Sebuah tas koper besar diletakkan di atas lantai. Wanita pirang segera terduduk di lantai, memeluk sang buah hati tercinta yang amat ia rindukan selama beberapa minggu ini.

Luna Dragneel memeluk mamanya dengan erat seraya berseru senang. Tudung mantel perlahan turun dari kepala pink-nya, jatuh dengan lembut di atas punggungnya.

"Mama! Luna kangen mama!"

Lucy mendekap putrinya, tersenyum bahagia. Air mata keluar dari manik karamelnya. Menghirup dalam-dalam aroma putri kesayangannya. "Mama juga, sayang," bisiknya. Wanita itu kemudian mendongak, menatap pria pink yang berdiri tepat di hadapan mereka. Memasang senyum simpul yang sudah jarang Lucy lihat.

"Aku kembalikan Luna padamu, Luce. Kau tidak perlu sampai mengurus surat peralihan hak asuh. Setelah situasi aman terkendali, aku akan langsung mengembalikan Luna padamu, kok," jelas Natsu.

Lucy berdiri, dengan Luna yang berada di gendongannya. Menatap Natsu dengan sorot bersalah dan menyesal. "Natsu, aku ..."

"Dari ekspresimu, sepertinya kau sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Entah siapa yang sudah memberitahumu, tapi aku ingin kau memutuskan sesuatu,"

Lucy diam. Menunggu Natsu melanjutkan kalimatnya. Luna hanya berkedip memandang kedua orangtuanya. Perasaannya saja atau interaksi kedua orangtuanya terasa begitu canggung?

"Aku membangun sebuah perusahaan di kota Alvarez." Ucap Natsu.

Lucy mengangguk. "Ya, aku sudah tahu dari Kak Zeref,"

Natsu menarik nafas, kemudian menghembuskannya lalu berkata, "Karena itu, aku ingin kau memilih. Apakah Luna akan bersekolah di Alvarez atau di sini? Di Magnolia ini?" tanya Natsu, menatap Lucy dengan dalam. Sorot matanya begitu serius. Bodoh jika Lucy tidak menyadari maksud dari pertanyaan Natsu itu.

Luna bersekolah di Alvarez—Natsu mengajaknya untuk hidup bersama lagi, karena Natsu sekarang tinggal di kota itu, dan Lucy sendiri pasti tidak ingin berpisah dari Luna lagi dan akan menemani putri kecilnya itu.

Luna bersekolah di Magnolia—Lucy tidak ingin hidup bersama Natsu lagi.

Lucy menelan ludahnya. Natsu tetap diam, memandangi Lucy dengan tatapan penuh harap. Hingga akhirnya Lucy menjawab, mata oniks Natsu langsung melebar tak percaya.

"Maaf, Natsu. Tapi, aku akan tinggal di sini dan menikah dengan Kak Zeref."

Disclaimer:

Fairy Tail by Hiro Mashima

Broken Vow

by

Minako-chan Namikaze

Genre: Drama, Romance, hurt, etc.

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di AN ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca.

Ini sekuel dari fic You're Not Her Father

.

Enjoy!

.

.

Lucy menyesap Capucino hangatnya. Mengembuskan nafas ketika bibir cangkir menjauhi mulutnya, membuat uap panas mengepul di depan wajahnya. Alunan musik klasik beserta suara obrolan para pengunjung kafe sudah menjadi musik yang amat biasa bagi telinganya. Di hadapannya, Luna duduk manis seraya menyeruput susu cokelat hangatnya. Di sampingnya terdapat sepiring kue keju yang baru diangkat dari panggangan. Namun gadis kecilnya hanya menyantap kue lezat itu satu sendok. Luna terlalu sibuk menggambar sesuatu di buku gambarnya sejak tadi dan mengabaikan makanannya.

Lucy menengok ke luar melalui kaca transparan yang membatasi area kafe dan area luar. Salju mulai turun lagi. Padahal jalanan baru saja dibersihkan dari tumpukan salju. Magnolia mungkin terlihat seperti kota yang padat dengan lampu-lampu yang berkerlap-kerlip di atas hamparan kanvas putih. Salju sudah turun semenjak satu minggu yang lalu. Lucy tidak membenci musim dingin, hanya saja dia selalu tidak suka ketika dia kelupaan membawa sarung tangan saat akan pergi keluar—dan pulangnya dia langsung demam. Yah, dia memang rentan terkena demam. Apalagi di cuaca dingin seperti ini.

Samar-samar suara televisi yang digantung di tengah-tengah pilar di kafe itu terdengar. Sepertinya sebuah berita tentang bisnis, terlihat dari suara pembawa berita yang begitu khas dan gambar sebuah bangunan megah bertingkat yang disorot dengan efek mewah.

"... Benar-benar prestasi yang luar biasa! Dalam waktu beberapa bulan, pengusaha muda ini mampu membawa perusahaannya ke taraf Internasional! Perusahaannya pun sudah memiliki beberapa cabang di negara lain!"

Manik karamel melebar begitu melihat sosok yang sudah lama tidak ia temui. Sosok yang duduk tegap di atas sebuah sofa putih dengan senyuman cemerlang di wajah tampannya. Deretan gigi putih yang rapi menambah kesan manis saat Natsu Dragneel tersenyum lebar ke arah kamera.

"Wah! Itu papa!" Luna berseru, membuat Lucy tersentak.

"Natsu Dragneel-san, apakah Anda bersedia memberitahu sebuah resep untuk cepat menjadi sukses seperti Anda?"

Kamera sepenuhnya menyorot Natsu. Pria itu menggaruk pipinya, tertawa tanpa humor.

"Yah, sebenarnya tidak ada rahasia apapun di balik kesuksesan ini. Hanya saja, aku cuma mengerjakan semuanya dengan seluruh kemampuanku tanpa memikirkan hal-hal lain. Dan juga, para karyawanku pun membantuku dengan seluruh kemampuan mereka. Apapun yang terjadi, kami harus bisa mengejar target dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya—itulah motto dari perusahaan kami. Memang terdengar egois dan tidak masuk akal akan semudah itu, tapi entah kenapa semuanya berjalan dengan lancar hingga hasilnya seperti ini,"

Lucy bisa mendengar sang host wanita itu kembali menanyakan berbagai pertanyaan kepada Natsu terkait bisnis juga perihal tentang keunggulan-keunggulan perusahaan pria itu.

Lucy mengulum senyum. Syukurlah Natsu baik-baik saja. Sepertinya, pria itu memang sudah tidak membutuhkannya lagi.

Setelah dia memberitahu Natsu kalau dia akan menikah dengan Zeref tiga bulan yang lalu, respon Natsu di luar dugaan.

"O-Oh ... Begitu. Selamat, ya ... Aku yakin Kak Zeref sangat mencintaimu dan pasti akan membahagiakanmu. Kuharap rumah tangga kalian harmonis ..."

Lucy masih ingat dengan kata-kata Natsu waktu itu. Ditambah lagi cengiran yang dipaksakan tidak mungkin bisa menipunya. Dia tahu ... Natsu hancur saat itu juga.

Lucy melirik Luna yang kini sibuk menonton papa-nya sambil mengunyah cheesecake. Lucy belum memberitahu Luna tentang pernikahannya dan juga Zeref. Zeref juga tidak ingin memberitahu Luna sekarang. Katanya, dia ingin membuat Luna nyaman dengannya dulu, agar Luna paling tidak, bisa menerimanya saat diberitahu nanti.

Luna sekarang sekolah di Magnolia Junior High School. Sekolah terkemuka di kota Magnolia. Zeref yang mendaftarkan Luna di sana, dan sepertinya putri kecilnya itu sangat suka sekolah di sana. Karena ada kolam renangnya, katanya ...

Luna juga setiap malam bercerita padanya. Tentang Natsu yang terlihat sangat menderita saat Lucy tidak ada.

"Setiap Luna tanya tentang mama ke papa, wajah papa selalu kelihatan mau nangis. Papa juga makannya dikit banget. Dan tante Sayla selalu gangguin Luna dan papa. Tante itu juga bilang mau jadi mamanya Luna!"

Luna juga sering bercerita tentang Sayla dengan wajah masam. Sepertinya putrinya itu sangat membenci Sayla.

Lucy kembali menyesap Capucinonya. Semuanya sudah kembali normal, hidupnya malah jadi semakin damai dan tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hubungannya dan Natsu sudah berakhir. Dan mereka berdua meskipun sudah sama-sama terluka, tetap bisa bangkit kembali. Keputusannya untuk memulai hidup baru juga tidak ditentang oleh Natsu.

Mungkin inilah yang terbaik—kata Natsu sebelum pamit meninggalkan mansion Zeref waktu itu.

Dia memang sudah tidak pernah bertemu Natsu lagi sejak saat itu, namun dia tahu, mantan suaminya itu sering mengunjungi Luna di sekolahnya. Mengajak putri kecilnya jalan-jalan dan makan siang bersama. Tentu saja pria itu tidak serta-merta langsung menculik Luna begitu saja, Luna selalu meneleponnya dulu—dengan nomor asing yang Lucy yakini adalah nomor baru Natsu—dan mengatakan kalau dia akan jalan-jalan bersama papa.

Lucy tersenyum pahit. Natsu menghindarinya, sepertinya begitu. Pria itu mungkin masih belum bisa bertatap mata dengannya—masih menata hatinya agar tidak hancur kembali saat bertemu nanti. Lucy pun juga begitu. Lebih baik mereka tidak usah bertemu dulu. Bertemu pun mereka juga tidak akan bisa mengobrol dengan normal lagi—boro-boro mengobrol, bicara pun rasanya sulit mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya. Keduanya merasa sama-sama bersalah, namun tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaikinya. Piring yang sudah pecah, tidak akan bisa disatukan menjadi sempurna lagi.

Setelah menghabiskan Capucinonya, dan Luna juga sepertinya sudah kenyang dengan kue kejunya, Lucy memutuskan untuk pulang. Mereka bergandengan menuju pintu keluar, saat tiba-tiba pintu itu terbuka dan orang yang hendak masuk itu tidak sengaja menabrak Lucy.

"Ah, maaf! Aku tadi sama sekali tidak melihatmu—" orang itu berhenti berucap, mata birunya menatap kaget ke arah Lucy.

Lucy hanya menaikkan sebelah alis. Bingung kenapa wanita di depannya mendadak diam.

"Kau!" seru wanita itu.

Lucy terpaksa mundur satu langkah karena kaget.

XXX

"Kami pulang," Lucy melepas mantel tebalnya dan menaruhnya di kepala sofa.

Zeref yang tengah duduk di sofa bersama laptopnya segera menoleh, tersenyum simpul dan menyambut kedatangan Lucy dan Luna.

"Aku akan membantu Nana-san memasak makan malam." Ujar Lucy, yang langsung berjalan ke dapur.

Zeref memandangi punggung Lucy yang menjauh.

"Om Zeref! Lihat gambaran Luna!"

Seruan Luna membuat Zeref tersentak. Pria bermanik hitam teduh itu melempar senyuman malaikatnya ke arah putri kecil calon istrinya. Luna mengangkat buku gambarnya di depan dada, tesenyum selebar mungkin saat Zeref berseru kagum.

"Bagus sekali, sayang! Apa itu temanmu di sekolah?" tanya Zeref, matanya terpaku pada lukisan sebuah kolam renang yang di dalamnya terdapat dua orang anak perempuan yang tengah bermain bola voli bersama. Salah satunya berambut pink terang, yang satunya berambut hitam legam.

Luna mengangguk riang. "Namanya Fuyumi-chan, dia yang ngajarin Luna bagaimana caranya berenang. Dia juga sering ngajakin Luna main voli air bersama teman-teman yang lain!"

Zeref merespon kata-kata Luna dengan sebaik mungkin. Memuji gadis kecil itu dan berbicara lembut kepadanya—semuanya ia lakukan demi mendapatkan hati Luna. Meskipun sifat dasarnya memang lembut, sih ...

Mereka mengobrol bersama, bermain game pancing-pancingan dengan laptop Zeref, menonton anime bersama sampai suara Lucy dari dapur menghentikan kegiatan mereka. Sudah waktunya makan malam, dan keduanya segera beranjak dari singgasana.

Zeref duduk di kursinya, begitu juga dengan Luna yang duduk di samping Zeref. Berseru semangat saat melihat ayam balado tersaji dengan menggiurkan di hadapannya.

Lucy mengambilkan putri kecilnya itu sepiring nasi, juga untuk Zeref. Saat wanita pirang itu menaruh sepiring nasi di hadapan Zeref, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan.

Lucy tersentak dan segera menarik jauh tangannya, membuat Zeref menaikkan sebelah alis.

Wanita bermanik karammel itu segera duduk di kursinya, mulai mengambil lauk sambil menanggapi ocehan Luna. Sementara Zeref hanya terdiam, memandangi nasinya dengan tatapan datar.

XXX

Lucy keluar dari kamar Luna. Berjalan santai menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu, terlihat punggung lebar Zeref yang menyambutnya dari pintu balkon yang terbuka.

Menutup pintu kamarnya, Lucy segera berjalan menghampiri Zeref, berdiri tepat di samping pria itu.

"Kakak belum tidur?" tanya Lucy.

"Belum. Nanti saja. Kakak ingin bersama denganmu sebentar,"

Lucy terhenyak, kemudian mengangguk pelan. Mata cokelat madunya menatap ke atas, ke arah langit malam yang cerah bertabur bintang.

"Ne, Lucy ..."

Kepala pirang menoleh, "Ya?"

"Aku menyerah,"

"Apa?" Lucy mengerutkan kening, bingung dengan maksud perkataan Zeref. Pria itu sejak tadi tidak mau menatapnya. Mata obsidiannya selalu menatap langit, seolah hanya itu yang mampu ia lihat saat ini.

"Kau tahu ..." Zeref kini menoleh, memandang Lucy dalam. Senyumannya getir, terpaksakan. "Kakak merasa sama sekali tidak bisa mendapatkan hatimu. Meskipun kamu sudah bilang akan mulai mencintai kakak, nyatanya kamu tidak bisa melakukannya, 'kan?"

"Eh—Tidak, bukan begitu—"

"Kakak sadar. Akhir-akhir ini kamu menjadi sangat canggung pada kakak. Kamu tertekan dengan status kita yang akan segera menikah. Kamu gelisah, karena di dalam lubuk hatimu sendiri, kamu belum sepenuhnya menerima kakak."

"Kakak, aku ..."

"Kakak tidak bisa menggantikan Natsu, biar bagaimana pun kakak berusaha sekeras mungkin untuk melampaui keberadaannya di hatimu dan juga Luna ..."

Lucy terdiam. Tidak. Itu tidak benar. Dia menerima Zeref sepenuhnya. Dia sudah tidak memikirkan Natsu lagi. Dia sekarang hanya akan mencintai Zeref dan hidup bersama dengannya selamanya ...

Namun ... Entah kenapa ... Hatiku terasa begitu sakit?

Zeref maju satu langkah, mengusap air mata yang kini turun membanjiri pipi Lucy.

Lucy tersentak, sama sekali tidak menyangka kalau dia tengah menangis.

"Ternyata memang benar. Selama ini kamu memaksakan diri ..." Zeref menunduk, mendekatkan wajahnya. Menempelkan bibir hangatnya ke bibir tipis yang sudah basa terkena air mata. Mencium sang Heartfilia dengan lembut.

"Maaf. Tanpa sadar selama ini kakak telah memaksamu untuk memilih kakak." Ucap Zeref dengan raut bersalah yang amat dalam.

"Kakak, bukan berarti aku—"

"Kita batalkan saja, ya ... Pernikahan itu,"

Senyuman itu. Senyuman yang sama saat Natsu pergi meninggalkan mansion ini. Senyum yang menggambarkan betapa hancurnya hati sang pemilik senyuman.

XXX

Ban mobil itu berdecit saat berhenti secara tiba-tiba, membuat salju-salju yang menutupi aspal terlempar ke segala arah. Pintu mobil dibuka, kaki jenjang berbalut sepatu boots cokelat turun dari mobil.

Menutup kembali pintu mobilnya dengan tenaga berlebih, Brandsih mendengus kesal. Menatap papa nama Kedai Ramen di hadapannya.

Wanita itu menghela napas sebelum mulai berjalan memasuki kedai ramen yang cukup ramai. Memang di cuaca dingin seperti ini, makanan hangat seperti ramen sangat ampuh untuk menghangatkan tubuh. Apalagi ramen ekstra pedas—

Manik emerald melirik ke sekeliling, mencari kepala hitam yang membuatnya kerepotan akhir-akhir ini. Dan benar saja dugaannya. Pria itu ada di sini. Makan bermangkuk-mangkuk ramen pedas namun ekspresinya sudah seperti ingin bunuh diri saja.

Brandish mendudukkan diri di samping Zeref, si pria yang menurutnya sudah nyaris gila.

"Apa kau masih waras?"

Nada sinis itu sontak membuat Zeref langsung menoleh. Mata obsidian terbelalak. "Bri, kenapa kau ada di sini?"

"Memang harus pakai alasan kalau aku mau makan ramen di sini?" Brandish menatap malas. Menaruh telapak tangan kanannya di pipi.

Zeref tersenyum masam, perhatiannya kembali pada mangkuk ramen di hadapannya. Tidak membalas.

Brandish berdecih jengkel. "Tadi Lucy meneleponku,"

Mendengar nama yang menjadi pelaku porak-porandanya hatinya saat ini, Zeref kembali menoleh.

"Dia bilang kau membatalkan pernikahan. Kemudian kau langsung pergi begitu saja dari hadapannya. Karena khawatir kau akan bunuh diri atau apa, jadi dia memintaku untuk menyelamatkanmu."

Zeref terkekeh kecil. "Alasan yang bagus, Bri ... Lucy tidak akan berkata seperti itu. Dia hanya memintamu mencariku. Itu saja, 'kan?"

"Diam. Kau masih mampu tertawa rupanya ... Tapi aku yakin hatimu sekarang sedang menangis seperti bayi yang baru dilahirkan."

Brandish dan mulut tajamnya ...

Zeref meletakkan sumpitnya. Sudah tidak nafsu lagi menyantap ramen. Perutnya mendadak mual.

"Aku membatalkan pernikahan." Ucapnya, pelan.

"Aku tahu itu."

"Lucy tidak mencintaiku."

"Aku juga tahu itu."

Zeref melirik Brandish melalui ekor matanya, kemudian menghela napas. Tidak tahu harus berkomentar apa.

"Aku tidak ingin dia memaksakan diri hidup bersamaku. Jadi, aku melepasnya. Mungkin inilah yang terbaik."

Brandish terdiam. "Kau terlihat seperti tidak mau hidup lagi saja. Memangnya ini akhir dari kehidupanmu ya? Hanya karena ditolak oleh seorang wanita, kau jadi bosan hidup begini?"

"Apa—aku tidak begitu! Aku hanya merasa sedih! Tapi tidak ada niatan untuk bunuh diri! Bri, kau ini benar-benar—" Zeref menghentikan perkatannya. Sadar kalau seruannya itu mengundang banyak mata untuk memandanginya. Pria itu buru-buru minta maaf kepada para pengunjung lain.

"Hah ..." helaan napas terdengar. Sementara Brandish hanya menatap Zeref dalam diam, di dalam kepalanya dia tengah berpikir. Sepertinya Zeref masih baik-baik saja. Dia tidak menjadi gila atau apa. Berarti masih bisa ditangani.

"Hei, aku mau makan es krim Starmaggo ..." permintaan yang tiba-tiba itu membuat Zeref menoleh dengan alis terangkat sebelah.

"Di cuaca dingin seperti ini?"

"Ya. Sekalian juga untuk mendinginkan hati dan kepala seseorang yang tengah terbakar karena habis ditolak."

Zeref merasa ingin menjitak Brandish saat itu juga. Namun, kemudian dia tersenyum. Berdiri sambil mengeluarkan dompetnya untuk membayar tagihan ramen-nya.

"Baiklah. Ayo kita ke Caracall sekarang."

XXX

Jalanan sedikit sepi. Wajar, saat ini sudah nyaris tengah malam. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang lewat. Kebanyakan mobil tidak dipakai di cuaca bersalju seperti ini. Zeref sendiri tidak membawa mobil saat ke kedai ramen. Jadi, sekarang dia menumpang di mobil Brandish—sebagai supir.

"Apa kau selalu selambat ini saat mengendarai mobil?" suara Brandish memecah keheningan.

Zeref tersentak, menatap Brandish sedikit kesal. "Jalanannya ditutupi salju. Kalau tidak hati-hati, nanti terpeleset."

"Aku tadi ngebut, tapi tidak pernah sekalipun terpeleset."

"Karena kau sedikit tidak waras, jadi mungkin kau sama sekali tidak sadar kalau sudah terpeleset." Zeref membalas sinis.

"Hoo .." tersenyum sinis. "Tumben kau bicara sinis. Kau sudah bangkit kembali dari keterpurukan?"

"Bisakah kita tidak usah membahasnya lagi? Kau seakan menaburkan garam di atas luka yang menganga." Ujar Zeref tanpa menoleh.

"Terserah aku."

Alis sang pria bersurai gelap berkedut sesaat. Namun dia memilih diam. Mengajak ngobrol Brandish sama saja memancing emosi yang jarang ia tunjukkan keluar begitu saja.

"Hey, Zeref ..."

"Hn?"

"Kau sama sekali tidak mau menemuinya?"

Kepala hitam menoleh sebentar. "Siapa?"

"Dia,"

"Oh ..." Seolah sadar siapa yang dimaksud, Zeref segera merespon. "Tidak. Lagipula, untuk apa aku menemuinya?"

"Paling tidak, kau harus memberi peringatan pada mantan pacarmu itu. Dia selalu membuat ulah. Membuatku yang sama sekali tidak ada hubungannya selalu kerepotan."

Zeref mengulum senyum. "Dia tidak bisa dihentikan hanya dengan peringatan. Lagipula, dia juga sudah terkurung di penjara."

"Ya, tetap saja. Siapa tahu saat dia keluar, dia akan membuat ulah lagi. Dia 'kan wanita tidak waras. Tidak bisa memilikimu, malah adikmu yang menjadi sasaran pelarian."

Zeref hanya diam. "Oh iya. Ini membuatku teringat."

"Hm?" Brandish menoleh.

"Kenapa kau memberitahu Lucy yang sebenarnya?" mata kelam melirik tajam, membuat Brandish langsung terduduk tegap.

Wanita berambut bob hijau langsung salah tingkah. "Yah, karena aku muak dengan kau yang harus berbohong demi mendapatkan hati wanita itu. jadi kuberitahu dia. Lagipula, dia juga berhak tahu. Tidak baik menutup-nutupi apapun dari wanita yang akan segera kau nikahi." Brandish memalingkan wajahnya. "Kalau itu yang menyebabkan dia menolakmu, aku minta maaf."

Zeref menghela nafas. "Tidak. Aku justru ingin berterima kasih padamu. Rasanya memang sakit melihat dampaknya yang seperti ini. Namun aku juga sadar kau melakukan itu demi kebaikanku juga. Kau bahkan melindungiku. Kau bilang aku sama sekali tidak tahu apa-apa 'kan tentang kebenara itu?"

Brandish mengangguk.

Zeref tertawa, kemudian tersenyum kecut. "Well, memang bukan takdirku untuk menikahi Lucy."

"Kau benar-benar mencintai wanita itu ya?"

Entah kenapa, Zeref merasa bingung mau menjawab apa. Lidahnya terasa kelu saat Brandish menanyakan hal itu. Kenapa dia jadi tidak yakin?

"Entahlah. Mungkin iya, mungkin juga tidak." Setir dibelokkan. Memasuki jalan alternatif yang biasa digunakan sebagai jalan pintas menuju kota Caracall. Cahaya lampu yang berasal dari tiang-tiang yang saling berjauhan membuat jalanan di sana terasa remang-remang. Tidak ada pengendara lain yang juga lewat di jalan ini.

"Jawaban apa itu ..." Brandish mendengus.

"Memangnya itu penting? Toh, aku tidak akan menikah dengannya meskipun aku mencintainya sebesar apapun."

"Tentu saja penting ... bagiku."

"Hm?" Zeref reflek menoleh. Brandish tengah menatapnya. Tatapan wanita itu terlihat sendu. Membuat Zeref sempat terpukau.

"Kau tahu ... Aku sudah sejak lama—"

Mobil berhenti secara tiba-tiba. Membuat tubuh dua penumpang di dalamnya terdorong ke depan, nyaris membentur dashboard.

Wanita berambut hijau segera mengumpat. "Apa yang kaulakukan?! Jangan mengajakku bunuh diri bersama!"

Namun Zeref sama sekali tak meresponnya. Matanya terbelalak, menyorot ke depan. Tubuhnya membeku. Menggumamkan satu nama yang membuat jantung Brandish berdetak lebih keras.

"Sayla ..."

Di depan sana, tepat di hadapan mereka, berdiri seorang wanita yang mengenakan mantel putih. Mulutnya ditutupi masker, rambut panjangnya diikat satu dan ditutupi topi hitam. Ditangannya terdapat pistol yang diacungkan tepat ke arah mereka.

Brandish menggeram. "Kenapa wanita jalang itu ada di sini?!" tangannya hendak membuka pintu mobil, namun Zeref segera mencegahnya.

"Biar aku saja." Ucap Zeref, menatap Brandish dengan tajam. Brandish terpaksa menurut. Membiarkan Zeref turun dari mobil sendirian.

Brandish membuka kaca jendela. Berusaha mencuri dengar apa yang mereka berdua bicarakan.

"Kau kabur dari penjara?" suara Zeref terdengar.

"Diam kau! Semua ini gara-gara kau!" Sayla berteriak. Suaranya terdengar dalam dan serak. Wanita itu membuka masker beserta topinya. Brandish bisa melihat bibir wanita itu yang membiru. Giginya gemelutuk. Rambutnya acak-acakan. Sepertinya dia sudah lama menunggu di sini. Atau jangan-jangan dia sedang berjalan dari Hargeon menuju ke Magnolia dengan berjalan kaki dan tidak sengaja bertemu Zeref? Di cuaca dingin seperti ini? Sekarang Brandish benar-benar yakin kalau Sayla itu 100% sudah gila.

"Apa yang kau inginkan? Kau ingin balas dendam pada Lucy?" tanya Zeref.

"Tidak. Aku akan menghabisi wanita keparat itu setelah aku menghabisimu!"

"Kenapa kau ingin menghabisiku?"

Gigi yang sejak tadi bergemuluk gini menggertak. Sorot kebencian semakin menusuk dari kedua mata violet yang sayu. "Karena ... Kaulah penyebab utama dari bencana yang menimpaku." Jawabnya pelan.

Zeref diam di tempat. Hanya menatap datar ke arah Sayla yang kini menunduk. Menatap kaki telanjangnya yang kini sudah terkubur oleh salju.

"Kau menghancurkan hidupku. Kau dan adikmu sama-sama sudah menghancurkan masa depanku. Aku sudah tidak ingin hidup lagi. Tapi, aku juga tidak ingin membiarkanmu tetap hidup senang di atas penderitaanku."

Ah, Zeref ingat. Dulu, dia dan Sayla pernah dekat sebagai rekan bisnis. Entah dia yang sudah dijebak, atau memang dia sendiri yang melakukannya tanpa sadar, tapi dia telah menghamili Sayla. Gara-gara itu, dia terpaksa harus menikahi Sayla. Itulah awal dari hubungan mereka.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena, Sayla tiba-tiba keguguran. Bayinya tidak tumbuh dengan semestinya di rahimnya. Dia mengalami pendarahan dan bayinya tewas. Meskipun begitu, Sayla tetap memaksa Zeref untuk menikahinya. Zeref tidak mencintai Sayla, dan sangat tidak adil juga baginya harus menikahi wanita yang ambisius seperti adik Mardgeer itu. Dia juga tahu, kalau dia dijebak oleh wanita itu. Hingga dia sampai menghamilinya.

Zeref ingat betul, saat itu Brandish ada di kantornya ketika Sayla menggila, memaksanya untuk segera menikah. Brandish menyelamatkannya, menghajar Sayla dengan tamparan dan kata-kata membunuhnya. Dan setelah itu, Sayla sudah tidak mengganggunya lagi.

Tapi, entah bagaimana wanita itu malah mengincar adiknya. Entah untuk alasan balas dendam atau hanya sebagai pelarian. Karena itu, Zeref pergi ke Hargeon untuk memeriksanya. Dan tepat seperti dugaannya, Sayla berniat mengacaukan pernikahan adiknya. Namun, yang di luar dugaannya, Sayla melakukan itu bukan karena dia ingin balas dendam kepada Zeref—meskipun memang niat awalnya seperti itu—wanita itu bilang dia jatuh cinta pada Natsu. Dan akan memiliki Natsu apapun caranya. Lucy wanita lemah, dia tidak sekuat Brandish. Lucy bukan ancamannya dan dia bisa menghancurkan Lucy kapan saja. Karena itu Zeref berusaha keras menjaga Lucy. Hingga akhirnya dia sadar kalau dia sudah jatuh cinta pada wanita pirang itu.

Zeref menunduk. Melangkahkan kakinya ke depan.

Tapi ... Meskipun begitu ...

Sayla tersentak. Kembali mengacungkan pistolnya.

Zeref tersenyum lemah. Di belakangnya, Brandish terlihat bersiap-siap meloncat keluar dari mobil.

Ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang ... Orang yang selama ini kucintai sebenarnya adalah ...

"Mau apa kau?!" Sayla berteriak. Dia tersentak saat melihat mata Zeref yang menggelap, bahkan lebih seram dari mata Natsu yang menatapnya waktu itu.

"Kau selalu saja menggangguku. Hidupku jadi kacau semenjak kau datang ..." desisnya.

"Zeref!" Brandish keluar dari mobilnya. Wanita itu hendak berlari menghampiri Zeref saat Sayla segera mengarahkan pistolnya ke arah wanita bermanik hijau itu.

"K-Kau! Jangan berani mendekat!" teriaknya. Pelatuk pistol sudah siap ditarik.

"Jangan berani kau mengarahkan pistolmu ke arahnya." Bisik Zeref, dia semakin mendekat. Kedua tangannya bersiap untuk menyergap Sayla.

Sayla mundur selangkah. "Kenapa? Kau mencintainya? Busuk sekali dirimu jika kau mencintai dua wanita sekaligus." Desis Sayla.

Namun, Zeref malah tersenyum. Membuat Sayla sempat terpana beberapa detik. Kesempatan itu segera digunakan Zeref untuk menyerang Sayla, berusaha merebut senjata yang kini menjadi ancaman.

DOR!

Satu buah peluru melesat keluar, mengenai pembatas jalan hingga kayu-kayunya jatuh ke bawah, terjun ke jurang yang dalam.

Pistol itu terlempar ke belakang saat Zeref berusaha merebutnya. Sayla langsung berlari untuk mengambilnya kembali, namun Zeref segera menangkap tubuhnya. Keduanya jatuh dengan keras di atas tumpukan salju dengan tubuh Zeref yang mendekap Sayla.

"Lepaskan!" Sayla berteriak.

"Bri, cepat ambilkan tali tambang di bawah jok mobil belakang!" Zeref berteriak kepada Brandish. Wanita berambut hijau itu tersentak dan segera membuka pintu mobil di belakang. Mencari-cari tali tambang. Sementara Zeref terus mendekap Sayla agar wanita itu tidak bisa merangkak untuk mengambil pistol yang tergeletak tidak jauh dari mereka.

"Lepaskan aku bilang!" Sayla mulai memukuli Zeref secara membabi-buta.

"Menyerahlah! Kau tidak lebih kuat dariku untuk melepaskan diri!" Zeref mulai mengancam.

"Tch!" wanita bersurai hitam panjang berdecih. Sementara Zeref sibuk meneriakkan letak tali yang dicari-cari oleh Brandish.

Sayla diam-diam meraih sesuatu di balik mantelnya. Jangan pikir dia bisa kalah semudah ini. Dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Karena itu ...

DOR!

Zeref membelalak lebar.

DOR! DOR!

Dia membawa dua buah pistol.

Mendengar suara tembakan yang berturut-turut, Brandish segera berlari ke depan untuk melihat apa yang sudah terjadi. Dan saat itulah dia terpaku. Membeku di tempatnya berdiri.

Genangan darah yang diserap dengan cepat oleh salju yang putih. Serta tubuh Zeref yang ambruk di samping Sayla menjadi pemandangan paling mengerikan sepanjang sejarah hidup Brandish. Wanita itu membisu. Bibirnya kaku hanya untuk meneriakkan nama pria yang ia cintai.

"Z ... Zer ..." lidahnya kelu. Tak mampu berkata-kata. Mata hijau yang terbelalak perlahan bergetar dan aliran air mata tiba-tiba keluar kelopak matanya.

Zeref tak lagi bergerak. Sayla menendang tubuh pria itu menjauh. Tertawa keras dengan ekspresi puas.

"Dia sudah mati! Aku berhasil menghabisinya! Hahahaha!"

Zeref sudah mati. Zeref ... Mati ...

Pistol berwarna hitam kini ditujukan ke arahnya. Namun Brandish sama sekali tidak terkesiap. Mata emerald-nya masih terpaku pada tubuh Zeref yang terbaring di atas tumpukan salju. Sudah tidak lagi bergerak. Darah segar terus merembes keluar dari dada kirinya.

"Brandish ... Sudah lama aku ingin melubangi kepala hijaumu itu. Penghinaan yang kau lakukan padaku waktu itu sama sekali tidak pernah terhapus dari ingatanku! Hari ini aku akan menghabisimu! Dan aku akan membuang mayat kalian berdua di jurang itu! hahahaha!"

Brandish masih diam. Namun kini matanya mulai melirik Sayla. Sorot kemarahan terpancar jelas dari manik hijau yang berkilat-kilat. Namun itu sama sekali tidak membuat seorang Sayla gentar. Karena, dirinyalah yang di sini harus ditakuti. Dia punya pistol yang mampu memisahkan roh Brandish dari raganya. Cukup satu peluru di jantung—

DOR!

Sebuah peluru melesat cepat mengenai tangannya. Membuat pistol di genggamannya terjatuh ke bawah. Sayla segera memegangi tangan kanannya yang meneteskan darah. Menatap Brandish dengan sorot kemarahan.

"Kau ..!"

Brandish tidak menyahut. Tatapannya kosong, namun terlihat jelas kalau dia benar-benar marah. Sebuah Wather PPC tergenggam di tangan kanannya.

Padahal pistol ini sudah kugenggam di balik mantelku. Andai saja aku lebih cepat menarik pelatuknya untuk menghabisi wanita iblis ini ... Pasti Zeref tidak akan berakhir seperti ini ...

Sepatu boots cokelat mulai menapaki tumpukan salju. Mendekati wanita bersurai hitam panjang yang tengah meringis kesakitan saat ingin mengambil pistol yang terjatuh di dekat kakinya.

DOR!

Pistol itu terlempar menjauh saat Brandish menembaknya. Sayla tersentak, berniat mengejar pistolnya saat sebuah peluru menembus kepalanya.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Empat buah peluru kini bersarang di tubuh Sayla. Kebanyakan langsung menikam kepalanya dan salah satunya menembus jantung. Wanita itu langsung tumbang ke tanah.

Klik. Klik. Klik.

"Tch," Brandish melempar senjatanya ke samping begitu mengetahui pelurunya sudah habis. Melangkah mendekati Sayla yang ternyata masih bisa bergerak. Tanpa belas kasihan, Brandish menendang wanita itu. Menghajarnya sampai puas hingga tubuh Sayla terlempar ke bawah pohon kering.

Sudah tidak bergerak lagi. Berarti sudah mati.

Kini, Brandish berbalik. Berjalan ke arah tubuh Zeref yang terbaring terlentang.

Wanita berambut hijau itu menempelkan lututnya di atas salju, duduk di samping Zeref.

"Zer ..." panggilnya, pelan. Tak ada ekspresi yang terpancar di manik emerald yang menatap kosong.

Zeref merespon. Matanya terbuka sedikit. Erangan kesakitan terdengar dari kedua belah bibirnya yang juga dialiri darah. Pria itu tersenyum getir ke arah Brandish.

"Kau ... Seharusnya bilang ... Kalau kau juga ... Punya senjata ..." bahkan mengucapkan itu pun pria itu terlihat sangat tersiksa.

Perasaan sakit langsung berdesir di benak Brandish. Wanita itu bisa merasakan kehampaan di hati semakin menjadi saat Zeref dengan susah payah menggenggam tangannya. Membisikkan sesuatu yang membuat hatinya menjerit pilu.

"Aishiteru yo ... Maaf ... Baru bisa mengatakannya sekarang ..."

Genggaman tangan terlepas. Darah yang sejak tadi merembes keluar kini sudah berhenti—seakan pria itu sudah kehabisan darah untuk dikeluarkan. Salju di bawah tubuhnya sudah seperti es serut yang disiram sirup strawberry. Merah darah yang menjadi saksi bisu kematian lelaki tercintanya ...

Air mata tak henti-hentinya mengalir. Bibir yang sejak tadi digigit sekuat mungkin demi menahan isakan, kini mengeluarkan darah.

Brandish mendongak. Berteriak sekeras mungkin kepada langit kelam di atasnya. Butir-butir salju mengenai wajahnya, bercampur dengan air mata hangat yang langsung membuatnya meleleh.

Kenapa? Kenapa akhirnya malah jadi begini?

.

.

Bersambung ...

.

.

AN: Jangan bunuh saya jika ada yang gak terima Zeref mati di fic ini. Sudah tuntutan plot kalau dia harus mati (awalnya memang berniat bikin dia mati di fic ini #maubikindramayangbikinbaper #plak)

Jadi, biar saya jelasin. Penyebab utaman dan juga INTI dari tindakan gila Sayla itu adalah Zeref. Gara-gara gak dinikahin sama Zeref, dia jadi belok ke Natsu. Dan dia merasa hancurnya kehidupannya pun adalah Zeref. Jadi dia kabur dengan bantuan seseorang dan ingin balas dendam sama Zeref dan membawa pria itu ke neraka bersamanya #eaaa #bahasague

Soal perasaannya Zeref, Zeref itu sebenarnya suka sama Brandish, Cuma dianya gak sadar-sadar. Karena, yah, taulah sifat Brandish yang suka bikin kesel hingga Zeref nyaris gak bisa ngerasain perasaan semacam berbunga-bunga sama itu cewek ijo #plak Yang membuatnya menyukai Brandish, Brandish selalu ada bersamanya. Membantunya secara suka rela, begitu peduli padanya. Teman dekatnya sejak SMA. Mungkin semenjak kehilangan Mavis, Zeref mengira kalau dia gak akan bisa mencintai wanita lain. Padahal saat itu Brandish adalah satu-satunya orang yang selalu bersamanya hingga saat ini.

Oke, cukup penjelasannya. Kalau masih ada yang bingung, silakan tanya di kotak review. Dan chapter selanjutnya adalah chapter terakhir. :)

Semoga gak ada yang protes atau benci dengan fic ini nanti, ya ... :D

Saya mau jawab review dulu, ah~

yudi arata: Hmm ... Liat di chap depan aja deh ... XD Btw, Zeref udah tau kok kebenarannya. Kan Brandish dan Invel udah ngasih tau Zeref sejak awal. Cuma, demi melindungi image Zeref (Yang sudah merahasiakan kebenaran dari Lucy), Brandsih terpaksa berbohong pada Lucy kalau Zeref sama sekali tidak tahu apa-apa. Mana mungkin Brandish memberitahu kalau Zeref sebenarnya sudah tau, tapi gak ingin Lucy juga tau kebenarannya. Bisa-bisa Brandish dibenci sama Zeref, dan Zeref dibenci sama Lucy haha. :D

Guest: ZeLu udah kandas ... :"D

Guest: Oke!

ichachan21: Haha! Masih kesal sama Natsu, ya? XD

Chris: Menurutmu? XD #plak

kyousuke Dita: Nah, udah keburu mati Zeref-nya sebelum sempat ngasih tau Luna .. :"D

Tanpa ID: Oke, sip!

Guest: Aww! Cintamu begitu dalam! XD #plak

dindah yuuga: Lucy Cuma lelah karena setiap dia milih bersama Natsu, pasti adaaaa aja yang bikin dia sakit hati. Kokoro juga bisa tewas kalau terus-terusan disakiti lho ... :"D

LRN: Oke! Kamu memang baik karena always mendukung Natsu hingga sekarang! :D

MysteriOues Girl: Eeeehh ... Firasatmu begitu tajam! Tapi tak setajam silet! XD #plak

Cyntiarahma: Oke, silahkan benci fic ini. Dia gak apa-apa kok meskipun dibenci 1000 orang sekalipun :")

Sampoler: Iya, saya memang Author Aho. Saya sadar diri kok kalau saya bego dan brengsek. Tapi suka-suka saya kan mau bikin ending kayak gimana. Toh, ini fic punya saya. Anda kan tinggal baca doang. Kalau gak suka, ya ngapain tetep dibaca? :"D

Ndul-chan Namikaze: Ditangkep polisi doang mana mungkin bikin seorang Sayla jera! Mesti dihabisin dulu sama Brandish! XD Ah! Kamu memberiku sebuah ide tentang Luna dan Alvin!

Fic of Delusion: Yep, endingnya emang 'berdarah-darah' haha! XD

Guest: Haha, tetep setia sama OTP, yah ^q^

Lauralaoo: O-Oke, kamu vote NaLu, yah ... ^^ #sweatdrop

Mellia Tsuzumi Taoru: O-Oke ... Maaf, Zerefnya udah mati. Tolong jangan bunuh saya ^^"

Meganekonyan:Syukurlah kalau kamu merasakan feels sedihnya :"D

Linda D.Y: Oke, ini udah lanjut :)

.

Sampai jumpa di Last Chapter!

Salam manis,

Minako-chan Namikaze