.
Disclaimer:
Fairy Tail by Hiro Mashima
Broken Vow
By
Minako-chan Namikaze
Genre: Drama, Romance, hurt, etc.
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.
Ini sekuel dari fic You're Not Her Father
.
Enjoy!
.
.
"Baiklah. Are you ready, girls?" tanya Zeref.
Lucy menaikkan resleting jaketnya dan mengangguk mantap. "Yes, sir!" serunya dan Luna.
"Kalau begitu, ayo!" Zeref berjalan lebih dulu diikuti Luna dan Lucy dari belakang.
"Ye, ye, ye! Lihat air terjun! Yeaah!" Luna bersenandung sambil melangkah dengan riang. Lucy mendekati Luna dan memakaikan topi hangat ke kepala putri kecilnya itu. Udara di subuh hari begitu dingin, ditambah lagi dengan angin yang berhembus di perbukitan ini.
Mereka berjalan melewati jembatan panjang yang di bawahnya mengalir air sungai yang berwarna biru. Matahari mulai menunjukkan sebagian dari dirinya, membuat pemandangan di sekitar mereka semakin terlihat jelas. Mereka melewati pepohonan yang rimbun dan hijau dengan embun pagi yang menetes di setiap dedaunannya. Udara pagi yang begitu sejuk membuat langkah Lucy semakin ringan.
"Nah, kita sudah sampai." Zeref menghentikan langkahnya.
"WAAAH! AIR TERJUNNYA TINGGI SEKALI!" seru Luna.
"Indahnya..." komentar Lucy.
Mereka bertiga menatap keindahan air terjun itu dengan takjub.
"Wah, Nak Zeref! Anda ada di sini rupanya!"
Mereka segera menoleh ke arah seorang wanita tua yang pakaiannya basah kuyup sampai ke pinggang. Dari penampilannya, sepertinya wanita ini berasal dari desa yang letaknya tepat di bawah kaki bukit ini.
"Obaba-san, selamat pagi." Sapa Zeref.
"Ara, ara, selamat pagi! Kapan Nak Zeref tiba di sini?" tanyanya dengan ramah.
"Kemarin sore. Nenek sedang mencari ikan di sini?"
Nenek itu mengangguk. "Bersama yang lain juga." Lalu dia menunjuk beberapa penduduk yang sedang mencari ikan di dekat air terjun. Mereka semua langsung menyapa Zeref.
"Lalu, wanita cantik di sebelah Nak Zeref itu siapa? Kekasih Nak Zeref?"
"Ah, tidak..." Zeref terbata.
Lucy yang tengah diperhatikan pun segera membungkuk dan memperkenalkan dirinya. "S-Salam kenal! Namaku Lucy Dragneel!"
"Dragneel? Nak Zeref! Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, rupanya kau sudah berkeluarga! Tega sekali tidak mengundang nenek ke pesta pernikahanmu..." ujar nenek itu dengan raut kecewa.
"Apa? Tidak!" Lucy ingin menjelaskan bahwa dia hanyalah adik ipar Zeref, tapi suara Luna tiba-tiba menghentikannya.
"MA! MAMA!" Luna berseru kencang sambil menarik-narik ujung jaket Lucy.
Lucy segera berjongkok, menyamakan dengan tinggi putrinya. "Ada apa, sayang?" sahutnya.
"Luna mau nangkap ikan juga! Boleh, ya? Ya?"
"Menangkap ikan? Tidak boleh! Nanti Luna terpeleset dan jatuh terbawa arus sungai! Airnya juga dingin, nanti Luna bisa sakit!" tolak Lucy.
Luna segera merengut. "HUUUU! LUNA MAU NANGKAP IKAN! POKOKNYA BOLEH! BOLEH!"
"Tidak."
"Mama udah gak sayang Luna lagi!"
Demi apa. Berbicara dengan anak kecil memang begitu melelahkan...
"Mama khawatir sama Luna. Bukannya Mama tidak sayang. Luna adalah satu-satunya harta Mama yang sangat Mama cintai lebih dari apapun di dunia ini..." Lucy mengelus kepala Luna.
"Uuuu... Tapi..." Luna mulai menitikkan air matanya, membuat Lucy merasa iba.
"Ijinkan saja Lucy." Ucap Zeref.
Lucy mendongak dengan raut tidak setuju. "Tapi 'kan..."
"Tidak apa-apa kok, Ojou-chan... meskipun tidak kelihatan, tapi air di sungai ini tidak seperti air di sungai lain. Airnya hangat. Dan kami juga akan menjaga putrimu agar tidak terpeleset..." ucap Obaba dengan lembut.
Lucy menatap nenek itu dengan tatapan tak yakin, namun pada akhirnya dia mengangguk setelah melihat tatapan memohon Luna. Astaga... Jiwa nekat putri kecilnya ini benar-benar membuatnya kehabisan tenaga.
"Baiklah. Tapi Luna harus berhati-hati, ya. Jangan lari-lari dan tetap berada di dekat Obaba-san. Oke?" pesan Lucy.
"Oke!" Luna mengangguk dan berlarian kecil menyapa penduduk. Obaba pamit untuk kembali mencari ikan, dibantu oleh Luna yang dengan semangat menerkam air di bawahnya.
Lucy dan Zeref hanya diam di tempat. Lucy memperhatikan air terjun yang cukup tinggi di dekat mereka, sementara Zeref menatap Luna yang tengah berusaha menangkap ikan dengan gigih
"Apa perasaanmu sekarang sudah baikan?" Zeref memulai pembicaraan.
"Hm? Yah, kira-kira begitulah. Terimakasih sudah membawaku ke sini." Jawab Lucy.
"Tidak masalah. Akan lebih baik kalau kakak sekali-kali mengajak seseorang ke sini. Selama ini, kakak selalu datang ke sini sendirian..."
"Hee... pasti rasanya begitu kesepian, ya."
"Yah... Tapi kakak sudah terbiasa sendirian sejak kecil, jadi tidak masalah."
"Hmm..."
Hening
Suara angin berhembus dipadu dengan suara gemericik air dan juga jeritan kegirangan Luna yang berhasil mendapatkan ikan mendominasi suasana yang begitu canggung di antara kedua orang itu.
Tiba-tiba...
"Hiks... Heuks..."
Terdengar bunyi isakan.
Zeref menoleh dan mendapati Lucy tengah menangis dalam diam.
Pria itu segera panik. "A-Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?"
Lucy mengusap air mata dengan kedua tangannya. "Maaf... Aku tidak bisa menahannya. Maaf..."
"Sudahlah... Jangan menangis. Sebegitu menyedihkankah kakak di matamu?" Zeref berusaha menenangkan Lucy.
"Bukan. Bukan begitu. hanya saja... aku hanya berpikir, Andai yang membawaku ke sini itu Natsu, bukan kakak... tapi, dia... laki-laki itu bahkan lebih memilih wanita lain daripada aku. Kenapa... kenapa..."
Zeref segera menarik Lucy ke dalam pelukannya.
"Kenapa... kenapa aku selalu berakhir seperti ini? Menangis seperti orang bodoh... Apa salahku? Kenapa dipermainkan seperti ini?"
Zeref mengelus kepala Lucy, sesekali menepuk puncaknya untuk menenangkan wanita itu. Dia sendiri kebingungan bagaimana cara menenangkan Lucy. Apa yang harus dia katakan untuk menghibur wanita itu. Dia tahu, kata-kata bijak tidak akan berguna untuk menenangkan seorang wanita yang tengah patah hati. Jadi dia memilih diam dan memeluk wanita itu hingga tangisnya reda.
"Bagaimana pun, ini bukan salahmu." Ucap Zeref ketika tangis Lucy mulai mereda. "Namun, pasti ada suatu alasan kenapa Natsu melakukan ini padamu. Kakak tahu dia bukan tipe pria yang dengan mudah menghianati pasangannya..."
"Tapi, pada akhirnya dia menghianatiku dan bahkan bersikap seolah tidak ada yang terjadi."
"Percayalah pada kakak. Natsu pasti punya alasan untuk itu..."
"Dan, kalau alasannya dia tidak mencintaiku lagi? Tidak menginginkanku lagi?"
Zeref sempat terkejut mendengarnya, kemudian dia tersenyum lembut. "Kalau begitu, kamu harus menyiapkan keputusanmu dari sekarang. Tetap bersamanya atau meninggalkannya."
"Meninggalkan Natsu... tapi, bagaimana dengan putriku..." Lucy menatap Luna dari kejauhan.
"Makanya itu, kakak bilang kamu harus mempertimbangkannya dari sekarang..."
Lucy mengangguk kemudian memeluk lututnya. "Aku ingin meninggalkannya. Aku sudah muak dengan semua kebohongannya... tapi..."
Zeref menunggu Lucy menyelesaikan kalimatnya, namun sepertinya wanita itu tidak berniat untuk melanjutkannya.
Lalu hening. Namun, sepertinya Lucy sudah kembali normal kembali.
"Entah kenapa tiba-tiba aku jadi ingin ikan panggang..." ucap Lucy, tiba-tiba.
Zeref tersenyum mendengarnya. Dasar, wanita hamil dengan moodswing-nya...
"Mama! Mama! Lihat! Luna dapat banyak ikan!" Luna menghampiri Lucy dengan seember ikan di tangannya.
"Woah! Anak mama memang hebat!"
Zeref tertawa kemudian bangkit dari duduknya. "Tepat sekali. Ne, Luna, bagaimana kalau kita bakar ikannya?"
"Wuaaah! Boleh! Boleh!" serunya, spontan.
Zeref tertawa lalu berjalan bersama Luna menuju ke seorang pria tua yang kelihatan begitu ramah. Mereka berbicara sebentar lalu pria tua itu menyusun beberapa ranting kayu dan membakarnya.
Lucy tetap duduk di tempatnya dan menonton semua itu.
Berpisah... Bercerai dengan Natsu... Itu sesuatu yang tidak pernah terlintas di pikirannya. Namun, sekarang kata itu benar-benar memenuhi kepalanya. Melihat keadaannya sekarang, akan lebih baik kalau dia dan Natsu berpisah. Toh, pria itu sudah tidak menginginkannya lagi. Dia akan terlihat seperti wanita bodoh yang masih mau berumah tangga dengan Natsu sementara suaminya itu punya simpanan lain di luar sana. Dia tidak bisa menerima itu!
Sejak awal dia sudah meyakinkan dirinya kalau apa yang dia lakukan ini adalah benar. Mengijinkan Natsu menikahinya. Mencintai Natsu kembali lebih dari sebelumnya... Tapi, rupanya keputusannya itu benar-benar keputusan yang salah. Hasilnya, dia menjadi lebih terpuruk dari yang dulu. Hatinya gelisah. Dia dilanda dilemma. Perceraian bukan sesuatu yang mudah... Apalagi mereka memiliki Luna yang begitu menyayangi Natsu... Tapi, dia juga tidak mau terus bertahan dalam pernikahan busuk itu.
Jadi, apa yang harus dia lakukan?
"Mamaaa! Bantuin bersihin ikannya dong! Kalau gak, nanti ikannya gak mau Luna bagi ke mama!" teriak Luna.
Lucy tersenyum mendengarnya kemudian berdiri dari duduknya. "Eeeh?! Jangan gitu! Mama 'kan juga mau!"
Setelah membersihkan isi perut ikan dan mengolesinya dengan garam dan juga kecap, mereka pun mulai memanggang ikannya. Beberapa penduduk juga membakar ikan mereka dan ikut makan bersama. Zeref meniupkan daging ikan kemudian menyuapkannya pada Lucy dan Luna.
Beberapa penduduk mengira kalau Lucy adalah Istrinya Zeref. Lucy hendak menyangkalnya, namun Zeref malah meng-iyakan. Membuat Lucy hanya dapat berkedip tidak mengerti.
"Mereka sering menanyai kakak tentang kapan kakak menikah, siapa pacar kakak, lalu mereka akan menyodorkan putri mereka pada kakak. Akan lebih baik kalau kamu membantu kakak lepas dari siksaan batin itu..." bisik Zeref di telinga Lucy.
Lucy tertawa mendengarnya. "Hahaha! Makanya! Cari pacar sana!"
"Oh, kenapa dari kemarin kamu terus mengatakan hal itu! Apa itu sebuah mantra untuk membuat orang kesal?" desis Zeref, jengkel.
"Hahaha! Ya kali! Sayangnya Cuma berlaku untuk pria tragis seperti kakak!"
"Kakak tidak tragis!" bela Zeref.
"Tidak tragis apanya? Wajah sudah oke, posisi di perusahaan juga mantap, tapi kok gak punya gandengan? Ngelirik aja enggak, apalagi punya! Hahaha! EEEHH?! A-APA YANG KAKAK LAKUKAN?!" Lucy menjerit kaget saat tangan Zeref tiba-tiba menyentuh perutnya.
"Tidak apa-apa 'kan? Lagipula, kakak ini 'kan pamannya. Dan ini juga bisa membuatmu menutup mulutmu itu." Zeref menatap Lucy dengan tajam.
"Apa ini? Kakak marah, ya? Wuah... jadi takut..."
"Oh, diamlah..."
"Hahaha! Iya deh!"
Zeref mengusap perut Lucy dan suasana menjadi hening. "Entah kenapa kakak jadi ingin menjadi seorang ayah."
Lucy terhenyak mendengarnya, kemudian kembali tertawa. "Makanya jadi pasangan!"
Dan untuk pertama kalinya, Lucy mendengar Zeref mengumpat. Kasihan. Siapa suruh jadi pria yang tragis?
XXX
Mobil Zeref memasuki perkarangan kediaman Dragneel. Lucy dan Luna keluar dari mobil, begitu pun dengan Zeref.
"Terimakasih atas semuanya, kak. Rasanya begitu menyenangkan. Maaf merepotkan selama di sana." Lucy membungkuk.
Zeref tersenyum. "Tidak masalah."
"Om! Nanti ajakin Luna ke sana lagi ya! Sama mama dan papa juga!" seru Luna.
Zeref tertawa, lalu mengusap kepala Luna. "Iya, iya."
"Kakak mau mampir dulu? Akan kubuatkan makan malam..." tawar Lucy.
"Tidak usah. Kakak akan langsung ke bandara dan kembali ke Magnolia. Lagipula, Natsu tidak akan senang kalau dia melihat kakak yang mengantarmu ke sini." Tolak Zeref sambil melirik ke samping kanannya.
Lucy melihat ke arah yang dipandang Zeref. Ah, mobil Natsu yang terparkir.
"Dia ada di rumah, 'kan? Lebih baik kakak segera pergi sebelum dia melihat kakak." Zeref membuka pintu mobilnya.
"Baiklah kalau begitu. sekali lagi, terimakasih, kak..."
Zeref hanya tersenyum lalu melambai. Dia mendongak, dan tidak sengaja melihat sesuatu di balik jendela besar di kamar lantai dua.
Dia tersenyum lalu memasuki mobilnya.
Lucy berbalik dan berjalan memasuki rumahnya setelah mobil Zeref keluar dari perkarangan rumahnya.
"Luna, jangan lupa. Mandi dulu baru tidur, ya, sayang." Pesan Lucy saat Luna sudah berlarian menuju kamarnya.
"Iyaaa!"
Lucy membuka pintu kamarnya dan mendapati Natsu sudah berdiri di hadapannya. Dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
"Sudah pulang?" tanyanya.
Lucy menutup pintu di belakangnya dan berjalan melewati Natsu. "Pertanyaan bodoh macam apa itu." jawabnya dengan ketus. Namun suara Natsu menghentikannya.
"Sejak kapan Levy berubah menjadi sepupuku?"
Lucy terdiam. Kemudian menolehkan kepalanya dengan ekspresi dingin. "Sejak kalimat bertemu dengan klien berganti makna menjadi bertemu selingkuhan."
"Apa maksudmu?" Natsu mengernyitkan alisnya, tidak mengerti. "Kau bilang kau hanya berlibur tiga hari! Tapi ini sudah empat hari! Dan sekarang sudah malam! Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu dibawa oleh pria itu?!"
"Seharusnya aku yang bilang begitu! Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang memulainya! Bukankah kau sendiri yang setiap malam menghabiskan waktu dengan wanita lain? Lalu kenapa aku tidak boleh? Dia hanyalah sepupumu, jadi apa masalahmu?!"
"A-Apa?" Natsu kehabisan kata-kata. Dirinya langsung mematung dengan mata melebar syok. Bagaimana Lucy bisa mengetahuinya?
"Kenapa? Kau kaget aku sudah mengetahuinya? Mengetahui kalau kau sudah berselingkuh dariku? Menghianatiku? Mempermainkanku? Kau pikir aku sebodoh itu hingga kau pikir bisa terus-terusan menutupinya dariku?!"
"Lucy! Biar kujelaskan!"
"Apa?! Jelaskan! Coba jelaskan alasanmu!" teriak Lucy. Matanya memanas. Dadanya begitu sesak. Kakinya gemetar. Semakin dia berteriak, semakin hatinya terasa tergores. Rasanya benar-benar sakit hingga dia merasa ingin mati saat itu juga.
Natsu terdiam. Tangannya mengepal. "Aku... Sebenarnya..." Natsu bicara dengan terbata, seolah sesuatu yang akan dia jelaskan itu begitu sulit untuk dikeluarkan.
Lucy menunggu dengan sabar.
Wajah Natsu menggelap penuh dengan berbagai emosi. Marah, kesal, bingung, dan bersalah. Dia menggigit bibirnya lalu memalingkan wajah. "Aku... Tidak berselingkuh..." bisiknya.
Lucy membelalak mendengarnya. "Kau masih mau mengelak?!"
"Tidak! Sungguh! Percayalah!" Natsu berjalan mendekati Lucy dan menggenggam kedua tangannya. Namun Lucy segera menepisnya.
"Jangan sentuh aku."
Lucy berjalan cepat menuju pintu. Tapi, Natsu dengan cepat memeluknya dari belakang. Lucy meronta dan menginjak-injak kaki Natsu. Namun, pria itu tidak mau melepaskannya. Lucy berhenti meronta dan menangis. Nafasnya tersengal.
"Lepaskan..."
"Tidak."
"Aku benci padamu..."
"Aku tahu..."
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Kenapa?"
"Percayalah padaku... Aku sangat mencintaimu..."
"Kalau begitu kenapa?"
"..."
Lucy memejamkan matanya dan menghentikan tangisnya. Dia menghela nafas kemudian berbalik.
PLAK!
"Tidakkah kau tahu betapa menjijikkan dirimu sekarang ini?! Jangan pernah menyentuhku lagi, dasar brengsek!"
"Luce..."
BRAK!
Lucy keluar dari kamar.
Natsu menggeram dan memukul kaca lemari di sampingnya. Beberapa tetes darah keluar. Wajahnya penuh keringat. Matanya menggelap, sarat akan kemarahan.
"Sial!"
Bersambung...
AN: Nah, saya mulai berpikir untuk mengadakan vote untuk fic ini sebanyak tiga kali. Meskipun saya sudah menentukan siapa pasangan yang akan berbahagia di akhir cerita ini, tetap saja saya pengen tahu reader sekalian dukung Lucy sama siapa. Apakah tetap kepada NaLu yang hubungannya mulai gak jelas ini? Ataukah ZerLu yang kayaknya mulai dekat di fic ini... ehehehe... vote ya! Nanti pada akhir cerita, saya akan lihat siapa aja yang votenya sesuai dengan ending cerita. Saya akan beri hadiah sebuah fic request!
Karena saya akan mengadakan votenya sebanyak 3 kali, jadi kalian bisa mengubah pilihan kalian itu. Misalnya pada chapter ini kalian pilih NaLu, terus pada chapter selanjutnya (chapter di mana saya kembali mengadakan vote yang kedua) tiba-tiba berubah jadi ZerLu, itu tidak masalah. Tapi, hadiah fic request hanya akan saya berikan pada satu orang reader yang pilihannya tidak pernah goyah hingga vote yang ketiga, ehehehe... jadi, pilih yang bijak ya. Jangan sampai salah... #plak
Oke, ada yang bisa nebak arti dari sikap mencurigakan Natsu?
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
