Title: Bubble Tea

.

.

Author: Kim Ara

Cast: -Huang Zi Tao as Tao

-Wu Yi Fan as Yifan

.

.

.

The casts belongs to God, but the story all belong to me!

Jika ada kesamaan nama atau jalan cerita, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.

This is Tao and Yifan fanfiction, i'm not accepting any flame for the cast!

.

.

.

Enjoy~

.

.

Yifan masih memejamkan matanya, ketika Zitao tiba-tiba menyeruak masuk ke kamar mereka dan mengguncang-guncangkan badannya hingga nyaris menggelinding dari ranjang.

Yifan duduk dengan mata masih terpejam, "Lebih baik kau memiliki alasan yang cukup baik untuk membangunkanku dari tidur siang yang sakral ini, Zi."

Zitao menunggu Yifan membuka matanya dengan sabar, sebelum mencoba berargumen, "Temani beli bubble tea ya, gege?"

"This little shit." Yifan bergumam sengit, "Kau hanya memanggilku semanis itu jika ada maunya saja."

Zitao terkekeh, anehnya tanpa marah sama sekali. "Jadi?"

Yifan kembali membanting tubuh di atas kasur. "Nope." Ia menarik selimutnya sampai menutupi sekujur tubuh. "Itu hanya 5 menit dari sini, Zi."

"Oh." Zitao menaikkan alisnya dalam ketidakpercayaan. "Oke." Ia lalu meraih mantel yang tergantung di balik pintu, dan segera keluar dengan diiringi suara pintu yang dibanting.

Yifan memijit pelipisnya yang berdenyut, mencoba membuka matanya dengan susah payah. "Oh Lord." Ia bergumam dengan nada penuh kesusahan sebelum kemudian berusaha menyeret kakinya untuk menyusul Tao.

Dan, kejutan.

Tao tidak kemana-mana, ia masih duduk di tangga, menyeringai senang melihat Yifan yang berjalan menuruni tangga dengan susah payah. Ia menautkan jemarinya di sela jemari Yifan yang panjang, mengayun-ayunkannya bersemangat. "Kajja!"

Yifan hanya pasrah saja mengikuti Tao yang menyeretnya ke kedai mungil berwarna merah bata di ujung jalan yang antrinya melebihi antri sembako di Indonesia.

"Kau mau rasa roasted tea seperti biasanya, ge?" Tao bertanya ketika mereka sudah berhasil melalui tantangan mengantri yang menguras energi.

Yifan mengangguk.

Tao menoleh ke arah pelayan cantik yang menunggu pesanan mereka dengan sabar. "Oke, Roasted Tea Milk Tea satu, regular, topping bubble, lalu Taro Milk Tea, large, topping bubble juga."

"Gula dan es nya sedang?"

"Kemarin aku kesini memesan dengan gula sedang, tapi rasanya terlalu manis." Tao berbisik di telinga Yifan. "Lebih baik bagaimana?"

"Aku selalu pesan dengan less sugar kan?" Yifan malah balas bertanya. "Kau juga memesan seperti itu saja."

Tao masih terlihat bimbang. "Tapi…"

Yifan menoleh tidak enak pada antrian yang mengular dibelakangnya. "Terlalu banyak gula juga tidak baik untuk kesehatanmu, Zi."

Mana bisa Tao menolak nasihat yang dikatakan dengan nada selembut itu? "Semua less sugar."

Tao lalu bergeser ke bagian pengambilan pemesanan sementara Yifan membayar. Tidak butuh waktu lama, dalam 5 menit pesanan mereka sudah siap.

Tao menusukkan sedotan dengan buru-buru sembari berjalan kembali ke apartemen kecil mereka. Raut wajahnya berubah ketika mengecap rasa asing di lidahnya. "Tidak enak…" Ia mengatakannya dengan nada memelas yang membuat Yifan harus menahan tawanya dengan susah payah. Jarang-jarang Tao memakai nada seimut ini.

"Tidak enak?"

"Tidak enak." Tao menatap gelas plastik bening berisi cairan berwarna ungu itu dengan pandangan membunuh.

Yifan terlihat berpikir sejenak , "Pasti enak."

"Ini pahit!" Tao membentaknya kesal, menyesal telah menuruti saran Yifan yang jelas-jelas tidak suka manis.

Yifan mengulurkan tangannya, "Coba kemarikan."

Tao menyerahkan bubble tea nya dengan sukarela, wajahnya masih penuh dendam.

Yifan menyedot bubble tea Tao dengan nikmat, pipinya sampai menggelembung seperti hamster. Jarinya bergerak, memberi isyarat pada Tao untuk mendekat.

Tao memajukan wajahnya bersungut-sungut, "Tidak en-"

Dalam waktu sepersekian detik, Yifan menarik leher Tao mendekat, bibir mereka bertemu, dan ia memindahkan bubble tea dari mulutnya dengan cepat.

Bahkan saat Yifan sudah melepas pagutan mereka, Tao masih ternganga di tempat.

Yifan tersenyum lembut, "Manis kan?"

.

.

FIN

.

.

Haiii, aku dateng tepat waktu kaaan, weekend lho ini :3 *tebar bunga*

Ini terlalu panjang untuk ukuran drabble, harusnya ini namanya ficlet series aja dari awal yah ;_; Tapi kalian nerima aku apa adanya kan ya? *ditendang* Soalnya aku ini manusia ribet yang nggak bisa nulis panjang dan lebih nggak bisa lagi nulis super pendek. *flip mountain*

By the way, aku curhat dikit ya. JADI AKU BARU TAU TENTANG MASALAH TAO YANG BELI OBAT SENDIRI PAKE KRUK ITU ;_; OH, LORD. AKU SAKIT HATI SUMPAH SAKIT HATI. MAKSUDNYA APA YA INI MAKSUDNYA APA. AKU RELA DIREKRUT JADI ASISTEN PRIBADI, SURUH BELI SEMBAKO KEK APA KEK, NGGAK USAH DIGAJI JUGA NGGAK APA APA, ASAL JANGAN PERLAKUKAN CINTAQ SAYANGQ HIDUPQ KEK GITU. YA EMANG DIA COWOK, BISA WUSHU MALAH, TAPI DIA ARTIS PLIS, LAGI SAKIT JUGA. GILA AJA SM T*I EMANG.

Maafin yah marah-marah, anggep aja ini diary umum/? Kalo ada yang tau alesan perusahaan gila sinting itu ngebiarin Tao keluar sendirian dengan keadaan kayak gitu, tolong jelasin ke aku gimana gitu kek. Biar nggak dendam kek begitu terus.

Dan adakah yang mau kasih rekomen buat fic minggu depan? Sekadar masukan tentang genre mungkin? Takutnya pada bosen kalo ceritanya begini terus. Udah gitu aja, maaf a/n kepanjangan, pokoknya makasih buat yang udah nyempetin baca yaaa *hugs*

.

xoxo, Kim Ara