Disclaimer:

Fairy Tail by Hiro Mashima

Broken Vow

By

Minako-chan Namikaze

Genre: Drama, Romance, hurt, etc.

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di AN ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca.

Ini sekuel dari fic You're Not Her Father

.

Enjoy!

.

.

Cangkir teh ditaruh di atas tatakan. Lembaran kertas yang menguning dibalik. Semilir angin terkadang menerpa kulit wajah dengan lembut.

Lucy Heartfilia tidak pernah merasa sedamai ini setelah sekian lama. Membaca novel di taman belakang mansion adalah ide terbaik yang baru saja tercetus di kepalanya sekarang.

Wanita berambut pirang panjang itu nyaris terhanyut dalam dunianya sendiri saat sebuah tepukan pelan di bahu tiba-tiba membuyarkan semua imajinasi yang ia bangun di dalam kepala.

"Brandish," Lucy tersenyum melihat wanita berambut bob hijau tengah berdiri di sampingnya.

Brandish tersenyum kecil—yang lebih terlihat seperti senyum mengejek karena wanita itu tetap memasang wajah malasnya saat tersenyum. Lucy sudah maklum akan hal itu. Dia segera mempersilahkan wanita bermanik green itu untuk duduk di hadapannya.

"Apa yang kau baca?" Brandish bertanya.

"Buku fantasi. Aku menemukannya di lemari buku koleksinya Ibu kak Zeref. Buku ini usianya sudah lama, tapi cerita di dalamnya benar-benar bagus." Lucy menuangkan teh kemudian menyodorkannya di hadapan Brandish.

"Hmm ..." Brandish bergumam, meraih cangkir tehnya. Menempelkan tepian cangkir di bibir tipisnya, wanita itu melirik Lucy dengan ekspresi dingin. "Ngomong-ngomong, selamat, ya. Kudengar kau dan Zeref akan segera menikah." Kemudian menyesap tehnya dengan tenang.

Lucy tersentak. Memandang Brandish dengan terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Ada salah seorang pelayan yang tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dan Zeref. Kalau tidak salah tiga hari yang lalu 'kan?" Bagaimana pun Brandish bersumpah tidak akan mengakui kalau dirinya telah menguping, dan lebih memilih menumpahkan kesalahan pada seorang pelayan malang yang entah siapa yang dimaksudkan.

Lucy hanya bergumam, kemudian tersenyum kecil. Jemarinya sibuk memilin lembaran buku sebagai sasaran pengalih perhatian.

"Yah, kami memang akan menikah. Aku juga tidak bisa terus-terusan terpuruk seperti ini. Akan lebih baik aku mulai melupakan apa yang terjadi di masa lalu dan memulai hidup baru dengan kak Zeref." jawab Lucy.

Cangkir teh yang sudah kosong diletakkan di atas tatakan. Brandish memejamkan mata, seolah tengah menyiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang berat. Manik emerald kembali terbuka, terpaku pada sosok wanita bermata karamel yang tengah menatapnya dengan bingung.

"Lucy,"

"Ya?"

"Kau tahu, Zeref pernah memberikanku tugas untuk menyelidiki soal mantan suamimu dan perusahaannya."

Mata Lucy melebar. Heran kenapa Brandish malah mengungkit masalah iu. "L-Lalu?"

"Aku dan rekanku melakukan penyelidikan. Dan kami menemukan fakta bahwa Natsu Dragneel telah diperas."

Sebelah alis terangkat, tidak mengerti. "Diperas? Natsu?"

Brandish mengangguk. "Perusahaan Tartaros adalah perusahaan terbesar di Fiore. Banyak perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan itu. Mereka juga banyak menanamkan modal di perusahaan-perusahaan kecil sehingga perusahaan-perusahaan itu bisa berkembang pesat." Brandish memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan. "Namun, ada sebuah rumor yang beredar kalau Perusahaan Tartaros sering berbuat curang. Mereka terkadang menggunakan cara licik untuk mengambil alih suatu perusahaan. Banyak perusahaan yang sudah terjebak karena tipu daya mereka yang kedok awalnya menawarkan bantuan berupa sumbangan dana atas kesepakatan bersama. Namun, dibalik semua itu Tartaros memiliki tujuan lain untuk mengendalikan perusahaan itu. Dan dia selalu berhasil. Lihatlah apa yang terjadi pada perusahaan Dragneel di Hargeon sekarang. Mereka bangkrut."

Lucy hanya diam. Menundukkan kepala, tatapannya sendu. Teringat akan mantan suaminya yang mungkin saja sedang terpuruk di sana. Tapi itu sudah bukan urusannya lagi. Dia bukan siapa-siapa lagi bagi Natsu. Natsu sudah memiliki wanita yang dia cintai dan menemaninya dengan setia di sana.

"Dan kau tahu, adik dari Presiden Direktur Tartaros, Sayla Tartaros, sedang mengincar mantan suamimu."

"Apa?" Lucy menegakkan kepalanya, menatap Brandish dengan terpana.

Wanita berambut hijau pendek itu hanya mendengus. Memalingkan wajahnya yang terlihat kesal seraya menyilangkan tangan di depan dada. "Ya, si jalang itu sedang mengincar Natsu Dragneel. Kau tahu kenapa Natsu berselingkuh dengannya dan menceraikanmu begitu saja?"

Lucy hanya diam. Ada banyak jawaban yang muncul di otaknya, namun dia tidak sanggup untuk menyuarakannya.

"Karena dia ingin melindungimu." Ucapan Brandish segera membuat tubuh Lucy menegang. Wanita berambut pirang itu terdiam.

"Apa?"

Brandish kembali mendengus. "Si Sayla itu sama liciknya dengan kakaknya. Dia menggunakan alasan 'kalau kau tidak menuruti kemauanku, perusahaanmu akan bangkrut saat ini juga, beserta nyawa istri yang sangat kau cintai itu'. Tentu saja wanita iblis sepertinya tidak akan mengingkari ucapannya. Terlebih, coba lihatlah ini." Lembaran kertas disodorkan. Lucy menerimanya dengan cepat dan membolak-balikkan halamannya.

"Itu adalah data diagram keuangan perusahaan Dragneel. Bentuknya aneh bukan? Naik turun seperti itu seolah hari ini perusahaan bangkrut, lalu besoknya perusahaan itu jaya kembali. Perusahaan Dragneel seperti dipermainkan. Dan kemungkinan, itu terjadi karena Natsu tidak mau menuruti kemauan Sayla, hingga si iblis betina itu melakukan hal-hal gila seperti ini."

Lucy tetap diam. Namun, dia merasakan sesak di dadanya. Jantungnya berdebar kencang. Matanya terus teraku pada gambar diagram di hadapannya. Dia ingat, dulu dia sering sekali tertimpa musibah. Seperti nyaris ditabrak motor, keracunan makanan, terjatuh dari tangga. Dia mengira itu hanyalah kebetulan. Puncaknya, dia sampai kehilangan anak keduanya gara-gara tragedi dua orang yang hendak membunuhnya saat itu. Jadi, itulah sebabnya Natsu sampai menceraikannya. Dia pasti berpikir Sayla akan terus mengincarnya kalau dia tetap berstatus sebagai Istri Natsu yang menjadi penghalang hubungan Sayla dan Natsu.

"Apa kak Zeref tahu hal ini?" Lucy bertanya pelan, menatap Brandish dengan tatapan gelisah.

Brandish menggeleng. "Tidak. Dia belum tahu. Aku baru berniat memberitahunya saat dia sudah pulang nanti." –Aku sampai harus berbohong pada wanita ini. Kau berhutang padaku, Zeref.

"A-Aku ... Apa yang harus kulakukan?" lembaran kertas putih penuh tinta diletakkan. Lucy menggenggam tangannya. Kepalanya mendadak pening. Semua ini terlalu mendadak untuk ia ketahui. Di saat dia sudah memilih untuk menyerah dan membuka lembaran baru, kenapa dia harus mengetahui ini sekarang? Kenapa Natsu tidak bercerita saja padanya agar dia mengerti? Kenapa harus dirahasiakan?

"Jangan tanya aku. Aku bukan pakar ataupun ahli cinta. Kau hanya perlu melakukan apa yang menurutmu benar. Percuma kau menjalin sebuah hubungan namun itu malah membuatmu menderita." Brandsih berdiri.

"Brandish ..." Lucy mendongak, kepalanya menoleh ke belakang. Brandish sudah pergi meninggalkannya.

XXX

Pintu dibanting keras. Seorang wanita masuk ke dalam apartemennya dengan wajah kusut dan kening berkerut. Surat kabar dilemparkan begitu saja di atas meja berkaca hitam.

Sayla Tartaros menghempaskan diri di atas sofa. Memijat pelipisnya seraya menggumamkan sesuatu dengan desisan kemarahan.

"Sial! Kurang ajar! Kenapa ini bisa terjadi?! Bagaimana bisa?!" dia melempar vas bunga di hadapannya. Membuat benda itu hancur berserakan di atas lantai yang dingin.

Mata violetnya melirik surat kabar yang tergeletak di atas meja.

TERBUKTI MELAKUKAN KORUPSI, PERUSAHAAN TARTAROS BANGKRUT

Judul yang sengaja dibuat dengan font sebesar mungkin itu membuat Sayla nyaris menendang meja. Wanita itu mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa harus terjadi sekarang? Kenapa Mardgeer bisa ketahuan melakukan korupsi?

Ya, perusahaan Tartaros terpaksa harus gulung tikar karena terbukti telah melakukan korupsi dan tindak kejahatan lainnya. Tadi pagi, saat dirinya tiba di depan gerbang kantor, ada banyak polisi berada di depan pintu masuk perusahaan Tartaros. Para pegawai berada di luar, dimintai keterangan tentang di mana keberadaan PresDir mereka. Sayla terpaksa harus melarikan diri, beruntung dia masih belum masuk terlalu dalam jadi dia bisa segera melarikan diri. Dia membeli koran, dan benar dugaannya. Perusahaannya telah tertangkap basah. Padahal dia yakin tidak ada satu pun bukti yang dapat menunjukkan kalau perusahaan mereka telah berbuat curang. Dan di mana kakaknya si Mardgeer brengsek itu kabur? Kenapa dia meninggalkan Sayla di tengah situasi yang kacau seperti ini!? Sayla merasa benar-benar ingin membunuh kakak kandungnya itu saat ini juga!

BRAK!

Suara gebrakan pintu membuat wanita berambut hitam panjang itu terlonjak dari tempat duduknya. Menoleh cepat ke arah pintu masuk dan membelalak lebar saat menemukan segerombolan polisi memasuki apartemennya dengan sebuah pistol yang ditodongkan ke arahnya di kedua telapak tangan masing-masing.

Salah seorang polisi maju, menurunkan pistolnya dan berniat mendekati Sayla saat wanita itu segera berdiri menjauh.

"Sayla Tartaros, Anda terbukti telah melakukan pemerasan terhadap Natsu Dragneel dan juga terlibat dalam penyerangan Lucy Heartfilia. Dengan demikian, saya diberi wewenang untuk segera menangkap Anda. Tolong angkat kedua tangan Anda dan serahkan diri Anda kepada kami." Ujar polisi itu.

"Hah?" Sayla berjengit jengkel. "Kalian tidak memiliki bukti apapun untuk menangkapku! Aku sama sekali tidak terlibat dalam tindak kejahatan apapun!"

"Kami telah menangkap dua orang yang telah mencelakakan Lucy Heartfiilia. Dan menurut keterangan dari mereka, mereka mengaku telah menerima perintah dari Anda untuk menghabisi Lucy Heartffilia malam itu." balas sang polisi.

Wanita berambut kelam itu menggeram. Dia berani bersumpah kalau dia sama sekali tidak pernah memerintahkan dua orang itu! itu adalah murni perintah Mardgeer. Absolut! Dua orang brengsek itu ... Mereka tidak mau menghianati Mardgeer dan malah menimpakan kesalahan kakaknya itu padanya! Brengsek!

Sekarang bagaimana dia mengelak? Bagaimana dia melarikan diri?

"Menyerahlah. Apartemen Anda sudah kami kepung. Sekarang, serahkan diri Anda dengan cara damai."

Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan diri pada polisi!

Sayla mundur ke belakang, hingga punggungnya menyentuh lemari kecil di ujung ruangan. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari polisi, tangan kanannya sibuk meraba-raba laci di belakangnya. Membuka laci kedua dan dengan gesit mengeluarkan sebuah revolver dari dalam sana.

Para polisi terkesiap. Polisi yang berdiri paling depan segera mengarahkan pistolnya ke arah Sayla.

"Coba saja tangkap aku! Aku akan lebih dulu menembaki kalian!" Sayla menarik tuas di belakang senjata laras pendeknya itu. Single Action berisi sepuluh peluru berkaliber 2.2 di tangannya diacungkan dengan penuh percaya diri. Sayla meyakini kemampuan menembaknya lebih baik dari para polisi busuk di hadapannya. Bagaimana pun dia pernah mengikuti kelas menembak saat di Amerika dulu, dan menjadi salah satu lulusan terbaik di sana. Cukup delapan peluru untuk menghabisi delapan polisi di hadapannya. Kalau masih ada polisi di luar, dia tinggal mengambil pistol dari para polisi yang sudah ia tumbangkan dan menghabisi para polisi yang bersiap menjagalnya di luar.

Rencana yang sempurna!

Namun rupanya polisi di hadapannya sama sekali tidak gentar. Mereka malah semakin mendekat ke arahnya. Bahkan sudah ada yang mengeluarkan sebuah borgol.

Geram dengan besarnya nyali para polisi di hadapannya, Sayla tidak segan menarik pelatuknya.

DOR!

Suara tembakan menggema di seluruh ruangan. Memantul keluar dari pintu apartemen yang terbuka hingga bisa kedengaran sampai koridor lantai bawah.

Sayla, sekali lagi, harus membelalak tak percaya. Dia sudah menarik pelatuk pistolnya—terbukti dengan suara tembakan tadi—tapi kenapa yang keluar malah ... Sebuah bendera yang dengan lancangnya bertuliskan "Maaf! Pistolmu terpaksa disita!"

Sayla ternganga. Mematung di tempat dengan wajah syok.

Polisi tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus itu untuk segera meringkus sang wanita bermanik violet. Sayla Tartaros digiring keluar dari apartemen dengan paksa—karena wanita itu terus meronta dengan ganas.

Polisi yang menggiring Sayla berhenti tepat di depan seseorang. Sayla mendongak, menatap marah seorang pria berambut merah jambu yang tengah membelakanginya saat ini.

Sebuah senyum cemerlang terpampang dengan jelas di wajah Natsu Dragneel saat pria itu berbalik, menghadap Sayla yang menatap penuh kebencian ke arahnya.

"Hai, Say ..." Natsu merogoh sesuatu di saku jas abu-abunya. "Mencari ini?" Single Action berwarna putih ditunjukkan. Sayla sudah tidak terkejut lagi, apalagi membelalak. Dia sudah tahu kalau Natsu-lah biang keladi dari semua bencana yang menimpa dirinya dan perusahaan.

"Natsu ... Sejak kapan kau merencanakan ini? Kau sudah tahu ini akan terjadi jadi kau sengaja meninggalkanku tiga hari yang lalu 'kan?" Sayla berdesis. Poninya berantakan.

"Oh," Natsu tersenyum sarkastis, tatapannya menggelap. "Kau bisa menebaknya dengan baik. Well, karena aku bukanlah orang yang hanya bisa pasrah kau permainkan. Kau seharusnya sadar, bukan kau yang sedang mempermainkanku selama ini, tapi kaulah yang sedang kupermainkan. Kau begitu sibuk denganku, hingga tidak menyadari kalau perusahaanmu tengah diintai oleh mata-mata kepercayaanku. Mereka melakukan tugasnya dengan baik dan menghasilkan hasil yang sempurna seperti ini." Tutur Natsu

"Kau ..." Sayla menggigit bibir bawahnya. Namun, aura mengintimidasi Natsu tiba-tiba membuatnya takut.

"Dengan ini, kau tidak bisa mengganggu kehidupanku lagi. Sebaiknya setelah kau keluar dari penjara nanti, kau bisa berubah, Say," ucap Natsu. Mata kelamnya menatap tajam ke arah mata violet yang terus memancarkan kemarahan.

Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Natsu mempersilahkan para polisi untuk membawa Sayla pergi.

Loke menghampiri Natsu, menepuk pelan pundak atasannya itu.

"Natsu, sudah waktunya. Kau harus segera tiba di Albarez untuk meresmikan perusahaan barumu di sana." Loke memberitahu Natsu.

Natsu menoleh. "Ah, kau benar. Aku harus segera ke sana. Memulai bisnis sendiri dari nol itu memang merepotkan." Si pinkish mengusap sebentar rambut merah mudanya yang sedikit berantakan. Menyerahkan revolver milik Sayla pada Loke. "Tolong serahkan ini pada polisi."

Loke berjengit jengkel. "Siapa kau berani memerintahku!?"

"Aku adalah atasanmu. Dan kau adalah manager perusahaanku, ingat?" Natsu memasang cengirannya.

"Ceh! Lihatlah dirimu! Padahal kau begitu tidak berguna kemarin! Coba ingat siapa yang telah berbaik hati mengulurkan tangannya untuk membantumu membangun perusahaan barumu ini, hah!?" Loke berseru kesal.

"Ya, ya. Itu adalah kau." Ujar Natsu, malas. Kemudian bergumam pelan, "padahal kau sendiri yang menghampiriku untuk memberimu pekerjaan karena istrimu Aries tidak memperbolehkanmu lagi bekerja sebagai model majalah dewasa."

Loke yang berada tepat di samping Natsu tentu bisa mendengar gumaman sadis itu. "Apa kau bilang?!"

"Tidak bilang apa-apa." Natsu berjalan duluan, meninggalkan Loke yang semakin menggeram kesal.

"Perlu diingat, ya, Natsu!" Loke melangkah mengikuti Natsu. "Aku tidak pernah menjadi model majalah dewasa—meskipun aku sangat menginginkannya—aku hanya pernah tampil topless dengan celana renang ketat di cover depan majalah sport!"

"Itu sama saja. Dasar porno."

"Apa kau bilang, bocah?!"

"Sudah. Sudah. Jangan berteriak kepada atasanmu kalau tidak mau kupercat."

"Kurang ajar kau! Menggunakan status untuk melumpuhkanku!"

Natsu hanya bisa terkekeh pelan. Yah, selama ini Loke-lah yang bekerja secara diam-diam untuk mengurus perusahaan barunya di Albarez selagi dirinya sibuk mengalihkan perhatian Tartaros di sini. Dia berhutang banyak pada kakak angkat Lucy itu.

XXX

Jas hitam ditaruh di lengan sofa ruang keluarga. Pria bersurai hitam menghela nafas lelah. Memegang pundak seraya membunyikan lehernya. Zeref Dragneel melonggarkan dasinya.

Seorang pelayan berjalan menghampirinya.

"Tuan Zeref, Anda mau makan atau mandi dulu? Akan segera saya siapkan."

"Aku ingin mandi dulu saja. Air hangat mungkin bisa menguapkan penat di sekujur tubuhku." Jawab Zeref.

"Ah, baik. Akan segera saya siapkan." Pelayan itu membungkuk, hendak berbalik pergi saat Zeref tiba-tiba menghentikannya.

"Di mana Lucy?"

"Ah, kalau Nona Lucy, dia ada di taman. Sedang membaca buku sepertinya."

Sebelah alis terangkat. "Malam-malam begini duduk di taman? Dia bisa kedinginan." Zeref segera meninggalkan pelayan itu dan berjalan cepat menuju pintu keluar di samping ruangan. Pintu itu terbuka lebar. Dia bisa melihat punggung mungil dengan pakaian putih tanpa lengan yang tengah duduk bersandar di kursi putih.

Zeref tersenyum. Melingkarkan lengan berbalut kemejanya di sekitar leher Lucy, membuat wanita itu tersentak kaget dan menoleh.

"Kak Zeref? Kapan kakak pulang?" Lucy bertanya spontan.

"Baru saja." Zeref menempelkan pipi tirusnya ke pipi merona Lucy yang terasa dingin. "Sejak kapan kamu duduk di sini? Tubuh kamu terasa dingin." Zeref mengerutkan dahi, terang-terangan tidak suka dengan kebiasaan Lucy yang suka lupa waktu kalau sudah bertemu dengan buku.

"Umm ... Sekitar lima jam?" Lucy bertanya ragu.

"Ayo masuk. Nanti kamu bisa masuk angin kalau terus duduk di luar seperti ini."

"Sebentar lagi saja. Aku masih betah berada di sini." Tolak Lucy, halus.

"Ah, baiklah. Kalau begitu kamu harus memakai ini dulu," Sebuah jas hitam hangat menyelimuti bahu Lucy yang terbuka. Lucy tersenyum seraya membenarkan letak jas di tubuhnya. Sementara Zeref duduk di samping Lucy. Matanya menangkap buku tebal dengan kertasnya yang sudah menguning di tangan wanitanya itu. Beberapa buku lain juga tergeletak di samping cangkir teh, bertumpuk seperti baru selesai di baca.

"Kamu membaca semua buku itu?" tanya Zeref.

Lucy mengangguk. "Ceritanya bagus, sih. Ternyata buku ini punya banyak seri."

Zeref tersenyum. "Ya, buku itu itu adalah peninggalan dari Ibu kakak. Kakak dulu sering membacanya di kamar Ibu. Ceritanya memang bagus. Tidak salah kalau kamu sampai lupa waktu."

Lucy terkekeh pelan. "Lalu, bagaimana dengan perusahaan kakak? Masalahnya sudah beres?"

Zeref mengangguk. "Ya, beruntung kakak langsung segera bertindak setelah mengetaui ada yang tidak beres. Ada sebuah perusahaan asing yang cukup terkenal hendak bekerja sama dengan perusahaan kakak, jadi kakak rasa itu akan bisa memulihkan keuangan perusahaan kalau project yang akan kami kerjakan ini sukses." Jawab Zeref.

"Hmm ... Baguslah. Aku ikut senang mendengarnya." Lucy membalik lembaran novelnya.

Zeref diam. Memandang Lucy dengan dalam. Tatapannya menimbang-nimbang. Tangan pria itu terulur, menyentuh tangan Lucy yang memegang halaman kertas yang siap dibalik. Mengenggamnya dengan erat. Lucy hanya bisa terpana.

"Lucy,"

"Ya, kak?"

"Semuanya sudah berakhir. Semua masalah sudah beres."

Hanya bisa mengangguk pelan. "Ya, aku tahu,"

"Karena itu ... Ayo kita menikah ..."

Desiran angin menerpa keduanya yang tengah membisu. Sang pria bermanik segelap malam menatapnya dengan lembut, seolah Lucy adalah bidadari yang selama ini dicarinya dan baru bertemu sekarang. Hati sang Heartfilia segera dihantam kebimbangan. Antara menerima atau menolak. Tapi Zeref sudah banyak membantunya selama ini. Dia juga sudah mulai mencintai laki-laki ini. Menolaknya pun tidak pernah terlintas di benak Lucy. Dia tahu seberapa besar pria ini mencintainya. Hubungannya dan Natsu sudah kandas sejak lama. Mengesampingkan alasan pria itu mengakhiri hubungan mereka, cerai tetaplah cerai. Meskipun mereka bisa saja bersatu kembali, tapi Lucy tidak ingin hidup bersama lagi dengan pria si pink. Benang merah di antara mereka sudah terputus. Tidak akan tersambung lagi meskipun diikat sedemikian rupa. Karena benang merahnya sudah tertarik oleh seuntai benang merah lain yang dengan setia menemani benang merah yang kesepian itu.

Sebuah anggukan pelan telah menjawab semua kebimbangan. Pertimbangan sudah tak lagi dipedulikan si wanita pirang. Dia hanya ingin hidup tenang seperti ini selamanya. Bersama pria yang begitu mencintainya dengan lembut seperti Zeref.

.

Bersambung ...

.

.

AN: Yah, mari kita buka sesi voting part 3! Sekali lagi, ditekankan kalau voting ini tidak bermaksud untuk menentukan dengan siapa Lucy akan berakhir. Karena nasib Lucy sudah ditentukan sejak awal cerita ini dipublish. Jadi, jangan salah paham. Saya meminta voting dengan maksud hanya ingin mengetahui reader sekalian ada di kubu mana? ZerLu? Atau malah tetep NaLu? Atau malah netral kayak saya #nak #plak

Oke, kalian benar-benar reader yang pintar. Sekali tebak langsung tahu fic ini berakhir di chap 15. XD

Oh iya, entah endingnya klise atau gak, Anda-anda semua yang menentukan. Karena, cerita ini dibuat oleh author abal-abal nan gaje yang begitu menyukai tragedi sih. Huawawa #plak

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Salam manis,

Minako-chan Namikaze