.

Disclaimer:

Fairy Tail by Hiro Mashima

Broken Vow

By

Minako-chan Namikaze

Genre: Drama, Romance, hurt, etc.

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.

Ini sekuel dari fic You're Not Her Father

.

Enjoy!

.

.

Lucy dan Natsu masih tetap bertengkar. Pertengkaran itu sudah berlangsung selama seminggu. Namun Lucy tetap tidak mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri. Dia tetap menyiapkan Natsu sarapan dan makan malam. Natsu sering sekali meminta maaf padanya, namun Lucy sama sekali tidak pernah menggubrisnya. Natsu sudah jarang pulang larut, namun tetap saja Natsu masih menemui wanita itu. Apalagi saat weekend. Terkadang Lucy merasa bahwa rumah tangga mereka sudah tidak harus dipertahankan lagi. Dia tidak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini. Tapi apa daya? Dia tengah hamil sekarang. Tidak mungkin dia bercerai di saat dia tengah mengandung dan mengulangi semua penderitaannya dulu.

"Wah. Syukurlah, Erza. Akhirnya kau bisa keluar juga dari tempat busuk itu."

"Ya, aku benar-benar bersyukur tua bangka itu memecatku. Aku benar-benar sudah tertipu dengan tawarannya dan menandatangi kontrak kerja tiga tahun itu. Untunglah dia segera memecatku setelah aku 'mengacau' di sana. Atau aku akan segera mati membusuk di sana tidak lama lagi."

"Hahaha! Jadi, di mana sekarang kau bekerja?" saat ini Lucy tengah berteleponan dengan sahabat karibnya, Erza.

"Di salah satu cabang perusahaan Dragneel. Kau tahu, ternyata yang menjadi bosku itu adalah sepupunya Natsu. Zeref Dragneel,"

Lucy membulatkan matanya. "Wah, kebetulan sekali. Tapi, kurasa kau memang cocok untuk jadi asistennya."

"Kenapa bisa begitu?" suara Erza terdengar penasaran.

"Dia itu tidak suka didekati oleh wanita. Apalagi yang katanya suka umbar-umbar tubuh mereka di depannya. Dan kurasa, dengan hadirnya orang sepertimu di sisinya, pasti Kak Zeref akan sangat terbantu."

"Oh iya? Kurasa juga begitu. tapi, bukannya dia sudah punya pacar, ya?"

"Eh? Kau bilang apa?" Lucy berkedip mendengar perkataan Erza.

"Zeref-san sudah mempunyai pacar. Aku melihat mereka hampir berciuman di ruangannya tadi." Jelas Erza.

Mendengarnya, entah kenapa Lucy merasa kecewa. "Wah, baguslah. Akhirnya dia bisa lepas juga dari kesendiriannya."

"Omong-omong, sudah dulu, ya, Lucy. Aku harus menyiapkan makan malam untuk Jellal. Sebentar lagi dia pulang,"

"Ah, iya. Terimakasih sudah mau menemaniku mengobrol."

"No problem. Jaa na,"

"Jaa ne!"

Dan sambungan telepon terputus.

Lucy meletakkan ponselnya di samping tempat duduknya. Kemudian dia menyandarkan lehernya di sandaran sofa. Menghela nafas pelan, Lucy merasa ada sesuatu yang hampa dalam hatinya. Lalu karamelnya melirik ke jam dinding. Sudah pukul sembilan malam. Luna sudah pergi tidur ke kamarnya. Dan dia juga harus pergi ke kamarnya untuk istirahat. Dia sudah menghentikan hobinya yang senantiasa menunggu Natsu pulang. Toh, hari ini pria itu juga tidak akan pulang, lagi.

Tiba-tiba ponsel Lucy berbunyi. Lucy segera meraih benda kecil itu dan melihat siapa yang tengah meneleponnya. Melihat sebuah nama tertera di situ, sebuah senyum tiba-tiba tertarik dari kedua belah bibirnya. Lucy segera mengangkat telepon itu.

"Bagaimana keadaanmu?" suara maskulin bernada lembut terdengar dari seberang, membuat Lucy meringis.

"Aku tidak cukup baik. Hari ini aku bertengkar dengannya. Dan setelah itu dia menerima telepon dari selingkuhannya. Dia langsung pergi setelah mengatakan kalau dia tidak akan pulang malam ini.

"Kamu terdengar biasa saja. Kenapa kamu tidak mencegahnya?" tanya Zeref, terdengar heran.

"Buat apa? Aku tahu dia akan tetap pergi meskipun aku mencegahnya. Dia bahkan berani menyangkal kalau dia tidak berselingkuh."

"Kalau dia mengatakan kalau dia tidak selingkuh, berarti dia memang tidak melakukannya. Bukankah lebih baik kamu mempertimbangkan perkataannya? Kakak yakin Natsu benar-benar mencintaimu..."

"Aku tidak yakin, kak. Aku benar-benar dibuat bingung olehnya. Aku tampak seperti wanita bodoh yang masih ngotot bertahan berada di dalam situasi menyedihkan seperti ini. Aku benar-benar bodoh sampai aku merasa ingin mati saja daripada hidup seperti ini." Lucy berkata pelan. Rasa nyeri kembali menyergap hatinya.

"Apa yang kamu katakan? Kakak tidak akan membiarkanmu mengakhiri hidupmu begitu saja!"

Lucy tertawa. "Ya, ya. Aku hanya bercanda... yah, sedikit bercanda. Terkadang ada saat di mana aku merasa lebih baik menghilang dari dunia ini. Tapi, tentunya itu tidak mudah untuk dilakukan."

"Lucy, kenapa kamu tidak bercerai dengan Natsu saja? Lebih baik seperti itu daripada kamu terus-terusan disakiti seperti ini." Suara Zeref terdengar begitu mengkhawatirkan Lucy.

"Entahlah, kak. Aku bingung. Benar-benar bingung langkah apa yang harus kulakukan saat ini. Aku tengah hamil... dan, menurut hukum, kami tidak boleh bercerai sebelum bayi ini lahir."

"Benar juga..."

Kemudian suasana hening. Lucy tahu kalau Zeref tengah memasang wajah murung sekarang, pria itu terlalu memikirkannya.

"Aku mendengar dari Erza, kalau kakak sudah punya pacar, ya? Tidak kusangka akan secepat ini kakak menemukan wanita yang pas."

"Kami sudah putus." Jawab Zeref dengan cepat.

Lucy tersedak air liurnya sendiri. "A-Apa?"

"Kami sudah putus. Kakak memutuskannya."

"Tapi kenapa?"

"Dia menjengkelkan. Terlalu banyak bicara. Dan selalu mengganggu pekerjaan kakak."

Lucy sweatdrop mendengar penuturan Zeref. "Lalu, kenapa kakak menjadikannya pacar?"

"Yah, karena kamu terus-terusan mengejek kakak, jadi kakak berpikir untuk mencoba menjalin hubungan dengan seorang gadis. Dan kebetulan, anak gadis dari salah satu klien kakak datang ke kantor kakak dan memperkenalkan dirinya. Dia menyatakan cintanya pada kakak dan kakak langsung menerimanya."

"Wah, gadis yang malang."

"Ternyata benar, kakak memang sulit untuk menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Kakak begitu pilih-pilih, kan?" Lucy Zeref sekarang pasti tengah memasang wajah masokis.

"Tidak juga. Menurutku itu adalah keputusan yang baik. Daripada menyesal di kemudian hari."

Zeref tertawa mendengarnya. Dan mereka menghabiskan waktu dua jam untuk berteleponan.

XXX

Keesokan harinya, Lucy tengah bermain bersama Luna di halaman belakang rumah. Tiba-tiba suara bel pintu depan berbunyi, menandakan ada tamu yang berkunjung. Lucy menyuruh Luna bermain sendirian dulu dan segera berlarian menuju pintu depan. Saat dia membukakan pintu, dia mendapati Lisanna sudah beridiri di sana dengan senyum lebarnya.

"Halo! Selamat siang, Nyonya Dragneel!" Lisanna segera melompat ke pelukan Lucy.

"Lisanna! Kapan kau ke sini? Bukankah ini bukan hari libur?" tanya Lucy seraya melepaskan pelukan Lisanna dan tersenyum ke arah gadis itu.

"Aku ke sini tadi pagi. Aku mengambil cuti. Pekerjaan di kantor benar-benar melelahkan sampai-sampai aku merasa mereka bisa langsung membunuhku kapan saja. Jadi, dengan beralasan kalau Mira-nee akan melahirkan lagi, jadi aku bisa kabur dari tempat itu!" Lisanna tertawa puas, membuat Lucy sweatdrop di tempat.

Kemudian Lucy memiringkan kepalanya dan mendapati seorang pria blonde yang berdiri di belakang Lisanna.

"Lho? Sting juga ikut ke mari?"

"Yup! Aku dan Sting membawakanmu oleh-oleh!"

Lisanna mengangkat sebuah udang lobster raksasa dan satu ikan besar yang sudah dia ikat dengan tali ke hadapan Lucy.

"W-Wow! Apa yang kalian memancing ini?"

Sting mengangguk. "Kemarin aku mengajak Nana (panggilan sayang Sting untuk Lisanna) memancing di laut. Dia keliatan benar-benar stress dengan pekerjaannya, jadi aku membawanya ke tempat terbuka."

Lisanna tertawa riang. "Dan di sana benar-benar menyenangkan. Meskipun aku sama sekali tidak berhasil menangkap ikan satu pun, tapi, pacarku yang tampan ini rupanya jago memancing dan mendapatkan banyak makhluk laut di sana!"

"Ah, begitu! Terimakasih oleh-olehnya! Ayo, masuk! Luna sedang bermain di halaman belakang." Lucy mempersilahkan kedua couple itu masuk.

"Tidak. Tidak. Kami ke sini bukan untuk bermain. Kami ke sini mau menjemput kalian untuk pesta barbeque di rumah Mira-nee! Kami akan memanggang semua yang kami dapat di laut. Dan teman-teman yang lain juga ikut hadir nanti malam!" seru Lisanna.

"Wah, kedengarannya seru!" Lucy menanggapi dengan semangat.

"Omong-omong, di mana Natsu-san?" tanya Sting. Matanya mengintip ke dalam rumah, mencari sosok pria berambut pink.

"Ah, Natsu. Dia ada pekerjaan di kantor, jadi tidak bisa pulang malam ini." Jawab Lucy.

"Yah, sayang sekali." Lisanna mendengus kecewa.

"Tidak usah pikirkan dia. Aku dan Luna akan tetap pergi bersama kalian. Lagipula, jarang kita semua bisa berkumpul bersama lagi. Aku juga sangat kesepian berada di rumah ini seharian." Ujar Lucy.

"Yosh! Kalau begitu, ayo berangkat!"

"Sebentar, aku akan ganti baju dulu." Kemudian Lucy menyuruh Sting dan Lisanna masuk.

XXX

"Lalu, kau tahu? Saat kami sudah tiba di tengah laut, dia bukannya menghiburku dan malah pergi menghabiskan waktunya bersama kakek-kakek tua untuk memancing! Dan dia dengan seenaknya menyuruhku menjaga pancingannya sementara dia menarik pancing yang satunya! Menyebalkan!"

Lucy tertawa mendengar cerita Lisanna.

Lisanna sekarang benar-benar berubah. Dia sangat baik dan penyayang, jauh berbeda dengan Lisanna yang penuh obsesi dulu. Lucy melirik Sting yang kini tengah mengusap puncak kepala Lisanna dengan gemas seraya mengemudikan mobil. Raut wajah Lisanna yang bahagia, senyum lebarnya yang benar-benar tulus dari lubuk hatinya, membuat Lucy iri akan kebahagiaan yang tengah gadis itu rasakan.

"Ah, iya. Sting, nanti berhenti sebentar di depan super market. Mira-nee bilang mereka kehabisan saus dan juga kecap. Jadi, kita harus membelinya." Ucap Lisanna.

"Baiklah." Angguk Sting.

Mereka pun berhenti di depan super market. Saat itu hari sudah sore, menjelang malam. Jadi, suasana di depan super market benar-benar sepi.

Lisanna dan Sting keluar dari mobil.

"Ayo, Luna! Tante belikan satu es krim untuk Luna! Luna suka rasa apa?" tanya Lisanna seraya membantu Luna turun dari mobil.

"Umm... Dua boleh tidak?" tanya Luna, dengan tatapan yang selalu ampuh membuat Lucy membelikan gadis kecil itu seabrek permen.

"Tentu!"

"Kalau begitu Luna mau rasa stoberry sama vanila!"

Lisanna mengangguk-angguk. "Oke. Lho?" dia menoleh ke dalam mobil. "Lucy, kau tidak mau ikut?"

"Ah, tidak. Kalian saja. Aku lelah jadi ingin menunggu saja di sini." Jawab Lucy sambil memasang senyum letih.

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang menemani Lucy-san?" tawar Sting.

"Tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Kalian tidak akan lama juga 'kan?" tolak Lucy.

"Uhh. Baiklah. Kami akan segera kembali." Ujar Lisanna, namun gadis itu tetap menatap Lucy dengan khawatir sebelum melangkah memasuki super market.

Dan ketiga orang itu segera meninggalkan Lucy sendirian di mobil.

Lucy mengusap perutnya dengan lembut. Tatapan matanya memancarkan perasaan sayang. Dia mulai berpikir, akan dibawa ke mana hubungannya dengan Natsu.

Tok, tok, tok.

Lucy tersentak mendengar ketukan di kaca mobil. Dia segera menoleh. Manik karamelnya langsung membulat mendapati seorang pria berbadan besar yang tengah berdiri tepat di samping jendelanya sambil memegang sebuah belati.

XXX

Lisanna, Luna dan Sting berjalan keluar dari super market. Dan betapa terkejutnya mereka mendapati bahwa pintu mobil mereka terbuka lebar dan satu kaca jendela telah pecah. Dan yang lebih parah lagi, Lucy tidak ada!

"Lucy! Lucy tidak ada! Di mana dia? Di mana dia, Sting?!" Lisanna menjerit panik.

"Mama ke mana? Kenapa jendelanya pecah, tante? Mama Luna baik-baik saja 'kan?" Luna mulai merengek. Wajah gadis kecil itu benar-benar ketakutan, takut terjadi sesuatu pada mamanya.

"Apa dia diculik? Apa yang terjadi? Bagaimana Lucy bisa menghilang?!"

"Tenang. Tenang dulu. Ayo kita cari dia dulu. Lisanna, coba kau tanyakan orang sekitar apa mereka melihat Lucy-san. Atau cari satpam yang berjaga di super market ini! Aku akan mencari Lucy-san!" titah Sting.

"B-Baik! Ayo Luna!"

Mereka segera berpencar. Sting memperhatikan bagian kaca mobilnya yang berserakan di tanah. Kemudian, dia berputar ke arah di mana pintu mobilnya terbuka lebar. Jika dia jadi Lucy, ketika dia membuka pintu ini dengan tergesa-gesa, dia pasti akan berlari masuk ke super market atau malah berlari lurus ke depan sana.

Namun, Lucy tidak masuk ke super market, berarti dia pasti ke arah sana!

Tanpa berpikir dua kali, Sting segera melajukan kakinya ke arah di mana Lucy yang diyakininya kabur ke arah sana. Hari sudah gelap, dan lampu-lampu jalanan satu persatu mulai dihidupkan. Sting mendapati sebuah lorong sempit dan gelap di depannya. Dia segera masuk ke sana. Dan tepat sekali, dia mendengar bunyi hantaman dan juga teriakan dari arah situ.

"Lucy-san!" jerit Sting begitu dia melihat tiga sosok di dalam kegelapan. Dan betapa terkejutnya dia mendapati Lucy tengah dicengkram dengan kuat oleh seorang berbadan besar dan sebuah pisau yang sudah siap untuk menggorok lehernya yang dipegang oleh pria berbadan besar yang satunya.

"Cih, kita kedatangan pengganggu." Ucap pria yang tengah mencengkram Lucy.

"Habisi dia sebelum dia mengacau." Titah pria yang memegang pisau.

Pria itu segera melepaskan cengkramannya dari Lucy yang nyaris pingsan dan berjalan dengan tenang ke arah Sting.

Sting memasang kuda-kudanya. Dia pernah belajar judo selama dia SMA. Dia bisa menggunakannya untuk pertarungan i-

BUAK!

Sting segera terlempar begitu pria itu dengan tiba-tiba menendang perut Sting. Pria blonde itu menggeram kesakitan lalu bangkit. Diambilnya tempat sampah besar di dekatnya dan dilemparkannya ke arah si pria besar. Selagi pria itu menangkis tempat sampah besi itu, Sting segera berlari ke arahnya dan memukul perutnya. Namun pria itu hanya meringis kecil dan kembali menghantam Sting.

Lucy membuka manik karamelnya. Dia langsung gemetar mendapati sosok Sting tengah dihajar habis-habisan dan diinjak-injak oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal.

"S-Sting..." desisnya.

Pria yang kini tengah mencengkramnya pun kembali menempelkan pisaunya di leher Lucy, menekannya sedikit hingga menyebabkan setetes darah keluar dari sana.

"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, gadis malang." Bisik pria itu.

Lucy berusaha menggerakan tubuhnya yang terasa remuk. Namun percuma, dia benar-benar babak belur sekarang. Entah apa yang dua pria gila ini incar darinya. Tapi, dia harus melawan atau bayinya akan mati!

"LUCY! STING!"

"Jangan bergerak! Segera angkat tangan kalian!"

Dan Tuhan masih menyayanginya. Lisanna datang dengan dua polisi dan juga satpam di kedua sisinya. Pria di sampingnya segera berdecih dan semakin mengeratkan pisau di lehernya, membuat Lucy berdesis kesakitan.

"Lucy!"

"Mama!"

"Jatuhkan pisaumu atau kau akan kutembak!" ancam polisi.

Pria itu terdiam sesaat, lalu melemparkan tubuh Lucy ke arah polisi itu. Satpam berhasil menangkap tubuh Lucy namun dua orang penjahat itu telah kabur dan menghilang di balik lorong gelap di belakangnya. Polisi-polisi itu segera mengejar mereka.

"Lucy! Sting!" Lisanna segera menghampiri Lucy.

"Mama!" Luna segera memeluki tubuh Lucy dan menangis sejadi-jadinya.

"Jangan pedulikan aku, Lis. Lebih baik kau segera menolong Sting..." bisik Lucy.

Lisanna tersentak dan menoeh ke arah Sting yang telah berbaring tak bergerak lagi.

"Sting! Sting! Kau dengar aku! Hey! Buka matamu!" Lisanna mengguncang bahu Sting yang sudah tidak sadarkan diri.

"Lebih baik kita segera membawanya ke rumah sakit. Saya sudah memanggil ambulance." Ucap Satpam yang masih bersama mereka.

Lisanna mengangguk dan mengangkat tubuh Sting dibantu oleh sang satpam. Lucy juga ikut bangkit dari duduknya, namun dia segera mengerang kesakitan.

"Lucy, ada apa?"

"Perutku... Perutku sakit sekali..." desis Lucy seraya memegangi perutnya. Air mata langsung mengalir di kedua matanya. "Sakit... tolong, sakit... sakit!" dia terus mengulanginya. Luna segera membantu Lucy dengan mengusap-usap perut Ibunya sambil terus menangis.

Lisanna menyerahkan Sting pada satpam dan segera menghampiri Lucy. Dan betapa terkejutnya dia mendapati genangan darah di bawah tempat Lucy duduk.

XXX

Lucy membuka matanya. Putih. Dia menoleh ke samping. Putih. Dia menatap ke sekelilingnya. Semuanya berwarna putih. Di mana ini? Apa dia sudah mati?

Angin berhembus menerpa wajahnya. Lucy mendudukkan dirinya sambil terus menatap ke sekeliling, menebak-nebak di mana dia sekarang. Suara tawa anak kecil tiba-tiba mengagetkannya. Dia segera berdiri. Menatap ke sekeliling tempat itu. Bayangan sosok seorang anak kecil tiba-tiba tertangkap matanya.

Anak itu begitu kecil, usianya mungkin sekitar lima tahun. Rambutnya berwarna pirang sepertinya dan matanya berwarna obsidian seperti... Natsu.

Anak itu, bocah lelaki itu berhenti tepat di depannya. Seulas senyum polos dan ceria bertengger dengan manis di wajah bulatnya.

Lucy segera berjongkok dan tersenyum ke arah bocah itu.

Bocah itu tertawa dan memeluk Lucy dengan sangat erat. Lucy membalas pelukannya. Namun, bocah itu segera melepas pelukannya dan kini menciumi kedua pipi Lucy.

Lucy menatap anak itu dengan bingung, namun dia kembali menyunggingkan senyumannya ketika anak itu kembali menunjukkan senyum lebarnya ke arahnya.

"Aku sayang mama!" serunya.

Lucy mengusap kepala anak itu. "Mama juga."

Anak itu tertawa lalu berjalan mundur menjauhi Lucy. Lucy memandangnya dengan terkejut.

Anak itu semakin menjauh. "Selamat tinggal, Mama! Makasih, ya, udah jadi mamaku!" dan melambai-lambai ke arahnya.

Air mata Lucy mengalir deras. Dia mengulurkan tangannya secepatnya, berusaha menggapai putranya yang perlahan menghilang ke balik warna putih yang mengelilinginya.

"Tidak... Jangan pergi..."

.

"Tidak. Kembalilah... jangan pergi! Kumohon..."

"Lucy, tenanglah..." suara Lisanna bergetar menahan tangis.

Lucy segera membuka matanya. Nafasnya memburu. Dia menatap ke sekelilingnya. Dia mengenal tempat ini. Ini rumah sakit.

"Bayiku... Bagaimana dengan bayiku?! Apa terjadi sesuatu padanya?!" Lucy berusaha duduk, namun rasa nyeri di perutnya seakan membunuhnya. Dia menatap Lisanna dan juga Dokter yang berada di sampingnya. Raut wajah mereka muram, terutama Lisanna yang tiba-tiba menangis.

"Maafkan aku. Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak mengajakmu keluar, semua ini tidak akan terjadi..." isaknya.

"Apa maksudmu? Aku tanya bagaimana keadaan bayiku?! Apa dia baik-baik saja? Aku tidak..." Lucy meneguk ludahnya. Manik karamelnya bergetar menahan tangis. "Aku tidak keguguran, bukan?" tanyanya, pelan.

Sayangnya Lisanna sama sekali tidak menjawabnya dan malah melontarkan kata maaf berkali-kali. Jantung Lucy seakan berhenti berdetak. Dia sudah tahu jawabannya, tapi dia tidak ingin mempercayainya.

"Maafkan kami, Ibu Lucy. Kami tidak bisa menyelamatkan bayimu..." ucap Dokter itu pada akhirnya dengan raut wajah amat menyesal.

Bibir Lucy bergetar. Matanya memanas, air mata langsung membanjiri pipinya. "Apa?" suaranya serak.

"Apa yang kaukatakan, Dokter? Kau pasti bercanda 'kan? Bayiku baik-baik saja. Katakan padaku bahwa kandunganku tidak apa-apa..." Lucy berkata dengan pelan, bahkan nyaris tidak terdengar.

"Lucy..." Lisanna menyentuh pundak Lucy, namun Lucy segera menepisnya.

"Kalian pasti mempermainkanku! Kembalikan bayiku! Kembalikan dia padaku! Jangan ambil dia! Dia anakku! Kembalikan!" para suster segera memegangi Lucy yang meraung dan berniat melepaskan infus di tangannya. Wanita itu menangis dengan sekeras-kerasnya sambil meminta-minta bayinya.

Dokter itu segera mengambil sebuah suntikan dan merogoh sebuah botol kecil di sakunya, obat penenang. Dia segera menyuntikkan itu kepada Lucy. Lucy mulai berhenti meronta. Tatapan matanya kosong. Dia masih tetap bergumam dengan suara pilu, air matanya tetap mengalir deras.

"Kembalikan bayi saya, Dok... kembalikan dia..." dan Lucy menutup matanya. Nafasnya mulai teratur.

XXX

Lucy membuka matanya. Semuanya tampak blur. Kepalanya terasa sakit seperti habis dihantam sesuatu. Apa yang... dia langsung teringat akan kandungannya. Kembali... rasa nyeri kembali menyergap hatinya.

"Lucy, kau sudah baikan?"

Lucy segera menoleh ke arah Lisanna yang menatapnya dengan khawatir.

"Yah, kurasa." Jawab Lucy, pelan.

Kemudian hening.

"Di mana Luna?" tanya Lucy.

"Dia ada di ruangan Sting. Beberapa jam yang lalu kau meraung di depannya, membuatnya ketakutan. Jadi, aku menyuruhnya untuk tetap berada di kamar Sting, menjaganya." Jawab Lisanna.

"Souka... Maaf."

Lisanna menggeleng. "Akulah yang harus minta maaf. Aku sudah membuatmu kehilangan bayimu. Aku tidak tahu kalau kau sedang hamil, seharusnya aku memang tidak meninggalkanmu sendirian di mobil." Lisanna berkata dengan suara bergetar. Raut wajahnya benar-benar penuh dengan penyesalan.

Lucy hanya diam.

Souka. Ternyata aku benar-benar sudah keguguran. Aku telah kehilangan bayiku...

Lisanna kembali meminta maaf, berkali-kali dia mengucapkannya. Lucy menatap Lisanna dengan iba. Dia ingin menenangkan Lisanna kalau itu bukan salahnya, tapi dia tidak bisa bicara banyak.

"Dua orang yang menyerangmu berhasil kabur. Entah apa yang mereka incar darimu hingga mereka sampai nyaris membunuhmu. Dan kata satpam itu, ada beberapa orang yang mengacau di belakang super market, jadi dia ke sana untuk membereskannya. Jadi karena itu dia tidak berada di depan untuk berjaga." Lisanna menjelaskan.

"Begitu..." Lucy hanya merespon seadanya seraya matanya menerawang ke arah jendela. Langit gelap tanpa bintang. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 2 malam.

"Aku akan menelepon Natsu dan memberitahu keadaanmu." Lisanna mengeluarkan hpnya. Namun, Lucy langsung menggeleng.

"Tidak perlu."

Lisanna menaikkan sebelah alisnya. Menatap Lucy dengan bingung. "Kenapa begitu? dia berhak tahu,"

Lucy tersenyum getir tanpa menatap Lisanna. "Dia bahkan tidak tahu kalau aku hamil,"

XXX

Pintu sebuah kamar hotel didobrak. Dua orang di dalamnya segera tersentak dan menghentikan aktivitas mereka.

Pelaku pendobrak, seorang wanita dan seorang lelaki memasuki kamar itu dengan langkah cepat.

"Lisanna?! Laxus?!" jerit pria berambut pink itu dengan tidak percaya.

Lisanna semakin mempertajam tatapan matanya. Kebencian sarat akan kemarahan terpancar jelas dari manik blue shappire-nya yang berkilat-kilat. "Kau!" desisnya.

"Bagaimana kalian bisa-"

Lisanna sudah berdiri di hadapan Natsu.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat dengan kuat di pipi Natsu.

"Beraninya kau! Kau pikir apa yang kaulakukan?!" Lisanna melirik wanita berambut hitam di samping Natsu. Jadi wanita ini sumber dari bencana yang terjadi.

"Diam kau, wanita sialan!" desis Lisanna. Kemudian dia kembali menampar Natsu. "Aku tidak menyangka kau bisa sebrengsek ini, Natsu!" jeritnya.

Lisanna hendak melayangkan tamparannya lagi. Namun, wanita di sebelah Natsu segera menahan tangannya.

"Menjauh dari kekasihku, b*tch!" desis Sayla.

"Kau yang menjauh, sialan!" Lisanna menghempaskan tangannya dan kembali menatap Natsu yang hanya diam menunduk.

"Kau tega sekali... beraninya kau menyakiti Lucy... kupikir kau mencintainya lebih daripada aku mencintaimu dulu..." bisik Lisanna. Matanya masih berkilat-kilat penuh akan amarah.

Laxus yang berdiri di belakangnya hanya mendengus.

"Lis, aku..."

"Brengsek kau! Kau pasti tidak tahu 'kan bencana apa yang tengah menimpa Istrimu sekarang!?"

Natsu memandang Lisanna dengan terkejut.

"Lucy keguguran, sialan!"

Bersambung...

AN: Saya pernah bilang mau update malam lebaran kan? Nah, ini dia. Saya bikin ini super KEPE to the PET lho! Sebenernya plot chapter ini udah selesai dibuat kemarin, Cuma karena saya orangnya 'agak' males dan kebetulan dapet bacaan bagus, ya udah saya putusin buat besok bikinnya. Eh, pas besoknya saya malah di suruh jaga warung. Bayangin aja, pas saya lagi sibuk ama bacaan saya, ada anak kecil beli sesuatu. Mana tuh anak cadel lagi. Jadi pas dia bilang mau beli apa, saya dengan oonnya negerespon "Ah? Beli cicak sama plastik? Plastik ada tapi cicaknya nyari dulu diloteng, dek." Nah, gegara kekurangan ion jadi oneng deh.

Lalu, gegara terlalu asyik ama bacaan baru, saya nemu cerita BL yang sumfah unyu banget di wattpad. Bukan 18+ lho! Meskipun ada dikit, saya langsung skip karena saya gak nyari adegan itu. saya malah sibuk ngescoll nyari moment2 pair favorit saya yang notabenenya pair 'penyedap' #plak

Yang mau tau cerita apa, saya rekomen deh. My Darling Randere. Sumfah, ngakak beneran deh bacanya.

Oke, saya mulai keluar jalur. Intinya, saya berhasil update dengan waktu 2 jam ngetik abis sholat isyak, dan langsung update tanpa baca ulang-

Dan selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H bagi yang merayakan!

Salam manis,

Minako-chan Namikaze