terima kasih atas betanya, Hidekazu, serta review dari Chrisanne Sakura. QiYamiharu, Shiroi Twin, NaoNR, Ekpresionisme Abstrak, Akemi09, Intania Verdenia, 27, serta semuanya yang telah membaca kisah ini. dadu kembali dilempar dan cerita mereka pun telah bergulir kembali. selamat menikmati


Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki

The Story Between Us is Another Section of A Theme Park © altaira verantca

Rated : T

Genre (s) : Crime | Drama

warning : this series has several genderbend characters and straight pairings. if these criteria are not your cup of tea, this is the right time to hit close or back panel.

.

Summary : Karena waktu tak pernah main-main dalam memberikan hukuman, dan ia tak pernah menunggumu pulih untuk kembali berjalan.


"...berdasarkan keterangan saksi mata di TKP, rentetan ledakan tersebut memicu kepanikan warga dalam waktu singkat. Ledakan terakhir dikatakan terasa seperti gempa lokal kecil oleh warga sekitar. Getaran akibat kejadian ini terasa sampai radius seratus meter dari tempat kejadian, tidak didapatkan korban jiwa di daerah dalam radius tersebut.

Peristiwa yang ditengarai merupakan aksi terorisme masih dalam penyelidikan ketat yang dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Kuroko Touma. Beliau belum berkenan memberi keterangan lebih lanjut mengenai dugaan pelaku aksi terorisme yang menewaskan Perdana Menteri Akashi Masaomi beserta seluruh penghuni di kediamannya.

Wafatnya pemimpin pemerintahan Jepang yang tengah menjabat ini kontan menarik perhatian dan duka dari seluruh dunia. Pemakaman yang akan diadakan pada tanggal 1 Agustus pekan depan akan dihadiri langsung oleh kurang lebih 20 kepala negara tetangga dan sahabat. Pihak kerajaan pun telah mengonfirmasikan akan kedatangan mereka pada hari pemakaman serta meminta upacara dilakukan sesuai dengan tata cara kerajaan mengingat adanya hubungan erat antara dua keluarga tersebut.

Tidak hanya dari pihak negara lain ataupun kerajaan, warga Jepang sendiri tengah berduka akan kehilangan yang sangat tiba-tiba ini. Perimeter ketat yang dilakukan oleh JSDF tidak menghalangi mereka yang tetap mengunjungi lokasi dengan membawa banyak karangan bunga, lilin, bahkan duduk dan menginap untuk menunjukkan rasa dukanya yang mendalam. Tidak sedikit pula tampak warga negara asing yang pada awalnya berniat untuk melakukan wisata memberikan bela sungkawanya dengan mengunjungi lokasi yang masih disegel oleh pihak kepolisian.

Berikut ini adalah daftar korban tewas pada ledakan yang menyerang kediaman mendiang perdana menteri. Terdapat 15 korban yang kini semuanya telah diidentifikasi :

Akashi Masaomi (Perdana Menteri Jepang)

Akashi Shiori (Istri Perdana Menteri Jepang)

Akashi Seira (Putri Tunggal Perdana Menteri Jepang)

Ichi... "

Daiki tidak sempat membaca nama lain di daftar tersebut, televisinya keburu dimatikan. Entah oleh siapa. Sebagai gantinya, sebuah map berwarna coklat muda diletakkan di hadapannya, diikuti dengan bunyi derit sofa yang kakinya bergesekan langsung dengan lantai kayu.

"Lama tidak bertemu, Daiki."

Yang dipanggil namanya hanya mendongak, menilik siapa yang baru saja duduk di hadapannya. Betapa terkejutnya ketika melihat sosok yang mengunjunginya, tanpa sadar langsung menegakkan punggungnya dan membungkuk dalam.

"Saya tidak menyadari kedatangan anda. Maafkan saya."

Wanita tua itu terkekeh. Pegangan di tongkat yang dibawanya mengerat ketika ia mencondongkan tubuhnya, mengusap kepala Daiki dalam satu gerakan yang hangat. Senyumnya yang tipis masih tetap ada ketika Daiki kembali mendongak, membuatnya merasa tenang setelah beberapa hari nyaris tidak tidur dan dicekam cemas tak berujung.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku memang sengaja tidak memberi tahu Tetsuna serta Taiga mengenai kunjunganku kemari. Maaf kalau aku mengagetkanmu, Daiki."

"Kami yang seharusnya berterima kasih karena diijinkan untuk tinggal di rumah ini sementara oleh keluarga Kuroko, Nek. Kejadian i—"

"Tidak perlu dibahas. Kau tahu sendiri kalau kalian sudah seperti cucuku sendiri sebagaimana Tetsuna dan Taiga. Sudah semestinya kami membantu di saat sulit seperti ini, bukan?"

Daiki tak bisa menjawab pertanyaan retoris tersebut. Selain tidak perlu, terlalu banyak hal yang berkeliaran di dalam kepalanya. Menyikut satu sama lain minta dijadikan prioritas dan diselesaikan lebih dahulu. Membuatnya pening.

"Map di hadapanmu ini berisi mengenai laporan perkembangan dari penyelidikan ledakan di kediaman Akashi, Daiki."

Ucapan itu seolah mencambuk Daiki, membuatnya mengambil map itu dan segera membaca isinya. Tidak sopan, mungkin, karena ia tak pakai mengucap terima kasih atau minta ijin untuk melihat segala informasi yang ada di dokumen itu. Tapi keganjilan demi keganjilan yang disebutkan dalam berita di televisi mau tak mau membuatnya khawatir.

"Hasil interogasimu kemarin beserta analisisnya juga termasuk di sana. Tetsuna sepertinya telah menyampaikan pesan dari Touma mengenai hal-hal apa saja yang dapat kau ungkapkan. Penyelidikan ini akan mendapatkan tim khusus dengan level keamanan setinggi rahasia negara mulai senin depan. Pada tim itu, kau baru diijinkan untuk mengatakan semua hal yang kau ketahui demi kepentingan penyelidikan. Dapat dipahami, Daiki?"

Tak ada jawaban dari Daiki. Namun, wanita tua itu dapat memahami apa yang kini tengah menyita perhatian laki-laki itu sampai membuat kerut di keningnya menjadi berkali lipat lebih dalam dibandingkan biasanya.

Penuh dengan amarah.

[]

Nenek Tetsuna adalah seorang wanita yang usianya hampir mencapai delapan dekade. Rambutnya yang dulu di masa muda berwarna biru muda kini memudar hampir putih keperakan. Kulitnya yang dulu mulus sudah kisut dan penuh keriput. Punggungnya masih kuat, namun tongkat milik mendiang suaminya selalu ia bawa kemana-mana sebagai teman perjalanan. Jimat, itu jawabannya kalau ditanya sambil bercanda.

Rumah yang saat ini tengah ia susuri koridornya merupakan peninggalan orang tua dari mendiang suaminya. Masih terawat dan bersih, karena di sini lah ia dulu melahirkan Touma, dibantu oleh ibu mertuanya yang memang seorang bidan terlatih. Sampai sekarang, sesekali ia menghabiskan akhir pekannya di sini, bersantai sambil memangkas rumput liar di sela tanaman berbunga di taman. Tetsuna dan Taiga bisanya turut serta karena tak ingin membiarkannya sendirian.

"Sayang sekali bunga mawarnya tidak ada yang mekar bulan ini ya."

Nenek Tetsuna baru menghentikan langkahnya ketika ia berdiri di belakang gadis yang tengah duduk di tepi koridor. Kedua kaki bergantung malas dan sebelah sandal karetnya sudah tergeletak di tanah. Ujung kimono rumahan tipis tampak terlipat dan kusut di bagian betisnya, memperlihatkan lilitan perban bersih yang mencapai mata kakinya.

"Bagaimana kabarmu, Nak?" Suaranya begitu lembut, penuh dengan sayang dan perhatian. Ia mengusap rambut gadis itu, menarik kepalanya agar bersandar di tubuhnya yang tak lagi muda. Ia masih berdiri, melemparkan pandang ke taman berbatu tanpa bunga yang mekar namun tak kunjung membuatnya bosan.

Perlu waktu sampai pertanyaan itu berbalas. Sampai satu hela nafas panjang memberikan rona di hening sekitar dengan asa yang makin menipis. Ia tidak protes ketika tangannya diraih oleh gadis itu, diarahkan agar menangkup pipinya yang merona bak kebanyakan serbuk pewarna.

"Tanganmu dingin, Nek."

Nenek Tetsuna mengusap pipi itu perlahan, tidak ada lembap. Hanya panas yang menyengat kulit kisutnya karena usia. Entah kekuatan dari mana yang membuat Seira sanggup duduk di tepi taman dengan panas setinggi itu, tanpa menyentuh sarapan yang diletakkan di sampingnya.

"Kau boleh menggenggamnya sampai merasa lebih baik, Seira."

Seira tidak menjawab. Dingin di pipinya itu memberi ketenangan serta nyaman yang mendamaikan kalut di otaknya. Ia tidak menolak ketika wanita yang sudah ia anggap nenek sendiri itu meraih pundaknya, menyuruhnya bangkit dan kembali ke kamar yang berada tepat di belakang tempat mereka berdiri.

"Kau perlu makan meski sedikit, Seira," bujuknya sehalus mungkin.

Seira menatap nampan di pangkuannya dengan enggan. Roti lapis dan telur mata sapi yang tak lagi segar sama sekali tidak mengundang seleranya. Belum lagi lidahnya yang terasa pahit dan tenggorokannya yang nyeri. Tak ada satu pun alasan yang mendukungnya untuk menelan sesuatu bagi perutnya yang kosong.

"Tetsuna tidak datang bersamamu?" Balasan Seira singkat, namun ia paham bahwa gadis ini tidak akan menyentuh makanannya dalam waktu dekat. Melihat nampan yang tadi diletakkan di depan pintu kamar, ada kemungkinan bahwa Daiki pun tidak tahu kalau majikannya ini tengah dilanda demam.

"Ada urusan yang perlu Tetsuna selesaikan di sekolah," jeda yang ditambahkan dalam kalimatnya membuat Seira mendongak. "Ia memberikan surat konfirmasi akan kematianmu."

Ada senyum yang nyaris sinis memberi lekuk di wajah Seira. Media di seluruh negeri telah menyatakan kematiannya. Satu mayat menunjukkan hasil DNA yang cocok dengan kedua orang tuanya. Entah siapa yang malang dan terbakar jadi mayat arang di dalam sana, menggantikannya yang lolos dari ledakan hanya dengan beberapa luka lecet dan memar dalam.

"Dibandingkan aksi terorisme, hal ini lebih terasa sebagai pembantaian," gumamnya pendek. Tidak salah memang Seira menduga seperti itu. Kedua orang tuanya bukan tewas karena ledakan. Tapi meninggal lalu dibakar beserta rumah mereka. Seperti tipe kejahatan klasik untuk membalas dendam, atau hanya ingin tertawa di atas nyawa orang lain yang terbuang.

"Mereka tidak akan berhenti kalau tahu aku masih hidup," pungkasnya dingin.

Keamanan Seira menjadi prioritas yang kini diutamakan oleh ayah Tetsuna. Karenanya, ia tidak mengeluarkan klarifikasi terkait pemberitaan media massa mengenai kematian Seira. Kalau memang ini pembantaian, mereka tidak akan berhenti sampai Seira mati. Meski ini berarti menahan laju penyelidikan, ayah Tetsuna tetap bersikeras agar keberadaan Seira dirahasiakan.

"Karena itu kami tidak mengungkap keberadaanmu, Seira."

Nenek Tetsuna membuka tas yang sejak tadi bawa. Dikeluarkannya sebuah kotak kulit yang biasanya ia simpan di bawah tempat tidurnya. Setiap malam, ia selalu berdoa agar tidak perlu baginya untuk memberikan kotak tersebut kepada salah satu anggota keluarga Akashi. Namun, sebagaimana usaha manusia yang sering kali gagal, harapannya yang ini pun harus tanggal.

"Aku selalu berharap hari dimana aku memberikan benda ini kepadamu akan tiba," ujarnya sembari menimang kotak yang tak lebih besar dari telapak tangannya. "Akan tetapi, tidak banyak pilihan yang dapat kau ambil di situasi semacam ini."

Seira mengambil kotak yang kini disodorkan padanya, menatap sesaat sebelum mengguncangnya perlahan, berharap bunyi atau gerak benda di dalamnya dapat memberi informasi mengenai apa isi kotak tersebut. Sayang, tidak ada suara apapun, tak juga ada gerak ketika ia mengguncangnya.

"Pada satu keadaan, terkadang kau perlu mengulangi segalanya dari awal, Seira. Karena, seperti yang seringkali aku singgung padamu, dunia ini tercipta dari banyaknya hukum sebab akibat. Satu keberadaan menimbulkan reaksi. Sebuah eksistensi menimbulkan retensi."

Penjelasan itu malah terdengar bagaikan haiku di telinga Seira. Eksistensi menimbulkan retensi. Sama seperti kemunculan gumpalan darah di dalam vena atau arteri. Eksistensi trombus yang kadang tak sampai satu sentimeter itu cukup untuk membuat sebuah retensi yang dapat mematikan satu area di otak.

Seira bergeming, mencerna apa yang baru saja Nenek Tetsuna katakan. Ia tidak perlu tahu benda apa yang tersimpan di kotak yang tertutup itu, ia hanya sudah mendapatkan garis besar arti dari kunjungan Nenek Tetsuna kemari tanpa ditemani siapa pun.

Eksistensinya, dan keluarganya, sudah dianggap menimbulkan umbra pekat dalam hidup pihak lain. Apapun yang di dalam kotak itu, isinya sama saja seperti agen antipembekuan darah.

[]

Seira tak sanggup untuk bangun dari tempat tidur sore itu. Daiki mengomel karena ia tidak segera memberitahunya mengenai demam yang kini mencapai 39,7 0C itu. Kini satu plester kompres demam dingin tertempel di dahi nonanya, juga dua di punggungnya, dan satu di bawah lehernya. Tak sampai di situ, ia pun bersikeras untuk menyuapinya dengan puding stroberi yang dibuat dengan campuran susu kedelai—Tetsuna tadi mampir dan membawakan selusin puding itu dalam berbagai rasa.

"Aku bisa makan sendiri, Daiki."

"Kau bahkan tidak kuat mengangkat tanganmu, Nona. Sekarang, buka mulutmu."

Daiki galak kalau Seira sakit, atau tidur terlalu larut, atau memakai pakaian yang terlalu terbuka, atau berkutat dengan setumpuk laporan dari organisasinya di sekolah. Sejak dulu, dan Seira tidak pernah bisa benar-benar protes dengan sisi Daiki yang seperti itu.

Perlu waktu sampai Seira berhasil menghabiskan satu porsi puding tersebut, membuat Daiki tersenyum lega melihat nonanya kembali mengunyah makanan. Sejak kejadian itu, Seira jarang sekali menjamah makanannya kecuali Tetsuna yang menyuapinya dengan paksa. Itu saja mungkin hanya satu atau dua gigit roti lapis dan segelas susu. Tidak lebih.

"Tidak kembali ke kamarmu?" suara Seira terdengar lirih. Tenggorokannya nyeri bila ia banyak bicara dan obat yang baru ia minum mulai mencemari kesadarannya dengan kantuk.

"Aku tunggu sampai kau tertidur. Sudah mengantuk, bukan?"

Seira mengerjap, berusaha tetap terjaga meskipun usahanya tidak terlalu membuahkan hasil. Ia tidak ingin tidur. Kantuk adalah musuh utamanya sejak beberapa hari lalu. Tidak pernah memberinya tenang dan istirahat.

"Tidak mau tidur...," gumam Seira makin pelan, membohongi usahanya untuk tetap bangun. "...mimpinya berulang..."

"Tidurlah, Nona." Daiki menangkupkan telapaknya di wajah Seira. Menutupi kedua mata merah yang terus enggan terpenjam, berharap agar nonanya segera tidur. Berdoa agar tidak ada lagi mimpi yang mengganggu istirahat nona kesayangannya ini.

Hari ketiga sejak ledakan itu terjadi dan Daiki nyaris frustasi mendengar teriakan histeris nonanya tiap kali bermimpi buruk di tidurnya yang singkat. Rona di wajahnya memudar, bibir yang biasanya tampak mengkilat dan lembut itu kini kering dan pudar. Belum lagi dengan kantung mata gelap yang membuat Seira tampak dua puluh tahun lebih tua dari pada sebenarnya. Membuat Daiki pilu.

"Tidurlah di sini, Daiki."

Kalau suara nonanya tidak parau seperti itu, mungkin Daiki lebih memilih untuk mendebatnya lalu segera keluar dari kamar itu. Memilih untuk duduk di koridor, bersandar pada pintu geser yang ia biarkan sedikit terbuka agar mudah ia menilik keadaan nonanya.

Namun, suara serak nan kering itu seolah menggores sebuah luka di kulitnya. Luka tipis yang tidak fatal namun mengganggu karena terus menerus terasa perih tiap terkena air. Bagaimana caranya mengatakan tidak pada orang nomor satu di hidupmu yang tengah meraih tanganmu dan menggenggamnya penuh rasa harap dan frustasi?

"Ya-ya-ya. Sekarang, tidurlah, Nona." Ucapan itu seolah menjadi penutup bincang malam itu. Daiki tidak ingin nonanya terjaga lebih lama lagi. Tidak juga ia ingin nonanya bicara kalau-kalau tidak suka dengan keputusannya untuk keluar dari kamar saat itu juga.

"Ambillah futon kalau be—" Kalimat Seira terpotong karena batuk yang tiba-tiba menyerangnya. Begitu hebat sampai tubuhnya terguncang dalam deret patah-patah bersamaan dengan suara dari tenggorokannya yang kering.

Daiki sigap dan dengan segera merengkuh pundak nonanya. Menariknya hingga sang nona duduk kembali di kasurnya. Ia masih batuk beberapa kali meski Daiki mengusap tengah punggungnya perlahan, sembari tangannya yang lain mengambil segelas air madu lemon yang masih hangat.

"Jangan bicara lagi, Nona. Minumlah ini dahulu agar tenggorokanmu terasa enakan."

Tidak banyak yang bisa Seira lakukan selain meneguk sedikit demi sedikit campuran manis dan asam hangat yang Daiki sodorkan. Tenggorokannya kering, gatal pula. Sudah waktunya ia beristirahat, namun sama sekali tak ada keinginan untuk memejamkan mata.

Seira baru hendak membuka mulut untuk berterima kasih ketika Daiki segera menempelkan telunjuk panjangnya di bibirnya. Kerut yang makin dalam di wajahnya, serta kedua mata biru yang berkabut hanya menunjukkan seberapa lelah dan cemasnya lelaki di hadapannya ini. Ia tidak selemah itu, Seira ingin mengatakannya. Namun, kalau suaranya parau dan bergetar karena demam yang kini tengah melandanya, Daiki bisa-bisa makin khawatir dengan keadaannya.

'Futonmu?'

Tidak boleh bicara bukan berarti ia tak boleh berkomunikasi, bukan? Seira meraih tangan Daiki, melebarkan telapaknya sampai terbuka sepenuhnya. Perlahan, jarinya menuliskan huruf demi huruf di telapak yang kasar itu. Sebuah kebiasaan yang kerap mereka lakukan ketika berbincang jika tak ingin seorang pun mendengar isi pembicaraannya.

"Aku bisa tidur sambil duduk. Kau meremehkanku ya, Nona?" Daiki mendesah, lagi-lagi nonanya keluar keras kepalanya. Tidak mau istirahat, itu yang dia tangkap begitu jari nonanya mulai bergerak mencetak huruf tak kasat mata di permukaan telapaknya. Panas yang Daiki rasakan sejak tangan putih itu menyentuhnya sungguh membuatnya ingin mengeluarkan sumpah serapah dan merutuki demam yang tengah menyerang nonanya.

'Kau harus istirahat juga, Daiki.'

"Aku kembalikan ucapan itu kepadamu, Nona."

Jeda sejenak sebelum jari Seira kembali bergerak. Mencetakkan garis huruf yang tajam namun berlekuk penuh akurasi dalam rasa yang tertinggal di telapak Daiki. Kalimatnya agak panjang, dan kerut tidak suka muncul di sudut bibir Daiki seiring dengan makin lengkapnya ucapan nonanya.

'Kau tidak perlu memanggilku nona. Aku bukan seorang nona lagi.'

"Maaf, Sei," jawabnya yang lebih terdengar seperti berkilah.

'Kau tidak paham maksudku.'

"Kau merajuk ingin dipanggil dengan nama kecilmu itu, kan?"

Kali ini nada suara Daiki yang menajam membuat Seira muram. Daiki tidak paham, atau berusaha masa bodoh. Yang mana pun, keduanya merepotkan.

'Akashi Seira sudah mati. Nonamu sudah tiada.'

Daiki hendak membuka mulut dan membantah ketika Seira melanjutkan tulisannya. 'Bagi publik, aku sudah mati.'

"Tapi, kau sekarang ada di hadapanku, Sei. Duduk, hidup, menulis di telapakku, terserang demam."

'Maksudku, kau bukan lagi bodyguardku.'

Daiki tidak pernah tahu kalau kalimat tanpa bentuk bisa menabrak isi kepalanya, membuatnya pening, menyerang dadanya lebih kuat daripada pukulan seorang mafia Itali enam bulan lalu. Waktu itu tulang rusuknya patah, paru-parunya sempat menciut terendam udara berlebih dan darah. Ketika ia terbangun dan melihat nonanya duduk di dalam kamar rawatnya, dengan mata sembab karena kurang tidur, ingin rasanya ia kembali dibius total agar tidak bangun-bangun. Dosa apa yang ia perbuat sebelumnya sampai membuat nonanya tampak berantakan penuh cemas seperti itu.

"Kau membuangku." Daiki bersumpah ia tak berniat bicara sependek itu. Sedingin itu. Setajam itu. Sampai-sampai lidahnya terasa kelu ketika selesai mengatakannya. Tidak seharusnya kekecewaan itu ia lemparkan kembali kepada nonanya—atau Seira, mengingat ia bukan lagi seorang bodyguard.

'Aku mengembalikan hidupmu.'

"Aku sudah memberikannya kepadamu, Sei. Sebagai seorang bodyguard, menjagamu. Sekarang kau membuangnya dengan cara seperti itu."

'Tidak ada alasan untukmu menjagaku lagi. Aku bukan lagi seorang putri perdana menteri. Aku tidak lagi dalam ancaman berkelanjutan. Aku tak lagi membutuhkan perlindungan karena identitasku.'

Bagaimana pun, Akashi Seira sudah mati. Jenazahnya ada, ditemukan, dan tengah disemayamkan. Saat ini, keberadaannya tak lebih seperti poster lapuk di pinggir jalan. Tak terlihat.

'Aku bukan siapa-siapa.'—"Dan tak ada lagi alasan untukmu menjagaku, Daiki."

Serak di suara Seira tertinggal menjadi gaung di dalam kepala Daiki. Segala ingatan berkelebat dengan cepat, seolah mencari celah. Awal pertemuan mereka 12 tahun lalu, bagaimana mereka bersama, bagaimana mendiang ayah Seira meminta Daiki untuk menjaga anaknya, bagaimana ia meninggalkan kediaman Akashi selama setahun demi pelatihan bodyguard yang sama sekali tidak mudah, bagaimana teror demi teror mengancam nonanya, bagaimana ia di sana menjaga nonanya. Sepanjang waktu, tanpa merasa keberatan dengan segala tanggung jawab dan tugas di pundaknya.

Dulu, tak ada alasan baginya untuk tidak menjaga nonanya. Namun, segalanya sudah tiada. Segala sesuatu yang menjadi ancaman dalam hidup nonanya, hingga ia perlu menaruh hidupnya di sebagai tameng demi melindungi nonanya, sudah tidak ada.

"Meski begitu, aku ingin tetap menjagamu, Sei."

'Kenapa?'

Daiki terdiam. Kembali ia berusaha mengacak-acak isi kepalanya. Dadanya terasa menggelegak dan mungkin menertawakan kebodohannya. Dimana ia menaruh tekad baja itu? Keyakinan itu sudah lama ada dalam darahnya, ia lupa dimana menemukannya kembali dan melipatnya dalam kata untuk diungkap. Ia ingin terus menjaga non—Seira, agar aman, bahagia, terlindung. Alasannya?

"Aku...tidak tahu."

Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Daiki sibuk dengan pikirannya, Seira hanya mengulum senyum sembari menatap sosok di hadapannya. Tidak ada alasan untuk Daiki bertahan dengannya. Ia tidak meminta hidup Daiki ketika menolongnya 12 tahun silam. Bagi Daiki, jalan sebagai bodyguard adalah hal yang ia yakini sebagai garis hidupnya. Terima kasih kepada ayahnya yang terus menerus mengatakan hal itu pada Daiki di tiap kesempatan yang ada, seolah mencuci otak anak umur 7 tahun yang masih terlalu polos untuk bertanya.

'Segalanya akan lebih mudah kalau sejak awal aku tidak menjadi seorang nona bagimu.'

Daiki mengerjap, tidak bisa mempercayai tulisan yang baru saja selesai ditorehkan oleh jari lentik itu. Apakah ini artinya sejak awal keberadaannya tidak diinginkan oleh nonanya? Bagaimana dengan setiap waktu, hari demi hari yang telah berlalu itu?

"Kau benar-benar tidak menginginkanku. Itu yang ingin kau katakan, bukan?" Nadanya menuduh. Tercampur dengan skeptis dan pilu yang terasa bagai cairan empedu di kerongkongannya. Daiki bisa merasakan bagaimana telapak kakinya mendingin, meski udara lembab musim panas yang gerah memenuhi ruangan tersebut. Tatapannya tak berpaling dari nonanya, mencari dusta yang mungkin terpercik di kedua bola mata merah yang meredup karena remang cahaya.

Seolah menangkap luka di kedua mata safir itu, Seira menarik tangan Daiki mendekat. Jarinya kembali mengeja huruf demi huruf di telapak yang terasa lembab itu, tanpa melepaskan tatapannya yang melembut kepada sosok di hadapannya. Cahaya di ruangan itu redup, namun awas matanya dapat menangkap gurat keterkejutan yang lepas di sudut mata Daiki begitu satu kalimat selesai ia ejakan.

'Lebih dari sekedar nonamu, akan lebih membahagiakan jika aku dapat menjadi pendampingmu.'

Belum sempat sadar dari kalimat tersebut, Seira meneruskannya dengan satu kalimat lain di tangannya.

'Aku menyukaimu, Daiki.'

Hanya ketika bibir Seira yang pecah-pecah dan terasa panas menyentuh telapaknya, Daiki bisa merasakan rona hangat menyerang wajah, telinga, terus sampai ke lehernya.


A/N : Sekarang, mari mempertanyakan kabar Midorima dan yang lainnya...

Halo! Selamat pagi! Terima kasih sudah kembali membaca serial ini! Akhirnya, Nona memutuskan untuk menyatakan perasaannya ke bodyguardnya tersayang. Semoga Daiki gak freak out aja di chapter depan. Hahaha!

Senang sekali bisa kembali mempublish mereka berdua ini! Semoga semua yang membaca juga ikut senang dengan mereka serta perkembangannya, ya! Again, terima kasih sudah membaca dan stay dari chapter awal! See you in the next chapter and comments would be lovely!