.
.
.
Home is where your heart is...
It takes hands to build a house, but only hearts can build a home..
.
.
Namun, kenyataan tak akan pernah bisa seindah kisah dongeng.
Kehidupan adalah perjuangan keras satu di antara perjuangan keras lainnya.
Setiap jalan yang dilalui selalu memiliki cabang, dan setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi.
Dua orang yang masih saling mencintai dan saling membutuhkan, terpisahkan oleh keputusan yang telah diambil oleh keduanya.
.
Author Ela_JungShim presents
An Alternate Universe fanfiction
"Home"
Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)
Rate : T
Length : Three of Three
Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK/TVXQ/ToHoShinKi
Warn : TYPO's!
This is HOMIN Fanfiction. Jadi pair utamanya adalah HOMIN. Bagi yang tidak suka, silahkan angkat kaki dari fanfic ini.
.
.
.
.oOHOMINOo.
.
.
.
.
Beberapa orang berkata, setiap kejadian yang orang sangka adalah suatu 'kebetulan' , adalah sebuah hadiah kecil yang di berikan Tuhan untuk orang tersebut. Entah itu kebetulan yang menyenangkan ataupun tidak, itu urusan masing-masing individu tentang bagaimana menyikapinya.
Dan Yunho tak bisa tidak menyetujui hal itu saat ia tengah duduk untuk sarapan di sebuah kafe kecil, entah karena dorongan apa, pagi itu ia memperhatikan orang yang berlalu-lalang di jalanan.
Sepasang manik matanya melebar tak percaya saat ia melihat sosok tinggi semampai berjalan di seberang jalanan lebar yang penuh sesak.
Changmin!
Yunho mengerjapkan mata untuk menghilangkan ilusi itu, namun hatinya tahu, bahkan dalam jarak sejauh apapun, ia pasti akan mengenali Changmin.
Changminnya.
.
..
...masihkah ia berhak menganggap Changmin adalah Changminnya? Miliknya? Meskipun ia telah menyakitinya tanpa hatinya bermaksud?
Dan tiba-tiba benak gilanya mengajaknya untuk berjudi.
Berjudi dengan kebetulan dan takdir mengenai hubungannya dengan Changmin.
Jika Changmin masuk ke kafe kecil ini, berarti memang Changmin adalah takdirnya. Kekasihnya yang memang benar adalah jiwa yang menjadi separuh dirinya. Jika begitu, maka Yunho masih berhak menganggap Changmin sebagai miliknya, dan ia akan melakukan segala cara untuk kembali membawa Changmin ke dalam dekapannya. Segala macam cara.
Namun jika Changmin terus berjalan lurus dan menghilang di belokan jalan... maka ia harus melepaskan Changmin, agar namja itu bisa mendapatkan orang yang lebih baik darinya. Meskipun itu berarti ia harus menahan seluruh rasa cintanya pada Changmin hanya untuk dirinya sendiri. Selama hidup menahan jiwanya.
.
.
.
Menghiraukan makanan dan minuman yang tersaji di hadapannya, Yunho menangkupkan kedua tangannya untuk berdoa. Sepasang mata tajamnya menatap tajam pada sosok diseberang jalan yang berhenti karena mengangkat telepon. Bibir Yunho terus berkomat-kamit menyuarakan doa dan harapannya agar Changmin menyeberang jalan dan memasuki kafe ini.
Sepasang manik Yunho berkilat penuh harapan saat ia melihat Changmin menoleh untuk menatap kafe tempatnya berada.
Secepat itu harapan datang, secepat itu pula ia menghilang ketika melihat Changmin menggelengkan kepalanya, dan berjalan menjauh dari cafe tempatnya berada.
Yunho memejamkan matanya erat, ia bisa merasakan dan mendengar suara hatinya yang hancur.
It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I'd go back to December, turn around and change my own mind
I'd go back to December all the time.
Dan Yunho hanya bisa tersenyum pahit saat lagu milik Taylor Swift berkumandang di cafe ini. Betapa bodohnya ketika dulu ia menganggap kalau setiap omelan Changmin hanya mengekang setiap tindakannya, dan pernah benaknya mengandaikan kalau saja ia berpisah dari Changmin, maka ia akan bisa bebas. Bebas dari omelan ricuh kekasihnya setiap waktu.
Namun apa?
Yang sekarang ia rasakan setelah berpisah dari Changmin bukanlah kebebasan. Yang ia rasakan sekarang hanyalah kekosongan hampa dalam hatinya...yang hanya bisa terisi oleh Changmin seorang...
Tak ada hal yang lebih ia inginkan selain memutar balik waktu. Kembali ke hari itu, dan mencegah dirinya sendiri untuk mengucapkan segala kalimat menyakitkan itu kepada Changmin. Satu-satunya orang yang selalu ada disampingnya. Ada untuk dirinya... dan ia menyakitinya dengan kata-kata kejam hanya karena ia butuh pelampiasan atas semua kejadian yang tak terjadi sesuai harapannya.
Bodoh..
Dirinya benar-benar sangat bodoh...
Dan sekarang bahkan takdir pun tak mengijinkannya untuk berusaha mendapatkan Changmin kembali.
Tanpa sanggup ia tahan, sebulir air mata kepedihan terjatuh dari sudut matanya...
.
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
.
Bagi seorang Shim Changmin, tak ada yang namanya kebetulan di dalam hidupnya. Ia percaya, bahwa setiap hal kebetulan adalah caraTuhan untuk menyampaikan takdirnya. Maka dari itu, ia selalu menganggap setiap impuls aneh yang menyuruh dirinya melakukan sesuatu adalah hal yang tak pernah boleh ia tolak.
Pertama kali ia melakukan suatu tindakan gila adalah saat pertama kali ia memutuskan untuk menolak masuk ke high school ternama sebagai siswa beasiswa berprestasi, dan malah memutuskan untuk masuk ke Shinki High School. Hal itu ia lakukan karena saat melewati Shinki High School, ia merasakan suatu perasaan aneh yang mengatakan kalau ia akan menemukan suatu hal menarik di sekolah tersebut.
Dan takdir tak pernah mengecewakannya.
Ia menjadi pengurus sekolah. Bertemu dengan sunbae yang bernama Jung Yunho. Dan saat semakin lama berteman ia mulai merasakan debar-debar indah menaungi jantungnya setiap ia bertatapan dengan sang sunbae, ia tahu kalau ia sudah bertemu takdirnya. Belahan jiwanya.
Yunho adalah satu-satunya orang yang langsung berteriak senang ketika ia menemukan passion dalam hidupnya. Menyemangatinya, dan mendukungnya dalam meraih mimpinya menjadi seorang designer ketimbang menjadi dokter ataupun profesi lain yang lebih sanggup menjamin masa depannya—karena Yunho tahu bahwa mendesign adalah hal yang membuatnya hidup dan bersemangat.
Menjalin kasih dan akhirnya tinggal serumah dengan Yunho adalah hal yang paling membahagiakan baginya. Meninggalkan rumah yang menolak bahwa ia menyukai sesama jenis dan menghinanya sebagai designer dan membuat rumahnya sendiri bersama Yunho tak pernah ia sesali, karena disitulah kebahagiaannya berada.
Dan mungkin itu adalah kesalahan terbesar dirinya. Ia merasa begitu bahagia bersama Yunho, sehingga ia tak menyadari bahwa setiap hari ia selalu mengomel. Menuntut berbagai hal dari Yunho, tanpa pernah ia mencoba memberi pengertian pada Yunho.
Ia tak pernah menyadari semua hal itu, sampai ia berpisah dengan Yunho. Ia yang angkuh, sering mengeluarkan kalimat singkat namun pedas itu tak pernah menyadari bahwa satu-satunya hal yang membuat dunia-nya berwarna dan indah adalah karena eksistensi Yunho disampingnya.
Tanpa Yunho ia tak lagi bisa tersenyum. Tanpa Yunho ia tak bisa lagi melihat dunia ini selain dalam warna hitam-putih yang begitu kelabu. Hanya Yunho yang benar-benar bisa mengerti dirinya. Hanya Yunho yang tahu bahwa dibalik kedok tingkah angkuh dan kasarnya, ia membutuhkan seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya. Menerima sifatnya yang kekanakan, angkuh, senang menyerang orang dengan kalimat pedas, dan ke-egoisannya yang sangat tinggi.
Namun Yunho tak hanya mengerti dirinya. Yunho menerima setiap sifat buruknya. Menerima dan mendukung setiap langkah yang ia ambil. Dan mencintainya. Yunho selalu memberikan kata-kata cintanya. Selalu memberikan pujian gombalnya yang membuatnya memerah, namun bodohnya, ia selalu membalas kalimat cinta Yunho dengan ucapan pedasnya.
Melihat dan merasakan cinta Yunho padanya membuatnya besar kepala. Membuatnya tak mempedulikan bahwa sifat egoisnya semakin menguasai dirinya—tanpa memperhatikan Yunho.
Ya, ia membersihkan rumah mereka—namun itu karena ia sendiri memiliki sifat neat freak yang menginginkan segalanya tertata rapi dan bersih. Ya, ia memperhatikan penampilan Yunho—namun itu karena ia sendiri yang ingin melihat Yunho nampak begitu tampan dan menawan.
Tapi ia tak pernah memperhatikan Yunho sebagai individu sendiri. Ia menuntut Yunho untuk selalu membuat rumah rapi tanpa ia pernah menjelaskan apa yang ia inginkan. Benda apa yang harus di taruh dimana, dan ia tak pernah memberikan toleransinya pada Yunho. Ia tak pernah mengingat kalau Yunho bukanlah dirinya yang bisa selalu rapi dan bersih, dan ia tak pernah mentoleransi Yunho akan hal itu.
Bukan salah Yunho kalau lelaki itu tak terbiasa meletakkan sesuatu secara rapi ke tempat asalnya. Yunho adalah orang yang ceroboh dan pelupa, dan ia tak pernah menerima hal itu. Ia memaksa Yunho untuk selalu membuat rumah rapi, dan selalu memarahi dan mengomeli Yunho setiap detik karena hal remeh itu.
Tak pernah ia menyambut pulang Yunho yang tengah lelah dan letih akan pekerjaannya dengan sebuah senyuman. Selalu saja ia menymabut kepulangan Yunho dengan omelannya yang tak penting.
Tak pernah ia menanyakan bagaimana perkembangan pekerjaan Yunho seperti yang pria itu lakukan padanya—meskipun Yunho selalu sibuk untuk menghadiri acara fashion show-nya, lelaki-nya itu selalu menanyakan perkembangan butiknya.
Bodoh...
Ia benar-benar adalah orang paling bodoh di dunia ini... karena tak pernah menyadari betapa berharganya Yunho bagi dirinya.
.
.
.
Pagi itu ia berjalan terburu di keramaian. Semalaman penuh ia kembali menangisi Yunho di dalam kamarnya hingga tertidur kelelahan. Paginya ia terlambat bangun, dan hanya dengan concelear seadanya ia menutupi bekas tangisanya. Ia melangkah dengan cepat dan tak menghiraukan sekelilingnya. Namun sebuah cafe kecil secara tiba-tiba masuk ke dalam sudut penglihatannya, dan ia terdiam.
Changmin sudah akan berjalan menuju ke cafe kecil itu sebelum sebuah telepon masuk ke ponselnya. Boa. Memintanya agar segera datang ke butik karena ada beberapa orang penting menunggunya untuk membicarakan sebuah proyek acara fashion show.
Ia menatap kembali cafe itu dan menggelengkan kepalanya. Berjalan pergi hanya lima meter, perasaan kuat yang membuatnya kembali menoleh ke cafe itu membuatnya berpikir ulang. Ada sesuatu di cafe itu yang menarik perhatiannya, dan akhirnya ia menyerah.
Melangkah masuk ke dalam cafe itu, ia disambut dengan suara memelas Taylor Swift dalam lagunya.
I miss your tanned skin, your sweet smile,
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night
The first time you ever saw me cry.
Maybe this is wishful thinking,
Probably mindless dreaming,
But if we loved again, I swear I'd love you right.
Langkah Changmin terhenti, dan jantungnya seolah di remas dengan sangat kuat. Mendengar itu yang terbayag di balik kelopak matanya adalah wajah Yunho. Wajah tampan namja itu yang tengah tersenyum lebar ketika mereka tengah berlibur berdua untuk melarikan diri dari sakit hatinya ketika ia diusir pergi oleh keluarganya.
Siang itu ia dibuat sanggup kembali terseyum oleh kehangatan Yunho. Malam itu ia tertidur dalam dekapan Yunho yang menenangkannya ketika mimpi buruk pengursirannya membayang dalam mimpi.
Dan sebulir air matanya kesedihanya mengalir tanpa sanggup ia cegah...
.
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
.
Mungkin inilah takdir Tuhan...
.
.
.
"...Yunho hyung..?"
Yunho seolah tak percaya dengan telinganya. Suara manis itu memanggilnya. Suara manis yang sangat ia rindukan itu memanggil namanya.
Perlahan ia mengangkat kepala dan membuka kedua kelopak matanya yang terpejam. Ia mendengar suara terkesiap, sebelum ada sebuah tangan lembut mengusap pipinya yang basah. Ia mengenali jari-jari ini, dan dengan segala kekuatannya,ia menggenggam erat jemari itu. Menggenggamnya, dan tak akan lagi pernah melepaskannya.
"Yunho hyung..."
"Min-ah... Changmin-ah..."
Indra penglihatan Yunho menangkap sosok Changmin, dan tanpa ragu ia langsung menarik tangan Changmin, dan membawa namja bermata bambi yang basah karena air mata itu ke dalam pelukannya.
"Maaf... Maafkan aku Changmin-ah..." ucap Yunho tanpa sanggup ia tahan lagi.
Dan Changmin yang mendengar hal itu hanya sanggup untuk menangis. Ia balas memeluk erat Yunho, dan dengan suara yang terpatah, ia mengatakan "Ma-maaf...maafkan aku ya-yang sudah begitu e-egois.. A-aku selalu... se-selalu mencintaimu..."
Dan tak ada hal yang lebih membuat Yunho kembali merasakan bahwa ia telah kembali ke rumahnya selain saat ia mendengar ucapan Changmin padanya.
Home
.
.
.
Pagi itu, di cafe kecil itu, keduanya bertemu dan saling meminta maaf. Setelah itu keduanya memutuskan untuk pergi bersama ke rumah lama mereka. Disana, keduanya mencurahkan segala hal yang sudah mengganjal di hatinya.
"Aku melihatmu, hyung. Aku melihatmu datang ke acara fashion show-ku." ucap Changmin saat keduanya sudah aman berada di dalam rumah lama mereka.
Yunho mengangguk mengiyakan. "Ya. Saat itu aku memang datang. Aku terlalu merindukanmu Changmin." ucap Yunho jujur, sambil meraih tangan Changmin. "Maafkan aku, Changmin." Yunho meletakkan tangan Changmin ke wajahnya, dan mengecupnya. "Maafkan aku. Tak seharusnya aku melampiaskan masalahku padamu, Min-ah. Aku minta maaf. Kau selalu mengurusiku, dan selalu berusaha membuat rumah menjadi bersih dan rapi, tapi aku malah—"
Ucapan Yunho terhenti saat tangan Changmin menutup bibirnya.
"Tidak, hyung. Kau tak bersalah. Akulah yang bersalah disini, hyung. Setiap hari aku selalu mengomelimu, dan aku tak pernah berusaha untuk mengerti dirimu—"
Kali ini giliran Changmin yang kalimatnya harus terhenti, karena kini ia berada dalam dekapan hangat yang sangat ia rindukan. Tak sanggup lagi, Changmin balas memeluk Yunho dengan erat, dan air mata bodohnya kembali mengalir.
"..hyung... hiks.. Yunho hyung..."
Yunho mengelus lembut surai halus Changmin. Ia sendiripun merindukan moment seperti ini. Moment dimana ia bisa memeluk tubuh ramping Changmin dalam dekapannya. Tubuh yang begitu pas untuknya, seolah Changmin memang dirancang khusus untuk dirinya.
"Sudah Min-ah.. Sudahlah. Mungkin ini memang hal yang harus terjadi. Karena dengan semua kejadian ini, aku benar-benar bisa sepenuhnya menyadari betapa berartinya keberadaanmu disampingmu. Aku membutuhkanmu untuk bisa hidup dengan baik, Min-ah. Jeongmal saranghaeyo.."
Changmin mengeratkan pelukannya pada Yunho, dan semakin menyurukkan wajahnya ke dekapan Yunho.
Pulang.
Akhirnya ia bisa pulang ke rumah.
.
.
.
Dan tak perlu waktu lama bagi kedua insan yang sebenarnya masih saling mencinta itu untuk kembali bersama. Bukan berarti semua masalah sudah terselesaikan. Hanya saja keduanya sekarang lebih bisa untuk menghargai keberadaan masing-masing. Dan sekarang, toleransi di antara keduanya menjadi semakin baik. Tak lagi Changmin selalu mengeluhakan ketidak rapihan Yunho, karena keduanya sudah sepakat. Yunho berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang tak disukai Changmin. Dan Changmin sendiri memberi petunjuk-petunjuk kecil di tempat yang tepat.
Contohnya, saat pertama kali masuk rumah, di rak sepatu sudah ada memo kecil.
'Tolong letakkan sepatu/sandal di rak sepatu dengan rapi~ ^o^ '
, dan lain sebagainya.
Sekarang, setiap hari keduanya selalu menyempatkan diri untuk berkumpul berdua di depan televisi. Bergelung mesra berdua di atas sofa, dan saling bercakap menceritakan hari masing-masing.
Dan kalau mood mesra Yunho muncul—yang hampir setiap waktu muncul ketika ia bersama Changmin—ia akan menghujani kekasihnya itu dengan kecupan-kecupan mesra di setiak inchi wajah manis Changmin. Dan jangan salahkan Yunho kalau setelah ia melihat wajah Changmin yang memerah dengan sangat manis, ia jadi tak bisa menahan dirinya untuk tak mengecup mesra bibir pouty Changmin, dan berakhir dengan membawa kekasihnya secara bridal style ke dalam kamar mereka, dan melakukan hal-hal yang membuat Changmin mendesah, melenguh, mengerang dan menjeritkan nama Yunho dengan suara penuh nafsu.
Kebersamaan keduanya sekarang, setelah melalui perpisahan menyakitkan itu membuat keduanya sadar. Yunho adalah matahari bagi Changmin. Memberikannya kehangatan dan warna di dalam kehidupannya. Dan bagi Yunho, Changmin adalah satu-satunya tonggak kewarasannya. Memberikannya semangat dan penopang dalam hari-harinya menjalani hidup.
Bagi Yunho, Changmin adalah rumahnya. Dan bagi Changmin, Yunho adalah satu-satunya tempat ia kembali.
Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk kembali menyatukan kedua insan yang memang sudah ia gariskan untuk bersama.
Untuk kembali mengarungi hidup dalam kebersamaan, dengan pengertian yang akhirnya sudah benar-benar saling ada diantara mereka.
Dan keduanya akhirnya benar-benar mengerti.
Home is where your heart is...
It takes hands to build a house, but only hearts can build a home..
.
.
.
.
.
.
~END~
End. Finish. Tamat.
Efek baper ditinggal Changmin wamil, tadinya mau bikin ini jadi sad ending..
Tapi nggak tega juga akhirnya.
Buat Mel, akhirnya selesai juga fanfic yang akhirnya niat aku bikin saat kita ngobrol sambil makan yah..
Oh, dan mungkin bakal lebih lama lagi buat apdet fanfic, cz lappy chan sudah nggak di rumah. Ini aja bikinnya mulai dari tadi pagi, pake kompi di rumah secara sembunyi-sembunyi, cz tiap bberapa menit sekali ada orang rumah lewat, jadi kudu close window XD But, bear with me please, cz I will never abandon my HoMin fanfic~
Buat yang sudah review:
Luvhomin, SecretVin137, Guest, Kimkeykim, L, Minniequeen, Min-Kun, Lenie239, Guest007, Ifa, Shineeetha, Jun-yo, siscaMinstalove, Sonia Jung, Hyena lee, ayee, , yu, Chami is homin, tatan, Wiwie, Renakyu, amelia nopia, noname, toto-chan, hb8, Okta Jung, ajib4ff, july park, Alicia Kim, Jung ji joon, Changru Minru, kimfida62, NyoNyo wiyet, yoongibiased, bambideer, sayakanoicinoe, mun, yunlicha, yellowgrass, shin min hyo, TERIMA KASIH BANYAK sudah merelakan waktu buat membaca dan mereview cerita ini~ I love you all soooo muuuccchhhh
Buat semua HoMin Shipper family, I Love You all
Dan biarpun TVXQ sedang masa hiatus karena wajib militer, ayo kita tetap setia menunggu kembalinya duo tercinta kita.
#Waiting ForTVXQ
Love, HoMin Shipper
