.
Disclaimer:
Fairy Tail by Hiro Mashima
Broken Vow
By
Minako-chan Namikaze
Genre: Drama, Romance, hurt, etc.
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.
Ini sekuel dari fic You're Not Her Father
.
Enjoy!
.
.
Lucy menginjakkan kakinya di lantai keramik Mansion milik Zeref. Manik karamelnya melirik ke sekeliling. Mansion ini tampak biasa saja. Tidak semewah yang dia bayangkan. Lantainya pun cuma dua tingkat. Dan dilihat dari keadaan luarnya, sepertinya Mansion ini sudah berusia cukup lama. Namun, di sini begitu sepi. Hanya sedikit pelayan yang bekerja di Mansion ini. Lokasinya juga begitu terpencil dan jauh dari kota. Bisa dilihat dari pepohonan yang mengelili Mansion itu, dan udara segar di sekitarnya, Lucy yakin kalau Mansion ini terletak di dekat pegunungan.
"Lucy,"
Lucy segera berhenti memperhatikan sekeliling dan menoleh ke arah Zeref yang tersenyum ke arahnya. "Ya, kak?" sahutnya.
"Kopermu sudah kakak taruh di kamarmu di lantai atas. Lebih baik kamu istirahat sekarang. Kamu sama sekali tidak bisa tidur 'kan di dalam pesawat?" ujar Zeref.
Lucy hanya mengangguk dan menggumamkan terima kasih. Dia segera menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya. Suasana di Mansion ini benar-benar sunyi. Mungkin benar di sini dia bisa menenangkan pikirannya.
Lucy membuka pintu kamarnya. Dia memperhatikan keadaan kamar barunya. Dindingnya dicat dengan warna biru muda. Ada sebuah tempat tidur king size berwarna putih dan sofa panjang berwarna senada di depannya. Lemari dan juga meja rias terletak di sudut ruangan. Di sini juga ada balkon yang cukup besar. Lucy segera berjalan memasuki kamarnya dan membuka pintu balkon. Dan pada saat itu juga, angin sore segera menerpa wajah pucatnya. Lucy memejamkan mata. Menghayati kedamaian yang tengah ia rasakan saat ini. Andai hidup selalu terasa damai seperti ini, umurnya pasti tidak akan berkurang dan kerutan di wajahnya tidak akan muncul. Namun, entah kenapa hidupnya selalu dikejar-kejar oleh masalah. Seolah, tidak ada kedamaian untuknya.
Lucy mundur dari balkon dan menghempaskan dirinya di tempat tidur. Matanya terasa begitu berat. Dia terlalu banyak menangis dan meratapi nasibnya di pesawat, sehingga dia sama sekali tidak bisa tidur. Dan beberapa menit kemudian, wanita berambut pirang itu sudah terlelap. Rambut emasnya menari tertiup angin yang berhasil masuk dari pintu balkon yang terbuka lebar. Rasanya begitu damai. Dia ingin kedamaian ini abadi...
XXX
Lucy membuka matanya. Melentangkan tubuhnya, wanita itu mulai menatap ke sekeliling dengan sayu. Kemudian dia tersadar kalau dia bukan berada di kamarnya. Dia mendudukkan diri dan tersenyum miris. Tentu saja.
Dia melirik pintu balkon yang masih terbuka, menampilkan pemandangan langit malam yang ditaburi bintang-bintang. Lucy segera beranjak dari tempat tidur dan bersandar di pembatas balkon. Wanita itu mendongakkan kepala. Menatap bintang-bintang di atasnya dengan tatapan penuh harap.
Apakah bintang bisa mengabulkan permohonanku?
Lucy langsung tersenyum geli. Dia teringat akan pertanyaan konyol yang pernah ia ajukan pada mamanya dulu. Bintang bukanlah Tuhan yang menentukan takdir semua orang. Namun, entah kenapa orang-orang selalu percaya, jika mereka melihat bintang jatuh, dan mereka memohon sesuatu, maka permohonan itu akan terkabul.
"Konyol sekali," gumam Lucy, tersenyum geli. Dia kembali menatap taburan kerlap-kerlip di langit yang hitam itu. "Jika bintang bisa mengabulkan keinginan seseorang, maka sudah lama aku jatuh cinta pada pria lain," ucapnya dengan miris.
Tiba-tiba Lucy merasakan tenggorokannya tercekat. Dia kembali masuk ke kamar dan menutup pintu balkon. Sambil memegangi tenggorokannya yang kering, dia membuka pintu kamarnya. Berjalan keluar seraya menoleh ke sana ke mari, mencari keberadaan pria yang telah membawanya ke sana.
"Nona Lucy?"
Lucy segera menoleh ke arah seorang wanita tua berpakaian pelayan.
"Ah, aku mencari Kak Zeref," Lucy tersenyum ke arah pelayan itu.
"Ah, Tuan sedang pergi keluar sejak dua jam yang lalu. Jika Nona butuh sesuatu, tinggal bilang saya saja. Tuan Zeref menyuruh saya untuk menjaga Nona," pelayan itu tesenyum. "Nama saya Nanako. Saya sudah bekerja di sini sejak Tuan Zeref berumur dua tahun." Dia tersenyum ramah ke arah Lucy.
"Ah, kalau begitu, aku akan memanggil Anda Nana-san. Boleh?" tanya Lucy.
Pelayan tua itu mengangguk. "Tentu. Tuan Zeref juga memanggil saya begitu. Ah, iya. Nona pasti lapar 'kan? Saya sudah menyiapkan makan malam untuk Nona," Nanako meminta Lucy untuk mengikutinya ke ruang makan. "Saya sudah buatkan sup dan juga bubur. Wajah Nona kelihatan begitu pucat ketika sampai ke mari. Jadi, saya pikir Nona butuh sesuatu yang lembut dan hangat." Ucapnya.
Lucy menatap hidangan di atas meja. Dia tersenyum dan segera menarik kursi. Saat dia sudah mendudukan diri di sana, matanya menangkap sebuah kertas kecil yang diletakkan di samping piring supnya.
"Tuan Zeref yang menuliskan pesan itu. Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona. Ada hal yang harus saya kerjakan," ujar Nanako.
Lucy menoleh ke arahnya dan kembali tersenyum. "Ah, iya. Terima kasih sudah mengantarku ke sini, Nana-san," ucap Lucy.
Pelayan tua itu hanya tersenyum lalu membungkukkan punggungnya. Dia segera beranjak keluar dari dapur. Sementara itu, Lucy segera membaca memo yang ditinggalkan Zeref.
"Kakak keluar sebentar. Makanlah sup dan bubur ini selagi hangat. Pokoknya saat pulang nanti, kakak akan memeriksa kedua piring itu sudah kosong atau belum"
Lucy tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum membaca memo itu. Zeref terlalu mengkhawatirkannya. Pria itu begitu baik dan perhatian. Lucy heran kenapa Zeref tidak mau menikah sampai saat ini. Padahal ada banyak wanita yang begitu baik dan sempurna di dunia ini. Pria itu bisa saja dengan mudah mendapatkan wanita idamannya. Dengan kebaikan dan juga wajah tampannya, setiap wanita pasti akan jatuh cinta kepadanya.
Lucy mengambil sendok dan mulai memakan buburnya. Dia mengernyitkan dahi.
"Enak," gumamnya. Entah karena efek lapar atau orang yang memasak bubur ini memang ahli, tapi bubur yang dia makan benar-benar enak. Hingga tidak butuh waktu lama, Lucy sudah menghabiskan bubur itu. Membuat piringnya menjadi bersih tanpa sisa. Baru saja Lucy ingin menyendok sup jagung yang begitu menggoda di hadapannya, sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"Siapa kau?"
Lucy segera tersentak mendengar nada dingin itu. Dia segera menoleh dan mendapati seorang wanita tengah menatapnya tajam dari ambang pintu ruang makan. Lucy hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan wanita itu benar-benar menyeramkan, seolah tatapan itu tengah menelanjanginya.
"Umm..." gumam Lucy, masih menatap sosok di ambang pintu itu dengan dahi berkerut.
"Kenapa kau bisa berada di rumah ini? Siapa yang membawamu?" tanyanya dengan dingin.
Lucy semakin mengerutkan keningnya. Tidak suka dengan nada bicara wanita cantik di hadapannya itu. "Kak Zeref yang membawaku ke sini." Jawab Lucy.
"Kak? Kau teman Zeref?"
Lucy mengangguk. Dia bukan adik ipar Zeref lagi. Satu-satunya kata yang tepat untuk bisa menjelaskan hubungan mereka saat ini adalah 'teman'.
"Sejak kapan Zeref membawa teman wanitanya ke sini?" wanita itu memicing curiga.
"Sejak saat ini?" Lucy menjawab dengan ragu.
Wanita bersurai hijau itu berkedip. Dengan langkah yang anggun namun terkesan angkuh, dia berjalan santai mendekati Lucy. "Kau..." gumamnya.
Lucy meneguk ludah. Bersiap melawan jika wanita misterius di hadapannya itu melakukan sesuatu yang buruk padanya.
"Kau ini Istri adiknya Zeref, 'kan?" tanya wanita itu. Emeraldnya menatap ke dalam mata karamel milik Lucy. Seolah mencari jawaban dari kedua pasang manik cokelat madu itu.
Lucy meneguk ludah. Haruskah dia menjawab pertanyaan wanita ini? Ini adalah pertanyaan privasi. Ditambah lagi, dia baru saja bercerai. Dia juga tidak mengenal wanita di hadapannya ini.
"Hey, kenapa tidak menjawab?" nada mengintimidasi itu kembali terdengar.
"Apa-apaan wanita ini? Kenapa dia begitu memaksa?" Batin Lucy.
"Brandish, kenapa kau ada di sini?"
Lucy dan wanita dingin tadi segera menoleh ke belakang, di mana seorang pria berambut hitam tengah berdiri menatap mereka dengan kening berkerut. Wanita bersurai hijau itu segera menjauhkan diri dari Lucy dan menatap Zeref dengan malas seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku menemukan seorang wanita asing di sini. Jadi aku menghampirinya untuk menanyakan identitasnya," jawab wanita bernama Brandish itu.
"Ah..." Zeref memasang wajah seolah dia baru mengerti sesuatu. Kemudian pria itu melangkah mendekati Lucy. "Ini Lucy Heartfilia. Dia—"
"Bukankah dia Istri adikmu Natsu? Kenapa dia bisa ada di Mansion ini?" Brandish memotong ucapan Zeref. Wanita itu menatap Lucy dengan tatapan tidak suka.
Zeref meringis mendengarnya. "Jangan begitu, Brandish. Lucy sama sekali tidak tahu apa-apa." Ujar Zeref. Kemudian dia tersenyum lebar ke arah piring bubur Lucy yang sudah kosong. Pria itu segera mengusap kepala pirang Lucy. Wanita itu hanya diam.
"Bagus. Paling tidak, kamu sudah memakan sesuatu dan wajahmu sudah tidak pucat lagi," ucap Zeref pada Lucy.
Lucy langsung tersenyum mendengarnya. Sementara Brandish menaikkan sebelah alisnya melihat adegan itu.
Zeref menoleh ke arah Brandish yang tengah memasang wajah kebingungan sekaligus gusar. "Bri, tunggulah di ruanganku bersama Invel." Ucap Zeref.
Brandish hanya mendengus kemudian berjalan meninggalkan ruang makan.
"Dia adalah pengacara pribadi kakak. Dia yang akan membantu kita mendapatkan Luna kembali." Jelas Zeref seolah bisa membaca raut penasaran Lucy.
"Tapi, sepertinya dia lebih dari pengacara. Dia tampak begitu akrab dengan kakak." Ucap Lucy, dengan raut tidak suka.
"Yah, kami sudah berteman sejak SMP. Jadi, wajar kalau hubungan kami begitu akrab. Omong-omong, apa kamu merasa nyaman berada di sini? Ini adalah rumah lama kakak. Dulu kakak tinggal di sini bersama Ibu kakak. Dan kamar yang kamu tempati sekarang ini adalah kamar milik beliau," ucap Zeref sambil tersenyum simpul.
Lucy membulatkan bibirnya. Pantas saja ada meja rias di dalam kamarnya. "Ya, aku suka. Terima kasih, kak,"
Zeref kembali menepuk kepala Lucy. "Kalau begitu, kakak akan ke ruangan kakak. Kamu harus habiskan sup jagung itu dan segera istirahat. Oyasumi," setelah berpesan seperti itu, Zeref segera berjalan meninggalkan Lucy. Lucy terdiam sebentar menatap kepergian Zeref, kemudian dia kembali menyantap supnya.
XXX
"Seperti yang sudah kujelaskan di telepon tadi," Zeref membuka suaranya. Dia menautkan jemarinya dan meletakkannya tepat di hadapan dagunya. Mata obsidiannya menatap serius dua orang yang tengah berdiri di hadapannya. "Aku ingin kalian melakukan sesuatu untukku," ujarnya.
"Dan sesuatu itu? Tidak usah bertele-tele seperti ini dan cepat katakan." Brandish memasang tampang bosan. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Brandish! Kau tidak boleh bersikap seperti itu di depan atasan kita!" tegur pria berambut platina di samping Brandish.
Brandish hanya berdecih dan memalingkan wajahnya. Zeref hanya tersenyum maklum.
"Tidak apa-apa, Invel. Aku sudah terbiasa. Lagipula, kau juga jangan terlalu formal. Bukankah kita sudah saling mengenal sejak SMA?" ujar Zeref.
Pria berkacamata itu menghela nafas. "Tapi Anda adalah atasan saya. Saya tidak ingin bersikap tidak sopan pada Anda," jelas Invel.
Brandish tertawa mengejek. "Kau terlalu serius, kakek tua. Apa kau tidak bosan dengan hidupmu yang terlalu sopan itu?"
Invel segera mendelik ke arah wanita yang memiliki potongan rambut bob itu. "Tutup mulutmu. Kau sendiri sebagai wanita seharusnya introspeksi diri. Di mana letak kesalahanmu sehingga tidak ada pria yang mau mendekatimu. Mereka semua takut akan mulut pedasmu itu."
"Sudahlah kalian berdua. Aku tidak memanggil kalian ke sini untuk bertengkar." Zeref menengahi. Sejak dulu, kedua orang di depannya itu tidak pernah berhenti melempar ejekan ketika bertemu. Sepertinya jika semenit saja mereka tidak saling mengejek, mereka akan mati.
Brandish mendengus. Raut wajahnya mulai gusar. "Kalau begitu cepat katakan. Kau mulai membuang-buang waktuku yang berharga demi hal merepotkan ini," ketusnya.
Zeref menghela nafas. Kemudian dia kembali menatap kedua orang itu dengan serius. "Bri, aku ingin kau mengalihkan hak asuh seorang anak," ucap Zeref.
Brandish menaikkan sebelah alisnya. "Perempuan atau laki-laki? Kepada Ayah atau Ibunya?"
"Perempuan. Pada Ibunya," jawab Zeref.
"Apa kau bodoh? Hukum menentukan bahwa anak perempuan harus ikut dengan Ayahnya." Ujar Brandish.
Zeref mengangguk. "Aku tahu. Tapi, aku yakin dengan kemampuanmu, kau pasti bisa mengatasi hukum Fiore ini. Tidak ada hal yang tidak bisa kau atasi bukan? Kau selalu bilang 'selalu ada cara untuk mencapai sesuatu meskipun harus'—"
"Menggunakan cara licik? Kau ingin merepotkanku lagi?" Brandish menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan Tuan Zeref Dragneel menyuruh seorang wanita untuk melakukan sesuatu yang tidak benar, huh?" wanita bermanik emerald itu menatap Zeref dengan sinis.
Lagi-lagi, Zeref menghela nafas. Melihat itu, Invel segera membuka suara.
"Turuti saja kata-katanya, Brandish. Kenapa kau selalu melawannya?" pria berambut putih itu lagi-lagi mendelik ke arah wanita bersurai hijau itu.
"Terserah aku," ketus Brandish.
"Abaikan dia, Zeref. Dia hanya ingin membuatmu kesal. Dia pasti akan melakukannya tanpa kau suruh dua kali," ujar Invel, membuat Brandish mendelik ke arahnya. "Lalu, apa tugasku?" lanjut pria itu.
Kini Zeref menatap serius ke arah pria berambut putih panjang itu. "Aku ingin kau menyelidiki Perusahaan Dragneel,"
"Perusahaan Dragneel yang di Hargeon?" tanya Invel.
Zeref mengangguk. Kemudian dia menarik beberapa lembar kertas yang terletak di hadapannya. "Data penjualan, kerugian, bahkan jumlah saham yang mereka miliki entah kenapa mengalami perubahan yang amat drastis. Ini sama sekali tidak masuk akal," ujar Zeref seraya mengerutkan keningnya. Dia menyodorkan lembaran kertas itu pada Invel.
Invel berjalan menghampiri meja Zeref dan mengambil kertas-kertas itu. Dibacanya dengan teliti semua diagram dan tulisan yang tertera di sana. Dahinya langsung berkerut. "Memang benar. Ini terlihat tidak masuk akal. Tiba-tiba saja para investor membatalkan hubungan kerja sama dan menarik kembali saham mereka. Membuat Perusahaan di Hargeon di ambang kebangkrutan. Tapi, beberapa hari kemudian, diagramnya berubah dan naik secara drastis. Dan..." Invel membalikkan halaman pada kertas-kertas yang Ia pegang. "Ini terjadi secara berulang-ulang? Apa yang sebenarnya terjadi?" dia semakin memperdalam kerutan di dahinya.
Zeref mengangguk. "Karena itulah aku penasaran. Ditambah lagi, Perusahaan Dragneel di Magnolia juga tiba-tiba mengalami krisis keuangan. Entah kenapa tidak ada investor yang mau menanamkan modalnya pada kami." Zeref menempelkan dagunya pada punggung tangannya. Wajahnya tampak berpikir keras. "Ini hanya dugaanku, namun sepertinya ini ada hubungannya dengan Perusahaan Tartaros," ucapnya.
"Tartaros? Perusahaan terbesar di Fiore ini, 'kan? Memang sih tidak menutup kemungkinan mereka adalah dalang di balik semua ini. Tapi, untuk apa mereka mengacau perusahaan Dragneel?" Brandish menyela.
"Aku juga tidak tahu. Itu hanya dugaanku. Tapi coba lihat data ini." Zeref menyerahkan selembar kertas pada Invel.
Invel menaikkan sebelah alisnya. "Hm? Perusahaan Tartaros bekerja sama dengan Perusahaan Dragneel? Dan menurut tanggal kerja samanya..." tiba-tiba Invel menarik sebuah senyuman di wajahnya, seolah dia baru mengerti sesuatu.
Brandish hanya berkedip melihat reaksi Invel. "Ada apa denganmu, orang tua? Jangan memasang senyuman menyeramkan seperti itu,"
Dan lagi-lagi, Invel melempar delikan mautnya pada Brandish. Namun wanita itu sama sekali tidak gentar dengan tatapan mengerikan pria itu.
"Kau sudah mengerti 'kan Invel? Kalau begitu, mulailah penyelidikan bersama Brandish." Ujar Zeref.
Invel mengangguk dan tersenyum percaya diri. "Serahkan saja padaku. Tidak ada kasus yang tidak bisa kupecahkan," ucapnya.
"Dasar Detektif narsis," ejek Brandish.
"Tutup mulutmu, Pengacara judes!"
"Sudahlah kalian berdua..." Zeref memijat pelipisnya. Entah kapan dia bisa melihat kedua orang di depannya itu bisa saling tersenyum tulus. Padahal mereka adalah sepupu...
"Jadi..."
Zeref menatap Brandish yang kini tengah menatapnya dengan enggan.
"Kau ingin kami menyelidiki apa yang terjadi?" Brandish mengernyitkan dahinya. "Seperti biasa kau ini sungguh merepotkan,"
"Brandish. Jaga ucapanmu," Invel mendelik ke arah wanita bersurai hijau itu, lagi. Namun Brandish hanya menghiraukannya dan terus bicara.
"Kau selalu bersikap naif, Zer. Kau pikir aku tidak tahu tujuanmu sebenarnya? Kau melakukan semua ini demi wanita di bawah sana itu, 'kan?" Brandish menatap kesal ke arah Zeref.
Zeref hanya diam. Tidak berniat menjawab.
"Kau pikir aku bodoh? Aku mengenalmu sejak SMP. Kau tidak akan membawa seorang wanita ke dalam mansion ini. Apalagi kau tidak begitu menyukai wanita. Kau bahkan berbicara dengan sangat lembut dengannya. Kau menyukainya, 'kan? Wanita bernama Lucy Heartfilia itu?"
Zeref tetap diam. Matanya menatap lurus ke emerald milik Brandish. Melihat atasannya hanya berdiam diri tanpa berniat menjawab, Brandish langsung menghembuskan nafas gusar. "Seperti biasa juga, kau selalu menyembunyikan perasaanmu. Kau pikir kau itu artis yang bisa mengelabui semua orang dengan akting payahmu itu? Kau tidak akan bisa menyembunyikan apapun dariku, Zer..." ujar Brandish.
"Lalu kenapa kalau aku menyukainya? Apa itu salah?" tanya Zeref, dingin.
Brandish memutar bola matanya. "Dia adalah istri adikmu. Adik kesayanganmu yang begitu kurang ajar itu..." cibirnya.
"Mereka sudah bercerai. Natsu selingkuh." Ucap Zeref, membuat Brandish mengernyitkan alis. Ekspresinya menunjukkan kalau dia tidak terlalu terkejut dengan ucapan Zeref.
"Hoo... Jadi, kau berpikir ingin membuktikan pada wanita itu kalau mantan suaminya tidak seperti yang dia pikirkan, dan membuat mereka bersatu kembali, begitu?" tanya Brandish.
Zeref terdiam. "Aku memang naif. Tapi, aku sama sekali tidak ingin melepaskan Lucy," pria itu memutar kursinya, membuatnya membelakangi Brandish dan Invel.
Brandish mendengus, kemudian memasang senyum mengejek. "Artinya, kau hanya ingin tahu kebenarannya tanpa ingin membiarkan wanita pirang itu mengetahuinya juga?"
Zeref hanya diam.
"Kau mulai egois, Zeref." ucap Brandish. "Namun, apa yang kau lakukan sudah benar. Aku akan mendukungmu," lanjutnya.
Zeref tetap diam, namun Brandish tahu kalau Zeref tengah memikirkan kata-katanya. Dia yakin pria itu tengah tersenyum saat ini.
"Baiklah. Aku akan mengurus tugasku. Kau ingin aku mengalihkan hak asuh Luna Dragneel 'kan? Kalau begitu, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti bisa menyelesaikannya dengan cepat," Ucap Brandish, kemudian berbalik untuk keluar dari ruangan. Namun, suara Zeref menghentikan tangannya yang hendak memutar kenop pintu.
"Bri... Kau tahu, aku sangat mencintaimu..." Zeref tersenyum lebar ke arahnya. Tatapan pria itu seolah dia begitu bahagia memiliki sahabat seperti Brandish.
Brandish tersenyum. "Yah, aku juga mencintaimu, kawan..." kemudian dia segera keluar dari ruangan Zeref.
XXX
Brandish menutup pintu di belakangnya. Tatapannya tidak berubah. Tetap dingin dan angkuh. Dia mendongak ketika mendapati Lucy tengah berjalan menaiki tangga dan berjalan ke arahnya. Tatapan mereka bertemu, namun Lucy segera menundukkan wajahnya.
"Hey." Panggil Brandish ketika Lucy melewatinya begitu saja.
Lucy menghentikan langkahnya dan menoleh. "Ya?"
"Mau ke mana kau?" tanya Brandish, masih dengan nada angkuhnya.
"Nana-san bilang kalau di lantai atas ada sebuah perpustakaan. Jadi aku mau ke sana." Jawab Lucy.
"Hmm..." gumam wanita bersurai hijau itu. Mata emeraldnya memperhatikan raut wajah Lucy dengan seksama. Kemudian dia tersnyum sinis ke arah wanita bersurai emas itu. "Belum sehari kau berada di sini, tapi wajahmu sudah terlihat kalau kau akan mati besok. Segitu rindunya kah kau dengan mantan suamimu itu?"
Lucy mengerngitkan dahinya. Memasang wajah tidak suka dengan ucapan Brandish barusan. "Aku tidak merindukannya. Dan darimana kau tahu aku sudah bercerai? Apa Kak Zeref yang menceritakannya?"
"Ya. Dia cerita. Tapi, meskipun dia tidak menceritakannya sekali pun, aku sudah bisa menebak dari wajah lusuhmu itu kalau kau baru bercerai. Jangan meremehkan mata Pengacara Profesional sepertiku," dengus Brandish, bangga.
Lucy memutar bola matanya. Namun dia kembali menatap Brandish dengan senyum pahit. "Aku tahu dari Kak Zeref kalau kaulah yang akan mengurus peralihan hak asuh putriku. Jadi," Lucy membungkukkan badannya. "Aku memohon padamu. Bawalah putriku kembali padaku!"
Brandish terdiam melihatnya. Wanita di hadapannya ini... begitu rapuh dan putus asa. Bagaimana mungkin Zeref menyukai wanita lemah seperti ini?
"Ahh... Baiklah. Baiklah. Jangan membungkuk-bungkuk seperti itu. Lagipula, Zeref sudah menugaskanku, jadi aku harus bisa menjalankannya dengan hasil yang sempurna apapun yang terjadi..." ucap Brandish.
Lucy tersenyum senang mendengarnya. "Terima kasih, Kak Brandish." Ucapnya.
Brandish menatap Lucy dengan malas. Kemudian dia membalikkan badan. "Ayo. Ikut aku sebentar," ujarnya.
"Eh? Ke mana?" tanya Lucy.
"Ke luar. Kita harus mendiskusikan sesuatu..." jelas Brandish seraya berjalan meninggalkan Lucy.
Lucy hanya mengernyitkan dahi, kebingungan. Apa Brandish ingin membicarakan tentang putrinya? Tapi, dia pikir Zeref sudah menjelaskan semuanya pada Brandish. Dan Lucy segera berlarian kecil menyusul Brandish.
XXX
"Jadi, bisakah kita pulang sekarang, Kak Brandish?" tanya Lucy, pelan. Dia benar-benar mengantuk sekarang. Setelah dia menjelaskan kepada Brandish, hal-hal yang perlu diketahui oleh wanita itu untuk berdebat dengan hakim nanti, wanita berambut hijau pendek itu tiba-tiba saja memutuskan untuk membawanya pergi ke kota tetangga, Caracall. Dengan alasan untuk membeli sebuah es krim... Yang benar saja!
"Haruskah menempuh perjalanan berjam-jam begini hanya untuk membeli sebuah es krim?" protes Lucy.
Brandish tetap tenang menyetir mobil dan mendengus. "Berisik. Tutup mulutmu,"
Dahi Lucy langsung berkedut. Kalau wanita di sampingnya ini tidak menginginkannya bicara, seharusnya dia tidak perlu membawanya ikut bersamanya!
Brandish menghentikan mobilnya. Wanita berambut hijau pendek itu segera melepas seatbelt-nya dan keluar dari mobil. Meninggalkan Lucy sendirian di dalam sana. Lucy berniat keluar, namun pintu mobilnya tidak mau terbuka. Apa-apaan ini?! Brandish menguncinya di sini sementara wanita itu makan es krim yang enak di luar sana?!
Lucy segera tersentak mendapati pintu di samping kemudi terbuka. Brandish kembali memasuki mobil setelah meletakkan sebuah bingkisan besar di pangkuan Lucy. Lucy menatap bingkisan dingin itu dengan dahi berkerut. Brandish memberinya es krim?
"Pegang itu. Jangan sampai jatuh atau aku akan membunuhmu," ujar Brandish.
"Ap—" Lucy tidak mampu berkata-kata dengan tindakan semena-mena wanita di sampingnya ini. Namun dia langsung mengehembuskan nafas. Dia harus bersabar. Wanita ini adalah jalan baginya dan Luna untuk kembali bersama lagi.
"Baiklah. Kita pulang sekarang," ucap Brandish seraya menghidupkan mesin mobil. Lucy tersenyum lega mendengarnya.
"Kak Bran—"
"Jangan panggil aku begitu. Itu terdengar menggelikan." Brandish segera memotong perkataan Lucy.
"Baiklah. Aku akan memanggilmu Brandish saja," Lucy menahan diri untuk tidak menghela nafas. "Atau Bri seperti kak Zeref?" tanyanya.
Brandish mengerutkan dahinya. Dia kembali mematikan mesin mobil dan menatap Lucy dengan tidak suka. "Hanya Zeref yang boleh memanggilku begitu." ujarnya.
Lucy berkedip. "Sepertinya kalian dekat sekali..." ucapnya.
"Tentu saja. Kami berteman sejak SMP." Brandish meraih bingkisan es krim di pangkuan Lucy dan mengeluarkan kotaknya dari dalam kantung plastik. Logo Ice Cream Star Mango tertera di permukaan kotak itu. Wanita bersurai hijau itu mengeluarkan sebungkus es krim di dalamnya dan mulai memakannya. "Dan, entah kenapa dia senang sekali memanggilku begitu padahal aku sudah mengancamnya," lanjutnya.
"Oh..." respon Lucy, seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Dia terdiam. Antara bingung mau bicara apa lagi atau dia memang tidak ingin bicara.
Brandish melirik Lucy dan tersenyum mengejek. "Kenapa? Kau cemburu?"
Lucy tersentak mendengarnya. Dia menatap Brandish dengan tatapan bingung. "Huh? Kenapa aku harus cemburu?" tanyanya.
"Kau menyukai Zeref, 'kan?" tanya Brandish seraya mengemut Es Krimnya.
"Huh? Aku tidak—"
"Dan, kenapa kau bisa begitu akrab dengannya? Aku yakin dulu kalian hanya bertemu beberapa kali dan bahkan nyaris tidak pernah mengobrol." Brandish menatap Lucy dengan tatapan mengintimidasi.
Lucy terdiam mendengarnya. Apa yang dikatakan Brandish ada benarnya. Dia juga Cuma beberapa kali bertemu dengan Zeref. Namun, entah kenapa dia bisa begitu nyaman bersama pria itu. Bukan berarti dia tidak pernah nyaman bersama seorang pria, hanya saja rasanya lebih berbeda ketika bersama dengan Zeref.
Lucy memalingkan wajahnya. "Entahlah. Rasanya mengalir begitu saja. Saat kusadari, kami sudah berteman akrab."
"Berteman? Apa kau yakin kalian hanya berteman?" Brandish melirik Lucy dengan sinis.
"Huh? Apa maksudmu?" Lucy balas menatap dengan tajam.
Brandish menghela nafas. "Bicara dengan wanita telmi sepertimu benar-benar merepotkan," cibirnya.
"Apa?!" Lucy merasa tersinggung dengan ucapan kasar Brandish.
"Zeref menyukaimu, bodoh," ujar Brandish seraya kembali memakan es krimnya. Matanya lurus ke depan, menatap toko es krim langganannnya dengan malas.
"Eh?" Lucy berkedip.
Brandish menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap Lucy dengan kesal. "Jadi kau sama sekali tidak menyadarinya? Apa otakmu hanya dipenuhi oleh lelaki berambut menggelikan itu?"
"Aku tidak—"
"Jika kau sampai menyakiti perasaan Zeref, aku akan menghabisimu!" wanita bersurai hijau itu menatap Lucy dengan tajam. Emeraldnya berkilat penuh intimidasi. "Ingat itu!" tegasnya.
Lucy terhenyak. Matanya menatap Brandish dengan tegang. Kemudian dia mengernyit, menatap Brandish dengan kesal. "Brandish, kau menyukai kak Zeref?"
"Huh?" Brandish menatap Lucy seolah wanita pirang di sampingnya itu baru saja mengatakan hal yang gila. "Apa kau bodoh? Kami hanya berteman."
"Kalau begitu kenapa kau begitu posesif padanya?" tanya Lucy memprovokasi.
Brandish terdiam sejenak, kemudian bersandar di sandaran kursinya. Melirik Lucy dengan malas melalui ekor matanya, wanita itu menjawab dengan pelan. "Karena aku yang paling tahu bagaimana masa lalunya. Aku tidak ingin dia merasakan kekecewaan lagi."
Lucy berkedip bingung. "Maksudnya?"
Brandish menoleh, menatap Lucy dengan wajah angkuh saat mereka pertama kali bertemu. "Menurutmu, siapa Natsu Dragneel itu bagi Zeref?"
"Sepupunya." Lucy langsung menjawab.
Brandish tersenyum mengejek. "Kau salah. Natsu adalah adiknya."
Bersambung...
.
.
AN: Wah, gak terasa udah 200 review, ya! Ehehehe! Aku jadi makin semangat! Semoga bisa mencapai 400 review, aamiin! #oi
Nah, di chapter ini udah ada petunjuk tentang kenapa Natsu bisa berbuat gitu sama Lucy. Ada yang bisa nangkep maksudnya? Hayoo... jika sudah tau, coba tulis analisis kalian di kotak review, dan akan saya sebutkan nama kalian yang bisa menebak dengan benar di chapter depan. Di bawah WARNING, alias paling atas! Yang artinya... YUP! RAHASIANYA AKAN TERBONGKAR DI CHAPTER DEPAN! #tiupterompet
Jadi, doakanlah fic ini bisa update pas hari minggu nanti. Haha... saya nanti lho analisisnya... kayaknya ada yang udah bisa nebak juga alur dari fic ini. Dan lagi. Saya TEKANKAN! Sekali lagi. SAYA TEKANKAN kalau pasangan ending fic ini tidak saya tentukan dari vote.
SEKALI LAGI. Saya TEKANKAN! Pasangan ending fic ini TIDAK ditentukan oleh vote! Bukankah saya sudah bilang sebelumnya? Saya sudah menentukan akan sama siapa Lucy di ending nanti. Bisa jadi ZerLu, NaLu, gak sama siapa-siapa, atau bahkan sama orang lain. Intinya, saya minta vote Cuma untuk mengetahui reader lebih sukanya Lucy sama siapa doang. Jadi, jangan salah paham dulu... ^_^
Oke, segitu aja.
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
