terima kasih untuk semua yang telah membaca. terima kasih kepada AyaKira SanOMaru, Della dan Robbia, HaniHaniko19, Hidekazu (terima kasih reviewnya!), Letty-Chan19, SeiraMili12, , lastriie d'quelless, your fave and follow are the ultimate booster!


Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki

The Story Between Us is Another Section of A Theme Park © altaira verantca

Rated : T

Genre (s) : Friendship | Romance

.

.

Summary : Namaku Aomine Daiki, 19 tahun, seorang bodyguard. Tugasku hanya satu dari Pak Tu—Tuan Besar Masaomi : menjaga anaknya dari segala mara bahaya. Tidak. Aku tidak akan memberitahumu identitas dari Sei—crap! Aku tidak mengatakan apa-apa! Diam kau! Jangan tertawa!

.

warning : this series has several genderbend characters and straight pairings. if these criteria are not your cup of tea, this is the right time to hit close or back panel.

.

"Kita bisa berpencar untuk membeli takoyaki dan yakisoba, lebih hemat waktu."

"Tidak boleh." Genggaman tangan Daiki mengerat saat mengatakannya, kedua mata tak kunjung berhenti menilik keadaan di sekitar. Mereka belum satu jam keluar dari rumah dan ia sudah merasa lelah luar biasa. Siapa pula yang tidak akan tertekan kalau tiap pria selalu saja mencuri pandang ke nonanya satu ini, padahal sudah ia gandeng.

Jangankan orang lain yang belum tentu setahun sekali bertemu nonanya, Daiki sendiri yang tiap hari harus bersamanya mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi saja sulit untuk berpaling saat ini.

Tidak ada yang mengalahkan yukata dan rambut digelung, batin Daiki. Sayang ukuran dadanya kurang mumpuni.

"Kau akan lapar di tengah kita mengantri untuk makanan berikutnya, Daiki."

"Beli yang banyak kalau begitu. Tiga kotak sekaligus, yang isi dua belas."

"Curang sekali kalau kau bisa makan sebanyak itu tapi perutmu tetap rata, Daiki."

"Aku yang harus bertanya padamu bagaimana caranya dadamu tidak tumbuh meski minum susu tiap hari, No—Hei! Aku bercanda! Tidak perlu mencubitku begitu juga, Nona!"

Seira tidak peduli. Biar saja kulit lengan Daiki besok lebam karena cubitannya. Bahkan, seharusnya ia dicubit dua kali lebih keras dari yang ini.

"Sudah kubilang untuk tidak memanggilku begitu kalau kita hanya berdua, Daiki."

.

dua : gurih takoyaki dan es serut stroberi yang tinggal separuh

.

Ada setapak di belakang deret kios makanan yang mengarah ke halaman di samping kuil. Ujungnya tebing, memang, namun terdapat pagar pembatas setinggi pinggang Daiki. Cukup tinggi dan kuat, juga ditempeli beberapa marka kotak merah yang menyala dalam gelap. Kecuali memang mau bunuh diri, sangat jarang orang jatuh dari tebing tersebut.

Daiki dan Seira memilih duduk di satu bangku kayu panjang yang tersisa—lainnya sudah terisi entah oleh sekumpulan keluarga atau satu-dua pasangan yang duduk berdempetan rapat. Tidak kotak takoyaki mereka letakkan di tengah, berikut dua botol air mineral dingin yang masih bersegel.

"Seingatku, dulu tidak seterang ini,"ucap Seira, tak lupa menggumamkan terima kasih kepada Daiki yang menyodorkan kotak takoyaki isi enam padanya.

"Terakhir kali kau kemari itu sudah lima tahun yang lalu. Jelas saja sudah beda."

"Tidak. Dua tahun lalu aku kemari, saat kau masih di akademi."

Tangan Daiki berhenti dari kesibukannya membuka kotak takoyaki kedua. Ia tatap nonanya yang tengah menusuk-nusuk tiap bola takoyaki agar uap panas dalamnya keluar.

"Dengan siapa?"

"Tetsuna dan Taiga," balasnya, tanpa mengadah, memilih untuk menikmati uap panas berbau tepung, bawang, dan saus pekat gurih manis.

"Oh. Jangan pergi sendirian, Non—Sei." Daiki menjilat bibirnya sendiri, lalu menghela nafas pendek. Seolah baru saja lolos dari satu jebakan yang bisa membawa lebam bekas cubitan baru di kulitnya.

"Kalian terlalu protektif."

"Demi keselamatanmu," jawab Daiki singkat di sela tiupannya untuk mendinginkan satu bola camilan isi daging gurita itu.

Seira tidak membalas ucapan Daiki yang, memang harus ia akui, mengandung kebenaran. Kehidupannya tidak semanis yang orang-orang bayangkan sampai-sampai kesehariannya tak lepas dari pengawasan dan penjagaan dari pihak-pihak yang terlatih dan berani mengorbankan nyawa untuknya.

Kalau ada orang yang memintanya untuk membuat 10 daftar keuntungan menjadi anak perdana menteri, mungkin ia akan menelpon anak perdana menteri negara lain dan meminta pendapatnya. Mungkin. Kalau dia sedang suntuk dan media terlalu kehabisan bahan gosip soal para keturunan politikus dan anggota kabinet Jepang sampai memilih topik itu untuk diajukan padanya.

"Kau ini kebanyakan mikir, Sei," komentar lain terlontar dari mulut Daiki saat ia mendapati nonanya diam dan larut dalam pikirannya sendiri. "Nih."

Satu bola takoyaki sudah disodorkan ke depan mulutnya. Siapa lagi kalau bukan Daiki yang melakukannya, setelah berkali-kali meniupi uap panas yang bisa membakar lidah sensitif nonanya tersebut.

"Masih panas."

"Sudah kutiup, duh!"

Kekeh ringan lolos dari bibir tipisnya, juga kerut di ujung mata yang melembut. Seira melempar pandang ke bodyguardnya tersebut, lalu ke arah kotak takoyaki yang kini tersisa sebelas bola saja.

"Pengertian sekali," ucapnya, lalu meniupi takoyaki di depannya beberapa kali lagi. Setelah yakin, ia tangkupkan sebelah tangan di dekat mulutnya, menghalangi pandangan dari Daiki ketika ia membuka mulut guna melahap satu bola camilan tersebut bulat-bulat. Sayang, pipinya yang kemudian menggembung setelahnya sama sekali tidak bisa ditutupi, satu hal yang diam-diam Daiki apresiasi dengan sangat.

Yang langsung buyar ketika Seira menepuk kedua pipinya cepat. Berkali-kali sambil membungkuk seolah berusaha menahan nyeri yang tiba-tiba menyerangnya.

"Sei? Kenapa?" Daiki segera menaruh kotak takoyakinya, beranjak dari bangku dan segera berjongkok di hadapan Seira. Tangan berkapalnya merengkuh kedua tangan Seira, menahannya agar ia tak terus menepuk kedua pipi kenyal tak bersalah itu. "H-hei! Berhenti dulu. Pipimu makin sakit nanti, Sei."

Tak dapat lagi menggerakkan kedua tangannya, Seira diam membungkuk di tempat. Hanya nafasnya yang terdengar lebih cepat dan keras yang dapat Daiki dengar. Perlu waktu beberapa detik kemudian sampai Seira akhirnya mendongak, matanya berair seolah nyaris menangis.

"Hanas...," keluhnya pelan, menatap kedua mata Daiki tanpa niat menyalahkan.

Rasanya, Daiki ingin sekali membenturkan kepalanya ke tanah sampai berdarah agar fokusnya berganti untuk mengambilkan nonanya air minum dingin daripada mengusap sisa saus di bibir tipis yang kini tampak mengkilat oleh minyak itu.


"Aominecchi! Akashicchi!"

Sapaan riang familier itu menghentikan tangan Seira yang tengah menyuapkan es serut rasa stroberi ke mulutnya, serta kunyahan nikmat Daiki akan potongan cumi bakar panasnya. Keduanya sama-sama menoleh ke arah sumber suara, mendapati sosok yang sudah tidak asing lagi tengah berlari kecil menentang arus keramaian mendekati mereka berdua.

"Selamat malam, Kise."

"Selamat malam, Akashicchi! Ah, yukatamu manis sekali! Tas serutmu juga!"

Seira menanggapinya dengan senyum, tidak terpengaruh dengan pujian yang dilontarkan oleh salah satu temannya tersebut. "Terima kasih, Kise. Namun, sepertinya pujian tersebut seharusnya ditujukan kepada Daiki malam ini." Jeda sejenak ketika Seira memperhatikan arah pandangan Kise yang beralih darinya ke bodyguardnya. "Ia yang memilihkan semua yang kukenakan malam ini."

"Benarkah?" Kagum dalam satu kata itu turut terpancar dari sepasang mata berwarna kuning madu itu, membuat Daiki merinding saking berbinarnya. "Lain kali kau harus memilihkan satu set yukata juga untukku, Aominecchi!"

"Hahaha... Terima kasih atas tawarannya, Nona Kise. Tapi saya menolak."

"Hanya memilihkan pakaian! Tidak sampai satu jam, kok!"

"Tidak, no—"

"Mau, kan? Minggu depan juga bole—"

"Kubilang tidak ya tidak, Kise! Kau tidak de—aw!"

"Kau tidak boleh membentak nona kami seperti itu, Aomine. Bukankah sudah berkali-kali kuperingatkan?"

Daiki mengusap belakang kepalanya yang kini terasa agak nyeri setelah digetok, merutuk tanpa kata seraya berbalik dan menghadapi dua sosok laki-laki di hadapannya. Berbeda dengannya yang mengenakan kaus dan celana pendek, keduanya memakai kemeja lengan pendek dan celana kain yang cocok untuk kerja di gedung berpendingin ruangan.

"Imayoshi," gerutunya, lalu menoleh ke sosok satunya, "yo, Haizaki."

"Kau tampak semakin bodoh pakai baju macam itu," ejek laki-laki berambut abu-abu sebagai balasan.

Daiki mencibir, mendengus pendek sambil menggigit potongan terakhir dari camilan gurihnya. "Setidaknya bukan aku yang harus bekerja sampai jam segini dan tidak sempat ganti baju yang cocok untuk festival."

Laki-laki itu sudah menggeram dan hendak membalas ucapan Daiki saat suara dengan logat Kansai yang khas itu menyelanya. "Kalian akan tinggal sampai acara kembang api?"

"Festival belum bisa dikatakan berakhir tanpa pertunjukkan kembang api, bukan?"

Kali ini giliran Seira yang menjawab. Senyum tipis di wajahnya hanya mengembang dalam aksen kesopanan, ditujukan kepada Imayoshi Shouichi—pria berkacamata dan bicara dengan logat Kansai—dan rekannya Haizaki Shougo—laki-laki yang tak jauh lebih tua dibandingkan Daiki dan berambut abu-abu.

"Ah, kalau Nona Akashi yang mengatakan itu, pasti itu yang menjadi kebenarannya," balas Shouichi dengan sopan yang membuat Daiki ingin melempar botol air ke wajahnya.

"Kalian ini susah sekali akurnya, ya," protes majikan dari kedua bodyguard tersebut. Entah sejak kapan ia sudah menggandeng lengan Seira, menempel padanya seperti sepasang sahabat paling karib sedunia. "Aku ingin menikmati festival ini bersama Aominecchi dan Akashicchi tanpa kalian adu mulut! Paham?"

Hanya Shougo dan Daiki yang langsung melengos ke arah lain dan mencibir satu sama lain. Shouichi hanya mengangguk dan kembali menawarkan senyumnya. "Kalau itu yang Nona Ryoko minta, akan kami usahakan sebaik mungkin."

Hanya ketika Ryoko cemberut dan mulai mengomel kepada Shouichi, Seira tertawa pelan sembari memberikan es serutnya kepada Daiki. Tanpa perintah meminta orang kepercayaannya tersebut untuk menghabiskan separuh rasa stroberi tersebut.


"Akashicchi yakin tidak mau naik mobil saja denganku? Masih cukup, kok!"

Seira menggeleng, sisa tawa masih tertinggal di rat wajahnya. Melunakkan ekspresi yang biasanya tertata dalam etika dan sopan.

"Terima kasih atas tawaranmu, Kise. Namun, aku dan Daiki masih bisa naik kereta terakhir."

"Tidak aman, lho!"

"Kau mengejekku, ya?"

"Aominecchi mudah tersinggung, huh!" Lagi-lagi ia cemberut melihat ucapannya yang dibalas sewot oleh Daiki. "Jaga Akashicchi yang benar lho, Aominecchi! Kalau tidak nanti akan aku laporkan paman!"

"Berisik. Sana sudah kau cepat pulang!"

"Aominecchi yang berisik!"

Adu mulut kekanakan mereka baru berhenti ketika Seira mendorong pundak Daiki agar menjauh dari mobil yang akan membawa Ryoko ke kediamannya.

"Sudah malam, Kise. Aku undur diri dulu."

Melihat ujung mata Seira yang melancip, Ryoko tanpa sadar langsung duduk tegak di tempatnya. "Ah, baiklah. Selamat malam, Akashicchi! Sampai jumpa lagi!"

Anggukan Seira dan balasannya yang lugas menjadi penutup percakapan mereka malam itu. Mereka berdua berjalan lambat beriringan sampai suara deru mobil yang membawa Ryoko berserta kedua pengawalnya tak lagi terdengar di tengah malam sepi tersebut.

"Jadi? Kau mau aku menelpon rumah untuk mengirim mobil kemari?" Daiki bertanya sesaat setelah mengecek waktu di jam tangannya. "Kereta terakhir baru saja lewat satu menit yang lalu."

"Oh, benarkah?"

"Jangan pura-pura tidak tahu, Sei. Kau tahu, bukan?"

Tawa pendek nan ringan menjadi satu-satunya respon yang dapat Daiki artikan sebagai pembenaran dari pertanyaannya. Nonanya memang selalu begitu, dari dulu. Awalnya Daiki bisa jengkel luar biasa. Namun, seiring waktu, hal-hal semacam ini yang membuat Daiki selalu siap dengan rencana cadangan dalam berbagai kesempatan.

"Tidak perlu." Ucapan sekaligus tangan Seira yang menutupi layar ponselnya membuat Daiki mendongak. Hanya untuk mendapati sebuah ringo ame disodorkan ke hadapannya. "Kita bisa berjalan sambil menikmati ini."

"Lalu membiarkanmu berjalan dua setengah kilometer, begitu?"

Seira mengangkat bahunya singkat. Kemudian membuka bungkus permen apel yang lalu ia selipkan di celah antara lengkung telapak Daiki dan ponselnya. Ia membuka permen miliknya sendiri, dan menggigitnya kecil sebelum akhirnya mengungunyah dan menelannya.

"Satu stasiun, Daiki. Satu stasiun."

Kembali, bunyi geta beradu dengan aspal menjadi pendengar bagi protes yang Daiki lontarkan penuh ketidaksetujuan. Runut protes yang baru berhenti ketika Seira kembali menggenggam tangan Daiki dan menautkan jemarinya erat-erat.


Akashicchi minggu depan mau ikut ke Okinawa? ヽ(∀ )ノ

Seira baru membaca pesan tersebut ketika ia sampai di rumah. Lipat antara jempol dan telunjuk kakinya sakit karena berjalan cukup jauh memakai geta. Ia baru membalas pesan di aplikasi berbincangnya itu setelah sebaskom air hangat bergaram aromaterapi meringankan nyeri yang didera kakinya.

Tidak. Aku akan pergi ke Inggris selama satu minggu, Kise.

Balasannya datang nyaris seketika, lengkap dengan sederet stiker baik yang diam, bergerak, ataupun bersuara.

Enaknyaa! 。・゚゚*(д)*゚゚・。 Akashicchi pergi sendiri? Sudah lama aku tidak ke Inggris! Mau ikut! 。゚(。ノωヽ。)゚。

Seira hanya membalas dengan : Bersama Tetsuna, Daiki, dan Taiga. Tanpa stiker.

INI DOUBLE DATE YA?! \(º □ º l|l)/ AKU AKAN LAPOR MIDORIMACCHI! ヽ( ̄д ̄;)ノ=3=3=3

Seira hanya tersenyum kecil melihat nama itu disebut. Tanpa sadar sudah menuliskan balasan lain untuk temannya tersebut.

Dia akan menyusul di hari ketiga. Ada kunjungan yang harus ia lakukan selama di sana.

Wah, Akashicchi tidak bisa main banyak-banyak sama Aominecchi kalau ada Midorimacchi, dong! Harusnya aku ikut saja biar bisa main sama Aominecchi! o(><;)○

Pesan tersebut Seira baca ketika masih dalam bentuk pop-up, dan ia tidak merasa perlu untuk membalasnya. Sembari memijat betisnya dengan lotion wangi lavender, matanya kembali menangkap satu pesan lain dari Ryoko.

Meski bertunangan, Akashicchi dan Midorimacchi tidak pernah gandengan tangan seperti tadi dengan Aominecchi, ya. ( ̄  ̄|||) Hati-hati lho, Akashicchi! Mata orang kerajaan itu ada dimana-mana!(ノ_;)ヾ(´∀`)

Tanpa membalas, Seira meraih ponselnya lalu menekan tombol power sampai barang elektronik itu mati.


A/N : Selamat malam. Terima kasih karena kalian sekali lagi telah mampir dan membaca chapter kedua ini. Lebih sedikit 700 kata dibandingkan chapter pertama, memang. Namun, semoga kalian tetap terhibur, ya! Pada chapter ini, empat karakter lagi sudah muncul, termasuk Midorimacchi yang notabene merupakan tunangan Akashicchi! Who said this series will be all Aomine and Akashi? /winks/

Ah, satu hal yang penting. Akan terjadi perubahan genre pada chapter depan, atau dua chapter depan. Genre. Yes.
Again, terima kasih sudah membaca, ya! Comments would be lovely! See you next time!