknya dengan sinis.

"Lakukan saja Lucy Dragneel." Ujar Zeref dengan penuh penekanan.

"Ya, ya, aku sms sekarang... Astaga, Tuhan! Pria ini benar-benar cerewet. Pantas saja tidak bisa menikah sampai sekarang." Gerutunya dengan suara pelan.

"Kakak bisa mendengarnya dengan jelas, Lucy..." ujar Zeref, kesal.

Lucy hanya mencibir kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas meja. "Sudah. Aku bilang aku sedang menginap di villa temanku, Levy McGarden," ucapnya.

Zeref mengangguk. "Besok pagi-pagi sekali kita akan ke air terjun. Udara dan embun pagi yang yang sejuk bagus untukmu dan juga bayimu.." Ucapnya sambil tersenyum

Lucy balas tersenyum. "Hm, terima kasih sudah perhatian padaku dan anak-anakku..." gumamnya.

"Tidak masalah. Lagipula mereka adalah keponakan kakak."

Lucy hanya tersenyum kecil mendengarnya.

"Hoaamm... Ma, Luna ngantuk. Tidur, yuk!" Luna menghampiri mereka sambil mengusap-usap matanya.

Zeref berdiri menggendong Luna. Kemudian dia membawa Luna masuk ke kamar. Dikecupnya kening gadis kecil itu sebelum membaringkannya dengan perlahan di atas tempat tidur yang empuk.

Lucy hanya menatapnya dengan tertegun.

"Kenapa? Kamu mau juga?" tanya Zeref begitu menyadari tatapan Lucy.

Lucy segera tersentak. "Apa? Mana mungkin! Aku masih Istri orang!"

"Oh ya? Lalu kalau sudah bukan Istri orang lagi, berarti kamu mau dong?" tanyanya seraya tersenyum jahil.

"Tidak!"

"Tapi wajahmu seakan minta dicium."

"Mata kakak kelilipan, kali."

"Kakak tidak merasa mata kakak kemasukan debu."

"Memang tidak. Tapi kemasukan setan mesum. Kakak kok tiba-tiba jadi mesum begini, sih?" tanya Lucy, risih dengan tatapan najong Zeref.

"Siapa yang kamu sebut mesum? Kakak tidak mesum. Kakak hanya mengatakan kebenaran saja." Zeref membela diri.

"Kebenaran apa coba? Sudah sana pergi! Gangguin orang aja kerjanya! Gak punya kerjaan lain, ya?" tanya Lucy, sewot.

"Memang tidak ada. Kita 'kan ke sini untuk berlibur. Kamu lupa, ya?" tanya Zeref, dengan santai.

"Arrgh! Kak Zeref jelek!" teriak Lucy, frustasi.

"Ya, ya, baru kamu yang pertama kali mengatakannya." Ujarnya dengan muka songong, menurut Lucy.

Lucy mencibir. "Hah! Dasar sombong! Baru jadi orang ganteng saja sudah songong, gimana kalau jadi orang jelek?!" maki Lucy.

Zeref tertawa keras mendengarnya. Dia berjalan menghampiri Lucy dan mengacak-acak rambutnya, membuat wanita itu makin kesal setengah mampus.

"Haha, terkadang berdebat dengan kamu ini bisa menghilangkan stress, ya!" ujar Zeref, jujur.

Lucy segera menepis tangan Zeref dari kepalanya. "Yang ada malah kebalikannya! Sudah, sana keluar! Aku mau istirahat!" usir Lucy.

Zeref kembali tertawa kecil melihat wajah sebal Lucy. "Baiklah, baiklah. Kakak keluar sekarang. Tidur yang nyenyak, ya!" kemudian pria itu menghilang dari balik pintu.

Lucy menatap pintu itu dengan nanar. Kelakuan Zeref kepadanya tadi terus-terusan mengingatkannya akan sikap lembut Natsu...

Lucy menghempaskan tubuhnya ke kasur kemudian memeluk tubuh Luna. Gadis kecilnya itu sudah terlelap. Lucy tersenyum lalu mengecup kening Luna, lalu dia pun memejamkan matanya. Dia tidur memeluk putrinya sambil memikirkan suaminya. Namun, bagaimana dengan Natsu? Dengan siapa dia berbaring sekarang? Siapa yang dia peluk? Siapakah yang tengah memenuhi pikirannya saat ini?

Lucy berharap, Natsu masih mencintainya dan memikirkannya juga saat ini.

XXX

Sementara itu Natsu tengah duduk di tepi tempat tidur. Punggungnya membungkuk dan wajahnya menunduk. Matanya menatap nanar ke arah layar ponsel di tangannya. Ruangan yang tengah dia tempati gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari TV yang remang-remang.

Sepasang tangan melingkari dadanya yang polos tanpa sehelai benang pun.

"Ada apa? Siapa yang sms?" seorang wanita muncul dari balik punggungnya. Dia menempelkan pipi putih pucatnya di lekukan leher Natsu. Tubuhnya pun polos tanpa benang.

"Lucy. Dia pergi ke vila selama tiga hari dengan sahabatnya." Natsu menghela nafas.

"Bukannya bagus? Setidaknya dia tidak akan mengganggu kita selama tiga hari ini. Dia sudah cukup menyusahkan hanya dengan statusnya sebagai istrimu. Padahal dia hanya berdiam diri di rumah." Dengus wanita itu.

Natsu menatapnya dengan tajam.

"Kenapa? Aku benar, 'kan? Kau bahkan lebih memilih bersama denganku daripada menghabiskan waktu dengannya." Wanita itu tertawa pelan lalu menghembuskan nafas hangatnya di telinga Natsu. Membuat Natsu mengernyit geli. Natsu melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan membalikkan tubuhnya menghadap wanita itu. Dibaringkannya wanita itu di bawah tubuhnya, sementara dia menatap mata hazel tua itu dengan tajam.

"Kau tahu benar kenapa aku melakukannya." Bisiknya.

"Tentu saja. Karena kau mencintaiku. Aku tahu kalau kau juga mencintaiku. Aku benar, 'kan?"

Natsu diam. Kemudian membuka mulutnya sambil tertawa kecil. "Yah..." dia mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu, kemudian mengecup bibirnya perlahan.

"Aku mencintaimu, Sayla,"

Wanita itu, Sayla tersenyum di tengah ciuman mereka.

Bersambung...

AN: Ya, ya, saya tahu ini chapter makin busuk. Ya, ya, saya tahu fic ini kayak sampah. Dan saya kagum ada seseorang yang nganggap fic ini sampah tapi tetap dia baca meskipun saya sudah tulis Warning 'DON'T LIKE DON'T READ' di atas. Atau kurang gede sampai gak bisa ditangkap oleh mata? Tidakkah orang itu lebih rendah daripada sampah? #copaskata2Obito

Dan udah ketahuan kan siapa cewek chialan yang ngerebut Natsu dari Lucy? Lho? Kok bisa? Ya, bisa. Memangnya kenapa bisa gak bisa? #plak

Oke, saya Cuma ngedumel gak jelas. Udah tau fic ini busuk tapi masih dipaksain dibaca. Dan makin ke sini fic ini makin bikin panas hati. NATSU? WHY? WHY?! #ditabok

Saya menulis plot untuk fic ini, dan baru sampai di plot chapter ketujuh. Kemungkinan fic ini akan tamat pada chapter 15. Mungkin, ya... dan kita lihat saja bagaimana perkembangan hubungan Nalu dan ZerLu. Uehehe... Oh iya, gak usah heran kalau penggunaan bahasa di sini campuran kata baku dan gak baku. Saya memang sengaja biar gak terlalu formal dan membosankan. Hehe..

Saya senang fic ini berhasil mencapai 43 review di chapter keduanya. Padahal di chapter pertama baru nyampe 16 review. Semoga di chapter ketiga ini bisa nyampe 60 review lebih, yak! ^q^ #gak

Oke, sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Salam manis,

Minako-chan Namikaze