Akhirnya kami pulang 'bersama'. Yah itu karena arah rumah kami sama. Tapi aku ogah dianggap begitu, itu bisa merusak citraku sebagai ketua divisi kedisiplinan, batinku. Makanya aku menjaga jarak panjang di depannya. Sampai akhirnya aku teringat sesuatu. Aku mengeluarkan sebuah surat bermotif hati dari tas jinjingku. Dengan menghentikan langkahku hingga Ueki bisa cukup dekat ke arahku aku lalu menyodorkan surat itu.
"Haruna Anjou dari kelas 2-3 menitipkan ini padaku untukmu.."
Ueki menghentikan langkahnya dengan telat, surat yang kusodorkan sudah hampir mengenai dadanya. Dan dia baru sadar. Aku mulai gusar lagi.. entah kenapa semua tingkahnya membuatku gusar..
"Jangan tidur sambil berjalan.. itu berbahaya, dasar bodoh.."
Ueki lantas mulai sadar, dia menatap surat di tanganku agak cengo.
"Aku tidak kenal.."
"Aku sudah menduganya.. dia pernah sekali kau tolong saat festival musim panas tahun lalu Ueki.. Apa kau Ingat? Sejak saat itu dia menyukaimu.. ini surat cinta darinya.. dia menitipkannya padaku karena dia pikir aku teman kecilmu.. sudahlah ambil dan bacalah dulu di rumah!"
Ueki lalu menurutiku, mengambil surat itu dan menaruhnya di saku.
"Sebenarnya.. aku masih tidak ingat Mori.."
"Bacalah dulu.. hargai surat orang lain untukmu.. kau seharusnya bersyukur gadis-gadis sekarang sudah bisa menyukaimu.. kau berarti normal.."
Aku mulai menguliahinya lagi sore itu. Kebiasaan ku di divisi kedisiplinan muncul.
"Aku sebenarnya malas menjadi perantara surat anak-anak perempuan di SMA yang menitipkan surat cinta mereka padamu.. mereka pikir aku ini kurir apa? Hah" Aku mendesah, Ueki diam-diam memerhatikanku dengan wajah kosongnya.
"Tapi mereka berjanji mau memakai rok yang lebih panjang kalau aku sampaikan surat-surat itu.. hehe, yang penting mereka tidak melanggar peraturan lagi.. aku berhutang pada mu Ueki.. terimakasih..!"
Aku menoleh ke arah Ueki dan memberinya senyum dan jempolku.
Lantas aku berjalan lagi.
Ueki tidak menyahut dari belakang.
