Baekhyun tersentak ketika ia menyadari air matanya telah mengalir melalui celah matanya dan membasahi kedua pipinya. Ia ingin berbalik dan segera pergi dari sana, sebelum pada akhirnya dia merasa seseorang menahannya untuk tetap tinggal. Tanpa berbalik pun, Baekhyun tahu itu adalah tangan Chanyeol. Dia dapat merasakannya. Tangan lelaki itu begitu hangat dan dapat menenangkan hatinya hanya karena menyentuh tubuhnya atau hanya karena menggenggam tangannya. Semakin ia ingin pergi menjauh, Chanyeol semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Baekhyun. Lelaki mungil itu semakin terisak, bahunya bergetar menahan tangisannya. Hatinya terasa teriris, begitu perih dan sakit. Tapi kemudian, tiba – tiba Chanyeol melakukan hal yang sama sekali tidak ia duga. Chanyeol menarik Baekhyun ke dalam pelukannya dan berbisik. "Sepertinya kau salah paham..." bisiknya. Setelahnya Chanyeol melepaskan pelukannya ketika dia merasa tangisan Baekhyun telah mereda, kemudian ia menghapus air mata di pipi Baekhyun dengan lembut dan penuh perasaan. Baekhyun hanya diam, dia tidak tahu harus mengatakan atau melakukan apa. Baekhyun hanya terlalu shock dan otaknya blank. Ia merasa sangat malu karena sudah menangis di depan Chanyeol.

"Maaf, Yeol. A- aku pasti telah mengganggumu, dan—"

"Tidak, Baekki. Dengarkan aku dulu..." ucap Chanyeol seraya menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya. Baekhyun menatap mata Chanyeol yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia berharap Chanyeol benar bahwa dirinya salah paham dan dia akan mendengar penjelasan dari Chanyeol atas apa yang terjadi, dan Baekhyun harap itu adalah hal yang baik. Chanyeol menuntun Baekhyun kearah wanita muda yang sedari tadi hanya menonton kegiatannya dengan Chanyeol. "Maaf aku telah membuatmu menangis, Baekhyun. Aku sudah pernah bercerita padamu sebelumnya bahwa aku memiliki seorang kakak perempuan. Dan dialah orangnya. Dia noonaku, Baek" jelas Chanyeol.

Baekhyun terdiam di tempatnya berpijak, ia menelan ludahnya dengan gugup. Dia sudah tidak menangis, sepenuhnya. Astaga, dia merasa bodoh. Jadi wanita ini adalah kakak Chanyeol dan Baekhyun sudah salah paham. Lagipula, apa haknya untuk marah pada Chanyeol. Dia bukan siapa – siapa, dan itu adalah hak Chanyeol untuk dekat dengan siapa saja. Tetapi, setidaknya ada perasaan lega juga senang di dalam hati Baekhyun sekarang setelah mengetahui kebenarannya. "A- apa katamu, Yeol?" tanyanya, jelas sekali terlihat jika lelaki mungil itu terkejut. Disaat itulah Chanyeol sadar bahwa Baekhyun benar – benar berpikir bahwa ada sesuatu pada wanita yang sesungguhnya adalah kakaknya, bahkan sampai membuatnya menangis sesenggukkan seperti tadi. Chanyeol jadi merasa bersalah, melihat Baekhyun menangis adalah kelemahannya. Itu membuatnya seolah juga dapat merasakan apa yang Baekhyun rasakan. Membuatnya merasa terluka. Ya, tentu saja ia tahu jika mereka bukan apa – apa dan tidak menjalin hubungan apapun, selain teman. Tetapi Chanyeol merasa khawatir begitu saja, entah mengapa ia juga tidak mengerti. Chanyeol tidak ingin membuat Baekhyun terluka, namun ia tersadar. Itu tidak mungkin, dan ia tidak bisa.

Baekhyun dapat melihat dari sudut matanya saat wanita muda yangtak lain adalah kakaknya Chanyeol menghampiri Baekhyun dengan senyuman manis terpatri di wajah cantiknya. Wanita itu mengulurkan tangannya pada Baekhyun seraya berkata. "Aku noonanya Chanyeol. Park Yoora" ucapnya. Baekhyun menatapnya sebentar kemudian membalas uluran tangan noona Chanyeol. "Aku Baekhyun. Byun Baekhyun. Senang berkenalan denganmu, noona" jawabnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Tetapi setelahnya, ia melihat wanita itu sedikit terkejut saat Baekhyun menyebut namanya.

"Apa—astaga! Kau Byun Baekhyun?!"

.

.

LET ME KNOW YOU

Chapter 4

By Real-ChanTObaeK

Main Cast : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

Rated : T

I HOPE YOU LIKE IT

ENJOY~

THANK YOU~~ *muahh*

.

.

Baekhyun mengerjap dua kali, sebelum akhirnya kembali bersuara. "Kau... mengenalku?" tanyanya dengan wajah bingung yang terlihat bernama Yoora itu terkekeh melihat tingkah Baekhyun yang begitu imut. Entah mengapa wanita itu terlihat begitu gembira dan seperti tidak memiliki beban sedikit pun di mata Baekhyun. Yoora mengibaskan kedua tangannya. "Tidak. Eum.. maksudku ya. Chanyeol sering bercerita tentangmu. Dan, oh. Chanyeol berkata benar jika dirimu sangat lucu dan menyenangkan. Aku bisa merasakannya" katanya dengan diakhiri tinjuan pelan ke lengan Chanyeol. Baekhyun terlihat salah tingkah, dan itu membuat Chanyeol gemas padanya. "Jangan pedulikan noonaku, Baek. Sebaiknya kau masuk lebih dulu. Nanti aku akan mengantarmu pulang" ucap Chanyeol seraya membuka pintu dan menyuruh keduanya masuk.

Setelah mereka masuk, ketiganya memutuskan untuk berkumpul di ruang tamu yang tak begitu besar di rumah Chanyeol. Yoora begitu bersemangat ketika dia bertanya pada Baekhyun bagaimana dirinya bisa dekat dengan Chanyeol, dan dengan diiringi canda gurau Baekhyun menceritakan semuanya dari awal. Dan tentu saja Baekhyun tidak mampu untuk menceritakan bagian dimana dia sering memperhatikan Chanyeol sebelum mereka dekat. Dan juga perasaannya, itu sudah pasti jawabannya adalah tidak. Chanyeol juga ikut bercerita tentang Becky, dan ketika mereka pergi ke toko hewan. Segalanya tak terlewatkan. Tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat, sudah lebih dari satu jam berjalan sejak Baekhyun kembali masuk ke rumah Chanyeol untuk yang kedua kalinya. Baekhyun sadar ia harus pulang, sesegera mungkin.

"Ahh ya Baekki, kenapa kau kembali tadi?" tanya Yoora yang berada di samping Baekhyun. By the way, Yoora juga menyukai nama panggilan Baekhyun yang satu itu. Baekki.

"Ya ampun, aku hampir lupa dengan itu. Ponselku tertinggal di dalam kamar Chanyeol" jawab Baekhyun seraya menepuk pelan kepalanya. Yoora terkekeh kemudian menoleh kearah Chanyeol. "Chanyeol, tolong ambilkan ponsel Baekki~" katanya dengan seraya menyuruh Baekhyun tetap di tempatnya, membiarkan Chanyeol yang mengambil ponsel Baekhyun di kamarnya. Chanyeol mendengus, tetapi dia tetap berjalan kearah kamarnya. Setelah beberapa saat, Chanyeol kembali dengan ponsel Baekhyun yang sudah berada di tangannya. "Baek, sepuluh panggilan dan dua puluh satu pesan. Semuanya dari eommamu" ucapnya seraya memberikan ponsel berwarna putih dengan case bergambar polkadot itu kepada pemiliknya. "Itu berarti, aku harus pulang" terdengar nada kecewa dari suaranya. "Ya... kau harus pulang, Baekki. Atau kau ingin menginap? Kau bisa tidur dengan Chanyeol kalau kau mau" Baekhyun tahu Yoora hanya bercanda, dia menjawab tidak dengan keras yang disambut tawa oleh Yoora. Baekhyun merona. Chanyeol terkekeh. "Kajja, Baekki. Aku antar kau pulang" ucap Chanyeol seraya menuntun keluar Baekhyun dari rumahnya. Sebelum mereka benar – benar keluar, Yoora sempat berbicara, "Jangan melakukan hal aneh di jalan, ya~" sahut Yoora yang kemudian diikuti dengan suara tawa ringan. Chanyeol memutar bola matanya dengan malas. "Aku sudah bilang jangan pedulikan dia, Baek" ucap Chanyeol pada Baekhyun yang wajahnya telah kembali merona dengan hebat.

'Jadi benar dia orangnya, ya...'

:

:

"Terima kasih, Chanyeol" ucap Baekhyun ketika Chanyeol membukakan pintu mobil untuknya. Well, mereka naik mobil milik Yoora. Awalnya mereka ingin berjalan kaki, tapi karena Yoora menawarkan jadi Chanyeol pikir naik mobil akan lebih aman, lagipula saat ini sudah malam. Chanyeol akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Baekhyun naik mobil Yoora. Sebenarnya, Chanyeol tidak diberikan fasilitas apapun oleh orang tuanya, hanya sebatas memberikan uang setiap per bulannya. Maka dari itu Chanyeol jalan kaki seperti Baekhyun ke sekolah. Chanyeol memilih untuk mandiri dengan tidak ingin menambah beban orang tuanya yang telah sibuk bekerja. Chanyeol menceritakan tentang keluarga kecilnya, terutama kakaknya Yoora. Noona Chanyeol adalah seorang reporter di sebuah stasiun tv terkenal. Wanita muda itu juga bekerja sambilan sebagai pekerja cafe ketika ada waktu luang, ketika pekerjaan di kantornya sudah selesai. Dan kebetulan, hari ini Yoora menyelesaikan pekerjaannya lebih awal dan dia berbaik hati untuk mampir ke rumah adik satu – satunya. Baekhyun tersenyum dengan kikuk dan meminta maaf karena sudah salah paham ketika Chanyeol akhirnya selesai bercerita. Setelahnya Baekhyun yang bercerita mengenai sahabatnya Kyunsoo yang juga Chanyeol kenal, juga orang tuanya yang sibuk bekerja. Namun, pembicaraan mereka harus berakhir walau mereka tak ingin. Mereka sudah sampai di depan rumah Baekhyun.

"Sama – sama, Baekki" Ia berjalan bersama Baekhyun kearah pintu rumah lelaki mungil itu. "Kau yakin aku tak perlu bertemu dengan eommamu?" tanya Chanyeol.

"Tidak perlu, Chanyeol. Eommaku pasti sudah tidur" ucap Baekhyun. Chanyeol mengangguk paham kemudian berlalu pergi setelah mengucapkan selamat tinggal dan selamat malam pada Baekhyun. "Bye~" lanjutnya seraya melambaikan tangannya pada Chanyeol yang sudah berjalan kembali ke mobilnya.

Setidaknya, hari ini adalah hari terbaiknya. Baekhyun merasa sangat senang bisa bersama Chanyeol seharian ini. Hatinya terasa—sulit dijelaskan. Pikirannya penuh dengan Chanyeol dan segala tentang lelaki itu. 'Aku benar – benar mencintaimu, yeol...'—batin Baekhyun kemudian masuk ke dalam rumahnya.

Ketika Baekhyun masuk, yang ia lihat hanya kegelapan, tidak ada cahaya sedikitpun. Tapi sesaat setelahnya, lampu ruang tamunya menyala dan terdengar suara wanita yang dikenalnya. Sang eomma. "Darimana saja Byun Baekhyun? Kau bahkan tidak menjawab telepon dan pesan dari eomma" suara eommanya terdengar tidak ramah, dia benar – benar terlihat tidak senang. Baekhyun memutar bola matanya dan mendengus. "Apa pedulimu? Itu bukan urusanmu" sahut Baekhyun dengan malas. Mendengar jawaban anak tunggalnya, wanita paruh baya itu terlihat semakin marah dengan kilatan emosi yang terpancar dari kedua mata indahnya. "Apa maksudmu bicara seperti itu, eoh? Aku eommamu, Baekhyun! Tentu saja itu juga urusanku!" bentaknya. Nyonya Byun mendekati putrannya dan mencoba meraih pundak Baekhyun. Tetapi lelaki itu menepisnya begitu saja. "Tidak usah sok peduli, nyonya. Urus saja pekerjaanmu! Aku sudah lelah dengan semua ini!" ucap Baekhyun kemudian dia berjalan ke kamarnya. Air mata telah menggenang di mata sipitnya. Setelah dia masuk, Baekhyun masih bisa mendengar teriakkan eommanya yang membuatnya semakin sesak. "Apa – apaan kau Byun Baekhyun! Kau harus segera pulang setelah sekolah selesai. Awas saja aku tidak melihatmu besok sore, Baekhyun! Dengar itu!" teriak Nyonya Byun. Dia mengacak rambutnya frustasi dan kembali kedalam kamarnya.

Maafkan eomma, Baekhyun...—lirih nya.

Baekhyun menangis sejadi – jadinya. Meluapkan seluruh perasaan sesak di hatinya. Dia lelah dengan semuanya. Lelah memikirkan kedua orang tuanya, juga kehidupan mereka. Begitu memuakkan. Orang tuanya memilih untuk sibuk pekerja daripada dirinya, anak tunggal mereka. Bahkan ketika mereka pulang, yang bahkan jarang sekali hal itu terjadi, mereka hanya akan terlibat dalam sebuah perselisihan yang tidak penting, selalu masalah yang sama. Dan berakhir sama pula, mereka hanya melukai hati mereka masing – masing. Baekhyun akan menangis pada akhirnya. Dan tanpa diketahui, begitu juga dengan eommanya. Hubungan mereka memang tidak pernah berjalan dengan baik, semenjak orang tuanya gila bekerja karena ekonomi mereka yang merosot. Awalnya Baekhyun mencoba mengerti, tapi dia tak mampu lagi bertahan. Disaat kenaikan kelas tingkat tiga, Baekhyun bahkan mencoba kabur dari rumahnya jika saja saat itu Kyungoo tidak mencegahnya. Walau Baekhyun tahu, eomma nya masih memberikan perhatian dan mencoba khawatirkan Baekhyun sebagai sosok anaknya. Tetapi Baekhyun muak, dia tidak butuh semua itu. Orang tuanya tidak akan pernah mengerti, dan mereka tidak akan pernah mencoba. Sedikit rasa bersalah muncul di dalam lubuk hatinya karena selalu bertingkah kurang ajar pada orang tuanya. Tapi kemudian ia kembali berpikir. Bukankah ini juga salah mereka? Bukankah ini sebab mereka juga ia menjadi seperti ini? Bahkan appanya sudah tidak peduli dengannya. Ketika mereka pulang, ia—appa Baekhyun hanya akan berdiam diri di kamarnya sibuk berkutat dengan laptopnya. Mereka juga yang selalu sibuk bekerja dan melupakan Baekhyun. Tanpa memperdulikan perasaannya, dia kesepian, membutuhkan kasih sayang orang tua, dan hanya memiliki Kyungsoo yang satu – satunya mengerti Baekhyun.

Baekhyun ingin mereka bisa memahami dan merasakan apa yang dirasakan dirinya. Ya, seandainya mereka bisa. Dan percakapannya dengan eomma membuat suasana hatinya berubah buruk. Ia kembali menarik kata – katanya. Hari ini buruk –sangat. Baekhyun benci dirinya, benci kehidupannya. "Hiks...hiks... aku merindukan kalian... hiks" lirihnya disela isakan tangisnya. Dan, itu pertama kalinya Baekhyun menangis sampai jatuh tertidur dan mimpi indah menjemputnya.

:

:

Kyungsoo terkejut mendapati Baekhyun dengan keadaan memprihatinkan berdiri di depan rumahnya ketika ia membuka pintu. Meskipun Baekhyun sudah berpakaian lengkap—full dengan seragam dan dasinya, tetapi penampilannyaa benar – benar tak karuan. Matanya berkantung dan berwarna hitam, rambutnya tak ditata dengan benar, seragam yang ia kenakan kusut tak karuan. Dan Kyungsoo jamin Baekhyun juga belum memasukkan apapun kedalam perutnya. Kyungsoo akhirnya mengajak Baekhyun duduk di kursi kayu yang letaknya di teras rumah Kyungsoo. Lelaki dengan mata bulat itu menghela napasnya kemudian beralih menatap Baekhyun dengan jengkel. "Ku tebak, ini tentang keluargamu lagi?" tanya Kyungsoo, walau ia sudah tahu jawabannya. Baekhyun mengangguk dengan ekspresi datar di wajahnya. Kemudian Kyungsoo kembali berbicara ketika ia tahu Baekhyun tidak akan berbicara lebih banyak. "Jadi... kita akan membolos hari ini?" kali ini Baekhyun menggeleng dan Kyungsoo mengernyit, bingung. "Kenapa, Baek? Biasanya kau akan senang jika bisa membolos" tanya Kyungsoo, lagi.

Well, sebenarnya hal seperti ini sudah sering terjadi. Orang tua Baekhyun pulang, mereka terlibat perselisihan tidak penting, dan Baekhyun akan menangis. Tetapi, biasanya tidak sampai separah ini. Kali ini Baekhyun benar – benar membuat Kyungsoo khawatir dengan kondisinya. "Aku ingin bertemu dengan Chanyeol, Soo..." ucap Baekhyun dengan lirih.

"Chanyeol? Si pangeranmu itu? Okay. Tapi setidaknya kita masih punya sedikit waktu. Aku perlu memperbaiki penampilanmu" ujar Kyungsoo, kemudian membawa Baekhyun masuk kedalam rumahnya. Mereka masih punya sekitar tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi.

Setelah kurang lebih sepuluh menit lamanya, akhirnya mereka keluar dari kediaman Kyungsoo dengan penampilan Baekhyun yang sudah lebih dari baik. Kyungsoo telah memperbaiki seragam dan rambut Baekhyun menjadi lebih tertata. Dia melapisi kantung mata Baekhyun yang berwarna hitam itu dengan sedikit bedak, dan itu berhasil. Warna hitam itu sudah tidak terlihat dan telah memudar. Kyungsoo memaksa Baekhyun untuk tersenyum. Walau terpaksa, tapi Baekhyun tetap mencoba untuk melakukannya. Kyungsoo sedikit membuat moodnya membaik.

Untung saja mereka selamat sampai sekolah tanpa harus mendapat hukuman karena terlambat. Mereka mengikuti pelajaran dengan hikmat sampai akhirnya semua siswa yang ada di kelas itu menghembuskan napas lega mereka karena bel tanda istirahat telah berbunyi. Kyungsoo mengajak Baekhyun makan siang di kantin sekolah mereka, yah Baekhyun akhirnya ingin makan walau tidak banyak. Tapi setidaknya dia baik – baik saja sekarang. Baekhyun sudah mau tersenyum dan sesekali tertawa pada lelucon dari Kyungsoo, yang tidak begitu lucu. Chanyeol adalah salah satu alasan mood nya benar – benar pulih pagi ini, sebabnya terlihat lelaki jangkung itu khawatir pada Baekhyun. Memang tidak seberapa, tapi itu cukup membuat Baekhyun tersenyum dan mengatakan bahwa dia sudah baik – baik saja. Yang Baekhyun lihat, selama pelajaran berlangsung Chanyeol terlihat gelisah dan tidak biasanya. Tetapi, lamunan Baekhyun tentang pangerannya terpaksa dihentikan saat seorang teman yang Baekhyun kenal, namanya Sehun. Iya, itu namanya, memberikan sebuah lembaran kertas dan satu buah kotak makan. Baekhyun yang mengernyit heran tetap mengambilnya, dan membaca tulisan yang tertera di lembaran kertas berwarna blue itu. Kurang lebih tulisannya begini : —Makanlah, Baekki. Aku harap kau menyukai kue ini dariku. Jangan sampai kau jatuh sakit, karena aku sangat mengkhawatirkanmu—Park Chanyeol. Begitulah isinya, dan ketika Baekhyun membuka kotak makan berwarna blue senada dengan selembar kertasnya, kotak makan itu berisi seperti yang dikatakan sang pengirim, kue stoberi, yang sangat disukainya. Baekhyun tersenyum manis, kemudian memakan kue stoberi itu dengan semangat. Kyungsoo yang melihat menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Dia benar – benar bisa menyembukanmu, ya?" ucapnya seraya terkekeh lembut.

Bel masuk telah berbunyi, Kyungsoo dan Baekhyun sudah masuk ke kelas mereka setelah menghabiskan kue stoberi pemberian Chanyeol dengan sedikit terburu – buru. Baekhyun sedang memperhatikan Song saem ketika Chanyeol menoleh padanya dan tersenyum, kemudian Baekhyun melihat Chanyeol memberikan selembar kertas yang lagi – lagi berwarna blue kepada siswa yang duduk dibelakangnya dan menyuruhnya untuk diberikan kepada Baekhyun. Dengan masih menatap Chanyeol, Baekhyun mengambil suratnya dan beralih membaca isinya. Surat itu berisi : [—Baek, aku membawa Becky dan menaruhnya di taman belakang, karena setelah ini aku harus menjemput Yoora noona dan tidak mungkin aku meninggalkannya di rumahku. Kau bisa menjaganya sampai aku kembali?—Chanyeol ] Baekhyun kembali membaca dan mencoba memahami nya dengan baik. Chanyeol membawa Becky kemari? Kemudian dia membalas dengan : [—Maaf, Yeol. Aku ingin menjaga Becky, tapi setelah ini aku harus segera pulang. Kau tahu, hukuman dari eommaku. Dan omong – omong, kenapa kau jadi suka surat – menyurat?—Baekhyun ] Kemudian dia memberikan kepada teman di depannya dengan hati – hati, jangan sampai Song saem menyadarinya yang bertingkah aneh hanya karena mendapat surat. Well, mungkin Baekhyun terlalu senang. Setelah beberapa saat Baekhyun menunggu, akhirnya ia mendapat balasannya dari Chanyeol yang menulis : [—Kalau begitu jangan dipaksakan, Baek. Maaf karena kemarin membuatmu pulang begitu larut. Apa eommamu sangat marah? Dan omong – omong, aku menyukainya saja—Chanyeol ] itu yang Chanyeol tulis, kemudian Baekhyun begini : [—Tak apa, Yeol. Itu sudah biasa bagiku. Baiklah, dan sebaiknya kita akhiri sampai disini, Yeol—Baekhyun ] segera setelahnya Baekhyun memberikan pada teman di depannya. Tetapi, setelahnya ia tak lagi mendapat balasan, sepertinya Chanyeol mengerti bahwa surat – menyurat ini harus dihentikan jika tidak ingin ketahuan Song saem. Baekhyun hanya dapat meiihat Chanyeol lagi – lagi menoleh dan tersenyum tampan kearahnya.

:

:

Baekhyun sudah berada di rumahnya sekarang, setelah bel pulang berbunyi Baekhyun kmbali menemui Chanyeol dan meminta maaf karena tidak bisa menjaga Becky, tapi Chanyeol mengatakan tidak masalah dan Becky akan baik – baik saja. Sebenarnya, Baekhyun khawatir dengan kucing mungil itu. Tapi, mengingat eommanya mengatakan bahwa ia hari ini dihukum, mau tak mau Baekhyun dengan setengah hati menuruti. Yah, walau Baekhyun tidak pernah berhubungan baik dengan orang tuanya, tapi ia tetap akan menuruti orang tuanya untuk segera pulang hari ini. Ia juga masih memiliki perasaan, kan? Bahkan tadi Kyungsoo mengajaknya untuk pergi nonton, tapi dengan sedikit terpaksa Baekhyun mengatakan ia tidak bisa karena alasan yang sama. Baekhyun baru selesai mandi sore setelah ia melihat televisi memberitakan bahwa hujan deras dan angin kencang akan melanda kota mereka, Baekhyun yang akan masuk ke kamarnya terhenti begitu saja. Rasa panik melanda hatinya begitu saja. Tiba – tiba Becky terpikirkan di kepalanya. Baekhyun mengkhawatirkan kucing yang menjadi kesayangannya itu. Sudah terdengar suara kilat dan petir di sekitar rumahnya, Baekhyun dengan sedikit berlari segera menuju ke kamarnya dan meraih ponselnya yang berada diatas meja berwarna putih bersih itu. Dengan terburu - buru ia menghubungi Chanyeol, setelah mencoba berkali – kali, hasilnya tetap nihil. Chanyeol tidak dapat dihubungi, ponselnya sibuk. Apa Chanyeol terjebak macet, dan ponselnya mati? Dan dia belom menjemput Becky? Bagaimana ini?—batin Baekhyun dipenuhi segala pertanyaan tentang Chanyeol dan Becky, semua hal buruk. Astaga, apa yang harus dia lakukan? Dan setelah beberapa saat berpikir yang tak sama sekali membuahkan hasil, Baekhyun dengan cepat mengambil hoodie abu – abunya setelah memakai sepatu kets nya, dia berlari keluar dari rumahnya, menembus deras hujan yang terasa menusuk tubuh, mengabaikan teriakan eommanya untuk tetap tinggal. Berlari, dan terus berlari, membiarkan hujan yang terasa seperti jarum menembus kulitnya yang halus. Baekhyun terengah – engah ketika dia berhenti tepat di taman belakang, beruntung sekolahnya belum terkunci.

Baekhyun mancari – cari keberadaan Becky, diantara semak – semak, di pojok taman, juga semua sisi dan sudut taman, tapi tidak ada. Becky tidak ada di manapun. Baekhyun tidak tahan lagi, dia merasa ingin menangis. Tetapi ia masih belum menyerah, dan memutuskan berteduh dari derasnya hujan yang belum juga berkurang. Melindungi dirinya yang bahkan sudah begitu basah kuyup, dia kedinginan, dan ia benci dingin. Bahunya bergetar dengan hebat menandakan dirinya yang menggigil akibat udara yang dingin. Baekhyun berdiri di sudut taman, yang diatasnya terdapat sebuah atap yang cukup untuk menghalangi tubuhnya dari tetesan air hujan. Memeluk tubuhnya dengan kedua tangan mencoba untuk menghangatkan diri, tapi walaupun ia tahu bahwa itu mustahil, tubuhnya terlalu basah, dia tetap melakukannya. Berharap keajaiban datang, dan seseorang datang untuk menolongnya. Seakan harapannya terkabul, dia merasakan kehangatan merayapi tubuhnya ketika seseorang menyelimutinya dengan sebuah selimut tebal yang begitu hangat. Begitu membalikkan tubuhnya, ia tahu bahwa dia mengenalnya. Itu Chanyeol... dan dia bersama Becky. Raut wajahnya datar dan tanpa ekspresi, ketika Chanyeol beralih mendekap Baekhyun dengan sepenuh hati, untuk menyalurkan kehangatan pada lelaki yang lebih mungil. Chanyeol tidak sebasah diri Baekhyun, baju seragam yang masih melekat di tubuhnya belum basah dan itu sangat membantu. Chanyeol masih setia memeluk Baekhyun dengan kedua tangannya, tapi kemudian ia berbisik dengan nada datar tapat di telinga Baekhyun. Suaranya membuat Baekhyun takut, apa... Chanyeol marah padanya?

"Apa yang kau lakukan disini, Baekhyun? Kau hanya akan membuat dirimu sakit" bisiknya, nadanya terdengar bahwa dia marah. "C- chanyeol, aku hanya khawatir pada Becky dan—" ucapannya tapi terpotong dengan bentakkan Chanyeol yang sudah melepaspankan pelukannya pada Baekhyun dan beralih menatapnya. "Aku sudah bilang jangan memaksakan dirimu, Baekhyun! Dan aku sudah bilang aku—Astaga, maaf Baekki. Aku membuatmu menangis, astaga maafkan aku" bentakkan nya terhenti karena tiba – tiba ia melihat Baekhyun menangis. Kemudian Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dan menghapus air matanya yang mengalir. Bukankah Chanyeol pernah mengatakan bahwa tangisan Baekhyun adalah kelemahannya? Chanyeol merasa brengsek saat ini, ia mengingkari janjinya sendiri untuk tidak akan membuat Baekhyun menangis lagi. Ya walaupun dia tahu, ia akan tetap harus mengingkarinya. Tangisan Baekhyun mereda ketika Chanyeol kembali memeluknya dan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut. "Kau membuatku khawatir, Baek. Kumohon berhentilah menangis, itu membuatku terluka" bisik Chanyeol lagi, seraya mempererat pelukannya. Baekhyun mencoba menghentikan tangisannya, dan itu berhasil. Dia sudah tidak menangis dan membalas pelukan Chanyeol. "Aku minta maaf, Chanyeol. Aku memang bodoh" ucapnya. "Aku seharusnya lebih menggunakan otakku dan mengikuti katamu, dan—hhmpp" kalimatnya tertahan begitu Chanyeol menciumnya. Baekhyun terkejut dan volume matanya membesar, ia hanya mampu memejamkan matanya, dan ikut membalas lumatan kecil yang Chanyeol berikan. "Eunggh..." Baekhyun melenguh ketika Chanyeol semakin menjadi – jadi melumat bibir atasnya kemudian bagian bawah. Chanyeol sedikit menggigit bibir bawah Baekhyun meminta akses untuk masuk. Baekhyun dengan sepenuh hati membukanya untuk Chanyeol, dan kemudian lelaki jangkung itu memasukkan lidahnya dan mengajak lidah Baekhyun untuk ikut bermain. Baekhyun kembali melenguh dan sedikit mendesah. Tetapi kemudian Chanyeol melepaskan ciumannya ketika ia merasa Baekhyun membutuhkan pasokan udara untuk kembali bernapas. Chanyeol mengusap sisa saliva di sudut bibir Baekhyun yang sudah membengkak dan memerah dengan lucu, kemudian dia mengusap tengkuknya dengan canggung. "Maaf, Baekhyun. Aku terlihat semakin brengsek" katanya. Baekhyun menggeleng dan berkata, "Tidak, Chanyeol" ucapnya dengan wajah yang sudah sepenuhnya merona. "Sudahlah. Aku akan mengantarmu pulang" ucap Chanyeol seraya memuntun Baekhyun kearah mobil Yoora. Hujan sudah mulai mereda dengan perlahan.

:

:

Sesampainya mereka di depan rumah Baekhyun, Chanyeol kembali membukakan pintu untuknya kemudian menghampiri eomma Baekhyun yang terihat begitu khawatir menunggu anaknya untuk pulang. "Baekhyun, kau baik – baik saja? Apa yang kau lakukan ditengah hujan deras, eoh?" katanya dengan marah tapi juga khawatir. Sebelum Baekhyun ingin menjawab, Chanyeol mendahuluinya. "Maaf, Nyonya Byun, ini adalah salahku. Kumohon jangan memarahinya" ucap Chanyeol seraya membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya. Apa yang Chanyeol lakukan!—batinnya. Eomma Baekhyun mengernyitkan alisnya kemudian menatap tajam kearah Chanyeol. "Siapa kau anak muda? Kau kekasih anakku yang tidak bertanggung jawab?" katanya dengan sinis. Baekhyun baru saja ingin menjawab tidak dengan lantang, tapi lagi – lagi ucapannya terpotong oleh Chanyeol yang segera berbicara. "Iya, Nyonya Byun. Aku adalah kekasih anak anda. Aku akan bertanggung jawab atas Baekhyun, nyonya. Aku berjanji tidak akan membuat anda khawatir lagi dan akan menjaga Baekhyun dan menyayanginya dengan sepenuh hati" ucapnya dengan mantap seraya menggenggam tangan Baekhyun.

Baekhyun melihat eommanya menyipitkan matanya dengan tetap menatap Chanyeol, tetapi tatapannya telah melembut. Kemudia wanita paruh baya itu menarik napasnya dengan panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Baiklah, baiklah. Aku mengerti dan aku akan percaya padamu. Aku memberikan kalian waktu sebentar. Dan kau Baekhyun, setelah itu langsung masuk ke kamarmu" katanya kemudian masuk kedalam dengan santai. Baekhyun menatap kearah Chanyeol tidak percaya dengan mengernyit heran. "Apa yang telah kau lakukan, Chanyeol? Apa yang terjadi pada eommaku?" tanya Baekhyun. Chanyeol hanya mengedikkan bahunya kemudian menjawab dengan ringan. "Mungkin eommamu tidak seburuk yang kau pikirkan, Baekki. Percayalah" ucap Chanyeol. "Ahh ya, Baek. Noonaku mengajakmu ke rumah lagi. Dia merindukanmu. Apa kau mau?" lanjutnya. Baekhyun menjawab seraya mengangguk. "Aku mau, tentu saja. Katakan jika aku juga merindukannya" jawabnya. Chanyeol terkekeh kemudian mengacak rambut Bawkhyun dengan asal. Baekhyun mengalihkan wajahnya, menyembunyikan wajah kemerahannya. "Arraseo... kalau begitu aku akan pulang" ucap Chanyeol. Tetapi karena dia melihat Baekhyun yang tidak menatapnya, Chanyeol memanggil lelaki mungil itu. "Baekhyun..." panggilnya seraya memegang dagu Baekhyun untuk menatapnya. Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dan bersiap untuk menciumnya. Tapi— "Ehem..." terdengar suara deheman dari eomma Baekhyun yang ternyata sudah berada diluar lagi. "Hanya sebentar, kan? Baekhyun, kembalilah ke kamarmu" katanya dan mengisyaratkan Baekyun untuk masuk. Well, ciuman mereka gagal. Dan membuat keduanya salah tingkah dan bersemu dengan lucu. Malu karena telah ketahuan ingin berciuman. Walaupun eomma Baekhyun mengetahuinya bahwa mereka adalah sepasang kekasih, tapi ayolah... kalian tahu kebenarannya.

Baekyun berjalan kearah berlawanan dengan Chanyeol yang bejalan kembali ke mobilnya. Baekhyun terkekeh seraya melambai pada Chanyeol. "Sampai bertemu besok, Yeol" ucapnya kemudian tersenyum dengan manis. Chanyeol juga ikut melambai dan tersenyum pada Baekhyun. "Ya, Baek. Selamat malam" ucapnya kemudian masuk kedalam mobil Yoora dan menjalankan mobil itu.

:

:

Jadi disinilah Baekhyun sekarang, dia kembali berkunjung ke rumah Chanyeol. Tepatnya, kali ini Yoora yang memintanya untuk datang. Karena Baekhyun tentu saja tidak keberatan untuk kembali kesini, selain rumah Chanyeol begitu nyaman, kedua orang itu juga menyenangkan. Jadi, dengan senang hati ia menerima ajakan Chanyeol kemarin. Lagipula, benar jika memang ia juga merindukan Yoora dan ingin bertemu lagi dengannya. Pada akhirnya, Baekhyun sempat berdebat kecil dengan Kyungsoo yang merasa dirinya dicueki oleh Baekhyun dan lebih memilih pulang bersama Chanyeol. Memang Baekhyun belum cerita pada Kyungsoo mengenai dirinya yang diminta untuk berkunjung ke rumah Chanyeol lagi oleh Yoora. Tapi untung saja, setelah Baekhyun menjelaskan semuanya, Kyungsoo tidak marah padanya dan mau memaklumi. Dan dengan setengah hati Kyungsoo pulang sendiri hari ini. Karena menurutnya, selama Baekhyun senang, ia akan melakukan apa saja.

Mereka—Yoora, Chanyeol, dan Baekhyun—akhirnya memutuskan kembali berkumpul di kamar Chanyeol yang bernuansa putih itu sambil memakan kue stoberi buatan Yoora yang dibuatnya khusus untuk menyambut kedatangan Baekhyun. Karena tentu saja, dia begitu bersemangat ketika mengetahui Baekhyun menyetujui ajakannya. Dan dengan senyuman manis, Yoora bangun lebih pagi dari biasanya dan membuat kue stoberi kesukaan Baekhyun. Omong – omong, kantornya libur hari ini. Hanya mungkin nanti sore ia harus bekerja di Cafe tempatnya sambilan. Mereka berbincang dengan disertai canda tawa, tak jarang Yoora menjahili kedua lelaki dihadapannya yang akhirnya membuat mereka berdua salah tingkah dan kadang membuat lelaki yang lebih mungil bersemu kemerahan dikedua pipinya. Dan ketika itu terjadi,Yoora akan berteriak dengan antusias bahwa mereka lucu dan begitu cocok. Well, itu tidak membantu sama sekali. Apalagi untuk Baekhyun. Hanya akan membuat wajahnya semakin memanas. Obrolan mereka berhenti sejenak ketika Yoora mangatakan ingin mengambilkan Baekhyun susu stoberi yang juga kesukaannya. Baekhyun dan Chanyeol hanya mengangguk menanggapinya.

Tetapi setelah beberapa saat, Yoora tak kunjung kembali, dan malah yang Chanyeol dan Baekhyun dengar adalah teriakkan yang menggema dari sang kakak. Chanyeol yang keluar dari kamarnya lebih dulu mendapati sang kakak memegang gelas yang telah kosong di tangan kirinya. Dan ketika ia mengalihkan pandangannya, Chanyeol melihat kakaknya memegang Becky yang berlumuran susu yang tak lain adalah susu stoberi yang ingin kakaknya berikan pada Baekhyun. Chanyeol melihat Baekhyun telah berada disampingnya dan kemudian berkata. "Apa yang terjadi, noona?" suaranya terdengar khawatir. Yoora meletakkan gelas yang kosong itu kemudian menggendong Becky dengan kedua tangannya agar tidak terjatuh. "Maaf Chanyeol. Becky ketumpahan susu stoberi. Dan aku harus segera bersiap untuk pergi bekerja. Jadi, kurasa kau yang harus mengurusnya" jelas Yoora kemudian memberikan Becky yang menggeliat tak nyaman dengan dirinya pada Chanyeol. Chanyeol mengambil alih Becky dari Yoora kemudian menghela napasnya. "Ya, aku tahu. Kau bersiap saja kalau begitu" jawab Chanyeol. Baekhyun yang khawatir dengan Becky mengambil handuk kecil yang bersih di lemari kecil ruang tamu, by the way Yoora yang memberi tahu dimana letaknya. Baekhyun memberikan handuknya pada Chanyeol dan segera Chanyeol menyelimuti Becky dengan handuk itu agar si kucing tidak kedinginan. "Aku harus memandikannya" ucap Chanyeol seraya berjalan kearah kamar mandi yang berada tepat disamping kamarnya. Yoora keluar dari kamarnya—kamar tamu di rumah Chanyeol—sudah dengan keadaan rapi, ia sudah ganti pakaian dan menata rambutnya. Kemudian Yoora menghampiri Baekhyun dan mengelus surai lelaki itu. "Aku pergi, Baek" ucapnya, lalu berlalu pergi. "Chanyeol, aku ikut denganmu, ya~" ucap Baekhyun dengan sedikit berteriak, kemudian menyusul Chanyeol yang sudah lebih dulu berada di dalam kamar mandi.

Ketika Baekhyun masuk, dia melihat Chanyeol sedang menyabuni Becky yang terlihat tenang, tidak memberontak sama sekali. Baekhyun duduk disamping Chanyeol kemudian memperhatikan Chanyeol yang begitu telaten memandikan Becky, lelaki jangkung itu memastikan sabunnya tidak masuk ke dalam mata dan mulut si kucing, ia begitu melakukannya dengan hati – hati. Baekhyun kagum dengan Chanyeol, sungguh. "Kau hebat, Yeol. Pantas Becky menyukaimu" ucap Baekhyun. Chanyeol menoleh pada Baekhyun sebentar kemudian kembali melanjutkan kegiatannya. "Yoora memang ceroboh. Untung Becky baik – baik saja. Dan, tentu saja aku memang hebat" jelas Chanyeol, kemudian dia sedikit tertawa ringan. Chanyeol menggosok – gosok tubuh Becky dengan hati – hati kemudian Baekhyun melihat lelaki itu tersenyum. "Jja... sudah selesai~" ucapnya. Tetapi, sebelum Chanyeol ingin melanjutkan, membilas tubuh Becky. Baekhyun berkata dengan semangat, "Aku yang akan membilasnya. Aku ingin membantumu, Yeol" ucap Baekhyun kemudian dia mengambil Becky dari gendongan Chanyeol. Baekhyun dengan perlahan membilas tubuh Becky dengan air hangat yang sudah Chanyeol sediakan, ia mencoba sabar dan hati – hati agar airnya tidak masuk mata dan telinga atau bahkan tak sengaja terminum Becky. Chanyeol terkekeh saat melihat Baekhyun begitu bersemangat tapi juga hati – hati, Baekhyun begitu lucu karena keseriusannya. Ketika Chanyeol melihat Baekhyun hampir membuat air itu mengenai mata Becky, Chanyeol kemudian dengan setengah berdiri bertumpu pada kedua lututnya di belakang Baekhyun, dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Baekhyun. Well, terlihat seperti Chanyeol memang memeluk Baekhyun dari belakang. Baekhyun membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak kencang seketika. Dia membiarkan Chanyeol mengambil alih tubuhnya untuk membilas Becky. "Begini caranya. Ini tidak akan membuat airnya masuk kedalam mata" jelas Chanyeol. Baekhyun hanya mengangguk, tanda bahwa ia paham maksud Chanyeol.

Setelah memastikan semua bagian sudah terbilas, dan tubuh Becky sudah bersih dari sabun, Chanyeol membungkus tubuh Becky dengan handuk baru yang masih kering dan meletakkan Becky kembali ke lantai kamar mandi. Tentu saja itu membuat Baekhyun heran, kenapa Chanyeol tidak membawa Becky masuk. Tetapi sebelum dia bertanya, Chanyeol telah mendekat kearahnya dan tiba – tiba Chanyeol memeluknya dengan erat. "C- chanyeol, ada ap—" tindakan Chanyeol membuat Baekhyun gugup, dan jantungnya kembali berdetak tak karuan. Chanyeol memotong perkataannya. "Sshh... biarkan seperti ini dulu, Baek" jawab Chanyeol. Suaranya benar – benar tenang. Baekhyun hanya diam, tidak bergerak, juga tidak berkata apa – apa. Dua menit berlalu, akhirnya Chanyeol melepas pelukannya pada Baekhyun, kemudian dia memegang pundak Baekhyun yang masih setia untuk diam. Chanyeol menatap mata Baekhyun. Namun, setelah Baekhyun balas menatapnya, Chanyeol melepas pegangannya pada pundak Baekhyun kemudian dia bangkit berdiri, menggendong Becky bersamanya, dan berlalu keluar begitu saja. Tanpa meninggalkan sepatah katapun.

'Ada apa dengannya? Tatapan matanya... begitu... aneh'—batin Baekhyun.

:

:

Baekhyun memutuskan untuk mencari Chanyeol setelahnya, tetapi dia tidak menemukan Chanyeol di ruang tamu dan ruangan Becky, kemudian Baekhyun ke kamar Chanyeol dan berharap lelaki jangkung itu ada disana. Tapi, tetap sama. chanyeol tidak ada disana. Pilihan satu – satunya adalah kamar tamu, tempat Yoora. Baekhyun sempat ragu, tapi akhirnya ia membuka pintu kamar itu dan sedikit mengintip. Hasilnya tetap sama, Chanyeol tidak ada.

Tetapi Baekhyun melihat sebuah map berwarna hijau yang disana terdapat label cap sekolahnya. Map berwarna hijau yang sangat tak asing bagi Baekhyun. Dengan mantap Baekhyun masuk kedalam dan membuka map itu dengan cepat. Betapa terkejutnya bahwa dugaannya benar. Seketika air mata berkumpul di pelupuk matanya. Hatinya terasa kembali hancur. Baekhyun menoleh saat suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya. Dia masih memegang map hijau itu dengan tangan yang bergetar.

Disana tertulis, "Surat Pengajuan Perpindahan Atas Nama Siswa, Park Chanyeol" dengan jelas.

:

:

:

Katakan bahwa semuanya tidak benar.

Kumohon...

Park Chanyeol.

:

:

:

~TBC~

:

:

:

Author's Note : Huft~ akhirnya selesai... tadinya aku berencana mengetik bagian akhirnya kemarin. Tapi, tidak jadi karena aku harus pergi. Jadi baru bisa dikerjakan sekarang. Apdet nya melenceng sekali dari yang direncanakan dan diharapkan. Chap ini panjang sekali. Semoga memuaskan dan kalian menyukainya!

Special Thanks. Bagi yang sudah mereview, fav, and follow sejak dari prolog. Maaf sekali lagi karena aku tidak bisa membalas dan menyebutkan nama kali satu – persatu. *pelukcium* Muahh~

Terima kasih sekali lagi... jangan bosan - bosan untuk memberi tanggapan kalian di kotak review untuk ff ini ya~~ jadi aku juga tidak akan bosan juga untuk melanjutkan ff ini... hehe *peace*

:

Ada apa sebenarnya dengan Chanyeol, ya?

Kenapa Yoora bisa mengenal Baekhyun?

:

Kalo penasaran, tinggalkan review kalian setelah membaca yaaa... maaf kalo cerita nya absurd, oke?

Okeeelah kalau begitu, ditunggu kelanjutannya yah!

Bye, xoxo~!