"Ini melelahkan Mori.. kupikir aku akan membutuhkan selamanya dengan mu.. mengerjakan ini.." Ueki bersandar di bangku taman setelah berhasil diusir dari toko Nagara karena sudah sore.
"Pada prakteknya.. kau hanya harus menjalani masa depanmu seperti biasanya.. mengalir saja.."
Ai menghela nafas.. "..Tipikal kau kan.."
"Tipikal protagonis.. tidak akan bergerak sampai takdir menghentakmu dengan tokoh antagonis.. atau musibah tertentu"
Ueki melirik Ai sejenak.
"Kau pikir aku begitu? Jadi menurutmu musibah macam apa yang akan menimpaku?"
"Yang besar.. karena kau suka cari masalah.."
"Kalau begitu kau mau membantuku menghadapi musibah masa depanku itu?"
Ai langsung blushing, dia menangkap kata-kata ganjil di kalimat Ueki.
"Ti..tidak tahu.. aku bisa saja tidak ditakdirkan berada di sampingmu terus.. dasar bodoh.. siapa juga yang mau ikut campur dengan masalah merepotkanmu" Ai berdecih.
"Kau.." Ueki menutup dengan lugas, lalu melanjutkan kalimatnya santai.
"Kau sendiri yang sudah janji akan menungguku.. pulang dari Hangekai, membantuku di turnamen bersama Koba-Sen.. bahkan tanpa diminta kan?"
Ai mulai gondok, meski benar apa yang dikatakan Ueki padanya, dia merasa itu seperti skak mat.
"Aku hanya melakukannya karena takdir.. jadi setelah ini.. aku tidak akan membantumu tanpa diminta lagi! Maaf saja kalau kau terganggu..!" Ai beranjak dari bangku taman, berencana secepatnya menghilang dari situ.
"Mori.. " Ueki tiba-tiba memanggil.
Ai menghentikan langkahnya. Dia enggan berbalik, bahkan enggan untuk mengatakan 'Ada apa?', Ai hanya menghentikan langkahnya.
"Kalau begitu aku minta tolong padamu.. habiskan masa depanmu denganku.."
Ai terhenyak, jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia menoleh cepat, memastikan yang dia dengar itu dari mulut Ueki. Dan dia dapati orang di taman itu hanya Ueki dan dia saja.
Ueki duduk dengan tegak, memandang Ai dengan tatapan ngantuk yang sama.
"Aku sudah pikirkan sedari tadi bagaimana agar kau bisa membantuku.. kau harus di dekatku kan?" Ueki mulai berdiri.
"Bagaimana kalau kau menikah denganku.. itu akan membuatmu di dekatku terus kan?"
Wajah Ai sudah seperti kepiting rebus, dia terpaku beberapa saat di tempat. Setelah sadar dia tidak salah dengar sekali lagi dia membentak Ueki.
"BODOH!" Ai melempar tas jinjing kecilnya ke arah Ueki dengan sepenuh hati.
"Jangan bercanda! Kali ini aku benar-benar marah padamu!"
Ai lantas berlari keluar taman sekencang mungkin. Di ingatannya ini seperti deja vu, ya.. skenarionya mirip.. seperti saat kepulangan Ueki dari Hangekai dulu. Ai hanya tinggal berkata 'jangan bercanda' pada pengakuan suka Ueki lalu Ueki tinggal mengatakan 'Ya aku memang bercanda' dan dia pikir hal-hal seperti ini adalah lelucon. Dasar payah!
Seperti deja vu.
Kau tidak ingat saat Ueki memutuskan masuk Geng Robert Sepuluh? Ai sangat kecewa sampai-sampai dia ingin melarikan diri dari keputusan pahit Ueki itu sesegera mungkin. Tapi Ueki mengejarnya.. benar-benar tidak elit.. tapi itulah Ueki.
Ai lelah.. dia akhirnya berhenti di ujung jalan di depan bandara. Kakinya mulai terasa lemas.
"MORI..!" Dan benar saja.. Si bocah semak itu menyusulnya.
Ai rasanya ingin menendang kaki Ueki sekuat tenaga, tapi dia sendiri sudah sangat lelah untuk berdiri. Ai terduduk di trotoar pinggir jalan sambil terengah-engah.
"Hhah.. Khau.. Hhah.. hhah.. Kenapa lari hah?" Ueki berkata sambil terengah juga.
AI hanya diam. Dia sudah bulat tentang bagaimana dia telah deklarasikan bahwa dia sedang marah. Ai lalu menyabet tas jinjingnya yang di pegang Ueki, menyetop taksi, dan menutup pintu taksi itu keras-keras di depan Ueki. Berniat tidak akan gagal dalam pelariannya sekarang..
"Kemanapun pak.. cepat!" Lalu taksi langsung melaju cepat. Meninggalkan Ueki yang cengo sendiri.
Ueki tepar karena habis balap lari dengan Ai sore tadi. Dia tidak habis pikir gadis itu akan segigih itu melarikan diri. Dia terduduk di trotoar depan bandara, berencana untuk menyetop taksi kedua lalu mencari Ai.. sampai sebelumnya dia di hampiri seseorang dari arah bandara.
"Kau kenapa Kou-chan? Duduk-duduk di trotoar?" Shouko-nee-san bertanya bingung sambil menyeret kopernya yang ia seret dari bandara.
"Aku tidak yakin ini apa.. nee-chan.. tapi sepertinya aku mengalami penolakan.. dan tidak sadar ternyata ini merepotkan.."
Shouko memiringkan kepalanya, menatap tidak paham adik laki-laki yang disayanginya itu bingung.
