"Kou-kun.. kau bisa menjemput Nee-san dari bandara besok?" Suara Ayah Ueki menggema di dinding apartemen keluarga Ueki.

"Maaf, Tou-san aku dan Mori ada acara besok.. kami akan mengerjakan future plan bersama.."

"Apa itu Future Plan?" Kepala Ayah Ueki menyembul di pintu kamar puteranya itu.

"Ah.. aku lihat di kamus.. itu artinya rencana masa depan.. kurang lebihnya?" kata Ueki polos.

Ayah Ueki terbelalak, dia menghampiri anaknya sambil memegang bahunya kuat.

"Dengan Mori Ai? Ayah senang karena Dia anak yang manis, tapi.. apa kau sudah begitu yakin?" Ayah Ueki menatap Ueki yang sudah siap tidur dengan tajam.

"Tentu saja.. apa salahnya?"

Ayah Ueki menggeleng cepat.

"Tidak ada salahnya! Ayah dan Nee-san mendukungmu!"

"Hoaam.. Terimakasi Tou-san" ujar Ueki sambil meregangkan tubuhnya siap tidur.

"Ayah sangat setuju dengan tindakanmu ini Kou.. Ayah tidak peduli kau masih muda atau apa.. tapi kalau kau sudah begitu yakin.. ayah senang kau sudah dewasa.. ayah akan membantumu bicara pada Mori-san tentang puterinya untukmu.. setidaknya kalian baru bisa menikah habis lulus SMA.. kalau begitu, pernikahan Nee-san-mu dan Nagara harus dipercepat di tahun ini.. kalau tidak 2 pernikahan bisa terjadi di tahun yang sama, itu akan merepotkan dan menghabiskan uang tabungan kan? Ya.. ya itu benar.. "

Di samping ayahnya, Ueki yang diajak bicara sudah terlelap dengan nyenyaknya.