.

Disclaimer:

Fairy Tail by Hiro Mashima

Broken Vow

By

Minako-chan Namikaze

Genre: Drama, Romance, hurt, etc.

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.

Ini sekuel dari fic You're Not Her Father

.

Enjoy!

.

.

"Ingat, Lucy. Setelah mengepak semua barang-barangmu, kamu harus ikut kakak ke Magnolia,"

Lucy Heartfilia menghela nafas, lagi. Dia memutar bola matanya ke samping, menatap jalanan yang di penuhi dedaunan kering. "Iya, iya. Kakak tidak perlu mengucapkannya berkali-kali," dengus Lucy.

"Kakak hanya takut kamu berubah pikiran," ujar Zeref tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.

Saat ini mereka sedang menuju ke rumah Natsu. Yah, hanya rumah Natsu. Bukan rumah Natsu dan Lucy lagi. Mereka sudah bercerai dua hari yang lalu. Dan semenjak hari itu, Lucy terus berdiam diri di kamarnya. Wanita itu juga melarang Luna untuk kembali ke rumah mantan suaminya itu. Tentu saja itu membuat gadis belia bermata onix itu kebingungan. Kenapa dia tidak boleh pulang menemui papanya untuk menjemput sang mama?

"Hah..." lagi-lagi helaan nafas terdengar dari samping Zeref. Pria itu melirik Lucy melalui ekor matanya. Lucy tengah memangku Luna yang tengah tertidur, sementara pandangan wanita itu terus menatap keluar jendela mobil. Namun, dia yakin kalau Lucy sama sekali tidak melihat apapun di luar, karena tatapan wanita itu begitu kosong. Sehancur itukah hatinya karena bercerai dengan Natsu Dragneel? Tentu saja. Dia tahu persis bagaimana Lucy begitu mencintai Natsu sejak dulu. Namun tetap saja...

Zeref kembali menatap jalanan dengan miris. Entah kenapa hatinya terasa nyeri...

XXX

Zeref memarkirkan mobilnya di perkarangan rumah Natsu. Dari luar, rumah ini tampak begitu sepi. Tidak ada mobil Natsu yang biasa terparkir di halaman samping rumah. Keadaan rumah juga tampak sedikit tak terawat. Karena sudah memasuki musim gugur, dedaunan mulai berjatuhan dan memenuhi halaman rumah itu. Natsu dan Lucy sengaja tidak mempekerjakan pembantu. Meskipun Natsu sudah bersikeras untuk mempekerjakannya, namun Lucy selalu menolak. Jika ada pembantu di rumah itu, lalu Lucy harus melakukan apa? Di rumah seharian tanpa melakukan apapun itu bisa membunuhnya. Dan Natsu juga melarangnya untuk kembali bekerja di klinik Porlyusica-san.

Lucy segera keluar dari mobil seraya menggendong Luna. Zeref ikut keluar dan memindahkan Luna dari gendongan Lucy ke gendongannya. Wanita berambut pirang itu berjalan ke arah pintu masuk sambil merogoh tasnya. Mengeluarkan kunci dari dalam sana, Lucy segera membuka pintu dan mempersilahkan Zeref masuk. Tanpa banyak bicara, Lucy langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya dan Natsu. Sementara Zeref membaringkan Luna di sofa.

Rumah ini begitu sepi. Sepertinya Natsu belum pulang. Dan dari keadaannya yang masih sama saat dia meninggalkan rumah ini, Lucy yakin Natsu sudah tidak pulang berhari-hari. Entah apa yang dilakukan pria itu, namun satu hal yang diyakininya. Natsu pasti selalu bersama dengan wanita simpanannya itu.

Lucy mendengus kemudian mengeluarkan koper dan beberapa tas besar dari dari lemari. Kemudian dia mulai mengepak pakaian dan barang-barangnya. Sebenarnya Lucy sama sekali tidak memiliki niat untuk pindah ke Magnolia. Dia malah sudah memiliki rencana, setelah dia bercerai, dia akan tinggal di rumah lamanya dan kembali bekerja di klinik. Namun, rupanya Zeref lebih keras kepala dari kelihatannya. Pria itu terus-terusan memaksanya untuk tinggal di Mansionnya di Magnolia. Dengan alasan kalau tempat itu terpencil, aman dan udara di sana begitu segar. Tentu saja Lucy kembali menolak saat mendengar alasan itu. Dia tidak bisa terlalu banyak menyusahkan Zeref. Sekarang mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi yang bisa mengikat mereka. Bukankah kalau dia tinggal di tempat Zeref, malah akan terlihat kalau dia sedang memanfaatkan kebaikan pria itu?

Tapi, Lucy tidak pernah bisa menebak kalau Zeref begitu keras kepala. Dia begitu bersikukuh memaksa Lucy untuk tinggal di sana dengan berbagai macam alasan. Pria itu bahkan nyaris memohon padanya. Melihat itu, Lucy langsung menyetujuinya, meskipun masih belum mengerti apa yang membuat Zeref begitu bersikeras.

Dan sekarang ini, ketika sedang mengepak pakaian Luna, Lucy tiba-tiba tersadar. Pilihannya untuk ikut Zeref ke Magnolia memang tepat. Jika dia tetap berada di Hargeon, banyak sekali kemungkinan bahwa dia akan bisa bertemu Natsu lagi. Dan Lucy tidak menginginkan itu. Dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa perasaannya jika kembali bertatap muka dengan pria brengsek itu lagi. Dan dia tidak bisa satu kota dengan wanita yang menjadi sumber masalah hancurnya rumah tangganya dan Natsu.

Mungkin memang berat, tapi Luna harus pindah sekolah. Dia akan memberitahu Luna tentang perceraiannya dan Natsu ketika dia sudah siap dengan air mata putrinya. Dia benar-benar mearsa bersalah dengan putrinya. Namun inilah satu-satunya jalan yang terbaik. Semuanya akan baik-baik saja, karena sebelumnya pun Luna tumbuh menjadi gadis kecil yang baik tanpa Natsu. Dan seharusnya sekarang juga begitu. Putrinya adalah gadis yang kuat. Suatu saat dia pasti bisa mengerti. Lucy tahu dia egois, tapi lebih baik dia egois daripada dia harus menjalani hari-hari yang penuh penderitaan. Bisa-bisa dia mati karena tidak kuat lagi.

Saat semua barang-barangnya dan Luna sudah selesai dimasukan ke koper, Lucy segera keluar dari kamar. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika mendengar keributan di ruang tamu. Dada Lucy langsung bergerumuh. Dia segera menuruni tangga sambil menyeret koper dan tas besarnya. Dan di sanalah dia melihat Natsu dan Zeref yang saling berhadapan dengan sorot kebencian di mata masing-masing. Lucy menatap penampilan Natsu yang begitu kacau. Kemeja putihnya dikeluarkan dari celana, beberapa kancing atasnya juga terbuka. Rambut pinknya begitu kusut dan berantakan. Kenapa dia bisa sekacau itu?

Natsu menoleh ke arahnya, tatapan pria itu begitu dalam. Seakan menyiratkan kalau dia kelelahan dan tersakiti. Namun, Lucy segera menepis tatapan itu. Dia tidak ingin salah paham lagi. Mereka sudah bercerai. Dan hubungan keduanya sudah berakhir.

"Kak..." Lucy memanggil Zeref.

Zeref menoleh dan segera menghampiri Lucy. Di ambilnya tas besar dan juga koper di kedua tangan wanita itu. "Ayo kita pergi sekarang." Ucapnya.

Lucy mengangguk dan menggendong Luna yang masih tertidur pulas di sofa. Tampaknya Luna sama sekali tidak terbangun dengan suara keributan tadi.

Lucy dan Zeref segera melangkah meninggalkan Natsu.

"Tunggu," ujar Natsu.

Lucy segera menghentikan langkahnya.

"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Natsu.

"Bukankah sudah jelas? Tidak ada alasan bagiku untuk terus tinggal di rumah ini." Jawab Lucy.

Natsu terdiam sejenak. Kemudian dia kembali membuka suara. "Kalau begitu, tinggalkan Luna di sini bersamaku."

Lucy segera membelalak. Begitu juga dengan Zeref.

"Apa maksudmu? Dia putriku. Dan dia harus bersama denganku selamanya." Ujar Lucy, dingin. Dia menatap Natsu dengan sorot tajam.

Natsu membalas tatapan itu dengan dingin. "Bukankah menurut hukum, anak perempuan harus diserahkan pada Ayahnya? Kau seharusnya membaca terlebih dahulu surat perceraian itu sebelum menandatanginya."

Sorot Lucy semakin menajam. Dia menautkan kedua alisnya. "Persetan dengan hukum! Luna adalah putriku! Aku yang melahirkan dan membesarkannya! Aku berhak membawanya bersamaku!" teriaknya. Luna yang berada di gendongannya tersentak. Gadis kecil itu segera mengangkat kepalanya dari bahu Lucy. Berkedip bingung, dia melihat kedua orang tuanya saling melempar tatapan yang begitu menyeramkan.

"Mama? Papa? Kalian sedang apa?" tanya Luna, takut-takut.

Natsu menatap Luna dan segera berjalan menghampiri putrinya. Namun Lucy segera mundur.

"Jangan dekati kami. Kau tidak akan bisa memilikinya. Apa hakmu?" tanya Lucy, marah.

"Hakku? Bukankah sudah jelas kalau aku sebagai Ayahnya berhak atas Luna? Aku bisa saja menuntutmu jika kau bersikeras tidak mau menyerahkan putriku." Jawab Natsu santai.

"Putrimu? Kalau kau begitu menginginkan seorang putri yang bisa kau miliki, silahkan buatlah bersama dengan wanitamu itu! Luna bukan putrimu dan dia tidak ada hubungan apa-apa lagi denganmu! Silahkan tuntut aku, tapi aku tidak akan menyerahkan putriku pada pria brengsek sepertimu!" seru Lucy. Sorot matanya menggelap. Kebencian yang amat dalam terpancar dengan jelas di manik karamel yang sekarang menyorot tajam ke arah onix yang menatapnya dengan santai.

"Lucy, sudahlah. Berikan Luna padanya,"

Lucy segera menoleh ke arah Zeref dengan tidak percaya. "Apa?!" serunya.

"Biarkan Luna bersama dengannya untuk sementara. Kakak akan mencari cara agar hak asuh Luna bisa beralih padamu." Ujar Zeref. Matanya ikut menggelap. Sorot matanya begitu tajam. Seakan dia tengah menahan kemarahan yang ada pada dirinya. Terus menahan diri agar dia tidak menghabisi Natsu Dragneel sekarang juga.

"Tapi—"

"Lucy!" seru Zeref.

Lucy segera tersentak mendengar suara Zeref yang biasanya lembut kini meninggi. Baru pertama kali dia melihat pria itu membentak seseorang, dan seseorang itu adalah dirinya.

Menyadari kalau dia meninggikan suaranya kepada Lucy, Zeref segera menenangkan dirinya. "Percayalah pada kakak. Semuanya akan baik-baik saja dan sesuai keinginanmu," ucapnya pelan seraya menatap Lucy dalam-dalam.

Lucy terdiam mendengarnya. Dia menunduk. Memikirkan perkataan Zeref. Haruskah dia percaya begitu saja? Bisakah Luna kembali padanya? Tapi Zeref tidak pernah melanggar janjinya. Seharusnya dia bisa percaya...

"Ma... Kenapa mama nangis?" tanya Luna seraya mengusap air mata yang keluar dari manik karamel mamanya.

Lucy tersentak. Dia sama sekali tidak sadar kalau dia menangis. Wanita itu segera mendongak dan tersenyum getir ke arah putrinya.

"Mama baik-baik saja." Ucapnya. Kemudian diturunkannya putri kecilnya itu ke lantai. Berjongkok di hadapan Luna Dragneel, Lucy merengkuhnya dengan erat.

"Sayang. Mama akan pergi sebentar. Luna sama Papa dulu, ya." Ucap Lucy, suaranya begitu pelan.

"Mama mau ke mana? Kenapa Luna sama Papa gak boleh ikut?" tanya Luna, bingung.

"Mama akan pergi sebentar. Mama akan menjemput Luna nanti. Luna jaga diri di sini, ya, sayang," jawab Lucy, menahan isakannya.

Meskipun masih bingung, Luna mengangguk pelan. Lucy melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Luna.

"Mama pergi dulu, ya. I love you so much, my sweet little Princess," Lucy mengusap kepala Luna.

Luna mengangguk dan tersenyum. "I love you too, mom! Luna bakal nungguin mama!" serunya.

Lucy tersenyum, namun senyumannya segera lenyap ketika tangan Natsu menyentuh puncak kepala Luna. Wanita itu segera berdiri dan menatap Natsu dengan tajam.

"Aku pasti akan mendapatkan Luna kembali. Sampai hari itu datang, jaga putriku baik-baik atau aku akan membunuhmu." Desisnya.

Lucy berbalik dan berjalan menuju pintu. Zeref mulai berjalan, hendak menyusul Lucy. Namun, suara Natsu segera mengehentikannya.

"Kak Zeref..." panggil Natsu.

Zeref berhenti melangkah. Dia segera menoleh dengan mata terbelalak. Melihatnya, Natsu segera tersenyum, senyuman yang tidak begitu lebar, namun terkesan tulus.

"Terima kasih sudah menuruti permintaanku," ujar pria berambut salmon itu.

Zeref terdiam, seolah memproses ucapan yang baru saja dilontarkan Natsu. Dia segera mendengus dan tertawa sarkastis. "Jangan salah paham. Aku membawanya ke Magnolia bukan karena permintaanmu. Sebelumnya, aku sudah berencana untuk menjauhkannya darimu untuk sementara waktu. Tapi tidak kusangka kau akan melakukan tindakan nekat itu."

Natsu ikut tertawa sarkastis. "Aku tahu kau mulai menyadari sesuatu. Kau memang kakakku."

Zeref mendengus. "Dan bersiaplah bahwa sebentar lagi aku akan mengetahui sesuatu itu." pria itu segera berbalik dan berjalan meninggalkan Natsu yang tersenyum sarkastis. Namun, pria itu tahu bahwa ada yang aneh dengan senyuman itu.

"Bawa Lucy sejauh mungkin..."

Zeref kembali mengingat sesuatu yang dibisikkan Natsu di rumah sakit tempo hari. Kata-kata itu jelas membuatnya penasaran dan curiga. Pasti ada sesuatu yang tidak beres yang mengharuskan Natsu menceraikan Lucy dan memintanya untuk membawa Lucy sejauh mungkin. Sesuatu yang mungkin membahayakan nyawa wanita itu...

Natsu menghampiri Luna yang masih menatap kepergian Zeref dari rumahnya. Dilihatnya mobil hitam Zeref yang meninggalkan perkarangan. Natsu menarik Luna ke dalam pelukannya. Diusapnya puncak kepala gadis kecilnya itu dengan lembut. Punggungnya langsung bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan, sudah menyeruak keluar dari matanya dan tumpah membanjiri pipinya.

"Papa? Papa kenapa nangis?" tanya Luna. dia menepuk-nepuk bahu Natsu dengan tangan mungilnya.

"P-papa... Papa sangat mencintai mama..." bisik Natsu.

"Luna tahu kok. Mama bilang mama bakal balik lagi. Dan kita akan bersama-sama lagi." Ujar Luna, dengan nada polos.

"Yah... Kita akan bersama-sama lagi. Karena itu..." Natsu melepaskan pelukannya dan menatap Luna dengan dalam. "Jangan tinggalin papa, ya, sayang. Papa sudah hancur karena kepergian mama, dan papa bisa saja mati jika Luna juga ikut pergi..."

Mata cokelat Luna membulat mendengarnya. "Papa jangan ngomong gitu, dong. Luna gak mau papa meninggal... Luna sayang papa.." mata gadis itu mulai berkaca-kaca.

"Yah, papa tahu. Dan papa tidak akan pernah membiarkan Luna pergi..." Natsu kembali memeluk putrinya.

XXX

Lucy kembali mengusap matanya dengan kedua punggung tangannya. Air mata tidak berhenti mengalir dari kedua mata cokelatnya. Dia tidak mau terus menangis dan menjadi tontonan di bandara, namun dia tidak bisa menahan tangisannya. Hatinya remuk. Luna, putri kesayangannya dan juga penyemangatnya, diambil oleh pria yang dibencinya. Kenapa semuanya jadi begini? Kebahagiaan yang dia rasakan dulu rupanya hanya sementara. Kenapa dia selalu menderita seperti ini? Kapan dia bisa bahagia? Apakah ketika dia sudah mati nanti? Bagaimana kalau dia bunuh diri saja sekarang ini?

Lucy segera tersentak ketika merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Dia segera menyingkirkan tangannya dari mata, dan menatap Zeref yang tersenyum sedih melihatnya.

"Minumlah. Kamu pasti kehausan menangis berjam-jam. Bibirmu sampai pecah-pecah begitu," ujar Zeref.

Lucy menerima secangkir susu vanila dingin pemberian Zeref dan meminumnya. Zeref merogoh sesuatu di kantong kemejanya dan segera mengusapkannya di pipi Lucy.

"Wajahmu benar-benar kacau. Kamu harus segera mencucinya. Bisa-bisa penumpang lain akan lari ketakutan mengira kamu adalah hantu yang memasuki pesawat. " ucap Zeref, berusaha membuat Lucy tersenyum dan melupakan kesedihannya.

Lucy hanya tersenyum sekilas dan mengambil sapu tangan yang masih ditempelkan Zeref di pipinya. "Terima kasih, kak. Maaf aku selalu menyusahkan." Ucapnya seraya mengusap bekas-bekas air mata di wajahnya.

"Kamu sudah berkali-kali mengatakannya. Apa kamu tidak bosan?" Zeref mengerutkan dahinya. "Semuanya akan baik-baik saja. Kakak janji akan membawa Luna ke Magnolia juga. Kamu jangan khawatir dan cukup percaya sepenuhnya pada kakak." Zeref melemparkan senyum tulusnya.

Lucy mengangguk dan tersenyum kecil. "Ya, aku percaya."

XXX

Malam ini, makan malam tampak begitu berbeda bagi Luna. Belum pernah dia merasakan makan malam sesepi ini...

Gadis kecil itu melirik Natsu di depannya yang tengah mengunyah makanannya sejak tadi tanpa berniat menelannya. Tatapan papanya itu begitu hampa. Raut wajahnya juga begitu pucat. Menyadari itu, Luna segera dihampiri rasa takut dan khawatir.

"Apa papa sedang sakit? Papa gak enak badan ya? Mau Luna pijitin?" tanya Luna seraya meletakkan sendok di samping piringnya.

Natsu tersentak dan menoleh ke arah putrinya. Seakan baru selesai memproses ucapan Luna, Natsu segera menelan makanannya dan tersenyum lebar pada putrinya itu. "Hm? Papa baik-baik saja! Lihat! Papa makannya banyak seperti biasa!" Natsu meraih ayam goreng di hadapannya dan memakannya dengan lahap. Namun, putrinya semakin menatapnya dengan khawatir. Seperti Lucy, Luna memiliki insting yang kuat akan sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.

"Papa kenapa gak pakai saus tabasco? Papa yakin baik-baik saja? Luna telepon nenek Porlyusica, ya, supaya papa dikasih obat biar sembuh?" tanya Luna, khawatir.

"Ah, tidak perlu, sayang! Papa Cuma lupa! Lihat! Papa pakai saus tabasco!" Natsu segera menuangkan semua saus tabasco ke piring dan ayam gorengnya.

Luna masih menatap Natsu dengan khawatir, namun gadis kecil itu segera menghela nafas. "Kalau papa sakit, bilang Luna, ya? Nanti Luna akan merawat papa. Mama 'kan lagi pergi, jadi Luna yang bertugas untuk jagain papa!" seru gadis kecil itu, tersenyum polos.

Natsu menarik senyum di bibirnya. Dia benar-benar menyayangi putrinya. Dia seperti Lucy. Begitu lembut dan perhatian...

"Ara-ara..."

Luna segera tersentak ketika dua pasang tangan melingkari tubuh mungilnya. Dia segera menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita cantik berambut hitam tengah tersenyum penuh arti ke arahnya.

"T-Tante ini siapa?!" jerit Luna, ketakutan.

"Sayla? Bagaimana kau bisa masuk?" Natsu menaikan sebelah alisnya.

Sayla melepaskan pelukannya dari Luna dan menatap Natsu dengan senyuman penuh cintanya. Luna segera berlari ke pangkuan Natsu, berlindung dari wanita asing yang memiliki senyuman terseram yang pernah dia lihat.

"Kau tidak ingat, ya, pernah memberikanku kunci duplikat rumah ini?" wanita berambut hitam panjang itu menunjukkan sebuah kunci dengan gantungan naga ke arah Natsu. kemudian dia segera tersenyum lembut ke arah Luna. "Halo, sayang! Nama tante Sayla! Kamu boleh panggil tante dengan Mama, oke?"

Mendengar itu, Luna semakin mengeratkan pelukannya pada Natsu. "Papa, siapa bibi ini?" tanya Luna.

"Bi-bibi?" dahi Sayla berkedut mendengar panggilan yang dilontarkan gadis kecil di hadapannya.

"Dia Tante Sayla. Teman papa..." jawab Natsu seraya mengusap kepala Luna.

Sayla menatap Natsu dengan tidak percaya. "Teman? Tidak! Aku adalah—" Sayla segera menghentikan ucapannya ketika mendapat delikan tajam dari Natsu. Natsu segera menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan bagi Sayla untuk diam.

Sayal menghembuskan nafas gusar dan menarik kursi di samping Natsu. Dia menaruh bingkisan yang ia bawa ke atas meja makan.

"Lihat? Tante bawa kue stroberi untuk Luna, lho!" seru Sayla, berusaha terdengar menyenangkan. Meskipun itu begitu keluar dari karakter aslinya yang pendiam dan angkuh, namun dia harus berusaha keras merebut hati putri kecil Natsu.

Luna membulatkan mata mendengarnya. Dia segera berseru girang dan melepaskan pelukannya dari Natsu. "Untuk Luna, ya, tante?" tanya Luna dengan mata berbinar.

Sayla mengangguk cepat. "Yep! Dan tante juga bawa banyak buku cerita dongeng!" Sayla menunjukkan sebuah bingkisan yang cukup besar ke hadapan Luna. Luna segera turun dari pangkuan Natsu dan menghampiri Sayla.

"Makasih tante!" dan gadis kecil itu segera duduk kembali di kursinya seraya memakan kue dan memeluk buku pemberian Sayla.

"Kau menyuap putriku?" tanya Natsu, tidak suka.

"Tidak. Aku hanya berusaha menyenangkan hatinya. Kesan pertama itu sangat penting. Apalagi sebentar lagi aku akan menjadi mama pengganti baginya." Sayla tersenyum lebar ke arah Natsu.

Natsu berdecak dan kembali melanjutkan makannya. Namun Sayla tiba-tiba memegang tangannya, membuat gerakannya terhenti. Natsu menoleh dan mendapati wajah wanita itu yang mendekat. Segera saja pria itu menahan wajah wanita berbandana putih itu untuk tidak terus maju mendekatinya.

"Apa kau tahu kalau di sini ada seorang anak kecil yang memperhatikan?" Natsu menatap Sayla dengan tajam.

"Dan bisakah kau tidak bicara ketus denganku? Aku tahu suasana hatimu tidak begitu baik akhir-akhir ini. Karena itulah aku sengaja datang ke sini untuk 'menghibur'mu." Ujar Sayla dengan tenang.

Natsu memutar bola matanya. Menghibur? Yang ada wanita itu akan membuatnya semakin stress malam ini.

Drrrtt... Drrrtt...

Natsu segera meraih ponsel di sampingnya. Dia mengernyit ketika melihat sebuah nama yang tertera di sana.

"Aku akan mengangkat teleponnya." Natsu segera bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi Sayla. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, suara Sayla membuatnya terhenti.

"Natsu. Aku akan menunggumu di kamar setelah kau makan." Sayla tersenyum lembut.

Natsu hanya mengangguk dan kembali berjalan meninggalkan ruang makan. Setelah dirasa dia sudah berada di jarak yang cukup jauh sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mendengarnya, Natsu menekan tombol 'jawab'.

"Ya?" jawab Natsu, sedikit berbisik. Dia tidak mau ambil resiko jika Saya mengikutinya dan menguping pembicaraannya.

"..."

Natsu tersneyum mendengarnya. "Bagus. Kapan itu akan dijalankan?"

"..."

Natsu mengerutkan keningnya. "Selama itu? Apa kau tidak bisa mempercepatnya sedikit? Kau tahu aku tidak punya banyak waktu lagi."

"..."

"Ah, iya. Terserah kau saja. Aku percaya padamu. ...Ya..." Natsu segera memutuskan sambungan telepon dengan sebuah senyum puas di bibirnya.

"Waktunya sudah tiba untuk serangan balasan." Gumamnya.

.

.

Bersambung...

.

AN: Maigatt! Haha! Terbawa suasana banget pas nulis chapter ini! Oke, mulai chapter depan, semuanya akan menjadi jelas kenapa Natsu melakukan 'ini' dan 'itu'. atau para reader sudah mulai mengetahui kebenarannya? Yang jelas, pasti mulai gak benci Natsu lagi dong. Atau malah makin benci? Yah... itu kembali pada diri masing-masing(?). konflik di sini kurasa cukup ruwet untuk dijabarkan. Tapi, akan kuusahakan membuatnya menjadi jelas. Dan... hiks... sungguh ini fic yang bikin emosi saya meluap-luap... #lirikplotlastchapter

Hmm... kan di chapter2 kemarin penulisan saya itu berantakan banget ya. Deskripsi minim... Tapi, saya sudah berusaha memulihkannya di chapter ini. Dan saya merasa kembali seperti dulu. Haha! Oek, oke. Saya rasa para reader pada gak ngerti maksud bacot saya ini.

Yang jelas, sampai jumpa di next chapter! oh iya, yang pengen Natsu menderita, tenang! Dia bakalan menderita kok! So, just waiting for that moment, huahaha!

Salam manis,

Minako-chan Namikaze