Title: Elevator Accident
.
Author: Kim Ara
Cast: -Huang Zi Tao as Cowok Ganteng
-Wu Yi Fan as Yifan
.
.
The casts belongs to God, but the story all belong to me!
Jika ada kesamaan nama atau jalan cerita, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.
This is Tao and Kris fanfiction, i'm not accepting any flame for the cast!
.
.
Enjoy~
.
.
.
Sudah 5 menit, tapi angka yang terpampang pada layar kecil di atas elevator tak juga berubah.
Tetap di lantai 5, padahal ia menunggu di lantai 23.
Ini sudah tengah malam, jadi peluang orang yang memakainya hanya sedikit, dan entah apa yang terjadi hingga elevator itu tak kunjung berjalan.
Yifan mengalihkan pandangannya ke luar lewat dinding kantornya yang terbuat dari kaca tebal.
Di luar tentu sudah gelap, dengan gemerlap lampu khas pusat kota yang menyilaukan mata.
Ia mendesah sedih ketika ingat kalau seharusnya ia bisa menghabiskan malam ini dengan bersenang-senang kalau saja tidak ada setumpuk pekerjaan yang menjerit minta diselesaikan.
Ia kembali mengalihkan pandangan ke layar kecil yang kali ini menunjukkan angka yang berbeda.
Yifan tersenyum melihat angka yang bergerak naik.
.
7...
13...
19...
23...
.
Ting!
Pintu kaca elevator terbuka dan Yifan naik dengan cepat, keasyikan menatap keluar lewat elevator yang juga transparan hingga lupa memencet tombol lantai.
"Lantai berapa?"
Kalau Yifan perempuan, ia pasti sudah hamil mendengar suara itu.
Suaranya rendah, dengan sedikit serak yang membuatnya terdengar lebih laki-laki.
Shit.
Yifan menoleh gugup, "Underground. Terimakasih."
Ia tersenyum. "Aku juga."
Holy shit.
Ia tersenyum!
Kuulangi, IA TERSENYUM!
Oh Tuhanku, betapa indah ciptaanmu...
Rambutnya hitam tebal, sewarna langit malam. Matanya tajam, dengan sepasang alis tebal yang menyempurnakan. Hidungnya mancung, terlihat super sempurna jika dilihat dari samping. Keangkuhan wajahnya itu diperlembut dengan seulas senyum yang membuat Yifan nyaris lepas kendali.
Oh, Lord.
"Lembur?"
Yifan menengok ke kanan kiri, memastikan kalau memang ia yang diajak bicara. Padahal sepertinya di seluruh gedung pun hanya tinggal mereka berdua.
"Aku bicara denganmu. Memangnya siapa lagi?" Ia terkekeh dengan suara melengking tinggi, agak kurang cocok jika dibandingkan dengan wajah sangarnya.
Wajah security hati hello kitty, huh?
Yifan melonggarkan dasinya karena tiba-tiba merasa kekurangan oksigen. "Ya. Kau sendiri?"
"Begitulah. Nasib karyawan baru."
Yifan menaikkan sebelah alisnya. "Begitu? Pantas saja aku tak pernah melihatmu sebelumnya."
"Ya, aku pindahan dari luar negeri." Sahutnya sambil melepas jas yang ia gunakan. Ia kemudian menggulung perlahan lengan kemeja putihnya, menampakkan urat-urat bertonjolan yang membuat Yifan gelisah. "Korea panas sekali ya?"
Yifan meneguk ludahnya dengan susah payah. "Y-Ya. Um, kau pindahan dari mana?"
"L.A. Katanya kantor pusat kekurangan karyawan profesional jadi aku dikirim kesini."
"Ah, begitu." Yifan bersandar gugup di dinding elevator, berharap pintu segera terbuka sebelum ia tidak bisa menahan diri lagi.
Tiba-tiba elevator berguncang, kemudian berhenti. Yifan mematung, menatap lawan bicaranya horror.
"Fck!" Laki-laki titisan dewa tadi memaki kesal. "Tadi elevator sialan ini juga berhenti cukup lama! Dan lagi-lagi di lantai 5! Fck!"
Yifan baru tahu kalau ternyata kata makian bisa terdengar seseksi ini.
Yifan berdehem gugup, tak tahan lagi. "Nah, kudengar orang-orang di L.A tidak keberatan mencium orang yang di tidak dikenalnya, apa benar?"
Ia menoleh, menatap Yifan heran. "Ya. Kalau suka, kenapa tidak?"
"Oke."
.
.
.
Di tempat lain...
"Mau makan tteobokki, Baek?"
Namja berwajah imut yang sedang bergelanyut di lengan kekasihnya itu menggeleng. "Oden saja ya, Chan?"
Chanyeol menatapnya sebal. "Kan tadi juga sudah makan itu!"
Baekhyun melepas rangkulannya, protes "Tapi kan malam-malam dingin begini enaknya makan yang panas dan berkuah!"
Chanyeol berhenti berjalan. "Tteobokki juga panas! Bukankah kema-"
Ucapannya terpotong oleh pemandangan tak senonoh yang tanpa sengaja tertangkap matanya.
"Baek, apa yang mereka lakukan?"
Baekhyun melihat arah yang ditunjuk kekasihnya. "Wow. Mereka lupa kalau elevator nya transparan ya?"
"Oh entahlah." Chanyeol menggelengkan kepalanya frustasi. "Tapi tunggu...mereka memberiku inspirasi untuk menu makan malam kita."
"Apa?" tanya Baekhyun ragu, tiba-tiba saja aura hitam terasa menyelimuti.
Chanyeol tersenyum inosen. "Tentu saja memakanmu!"
Oh, Lord.
.
.
.
FIN
.
.
Ahahaha aku balik lagiii. Semoga gak ada yang bosen ya :'3
Kemarin banyak yang bilang kalo KTS makin berkurang dan ceritanya juga berkurang, jadi aku bakalan sering-sering apdet deh, asal jangan pada pergi ah, cukup member exo aja yang pergi ;_\ *ditonjokkin
Btw semua cerita di Living ini Cuma drabble, jadi nggak akan ada sekuel atopun lanjutannya. Kalo ada yang merasa belum puas sama endingnya, aku serahkan dengan khayalan masing-masing aja yaa, maafkan hayatii :'3 Dan maaf buat slight ChanBaek-nya, cuma sekadar buat 'bumbu' koook.
Anyway, thanks a looot for reading, hope you like it~
.
.
Xoxo, Kim Ara
