Disclaimer:
Fairy Tail by Hiro Mashima
Broken Vow
By
Minako-chan Namikaze
Genre: Drama, Romance, hurt, etc.
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di AN ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca.
Ini sekuel dari fic You're Not Her Father
.
Enjoy!
.
.
"Kau tidak pulang semalam. Ke mana saja kau?"
Natsu berdiri di ambang pintu kamarnya. Matanya menatap dingin Sayla yang tengah duduk di sofa dengan sebuah buku hard cover di tangannya.
"Ke mana pun aku semalam sama sekali bukan urusanmu," ketusnya, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Mengaduk-aduk isinya demi menemukan sebuah kaos oblong yang langsung ia kenakan. Kemeja putih lusuh ia lempar ke sembarang arah.
Sayla mendelik, tidak terima dengan jawaban Natsu. "Tentu saja itu urusanku. Kau adalah calon suamiku."
Natsu tersenyum, tatapannya menghina. "Kau pikir aku sungguh-sungguh akan menikahimu?"
"Tentu. Karena masa depan perusahaanmu ada di tanganku." Sayla menjawab yakin.
"Lakukan sesukamu terhadap perusahaan itu. Aku sudah tidak peduli."
"Apa? Kau bilang apa?" Sayla tidak mempercayai pendengarannya.
"Kupikir aku sudah cukup keras mengatakannya."
"Kau sudah tidak peduli lagi pada perusahaanmu? Pemimpin macam apa kau? Hidup karyawan perusahaan ada di tanganmu! Mereka menggantungkan hidup mereka padamu! Kau harus peduli pada perusahaan!" Sayla menutup bukunya, matanya menatap marah ke arah Natsu yang berdiri di beranda. Memunggunginya.
"Kalau begitu, berhentilah memerasku karena aku tidak akan pernah menikahimu."
"Natsu, ada apa denganmu? Darimana kau tadi? Kenapa kau mendadak berubah begini? Siapa yang mengubahmu?"
"Aku sama sekali tidak berubah. Sejak dulu aku memang begini. Aku tidak pernah mencintaimu meskipun aku sudah mengatakannya berkali-kali. Seharusnya kau juga sadar, aku melakukannya karena terpaksa. Kau yang memaksaku. Kau mengendalikanku karena aku tidak berdaya. Kau memanfaatkan perusahaanku yang diambang kebangkrutan dan juga perasaan cintaku yang begitu besar pada istriku. Kau mengacaukan hidupku. Dan aku sudah muak menjadi bonekamu, aku tidak ingin terus dikendalikan olehmu. Kau bukan siapa-siapa bagiku," Natsu berkata dengan lancar tanpa ada beban sedikit pun. Seolah kata-kata itu sudah lama bersarang di kepalanya dan baru bisa ia keluarkan sekarang setelah sekian lama memendam.
"Tidak. Kau bohong, Natsu! Kau mencintaiku! Kau tidak pernah menolakku! Kau selalu memilih tidur denganku dibandingkan istrimu! Kau adalah milikku!"
"Aku terpaksa melakukannya. Aku tidak pernah menginginkan tubuhku menyatu dengan wanita lain selain Lucy. Kau tidak pernah tahu betapa hancurnya hatiku saat kita sedang bercinta. Aku selalu menangis di dalam hati. Mengingat kalau aku sudah menghianati Lucy,"
"Natsu ... Tidak. Jangan bilang begitu ..." Sayla tidak percaya. Semudah inikah cintanya kandas? Lagi? Hatinya terasa babak belur. Matanya terasa panas.
Natsu menoleh, menatapnya dengan sorot dingin. "Semuanya sudah berakhir. Aku sudah lepas tangan terhadap perusahaan. Kau bisa melakukan apapun sesukamu terhadap perusahaan itu. Lagipula, sudah tidak ada investor yang sudi menanamkan modalnya di sana, juga tidak ada perusahaan lain yang mau bekerja sama. Mereka tidak ingin berurusan dengan kalian, Tartaros ... Perusahaan licik yang bisanya cuma menindas perusahaan kecil—"
"Cukup, Natsu!" Sayla berdiri, novelnya ia banting ke meja. Matanya menyorot tajam. "Aku peringatkan sekali lagi! Menikahlah denganku atau akan kuhancurkan perusahaan Dragneel termasuk semua cabangnya yang ada di Fiore ini!"
"Bukankah sudah kubilang? Aku tidak akan menikahimu."
"Perusahaan Zeref akan kuhancurkan! Apa kau tetap tidak peduli akan hal itu?!"
"Tidak. Hancurkan saja."
"Ayahmu akan sangat kecewa padamu!"
"Justru dialah yang menyuruhku melakukan ini. Dia bahkan lebih kecewa lagi kalau aku terus menerima bantuan dari perusahaan busuk kalian."
"Natsu, kau ..."
"Pergilah. Enyahlah dari hadapanku."
Tangan wanita itu mengepal. Bibir bawah digigit kuat, nyaris robek dan mengeluarkan darah. "Baik. Sesuai keinginanmu, Dragneel!"
XXX
Bintang-bintang di langit berkelap-kelip. Seolah berhamburan di atas kanvas hitam yang luas di angkasa. Membentang tanpa ujung dan akhir. Memberikan kesan kekaguman bagi siapapun yang melihatnya malam itu. Langit malam begitu terang dengan keberadaan rembulan yang ikut meramaikan suasana langit yang meriah bersama para bintang. Lucy Heartfilia hanya bisa berkedip penuh kekaguman. Senyum lebar merekah di bibir tipisnya. Tangannya yang menempel di pembatas beranda terangkat. Menjulur ke depan, jari-jari melebar, mencoba menggapai langit.
"Lucy ..." panggilan lembut di belakangnya membuat wanita bersurai pirang itu tersentak kaget.
"Kak Zeref," sahut Lucy. Zeref berjalan menghampirinya.
"Sedang melihat bintang?"
Lucy mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mendongak menatap langit kembali.
"Ngomong-ngomong, Kak Zeref. Ada yang ingin kutanyakan." Lucy baru teringat akan sesuatu yang mengganjal di pikirannya sejak beberapa hari yang lalu.
"Apa itu?"
"Apa benar kak Zeref dan Natsu itu sebenarnya adalah kakak-adik?" tanya Lucy, langsung. Tidak berniat berbasa-basi.
Zeref terkejut. Pertanyaan yang di luar perkiraannya. Pria itu mengulum senyum. "Apa Brandish yang memberitahumu?"
Lucy mengangguk mengiyakan.
"Begitu. Kalau sudah begini, apa boleh buat. Kebetulan kakak juga sedang ingin menceritakan masa lalu kakak." Zeref ikut bersandai di beranda. Tangannya menggenggam besi pembatas, mata kelamnya yang sayu menatap langit malam yang cerah.
Lucy hanya diam, menunggu Zeref memulai ceritanya.
Zeref masih diam selama beberapa saat sebelum mengatakan sesuatu yang membuat Lucy terperanjat. "Lucy, sebenarnya kakak ini adalah anak haram."
"Apa?" Lucy terbelalak mendengarnya.
"Kakak bukan anak sah dari Igneel. Igneel tidak pernah menikah dengan Ibu kakak." Zeref memperjelas.
Lucy berusaha mencerna. "Jadi ... Maksudnya, Ibu kakak adalah simpanan Ayah Natsu?"
"Bisa ya bisa tidak. Igneel menjalin hubungan duluan dengan Ibu kakak. Suatu hari mereka berpisah, dan Ibu kakak baru mengetahui kalau dirinya hamil. Igneel sudah tidak diketahui lagi bagaimana kabarnya dan ada di mana dia saat itu. Kakak terlahir tanpa Ayah. Kakak dibesarkan di mansion ini. Mansion ini adalah pemberian dari Igneel ketika dia masih menjalin hubungan dengan Ibu kakak. Kakak tidak pernah tahu siapa Ayah kakak. Seperti apa rupanya. Sama sekali tidak tahu. Ibu tidak pernah menunjukkan fotonya. Tapi, Ibu sering bercerita tentangnya. Igneel adalah seorang laki-laki yang penyayang. Dia adalah pria yang paling pemberani dan gagah, menurut cerita dari Ibu kakak. Ibu tidak pernah menceritakan alasan kenapa dia dan Igneel bisa berpisah, tapi yang kakak pahami saat itu adalah bahwa Ibu masih sangat mencintai Igneel meskipun pria itu sudah meninggalkannya dan sama sekali tidak tahu kalau darah dagingnya telah terlahir di dunia ini."
Lucy terdiam mendengarnya. Cerita Zeref sama seperti kisah hidupnya ... Hanya saja, dia sangat membenci Natsu saat itu. Sementara Ibu Zeref, sangat mencintai Igneel meskipun pria itu telah memberinya penderitaan.
"Tapi setelah itu, Ibu kakak meninggal."
Lucy tersentak. Terperangah menatap Zeref yang terlihat tenang.
"Saat itu umur kakak mungkin sekitar lima tahunan. Kakak terus menangis setiap malam di kamar ini." Zeref menoleh ke belakang, menatap ruangan yang merupakan bekas kamar Ibunya. "Meraung memanggil 'Ibu' terus menerus. Tapi Ibu tidak pernah datang. Meskipun air mata kakak sudah mengering dan tidak bisa keluar lagi, dia tetap tidak datang. Hingga, suatu hari, seorang pria datang memeluk kakak."
"Dan dia adalah Igneel?" Lucy menebak.
Zeref mengangguk. "Ya, benar. Dia meminta maaf berkali-kali. Kakak tidak mengerti apa yang dia katakan, yang kakak tahu kalau dia adalah Ayah kakak. Laki-laki yang sangat dicintai oleh Ibu. Dia mengajak kakak tinggal di rumahnya. Waktu itu, Istrinya Grandine sangat terkejut kalau ternyata Igneel memiliki anak di luar nikah. Di tambah lagi, anak itu terlahir saat Igneel masih berpacaran dengannya. Ah, jadi begini. Sebenarnya, saat Igneel menjalin hubungan dengan Ibu, saat itu dia sudah bertunangan dengan Grandine. Grandine sangat marah saat itu. Mengetahui Igneel ternyata dulu menghianatinya, bahkan sampai punya anak dengan perempuan lain."
"Jadi, karena itukah mereka bercerai?"
Zeref lagi-lagi mengangguk. "Dan itulah sebabnya Natsu sangat membenci kakak. Keluarganya hancur karena keberadaan kakak. Padahal, saat itu Grandine baru saja melahirkan Wendy. Mereka bercerai. Dan sama-sama sepakat kalau Igneel akan mengambil hak asuh Natsu sebagai calon pewaris perusahaan, dan Wendy akan bersama Grandine. Mereka menentang hukum dan membuat perjanjian hitam di atas putih atas kesepakatan bersama."
Lucy terdiam. Dia bisa mengerti kenapa Natsu bisa membenci Zeref ... Tapi, yang dia tidak mengerti, kenapa semuanya dilimpahkan ke Zeref? Zeref sama sekali tidak bersalah. Yang salah adalah Igneel! Anak dan ayah sama saja brengseknya! Dan Natsu berani mengulangi kesalahan ayahnya pula! Lucy sekarang benar-benar membenci yang namanya Dragneel. Mereka penghancur hidup orang lain.
"Lucy, masih ingat apa yang kakak katakan tadi pagi?" Zeref berbalik, menghadap Lucy.
"Eh?" Lucy menoleh. Ingatannya langsung memutar kejadian tadi pagi. Saat Zeref menyatakan cinta padanya. Sontak, Lucy langsung salah tingkah. "I-Itu ..."
"Kamu sudah memikirkan jawabannya?"
"A-Aku ..." Bagaimana ini? Lucy sama sekali tidak menemukan jawaban untuk pernyataan cinta Zeref. Sungguh, dia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak pernah terlintas di pikirannya kalau dia akan menikah dengan Zeref. Bahkan memikirkan kalau Zeref menyukainya pun sama sekali tidak pernah. Selama ini, dia hanya menganggap Zeref sebagai kakaknya. Tapi, dia tidak tega menolak pria itu. Zeref sudah banyak membantunya, menjaganya, menyayanginya dan Luna. Mungkin dia bisa menata hatinya kembali kalau menikah dengan Zeref. Dia ingin lepas dari jeratan cinta Natsu yang semakin dalam mengurungnya. Dia tidak ingin terus-terusan bersedih karena pria itu.
Lucy melirik Zeref. Pria itu menatapnya dengan sorot serius dan penuh harap.
"Lucy, kamu tahu. Kakak sangat sulit untuk mencintai seorang wanita. Kakak pernah mencintai seorang wanita, namun dia tidak mencinta kakak. Di situ hati kakak benar-benar hancur. Kakak memutuskan untuk tidak mencintai lagi. kakak juga berpikir harus memilih wanita yang benar-benar cocok dengan kakak dan juga setia pada kakak. Karena kakak tidak ingin rumah tangga kakak berakhir seperti rumah tangga Igneel."
"Dan kakak pikir aku orang yang tepat? Jujur. Aku bahkan masih belum bisa melupakan Natsu."
"Kakak hanya perlu membuatmu berhenti mengingatnya dan terus mencintai kakak. Semuanya akan dimulai sejak hari pertama pernikahan kita. Kakak akan membuatmu mencintai kakak."
"Tapi ... Kakak bisa saja tersakiti ..." Lucy menunduk, menatap lantai di bawahnya.
Zeref tersenyum, "Tidak masalah. Kita sama-sama tersakiti, jadi kita bisa saling mengerti."
"..." Lucy mendongak, tatapannya terlihat ragu. Zeref yang mengetahui tidak mudah bagi Lucy untuk memberikannya jawaban sekarang, langsung memberi Lucy keringanan.
"Pikirkanlah lagi. Kakak akan menunggu sampai kamu sudah yakin dengan keputusan yang kamu buat." Zeref mengusap kepala Lucy. Kemudian pria itu beranjak pergi, hendak keluar dari kamar Lucy saat tiba-tiba sesuatu menarik ujung lengan bajunya. Zeref menoleh, menatap Lucy yang menatapnya dengan tatapan yakin.
"Baiklah. Aku mau," putusnya.
Zeref terkejut. "Lucy, kamu yakin?"
Lucy mengangguk. "Ya."
"Kamu sudah memikirkannya betul-betul?"
Lagi-lagi Lucy mengangguk. Namun Zeref tidak bereaksi, masih terperangah.
Lucy menunduk, pipinya merona sedikit. "Lagipula, kurasa aku mulai mencintai kakak."
Zeref melebarkan matanya, bibirnya tiba-tiba menarik senyum lembut. Tanpa sadar, dia sudah mendaratkan sebuah ciuman di kening Lucy.
Tanpa kedua orang itu sadari, ada sepasang emerald yang tengah mengawasi keduanya. Brandish terpaku di tempatnya berdiri, menyaksikan semua itu dari cela pintu kamar Lucy yang terbuka sedikit. Tangannya yang memegang kenop pintu bergetar saat menutup kembali pintu kamar Lucy. Wanita berambut sewarna dedaunan muda itu bersandar di dinding pintu. Bungkusan es krim starmaggo ada di tangan kanannya. Brandish berjalan menjauhi kamar Lucy. Seorang pelayan keheranan melihat Brandish yang berjalan menuju pintu keluar.
"Brandish-sama? Tidak jadi bertemu nona Lucy?"
"Tidak. Aku baru ingat masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,"
Pelayan itu hanya bengong mendengar nada dingin yang lebih dingin dari biasanya itu.
XXX
Deringan ponsel membuat Lucy yang tengah bersandar di dada Zeref segera tersentak. Wanita itu mendongak menatap Zeref.
"Kak, ada telepon," Lucy meraih ponsel Zeref di atas meja kecil di hadapannya dan memberikan pada si pemilik.
Zeref segera mengangkat teleponnya. Dahinya langsung mengernyit. Terdengar kepanikan dari suara lawan bicara Zeref. Lucy mengernyit penasaran saat Zeref berbicara dengan nada marah. Mata kelam pria itu berkilat panik.
Zeref mematikan ponselnya setelah berkata bahwa dia akan segera ke sana—ke kantornya.
"Siapa, kak? Apa yang terjadi?" tanya Lucy, tidak mampu membendung rasa penasarannya.
"Asisten kakak. Dia bilang, perusahaan di Hargeon sudah bangkrut. Dan sekarang, perusahaan di Magnolia ikut terkena dampaknya. Kalau kakak tidak segera menangani masalah ini, perusahaan kakak juga akan ikut bangkrut juga." Zeref bangkit. "Kakak akan ke kantor. Kemungkinan kakak tidak akan pulang selama beberapa hari. Kakak akan menyuruh bawahan kakak untuk berjaga di sekitar mansion ini. Lucy, jaga dirimu baik-baik. Maaf kakak tidak bisa menemanimu selama beberapa hari." Zeref mengecup kening Lucy.
Lucy mengangguk. Memberi semangat. "Semoga sukses,"
Zeref mengangguk dan bergegas pergi.
XXX
Sementara itu, Natsu tengah berdiri di beranda kamarnya. Angin dingin menerpa wajahnya. Ujung kemeja putih menari-nari di udara. Mata kelam menatap lurus kilauan-kilauan di langit.
Drrrrtt ... drrrrtt ...
Ponsel merah segera diraih dari dalam saku. Menempelkannya di samping telinga, Natsu segera menyahut.
"Halo, Loke. Bagaimana perkembangannya?"
Suara di seberang tiba-tiba menjerit, membuat Natsu harus menjauhkan layar ponsel beberapa centi dari telinganya.
"Natsu! Aku berhasil! Kau harus berterima kasih padaku karena aku berhasil membuat seorang Acnologia bekerja sama dengan kita!"
Natsu tersenyum. Kembali menempelkan ponsel di telinganya. "Tentu. Aku tahu kau bisa melakukannya. Tidak salah kau berhenti menjadi model dan memilih bekerja di bawah ketiakku."
"Apa kau tidak punya perumpamaan lain selain hal menjijikkan itu?! Di mana rasa terima kasihmu, bocah?!"
"Ya, ya. Terima kasih banyak. Kau sudah bekerja keras selama ini."
"Aku melakukan ini demi Lucy. Bukan kau!"
"Kalau aku tidak salah mengingat, kau melakukan ini karena Aries tidak ingin kau menjadi model dan menginginkanmu bekerja kantoran demi memanfaatkan ijazah yang kau dapatkan saat kuliah di Ekonomi apalah itu, iya 'kan?" Natsu tidak bisa mengingat Loke lulusan apa karena terlalu banyak hal yang memenuhi otaknya sejak beberapa bulan yang lalu. Mungkin dia harus menyuruh Loke mengumpulkan kembali berkas-berkas lamaran pekerjaannya.
"Ya, itu alasan sampingan. Kalau begitu kututup teleponnya, jangan lupa untuk menghadiri rapat PENTING besok!"
Natsu hanya mendengus. "Iya, iya."
Natsu menyimpan ponselnya. Bibirnya menarik senyuman miring. Matanya berkilat, haus darah. Seakan sudah tidak sabar untuk menghabisi musuh-musuhnya. "Semuanya akan segera berakhir, Luce ..."
.
.
Bersambung ...
.
AN: Udah updatenya ngaret, pas diupdate isinya dikit pula. #plak yang penting udah update dan saya lega. Dan juga kecewa karena gak bisa bikin ini chapter dengan sepenuh hati. Bisa dilihat deskripsi yang amat sangat kurang dan kebanyakan dialog. Soalnya, saya nulis dialognya dulu baru nulis deskripsinya—hehe #nak
Btw, coba tebak! Fic ini tamatnya di chapter berapa? XD
Kalau begitu, sampai jumpa di chapter depan!
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
