Baekhyun kembali menatap cermin full-body dihadapannya. Merapihkan rambut dark brown nya berulang kali, juga mengecek wajahnya yang kelewat cantik itu. Ia sudah terlihat lebih manis dengan mengenakan kemeja berwarna navy polos dan celana jeans hitam yang dipilihnya setelah sekian lama berpikir apa yang harus dikenakannya sore hari ini.

Tak lupa Baekhyun memakai parfum dan lip balm favoritnya yang beraroma khas stoberi itu. Dengan telaten ia menyemprotkan perfum ke segala bagian tubuhnya, berharap jangan sampai ada yang terlewatkan sedikit pun. Kemudian Baekhyun mengoleskan lip balm di bibir cherry-nya. Dia tersenyum puas setelahnya, Baekhyun merasa semuanya telah cukup.

Oh, jangan lupakan Kyungsoo yang membantunya banyak hal hari ini. Penampilan Baekhyun mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki adalah saran dari Kyungsoo. Tentu saja Kyungsoo senang sahabatnya itu akan berkencan, setidaknya itu anggapan Kyungsoo, karena menurut Baekhyun ini bukanlah sebuah kencan melainkan hanya acara mari-menemani-si pangeran misterius-ke-toko-hewan, tidak lebih. Tapi toh, Kyungsoo tidak peduli tentang itu semua. Mereka pergi bersama dan itu artinya adalah sebuah kencan.

Ya, sore itu telah tiba. Kencan mereka.

Kyungsoo mengatakan bahwa Baekhyun telah terlihat sempurna di matanya. Kyungsoo tertawa melihat sahabatnya bahkan terlihat begitu gugup saat ini. Ketika Baekhyun tengah mencoba menenangkan dirinya. Jantung nya serasa ingin melompat keluar dari tempatnya saat ia mendengar suara bel rumahnya berbunyi dua kali.

Park Chanyeol sudah datang.

.

.

LET ME KNOW YOU

Chapter 3

By Real-ChanTObaeK

Main Cast : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

Rated : T

I HOPE YOU LIKE IT

ENJOY~

THANK YOU~~ *muahh*

.

.

Hal pertama yang Baekhyun lihat saat dirinya membuka pintu adalah senyuman menawan dari lelaki jangkung bernama Park Chanyeol. Baekhyun tersenyum kikuk dan menggosok tengkuknya yang tidak gatal seraya melangkah keluar dari kediamannya. Chanyeol terlihat begitu tampan mengenakan kaos hitam polos dan celana jins, walau sederhana tapi percayalah itu sangat cocok untuknya. Chanyeol membawa sebuah tas cukup besar yang digantungkan pada lengan kananya, Baekhyun baru sadar setelah melihat lebih dekat bahwa di dalam tas berwarna biru tua itu terdapat sang kucing putih yang mungil dari taman belakang sekolah mereka.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Chanyeol. Kau tahu, Kyungsoo repot sekali dan bertingkah tidak jelas" Baekhyun berdiri tepat didepan Chanyeol dan menatapnya.

Chanyeol terkekeh. "Tak apa, Baek. Aku belum lama sampai"

Baekhyun mengangguk kemudian tersenyum. "Kalau begitu... tunggu apa lagi?" ucapnya.

"Ayo pergi.." Tanpa sadar Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan mulai berjalan menuju stasiun terdekat. Tanpa diketahui, hal itu membuat jantung Baekhyun seakan terasa ingin pecah karena berdetak begitu kencang. Hatinya terasa sangat sesak. Dan perutnya terasa dipenuhi ribuan kupu – kupu yang membuat Baekhyun ingin segera berlari kencang untuk kembali pulang ke rumahnya. Tapi ia tahu, itu tidak mungkin, kan?

Setelah berjalan sekitar kurang lebih dua menit, mereka sampai di tempat tujuan-yang tak lain adalah stasiun. Mereka menunggu kereta untuk datang setelah membeli tiket untuk dua orang. Baekhyun terkejut setelah melihat banyak kerumunan orang di tempat ini, dan ia segera tersadar bahwa hari ini adalah hari minggu. Dimana tak heran jika semua orang ingin pergi ke tempat manapun yang mereka inginkan. Bersama keluarga ataupun dengan teman. Tetapi, sejujurnya ini adalah hal yang paling tidak ingin Baekhyun hadapi. Berdesak – desakkan dan terhimpit didalam kereta dan belum lagi bau – bau menjijikkan yang akan tercium. Oh ayolah, itu sangat terdengar buruk. Baekhyun benci ini.

Baekhyun mendengar Chanyeol yang berdiri tepat disebelahnya menghela napas dengan kasar dan kemudian lelaki itu mendengus sebal. Baekhyun rasa Chanyeol juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Tak lama kereta yang mereka tunggu – tunggu akhirnya datang, orang – orang yang juga menunggu mulai masuk kedalan kereta dengan langkah terburu – buru, sepertinya mereka memlliki tujuan yang sama, yaitu tidak ingin kehabisan tempat duduk. Karena kursi yang berderet di sisi kiri dan kanan itu adalah tempat yang paling nyaman saat kereta mulai berjalan. Setidaknya begitulah menurut mereka- para penumpang kereta, tentu saja.

Namun apa daya, Chanyeol dan Baekhyun harus menerima kekecewaan karena mereka harus berdiri selama perjalanan nanti. Belum lagi mereka benar – benar di bagian pinggir, di depan pintu yang akan tebuka tepat apabila kereta sedang berhenti. Sial- pikir mereka. Kereta yang mereka tumpangi sudah sangat penuh dan sesak, bahkan jarak satu orang dengan yang lain sangat dekat. Baekhyun merasa pengap dan kekurangan pasokan udara untuk bernapas saat ia rasa kereta mulai berjalan menuju tujuan mereka.

Di lain sisi, Chanyeol berusaha keras untuk melindungi kucing mungil nya dari segerombol penumpang di kereta ini. Ia memeluk tas biru tuanya di bagian depan tubuhnya dengan erat dan terus memastikan bahwa sang kucing tidak terjepit atau bahkan kekurangan oksigen. Disaat dia telah merasa posisinya sudah benar dan si kucing akan baik – baik saja, Chanyeol menepuk pundak Baekhyun yang berada di hadapannya. Baekhyun seketika menoleh dan terlihat sedikit raut kebingungan di wajahnya. Chanyeol mengangkat tangan kanannya dan mengisyaratkan pada Baekhyun untuk menghadap kearahnya. Baekhyun yang tidak mengerti semakin mengerutkan alisnya dalam. Akhirnya, dengan terpaksa Chanyeol berbisik pada Baekhyun dengan sedikit mencondongkan tubuhnya. "Berbaliklah Baek. Menghadap kearahku" bisiknya tepat di telinga Baekyun. Lelaki yang bertubuh mungil itu mengangguk kemudian segera menggerakkan tubuhnya untuk menghadap Chanyeol. Jadi, posisi mereka saat ini berhadapan dengan tas biru tua Chanyeol yang berisi kucing mungil itu sebagai pemisah jarak di antara mereka.

Jarak dari arah rumah Baekhyun ke toko hewan tujuan mereka sebenarnya hanya dua puluh menit. Namun entah bagaimana Baekhyun merasa waktu berjalan begitu lambat dan keadaan di sekitar mereka tidak membantu sama sekali. Orang – orang berhimpitan dan berdesak – desakkan, dan ketika guncangan datang yang entah dari mana asalnya itu terjadi. Para penumpang bodoh itu- menurut Baekhyun, akan mulai terhuyung – huyung dan mencoba sekuat tenaga untuk tidak terjatuh. Dan setiap hal itu terjadi juga, Chanyeol selalu bertingkah seolah melindungi Baekhyun dan kucing mungilnya untuk tidak terhimpit kearah pintu kereta. Atau memang itulah yang pria jangkung itu lakukan. Tapi yang membuat Baekhyun merasa seperti orang idiot, Chanyeol berjarak dekat sekali dengannya akibat dari apa yang dia lakukan, bahkan Baekhyun dapat merasakannya. Wajahnya memanas. Dan itu memalukan.

Dan tepat saat Baekhyun melihat Chanyeol terkekeh dihadapannya, ia tahu lelaki itu mungkin menyadari wajahnya yang merona hebat itu. "Aigoo~ wajahmu merah sekali, Baek" Chanyeol kemudian tersenyum, dan Baekhyun benar – benar mematung di tempatnya. "Ah... Y- yeol, aku—"

"Itu membuatmu terlihat lebih manis" ucap Chanyeol seraya mengacak asal rambut Baekhyun. Ayolah Yeol, apa yang kau lakukan malah semakin membuat Baekhyun ingin meleleh saja. Dan benar saja, wajah Baekhyun semakin merona bahkan sampai ke telinganya. Tetapi kemudian, Chanyeol mengernyit dan menatap lekat Baekhyun yang telah mengalihkan wajahnya. "Kau... baik – baik saja kan?" kalau Baekhyun tidak salah dengar, terdapat kekhawatiran di dalam nada bicaranya. "Ya, aku baik – baik saja" jawab Baekhyun, masih dengan wajah yang dialihkan. Belum sempat Chanyeol berbicara, suaranya sudah terpotong dengan pemberitahuan bahwa mereka sudah sampai pada tujuan.

Baekhyun sedikit tersentak akibat suara wanita dari pemberitahuan itu, karena tentu saja dia sibuk untuk menetralkan jantungnya yang berdemo itu. "Kita sudah sampai. Ayo turun" sahut Chanyeol. Setelahnya pintu dibelakang Baekhyun terbuka secara otomatis. Dengan tangan yang saling terpaut, mereka segera keluar dari kereta sebelum pintu tertutup.

:

:

Kring~

Bunyi dering bel memasuki pendengaran Chanyeol dan Baekhyun saat masuk ke dalam toko bernama 'The Pets' ini dengan penuh semangat. Setelah keluar dari stasiun, mereka berjalan kurang lebih lima menit menuju toko yang berdominasi warna pink dengan hiasan menggantung yang menggemaskan. Dan lima menit itu pula Baekhyun tak mampu menatap Chanyeol, ia bahkan hanya mengangguk ketika Chanyeol bertanya sesuatu padanya. Baekhyun gugup dan malu, tentu saja. Dia merona hebat, tapi sekali lagi itu membuat Chanyeol makin menggodanya. Alasannya adalah karena selama lima menit itu juga Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dengan erat. Apalagi ketika mereka memasuki jalan dengan kerumunan orang banyak, Chanyeol tak segan untuk melepas genggamannya pada tangan Baekhyun untuk beralih menarik lelaki mungil itu agar lebih dekat padanya. Baekhyun dibuat semakin nge-fly ketika Chanyeol kembali menggenggam tangannya dan berkata tepat di telinga kanannya. Baekhyun masih ingat jelas bagaimana suara husky-nya itu terdengar. "Aku tidak ingin kau terluka". 'Tidak ingin aku terluka? Kau bahkan membuat jantung ku bertambah parah'—batin Baekhyun saat itu. Baekhyun menghela napas pelan ketika menyadari Chanyeol bersikap tenang sekali dan bahkan seolah tidak terjadi apa – apa setelah melakukan itu. Dan beberapa langkah, Baekhyun kembali menghela napas nya karena kelegaan yang melandanya. Saat Chanyeol mangatakan bahwa mereka telah sampai.

Ketika Chanyeol mendorong pintu toko dengan tangannya, dan terlihat lah bagaimana rupa bagian dalam toko ini. Tak jauh beda dengan luarnya, bagian dalam juga di dominasi warna pink. Sangat manis, tak heran jika toko ini menjadi salah satu tempat favorit bagi pencinta hewan—itu kata Chanyeol. Di pinggir nya terdapat rak – rak yang berisi kantong – kantong makanan para berbagai hewan, dari yang kecil sampai besar. Kemudian ada beberapa lemari yang entah-apa-isinya di berbagai sudut ruangan. Lalu, di bagian pojoknya terdapat lemari tak berpintu yang sangat besar berisikan kandang atau tempat tidur untuk hewan. Di bagian tengah ruangan terdapat meja besar yang di atasnya ada bermacam – macam aksesoris yang lucu dengan berbagai model dan warna, seperti kalung, gelang, atau bahkan mainan karet. Entahlah, Baekhyun tidak begitu peduli sebenarnya.

Tetapi kemudian seorang wanita berpakaian seragam yang persis seperti pegawai lainnya, menghampiri mereka dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu. Lalu, setelahnya Chanyeol tersenyum dan mengatakan beberapa nama yang dia perlukan. Pegawai itu mengambil apa yang dikatakan oleh Chanyeol tadi dan dia menaruhnya di semacam sebuah, keranjang. Baekhyun hanya diam, memperhatikan sebelum Chanyeol bertanya kepadanya.

"Eum... Baek, apa menurutmu kita perlu membelikan dia tempat tidur?" tanya Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol sebentar kemudian menjawab. "Boleh saja. Aku yang pilihkan, ya?" belum Chanyeol menjawab, Baekhyun sudah lebih dulu berjalan kearah tempat benda itu berada. Kemudian dia melambaikan tangannya pada Chanyeol. "Kemarilah, Yeol". Seperti yang dikatakan Baekhyun, Chanyeol menghampirinya setelah dia memberikan kucing putihnya pada seorang pemuda bername-tag Minseok.

Baekhyun yang melihat pemuda itu membawa si kucing masuk ke dalam sebuah pintu berwarna krem, mengernyitkan alisnya. "Kemana dia membawanya pergi?" sahut Baekhyun ketika Chanyeol sudah berada dihadapannya. Chanyeol tersenyum kemudian berkata, "Tempat perawatan. Kemana lagi memangnya?" jawabnya dengan sedikit kekehan di akhirnya. Baekhyun memutar bola matanya. "Arraseo... jadi yang mana? Putih, peach, atau soft pink?" ucap Baekhyun seraya menunjuk tiga tempat tidur kecil yang letaknya berdampingan itu. Bukannya menjawab, Chanyeol kembali bertanya. "Yang mana yang lebih kau sukai?"

Baekhyun mendengus sebal. "Aku bertanya padamu, kan?" celetuk Baekhyun. Chanyeol yang menyadari bahwa Baekhyun sebal padanya, tersenyum kemudian menatap Baekhyun dengan lembut. "Baiklah, Baek. Bagaimana dengan soft pink? Itu akan cocok dengan Becky"

"Baekki? Kenapa menggunakan namaku?" Baekhyun balas menatap Chanyeol dengan tajam. Tapi Chanyeol malah terkekeh. "Ohh.. tidak – tidak. Bukan Baekki, tapi Becky". Chanyeol melihat raut bingung di wajah Baekhyun. "B-E-C-K-Y. Berbeda, kan?" sahut Chanyeol. Baekhyun menelan ludahnya dengan gugup. Jadi, dia saja yang begitu percaya diri bahwa si kucing mungil itu diberi nama seperti dirinya? Astaga. Itu buruk, yeah. Tentu. Baekhyun melihat Chanyeol lagi – lagi tersenyum ke arahnya. "Dia Becky dan kau Baekki. Bukankah itu manis?" Chanyeol mengucapkan kedua nama itu dengan nada yang serupa, tapi Baekhyun paham. "Dan kalian berdua adalah milikku" lanjut Chanyeol dengan volume sangat kecil. Baekhyun tidak mendengarnya. "Uh? Apa?" ucap Baekhyun. Tetapi Chanyeol hanya menggeleng menanggapinya.

Baekhyun terdiam dengan sedikit rona kemerahan yang menghiasi di kedua sisi wajahnya. "Jadi, soft pink tak apa kan Baekki~?" tanya Chanyeol seraya mengambil benda yang dimaksud. "Ya. T-terserah kau saja" jawab Baekhyun kemudian pergi begitu saja. Kemana pun. Asal tidak dekat Chanyeol,

'Apa – apaan itu, eoh? Kalian berdua adalah milikku? Apa maksudnya mengatakan itu barusan?' –batin Baekhyun. Dia mendengarnya, tapi tidak jelas. Baekhyun harap ia hanya salah dengar. Ya, ia salah dengar. Pasti.

:

:

Disinilah mereka sekarang. Berdiri berdampingan dan di depan mereka terpampang sebuah lapangan luas yang dipenuhi rerumputan hijau segar. Entah apa namanya, tapi yang mereka katakan pada Chanyeol dan Baekhyun tempat ini adalah sebuah taman bermain, atau semacamnya. Yang tentu saja untuk hewan. Dan Baekhyun juga tidak mengerti bagaimana bisa ia menyetujuinya ketika Chanyeol mengajaknya ke tempat aneh tapi tak begitu buruk ini. Tidak ada yang spesial ataupun aneh sebenarnya. Baekhyun juga heran kenapa ia menyebut tempat ini aneh. Yah. Sudahlah. Lapangan itu hanya terdapat beberapa pohon yang cukup rindang dan tepat dibawahnya ada sebuah kursi panjang berwarna coklat di setiap masing – masing pohon. Ahh, juga ada banyak pipa – pipa besar yang sepertinya diletakkan asal oleh entah-siapa. Dari yang Baekhyun lihat, pipa itu digunakan para hewan untuk bermain. Mereka berlari – lari kesana-kemari kemudian masuk ke dalam pipa, lalu keluar dari sisi yang satunya. Pilihan yang bagus—pikir Baekhyun. Sederhana, namun berguna.

Sebenarnya wanita bernama Sunny yang tak lain adalah pegawai dari toko hewan itulah yang memberitahu mereka tentang taman bermain ini. Dia mengatakan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya bahwa taman bermain ini baru dibuka dua hari lalu dan dapat digunakan secara bebas tanpa dipungut biaya sepeser pun. Jadi kemudian saat mereka melangkah keluar dari toko itu dan Baekhyun mendengar suara dering bel lagi setelah sekian lama, Chanyeol mengajaknya kesana. Lelaki jangkung itu berkata bahwa mungkin taman itu adalah tempat yang menyenangkan. Dan dengan tanpa sadar Baekhyun menyetujui nya. Astaga, dia bahkan tak percaya mampu berkata iya saat itu.

Baekhyun tersenyum canggung ketika mereka akhirnya memutuskan untuk duduk diatas rerumputan. Chanyeol meintipkan Becky pada Baekhyun setelah mengatakan ia ingin membeli minuman dan makanan ringan. Baekhyun hanya mengangguk kemudian beralih mengambil Becky dari pelukan Chanyeol. Kemudian lelaki jangkung itu pergi meninggalkan Baekhyun sendiri, atau setidaknya berdua. Dengan Becky.

Pada akhirnya, Baekhyun berpikir mungkin sembari menunggu Chanyeol kembali, ia mengajak Becky jalan – jalan tidaklah buruk. Lagipula itu akan bisa menghilangkan rasa bosannya. Baekhyun menatap Becky digenggaman kedua tangannya kemudian tersenyum. "Becky, bagaimana dengan sedikit berkeliling?" ucapnya. Dan setelahnya dibalas dengan suara meow-an dari Becky yang terdengar antusias. Sepertinya si kucing tidak keberatan.

Baekhyun membawa Becky ke sebuah pipa yang tak begitu besar untuk kucing seukurannya. Dia juga menemukan sebuah kayu kecil, yang kemudian digunakannya untuk mengajak bermain si kucing. Baekhyun membuat Becky berlarian dengan tak tentu arah, keluar-masuk pipa berukuran sedang itu entah yang keberapakali nya. Dia akan tertawa senang ketika melihat Becky terjatuh karena begitu semangat untuk meraih kayu kecil yang dipegang Baekhyun. Kalau dilihat – lihat, taman ini cukup ramai. Banyak orang yang membawa hewan peliharaan mereka ke tempat ini. Laki – laki atau perempuan, anak – anak, remaja, ataupun orang dewasa.

Tapi sesaat setelahnya, Baekhyun terkejut karena tiba – tiba Becky berlari entah-kemana menjauhi nya. Tentu saja Baekhyun panik. Dia tidak mau kehilangan kucing mungil itu. Becky adalah milik Chanyeol dan kesayangannya. Baekhyun harus mengejarnya. Dia berlari kecil mengejar Becky yang melompat – lompat dengan semangat, Baekhyun sedikit kesulitan karena banyak orang yang menghalangi jalannya. Untung saja Becky masih terlihat dipandangannya, kucing itu tidak berlari sekencang yang dia kira. Setelah beberapa detik dia berlari, Baekhyun menyadari satu hal. Becky berlari kearah Chanyeol yang tengah duduk dengan santai di tempat mereka duduk sebelumnya. Jadi, apa—Becky berlari kearah Chanyeol , berarti dia—sebelum sempat berhenti, semuanya sudah terlambat. Dia jatuh. Tepat diatas Park Chanyeol. Bagus sekali. Ha.

Dan Baekhyun bersyukur semuanya masih terkendali. Tidak seperti yang dipikirannya, dia akan jatuh dan menimpa Chanyeol kemudian mereka akan tanpa sengaja berciuman. Astaga, untung saja tidak seperti itu. Meraka berdua masih saling terdiam. Posisi mereka masih sama, dengan Baekhyun yang berada diatas Chanyeol yang bertumpu pada kedua tangannya."T- tidak, Chanyeol. Aku—" ucapan Baekhyun terpotong ketika Chanyeol menaruh telunjuknya tepat didepan bibir Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun yang masih berada diatasnya dengan lekat. "Terima kasih, kau mau membantuku... Baekki" ucapnya seraya mengusap sisi kiri wajah Baekhyun. Lelaki yang lebih mungil itu tak bisa lagi menggambarkan se-merah apa wajahnya sekarang. "T-tak apa Yeol. Aku senang bersama kalian!" sahut Baekhyun yang kemudian diiringi tawa dengan kecanggungan.

Baekhyun semakin tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, ketika dia merasa Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dengan tangan kanannya –tangan yang satu masih menahan tubuh mereka—kemudian mencium Baekhyun tepat dibibirnya. Volume mata Baekhyun membesar, tentu saja dia terkejut. Chanyeol menciumku? Astaga!—teriak Baekhyun di dalam hatinya. Selanjutnya Baekhyun merasa matanya telah berkaca – kaca, semua yang Chanyeol lakukan membuatnya ingin menangis. Chanyeol sedikit melumat bibir atas dan bawah Baekhyun. Lelaki mungil diatasnya melenguh. Setelah beberapa saat, Chanyeol menarik dirinya menjauh, tautan bibir mereka terlepas. Ketika Baekhyun memberanikan dirinya untuk menatap Chanyeol dengan napas yang masih terengah - engah, dia melihat lelaki jangkung itu tersenyum tampan kearahya. "Heum... kau manis!" ucapnya seraya mengusap bibirnya menggunakan ibu jarinya. "Manis, Baek. Aku semakin menyukaimu..." lanjutnya, kemudian beralih mengusap bibir Baekhyun yang sudah memerah seirama dengan wajahnya yang merona menggunakan ibu jarinya juga. Saat itulah Baekhyun menahan napasnya. Jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat dan keras. Perutnya kembali dipenuhi kupu – kupu yang seolah menari – nari di dalamnya.

Dan saat itu juga. Dia menyadarinya.

Baekhyun benar – benar jatuh pada pesona Pangeran Misteriusnya. Park Chanyeol.

:

:

Baekhyun harus kembali menerima kekecewaannya karena saat ini ia berjalan pulang ke rumahnya seorang diri. Chanyeol mengatakan padanya jika ia tak bisa mengantar Baekhyun pulang karena ia harus mengerjakan sesuatu yang perlu dia kerjakan. Dan Baekhyun hanya tersenyum tipis kemudian mengatakan bahwa dia akan baik – baik saja pada Chanyeol yang merasa tidak enak padanya.

Jadi, setelah kejadian itu, Chanyeol mengajak Baekhyun kerumahnya untuk membantu merapihkan ruangan yang akan dijadikan sebagai tempat untuk si Becky tinggal beberapa minggu kedepan. Percaya atau tidak, Chanyeol mengucapkan itu dengan sikap yang biasa saja, seolah tidak terjadi apapun setelah yang dia lakukan pada Baekhyun. Berbeda dengan Baekhyun yang gugup dan malu setengah mati, dengan rona kemerahan tidak pernah luput dari wajahnya. Bahkan Chanyeol tetap menggenggam tangan Baekhyun dengan santai seperti sebelumnya. Dan Baekhyun bisa bernapas lega saat mengetahui kereta yang kali ini mereka naikki tidaklah penuh dan sesak. Mereka dapat tempat duduk berdampingan. Semuanya berjalan baik – baik saja, sebelum Chanyeol akhirnya mambuat jantung Baekhyun kembali berdetak tak karuan ketika dia mengucapka dua kata pada Baekhyun. "Aku mengantuk..." itu yang dikatakannya, tidak ada yang salah. Memang. Tapi yang salah adalah, ketika Chanyeol menyandarkan kepalanya begitu saja di bahu kanan Baekhyun tanpa ragu dan permisi.

Hal yang mereka lakukan ketika sampai di rumah Chanyeol, tidak banyak. Hanya merapihkan ruangan tempat si Becky akan tinggal, kemudian membersihkannya hingga tidak ada debu lagi yang tersisa. Setelahnya, mereka menata dan menyusun barang – barang yang dibeli di toko hewan berdominasi pink itu. Disusun sedemikian rupa hingga mereka merasa puas. Pada akhirnya mereka makan malam dengan Chanyeol sebagai chef mereka malam itu, Baekhyun juga tidak menyangka Chanyeol bisa memasak. Tapi Chanyeol mengatakan, bahwa ia mau tak mau harus mampu melakukannya. Ahh ya, Chanyeol tinggal seorang diri di rumahnya yang tak begitu besar itu. Tempat nya sederhana namun begitu nyaman. Orang tua Chanyeol sibuk bekerja di luar negeri. Dan seperti yang Chanyeol ceritakan ketika mereka berbincang di depan televisi di kamar Chanyeol, lelaki jangkung itu memiliki seorang kakak perempuan. Tapi sebelum mereka mengobrol lebih banyak, ponsel Baekhyun berdering tanda bahwa ada telepon masuk. Eomma-nya menelepon. Baekhyun sedikit terkejut ketika mendengar eomma-nya memarahinya karena tak kunjung pulang, dan ketika ia melihat jam dinding di pojok kamar Chanyeol. Baekhyun sadar seharusnya memang dia sudah berada di rumah, tidak biasanya ia pulang selarut itu. Disana tertulis, pukul sembilan malam.

:

Tetapi ketika Baekhyun sudah kurang lebih berjalan sekitar dua meter jauhnya dari rumah Chanyeol. Dia tersentak dan berhenti di pinggiran jalan. Dia melupakan sesuatu. Dia mencoba mengingatnya. Ponselnya. Ponselnya tertinggal di meja belajar di kamar Chanyeol. Ya, Baekhyun ingat. Ketika ia kembali mengecek dan merogoh saku celana dan kemejanya, Baekhyun tahu ponsel benar – benar tertinggal. Akhirnya dengan sedikit berlari – lari kecil, dia kembali kearah sebaliknya, arah rumah Chanyeol. Berharap ponsel nya memang tertinggal di rumah Chanyeol, tidak terjatuh ataupun dicuri.

Namun ketika jaraknya dengan pintu rumah Chanyeol yang bernomor 27 itu hanya tinggal satu meter jauhnya, Baekhyun merasa hatinya hancur berkeping – keping, matanya telah bekaca – kaca, dan lututnya terasa lemas. Ketika melihat seorang wanita muda merangkul mesra pundak lelaki jangkung yang dicintainya.

'J-jadi dia sudah memiliki kekasih, ya?'

:

:

:

Apa maksudmu melakukan semuanya...

Jika kau memiliki kekasih?

Kau bodoh, Baekhyun.

Kau terlalu banyak berharap.

Tapi...

Aku terlanjur mencintaimu...

Park Chanyeol.

:

:

:

Author's note : Oh my god... aku minta maaf karena lama sekali update. Kalian tahu banyak kegiatan sekolah yang harus dijalani, belum lagi UAS. Jadi,yah begitulah. Aku belum punya waktu untuk mengetik. Jadi di liburan ini, aku menyempatkan diri untuk menyelesaikannya. Maaf ya. Dan semoga kalian menyukainya. Chap ini sedikit lebih panjang. Hehe.

:

Siapakah sebenarnya wanita muda yang merangkul Chanyeol?

Kenapa juga Chanyeol mencium Baekhyun, tapi kemudian bersikap seolah tidak terjadi apa apa?

:

Kalo penasaran, tinggalkan review kalian setelah membaca yaaa... maaf kalo cerita nya absurd, oke?

Okeeelah kalau begitu, ditunggu kelanjutannya yah!

Bye, xoxo~!