Biasanya Mori Ai adalah mahluk paling suka merasa bersalah kalau memulai pertengkaran semacam ini dengan sahabatnya. Tapi lupakan! Batin Mori kali ini Ueki sudah kelewatan becandanya.. dia tidak bisa menempatkan lelucon dengan baik! Dia pikir dia akan kekakanakan sampai kapan?

Ai menerobos udara koridor sekolah tanpa halangan, aura gelap seorang ketua bidang kedisiplinan yang berkobar dari tubuhnya membuat anak-anak SMA Hinokuni di koridor reflek menepi memberinya jalan. Hari itu tidak ada yang berani bertegur sapa dengan Mori yang sedang bad mood.

Tentu saja kecuali si pengecualian diantara pengecualian..

"Mori.." Ueki menghampiri meja Ai saat istirahat. Ai baru saja hendak keluar lagi saat tahu Ueki tidak keluar kelas saat istirahat, berniat menghindar ke toilet atau ruang OSIS.

Mori diam saja, dia berlalu dengan 'cepat'? ke pintu kelas dan membanting pintunya keras. Seisi kelas hening dan bergantian menatap pintu yang tertutup dan Ueki yang cengo.

"Kalian sedang marahan?" Seorang gadis berambut pendek yang duduk di samping Mori akhirnya menanyakan pertanyaan seluruh kelas.

Ueki menatap gadis sekelasnya itu dengan tatapan polos yang sama bingungnya.

"Sepertinya begitu.." lantas Ueki sweatdrop.

"Bukankah kau seharusnya minta maaf Kosuke? Mori-san kalau marah membuat udara di kelas ini terasa berat.. seperti ada hawa membunuh dimana-mana" Seorang laki-laki dari ujung ruangan ikut nimbrung.

"Ya benar.. aku sampai takut menatapnya.." Seseorang lain menambahkan.

"Sebenarnya apa yang membuat kalian marahan?" Gadis yang duduk di sebelah Mori bertanya lagi.

Seisi kelas yang riuh berkomentar tentang Ai kini hening menunggu jawaban Ueki yang bikin penasaran.

"Sepertinya.. itu dia menolakku.."

Seisi kelas sejenak hening mencerna sesuatu yang tersirat, tapi itu tidak lama.

"APAAA?"

Berita bahwa Ueki menyatakan perasaannya pada Mori menyebar seperti wabah di SMA Hinokuni. Berita tentang hubungan cinta seorang ketua divisi disiplin dengan anak yang hobi melanggar peraturan karena sering tidur di kelas dan selalu terlihat kumal seperti habis berkelahi (baca : Seperti Yankee) padahal itu karena Ueki suka tiba-tiba menolong orang dan babak belur sendiri.

Beruntungnya Mori sedang sibuk mengerjakan laporan Kegiatan kepemimpinan pengurus kelas, jadi dia tidak perlu tahu berita apa yang sedang tersebar tentang dirinya.

Mori menulis dengan bersemangat sampai tulisannya tidak terbaca, dia sedang ingin fokus ke hal laiin agar bisa melupakan Ueki.

Tiba-tiba pintu ruang OSIS terbuka. Seorang guru masuk dan menghampiri Ai.

"Nee.. Mori bagaimana kabarmu?" Mori lalu berdiri dan menyiapkan kursi untuk guru BK itu.

"Saya baik.. Bu.. ada apa ya?"

"Ini.. ada form pendaftaran pertukaran pelajar ke Osaka selama setahun.. untuk anak kelas 2.. siapa tahu kau berminat, kualifikasinya sangat tinggi, dan kupikir kau bisa memenuhinya.."

"EH? Aku?" Mori terbelalak, sambil menunjuk ke arah dirinya tak percaya.

"Iya.. sekolah berharap kau bisa ikut, tenang saja.. meski waktu lulus SMA mu akan tertunda setahun, tapi ini bisa jadi pembuka kesempatan untuk kerjasama lain Hinokuni dengan SMA di Osaka, kau bisa dapat pengalaman dan bisa langsung dapat rekomendasi kuliah di Luar negeri, itu karena SMA yang menawarkan pertukaran ini.. SMA internasional.." Ibu guru BK itu menjelaskan panjang lebar dengan mimik bangga.

"Ah.. begitu.." Ai menatap form itu menimbang.

"Kau bisa konsultasikan ke ayahmu dulu.. ah ku dengar Ibumu orang Osaka? Kau bisa ada banyak relasi disana bukan?"
"I..iya baiklah akan kupikirkan Bu.. terimakasih"

Perlu kau tahu.. Orangtua Ai bercerai sejak Ai masih kelas 2 SD. Ibu Ai pindah ke Osaka dan menikah lagi. Ayah Ai mengurus Ai dan tinggal di Tokyo tapi tidak menikah lagi. Ai sudah lama tidak mendapat kabar tentang Ibunya, yang ia tahu Ibunya punya anak laki-laki dari hasil pernikahan keduanya sekitar 5 tahun lalu. Itu berarti Ai punya adik tiri laki-laki berumur 5 tahun di Osaka. Itu yang membuatnya semakin ingin menerima tawaran Bu BK saat itu. Dia ingin menyewa apartemen di dekat Ibunya tinggal dan bisa berkunjung ke sana dan menyambung hubungan lagi dengan Ibunya.

"Ayah.. aku tidak ingin meninggalkan ayah.. tapi aku ingin melihat keadaan Ibu lagi.. meski itu perlu setahun, aku berjanji akan pulang kok ke Tokyo, selain karena Ibu, di SMA Osaka pendidikannya sangat bagus, kedisiplinan juga.. Ayah aku tidak akan pernah meninggalkan ayah.." Ai berujar lemah di depan ayahnya yang sedang duduk di meja makan. Ayah Ai menunduk dalam.

"Ayah tahu ini terdengar bagus untukmu, kau sudah 2 tahun tidak kontak dengan Ibumu lagi.. wajar kau merindukannya.. Baik kau boleh ambil program itu tapi saat liburan musim panas kembalilah.. nenekmu akan berkunjung ke Tokyo.." Ayah lalu memberikan senyum penerimaan dengan cerah. Ai langsung sumringah.

Ai menatap jam tangannya lagi kesekian kali. Dia menunggu seseorang di Stasiun. Sora, Sano, dan Rinko ada di sampingnya, ikut mengantarkannya pulang.

"Aku harus berangkat, kalau Hideyoshi datang katakan saja.. dia bisa mengirimkan paket benih biji bunga mataharinya lewat pos.. kita juga bisa e-mail-an, aku hanya setahun disana.." Ai berujar cepat.

"Tidak bisa Ai.. Kau bilang Ibumu suka bunga matahari kan? Hideyoshi sudah repot-repot mencarikan bibitnya mendadak tadi pagi.. untuk Ibumu.. terimalah saja.. dia akan segera sampai" Rinko merajuk. Sano mendekati Rinko dan berbisik.

"Bukannya kau yang menyuruhnya mendadak mencari tadi pagi?"

Rinko langsung menginjak kaki Sano tanpa ampun. Sano ter'diam'kan seketika.

"Apa kau masih marahan dengan Ueki?" Sora tiba-tiba mengganti topik. Dia memandang AI yang sedang asik menatap jam di ponsel.

"Kalian tidak berniat diam-diaman sampai setahun kedepan kan? Kau akan jarang menemuinya kalau kau di Osaka nanti.." Sora berkata benar tapi pahit.

"Huh.. aku justru berharap begitu.." sungut Ai. Tapi.. yang dikatakan Sora benar.. Setahun diam-diaman akan membuat hubungan mereka semakin buruk dan sulit balik lagi.

"Katakan juga padanya.. kalau begitu.. aku membenci selera humornya.. kalau aku kembali ke Tokyo kuharap dia sudah berubah.. Aku minta maaf kalau aku mendiamkannya selama ini.. kuharap dia sadar.." Ai menengok jamnya lagi, Yap ini waktunya berangkat.

"Aku berangkat.. sampaikan saja salam untuk semuanya.. aku akan sering e-mail kalian.." Lalu Ai meraih kopernya dan berjalan menuju kereta yang baru datang. Rinko, Sano dan Sora menatapnya berat. Bagaimanapun Ai pergi dengan keadaan sedang bertengkar hebat dengan Ueki.. itu membuat mereka kurang nyaman.

Ai melambai untuk terakhir kalinya.. lalu keretanya melaju kencang. Dia menatap stasiun Tokyo yang menghilang seiring dengan berjalannya kerta dengan tatapan lemah. Perasaan sedih dan gusar saling berkejaran di dadanya.

"Dasar Ueki payah.. " Ai bersungut kesal. Dia meremas kerah bajunya yang tiba-tiba terasa sesak.

Katanya.. semakin kita jauh.. kita akan belajar bersyukur bagaimana yang dekat itu asalnya sangat berharga..

Kita akan belajar bagaimana rasanya merindukan seseorang..