.

Disclaimer:

Fairy Tail by Hiro Mashima

Broken Vow

By

Minako-chan Namikaze

Genre: Drama, Romance, hurt, etc.

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.

Ini sekuel dari fic You're Not Her Father

Selamat buat SkySorceress72, Ndul-chan Namikaze dan Nisfuun yang telah berhasil menebak dengan benar meskipun ada sedikit yang meleset! Hehe!

.

Enjoy!

.

.

Pria itu mengernyit di dalam tidurnya. Wajahnya berkeringat. Dengan gerakan menyentak, kedua pasang kelopak matanya terbuka lebar, menampilkan iris onix jernih di baliknya. Pria itu terdiam beberapa saat di posisinya, kemudian menghela nafas. Ditaruhnya lengan kanannya di atas dahi. Natsu Dragneel kembali mengutuki hidupnya.

"Ng..."

Natsu segera tersentak ketika mendengar erangan pelan di dekatnya. Dan lagi, kenapa dadanya terasa sesak begini? Seperti ada sesuatu yang menimpa tubuhnya.

"Ng..." suara itu kembali terdengar. Natsu mengarahkan bola matanya ke bawah, dan mendapati sebuah wajah yang pucat tengah menatapnya dengan sayu. Nyaris saja Natsu berteriak nyaring kalau saja orang yang tidur di atas dadanya itu tidak mengatakan sesuatu.

"Lho? Natsu? Kau sudah bangun rupanya..." ucap Sayla seraya tersenyum ke arah Natsu yang wajahnya sudah membiru.

"S-Sayla?! Kenapa kau bisa ada di kamarku?!"

"Habisnya, setelah berhari-hari tidak bertemu, aku jadi sangat merindukanmu... jadi, begitu mengetahui kau sudah pulang dari New York, aku segera datang ke sini..." jelas Sayla.

"Aku Cuma pergi tiga hari! Ayolah! Kau tidak bisa terus-menerus seperti ini! Dan cepatlah bangkit dari atasku! Kau membuatku sesak nafas!" Natsu berteriak kesal.

Namun, bukannya bangkit, Sayla malah merangkak ke atas dan merengkuh wajah Natsu. Dikecupnya bibir pria itu dan tersenyum mengejek ke arahnya. "Kau tidak bisa memerintahku seenaknya." Bisiknya.

Natsu semakin memperdalam kerutan kemarahan di dahinya. "Say... menyingkirlah. Aku harus ke kantor." Desis Natsu.

Sayla mengusap pipi Natsu dengan wajah santai. "Kau baru saja kembali dari bekerja tiga jam yang lalu. Dan sekarang kau ingin bekerja lagi? Lalu kapan kau punya waktu untukku?"

"Nanti sebisa mungkin aku akan meluangkan waktuku. Jadi, kumohon menyingkirlah atau aku akan..." Natsu menghentikan ucapannya.

Sayla menatap onix Natsu dengan tatapan menantang. Kemudian dia tertawa. "Atau apa? Memangnya kau bisa apa, hm?" ejek Sayla. Kemudian tangannya kembali bermain di wajah Natsu. Diciumnya pria itu dengan panas. Natsu hanya bisa diam. Tidak membalas perlakuan Sayla. Sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak melempar wanita jalang di hadapannya itu.

"Belum saatnya, Natsu Dragneel..." bisik Natsu terus-menerus di dalam hati.

Menyadari Sayla sama sekali tidak memiliki niat untuk menyingkir darinya, Natsu segera memegang erat kedua pergelangan tangan Sayla, membuat wanita berambut hitam lurus itu tersentak kaget. Natsu bangkit dan membaringkan Sayla di sampingnya. Ditatapnya wanita itu dengan wajah kesal yang amat nyata. Sementara Sayla hanya memasang senyum menantang, seolah dia tidak takut kalau Natsu akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Cukup lama mereka bertatapan, hingga akhirnya Natsu memalingkan wajahnya. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan menyabet handuk. Natsu segera memasuki kamar mandi dengan membanting pintunya. Sementara Sayla segera bangkit dan keluar dari kamar dengan senyum puas di bibirnya.

XXX

"Di mana putriku?" tanya Natsu ketika memasuki ruang makan.

"Sepertinya dia belum bangun." Jawab Sayla tanpa mengalihkan pandangannya dari novel hard covernya.

Mendengar itu, Natsu segera berjalan menuju kamar Luna. Membuka dengan pelan pintu kamar berwarna pink di depannya, Natsu segera berjalan menuju tempat tidur putri kecilnya. Dia melihat sebuah gundukan di balik selimut yang ia yakini adalah tubuh kecil putrinya. Natsu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur dan menepuk gundukan kecil itu.

"Luna. Sayang... Ayo bangun, Princess. Bukankah hari ini Luna harus sekolah?" Natsu membangunkan Luna dengan lembut.

Luna menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dan terlihatlah sepasang iris karamel yang berkaca-kaca. Natsu segera kaget melihatnya.

"Pa..." panggil Luna.

"Ya, sayang?" sahut Natsu.

"Luna kangen mama..." ucap Luna, lirih.

Natsu tidak kaget mendengarnya. Sudah beberapa hari ini Luna merindukan sosok Lucy. Bahkan, putri kecilnya yang biasanya bangun lebih dulu darinya itu, kini malas bangun dari tempat tidurnya sebelum Natsu yang membangunkannya. Wajar kalau Luna begitu merindukan Lucy. Ini sudah dua minggu semenjak kepergian mantan istrinya itu.

Natsu mengusap kepala Luna. Dia tersenyum pahit. "Sabar, ya, sayang. Nanti mama pasti akan segera pulang. Luna tunggu sebentar lagi, ya..." ucapnya.

Luna hanya mengangguk pelan. Kemudian gadis kecil itu merentangkan tangannya, membuat Natsu menatapnya dengan bingung.

"Mandiin." Ucap Luna.

Natsu segera tertawa pelan mendengarnya. Dia segera menggulung lengan kemejanya dan menarik putri kecilnya yang manja itu ke dalam gendongannya. Dan mereka tertawa riang bersama menuju kamar mandi.

XXX

Natsu dan Luna berjalan memasuki ruang makan. Baru saja Luna akan mendudukkan dirinya ke kursi, tiba-tiba saja seseorang menariknya dan merengkuhnya ke dalam pelukan yang mematikan.

"Selamat pagi, Luna sayang! Wah, kamu cantik sekali hari ini!" seru Sayla. Wanita itu mendaratkan bibirnya di kedua pipi Luna, membuat gadis kecil itu berjengit tidak suka.

"Lepaskan! Lepaskan!" Luna meronta-ronta, minta dilepaskan dari gendongan Sayla.

Dengan senang hati Sayla segera menurutinya. Dengan wajah merengut, Luna langsung duduk di kursinya—di samping Natsu.

"Ne, Papa. Mama pergi ke mana? Kenapa mama tidak menelpon kita?" tanya Luna sambil menyantap sarapannya.

Natsu berhenti mengoleskan selai strawberry ke rotinya dan menatap Luna dengan canggung. Baru saja dia akan menjawab, namun Sayla sudah mendahuluinya.

"Mama Luna tidak akan pernah kembali lagi. Dan Tante yang akan menggantikan posisinya sebagai Mama-nya Luna..." ujar Sayla dengan santai. Natsu membulatkan matanya. Pria itu segera mendelik ke arah Sayla, namun wanita itu menghiraukannya dan kembali melanjutkan ucapannya. "Luna tidak keberatan, 'kan? Ah, karena kita sudah sering bertemu selama dua minggu ini, Luna pasti sudah terbiasa dengan Tante. Jadi tidak masalah 'kan kalau Tante menjadi Mama-nya Luna?" Sayla tersenyum manis ke arah gadis kecil berambut pink di hadapannya.

Luna hanya diam. Tidak bereaksi. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka sedikit.

"Tidak... Tante tidak bisa jadi Mama-nya Luna. Mama Luna cuma Mama Lucy!" serunya, menampilkan ekspresi marah.

Sayla mendengus, menahan tawa sarkastisnya. "Tentu saja tante bisa. Sebentar lagi tante dan Papa Natsu akan menikah. Itu berarti tante akan menjadi mamanya Luna..." jelas Sayla.

"Tidak mau!" Luna melempar sendok yang ia pegang. Natsu terkejut melihatnya.

"Hentikan, Sayla! Omong kosong apa yang sudah kaukatakan pada putriku?!" seru Natsu, marah.

Sayla menghembuskan nafas dengan ekspresi bosan. "Berhentilah menyembunyikan kenyataan darinya. Akan lebih baik kalau dia mengetahuinya sekarang daripada saat hari pernikahan kita," ujarnya seraya meminum teh hangatnya.

"Kau—" geram Natsu. Pria itu segera menoleh ke arah Luna, bersiap menjelaskan kepada putrinya kalau yang Sayla katakan itu adalah bohong belaka. Namun dia segera terhenti ketika melihat tatapan putrinya.

Manik karamel yang berkaca-kaca. Genangan air mata terlihat jelas dari ujung matanya. Bibir Luna bergetar menahan tangis. "Luna benci papa! Papa gak sayang sama Mama lagi!" gadis kecil itu segera turun dari kursinya dan menyabet tasnya. Dia segera berlarian kencang menuju pintu masuk.

"Luna!" teriak Natsu. Dia segera bangkit untuk menyusul putrinya. Namun, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sayla yang masih santai-santai saja. Melihat itu, amarah Natsu bertambah naik.

"Oi..." panggil Natsu dengan suara berat.

Sayla mendongak menatapnya, dan dia tersentak mendapati Natsu tengah menatapnya dengan ekspresi yang menyeramkan. Kebencian dan kemarahan terlihat jelas dari sosot matanya yang menusuk manik hazelnya.

"Lebih baik kau jauh-jauh dari putriku atau pernikahan yang kau inginkan itu takkan pernah terjadi." Desis Natsu. Setelah mengatakan hal itu, pria itu segera berbalik dan berjalan cepat menyusul Luna.

Sementara Sayla membeku di tempat duduknya.

XXX

Natsu POV

Aku tiba di kantor satu jam lebih siang dari biasanya. Butuh waktu lama untuk menenangkan kemarahan putriku. Ditambah lagi, dia terus menangis dan menyebut-nyebut 'mama'. Hatiku benar-benar hancur mendengarnya menangis seperti itu. Apa yang sudah kulakukan?! Aku telah menyakiti dua orang yang paling berharga dalam hidupku! Seharusnya aku lebih berpikir panjang sebelum mengambil keputusan untuk bercerai... Dan sekarang sudah terlambat. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menunggu. Menunggu sampai 'saat' itu tiba. Kuharap 'orang' itu bisa membujuknya. Ini semua gara-gara wanita jalang itu. Dia telah mengacaukan rumah tanggaku. Menjebak perusahaanku... Aku akan membalasnya. Segera setelah aku mendapatkan kembali kekuasaanku!

Aku menghampiri meja asistenku. Kulihat dia tengah menatap serius layar komputernya dengan dahi berkerut dan keringat yang bercucuran. Aku menaikkan sebelah alisku melihatnya.

"Sherry," panggilku.

Dia tersentak dan segera mendongak menatapku. Wanita berambut pink terang itu memekik pelan dan segera berdiri dari duduknya. "Ah, maafkan saya, Pak Natsu! Saya sama sekali tidak sadar Anda sedang berdiri di hadapan saya!" dia meminta maaf seraya membungkukkan tubuhnya.

"Tidak apa-apa." Ucapku, pelan. "Memangnya, apa yang sedang kau lihat di sana?" tanyaku seraya menoleh ke arah komputernya.

"Ah, itu..." kulihat mata aquamarine-nya melirik layar komputer dengan cemas. Kemudian dia mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan perlahan.

Aku membelalak kaget mendengarnya. "Apa?!" aku menggebrak mejanya. Membuat para karyawan di sekitar kami menoleh ke arahku. "Bagaimana mungkin bisa begitu?! Tidak mungkin para klien memutuskan hubungan kerja sama dengan kita! Kemarin mereka sudah sepakat akan bekerja sama mewujudkan produk terbaru kita! Kenapa mereka tiba-tiba membatalkannya?! Periksa lagi! Aku tidak mempercayai semua itu!" teriakku, murka. Sial. Mood-ku sudah tidak bagus gara-gara kejadian tadi pagi, dan sekarang aku harus disuguhi satu masalah lagi?

Sherry hampir menangis mendengar bentakanku tadi. Dia segera meraih map di atas mejanya dan menyodorkannya padaku. "S-saya sudah memeriksanya dengan teliti berkali-kali, Pak. Tapi, memang benar. Perusahaan xxxx dan perusahaan xxx telah membatalkan hubungan kerja sama dengan perusahaan kita satu jam yang lalu." Jelas Sherry.

"Satu jam yang lalu? Kenapa aku bisa tidak tahu?"

"S-saya juga tidak mengerti, Pak. Mereka memutuskannya tiba-tiba secara sepihak." Jelas Sherry.

Aku mengusap wajahku dengan gusar. Menggertakkan gigi, aku segera melangkah cepat menuju ruanganku. Pasti wanita itu... Dia melakukannya lagi! Brengsek!

Aku sudah muak dengan semua yang dilakukannya! Harus berapa lama lagi aku mesti bertahan? Ini sudah diambang kesabaranku!

"Sialan kalian, Tartaros..." desisku.

Aku kembali teringat. Hal ini juga yang membuatku secara tidak langsung terikat dengan Sayla. Saat itu, perusahaan di tengah ambang kebangkrutan. Tidak ada investor yang mau menanamkan modalnya pada perusahaanku. Itu membuatku tidak habis pikir. Aku selalu menjaga hubungan kerja sama yang baik dengan para investor. Namun, kenapa hasilnya malah jadi seperti itu? Padahal saat itu kami benar-benar membutuhkan sokongan dana untuk meluncurkan produk terbaru kami. Tapi, tidak ada perusahaan yang mau membeli saham dari kami.

Dan di saat-saat sulit seperti itu, Sayla, sebagai seorang General Manager yang dikirim langsung oleh pemimpin Perusahaan terbesar di Fiore ini, mendatangiku dan menawarkan kontak kerja sama dengan perusahaannya. Hal itu tentu saja membuatku terkejut. Untuk apa perusahaan Tartaros mau bekerja sama dengan perusahaan yang nyaris bangkrut?

Tapi, aku tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Nasib karyawan perusahaanku ada di tanganku. Jadi, aku langsung menerima kontrak kerja sama dengannya. Dan setelah itu, perusahaan kembali stabil. Namun, tanpa kusadari, perlahan Tartaros mengambil alih perusahaanku. Membuatku bergantung pada bantuan mereka. Terutama GM mereka. Sayla mendadak merubah sikapnya padaku. Dia jadi sering menempel padaku dan sering mengunjungiku di perusahaan. Aku berusaha menjauhinya, namun yang terjadi setelahnya sama sekali tidak pernah aku duga. Mereka membatalkan kontrak kerja sama. Dan aku juga mengetahui kalau mereka juga mengancam perusahaan yang baik berada dalam naungan dan juga yang mendapat dukungan finansial dari mereka agar tidak menanamkan modal di perusahaanku.

Aku benar-benar marah saat orang kepercayaanku mengatakan kalau dia menemukan fakta bahwa sejak awal perusahaan Tartaros sudah menjebak perusahaan kami. Mereka sengaja melakukan hal yang sama, yaitu mengancam perusahaan-perusahaan lain yang berada di bawah naungannya agar tidak melakukan kerja sama dengan perusahaanku. Melihat betapa berpengaruhnya peran Tartaros di banyak perusahaan di Fiore ini, masuk akal kalau mereka bisa melakukan apa saja. Termasuk untuk menaklukkan perusahaan Dragneel sekalipun.

Aku benar-benar drop saat itu. Merasa tidak berguna sebagai seorang pemimpin perusahaan. Ditambah lagi, Ayahku—Igneel, saat mendengar bahwa perusahaan akan bangkrut, dia langsung jatuh sakit. Aku benar-benar merasa bersalah dan tidak berguna. Perusahaan itu adalah perusahaan yang sudah susah payah Ayah bangun. Dia membangunnya dengan jerih payahnya sendiri hingga menjadi perusahaan besar seperti ini. Dan, perusahaan itu akan segera berakhir begitu saja di bawah kepemimpinanku? Aku tidak mau hal itu terjadi!

Aku tidak mengetahui apa tujuan Tartaros melakukan hal seperti itu padaku. Hingga pada malam itu, seseorang menelponku untuk segera menemuinya di hotel, dengan tawaran kalau dia akan memberi bantuan. Aku bertanya siapa dia, tapi dia tidak mau menjawab. Asistenku mengatakan agar jangan menuruti permintaan orang misterius itu, karena bisa saja itu adalah jebakan. Tapi, aku mengabaikan kata-katanya. Saat itu aku begitu tertekan dengan beban yang begitu berat di punggungku, hingga tidak mampu untuk berpikir jernih. Akhirnya aku menemui orang itu. Dan betapa terjekutnya aku begitu mengetahui kalau orang itu adalah Sayla.

"Jadilah milikku kalau kau ingin perusahaanmu tetap berdiri kokoh"

Aku masih ingat dengan jelas apa yang dia katakan malam itu. Alasan kenapa perusahaan Tartaros menjebakku adalah karena wanita itu. Sayla adalah adik kesayangan dari President Director perusahaan Tartaros. Wanita itu jatuh cinta padaku, dan dia ingin membuatku jadi miliknya apapun caranya. Dan dia menyusun dengan sangat baik drama ini. Hingga aku tak mampu berkutik untuk melawannya. Dia bahkan sudah melakukan sesuatu pada Lucy. Dia sengaja membuat Lucy tidak bisa hamil. Dia punya seribu cara untuk melakukannya. Dia juga sudah melakukan sesuatu yang nekat pada Lucy. Aku ingat saat Lucy bercerita padaku kalau dia hampir tertabrak dan keracunan makanan. Aku benar-benar tidak habis pikir.

Aku bisa saja melaporkannya pada pihak berwajib, tapi aku sama sekali tidak memiliki bukti yang kuat. Apalagi dengan otak liciknya itu, dia pasti sudah menggunakan berbagai macam cara untuk menutupi semua kejahatannya itu.

"Kau tidak bisa menolak. Kau sudah menjadi milikku semenjak kau menandatangi kontrak perjanjian kerja sama itu. Kau tidak akan bisa lari ataupun menghindar... Karena jika kau melakukannya..."

"Perusahaan beserta wanitamu itu akan mati."

"Ah, kau sangat tahu kalau aku bisa melakukan apapun dan mendapatkan apapun yang kuinginkan."

Aku mengernyit mengingat semua itu. Semua masalah ini terjadi gara-gara kebodohanku! Seharusnya aku tidak pernah menerima bantuan dari mereka! Aku begitu mudahnya ditipu!

Aku membuka pintu ruanganku dengan kasar dan membantingnya. Seperti dugaanku, dia ada di sana. Duduk di kursi kerjaku dengan tenang.

"Apa maksud semua ini?! Kenapa kau melakukannya?!" teriakku.

Dia meletakkan bukunya di atas meja dan menatapku dengan senyuman miring. "Karena kau sudah membentakku tadi pagi?"

Aku mengepalkan tanganku. "Jangan bercanda! Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan! Aku menuruti segala yang kau inginkan! Kenapa kau masih mengacau?!" aku sudah tidak bisa menahan amarahku yang meluap-luap.

Dia tertawa kecil dan berdiri. Dengan langkah santai, dia menghampiriku. Menatapku dengan tatapan menantang.

"Di Magnolia, 'kan? di Mansion Zeref Dragneel?" tanyanya, pelan.

Aku membelalakan mataku. Bagaimana dia bisa...

"Kau..." Aku menatapnya dengan geram.

"Bukankah sudah kubilang. Aku bisa melakukan apapun yang kumau..." bisiknya, seraya menempelkan tubuhnya padaku. "Dan aku ingin kita segera menikah. Secapatnya, bulan ini..." bisiknya di telingaku.

Aku segera mendorong tubuhnya menjauh. Menatapnya dengan sorot kebencian dan amarah yang terpancar begitu jelas, aku menjawab ucapannya. "Lakukan apa yang kau suka. Tapi, pernikahan itu tidak akan terjadi bulan ini."

Dia terbelalak. "Kau... Apa kau tidak takut perusahaanmu hancur?!" dia menatapku tajam seraya menggertakkan gigi.

Aku mendengus melalui hidungku. Kutatap dia dengan dingin. "Bukankah sudah kubilang? Lakukan sesukamu. Tapi pernikahan itu tidak akan pernah terjadi." Aku segera berbalik dan meninggalkan ruangan. Sementara dia masih berdiri mematung di tempatnya.

Aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Wanita itu benar-benar membuatku muak! Aku tidak peduli mesti Loke harus membunuhku karena gegabah! Aku tidak bisa terus-terusan bertindak seperti orang yang tidak berdaya begini!

Natsu POV END

XXX

"Aku sudah mengetahuinya."

Zeref menatap Invel dengan terkejut. "Benarkah?"

Invel mengangguk. "Setelah melakukan penyelidikan secara diam-diam di perusahaan Dragneel, kami mendapatkan fakta bahwa perusahaan Dragneel telah ditekan oleh perusahaan Tartaros. Tartaros adalah perusahaan besar dan ternama di Fiore, dan perusahaan ini juga memiliki banyak cabang dan memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan perusahaan lain. Namun, tidak hanya itu. Ada banyak rumor yang beredar bahwa Tartaros selalu melakukan kecurangan dalam berbisnis. Misalnya memanfaatkan status mereka sebagai suplier yang paling berpengaruh di perusahaan yang menjadi mitranya, mereka membuat rekan kerja samanya menekan perusahaan yang lain. Wajar kalau mereka menurutinya. Hubungan suplier dan mitra lebih penting dari apapun. Dan menurut informasi yang kudapat, Tartaros membuat perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Dragneel di Hargeon, yang juga merupakan perusahaan-perusahaan yang mendapat dukungan finansial darinya, membatalkan hubungan kerja sama dengan perusahaan Dragneel. Hingga perusahaan Dragneel mengalami krisis keuangan saat mereka akan meluncurkan produk terbaru mereka. Menurut orang kepercayaanku, bahwa perusahaan Tartaros juga memperlakukan perusahaan Dragneel sebagai mainan karena mereka adalah penyokong dana terbesar bagi perusahaan Dragneel untuk meluncurkan produk terbaru mereka. Mereka bisa melakukan apa saja dengan perusahaan itu dengan alasan akan membatalkan kontrak kerja sama. Dan jika itu terjadi, maka perusahaan Dragneel akan mengalami kerugian besar dan dapat dipastikan akan bangkrut dengan seketika." Jelas Invel. Pria itu kemudian berjalan ke arah Zeref dan menyerahkan lembaran kertas hasil analisisnya.

Zeref menerima kertas-kertas itu dan membacanya. Dahinya berkerut sepanjang matanya menelusuri tulisan yang tertera di sana. Giginya menggertak. "Tartaros..." desisnya. "Ternyata benar mereka lah dalang di balik semua kekacauan ini." Kerutan di dahinya semakin mendalam. "Dan, bagaimana bisa Natsu dengan bodohnya menjual semua saham? Dia benar-benar telah dijebak..." pria itu meremas kertas-kertas di tangannya. Kemudian mata onixnya menatap Invel dengan tegas.

"Invel, aku punya satu tugas lagi untukmu."

XXX

Cklek.

Lucy segera menoleh ke arah pintu dan menemukan Brandish tengah berdiri di sana.

"Brandish..." gumam Lucy.

"Melamun di balkon lagi?" tanya Brandish seraya berjalan menghampiri Lucy.

Lucy tersenyum simpul dan mengangguk. "Aku merindukan putriku." Ucapnya.

Brandish menatap Lucy dengan raut bersalah. "Maafkan aku. Aku masih belum bisa..."

Lucy segera menggeleng. "Aku tahu kau sudah bekerja keras mengurus surat peralihan hak asuh Luna. Karena itu aku tidak akan mengeluh. Aku yakin kau pasti bisa. Aku hanya perlu menunggu lebih lama kagi, 'kan?" dia tersenyum kecil ke arah Brandish.

Brandish tetap menatap Lucy dengan tatapan bersalah, kemudian tersenyum kecil. "Dua minggu mengenalmu membuatku tersadar, kalau kau benar-benar mirip dengan'nya'." Ucapnya seraya menatap langit malam di atasnya.

Lucy mengerutkan sebelah alisnya. "Nya?"

Brandish melirik Lucy dengan sedikit terkejut. "Apa Zeref tidak menceritakannya padamu?" tanya wanita bersurai hijau itu.

"Cerita apa?" tanya Lucy, bingung.

"Mantan pacarnya. Mavis Vermillion." Jawab Brandish.

Lucy langsung membelalakan matanya. "EH?! KAK ZEREF PERNAH PUNYA PACAR?!" jeritnya tak percaya.

Brandish menatap Lucy dengan jengkel. "Kau kira selama 30 tahu hidupnya dia tak pernah memiliki pacar begitu? kejam sekali..." ujar Brandish.

"Eh? Ta-tapi... Kak Zeref selalu bilang kalau dia tidak nyaman bersama dengan wanita. Dia juga tidak bisa akrab dengan mereka... Lalu, bagaimana mungkin dia..." Lucy tak mampu berkata-kata.

Brandish menghela nafas. "Apa kau bodoh? Tentu saja itu adalah alasan yang sengaja dia buat-buat. Dia masih belum bisa melupakan mantan pacarnya, karena itu dia tidak bisa dekat-dekat dengan wanita lain."

"Memangnya apa yang terjadi dengan mantan pacarnya?" tanya Lucy, penasaran.

Brandish terdiam. Tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya hingga matanya tertutup oleh bayangan poninya.

"Brandish?" panggil Lucy.

"Hhh..." Brandish menghembuskan nafas. Wanita itu mendongak, menatap langit luas di atasnya dengan tatapan sedih.

"Dia sudah meninggal. Akibat kecelakaan pesawat."

XXX

Zeref tengah menatap langit luas dari jendela di sampingnya. Karena suasana malam yang begitu sunyi, dia bisa mendengar deru mesin pesawat yang tengah ia naiki. Awan-awan putih di bawahnya beserta bintang-bintang yang berkelap-kelip di sekelilingnya, membuat pikiran Zeref menjadi kosong. Seorang gadis kecil berambut pirang bermata emerald melintas di benaknya. Zeref mengulurkan tangannya, menyentuh kaca jendela pesawat. Alisnya saling bertaut. Matanya menatap nanar ke luar jendela. Hatinya terasa hancur. Tidak... Dia tidak ingin merasakan perasaan ini lagi...

Bersambung...

.

.

AN: Gimana dengan misteri yang terungkap di atas? Saya gak terlalu bisa sih ngejelasin keadaan yang sesungguhnya melalui story. Jadi gak tau itu misteri yang terungkap bisa ditangkap akal sehat reader atau gak. Haha... Intinya, semua bencana ini terjadi gara-gara kebodohan dan kecerobohan Natsu. Dia terlalu fokus sama produk yang harus segera diluncurkan dan juga krisis keungan perusahaan hingga dia tanpa pikir panjang langsung menerima tawaran di cewek sialan bernama Sayla dan menjual semua saham perusahaannya. Dan sejak awal, krisis keungan yang terjadi pada perusahaan Dragneel itu disebabkan oleh perusahaan Tartaros. Mereka mengancam perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Natsu (karena perusahaan itu mendapatkan dukungan finansial dari Tartaros dan tanpa Tartaros mereka juga tidak bisa apa-apa) untuk membatalkan kontrak kerja sama dan menarik kembali modal yang mereka tanamkan. Nah, karena Natsu udah masuk jebakan, dia gak bisa keluar gitu aja. Ditambah lagi, Sayla itu jenius. Dia bisa melakukan apa aja asal Natsu bisa jadi miliknya.

Intinya, kalau masih ada yang belum ngerti, silahkan tanya. Sebisa mungkin saya jawab ya... dan jangan pake kata2 gak sopan ya. Pakai kata-kata yang lembut agar saya gak pake emosi pas jawabnya—#oi

Dan yang berhasil jawab teka-tekinya Cuma beberapa orang, haha. Meskipun kurang tepat tapi tetep ngena kok! Haha!

Salam manis,

Minako-chan Namikaze