.
Disclaimer:
Fairy Tail by Hiro Mashima
Broken Vow
By
Minako-chan Namikaze
Genre: Drama, Romance, hurt, etc.
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.
Ini sekuel dari fic You're Not Her Father
.
Enjoy!
.
.
Lisanna masih terus menampar Natsu. Air mata sampai menetes dari pelupuk matanya akibat amarah yang tengah ia rasakan sekarang. Dia benar-benar tidak habis pikir Natsu, pria yang pernah dia cintai tega melakukan hal semacam ini!
"Kau brengsek! Makhluk paling menjijikan yang pernah kutemui! Kenapa kau begitu tega pada Lucy?! Jawab aku, bodoh!" jeritnya.
Natsu hanya diam. Kedua pipinya memerah. Dia mengatupkan kedua belah bibirnya serapat mungkin.
Sayla bangkit dan mendorong Lisanna menjauh. "Berhentilah mengamuk seperti orang bodoh. Kau makin terlihat seperti b*tch, kau tahu?"
Lisanna mengepalkan tangannya. Baru saja dia akan menampar wajah datar Sayla, namun Laxus segera mencegahnya.
"Lepas, Laxus! Biarkan aku menghabisi wanita jalang ini!"
"Tenanglah. Kita sudah terlalu membuat keributan. Lebih baik kita kembali ke rumah sakit. Toh, kau sudah melihatnya sendiri 'kan apa yang Natsu-mu ini lakukan di sini." Ucap Laxus dengan wajah datarnya.
"Tapi...!"
"Ayo. Kita. Pergi."
Lisanna terdiam. Laxus melepaskan cengkraman tangannya. Gadis berambut platina itu menatap Natsu dan Sayla sekilas, lalu melengos keluar dari kamar.
"Laxus..." panggil Natsu ketika mendapati Laxus masih berada di sana.
Laxus mendengus melalui hidungnya seraya menarik senyum sinis di bibirnya. "Jadi ini wajah aslimu, Dragneel? Kau benar-benar melakukannya dengan baik," lalu dia segera keluar dari kamar.
Sayla menyentuh pipi Natsu, tapi Natsu segera menepisnya.
Natsu menatap Sayla dengan tajam. "Jangan sentuh aku."
"Natsu..."
"Pasti kau dalang di balik semua ini, 'kan?"
"Sungguh, aku bahkan baru tahu kalau Istrimu hamil. Aku tidak tahu apa-apa..." bela Sayla.
Natsu mengabaikannya dan beranjak mengambil kemejanya. Dia keluar dari kamar hotel, meninggalkan Sayla sendirian.
Sayla membuka ponselnya dan mengetikkan beberapa nomor. Ditempelkannya layar ponselnya itu di samping telinganya. Tanpa menunggu waktu lama, panggilan teleponnya segera disahut oleh suara seorang lelaki di seberang.
"Wah, Sayla-chan. Tumben sekali kau meneleponku..."
"Kau 'kan yang telah membuat Lucy Heartfilia keguguran." Ujar Sayla langsung.
"Kejamnya! Aku bahkan tidak tahu apa-apa soal ini."
"Jangan berkelit. Bukankah sudah kubilang tidak usah mencampuri urusanku?"
"Yah, tapi, Sayla-chan, dengan ini kamu bisa dengan mudah memiliki Natsu Dragneel."
"Aku bisa melakukannya sendiri. Urusi saja urusanmu sendiri."
Dan sambungan telepon pun terputus.
XXX
Lisanna membuka pintu kamar rawat Lucy. Raut wajahnya tampak gusar dan begitu kusut.
"Ah, Lisanna! Kau sudah kembali!" suara Mirajane menyambutnya.
"Hn." Sahut Lisanna..
"Di mana Natsu? Bukankah kau dan Laxus pergi keluar untuk mencarinya?" tanya Mira sambil celingukan mencari Natsu yang sama sekali tidak terlihat di manapun.
"Dia sudah mati." Ucap Lisanna.
"Apa?" Mira mengerutkan keningnya.
"Yah, kita harus menyumpahinya setiap detik dan kalau perlu pergi ke tempat dukun santet agar dia bisa mati secepat mungkin."
Mira memandangnya dengan bingung.
"Lu-chan, apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa antara kau dan Natsu?" tanya Levy. Dia begitu terkejut ketika menerima telepon dari Lisanna bahwa Lucy keguguran dan masuk rumah sakit. Sungguh, dia bahkan sudah tidak memperdulikan baju apa yang dia pakai hingga dia langsung keluar dari apartemennya hanya dengan piyama dan sendal jepit Pokemon.
Lucy diam. Mulutnya terbuka untuk bicara, tapi kemudian dia mengatupkannya kembali. Dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna yang tertidur di sampingnya.
Ruangan itu senyap. Mengetahui bahwa Lucy tidak akan pernah bicara, Lisanna pun membuka suara.
"Natsu selingkuh." Ucapnya yang sontak membuat semua pasang mata minus Lucy dan Luna memandangnya dengan terkejut.
"A-Apa? Natsu apa?" tanya Mira tak mempercayai pendengarannya.
"Tidak mungkin Natsu bisa berbuat begitu..." Levy bergumam tak percaya seraya menutup mulutnya dengan telapak tanga.
Lisanna menghela nafas. Dan dia pun menceritakan apa yang dia lihat di hotel tadi. Bahkan Laxus pun dengan terpaksa ikut menimpali karena Mira yang masih tidak bisa percaya akan apa yang dia dengar.
"Aku rasa aku harus mengecek keadaan Sting di kamarnya. Aku pergi dulu, ya." Lisanna pamit dan segera membuka pintu kamar rawat Lucy.
Levy memutuskan untuk menginap di rumah sakit menjaga Lucy. Sementara Mira dan Laxus pulang ke rumah mereka. Mereka bilang akan menjenguk Lucy lagi besok.
XXX
Lucy membuka matanya ketika merasakan sebuah sentuhan lembut di kepalanya. Dia memicingkan mata, mencoba mengenali sosok yang tengah duduk di dekatnya saat ini. Dan dia mendapati Zeref sudah duduk di samping tempat tidurnya.
"Kakak langsung ke mari setelah mendapat telepon dari Luna kalau kamu masuk rumah sakit. Bagaimana perasaanmu? Sudah baikan?" Zeref membuka suaranya begitu melihat raut kebingungan di wajah Lucy.
Lucy hanya mengangguk. Dia sudah meminta semua orang untuk merahasiakan kegugurannya dari Luna. Kasihan, gadis kecilnya. Jangan sampai dia bersedih lagi karena tidak bisa memiliki seorang adik.
"Apa yang terjadi?"
"Aku keguguran."
Zeref membulatkan kedua matanya. "Apa?"
"Ada dua orang pria yang mengincarku. Mereka nyaris membunuhku kalau saja para polisi tidak bergegas datang. Tapi, kedua orang itu berhasil kabur setelah apa yang sudah mereka perbuat padaku." Jelas Lucy.
Zeref mengusap kepala Lucy, menenangkan wanita itu. dia bisa merasakan kepedihan wanita itu.
"Di mana Natsu?" tanya Zeref.
"Entahlah. Mungkin dia tengah bersama wanita yang dicintainya."
"Apa dia belum menjengukmu?"
Lucy mendengus sambil tertawa sarkastis. "Menjenguk? Lucu sekali mendengarnya. Kenapa pula suamiku harus menjengukku? Bukankah sudah kewajibannya menemaniku di sini?"
Mendengar itu, Zeref langsung mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi. Natsu tidak berada di sisi Lucy saat wanita itu mengalami masa tersulit dalam hidupnya. Kehilangan anaknya. Memikirkannya membuat wajah Zeref mengeras. Matanya menyorot tajam, kilatan kemarahan terlihat jelas dari manik hitamnya.
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi." Lirih Lucy.
Mendengarnya, Zeref langsung meraih pergelangan tangan Lucy yang tidak tersambung infus. Dia menggenggamnya dan mengusap-usapnya dengan lembut. "Jangan menangis. Dia tidak pantas kamu tangisi."
Lucy menggigit bibir bawahnya. Zeref tidak sama dengan laki-laki yang pernah dia temui. Biasanya, di saat melihat seorang wanita yang menangis di hadapannya, mereka akan dengan senantiasa menawarkan pundaknya sambil berkata, "Menangislah. Tumpahkan segala kesedihanmu," tapi Zeref memintanya untuk tidak menangis.
Benar. tidak ada gunanya dia menyia-nyiakan air matanya hanya untuk pria brengsek macam Natsu. Dia harus membuka matanya. Natsu sudah tidak mencintainya, dan dia juga tidak bisa mencintai Natsu seperti yang pernah dia lakukan. Hubungan mereka tidak perlu dipertahankan lagi.
XXX
"Lucy! Aku membawakanmu donat!" Lisanna mengangkat bungkusan yang berisi sekotak donat.
"Wuaaah! Luna juga mau, tante!" Luna mengampiri Lisanna.
"Tentu saja untuk Luna juga ada! Ini!" Lisanna menyerahkan sekotak donat dengan gambar-gambar Pokemon di kotaknya.
"Yeeey! Arigatou!" Luna melompat senang.
"Douitashimashite! Nanti gosok gigi setelahnya, ya, sayang!" Lisanna menepuk kepala Luna.
Luna mengangguk dan Lisanna menarik kursi di samping Lucy. "Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan? Apa perutmu masih sakit?"
"Sudah tidak lagi. Sudah dua hari aku mendekam di ruangan ini. Aku butuh udara segar, Lis." Rengek Lucy.
"Tapi apa tubuhmu kuat untuk berdiri?" Lisanna menaikkan sebelah alisnya.
"Aku bisa pakai kursi roda, 'kan? Ayolah. Aku bisa mati kalau terus-terusan mencium aroma obat-obatan di sini."
"Baik, baik. Aku akan mengambil kursi rodanya dulu. Kau tunggu dulu di sini, ya." Ucap Lisanna lalu bangkit dari kursinya. "Luna, jaga mama, ya!"
Luna mengangguk dengan semangat sambil melahap donatnya.
"Ne, mama. Papa ke mana? Kok papa gak ke sini jenguk mama?" tanya Luna.
Jantung Lucy berdetak kencang mendengar pertanyaan tiba-tiba itu.
"Ah, papa mungkin sedang sibuk bekerja, sayang. Nanti pasti dia kemari." Jawab Lucy.
"Tapi, pas Luna telepon, papa bilang papa gak bakal ke sini. Papa minta Luna buat jagain mama."
Lucy tercekat mendengarnya. Rasa nyeri kembali menghampirinya. Jadi begitu... Itukah yang diinginkan Natsu?
Pintu kamar rawat Lucy tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Lucy menyahut dan mempersilahkan orang itu masuk.
"Lucy, kudengar kamu sudah bisa pulang besok." Wajah Zeref muncul dari balik pintu. Pria itu menutup pintu dan berjalan menuju tempat Lucy berbaring.
"Luna, Om membelikan Luna banyak buku cerita. Dan juga es krim untuk Luna." Zeref tersenyum lebar seraya menunjukkan bungkusan yang mungkin terlihat seperti harta karun bagi Luna.
Luna langsung menerimanya dengan senang hati. Kemudian mengecup kedua pipi Zeref.
"Kakak masih di sini?" tanya Lucy seraya mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.
"Apa kamu mengusir kakak?" tanya Zeref dengan wajah dibuat cemas.
Lucy tersenyum geli. "Aku tidak bilang begitu. Memangnya kakak tidak punya pekerjaan di Magnolia? Kakak kan Direktur!"
"Kakak serahkan segala urusan pada Erza. Dia pasti bisa menanganinya selama kakak di sini menjagamu." Jawab Zeref, santai.
Lucy bisa membayangkan Erza yang mengeluarkan Zeref dari ruangannya kemudian melipat kedua tangannya di depan dada lalu mengangguk mantap. "Serahkan saja urusan pekerjaan di sini kepadaku. Anda sebaiknya menemui Lucy dan memastikan dia baik-baik saja dari segala marabahaya,"
Lucy tersenyum geli membayangkannya.
"Membayangkan apa kamu?" tanya Zeref seraya menyentuh jidat Lucy dengan telunjuknya.
"Membayangkan kakak diusir dari kantor kakak oleh Erza."
Zeref menghela nafas. "Saat kakak cerita kalau kamu diserang hingga keguguran, dia langsung memerintahkan kakak untuk tetap bersamamu di sini. Kakak tidak bilang kalau Natsu tidak bersamamu lagi, tapi entah kenapa sepertinya Erza punya firasat kalau Natsu tidak bisa menjagamu."
Lucy tersenyum hangat mendengarnya. "Erza adalah orang yang paling tahu diriku. Dia selalu menemukanku ketika aku berada dalam masalah, seolah akan ada alarm yang memanggilnya ketika aku mengalami sebuah kesulitan."
"Dia benar-benar peduli padamu..."
"Tentu saja. Kami sudah bersahabat sejak lama..."
"Lucy, aku sudah bawa kursi rodanya. Ayo kita—" Lisanna menghentikan kalimatnya ketika melihat Zeref yang kini tengah duduk di samping Lucy.
"K-K-Kak Zeref?!" seru Lisanna.
Zeref tersenyum kemudian berdiri. "Sudah lama kita tidak bertemu, ya, Lis. Bagaimana kabarmu?"
Lisanna tertawa gugup lalu berjalan menghampiri Zeref dengan mendorong kursi roda yang dia bawa. "Kabarku baik. Bagaimana dengan kakak? Sudah lama aku tidak melihat kakak sejak beberapa tahun silam."
"Kakak juga baik. Bagaimana pekerjaanmu? Masih tetap menjadi designer?" tanya Zeref.
Lisanna tertawa mendengarnya. "Tentu saja! Aku mencintai dunia fashion!"
"Haha! Kakak kira kamu sudah beralih profesi menjadi wanita kantoran."
"Kenapa aku harus begitu?" Lisanna mengerutkan keningnya.
"Bukannya kamu dulu sering bilang 'Kalau Natsu jadi direktur, maka aku akan jadi asistennya!', ingat?"
Wajah Lisanna memerah mendengarnya. "I-Itu dulu! Sekarang siapa juga yang peduli dengan si brengsek itu! cuih! Najis!"
Zeref menatap Lisanna dengan terkejut, kemudian menatap Lucy yang tengah tersenyum penuh arti. "Jadi Lisanna sudah tahu?"
"Tentu sa—tunggu! Apa maksudnya itu? Apa itu berarti kakak sudah tahu duluan?"
Zeref menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk. Lisanna semakin melebarkan matanya. "Jadi benar?!"
"Sudahlah. Tidak penting siapa duluan yang tahu 'kan?" Lucy menimpali.
Lisanna mendengus. "Kak Zeref curang. Sejak kapan kakak jadi nakal begini?" gerutunya, membuat Lucy mengernyitkan dahi. "Lucy, kita jadi ke taman?"
Lucy mengangguk dan menurunkan sebelah kakinya dari ranjang.
"Kalian mau ke taman?" tanya Zeref.
Lisanna mengangguk.
"Biar kakak saja yang menemani Lucy. Lisanna, kamu sama Luna tunggu saja di sini."
"Hah? Kenapa harus begitu?" tanya Lisanna sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Karena kakak mau bicara berdua dengan Lucy."
"Bicara berdua atau mau berduaan?"
"Ya sama saja, 'kan?"
"Beda arti, dong."
"Ya apapun itu. Ayo, Lucy." Zeref mengangkat tubuh Lucy dari ranjang dan mendudukkannya di kursi roda.
"Kak! Aku bisa jalan sendiri menuju kursi roda." Protes Lucy.
"Orang sakit nurut saja sama orang sehat." Ucap Zeref santai seraya mendorong kursi rodanya menuju pintu.
"Hah? Apa-apaan itu?!" sungut Luccy.
Zeref pun membawa Lucy keluar kamar.
Lisanna dan Luna memandangi pintu yang sudah ditutup.
"Sejak kapan mereka akrab?" Lisanna menatap pintu dengan horor.
"Nyem nyem... sejak mama ketemu sama Om Zeref." jawab Luna sambil mengunyah donatnya. "Omong-omong, kita ke kamar Om Sting, yuk, tante!"
XXX
Lucy memejamkan matanya. Merasakan semilir angin yang menerpa kulitnya dan menerbangkan helaian pirangnya. Dihirupnya aroma pohon mapel yang bercampur dengan udara di sekelilingnya. Musim gugur sudah tiba.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" suara Zeref terdengar di belakangnya.
"Apanya?"
"Kamu sudah keguguran. Tidak ada lagi satu hal pun yang dapat dijadikan alasan untuk mempertahankan pernikahanmu dengan Natsu."
"Hmm..." Lucy hanya bergumam. Sejujurnya, dia juga bingung harus apa. Bertahan atau bercerai? Meskipun jawabannya sudah jelas kalau dia harus memilih opsi yang kedua. Namun, dirinya masih ragu-ragu.
"Entahlah, kak."
"Bagaimana kalau untuk sementara waktu kamu tinggal di mansion kakak? Di Magnolia."
"Kakak mau menculikku kabur, huh?"
"Tentu saja... iya. Bagaimana mungkin kakak membiarkanmu berada di rumah 'hantu' itu sendirian?"
"Luna ada bersamaku."
"Bukankah kemarin kamu bilang kalau Luna akan camping selama seminggu?"
"Uhh... Aku bisa menjaga diri."
"Bagaimana kalau kedua pria yang menyerangmu itu kembali lagi untuk membunuhmu?"
"Itu..."
"Kamu ikut kakak saja, ya? Kakak tidak bisa tenang memikirkan keselamatanmu." Desak Zeref.
Lucy terdiam. Wajahnya tampak berpikir.
Kemudian dia membuka mulutnya.
"Tidak perlu. Aku tidak akan lari. Aku akan kembali ke rumahku dan Natsu. Menungguinya pulang dan menyelesaikan semuanya."
XXX
Lucy dan Zeref kembali ke kamar rawat Lucy. Hari sudah semakin gelap, matahari sudah nyaris menenggelamkan seluruh tubuhnya. Zeref membujuk Lucy yang bersikeras merengek tidak mau kembali ke kamar padahal udara di luar semakin dingin. Begitu Zeref membuka pintu kamar, dia dan Lucy langsung tersentak kaget. Kedua pasang mata mereka menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat di dalam kamar Lucy.
Natsu memalingkan wajahnya dari jendela kamar rawat Lucy ke arah pintu, di mana Zeref dan Lucy membeku melihat kehadirannya di ruangan itu.
"Lucy..." gumam Natsu.
Reflek, Lucy langsung menggenggam tangan Zeref. Zeref langsung tersadar dan menatap Natsu dengan tajam.
"Ada perlu apa kau ke mari?" tanya Zeref begitu menusuk. Dia bahkan tidak menggunakan kata 'kamu' lagi.
Natsu bangkit dari sofa dan menatap Zeref dengan dingin. "Aku datang untuk melihat Lucy."
"Kau sudah melihatnya 'kan? Sekarang pergilah."
"Yang suaminya di sini aku atau kau?" tanya Natsu, tajam.
"Bagaimana mungkin kau masih bisa menyebut dirimu seorang suami setelah apa yang kaulakukan pada Istrimu hingga dia bisa keguguran begini?" tanya Zeref begitu menohok.
Natsu menggertakkan giginya. Tangannya mengepal.
"Tinggalkan kami berdua." Ujarnya.
Zeref memicingkan matanya. "Dan kau pikir aku mau menurutimu?"
"Aku akan membunuhmu, Zeref." ancam Natsu dengan geram.
"Lebih baik daripada kau membunuh Lucy secara perlahan seperti apa yang kaulakukan selama ini."
"Kau tidak tahu apa-apa, jadi lebih baik tutup mulut busukmu itu!"
"Memangnya apa yang perlu kutahu selain kebrengsekanmu itu? kau bahkan tidak ada di samping Lucy di saat dia mengalami kehilangan yang amat sangat dalam hidupnya!"
"Kak... Keluarlah. Bairkan aku bicara berdua dengan Natsu." Ucap Lucy.
Zeref terdiam mendengarnya. Menatap Lucy dengan tidak yakin. Namun Lucy segera memberikan senyuman yang menyiratkan kalau dia akan baik-baik saja.
Zeref pun keluar dari ruangan setelah melempar tatapan mengancam pada Natsu.
Cklek.
Bunyi pintu ditutup dengan pelan.
Lucy menapakkan kakinya ke lantai dan berdiri dari kursinya. Dia sudah cukup kuat untuk berjalan sekarang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisinya sudah semakin membaik sejak dia duduk di taman berjam-jam tadi.
"Jadi, apa maumu?" tanya Lucy yang sudah berdiri menghadap jendela. Menatap pemandangan di luar rumah sakit yang gelap. Lampu-lampu jalan mulai dihidupkan.
Natsu tidak menjawab dan malah melingkarkan kedua lengannya di pundak Lucy, memeluk Istrinya dari belakang.
Lucy hanya bergeming. Membiarkan Natsu memeluknya. Sejujurnya, dia begitu rindu dengan pelukan hangat suaminya. Begitu rindu akan bau harum rambutnya. Begitu rindu dengan segala yang ada pada dirinya.
"Maafkan aku." Bisik Natsu.
Lucy hanya diam.
"Maaf. Maaf..." Natsu terus mengulanginya dengan nada lirih. Kali ini, Lucy tidak meneteskan air matanya. Dia sudah tidak bisa mengeluarkannya lagi. Matanya terlalu lelah. Hatinya juga sudah kebas dengan rasa sakit yang dia rasakan.
"Lucy, aku mencintaimu... aku benar-benar mencintaimu..." bisik Natsu lirih, seolah dia bisa menangis kapan saja.
"Natsu..." gumam Lucy, matanya tak lepas dari jalanan di hadapannya.
Natsu menyahut.
"Kau tahu, entah kenapa saat ini sangat sulit bagiku untuk percaya padamu..." bisik Lucy, lirih.
Natsu terdiam, namun lagi-lagi dia meminta maaf. "Aku mencintaimu lebih daripada hidupku. Aku ingin kau tahu betapa aku begitu menyayangimu, Luce. Karena itu..."
Natsu membalikkan tubuh Lucy dan menangkup kedua pipi Istrinya itu itu. Mata Lucy terlihat hampa. Tidak ada sinar keceriaan lagi di sana. Hanya kamarel yang meredup dan tanpa harapan.
"Karena itu, kita cerai saja, ya." Lirih Natsu. Wajahnya memerah, segala emosi bercampur aduk hingga Lucy tidak bisa menebak apa yang tengah Natsu rasakan saat ini. Namun, Lucy tahu satu hal, bahwa tatapan Natsu yang tengah menatapnya ini menyiratkan penyesalan yang amat dalam.
Lucy hanya diam. Dia bahkan tidak berkedip. Kemudian tangannya terulur, melepaskan telapak tangan Natsu dari kedua pipinya. Kemudian dia tersenyum, tersenyum miris.
"Aku tahu kau akan mengatakan itu." suaranya bergetar.
Natsu menjambak rambut dan mengerang kesal. "Sial!" bisiknya.
XXX
Sementara itu di luar, Zeref tengah berdiri menyandar di tembok dengan ekspresi tidak sabar. Matanya terus melotot ke arah pintu kamar Lucy, seolah berharap matanya dapat mengeluarkan laser yang bisa langsung menembus tubuh Natsu.
Sebuah langkah kaki terdengar, dan sepertinya mendekat ke tempatnya berdiri sekarang. Zeref menoleh dan mendapati seseorang yang tidak ingin dia lihat kini berdiri di hadapannya.
"Kau..." Zeref menatapnya dengan datar.
"Ara, Zeref? kebetulan sekali kita bertemu di sini..." ucap Sayla, tersenyum lebar.
XXX
"Aku mencintaimu, Natsu. Tapi, kau berkali-kali menyakitiku. Semua yang kaukatakan, bahkan meskipun kau berkata jujur dari lubuk hatimu yang paling dalam sekali pun, aku tidak akan bisa mempercayainya. Karena, kepercayaan dan juga rasa cintaku sudah lenyap bersamaan dengan hilangnya anak kedua kita." Ujar Lucy, pelan.
Bahu Natsu menegang mendengarnya. Lagi-lagi dia mendesis pada dirinya sendiri dan meminta maaf berkali-kali. Diraihnya map hijau yang sejak tadi terbengkalai di atas meja dan memberikannya pada Lucy.
Lucy menerimanya dan membuka map itu. Membaca judul kertas yang terdapat di map itu, dia hanya bisa menarik senyum miris.
Surat Cerai.
"Kau sudah menyiapkannya, huh?" Lucy berkata dengan sarkastis.
Natsu hanya diam.
"Di mana pulpenku?"
Natsu merogoh saku jeans-nya dan menarik sebuah pena di sana.
Lucy menerima pena itu dan mengarahkan mata penanya di sebuah kolom di mana dia harus tanda tangan.
Lagi-lagi, tatapannya kembali hampa. Dia menggoreskan ujung penanya di sana. Menorehkan tanda tangannya yang ditulis dengan tangannya yang gemetar.
Lucy segera memberikan map itu pada Natsu.
"Sekarang, kita sudah resmi bercerai." Ujar Natsu.
Lucy mengangguk. "Semoga kau bahagia."
Natsu mengangguk. Dia membuka mulutnya, hendak bicara sesuatu, namun dia kembali mengatupkannya rapat-rapat.
"Jaa na, Luce." Ucap Natsu.
Lucy kembali mengangguk. Namun Natsu tidak beranjak dari tempatnya.
"Aku lelah. Aku mau tidur." Ucap Lucy.
Natsu tersadar. "Ah, yah. Sebaiknya begitu. Beristirahatlah. Aku pulang dulu, ya." Dan Natsu benar-benar meninggalkan ruangan itu.
Lucy berjalan ke arah tempat tidur. Mendudukkan dirinya di sana, dia hanya bisa menatap lantai di bawahnya. Tatapannya masih kosong.
Dia sudah bercerai.
Dia sudah bukan lagi Istri Natsu...
Dia... bukanlah siapa-siapa lagi bagi Natsu...
Beritahu aku namanya
Aku ingin tahu
Caranya memandangmu dan ke mana kau pergi
Aku harus melihat wajahnya, aku perlu mengerti
Kenapa hubungan kita harus berakhir
Zeref tersentak begitu pintu kamar Lucy tiba-tiba terbuka. Natsu keluar dengan map hijau di tangannya. Dia melihat wajah Natsu tampak memerah, matanya terus menatap ke bawah.
Zeref tidak bisa berkata-kata.
Natsu berjalan menghampirinya, tidak, pria itu berjalan melewatinya. Setelah membisikan sesuatu di telinga Zeref yang membuat pria bersurai hitam itu menatap tajam lelaki berambut merah muda itu. Wajah Zeref begitu tegang, dia nyaris menggertakkan giginya saat dia teringat dengan Lucy di dalam. Buru-buru, Zeref segera memasuki kamar. Dia mendapati Lucy terduduk di tepi tempat tidurnya dengan kepala tertunduk.
"Lucy..." panggil Zeref.
Lucy mendongak. Dan saat itulah Zeref mendapati wajah wanita pirang itu yang begitu mengerikan. Lucy tidak menangis seperti apa yang dia perkirakan. Namun, ini lebih gawat. Lucy tidak menunjukkan ekspresi apapun. Matanya hampa tanpa setitik pun sinar. Bahkan nyaris menggelap. Pipinya begitu pucat, tidak merona seperti biasa. Dan Lucy bahkan tidak bersuara.
"Lucy..."
"Aku mau tidur." Lucy membaringkan dirinya dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Menghadap ke arah jendela di mana Zeref tidak bisa melihat wajahnya. Air matanya langsung menetes.
Beritahu aku lagi, aku ingin mendengar
Siapa yang hancurkan kepercayaanku selama ini
Siapa yang berbaring denganmu di malam hari
Saat aku di sini sendiran
Mengingat saat aku masih milikmu
"Natsu..." panggil Sayla.
Natsu tidak menghentikan langkahnya dan terus berjalan.
"Natsu! Tunggu aku!" Sayla mengejar Natsu.
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah sudah kusuruh untuk menunggu di mobil?" ketus Natsu.
"Aku khawatir kau akan membatalkan rencanamu untuk bercerai, jadi aku sengaja mengikutimu untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar." Jelas Sayla.
Natsu berhenti melangkah dan menatap Sayla dengan tajam.
"Maaf, Say. Malam ini aku tidak bisa mengantarmu. Kau pulang sendiri bisa, 'kan?"
"Yah, tidak masalah. Aku akan menelepon supir pribadiku."
"Baguslah kalau begitu." dan Natsu kembali berjalan meninggalkan Sayla.
Sayla tersenyum lebar menatap kepergian Natsu. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.
"Ya, Say?" suara seseorang menyahut dari seberang.
"Aku berhasil. Natsu-ku sudah resmi berpisah dengan si Heartfilia pengganggu itu." ucapnya dengan senang.
"Baguslah, sayang. Sepertinya kau mulai jatuh cinta pada pria itu, ya?"
Sayla tersenyum malu. "Dia pria yang baik. Aku mencintainya. Dan dia juga bilang kalau dia mencintaiku. Kami akan menikah..."
Katakan padaku kata-kata yang tak pernah kukatakan
Tunjukkan padaku air mata yang tak pernah kau tumpahkan
Berikan aku sentuhan itu
Yang kau janjikan jadi milikku
Ataukah itu telah lenyap hilang entah ke mana
Zeref mengusap kepala Lucy dengan lembut. Pandangannya menatap nanar punggung Lucy yang bergetar.
Kan kubiarkan kau pergi
Kan kubiarkan kau terbang
Kenapa aku terus bertanya 'kenapa'?
Kan kubiarkan kau pergi
Karena telah kutemukan
Cara tuk menjaga
Lebih dari sekedar sumpah yang terlanggar
Natsu membanting pintu mobilnya dan melemparkan map yang berisi surat cerainya dengan Lucy ke sembarang arah. Menghentakkan kepalanya ke setir mobil, Natsu menggeram kasar. Perlahan, air mata mulai menetes di pelupuk matanya.
Kupejamkan mataku
Dan mimpikan tentang dirimu dan diriku
Kemudian aku tersadar
Ada banyak hal dalam hidup selain kepahitan dan dusta
Kupejamkan mataku
Kan kukorbankan jiwaku
Untuk mendekapmu sekali lagi
Takkan kubiarkan janji ini berakhir
.
.
Bersambung...
AN: Btw, itu terjemahan dari lagu Broken Vow lho. Coba deh dengerin buat yang abis putus ama pacarnya... nyahahaha! Kan masukin lirik asli gak boleh yah di ffn, jadi saya masukin artinya aja. Padahal kalau inggrisnya lebih ngena gituh...
Terus, anggap aja perceraian mereka sama kayak sistem pernikahan di Jepang. Tinggal ambil surat kawin di kantor catatan sipil terus tanda tangan, udah resmi deh jadi suami Istri. Nah, jadi saya samain aja konsepnya dengan perceraian biar gak ribet yak—#oi
Terus, terus, sebentar lagi saya mau OSPEK, doain ya semoga gak dibully sama senior-senoir galak yang suka mamam junior-junior yang onyoeh macam aku ini... #kittyeyes #readermuntahberjamaah
Yak, saudara-saudara! Mari voting lagi! Apakah pilihan kalian sekarang? Masih stay di pilihan awal? Atau mau ganti?
Udah ya,
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
