terima kasih kepada semuanya yang sudah membaca. lastriie d'quelless, night kanaze, HaniHaniko19, dan KAmichiZU untuk review yang kalian berikan. Akashi Aoi, Elle Yuya Lee, KAmichiZU, Rein Hiirota, italwaysbeme, Fujisaki B-Rabbit New, serta semua yang sudah mampir dan mengategorikan cerita ini di bagian 'ikuti' dan 'favorit'. terima kasih!
warning : this series has several genderbend characters and straight pairings. if these criteria are not your cup of tea, this is the right time to hit close or back panel.
.
Satu hal yang seringkali membuat Shintarou tidak nyaman ketika bersama Seira adalah : publisitas.
Bukannya ia tidak biasa menghadapi gerombolan wartawan yang selalu haus berita dan tak henti mengambil fotonya. Hanya saja, ketika bersama Seira, jumlah mereka menjadi jauh lebih banyak, lebih ribut, dan lampu kilatnya seolah tak pernah mati.
"Kadang kala kau terlalu kaku, Shintarou-san."
Ucapan Seira hanya dibalas dengan lirikan pendek sebelum pemuda tersebut kembali pada cangkir tehnya. Mengaduk gula kubus yang baru saja ia cemplungkan ke dalam cairan berwarna merah kecoklatan tersebut.
"Seharusnya ada garis batas yang memisahkan wilayah pers dan figur publik," ucapnya terdengar berkilah. Ia membetulkan posisi kacamatanya dengan mendorong bingkainya ke atas sedikit. "Keselamatan orang yang ingin mereka liput patut dipertanyakan apabila cara mereka tetap seperti itu."
"Kalau ini di Jepang, aku yakin hal itu lah yang akan terjadi," balas Seira, tanpa mendongak. "Sayangnya, saat ini kita tengah berada di wilayah kerajaan lain, Calon Putra Mahkota."
Midorima Shintarou berhenti mengaduk tehnya. Kali ini dipandangnya sosok Seira di hadapannya lekat-lekat. Jengkel dan senjumput merah tergambar di wajahnya, kontras dengan hijau jamrud mata dan segar rambutnya.
"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu."
Seira tertawa pendek. Meletakkan sendok pengaduknya di tepi lalu mengangkat cangkir tersebut dengen kedua tangan, membawanya hingga tepinya sejajar dengan bibirnya. Matanya bertemu dengan hijau cemerlang di hadapannya, seulas senyum tipis bertengger di wajahnya
"Sudah kubilang kalau kau terlalu kaku, Shintarou-san."
Shintarou tidak lagi menjawab. Gerutunya hanya dilampiaskan pada badan boneka kelinci yang duduk di pangkuannya, hanya untuk membuat Seira kembali tertawa pendek karena tingkah yang ia anggap sedikit kekanakan.
Ia tidak akan pernah mengakui kepada siapapun bahwa pertunangan politik antara dirinya dan Seira seringkali menjadi hal yang membawa setarik senyum di wajahnya pada penghujung hari. Bahwa tawa pendek Seira ketika bersamanya dan senyum tipis putri perdana menteri itu ketika mendengarkan ceritanya merupakan hal yang termasuk dalam daftar favoritnya.
Karena Midorima Shintarou tidak akan pernah membicarakannya. Karena memenuhi halaman utama koran gosip merupakan hal yang paling Seira benci sejauh pengetahuannya.
Daiki tengah menelan kekalahan kelimanya dalam permainan poker malam itu ketika ponselnya berbunyi singkat, menandakan satu notifikasi percakapan masuk. Masih dengan kerut kesal yang membingkai kedua matanya, ia raih ponselnya dan mengecek pesan yang baru masuk.
Hanya untuk mendapati sebuah foto roti keju panggang dengan satu pesan di bawahnya : '5 menit.'
"Seira-san?" tanya Tetsuna ketika Daiki segera bangkit dari tempat duduknya dan meraih jaket yang tersampir di sandaran kursi. Ia mengedikkan bahunya singkat selagi menghabiskan jus apel di gelasnya.
"Aah, seperti biasa," jawab Daiki sekenanya, "aku berangkat."
Baik Tetsuna dan Taiga hanya menatap Daiki yang berlalu dan baru kembali menatap tumpukan kartu serta coklat koin di hadapan mereka setelah bunyi pintu yang tertutup terdengar. Bagaimana pun, bermain kartu kalau hanya 2 orang itu kurang menyenangkan.
Terima kasih kepada teknologi GPS yang membuat Daiki dapat menemukan lokasi nonanya dengan mudah. Namun, mencari nonanya di tengah kerumuman kawasan komersial Mayfair menjadi persoalan lain. Terlalu banyak kios dan toko serta orang di daerah itu, membatasi ruang pandangnya. Dengan tergesa ia kembali mengecek layarnya, memastikan ponselnya dapat mendeteksi sinyal dari ponsel nonanya.
Seratus meter, tulisan itu tertera di ponsel Daiki. Ia menarik napas pendek dan kembali mempercepat langkahnya, tak tahan untuk merasa lega begitu angka di ponselnya menunjukkan angka sembilan puluh, dan terus berkurang.
"Kau terlambat satu menit, Daiki."
Sosok yang ia cari berdiri di bawah lampu jalan, menggenggam setangkup roti panggang keju di kedua tangan. Tas tangan tanpa tali ia apit di ketiak dan seolah balutan jaket selutut coklat muda tersebut tidak mampu menahan dingin udara malam, kedua lengannya mengapit tubuhnya seolah itu bisa menghalau suhu rendah. Nonanya tersenyum, tipis sekali, dan cahaya yang menimpanya mampu membuat Daiki melihat kilat minyak di sudutnya. Entah berapa lama nonanya sudah berdiri di sana sampai ujung hidungnya bersemu merah seperti rusa natal.
"Dan rotimu masih tetap saja belum habis, No—Sei." Segera ia meralat ucapannya melihat tatap nonanya yang menajam. "Ia menurunkanmu di sini?"
Seira menggeleng, tanpa bicara ia sodorkan secarik roti yang ia sobek kepada Daiki, tanpa kata meminta laki-laki itu memakannya. "Aku sendiri yang kemari setelah mobilnya pergi. Enak?"
"Akan lebih enak kalau ada dagingnya," komentar Daiki setelah potongan roti di mulutnya habis. "Ayo pulang, Sei."
Seira diam di tempatnya, menyobek sedikit roti lagi dan kembali menyodorkannya kepada Daiki. Ia tak peduli dengan Daiki yang mendengus kesal, namun meraih pergelangan tangannya agar tak perlu menunduk terlalu dalam demi secarik roti yang tak panas lagi.
"Tetsuna memintaku membelikan beberapa macaroon, dan ada satu kedai daging panggang di sebelahnya. Kau akan menemaniku?"
Tidak ada opsi lain yang dapat Daiki pilih selain menuruti apa yang nonanya inginkan, bukan? Meninggalkannya sendirian di tengah negara orang dan kembali ke tempat mereka menginap juga sama sekali tidak terlihat keren. Selain itu, bagaimana ia bisa menolak nonanya yang kini sudah menggandeng tangannya, tanpa ragu?
"Makan malamnya tidak menyenangkan?"
Mendengar ucapannya, Seira menghentikan langkahnya sejenak. Hanya untuk melepaskan genggamannya dari tangan Daiki yang membuatnya merasa hangat. Kembali ia menggigit roti panggang di tangannya yang lain, sebelum menyodorkan sisanya agar dihabiskan oleh Daiki.
"Shintarou-san memiliki caranya tersendiri dalam membawa diri dan mengarahkan percakapan," jawabnya diplomatis, "aku menikmatinya."
"Hoo," balas Daiki singkat, tidak terlalu ingin membahas topik ini dengan sang nona, sebenarnya. "Lalu, makanannya tidak enak? Sampai makan roti keju lagi."
Percakapan mereka terpotong ketika Seira mempercepat langkahnya dan masuk ke satu toko yang menjual manisan bulat bertumpuk yang dari warnanya saja bisa membuat gigi Daiki sakit. Ia hanya berdiri di luar, mengamati nonanya berbincang dengan penjaga toko dan memilih satu demi satu bulatan untuk dikemas dalam kardus putih berpita lewat kaca etalase. Ia bisa melihat bagaimana nonanya beralih ke sisi lain toko dan memesan sesuatu kepada penjaga toko yang lain, bagaimana ia menunjukkan dua jarinya sembari bicara.
Mereka hanya terpisah kaca dan Daiki bisa merasakan bagaimana dadanya terasa membawa benda berat.
"Coklat hangat," ucap Seira ketika ia kembali, memberikan satu gelas karton kepada Daiki yang tercenung sendirian.
"A-ah, terima kasih." Daiki hanya bisa menerima bagiannya dan meniup kepul asap dari permukaannya. "Hati-hati masih panas, Sei." Ia urungkan niatnya untuk segera menyesap minumannya dan memilih untuk mengawasi nonanya yang tengah meniupi coklat hangatnya agar mendingin.
Tidak ada lagi yang bicara di antara mereka sampai mereka mengantri untuk membeli daging panggang seperti apa yang diusulkan oleh nonanya. Daging mana yang seharusnya Daiki pilih, saus mana yang tampaknya enak, bahkan meminta tambahan tomat dan selada di pesanan mereka. Penjualnya memberikan dua garpu dan tisu ekstra tanpa diminta, serta tertawa panjang saat Seira menatap Daiki lekat karena protes akan sayur yang banyak. Selamat menikmati malam, ujarnya sebelum mereka pergi.
Mereka berjalan hingga sampai di Hyde Park, memilih untuk duduk di salah satu bangku taman dan menatap danau gelap di hadapannya. Kerlip cahanya dari lampu-lampu jalan terpantul di danau, tanpa riak yang mengaburkan refleksi di permukaannya. Seira tetap dengan coklatnya yang tinggal separuh, dan Daiki yang mulai mengunyah kentang dan daging panggangnya.
"Shintarou-san akan kuliah di sini."
Ada jeda yang diisi dengan suara kecapan Daiki mengunyah selada, disusul dengan satu ujar pendek tanda ketidakpeduliannya. "Oh. Lalu?"
"Dia mengajakku untuk mengambil sarjana di universitas yang sama begitu aku lulus nanti."
Daiki masih sempat menelan satu potongan daging dan melirik ke arah nonanya yang tatapannya melekat ke danau kelam di hadapan mereka tanpa ekspresi yang bermakna. Nonanya pintar, sangat malah. Mau masuk di universitas mana saja di seluruh dunia pasti bukan masalah. Daiki yakin soal itu.
"Lebih bagus daripada Todai?"
"University of London menduduki peringkat keempat di dunia."
"Kalau begitu jangan mau. Kecuali kau diajak untuk kuliah di universitas nomor satu dunia, tolak saja tawarannya."
"Ujar orang yang menolak tawaran ayahku mentah-mentah untuk kuliah, ya."
"Hey!"
Seira tertawa pendek sebelum menghabiskan coklat hangatnya kemudian menyandarkan sisi tubuhnya pada Daiki. Tatapannya melayang dan jatuh ke deretan lampu taman, warnanya yang kekuningan tampak seperti lentera di festival.
"Tahun depan aku ingin ke Mitama Matsuri."
"Kau masih kesal gara-gara tidak jadi ke festival Mitama kapan hari?!" Daiki sendiri sampai nyaris tersedak mendengar keluhan nonanya yang kini terdengar seperti rajukan anak SMP.
"Tahun depannya juga."
"Iya, aku paham."
"Tahun depannya lagi. Lagi. Lagi. Seterusnya." Berat tubuhnya semakin ia sandarkan kepada Daiki seiring dengan kata yang Seira ucapkan. Membiarkan dingin di permukaan jaket kulit Daiki mengecup pipinya.
"Kau ini mengigau atau mabuk, sih? Coklatmu tadi tidak pakai rum, kan?" Daiki mengambil gelas kosong milik Seira dan mencium aromanya, tidak menemukan aroma selain coklat pekat.
"Tiga tahun lagi."
"Ha?"
"Mereka memintaku untuk menikah dengan Shintarou begitu umurku 20."
Daiki tidak mengatakan apa-apa, hanya menggenggam garpunya lebih erat. Detik berlalu tanpa ada satu dari mereka yang bicara, hanya Daiki yang terus mengunyah.
"Kalau begitu, sampai namamu berubah jadi 'Midorima' nanti, aku akan menemanimu ke Mitama Matsuri, Sei."
Pernyataan itu bersamaan dengan sepotong daging hangat yang mengecup bibir Seira, menggelitik indra penghidunya dengan aroma merica hitam dan daun basil. Ia sudah kenyang, namun Daiki tidak akan menarik tangannya sebelum ia memakan sajian kecil itu.
"Antara 'Akashi Seira' dan 'Midorima Seira', mana yang lebih kau suka, Daiki?"
Kesempatan itu digunakan Daiki untuk menyuapkan potongan daging ke dalam mulut Seira, dan tertawa pendek karena nonanya ganti memukul punggungnya ringan. Kentangnya sudah habis, tersisa beberapa butir tomat ceri dan lembar selada, dagingnya masih cukup banyak untuk menjadi penawar dari sayur-sayur tersebut.
"Siapapun namamu nanti, kau selalu seorang 'Sei' di mataku. Kau tahu itu, bukan?"
Seira tetap pada posisinya, bersandar pada sisi tubuh Daiki, dengan jaket kulit yang kini terasa hangat di pipinya. Pertanyaan retoris Daiki tak perlu ia jawab, karena sang penanya pun sama sekali tak mengharapkan balasan. Namun, tanpa Seira sadari, senyum yang terbentuk di bibirnya tertangkap oleh mata jeli Daiki, membuat sang bodyguard ingin menyuapkan beberapa butir tomat ke mulutnya.
"Itu karena kau tetap memanggilku 'Seila' di umur 8 tahun, Daiki."
"Tidak perlu dibahas!"
Seira tertawa pelan, mengambil satu butir tomat ceri dan memakannya. Malam makin larut di London namun entah mengapa ia tidak lagi merasa kedinginan. Meskipun hela napasnya berkabut putih, ia tidak merasa dingin.
[]
Perjalanan pulang mereka tertunda tiga hari.
Terima kasih kepada kedua nona yang bersikeras untuk tetap tinggal dan menonton beberapa pertunjukan opera lagi. Tak lupa hiasan rambut ekslusif yang Seira pesan di salah satu toko perhiasan Mayfair, baru selesai dua hari lagi.
Bukannya Daiki protes karena harus mengepak sebagian besar belanjaan mereka dan mengirimkannya via ekspedisi ke Jepang, bukan. Tetapi, keduanya yang sama-sama lupa menginformasikan hal semacam itu kepada Daiki itu yang membuatnya pusing tujuh keliling. Ayah Seira sampai menelponnya tujuh kali dalam sehari. Memastikan bahwa anaknya benar-benar terlambat pulang karena menanti pertunjukkan opera.
"Kau tahu akibatnya kalau sesuatu terjadi pada anakku bukan, Daiki?"
Mendengar suara Akashi Masaomi yang tajam penuh ancaman begitu membuat Daiki ingin menaruh ponselnya di altar untuk disembah.
[]
Langit sudah berwarna oranye ketika Seira, Tetsuna, Daiki, berikut Taiga keluar dari gerbang kedatangan internasional Narita. Penerbangan mereka delay selama kurang lebih tiga jam ketika mereka transit di Helsinki. Cukup untuk Tetsuna menghabiskan satu buku elektronik di ponselnya selama menunggu sembari menemani kedua bodyguardnya mengisi perut.
Seorang sopir paruh baya sudah menanti kedatangan mereka. Berkendara dengan sebuah MVP lega warna hitam, ia akan mengantar Seira dan Daiki terlebih dahulu ke kediamannya. Rumah Seira dan Tetsuna, meskipun tidak terlalu dekat, searah. Kali ini Tetsuna yang menawarkan Seira untuk kembali menggunakan mobil keluarganya.
"Mau mampir terlebih dahulu? Ayah dan ibuku pasti senang bertemu denganmu, Tetsuna." Tawaran Seira terdengar menarik bagi Tetsuna. Sudah cukup lama juga ia tidak berkunjung kepada kedua sahabat orang tuanya tersebut.
"Hanya sebentar tidak apa-apa? Kedua orang tuaku mengharapkan kehadiranku untuk makan malam hari ini."
Seira tersenyum, seraya mengulurkan tangannya untuk Tetsuna raih dan menuntunnya turun dari mobil. "Tidak masalah. Mereka pasti dapat memahaminya."
Agak aneh bagi Seira membuka pintu rumahnya sendiri. Biasanya, salah satu pelayan sudah datang dan menyambutnya. Namun, saat ini, tidak ada tanda-tanda siapa pun di dalam rumahnya yang luas tersebut.
"Aku pulang!" Seira mengucapkannya dengan lantang. Bisa saja orang-orang rumahnya tengah berada di kebun belakang dan tidak ada yang mendengar mengenai kedatangannya.
"Tidak biasanya rumahmu sepi begini, Seira-san."
"Mungkin mereka ada di belakang," jawabnya lugas. Seira mempercepat langkahnya, kejanggalan itu makin terasa aneh setelah ia mendengar suara Daiki yang juga mengucap salam keras-keras di belakangnya.
Tidak ada yang menjawab.
Penjaga gerbang biasanya akan langsung menghubungi orang-orang di dalam rumah tiap kali ada tamu atau anggota keluarga yang datang. Menyiapkan mereka agar menyambut pengunjung penuh dengan sopan berikut administrasi konfirmasi identitas yang mengikuti. Namun, kali ini tidak ada siapa-siapa.
Lama-lama semuanya terasa janggal bagi Seira.
"Nona, diam di tempat."
Seira dan Tetsuna bahkan belum sempat menghentikan langkahnya ketika Daiki dan Taiga sudah berjaga di depan mereka, masing-masing dengan sebuah pistol di tangan. Dua lelaki itu sempat beradu pandang sejenak sebelum mulai kembali melangkah, membawa serta majikan mereka dekat-dekat.
"Menurutmu ada yang menyusup?"
Daiki menarik Seira agar merapat ke tembok, tanpa suara meminta nonanya agar mengikuti langkahnya yang awas. Beberapa langkah lagi adalah pintu ruang keluarga, Seira tahu. Kalau pun ada seseorang yang bersembunyi, bisa saja mereka ada di balik sofa.
"Atau kejutan macam ulang tahunmu dulu," jawab Daiki tanpa menurunkan keawasannya.
Seira tidak membalas. Perlahan ia atur napasnya agar tetap dalam kendali. Kalau memang ini merupakan pesta kejutan lain, begitu Daiki keluar dari persembunyiannya, pasti akan terdengar rentet letupan konfeti yang mengotori karpet ruang keluarganya. Penuh bubuk kerlip dan kertas bergambar mengkilat.
"Tetap di tempat, Nona," bisik Daiki sambil melepaskan pengaman pistolnya. Lelaki itu menegapkan tubuhnya, lalu menarik napas dalam, menghitung mundur dalam diam tanpa suara. Ia perhatikan bayangan dari perabot ruang keluarga yang tercetak oleh sinar senja di koridor, berharap melihat satu gerak kecerobohan dari siapa—atau 'apa'—pun yang ada di dalam.
Dalam hitungan ketiga dalam otaknya, Daiki memutar tubuhnya. Kedua lengan teracung ke depan dengan moncong pistol ia arahkan ke dalam ruangan, siap menghadapi serangan dari ruangan bergaya Victoria tersebut. Namun, tidak ada tembakan yang terdengar. Hanya mata Daiki yang terbelalak dan tubuhnya seketika mematung, seolah nyawanya diambil dalam keadaan berdiri.
"Daiki?" bisik Seira berusaha mengambil perhatian bodyguardnya.
Tidak ada tanggapan dari Daiki membuat Taiga turun tangan. Setelah memastikan Tetsuna merapat di dinding, ia bergegas masuk ke dalam ruang keluarga, tanpa merasa perlu mengacungkan pistolnya.
"Holy shit!"
Rutukan itu memuncakkan rasa ingin tahu Seira. Perlahan, ia keluar dari bayang-bayang dinding. Melangkahkan kakinya tanpa ragu ke dalam ruang keluarga. Belum sempat ia masuk, tubuhnya tiba-tiba ditarik ke belakang, dan detik berikutnya yang ia tahu adalah Daiki mendekapnya erat.
"Jangan masuk, Sei."
Bahkan kedua lengan Daiki kini gemetar, dan dingin serasa menulari tubuh ramping Seira. Sekali, ia berusaha berontak dari dekapan Daiki, namun tak berhasil karena pelukan itu mengerat.
"Daiki, lepaskan aku."
"Tidak." Pelukan itu kini nyaris menekan kedua lengan Seira, menimbulkan nyeri yang di bahunya.
"Lepaskan aku. Ini perintah."
Daiki tak bergeming. Tetap saja ia pada posisinya. Tetsuna, yang kini telah memasuki ruangan menatapnya nanar. Seolah genggaman lembut Taiga di pundaknya menyakiti tubuhnya yang selalu rapuh bila berlari jarak jauh.
"Seira—," kata-kata Tetsuna terputus. Ia gigit bibirnya kuat-kuat seolah itu akan menahan gemetar yang menjalari seluruh tubuhnya. Digenggamnya tangan Taiga di pundaknya kuat-kuat, seolah mencari kekuatan untuk mempertahankan kedua kakinya.
Daiki lah yang luluh dengan pucat di wajah Tetsuna. Dekapannya mengendur, lemas perlahan menginvasi tiap lurik ototnya. Satu yang dapat ia lakukan adalah menggenggam tangan nonanya, memastikan ia tak lari terlalu jauh dari jangkauannya. "Tarik napas dalam-dalam, Sei."
Tanpa menunggu lagi, Seira membalik tubuhnya. Pertama kali yang ia lihat adalah Tetsuna yang pucat dan seolah menahan tangis. Ia hampir berlari hendak menenangkan sahabatnya ketika genggaman tangan Daiki menyadarkannya akan hal yang lebih penting.
Di sofa, duduklah kedua orang tuanya. Berdampingan, seperti biasa kala mereka menikmati teh sore hari. Namun, kepala keduanya terkulai ke belakang, serta punggung lemas tak mampu menahan bobot tubuh mereka. Tangannya terjuntai ke arah lantai, mata keduanya terbuka tampak gelap.
Tak bernyawa.
Seira bahkan belum sempat berteriak ketika satu ledakan menggetarkan seisi rumah dan memekakkan telinganya. Guncangan fisik itu seolah menambah apa yang tengah didera batinnya, melemaskan kedua kakinya hingga ia terduduk di lantai koridor yang dingin.
"Kuroko!" Tanpa perlu komando, Taiga segera merangkul Tetsuna, menariknya keluar dari ruang keluarga dan menuju koridor. Langkah Tetsuna sempat terhenti karena dilihatnya Seira yang terduduk di tempatnya, seolah tenaganya habis terkuras.
"Sei! Berdiri! Kita keluar dari sini!"
Seira tak bergerak, matanya terpaku pada pemandangan di hadapannya. Kedua orang tuanya tak bangun karena bunyi sekeras tadi, namun langsung melorot ke lantai karena getarannya yang turut memecahkan kaca jendela.
"Ayah...ibu..."
Entah kepada siapa Seira bicara, pandangannya tetap tak berpindah. Gelas-gelas teh sudah dikeluarkan, berikut juga beberapa piring makanan ringan pendamping sudah tertata rapi di atas meja. Beberapa benda yang tak pernah Seira lihat sebelumnya juga tergeletak di sana, seolah terlupakan.
"Aomine! Bawa Akashi keluar dari sini!" Teriakan Kagami seolah ditelan runtuh di rumah bagian belakang. Pegangannya di pergelangan tangan Tetsuna tidak melonggar. Majikannya terus ia giring menyusuri koridor, bergegas keluar gedung. Katakan saja ia jahat, tapi tugasnya adalah menjaga keselamatan Tetsuna, bukan Seira.
"Seira-san!" Tetsuna masih sempat meneriakkan nama sahabatnya tersebut. Berharap suaranya sampai dan menyadarkan Seira dari keterkejutannya yang mendalam. Ia tidak berusaha melepaskan diri dari genggaman Taiga, bagaimana pun juga. Lebih dari pada dirinya sendiri, ia yakin Daiki pasti akan mengatasi segalanya. Karena itu, begitu mereka sampai di luar gedung rumah, segera ia masuk ke mobil dan meminta sang sopir menunggu di halaman. Bebas dari resiko runtuhan gedung namun tetap sedia memberikan Seira tumpangan.
"Sei!" Suaranya serak. Baik karena panik atau kesedihan mendalam yang menggerogotinya. Nonanya tidak menyahut, rumah itu siap ambruk kapan saja, dua majikannya sudah sama sekali tidak bisa tertolong lagi. Entah mana yang membuat suaranya begitu bergetar hingga terdengar serak.
Ledakan kedua. Seira mendengarnya, namun sama sekali ia tidak bergerak. Apa yang meledak pun ia sudah tidak peduli. Bunyi beton yang runtuh pun tidak membangkitkan kepanikannya.
Apa yang perlu ditakuti dari sebuah bangunan roboh kalau kedua orang tuamu tak lagi bernapas?
"Sei! Seira!" Guncangan Daiki di tubuhnya mengembalikan kesadarannya. Sesak langsung menyelubungi organ pernapasannya. Ia bahkan lupa bernafas, karena itu tak penting lagi bagi alam bawah sadarnya.
"Bangun! Kita harus keluar dari sini!"
Keluar?
Dari sini?
Dari rumahnya?
"T-tidak!" Kekuatan darimana, entah, yang membuat Seira berdiri. Bergegas ia memasuki ruang keluarga yang kini lantainya telah dipenuhi serpihan kaca. "Kita harus membawa ayah dan ibu!"
"Sei! Jangan bodoh! Kita harus segera menyelamatkan diri!"
"Dan meninggalkan ayah serta ibuku?! Aku tidak menyangka kau serendah itu Daiki!"
"Mereka sudah mati!"
Teriakan itu bersamaan dengan ledakan selanjutnya. Tak hanya suara dan guncangan kali ini, karena panas pun mulai terasa menggigit kulit Seira. Entah kapan Daiki kembali memeluknya, dan punggungnya sakit seolah baru saja ditabrak tembok.
"Mereka sudah mati, Sei. Kita yang masih hidup!"
Ucapan itu terngiang-ngiang di dalam pikiran Seira. Matanya tetap terpaku pada sofa di ruang keluarga, tempat kedua orangtuanya kerap kali menghabiskan waktu untuk minum teh atau sekedar membaca buku. Sofa tempat ia melihat ayah dan ibunya terkulai dengan mata terbuka tanpa kesan hidup.
"Panas, Daiki...," ujarnya, seolah menahan isak. Punggungnya sakit, paha dan kepalanya juga. Terutama, bagian tengah dadanya yang kini rasanya terbuat dari timah : berat dan dingin.
Daiki mengeratkan pelukannya sekejap, sebelum kembali ia tatap kedua bola mata Seira yang kini berkaca-kaca. "Aku tahu. Aku tahu, Sei." Hanya itu yang Daiki ucapkan sebelum mengangkat tubuh nonanya. Membawanya dengan kedua tangan seolah tubuh nonanya merupakan pusaka berharga. Tanpa bicara apa-apa lagi, Daiki berlari melintasi koridor yang kini penuh asap, bergegas begitu ledakan keempat kembali terdengar.
Seira hanya diam dalam gendongan Daiki. Air matanya perlahan mengalir melihat sofa kesayangan ibunya kini terbungkus merah api. Ia dapat merasakan seberapa erat genggaman Daiki di pundaknya, menjaganya agar tidak jatuh.
Merah itu menyambar koridor tempatnya berdiri tadi, berasal dari lubang yang menghubungkannya dengan ruang keluarga. Ledakan entah keberapa itu yang menghabiskan sofa kesayangan ibunya.
Berikut kedua orang yang paling ia sayangi di dunia.
Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki
The Story Between Us is Another Section of A Theme Park © altaira verantca
Rated : T
Genre (s) : Crime | Drama
.
.
Summary : Karena waktu tak pernah main-main dalam memberikan hukuman, dan ia tak pernah menunggumu pulih untuk kembali berjalan.
A/N : Selamat malam! Senang sekali berhasil menuntaskan bagian ketiga ini! Banyak hal yang ingin dituliskan dalam satu bab ini, semoga saja semuanya bisa tersampaikan dengan baik!
Ah, ada satu review dari 'night kanaze' mengenai pairing dari serial ini. Mohon maaf karena saya kurang berkenan mengungkap siapa yang akan berakhir dengan siapa. Meskipun fanfiksi, saya biarkan mereka bermain sedekat mungkin dengan garis haluan karakter mereka masing-masing. Bukan berarti saya tidak ada preferensi siapa yang akan menjadi pasangan. Namun, membiarkan kita semua mengikuti alurnya dan melihat hati siapa yang tertangkap oleh siapa bukankah itu lebih menyenangkan?
Kemudian, sebagaimana yang saya singgung di chapter sebelumnya, genrenya berubah! Yay! Terima kasih sudah membaca bagian ketiga ini! Comments would be lovely and see you at next chapter!
