ARDIEKA PROUDLY PRESENT

Black Scandal of The Band

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Story by: Me!

Warning: gajeness nista sumpaahh! Typos bermekaran(?) rated M. OOC. AU.

Don't like don't read. Simple as that.

.

.

CHAPTER 5

'apa yang terjadi sama lu sob?' inner obito.

Ia bingung setengah mati melihat keadaan sahabat nya yang terkapar kejang kejang sambil mengeluarkan busa dari mulut nya, sambil komat kamit berdoa pada kami sama, agar tak terjadi sesuatu yang buruk pada sahabat nya itu. Minato yang sekilas melihat raut wajah obito, hanya bisa menenangkan nya melalui tatapan nya. Obito hanya bisa mengangguk pelan tanda mengerti.

Normal POV

'dimana nih?' inner kakashi menyeruak karena heran tiba-tiba saat ia membuka mata nya perlahan ia ada di sebuah tempat yang warna nya serba putih. Kalu saja ia tak melihat bayngan rid dan obito yang tengah berdiskusi di dekat pintu masuk itu , ia mungkin sudah berfikiran ia ada di surga.

"hhh…"

Minato yang tengah berpelukan dengan kushina di sofa kamar pasien itu antas bangun dan melirik kearah kakashi. Ia lalu tersenyum kearah nya lalu menghampiri nya.

"daijobu ka? Butuh sesuatu? Minum gitu?"

"hm, agak haus juga gue,"

Kushina yang tadi bangkit seraya minato, langsung mengambilkan air didalam gelas yang ada di meja di pinggir tempat tidur pasien. Setelah membantu kakashi untuk minum, kushina lantas mengambil sebuah apel lalu megupas nya.

"mulut mu pasti tak ada rasa nya, aku kupasi apel ya? Sekaligus untuk mengembalikan energy mu, jangan menolak ya,"

"maaf merepotkan mu kushina san, senpai, dimana mereka?"

"taka pa, mari aku suapi,"

"hm, obito? Dia kekantin kali, sama rin mungkin,"

"oh, zetsu?"

"dia tadi lagi ke toilet, udah lu istirahat aja dulu, ada gua sma kushina disini, ga usah khawatir,"

"ne, arigatou senpai, kushina san,"

"tak usah sungkan kakashi kun, aku dan minato sempat sangat mencemaskan mu,"

"iya, aku tau, arigatou ne, dan juga, gomen, sinpai dana.."

"wakata , honto wakata ne, tapi ada yang mau gua Tanya tentang lu,"

"are? Nande?"

"apa yang terjadi sama lu dan obito belakangan ini?"

"minato kun! Apa yang kau lakukan? Dia kan masih sakit?!"

"aku tak apa kushina san,"

"mendingan lu jawab langsung deh, sebelum gua nyari tau sendiri, bisa repot ntar,"

"iya gue tau, tapi gua mina jangan sekarang,"

"kayak ABG aja lu , pake rahasia rahasiaan, apa lu udah anggep gua ini orang lain?"

"buakan, gua Cuma,"

"Cuma apa? Gua tau lu ada feeling sma rin,"

"ahh!-"

"apa? Kaget? Ga usah, gua udah tau, salah lo sendiri ga mau cerita sama gua dari awal, sampe lu senewen sendiri gini,"

"a-ano, bukan nya gua ga mau cerita, temo,"

"toshite? Apa feeling lo itu lbih kuat dan lebih penting daripada friendship kita?"

"bu-bukan, tapi, gua ngerasa hidup gua ini ga adil! Kenapa kami sama ga pernah berpihak sama gua?!"

SREETT!

Minato menarik kerah baju kakashi, hingga kini mereka berhadap hadapan dengan jelas. Kakashi hanya bisa tertegun melihat tampang serius minato.'minato udah serius' itulah ketakutan terbesar nya. Melihat mata minato saat sedang begini tanpa terkedip saja sudah merupakan satu keberanian untuk nya, kalau sudah begini, ia hanya bisa diam. Hanya untuk sekedar mengeluarkan nafas saja tak berani. Apalagi untuk menyahuti nya.

Tapi ada yang lain dari tatapan minato kali ini, walaupun terkesan serius, tapi ada sirat khawatir dan rasa simpati yang kentara disana. Memang benar, minato mengkhawatirkan kakashi sekarang, dan juga ada sedikit simpati disana.

"apa gua harus bertanya sekali lagi? Jangan pernah sekali kali lu ucap di depan gua kalimat ADIL, karena gua tau , sampai kapan pun lu bakalan ga akan pernah tau apa arti kata itu yang sebenarnya,"

"a-ano, go-gomen senpai,"

"pikirin semua yang udah lu perbuat dimasa lalu, jangan pernah lu timpahin kesalahan yang lu buat sendiri, ke orang lain, camkan itu, kushi chan dan gua akan menikah sebentar lagi, sampai hari itu tiba, gua minta dengan sangat sama lu, urungkan niat jelek lu itu, berusahalah bersaing secara positif buat dapetin dia, kalo lu masih anggep gua aniki lu,"

"…"

"minato kun, bisa kita bicara sebentar?"

"hn,"

Mianto dan kushina pun beranjak dari kamar pasien itu lalu berjalan kearah taman di pelataran rumah sakit terbesar se konoha itu. Saat sampai di depan kamar, mereka berpapasan dengan obito dan rin.

"weh? Mo kmane?"

"gue mau nyari lapak dulu buat ngeroko, lu bdua masuk aja, zetsu mana?"

"dia lagi dikantin tadi, laper katanya,"

"lah, abis ke wc, di isi lagi, hahaha.."

"yasudah senpai, kita ke dalam dulu ya,"

"ya, silahkan,"

"dagh, rin chan,"

"yaudah, ntar kabarin aja klo lu bdua mau balik ya?"

"hn,"

Saat obito dan rin masuk kedalam, mereka heran dengan tampang tertegun kakashi yang sudah pucat seperti mayat itu, tapi obito menepis semua fikiran buruk nya itu, lalu menyapa kakashi dengan ceria seperti biasa nya.

"yo! Ngapa lu? Masih ada yang berasa sakiat di badan lu?"

"e-eh? Ga ada, gua Cuma kangen aja sama rin koi,"

"ikh-!"

"sudah sudah, kakashi kun, ini aku bawakan onigiri untuk mu, makan lah, biar kau cepat sembuh,"

"ugh, bentar gue kebelet, bentar yak,"

"ikh, jorok dasar! Yaudah sono lah!"

"hhehe, bangke lu!"

Selepas nya obito keluar kamar, dengan cepat kakashi menggamit telapak tangan rin, rin yang tersentak, hanya melihat kakashi heran. Kakashi menatap wajah rin lama, lalu kemudian,

"apakah sudah sangat terlambat untuk penebusan segala kesalahan ku di masa lalu?"

"kakashi kun, aku, gomen,"

"toshite?"

"aku sudah menyukai orang lain, gomen, kuharap kita hanya jadi teman saja,"

Kakashi yang menggenggam tangan rin dengan kuat, lalu mengendur genggaman nya. Sebenar nya kalu di bilang terkejut, ia tidak terkejut sama sekali karena ia tahu siapa orang nya. Orang yang disukai oleh rin. Yaitu obito, sahabat nya sendiri.

Rin yang menyadari tatapan kakashi yang sekarang sudah seperti orang putus asa itu, hanya bisa menatap nya penuh simpati. Lalu rin menangkup wajah kakashi dengan kedua telapak tangan nya dan mencium nya hangat. Kakashi yang terkejut awal nya mengelak pelan, tapi kemudian ia menyambut ciuman rin yang awal nya hanya sebuah kecupan ringan, kini menjadi sebuah ciuman dan lumatan lumatan hangat. Saat mereka selesai, terlihat benang saliva yang masih terpaut diantara bibir mereka, rin menghapus jejak saliva nya di bibir kakashi dengan sapuan ibu jari nya, lelehan air mata kini mengalir di kedua pipi nya. Kakashi pun kini menangis di depan rin, air mata nya turun lebih deras dari milik rin, seakan sadar ciuman tadi adalah kado perpisahan rin yang terakhir terhadap perasaan nya. Karena memang itulah maksud yang ingin rin sampaikan pada kakashi.

Dari luar, ternyata obito tengah menatap mereka berdua lewat jendela kamar yang setengah terbuka itu dengan tatapan pilu. Ada yang retak di sisi hati nya yang terdalam itu. Rasa sesak langsung memenuhi relung hati nya. Sahabat nya sendiri berciuman dengan gebetan nya di depan mata nya langsung. Dan juga percakapan yang mereka katakan juga ia dengar, semuanya, jelas , sangat jelas.

Tatapan nya berubah sendu. Jejak tangis nya sudah ia hapus. Degupan jantung nya ia normalkan kembali dengan alur nafas yang teratur. Pikiran nya ia jernih kan kembali. Obito melangkah masuk kedalam kamar dengan cengiran degil khas nya. Berusaha tak memperdulikan acting dua sahabat nya itu yang terlihat kaku. Berharap rasa sesak nya tak keluar saat menatap mereka. Api yang obito tak ketahui adalah, saat itu ada tiga hati yang sama-sama hancur. Ada yang mengeluarkan air mata selain diri nya saat itu. Entah karena apa, ia sangat ingin pulang ke kosan gembel nya, lalu pergi sejauh jauh nya dari hadapan mereka berdua. Namun ia urungkan niat nya itu. Lalu,

Rrr… rrr….. pik!

"ne, moshi moshi? Oh, ye ye, ha'I wakarimasita, ne, sakamoto san, ha'I , ne, sayonara,"

"ada apa?"

"gak, itu tadi sakamoto san, dia nanyain lu berdua, sekaligus nyuruh gua ke lab nya, ada yang mau dia titipin buat tugas kuliah besok, gpp kan gua tinggal? Rin chan mau pulang gak?"

"umh, arigatou ne obito kun, aku masih akan disini sebentar lagi, masih ada minato senpai dan kushina chan kok, nanti aku sama mereka aja,"

"oh, begitu yaa…" jawab obito dengan acting kecewa nya,

"ha'I, gomen ne,"

"ne… daijobu, yaudah gua titip rin chan yah?"

"iya gua tau, ga usah lu omong juga gua bakalan jagain dia walaupun gua lagi sakit,"

"sialan lu, udah ah, jaa.."

"jaa,"

Obito pun ngeloyor keluar kamar dengan sesak tak terkira di hati nya, saat keluar dari pintu padahal dia gak tau harus ngapain dan kemana, karena tadi ia berbohong.

Dari jauh, minato yang sedang duduk di kursi taman itu, hanya menatap obito dengan tatapan galau.

~TBC~

REVIEW PUHLEASE….

Gomen minna….

Saya mohon jangan bunuh saya…. Saya seneng sekali begitu lihat udah ada yang review untuk fic saya yang gaje dan nista ini… arigatou nee.. honto arigatou…

Sekali lagi, mohon review nya minna…

#puppyeyesnojutsu