Suara derap langkah terdengar memenuhi koridor yang remang-remang. Beberapa pelayan mondar-mandir ke sana kemari sambil mengecek pintu-pintu kamar yang ada di mansion itu.
"Kau menemukannya?" seorang pelayan tua bertanya pada seorang pelayan muda yang baru saja keluar memeriksa kamar terakhir.
Pelayan muda itu menggeleng. "Tidak. Nona Lucy tidak bisa ditemukan di mana pun."
Nana, sang ketua pelayan menepuk dahinya. Raut wajahnya begitu cemas. "Bagaimana ini? Tuan Zeref akan marah pada kita semua jika mengetahui Nona Lucy hilang tanpa jejak seperti ini..."
"Apa yang terjadi, Nana obaa-san? Kulihat para pelayan mondar-mandir terus dari tadi," seorang pria dengan muka sengak dan rambut berantakan yang mencuat ke atas menghampiri sang ketua pelayan.
Nana menoleh. "Ah, Ajeel-kun. Apa kau melihat Nona Lucy?" tanyanya, cepat.
Ajeel mengangkat sebelah alisnya. "Tidak. Bagaimana mungkin aku melihatnya? Aku baru saja sampai kemari. Tuan Zeref menyuruhku mengambil sebuah berkas di ruangannya," jawabnya.
Nana semakin frustasi mendengarnya. "Bagaimana ini?! Nona Lucy menghilang! Kami tidak bisa menemukannya di mana pun! Tuan Zeref pasti akan marah besar!"
"Memangnya obaa-san ke mana saja sampai dia bisa menghilang? Apa obaa-san tidak menjaganya?" tanya Ajeel.
"Tadi Nona Lucy minta dibawakan biskuit dan juga teh. Jadi aku mengambilkannya di dapur. Ketika aku kembali ke kamarnya, dia sudah tidak ada. Aku mengira dia pergi ke toilet, jadi aku menunggunya. Tapi dia tidak kunjung kembali. Aku jadi khawatir dan mencarinya ke mana-mana. Aku sampai meminta bantuan semua pelayan untuk mengecek seluruh ruangan di mansion ini. Tapi tetap saja kami tidak menemukannya..." jelas Nana.
"Mungkin dia pergi keluar? Apa kalian sudah mengecek ke taman dan kolam?" tanya Ajeel kepada pelayan yang berdiri di belakang Nana. Pelayan itu kembali menggeleng.
"Kami sudah mengecek ke seluruh penjuru mansion ini. Baik luar maupun dalam."
"Ah, sial. Dia pasti sudah diculik!" cetus Ajeel.
Nana melebarkan matanya. "Tidak! Ini semua salahku Nona Lucy jadi diculik!" pelayan tua itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak.
"Jangan menangis, obaa-san! Ayo kita telepon polisi terlebih dahulu supaya—" ucapan Ajeel terhenti. Sebuah suara feminim menginterupsi ucapannya. Semua orang yang berada di sana membeku, tercengang.
"Nana-san! Bantu aku mengangkat orang ini! Cepatlah! Berat sekali, aku tidak tahan!" Lucy membuka pintu masuk, berjalan terseok memasuki ruangan sambil memapah sebuah tubuh seorang pria.
"Nona Lucy!" Nana menjerit nyaring. Wanita tua itu segera berlari menghampiri Lucy, diikuti oleh Ajeel dan beberapa pelayan lainnya. "Oh, syukurlah, Tuhan! Nona Lucy masih hidup!"
"Nona Lucy, Anda tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Anda ke mana saja? Kami semua mencari Anda!" seorang pelayan bertanya dengan cemas.
"M-Maaf telah membuat kalian semua cemas. Akan kujelaskan nanti, yang penting tolong bantu aku mengangkat pria ini ke kamarku!" Lucy berkata dengan muka memerah, sudah tidak sanggup menanggung berat pria yang dibawanya.
Ajeel segera mengambil alih tubuh pria yang membebani Nona Lucy-nya, dan segera memapahnya menaiki tangga menuju kamar sang Nona. Sementara Nana si pelayan segera membawa Lucy menuju ruang perawatan, demi memastikan bahwa Nona Lucy baik-baik saja tanpa terluka atau lecet sedikit pun.
"Nona seharusnya bilang pada saya jika ingin keluar! Saya jadi begitu panik hingga saya rasa saya bisa mati saat itu juga!" Nana menggerutu, membuat Lucy meringis—merasa bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf, Nana-san. Tadi aku benar-benar tidak mampu memikirkan hal lain selain keluar untuk membantu orang itu." jawab Lucy, wanita itu melangkahkan kakinya menaiki tangga yang menjulang. Nana mengikutinya dari belakang.
"Memangnya siapa pria itu kalau saya boleh tahu, Nona?"
Lucy diam sesaat. Sebuah senyum kecil tertarik di bibirnya. "Pria yang dulu kucintai."
Disclaimer:
Fairy Tail by Hiro Mashima
Broken Vow
By
Minako-chan Namikaze
Genre: Drama, Romance, hurt, etc.
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.
Ini sekuel dari fic You're Not Her Father
.
Enjoy!
.
.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Lucy begitu dia memasuki kamarnya. Nana menutup pintu di belakangnya dan berjalan mengikuti Lucy menghampiri pria pink yang tengah terbaring lemah.
"Suhu tubuhnya 42 derajat. Dia demam tinggi. Kami sudah memberinya kompres dan obat penurun panas." Jawab pelayan yang memeriksa keadaan pria itu.
Lucy mengangguk. "Tolong hidupkan penghangat ruangan. Kemudian tinggalkan aku berdua dengannya di sini." perintah Lucy.
Para pelayan segera menuruti permintaan Nona mereka dan segera keluar dari kamar. Nana lebih memilih menunggu di depan kamar demi berjaga-jaga kalau Lucy tiba-tiba membutuhkan pertolongannya.
Lucy mendudukkan diri di tepi tempat tidur. Kedua tangannya bertumpu di atas seprai. Manik karamelnya melirik miris pada sosok pria yang terbaring lemah di hadapannya. Lucy meraih tisu di atas nakas dan mengelap keringat yang bermunculan di kening sang pria.
Natsu Dragneel tiba-tiba mengerang. Alisnya saling bertaut. Kelopak matanya perlahan terbuka. Erangan pelan meluncur dengan halus dari kedua belah bibirnya.
Lucy memandangnya dengan khawatir. "Natsu," panggilnya.
Natsu segera melebarkan kelopak matanya begitu mendengar suara yang selalu terngiang di mimpinya. Pria itu langsung mencelat kaget. "Uwaah!" mundur ke belakang, dia menatap Lucy seolah wanita itu adalah Sadako yang tiba-tiba muncul untuk mencabut nyawanya. "Lu-Lucy?!" jeritnya tertahan.
"Tenanglah." Lucy menjulurkan tangannya, mengisyaratkan pria di hadapannya untuk tidak turun dari tempat tidur. "Kau ada di Mansion Kak Zeref," ucap Lucy, menjelaskan kebingungan yang terlukis jelas di wajah mantan suaminya.
Natsu menatap Lucy dengan terkejut. "Kenapa aku bisa berada di sini?"
"Aku melihatmu pingsan di luar. Apalagi udara di luar sangat dingin, jadi aku membawamu ke sini. Dan," Lucy menghentikan kalimatnya sejenak. Memejamkan mata selama beberapa detik seraya mengambil nafas. Kemudian wanita itu membuka kelopak matanya sekaligus maju ke depan mendekati Natsu dengan serentak. "Apa yang kaulakukan selama aku tidak ada? Kenapa kau bisa demam tinggi seperti ini? Lihat wajahmu! Begitu pucat dan lusuh. Tubuhmu mengurus secara drastis! Bagaimana kau bisa menghidupi putriku sementara kau sendiri tidak bisa mengurus dirimu sendiri dengan benar?!"
Natsu terperangah mendengar serentetan omelan Lucy. Ketegangan di hatinya segera sirna. Lucy ... bersikap seperti biasa padanya. Wanita itu tidak bicara dingin seperti apa yang dia bayangkan. Lucy masih hangat seperti dulu. Matanya tidak memancarkan kebencian lagi. Apakah ... Lucy tidak merasakan sakit sepertinya setelah perceraian? Apakah Lucy menjalani hari-harinya seperti biasa tanpa memikirkannya? Apakah Lucy sudah tidak mencintainya lagi?
Memikirkan hal itu, tanpa sadar Natsu menggigit bibir bawahnya. Berdecak pelan. Tidak, Lucy pasti masih mencintainya. Tidak mungkin perasaan cinta yang sudah ada selama bertahun-tahun langsung sirna hanya dalam waktu beberapa minggu. Itu mustahil!
"Natsu! Kau mendengarku?"
Natsu langsung tersentak, seluruh pikiran negatifnya segera buyar. Pria itu menatap Lucy yang tengah memelototinya dengan kikuk. "Y-Ya, Lucy?" tersenyum gugup. Bodoh, untuk apa dia tersenyum?!
"Kapan terakhir kali kau makan?" tanya Lucy. Kali ini nada bicaranya melembut. Manik karamelnya yang tadi melotot kini berkilat khawatir.
Natsu terpana mendapati hal itu. Dia tidak banyak berharap kalau Lucy masih mencintainya atau tidak. Yang jelas, wanita itu masih peduli padanya. Seharusnya dia bersyukur Lucy tidak melemparinya dengan pisau atau benda-benda lain yang dapat menghilangkan nyawanya saat ini.
"Kemarin pagi," jawab Natsu.
"Apa yang kau makan?"
"Selembar roti dengan selai kacang?" Natsu menengadah, berusaha mengingat makanan terakhir yang ia makan.
Kelopak mata wanita itu kembali melebar, bibirnya menggumamkan sesuatu. "S-Selembar ... Selembar roti katamu?" desisnya. Wanita itu sontak mencondongkan tubuhnya ke depan, nyaris bersentuhan dengan dada bidang Natsu. Pria itu sendiri tidak berdaya untuk mundur beberapa jengkal karena dia sudah kehabisan jarak di belakangnya—punggungnya sudah menempel di sandaran tempat tidur. "Lalu bagaimana dengan putriku? Kau beri makan apa dia? Apa keadaannya sekarang juga sama sepertimu?!" lanjut Lucy, menatap onyx Natsu dengan tajam.
"Jangan khawatir. Luna makan dengan teratur. Aku sangat menjaga kondisi tubuhnya," Natsu tersenyum lemah. Matanya menatap teduh ke mata Lucy, mengisyaratkan kepada wanita itu untuk percaya padanya.
Tatapan tajam Lucy segera sirna ketika berhadapan dengan tatapan teduh Natsu. wanita itu kini memandang Natsu dengan iba. Lucy bangkit berdiri, membuat Natsu reflek mendongak demi bisa menatap wajah cantik itu kembali.
"Tunggulah di sini. Aku akan membuatkanmu makanan. Kau harus makan sesuatu untuk memulihkan tenagamu lagi," Ucapnya. Wanita itu segera melangkah keluar, meninggalkan Natsu yang hanya bisa menatap punggungnya dengan tatapan tidak rela.
XXX
"Terimakasih, Nana-san. Tapi, sungguh. Aku benar-benar ingin memasak ini sendiri." Lucy menoleh ke belakang, memasang senyum yang mengisyaratkan kalau dia akan baik-baik saja.
Nana, sang ketua pelayan menghela nafas. "Baiklah jika Nona bersikeras. Kalau begitu saya permisi ingin mengecek pekerjaan pelayan lain," Nana membungkuk kemudian berjalan keluar dari dapur.
Sementara itu, Lucy kembali menekuni pekerjaannya. Mengupas beberapa kentang dan memasak kaldu ayam untuk bubur kesukaan Natsu. Dia tahu, saat sedang sakit, Natsu hanya bisa dipaksa makan dengan makanan itu saja. Karena selain rasanya yang enak, bubur itu juga mampu menghangatkan tubuhnya dan langsung membuatnya kenyang. Setelah selesai mengupas, Lucy memotong kentang-kentang itu menjadi empat bagian dan memasukannya ke dalam panci yang sudah diisi dengan kaldu ayam. Mengaduk-aduknya sebentar, Lucy beralih mengambil salah satu mangkuk. Meraih piring yang di atasnya sudah tersedia potongan ayam goreng. Tinggal mensuir daging ayamnya. Ah, atau mungkin akan lebih baik diblender agar teksturnya jauh lebih halus—
Lucy menjerit tertahan saat merasakan sebuah tangan besar yang melingkari perutnya. Lucy baru akan menoleh saat nafas hangat tiba-tiba menerpa daun telinganya. Dada bidang yang hangat menempel erat di punggung mungilnya. Dagu yang panas menyentuh pundaknya. Merasakan suhu panas yang menyerangnya saat ini, tanpa menoleh pun Lucy sudah tahu siapa pelakunya. Dan lagi, hanya pria itu saja yang selalu dengan berani memeluknya saat dia sedang berkutat di hadapan kompor.
"Natsu, lepaskan. Kau menggangguku..." ujar Lucy. Menghentikan gerakan tangannya yang mencubiti daging ayam.
Terpaan nafas hangat kembali menyapa pipi Lucy. Kali ini, si pria pink menempelkan pipi panasnya di pipi pucat Lucy. "Lucy ..." gumam Natsu. Matanya terpejam. Pelukannya semakin mengerat, membuat Lucy merinding dengan suhu panas yang semakin menjadi.
"Natsu, kita sudah bukan suami istri lagi, kau ingat?" Lucy berkata pelan, pipinya merona. Entah akibat panas yang disalurkan Natsu atau karena dia merasa malu karena diam-diam menikmati pelukan mantan suaminya itu.
"Sebentar saja, Luce. Aku benar-benar merindukanmu ..." bisik Natsu. Suaranya dalam dan serak—parau. Membuka matanya, melirik manik karamel di dekatnya yang kini tengah menatap piring di bawahnya dengan tatapan gundah. "Boleh? Sebentar saja ..." baru kali ini Natsu Dragneel memohon dengan nada yang begitu parau dan pilu.
Mendengar nada memohon itu, Lucy tidak mampu menahan diri untuk tidak menghela nafas. "Bo—" namun belum sempat dia menyelesaikan jawabannya, tubuh yang tadi memeluknya langsung terlepas. Menjauh dari punggungnya, ambruk dengan bunyi yang cukup keras di lantai.
Kelopak mata Lucy langsung melebar dengan sempurna. Wanita itu panik. "NATSU!"
XXX
Natsu membuka matanya dengan perlahan. Cahaya menyilaukan dari sinar bulan yang masuk melalui balkon yang terbuka lebar membuat Natsu mengernyit sesaat. Pria itu mendudukkan tubuhnya, mendapati dirinya berada di tempat tidur yang sama saat dia terbangun sebelumnya. Nastu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, mencari keberadaan seseorang. Tidak mampu menemukan orang itu di manapun, kini mata Natsu berhenti pada satu benda di atas nakas. Sebuah hot pot. Benar juga, Lucy bilang kalau dia ingin membuatkan Natsu makanan.
Natsu segera menggeser duduknya yang berada di tengah-tengah ke pinggir tempat tidur. Membuka tutup hot pot dan mendesah kecewa. Buburnya sudah dingin. Reflek, pria itu menoleh ke arah jam dinding.
Sudah jam satu malam. Pantas saja buburnya mendingin, batin Natsu. Namun, pria itu tetap memakan buburnya. Karena itu adalah makanan buatan Lucy, dibuatkan khusus untuknya. Di samping hot pot ada obat penurun panas dan juga segelas air putih dan susu yang ditutup rapat. Natsu tersenyum simpul kemudian menghabiskan buburnya. Menelan pil penurun panas dan menghabiskan susunya. Setelah selesai dengan makan malamnya, Natsu segera beranjak keluar kamar. Mencari keberadaan Lucy. Lampu-lampu di koridor dimatikan. Hanya cahaya bulan dari jendela tanpa tirai yang menerangi lorong gelap itu. Natsu pernah ke mansion itu beberapa kali, dan dia masih tidak terbiasa dengan keadaan di dalam mansion itu. Mansion itu tampak menyeramkan, seperti tempat tinggal Sang Penghisap Darah. Terlalu menegangkan berjalan sendirian di sepanjang lorong yang sunyi. Dulu, saat Natsu kecil menginap di mansion itu, dia selalu membangunkan—atau lebih tepatnya memaksa Zeref untuk menemaninya ke toilet atau ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan dan air putih jika dia tidak bisa tidur karena habis menonton film hantu. Dan Zeref selalu menakut-nakutinya dengan mengunci pintu toilet dan mematikan lampunya atau tiba-tiba menghilang saat Natsu tengah memeriksa kulkas dan muncul tiba-tiba dari suatu tempat yang tak terduga untuk mengejutkan Natsu.
Tapi sekarang berbeda. Natsu sudah tidak takut lagi akan kesunyian di mansion itu. Dia bukan lagi Natsu kecil yang selalu bergantung pada Zeref, kakaknya yang jahil.
Natsu menuruni tangga yang menjulang dan melingkar ke bawah. Tangga itu membawanya ke ruang tengah. Semua lampu di matikan, hanya cahaya dari TV yang menerangi ruangan dengan cahayanya yang remang-remang. Dan di situlah dia menemukannya. Wanita pirang yang kini tengah terbaring meringkuk di atas sofa berwarna biru. Matanya terpejam. Kepalanya ditaruh di lengan sofa. Di atas meja di hadapannya, terdapat banyak toples dan bungkusan snack yang isinya telah raib menghilang. Dan Natsu yakin Lucy menghabiskan semuanya seorang diri.
Berhenti beberapa jengkal dari sofa, menghadap tepat ke arah Lucy yang tertidur pulas, Natsu Dragneel menghela nafas pelan. Mengusap rambut pink bagian belakangnya dengan kikuk. Kemudian kembali menatap sosok yang tengah terbaring nyaman di hadapannya. Natsu berjongkok, mensejajarkan wajahnya pada wajah Lucy. Memperhatikannya lama. Menikmati setiap hembusan nafas yang keluar dari bibir merah sang mantan istri.
Natsu menarik senyum lembut. "Kau selalu cantik seperti biasa, Luce..." batinnya. Tangannya mulai terulur, hendak menyentuh helaian pirang yang menutupi kelopak mata yang tertutup rapat. Namun, saat jari Natsu nyaris menyentuhnya, sebuah suara mengagetkannya.
"Natsu? Apa yang kaulakukan di sini?"
Natsu tersentak. Tangannya yang terulur berhenti di udara. Jari-jari yang terbuka segera mengepal. Menarik kembali tangannya dan menyembunyikannya ke dalam saku. Natsu menegakkan kakinya, berdiri memutar menghadap Zeref. Tatapannya berubah dingin dan tajam. "Bukan urusanmu," jawabnya, ketus.
Zeref menaikkan sebelah alisnya. Tatapannya beralih ke arah belakang tubuh Natsu. Sepasang kaki mulus terjulur di atas sofa, dan Zeref tahu pasti siapa pemilik kaki itu.
"Jangan ganggu Lucy lagi. Sudah cukup kau mengacaukan hidupnya," ujarnya, dingin.
Tatapan Natsu semakin tajam. Mendengus melalui hidungnya. "Semuanya akan segera berakhir. Dan aku akan membawa Lucy kembali pada kami. Dia akan berada di antara aku dan Luna lagi," ucapnya dengan lancar dan sorot yakin.
Zeref mengulum senyum. Namun Natsu yakin kakaknya itu sebenarnya tengah melempar senyuman mengejek di balik senyum malaikatnya itu. "Piring yang sudah kau pecahkan, tidak akan bisa kembali lagi seperti semula sekeras apapun kau berusaha menyatukan pecahan-pecahannya. Begitu juga dengan rumah tanggamu. Sekeras apapun kau berusaha memperbaikinya kembali, nyatanya hati yang sudah hancur berkeping-keping takkan bisa kembali utuh lagi." tutur Zeref. Natsu menautkan kedua alisnya, membuat keningnya berkerut. Dia tidak suka dengan perumpamaan Zeref. "Lucy sudah berhenti mencintaimu. Seharusnya kau sudah sadar akan hal itu,"
Kelopak mata Natsu sempat melebar. Rahangnya tiba-tiba mengeras. Tangan yang tersembunyi di dalam saku semakin mengepal keras. Natsu menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak mengeluarkan umpatan. Dia sadar akan hal itu. Dia tahu benar perasaan Lucy padanya mulai memudar. Wanita itu bisa saja melupakannya dengan mudah karena ada laki-laki pengertian seperti Zeref di sisinya. Dia tahu betul tatapan Lucy padanya bukan lagi menyiratkan perasaan sayang, melainkan rasa iba, kasihan, dan juga curiga. Yah, dia sadar akan semua itu. Tapi jangan harap dia akan berhenti mengejar Lucy kembali hanya gara-gara wanita itu sudah mulai melupakannya. Dia tetap yakin dengan komitmennya. Rasa cinta yang telah ada selama bertahun-tahun tidak mungkin bisa langsung sirna hanya dalam waktu beberapa minggu. Dia yakin, paling tidak dia masih meyakini kalau di suatu sudut terkecil di hati Lucy, masih tersimpan rasa cinta terhadapnya. Dan Natsu tidak akan menyerah semudah itu. Dia sama sekali tidak memiliki niat untuk melepaskan Lucy, apalagi membiarkannya dimiliki siapapun. Hanya dia yang boleh memiliki Lucy. Bukan Zeref ataupun pria-pria lainnya.
Natsu kembali mendengus. Senyuman miring muncul di wajah lusuhnya. "Aku akan mendapatkannya kembali. Kau hanya punya waktu selama beberapa minggu lagi untuk menghabiskan waktu bersamanya sebelum aku menjemputnya kembali ke rumah kami," tukasnya. Pria itu mengakhiri percakapan dengan berjalan santai tanpa beban melewati Zeref. Ekspresi keduanya tetap tidak berubah. Kaku dan dingin.
Setelah mendengar suara pintu yang ditutup, Zeref menghela nafas tanpa dia sadari. Bahu yang sejak tadi menegang, kini turun melemas. Manik kelamnya kembali melirik ke arah sofa. Di mana objek yang menjadi bahan pembicaraan serius tadi tertidur dengan pulas tanpa sedikitpun merasa terganggu akan suara berisik yang dihasilkan dua kakak beradik itu. Melangkah kaki mendekati Lucy, Zeref memandang Lucy dengan sedih.
"Dasar, kamu bisa sakit kalau tidur di luar seperti ini," gumam Zeref, senyuman pahit terlukis di wajah lelahnya. Pria itu segera mengangkat tubuh Lucy dengan perlahan, berusaha untuk tidak membangunkan wanita pirang itu. Menaiki tangga yang menjulang dan membaringkan Lucy di tempat tidur wanita itu. Zeref menarik selimut biru muda untuk menutupi tubuh Lucy hingga ke dagu. Tanpa sengaja, matanya menangkap satu objek yang tergeletak di samping bantal Lucy. Sebuah mantel berwarna cokelat. Mantel milik siapa itu? Tidak mungkin Lucy memakai mantel di dalam mansion karena dia cukup yakin sistem penghangat di mansion itu bekerja dengan baik untuk menangkal udara dingin di luar. Lalu, apakah itu mantel Natsu? Benar juga. Tadi Natsu pergi dari mansionnya tanpa mengenakan mantel, hanya kemeja putih tipis yang acak-acakan. Sepertinya adiknya itu baru bangun tidur.
Tunggu. Itu berarti Natsu tertidur di tempat tidur yang sama di mana Lucy berbaring saat ini. Saat pemikiran itu tiba, Lucy tiba-tiba menggeliat. Merapatkan selimutnya dan membenamkan wajahnya di bantal. Terlihat benar-benar merasa nyaman berbaring di tempat bekas Natsu tertidur sebelumnya.
Zeref menggigit bibir bawah, menatap Lucy dengan tatapan terluka.
XXX
Keesokan paginya, Lucy tampak sibuk mondar-mandir menghampiri pelayan yang dia temui di sepanjang koridor. Menanyai perihal yang sama tentang ke mana perginya Natsu? Apa kondisinya baik-baik saja saat pria itu pergi? Apa pria itu meninggalkan sesuatu seperti pesan untuknya?
Zeref yang baru keluar dari kamarnya—bersiap ke kantor—langsung menaikkan sebelah alisnya melihat Lucy yang kelihatannya begitu sibuk dengan para pelayan.
"Ada apa?" Zeref menghampiri Lucy. Para pelayan segera berbarik memanjang ke samping dan menunduk hormat.
Lucy menoleh, sorot matanya tampak cemas. "Kak, apa kakak melihat Natsu? Dia di mansion ini semalam,"
Lagi-lagi, hatinya terasa diremas. Zeref memaksakan senyumannya. "Dia sudah pulang semalam. Dia sengaja tidak ingin membangunkanmu," jawab Zeref.
"Begitu. Lalu, bagaimana dengan keadaannya saat keluar dari mansion? Dia demam tinggi dan dia pulang tanpa memakai mantel..." ujar Lucy.
"Kakak sangat yakin dia sudah sembuh. Dia tampak sehat-sehat saja bahkan tidak terlihat kalau dia sedang demam. Tenanglah, tidak usah terlalu cemas padanya," Zeref menenangkan.
Mendengar itu, Lucy menghela nafas lega. Lagi-lagi hati Zeref seperti dihantam sesuatu. Lucy masih terlalu peduli pada Natsu. Dan kepedulian itu melukainya.
Zeref memberi isyarat kepada pelayannya untuk pergi. Mereka segera menuruti perintah Tuan Besar dan segera beranjak dari situ.
"Lucy, apa kamu masih mencintai Natsu?" tanya Zeref begitu matanya tidak lagi menangkap punggung para pelayannya.
Lucy tersentak, matanya melebar. Tidak menduga kalau Zeref akan menanyakan hal itu. Apa dia masih mencintai Natsu?
"Apa kamu memiliki keinginan untuk kembali padanya lagi?" Zeref menambahkan pertanyaannya.
Sama sekali tidak ada jawaban. Lucy bungkam. Wanita itu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan itu begitu mendadak. Dia ingin mengeluarkan kata 'tidak', tapi entah kenapa dia ragu akan jawaban itu. Raut wajah Zeref tampak begitu serius menanyakan pertanyaan itu. Tentunya dia juga harus menjawab pertanyaan itu dengan serius. Tapi jawaban apa yang harus dia berikan? Dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya pada Natsu saat ini. Memang benar beberapa hari yang lalu dia masih membenci Natsu, bahkan mungkin sekarang pun rasa bencinya itu tidak goyah sedikit pun. Pria itu berselingkuh di belakangnya, membohonginya, menceraikannya, mengambil Luna darinya. Tidak ada alasan bagi Lucy untuk tetap mencintai pria brengsek itu. Namun, tetap saja dia tidak bisa memberikan jawaban 'tidak' pada Zeref. Ada sesuatu yang seperti mengganjal di lidahnya hingga dia tidak bisa mengeluarkan kata itu.
Menyadari kalau dia tidak akan mendapatkan jawaban yang berarti, Zeref menarik nafasnya. Menghirup oksigen di sekitarnya. Mata kelamnya menatap karamel Lucy, memaksa manik cokelat madu itu untuk balik menatapnya.
Lucy merasa ditenggelamkan di dalam warna kelam dari onyx pria di hadapannya. Dia hanya bisa berkedip beberapa kali, menunggu Zeref untuk mengatakan sesuatu. Dan dia sama sekali tidak menyangka kalau sesuatu itu sama sekali tidak terduga.
"Hey, bagaimana kalau mulai sekarang kamu mencoba untuk mencintai pria lain?"
Kelopak mata Lucy melebar. Bibirnya yang terkatup terbuka perlahan.
"Misalnya, kamu bisa mulai mencintai kakak dan melupakan Natsu ..."
.
Bersambung...
.
.
AN: Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan!
Kayaknya ada yang bingung soal Igneel dan Grandine yang udah bercerai ya? Bagi yang baca You're Not Her Father, di chapter satu saya ada nulis di deskripsi saat Lucy menggotong Natsu ke taxi dan dia gak tau mesti bawa Natsu ke mana. Karena saat itu dia gak tau di mana alamat rumah Natsu yang sekarang, ayah dan ibu Natsu sudah bercerai dan Igneel juga sudah pindah ke daerah lain. Jadi Natsu dibawa ke hotel. Dan di sanalah plot cerita dimulai. Well, sebenarnya saya kepengen balas semua review, tapi apa daya. Waktu tidak memungkinkan, apalagi sebentar lagi mau lebaran.
Btw, ada yang Fujoshi di sini? Saya ada bikin fic GrayNat dengan plot cerita yang lumayan panjang. Bagi yang penasaran dan benar-benar fujoshi silahkan dibaca. Dan bagi yang gak, tolong jangan dibaca karena saya gak mau ada review yang berisi sesuatu yang menyakiti hati saya karena saya menulis cerita itu dengan sepenuh hati, apalagi saya udah kasih peringatan. Jadi, tolong pengertiannya ya... kalau kritik saran yang membangun, saya bakal terima dengan senang hati... ^^
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
