Title: Light Problem
.
Author: Kim Ara
Cast: -Huang Zi Tao as Tao
-Wu Yi Fan as Yifan
.
.
The casts belongs to God, but the story all belong to me!
Jika ada kesamaan nama atau jalan cerita, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.
This is Tao and Yifan fanfiction, i'm not accepting any flame for the cast!
.
.
This fic dedicated to: Kim Aluna. The super 'hebring' author bestfriend of mine. Saranghae!
.
Enjoy~
.
.
.
Yifan menekan tanda 'titik' di keyboard laptopnya sebelum mengangkat tangan penuh kemenangan. Pekerjaan sialannya yang menumpuk itu akhirnya selesai juga.
Ia menguap, lalu melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
Ia berjalan ke kamar dengan sepelan mungkin, senyumnya otomatis merekah melihat Tao yang sudah tidur di kasur king size mereka.
Tao tidur meringkuk, terkubur di dalam selimut yang tebal. Yifan berhenti sebentar untuk membayangkan posisi Tao di bawah selimut itu, dan tersenyum sendiri ketika khayalannya tentang posisi itu ternyata imut sekali.
Yifan berjingkat, berusaha mematikan lampu dengan gerakan slow motion. Tapi gagal karena Tao langsung bangun dan menjerit begitu kamar berubah gelap gulita. "TURN THE GODDAMNIT LIGHT UP, WU YI FAN!"
Yifan mendesah, sebelum kemudian menghidupkan lampunya kembali. "Aku sudah capek sekali, Zi. Bisa-bisa aku baru tidur jam 5 nanti kalau lampunya masih menyala seterang ini."
Tao menggeleng tegas. "TIDAK! Nope. Never. Not a chance."
Oh God, jangan pertengkaran ini lagiā¦
"We are not having this conversation." Tao menunjuk saklar dengan kesal, "Hidupkan lampunya!"
"Yes, we are having this conversation." Yifan melipat tangan di depan dada, bergeser sedikit agar tubuhnya menutupi saklar dari pandangan Tao. "Tidurlah lagi."
Tao melempar sebuah guling yang, strike, langsung terkena wajah Yifan dengan mulusnya. "KUBILANG, HIDUPKAN!"
"Kalau aku mendapat uang sedolar setiap bertengkar denganmu karena masalah lampu, pasti aku sudah sekaya Siwon hyung sekarang." sindir Yifan kesal. "Bisakah kau mengalah sekali ini saja?"
"Aku mengalah setiap kali kau lembur dan akhir-akhir ini kau selalu lembur jadi aku tak akan mengalah lagi."
Yifan menatapnya kesal, "Zi!"
"Kau mau aku setengah mati gara-gara mimpi buruk lagi, Wu?! Kau mau melihatku menangis menjerit-jerit agar kau bisa menunjukkan ke superior-an mu?" Zitao balas membentak.
Yifan memejamkan mata sebentar untuk menahan luapan emosi di dadanya, sebelum kemudian berbaring di samping Tao, membiarkan lampunya tetap menyala. Ia mengecup kening Tao lembut, lalu mengubur diri dalam selimut. "Goodnight, love."
Tao berusaha menyingkirkan segala rasa bersalahnya setelah itu, tapi rasa itu jelas tak mau hilang karena ranjangnya terus bergoyang. Yifan berulang kali mengubah posisi tidurnya, beberapa kali menggeram kesal, kadang memaki pelan, tapi ia jelas belum bisa tidur.
Zitao memeluk Yifan yang membelakanginya, membuat Yifan langsung berbalik.
"Kau belum tidur?" Tanya Yifan lembut sambil menyingkirkan anak-anak rambut yang halus dari dahi Tao.
Tao menggeleng, "Kau juga belum."
"Aku membangunkanmu?"
Tao menggeleng lagi.
"Tidurlah." Yifan tersenyum lembut, memandang lurus ke arah iris cokelat muda itu yang tampak berkilau indah di bawah sinar lampu. "Sorry for the fight."
"Tidak, aku yang minta maaf. Kau kan harus istirahat." Tao melempar pandangan menyesal, jemarinya mengelus pipi Yifan dengan penuh sayang. "Kau mau aku mematikan lampunya?"
Yifan meraih jemari Tao dari pipinya, mengecupnya lembut. "Tidak usah... Lebih baik begini daripada kau mendapat mimpi buruk lagi."
Tao menatapnya sedih. Dalam jarak sedekat ini, wajah Yifan yang pucat terlihat lebih jelas. Ia jadi lebih merasa bersalah. "Kumatikan saja."
Yifan berusaha menahan tangan Tao tapi ia lebih cepat berdiri untuk mematikan lampu.
"Terimakasih..." Yifan berbisik.
"Iya. Tidurlah..." Tao mengelus rambut Yifan beberapa kali sampai namja tampan itu akhirnya menutup matanya.
"Kau tidak tidur?" tanya Yifan, masih memejamkan mata.
"Sebentar lagi."
Yifan tersenyum sebelum memeluk Tao erat, yang meringkuk di dadanya seperti bayi. "Aku disini. Aku melindungimu. Tidak akan ada mimpi buruk lagi, aku janji."
Yifan tidak pernah ingkar janji. Tao tahu itu. Dan Tao tergila-gila padanya juga karena itu, jadi ia mengubur wajahnya lebih dalam di dada Yifan, mencengkeram piyamanya erat-erat, memutuskan untuk mempercayakan semuanya pada namja itu. "Baiklah."
"Goodnight again, Sunshine." bisik Yifan lalu mengecup puncak kepala Tao yang berbau bayi. "I'm madly in love with you."
"Goodnight."bisik Tao sebelum benar-benar terlelap.
Dan ketika esoknya ia bangun dengan perasaan bahagia dan tubuh segar bugar, ia baru menyadari kalau Yifan benar.
Tao tidak mimpi buruk lagi.
.
.
FIN
.
.
Hellooo, mulai chapter ini aku bakal mengembalikan ff Living pada fungsi aslinya, yaitu menampung ff-ff ringan tentang kehidupan taoris macem ini. Kemaren-kemaren aku terlalu fokus sama panjang pendeknya cerita, sampe lupa sama fungsi asli nih kumpulan ff dan alasan kenapa judulnya Living.
Dan Living sekarang nggak bisa di share perminggu, i'm so sorryyyyyyy. Ada buanyak kerjaan yang agak agak mustahil buat disambi, jadi mungkin ini ff bakalan nganggur sampe aku bener bener dapet ilham.
Btw, aku udah nyiapin sebuah sequel dari ffku yang lama lhooo. Can you guess what is it? Clue: not 'A Twist in My Story'
Thanks for reading guyss, love you tonsss
.
.
xoxo, Kim Ara
