Mutsunokami Yoshiyuki adalah seorang consigliere.
Ia sudah ada sejak Mezzaluna Famiglia hanyalah keluarga mafia yang sering dihina. Ia sudah berdiri sejak Mezzaluna Famiglia baru memiliki anggota yang dapat dihitung dengan jari. Ia sudah menyandang gelar anggota Mezzaluna sejauh yang ia ingat—sejak kapan? Ah, ia lupa.
Yang pasti, Mutsunokami sudah ada sejak lama, bahkan sebelum para capo direkrut—yang membuat Mutsunokami bertanya-tanya mengapa dirinya tidak juga naik pangkat, tetapi ya sudahlah—ia menyaksikan orang datang dan pergi, keluar dan masuk, mencoba membunuh dan dibunuh. Ia menyaksikan Mezzaluna Famiglia perlahan naik ke atas tahta dunia bawah.
Ia menyaksikan pergantian pemimpin. Ia bahkan menyaksikan Shishio, salah seorang capo Mezzaluna yang merupakan orang kedua dari yang paling muda di dalam famiglia, tumbuh besar menjadi seorang remaja setelah dipungut dari jalanan oleh boss mereka yang terdahulu.
Intinya, Mutsunokami sudah cukup lama ada di dalam famiglia, sehingga wajar baginya mengenal satu dan setiap wajah yang berkeliaran di dalam mansion mereka; satu dan setiap atas maupun bawahan, satu dan setiap orang yang berjalan menelusuri lorong basis mereka.
Oleh karena itu, tak sulit baginya untuk menyadari fakta bahwa ia tidak pernah melihat Yamanbagiri Kunihiro hingga sang pemuda menyelamatkan kepala Mutsunokami dari peluru.
.
.
La Nostra Spada belong to Azureinne Karale
Touken Ranbu belong to DMMゲームズ/Nitroplus
An alternate universe fanfiction with typo(s), mentions of blood, suicides, homicide, and possibly out of character story.
Read at your own risk.
.
.
Di dunia ini, hanya satu hal yang Mutsunokami benci dengan segenap jiwa dan raganya.
Paperwork: laporan tertulis untuk boss terkait misinya, kertas-kertas pemberitahuan yang harus ia tandatangani secepatnya, laporan ini-itu terkait kerjasama eksternal dan urusan luar famiglia lainnya, biodata-biodata pejabat yang harus ia hapalkan, dan lain sebagainya.
Mutsunokami membenci semua itu dengan seluruh hati dan emosinya.
Oleh karena itu, tidak janggal baginya untuk datang ke kantor pemimpin Mezzaluna secara langsung untuk menceritakan satu dan setiap misi yang berhasil ia selesaikan. Toh, semua orang sudah terbiasa dengan kedatangannya, malah sang boss yang menyuruhnya berbuat demikian setelah bertahun-tahun berusaha berkutat dengan tulisan acak-acakan yang ditulis dengan sangat tidak niat milik Mutsunokami. Lisan lebih cepat dan jauh lebih mudah.
Namun ketika sang consigliere membuka pintu ganda yang membatasi kantor atasannya dengan lorong, ia dikejutkan dengan tiga sosok tambahan yang berdiri di tengah ruangan sembari menghadap pemimpin Mezzaluna di dalam sana. Membuat kantor luas yang penuh dengan alat kerja dan hiasan senjata itu menjadi sedikit lebih ramai dari yang biasanya.
"Yo, Mutsu!" Shishio melambaikan tangannya dari tempatnya berdiri agak di sudut ruangan. Sepasang iris cokelat tersembunyi di balik rambut pirang yang menutupi sebelah matanya. Cengiran lebar menghiasi wajahnya yang tampan, tatapannya berbinar akan rasa riang.
Mutsunokami membalas sapaan Shishio dengan cengiran yang hampir identik. Kendati Shishio adalah atasannya, mereka berdua tak begitu menyukai formalitas. Apalagi seharusnya, Shishio yang lebih menghormati Mutsunokami berhubung sang consigliere sedikit lebih tua.
"Aku tidak mendengarmu kembali, Mutsunokami," Kogitsunemaru mengerjap, terkejut.
Mutsunokami tertawa, suaranya membelah keheningan dalam melodi yang menenangkan dan sarat akan keceriaan. Iris cokelat tuanya menutup dalam geli, dan cengirannya melebar lagi.
Yang ironis mengingat pekerjaannya bukanlah satu yang dapat diceritakan dengan riang.
"Mereka membiarkanku menyetir," suara Mutsunokami dipenuhi dengan nada jahil.
Sejenak, Kogitsunemaru tampak tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang consigliere, namun kemudian, ia mengerti. Mutsunokami adalah salah satu dari manusia yang diberkati kemampuan untuk menyetir hampir tanpa suara—yang agak janggal karena pernahkah kau mendengar Mutsunokami tertawa? Membahana. Menyaingi tawa salah satu capo mereka.
"Bagaimana misimu? Kau berhasil membunuhnya?" suara kalem Heshikiri Hasebe memecah keheningan. Mengembalikan pembicaraan yang semula berbelok dari yang seharusnya.
Mutsunokami mengangguk, ekspresinya berubah sedikit, menjadi satu yang terlihat lebih serius. Kendati binar-binar di dalam matanya tidak juga mati. "Sudah dibersihkan juga, seharusnya Nikkari sudah membiarkan para wartawan masuk sekarang," jelasnya, santai.
Hasebe mengeluarkan gumaman menyerupai persetujuan dari dalam tenggorokannya, "Kalau begitu, kita harus mencari target baru agar kita tetap dapat ikut campur di dalam pemerintahan," pria muda dengan iris sewarna lembayung senja itu mengelus dagunya, menoleh ke arah Kogitsunemaru, "Ada saran?" tanyanya. Pertanyaannya menggantung di dalam ruangan.
"Yah, kau tahu, orang yang dapat diajak kerjasama atau mudah diancam," Kogitsunemaru menjawab setelah keheningan yang lama. Suaranya hanya sedikit lebih keras dari detak jam.
"Mutsunokami, kau adalah orang yang punya datanya. Coba kau katakan siapa orang yang dapat diajak kerjasama atau mudah diancam?" Hasebe bertanya dengan cepat, tak berhenti untuk mengambil napas, membuat Mutsunokami mengira atasannya itu sedang bernyanyi rap.
Sang consigliere mengeluarkan suara dengung dari tenggorokannya, mata cokelat tuanya nyalang selagi ia berpikir keras. Berbagai wajah dan nama berkelebat di dalam pikirannya, dan salah satunya membuat Mutsunokami menjentikkan jarinya, "Yang mudah diajak kerjasama sudah beraliansi dengan kita, dan yang mudah diancam hanya tinggal satu orang."
Hasebe memutar kedua bola matanya mendengar basa-basi Mutsunokami, "Siapa?"
Cengiran tersulam di bibir Mutsunokami. Namun tidak selebar dan secerah yang sebelumnya; malah jauh lebih gelap dan jauh lebih berbahaya. "Akashi Kuniyuki. Ia memiliki dua adik, Hotarumaru dan Aizen Kunitoshi yang dapat kita jadikan bahan ancaman. Kudengar ia punya semacam brother-complex seperti pemimpin Fragola, jadi kurasa tak sulit mengancamnya."
Sebuah persetujuan tertulis di udara, tanpa suara, tanpa kata.
"Shishio," sosok terakhir yang duduk di kursi akhirnya berkata. Suaranya penuh karisma dan penuh akan seribu satu rahasia. Panggilannya membahana, menggema dalam sepinya suasana.
"Boss," jawab Shishio, punggungnya menegak sedikit.
"Pergilah ke tempat Akashi Kuniyuki dan berilah ia ucapan selamat datang," sang pemimpin berujar, memainkan jemarinya yang pucat dan kontras dengan helai-helai rambutnya. Sekilas, tak ada yang salah dengan bahasa yang ia gunakan, namun anak buahnya lebih dari tahu maksudnya. Hening sebelum sang atasan melanjutkan kata-katanya, "Bawalah seseorang bersamamu, tetapi jangan Iwatooshi. Aku ingin memberinya misi lain."
Shishio mengangguk patuh, "Apakah lebih baik bila aku membawa seorang dari bawahanku?"
Sosok yang duduk di kursi itu mengeluarkan suara dengung dan tenggorokannya, sepasang iris sewarna langit malam mengintip dari balik rambut sewarna bayangan, "Silahkan," katanya, selagi sebuah senyum tipis lalu terbentuk di wajahnya yang melawan laju cahaya.
"Oh! Kalau kau mau membawa bawahanmu, aku merekomendasikan Si Pirang, Shishio!" celetuk Mutsunokami dari tempatnya di dekat pintu, yang seolah siap untuk melarikan diri.
Capo yang lebih muda menoleh ke arah Mutsunokami, mengerjap. "Si Pirang?"
Shishio adalah seorang atasan yang baik dan benar, ia hapal dan tahu semua bawahannya. Jika disuruh memberikan deskripsi singkat, pemuda itu bahkan lebih dari mampu untuk membuat sebuah essai panjang lebar tentang bawahannya sendiri. Jangankan bawahannya sendiri, ia bahkan hapal anggota squad yang dipimpin oleh Mutsunokami dan capo ketiga.
Dan Shishio yakin seratus persen hanya dirinya yang berambut pirang. Baik di dalam squad-nya, ataupun di dalam Mezzaluna famiglia. Kecuali bila yang dimaksud Mutsunokami adalah pirang platina. Itu juga hanya Kogitsunemaru yang punya, dan Kogitsunemaru itu atasannya.
"Iya, Si Pirang! Orang yang sepertinya di antara umurku dan Shokudai. Rambut pirang, mata hijau, yang selalu memakai tudung entah kenapa. Dia datang membersihkan barusan, berarti anak buahmu, kan? Dia menghentikan peluru seorang sniper loh! Aku tidak tahu kau punya bawahan sehebat itu!" Mutsunokami berseru dengan bersemangat, matanya berbinar gembira.
Shishio bertemu pandang dengan Hasebe dan Kogitsunemaru.
"Memangnya ada orang yang berambut pirang selain Shishio?" Kogitsunemaru bertanya.
"Eh? Kenyataannya ada kok, aku juga belum pernah melihatnya sih," Mutsunokami menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pikirannya kembali melayang ke sosok yang ia temui.
Hasebe tidak berkomentar, sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Belakangan ini kita memang merekrut beberapa orang, sayangnya yang melihat semua rekrut baru itu adalah Ishikirimaru karena aku harus mengurus beberapa hal. Mungkin Si Pirang ini rekrut baru."
Terdengar gumaman persetujuan dari tiga sosok lainnya. Sementara sang pemimpin lagi-lagi tak bersuara. Hasebe menyatakan hal itu sebagai lampu hijau untuk terus berbicara, "Kau bilang Si Pirang ini menghentikan peluru? Dengan apa? Kekuatan super?" tanyanya. Karena terus-terang saja, kalimat yang digunakan Mutsunokami terdengar seperti orang ini menghentikan peluru dengan kekuatan super yang hanya dimiliki oleh pemeran utama di film.
Mutsunokami tertawa mendengar pertanyaan Hasebe, "Bisa jadi! Dia menghentikannya dengan belati, gerakannya sangat cepat, lebih cepat dari Iwatooshi," jelasnya, singkat.
Dan untuk berkata bahwa semua orang tak tertarik adalah sebuah salah paham.
"Kau bilang dia berambut pirang?" Shishio bertanya. Menarik perhatian Mutsunokami.
"Hmm? Yep! Dia berambut pirang. Tetapi tidak sepirang rambutmu, agak lebih pudar," sang consigliere menggesturkan tangannya ke arah rambutnya sendiri sebagai visualisasi yang sesungguhnya tak membantu sama sekali. Tetapi toh, semua orang sudah lama terbiasa.
"Dimana kau terakhir melihatnya?"
Dahi Mutsunokami berkerut, "Aku yakin aku melihatnya naik motor. Dan setahuku, yang memiliki motor seperti itu hanya Otegine. Mungkin sekarang ia ada di dekat ruangan Otegine?" nada suara Mutsunokami semakin lama semakin menjurus ke dalam sebuah pertanyaan alih-alih pernyataan.
Tetapi sosok Shishio sudah lama menghilang. Sepasang pintu ganda mengayun terlupakan.
"Mutsunokami, kau bilang ia menghentikan peluru dengan belati?" tampaknya yang tertarik dengan sosok yang diceritakan Mutsunokami tidak hanya Kogitsunemaru dan Hasebe saja.
"Pirang? Ah, maksudmu, Yamanbagiri?" Otegine memutar kursi komputernya agar ia dapat menghadap Shishio. Sepasang iris sewarna kecokelatan terlihat suram di bawah monitor komputer raksasa yang menghiasi ruangan tersebut. "Ia meminjam motorku tadi pagi. Kurasa sekarang ia ada di halaman bagian utara? Biasanya ia selalu di sana," lanjut Otegine lagi.
"Namanya Yamanbagiri?" Shishio memiringkan kepalanya. Nama yang terdengar sangat asing, mungkin spekulasi Hasebe bahwa Yamanbagiri adalah anggota baru itu benar.
Otegine mengangguk, "Yamanbagiri, dengan satu 'g' di tengah," katanya, tak membantu.
Tetapi Shishio tetap berterima kasih dan menavigasi langkahnya menuju halaman bagian utara mansion Mezzaluna. Sama seperti halaman bagian selatan yang disulap menjadi tempat latihan menembak, begitu pula dengan halaman bagian utara. Namun tak banyak orang ingin datang ke sana karena jalur yang diambil harus lebih jauh daripada halaman bagian utara.
Karena itu, mudah bagi Shishio untuk tahu yang mana Yamanbagiri, karena hanya ada satu sosok di tengah halaman. Sedang membidik papan, pistol di tangan kanan, dan belati di tangan kiri. Ia tak mengenakan jas, hanya sebuah jaket hitam yang kedua lengannya digulung.
Yamanbagiri Kunihiro menarik pelatuk. Tak ada suara yang keluar berhubung perendam suara masih terpasang pada ujung moncongnya. Timah panas melesat keluar dari pistolnya, menembus papan—lebih ke kiri dari yang diinginkan Yamanbagiri, tidak tepat di tengah.
Tetapi lumayanlah, Yamanbagiri menurunkan ujung pistolnya sedikit, lebih baik dari yang sebelumnya. Setidaknya kali ini, pelurunya tidak lagi nyasar ke batang pohon terdekat.
Shishio menaikkan sebelah alisnya ketika melihat Yamanbagiri tak bergerak, melangkah maju untuk menyapa. Berhenti seketika ketika moncong pistol itu kini terarah ke arahnya, bersama dengan sepasang iris perisot yang menyipit seolah berusaha mengenali siapa dirinya.
Senyum sang capo mengembang sedikit. Dan pemuda itu menaikkan kedua tangannya dalam gestur menyerah.
"Yamanbagiri, kan? Aku Shishio, capo squad dua—tepatnya atasanmu. Aku punya permintaan untukmu. Bisakah kau turunkan pistolnya sekarang? Leherku gatal."
.
.
Essere continuato
.
.
Bacotan Azureinne:
Halo! Selamat pagi/siang/malam, kapan pun anda membaca ini! Terima kasih sudah sabar menunggu La Nostra Spada chapter dua yang entah kenapa sangat pendek tetapi ya sudahlah.
Azu akan menjelaskan bentuk Mezzaluna yang mulai ketahuan sedikit. Hanya sekedar memperjelas, karena nanti di chapter berikutnya, bentuk Mezzaluna akan kembali dibahas lebih lengkap. Intinya, Mezzaluna itu terbagi menjadi tiga squad. Satu squad dipimpin oleh seorang capo dan seorang consigliere. Shishio adalah capo squad dua, alias squad tempat Yamanbagiri bernaung(?) sedangkan Mutsunokami adalah consigliere squad tiga, yang caponya masih berusaha Azu sensor sekuat tenaga bersama dengan consigliere squad Shishio.
Tiap squad memiliki tugas masing-masing, squad Mutsunokami, seperti yang sudah dijelaskan, kerjanya berhubungan dengan kerjasama eksternal dan urusan di luar famiglia. Sedangkan pekerjaan squad Shishio akan dibahas lebih lanjut, biarpun di chapter satu sudah ada beberapa hints, ufufufufu~
Peran Hasebe dan Kogitsunemaru sengaja Azu sensor, begitu juga dengan identitas pemimpin Mezzaluna, walaupun dari nama famiglia saja sudah kelihatan jelas siapa, uhuk. Ishikirimaru juga sudah disebut, begitu juga dengan Iwatooshi. Sisanya akan mulai muncul perlahan, ww.
Terima kasih kepada Unknownwers yang sudah mereview! Azu harap anda suka chapter ini!
Nah, sekarang, tertarik untuk mereview? Azu sangat senang jika kalian juga meninggalkan pesan, kritik atau saran. Terima kasih banyak!
