.

.

.

Dengan pekerjaan yang berbeda dan tempat tinggal yang terpisah, tak pernah sekalipun keduanya bertemu dan berkomunikasi. Hubungan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu terputus begitu saja, meskpiun dalam hati keduanya, ada cinta yang masih sebegitu besarnya.

.

.

.

Home is where your heart is...

It takes hands to build a house, but only hearts can build a home..

.

.

.

.

Author Ela_JungShim presents

An Alternate Universe fanfiction

"Home"

Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)

Rate : T

Length : ?

Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK/TVXQ/ToHoShinKi

Warn : TYPO's!

This is HOMIN Fanfiction. Jadi pair utamanya adalah HOMIN. Bagi yang tidak suka, silahkan angkat kaki dari fanfic ini.

Ela JungShim is back~

.

.

.

.oOHOMINOo.

.

.

.

.

"Yunho, apa kau baik-baik saja?"

Yunho menoleh pada Donghae—rekan kerjanya—yang kini menatap dirinya dengan tatapan seolah ia tengah melihat alien. Aneh, geli, tak percaya dan takjub.

"Huh? Aku baik-baik saja kok. Apa maksudmu?"

Donghae, rekan kerja Yunho semenjak tiga tahun lalu hanya menatap temannya itu dari atas sampai bawah. Dari ujung kaki, kembali lagi ke ujung kepala—dan namja itu mendengus.

"Kau terlihat sangat berantakan dan kacau. Kalau tak ingat kalau kau adalah temanmu, aku pasti akan mengataimu gila—whoops! Jangan langsung pasang tampang seram begitu Yunho-yah. Aku kan hanya mengucapkan apa yang kulihat."

Yunho yang sudah akan memarahi temannya ini mengangkat satu alisnya dengan tatapan tegas yang menuntut penjelasan.

"Kau, apa kau sadar kalau kau memakai dasi warna hijau? Seragam kita berwarna biru gelap, Yunho. Dan kau memakai dasi hijau di dadamu. Selain itu, apa kau tak sadar, kalau kau hanya pakai satu kaus kaki? Mana kaus kakimu yang satunya? Dan demi Tuhan Yunho, tolong, rapikan rambutmu dan bercukurlah." jelas Donghae sambil menunjuk-nunjuk bagian tubuh Yunho yang menunjukkan kegilaannya. "Kau terlihat sangat kacau dan tidak rapi seminggu belakangan ini. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

Yunho yang sedari tadi mendegarkan penjelasan Donghae hanya dengan setengah kepeduliannya, langsung tersentak. Ia... terlihat sangat kacau dan tidak rapi... seminggu belakangan ini?

Seminggu sebelum hari ini... adalah hari-hari dimana ia memulai hidupnya... tanpa Changmin disisinya...

Dan tanpa sadar ia mengingat...

Hari-hari dimana Changmin masih bersamanya, ia akan dibangunkan oleh Changmin yang menyuruhnya untuk bangun dan mandi. Keluar dari kamar mandi, ia akan menemukan seragamnya hari itu sudah tergeletak rapi di atas tempat tidur mereka. Dari topi hingga ke sepasang kaus kaki yang akan ia pakai hari itu.

Selesai berpakaian rapi, ia akan langsung berjalan ke ruang makan, dan menemukan kekasihnya itu tengah menyiapkan sarapan untuknya. Dan melihat secangkir kopi sudah tersaji di meja makan, ia akan mngulurkan tangan untuk meraihnya sebelum—

"Hyung, ingat gastritismu. Jangan minum kopi dalam keadaan perut kosong,"

—kekasihnya akan mengomelinya dengan penuh perhatian.

Setelah sarapan siap, keduanya akan langsung makan bersama. Kemudian ia akan langsung berjalan ke pintu depan untuk memakai sepatu, dan langsung mengulurkan tangannya untuk menerima tasnya yang disodorkan oleh kekasihnya itu.

"Semua berkas, ponsel, dompet, kunci mobil, sapu tangan, kaca mata, serta bekal makan siang semua sudah tersedia. Jangan sampai telat makan siang! Tapi kalau perutmu sudah terasa sakit hyung, aku sudah memasukkan obat lambungmu di bagian yang paling depan. Apa ada lagi yang kau butuhkan?"

Dan ia akan menyahutinya dengan senyum manis, sebelum menarik kekasihnya itu, dan meraup sepasang bibir sensual Changmin, untuk ia cium dan lumat dengan sepenuh hati.

Setelah puas, ia akan melepaskan Changmin, dan kembali tersenyum mendapati wajah kekasihnya yang memerah dengan manisnya. Ia akan kembali mengecup bibir Changmin, kedua pipinya, dan terakhir mengecup dahinya—sebelum berpamitan untuk berangkat kerja.

Tak pernah ia terburu-buru karena bangun kesiangan. Tak pernah ia terburu-buru memakai baju dan segalanya, hanya karena ia harus menyempatkan diri mampir ke kedai makan untuk mendapatkan sarapan paginya. Semuanya tak akan pernah terjadi... jika Changmin masih disisinya.

Yunho memejamkan matanya erat-erat.

Semua kenangan tentang Changmin membuat hatinya mencelos nyeri. Ia menggelengkan kepala untuk menghapuskan bayangan Changmin yang masih terpatri kuat dalam benak dan hatinya.

"Aku tak apa-apa Donghae. Hanya sedikit terburu-buru belakangan ini saja." ucap Yunho dengan nada tercekat. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Donghae dan berjalan ke mejanya.

Yunho menghela nafas sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membuka tas kerjanya, dan ia langsung menjadi panik saat melihat tasnya kosong melompong.

Oh Tuhan...

Yunho memijit keningnya saat ia mengingat kalau semalam ia mengerjakan laporannya di mejanya di tempatnya tinggal... dan tak ingat untuk memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia merogoh kantongnya untuk mencari ponselnya—

"Oh sial!"

—hanya untuk mendapati kalau semua kantongnya kosong kecuali kantong belakanganya yang berisikan dompetnya. Ponselnya pun ketinggalan.

Ia menjatuhkan kepalanya ke meja kerjanya.

.

.

.

"Min-ah..."

.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan Yunho sudah berada di jalanan untuk pulang ke tempat tinggalnya. Belum ada petunjuk atau clue mengenai kelompok Han, hingga sore hari begini ia sudah bisa pulang sesuai jadwal kerjanya yang asli.

Mengambil nafas panjang, Yunho membuka pintu tempatnya tinggal. Ya, rumah tempatnya tinggal. Karena dalam apapun, tempat ini bukanlah rumahnya. Hanya tempatnya untuk tidur, dan tinggal.

Suasana sunyi, senyap dan terkesan dingin itu menyambut kepulangannya.

Ia menghela nafas dan melangkah masuk. Berhenti sejenak untuk tersenyum sedih ketika ia melepas sepatu, dan menatanya dengan rapi.

"Hyung! Di situ sudah ada rak sepatu. Letakkan sepatumu dengan rapi disana!"

Dirumahnya yang dulu, ada rak sepatu besar yang siap sedia menampung berpasang-pasang sepatu dan sandal miliknya dan Changmin. Sedangkan di tempatnya kini, tak ada rak sepatu, namun tanpa diomeli, ia menata sepatunya dengan baik di lantai.

Ia meletakkan makanan yang sudah ia beli tadi, dan memasukkannya ke microwive untuk di hangatkan kembali. Sementara menunggu hangat, ia masuk ke kamar untuk berganti pakaian.

Helaan nafas seorang Jung Yunho kembali terdengar saat ia memasuki kamar dan mendapati betapa berantakan kamar tidurnya. Seprai berantakan, selimut belum terlipat rapi, baju rumahnya berceceran di tempat tidur dan di lantai.

'Pantas saja Changmin selalu mengomeliku setiap aku tak memasukkan baju kotor dengan rapi di keranjang,'

Selesai membereskan kamarnya dengan hasil yang tak begitu sukses, ia mulai berganti baju. Kembali ke dapur untuk mengeluarkan makanannya dari microwive, Yunho membawanya ke depan televisi layar datar. Ia menyalakan televisi, memencet-mencet remote, dan sekarang televisi itu menayangkan rekaman sebuah acara tv, Lagi.

"...dan di malam berbahagia kali ini, kami akan menyiarkan langsung peragaan busana yang di persembahkan oleh Designer Shim Changmin dari Shim Fashion~!"

Begitu acara itu—yang sudah ditayangkan sejak seminggu lalu, direkam oleh Yunho dan selalu ia tonton setiap hari—dimulai, Yunho mulai melahap makan malamnya.

Tanpa memperhatikan apa yang ia makan, tatapan Yunho tak pernah lepas dari layar televisi. Acara fashion show itu terlaksana satu minggu lalu. Ia membeli tiketnya, dan agar tak melewatkan semuanya—meskipun ia datang ke acara itu—ia sudah mensetting untuk merekam tayangan live acara itu lewat televisi canggihnya.

Dan saat mengingat kembali betapa banyak yang mendatangi acara itu—termasuk para artis papan atas dan tokoh-tokoh kenegaraan—membuat Yunho sadar bahwa ia sangat bodoh karena tak sekalipun ia meluangkan waktu untuk datang ke acara besar Changmin.

Dibandingkan dengan siapapun, ia adalah orang yang paling tahu betapa berbakatnya Changmin dalam hal merancang berbagai ide busana. Changmin adalah orang yang memiliki sense of fashion, selalu up to date, dan segala ide yang ia tuangkan dalam bentuk gambar adalah model baju yang sangat menarik..

Dan meskipun ia mengetahui semua hal itu... tak pernah sekalipun ia menengok perkembangan butik Changmin, dan mendatangi acara fashion show yang digelar oleh Changmin...

"Jangan bandingkan pekerjaanmu dengan pekerjaanku! Yang seharian kau kerjakan kan hanya duduk dan menggambar saja! Sedangkan aku harus mengurusi berbagai tindak kriminal! Lagipula, waktumu di rumah kan lebih banyak, dan kau sendiri yang memaksa kalau rumah harus selalu bersih. Jadi kalau kau merasa lelah bersih-bersih rumah, ya itu salahmu sendiri!"

Bodoh.

Ia sungguh sangat bodoh.

Benar-benar amat sangat bodoh.

Bagaimana mungkin mulutnya bisa mengucapkan kalimat menyakitkan itu pada Changmin?

.

.

.

Dan ketika pada akhir acara, Changmin ikut berjalan dengan sangat anggun dengan baju rancangannya. Berjalan bak model, membuatnya terlihat begitu gorgeous dan sangat menawan. Namun satu hal yang membuat hati Yunho mencelos, sepasang mata bambi itu terlihat agak bengkak. Kantung mata dan lingkar hitam masih terlihat jejaknya diantara usapan make up.

Yunho tak bisa menahan hatinya untuk tak meraung memanggil nama orang yang paling dan masih sangat ia cintai dengan seluruh hati, pikiran dan jiwanya...

.

.

.

"..Changmin-ah..."

.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

.

Kacau.

Semua rasanya kacau.

Hatinya, pikirannya, dan juga hidupnya belakangan ini terasa amat kacau.

Kacau... tak tenang... gelisah...

...goyah...

Seolah-olah ia tengah berada di tepi jurang kewarasannya.

Saat sedang bekerja, memang ia bisa menekan perasaannya dan berusaha fokus. Namun begitu sudah diluar lingkup pekerjaan... ia tak tahu lagi apa yang terjadi di sekitarnya.

Ia tak peduli...

Yang ia tahu... sampai di tempat tinggalnya, ia akan membuka ponselnya, melihat berbagai fotonya dengan Changmin...

Changmin yang masih tertidur lelap dengan wajahnya yang polos seperti anak kecil...

Changmin yang tengan konsentrasi memasak..

Changmin yang tengah melepas bajunya...

Changmin yang memasang wajah imut dan merengek ke arahnya..

Changmin yang sengaja berpose seksi dan menggoda di atas tempat tidur...

Changmin yang menggembungkan pipinya, mempoutkan bibirnya karena tengah merajuk...

Dan Changmin yang menatap ke arahnya, dengan senyum lebarnya yang membuat missmatch eye-nya terlihat jelas...

Oh Tuhan... betapa ia sangat merindukan Changmin...

Merindukan suaranya...

Merindukan senyumnya...

Merindukan kehadirannya... keberadaannya...

Merindukan ketenangan hatinya yang hanya bisa ia dapat hanya dengan mengetahui kenyataan bahwa Changmin adalah miliknya...

Changminnya...

Tonggak kewarasannya...

Penopang kehidupannya...

Pembawa kebahagiaan bagi dirinya...

Bagaimana bisa malam itu ia mengatakan semua kalimat-kalimat menyakitkan itu? Padahal Changmin sudah melakukan semua hal-hal kecil namun penting itu demi dirinya...

Sekarang ini... ia rela melakukan apapun juga demi menarik semua kalimat yang sudah terlontar dari bibirnya malam itu...

Jika kebebasan berarti ia setengah mati merindukan Changmin... seribu kali pun ia akan memilih Changmin dengan segala omelannya...

.

.

.

Yunho berdiri. Kembali menyalakan televisi. Kembali menonton ulang rekaman acara fashion show-nya Changmin.

Dan ia kembali merasa ingin memukul dirinya sendiri hingga babak belur melihat Changminnya disana. Memamerkan senyum bahagia, meskipun sepasang mata itu penuh duka dan entah air mata sudah berapa kali mengalir dari permata indah itu...

Ia ingat janjinya. Ia ingat sumpahnya, yang tak akan membiarkan siapapun menyakiti dan membuat Changmin menangis...

Yunho memejamkan matanya erat, dan ia membiarkan air mata keputus asa-annya mengalir...

Ya Tuhan... apa yang sudah ia lakukan?

.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

.

BRAKKK!

Boa—karyawan di Shim Boutique, menghela nafas melihat pintu besar itu dibanting dengan keras.

"Boa-eonnie, Changminkah itu?" tanya Hyekyo, salah satu pekerja disana.

Boa mengangguk, dan kemudian menghela nafas lagi.

"Kupikir mood Changmin jadi begitu karena tekanan acara fashion show itu. Tapi ini sudah dua minggu setelah acara fashion show itu. Kenapa mood Changmin bukannya membaik, tapi malah semakin buruk?" tanya Hyekyo yang lama-lama merasa khawatir juga.

Boa menggeleng. "Aku tak tahu Hye."

"Aku khawatir padanya. Apa eonnie tak lihat, belakangan ini, setiap kali datang, matanya selalu terlihat bengkak seperti habis menangis."

"Aku tahu. Aku juga memperhatikannya. Selain itu, dia juga terlihat semakin kurus. Pipinya semakin nampak tirus."

Hyekyo mengangguk dan menatap pintu ruangan Changmin dengan tatapan sedih dan khawatir. "Ada hal yang membuatnya marah dan sedih." gumam Hyekyo. "Aku ingat, beberapa hari sebelum acara fashion show, Changmin mengunci pintu didalam sana. Kupikir ia tengah menggambar design baju lagi, sampai kudengar suara barang-barang yang pecah."

Boa menghela nafas dan mengangguk. "Ya, aku ingat saat itu. Begitu Changmin pulang, aku masuk dan dibuat kaget setengah mati melihat ruangan itu berantakan seolah ada badai menerpa. Saat itu aku bertanya-tanya, siapa yang sudah membuat Changmin semarah itu, sampai-sampai ia yang super rapi jadi hilang kendali begitu."

Hyekyo meraih lengan Boa dan meremasnya pelan. "Aku khawatir pada Changmin, eonnie. Apalagi kalau ingat kejadian saat fashion show. Kalau aku tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku tak akan percaya kalau aku melihat Changmin menangis."

"Benarkah? Kau melihat langsung kejadiannya?" tanya Boa yang hanya pernah mendengar rumor itu saja.

Hyekyo mengangguk dengan wajah mendung. "Aku tak tahu mengapa, hanya saja saat para model tengah berjalan di catwalk, aku sekilas melihat Changmin memperhatikan para penonton. Dan tiba-tiba saja pandangannya terhenti pada satu arah. Aku tak tahu ia melihat apa, atau siapa, tapi kemudian aku mendengar isak tangis, sebelum ada air mata yang jatuh dari sudut mata Changmin." Hyekyo berhenti sejenak. "Setelah itu Changmin langsung menghapusnya dan pergi ke toilet. Saat kembali, matanya merah dan bengkak. Sampai-sampai ia harus di make up agar tak terlalu mencolok."

"Ya Tuhan..." gumam Boa mendengar cerita itu. Ia hampir tak percaya saat mendengar kabar itu, namun ternyata itu semua benar. Changmin, Shim Changmin yang memiliki harga diri tinggi dan memiliki kemampuan untuk selalu menjaga ekspresinya saat berada di tempat umum itu, kehilangan ketenangannya.

"Dan yang membuat aku semakin khawatir," ucap Hyekyo yang semakin membuat Boa merasa ingin menghentikan percakapan ini, "..adalah karena Changmin jadi semakin tertutup. Kita adalah tangan kanan-kiri Changmin. Ia selalu menghabiskan waktunya disini bersama kita untuk membahas design terbaru, pesanan-pesanan yang masuk, dan semua hal lainnya. Tapi belakangan ini, ia selalu mengurung diri di dalam ruangannya."

Boa menggigit bibirnya. Dirinya, sama seperti Hyekyo, juga menyadari hal ini. "Changmin memang orangnya agak tertutup dan pendiam. Tapi tidak pada kita."

"Iya eonnie. Dan itu adalah yang benar-benar membuatku jadi sangat khawatir."

.

.

Dan kedua yeoja itu hanya bisa memandangi pintu ruangan itu yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam.

.

.

Tak mengetahui sama sekali kalau orang yang mereka bicarakan itu tengah duduk bersimpuh di lantai. Bersandar pada pintu, dengan kepala tertunduk dan wajah yang di penuhi gurat kesedihan.

Sepasang mata bulat itu menatap nanar pada lantai dibawahnya. Sebelum terpejam dan membiarkan satu bulir air mata meleleh di pipinya.

.

.

"...Yunho hyung..."

.

.

.

.oOHoMinOo.

.

.

.

Gelap...

Semuanya terlihat gelap.

Dunianya yang tadinya terang dan penuh warna, kini terlihat hitam-putih dan hanya ada kegelapan yang menaungi.

Ia bingung... tak mengerti harus kemana...

Gelap gulita... dan Ia hilang arah...

Hatinya berseru, berteriak, dan memohonnya untuk mencari sang mentari.

Namun sang akal menolak. Menolak untuk membiarkan ia dan hatinya untuk kembali terluka. Terluka, karena sang mentari sendiri yang memilih untuk berhenti menyinari mereka...

Isak tangis terdengar di dalam kamar sebuah apartemen kecil. Dalam kegelapan pekat di kamar itu, sosok tubuh Changmin nyaris tak dapat di lihat.

Namun disana, diatas tempat tidur, ada Changmin yang terbaring dengan mata terpejam. Terlihat sangat damai, kecuali menghiraukan fakta bahwa tubuh itu terisak pelan dan pipi namja itu basah.

.

.

Shim Changmin bukan orang yang cengeng.

Ia pendiam. Ia introvert. Namun ia memiliki harga diri yang tinggi—nyaris angkuh—,dan jika tersakiti, ia bukan tipe yang akan diam dan menangis. Ia akan membuat rasa sakit itu menjadi amarah, dan dengan kalimat pedasnya, ia akan membuat orang yang menyakitinya itu merasakan apa yang ia rasakan. Dan hal itu membuatnya lega. Membuatnya puas, dan tak lagi teringat dengan rasa sakitnya.

Hanya saja...kali ini berbeda.

Jung Yunho.

Hal yang berbeda kali ini adalah Jung Yunho... dan semua aturan yang ia buat tak berlaku jika sudah menyangkut Jung Yunho.

Jung Yunho...

Mataharinya...

Pembawa warna dan kebahagiaannya...

Pemberi arah dalam setiap langkah kakinya...

Satu-satunya orang yang bisa membuat dunianya jungkir-balik dan menjadi lebih hidup.

Dan saat ini... ia tak bisa membuat dirinya sendiri berhenti menangis.

Akal sehatnya menyuruh dirinya untuk melupakan Yunho. Menghapuskan Yunho yang sudah mengabaikan dan menyakitinya.

Tapi segenap hati, jiwa dan raganya tak ada yang menuruti akal sehatnya.

Hatinya merindukan kehadiran Yunho...

Jiwanya mendambakan hangat dan terangnya keberadaan Yunho...

Raganya menjeritkan eksistensi Yunho yang selalu memperhatikan dan memanjakannya...

.

.

Salah.

Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya ia membenci Yunho habis-habisan.

Tapi saat melihat Yunho datang di acara fashion show-nya, semua pikiran untuk membenci Yunho pecah berkeping-keping.

Hanya dengan kembali melihat Yunho secara langsung, air matanya langsung mengalir tanpa bisa ia cegah. Dan air mata itu mengalir semakin deras kala ia menyadari penampilan Yunho.

Namja itu terlihat begitu tak terawat. Rambut dan bajunya berantakan. Wajahnya kuyu dan kumis bermunculan tak terurus. Pipinya terlihat kurus... dan ia tak bisa untuk tak merasa sangat khawatir pada Yunho. Khawatir setengah mati.

Apa yang terjadi?

Mengapa kau terlihat begitu berantakan?

Apa kau makan dengan baik?

.

.

Oh Tuhan... ia tak bisa..

Ia tak bisa untuk tidak terus menangis jika ia jauh dari Yunho...

.

.

.

.

.

.

Namun, kenyataan tak akan pernah bisa seindah kisah dongeng.

Kehidupan adalah perjuangan keras satu di antara perjuangan keras lainnya.

Setiap jalan yang dilalui selalu memiliki cabang, dan setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi.

Dua orang yang masih saling mencintai dan saling membutuhkan, terpisahkan oleh keputusan yang telah diambil oleh keduanya.

~END~

Atau

TBC?

Ini fanfic harusnya cuma oneshot.

*lihat atas*

/facepalm

Keberadaan chapter dua ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab :

Guest077, July park, Ajib4ff, Luvhomin, Changru Minru, Shin min hyo, Yellowgrass, Yu, Hb8, Yunlicha, Mun, Jung Ji Joon, Alicia kim, Kimfida62, Sayakanoicinoe, Renakyu, Chami is Homin, Bambideer, Yoongibiased, Wiwie, Ayee, Hyena lee, Nyonyo Wiyet, Tatan, Siscaminstalove, , Toto-chan, Min-kun, Guest