Title: All I Need is You

.

Author: Kim Ara

Cast: -Huang Zi Tao as Tao

-Wu Yi Fan as Yifan

.

.

The casts belongs to God, but the story all belong to me!

Jika ada kesamaan nama atau jalan cerita, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.

This is Tao and Yifan fanfiction, i'm not accepting any flame for the cast!

.

.

This fic dedicated to: Celindazifan and her dope reviews. I love you!

.

Enjoy~

.

.

.

Tao berjalan perlahan di belakang manajernya. Kedua tangannya sibuk menggendong seorang gadis cilik yang sedang tertidur pulas di dadanya. Ia mendesah lega ketika akhirnya pintu terbuka dengan bunyi 'klik' pelan.

Manajernya berdiri ragu, masih dengan tangan yang memegang erat pegangan pintu. "Sekarang?"

"Besok." Tao memutar bola matanya sebal. "Ini berat, ge. Please."

Ia berjalan ke ujung koridor satu ke ujung lainnya, memastikan kalau hanya ada mereka disana, baru kemudian kembali ke tempat Tao berdiri. Ia menepuk pundak Zitao pelan. "Jaga diri baik-baik."

"Kau juga, ge."

Manajernya menahan pintu sambil sesekali menoleh, dan baru menutupnya begitu Tao sudah benar-benar masuk ke dalam.

"Welcome home." Suara berat yang menyambutnya dalam kegelapan membuat Tao seketika diselimuti perasaan tenang yang absolut. Tangannya yang kekar mengambil alih gadis kecil tadi dari gendongan Tao.

Tao mengikutinya dari belakang, mengamati saat orang itu dengan hati-hati menidurkan si gadis kecil di ranjang, melepas sepatunya, kemudian menyelimutinya sampai dada. Darahnya berdesir ketika sosok jangkung itu akhirnya menoleh, menatapnya dengan sepasang mata hickory yang menentramkan.

Tanpa sadar Tao sudah berjalan lurus-lurus, mengubur diri di pelukannya yang hangat. "Aku kangen sekali, Fanfan."

Ia terkekeh, mengecup puncak kepala Tao penuh kasih. "How's your day?"

"Menyenangkan. BoXuan anak yang manis sekali." Tao tersenyum. "How's yours?"

Yifan merangkul bahu Tao, menggiringnya ke pantry dengan lembut. "Shitty. Aku harusnya menemanimu dan si cantik itu berjalan-jalan layaknya keluarga normal."

Gerutuan Yifan mau tak mau membuatnya tersenyum lagi. Ia menopang dagu, mengamati Yifan yang sedang sibuk menyeduh teh.

"Kalian menikmati hari tanpaku?" ia meletakkan cangkir yang masih mengepulkan uap di depan Tao. "Enak ya bisa tebar pesona kemana-mana?"

Tao hanya menggeleng, berusaha sebisa mungkin menahan tawa dan memilih fokus pada usaha mendinginkan tehnya.

"Akhir-akhir ini aku sering sekali melihat fotomu dengan laki-laki lain. Aku tidak suka ya." Yifan meraih sebuah biskuit, sengaja mengunyahnya keras-keras. "Kalau dihitung mungkin selama sebulan terakhir kau memberi mereka 1000 pelukan, dan hanya 1 pelukan untukku. That's pretty shitty."

Yifan melirik dongkol pada Tao yang masih terlihat acuh. "Look, bahkan semua kata kataku sudah tak penting lagi untukmu."

"Tehnya enak." Kata Tao tiba-tiba. "Mau coba?"

Dan Yifan bahkan belum sempat menjawab ketika Tao tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mencium Yifan dengan lembut. Membuatnya mencecap sisa-sisa teh yang baru saja diminum Zitao.

"Manis kan?"

Yifan terpaku. Telinganya kini sudah semerah boxer kesayangan sepupunya, Jungkook. Ia berdehem, berusaha mengusir segala nafsunya untuk menarik Tao dan menciumnya seakan tak akan ada lagi hari esok. "Kau pasti belajar menggoda seperti ini juga dari mereka."

Tao menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Jemarinya yang lentik melayang untuk mendaratkan pukulan pelan di puncak kepala Yifan yang botak. "Kau cemburuan sekali. Seperti ABG."

"Wajar saja kalau melihat kelakuanmu akhir-akhir ini." Yifan menyilangkan tangan di depan dada, merengut kekanakan.

Tao mengelus lengan Yifan lembut, "Aku harus bagaimana agar kau berhenti merajuk?"

"Entahlah." Yifan berdiri, berjalan menghampiri balkon. Keras kepala. "Menggoda om-om, mungkin?"

Tao mendekat, memeluk Yifan dari belakang dan menyelipkan tangannya di perut Yifan yang datar "Kepalamu sekeras batu. Plontos pula." Gerutunya, "Tapi aku tak tahu kenapa aku menyayangimu sedemikian gilanya."

Dan segala benteng ego yang sudah dibangun Yifan berhari-hari akhirnya hancur juga. Ia berbalik, memeluk lelaki tampan yang sekarang sudah sama tinggi dengannya itu. "Curang. Aku harusnya marah lebih lama."

"If you can." Tao menjulurkan lidahnya usil. "Lagipula, kita kan sudah lama tidak bertemu. Kau tidak merindukanku, huh?"

Yifan memilih tidak menjawab. Dengan satu tangan, ia mengangkat Tao tinggi-tinggi di udara, memanggulnya di pundak.

"Sinting! Turunkan aku!" Tao mendesis, berusaha sebisa mungkin meredam pekikannya sendiri agar BoXuan tidak terbangun.

Yifan membanting Tao dengan pelan ke sofa, sebelum kemudian mendekapnya kuat-kuat. "Aku rindu. Sampai nyaris gila."

Tao terkekeh, jemarinya bergerak untuk menyingkirkan poni Yifan yang terurai berantakan. Ia mengelus pipi Yifan lembut, cukup lembut untuk membuatnya merinding. "Hanya kau yang mampu membuatku bertahan di tengah keadaan seperti ini."

Yifan mengecup kening Tao lama. "Aku akan selalu menjagamu. Kau dengar? Jangan takut akan apapun. Akan tidak adil kalau semua menyukaimu, karena aku akan sangat cemburu. Tidak apa-apa memiliki beberapa makhluk berotak ganggang yang membencimu. As long as you have me, the stupid boy who adored you so much."

Tao menyeka ujung matanya yang tiba-tiba terasa panas. "Apa aku sudah pernah bilang betapa aku mencintaimu?"

"Sebanyak aku mencintaimu kan?" Yifan mengerling jahil.

"Semiliar persen lebih banyak dari itu." Bisik Tao penuh keyakinan. "Lain kali, bagaimana kalau kita jalan-jalan sekeluarga?"

"Dengan BoXuan?"

Tao menggeleng. "Kita harus membuat satu. Minimal yang selucu BoXuan."

Senyuman Yifan mengembang dari telinga kiri sampai telinga kanannya. "Oke."

.

.

.

FIN

.

WAHAHAHAHAHA APA INIIIIIII *bakar diri*

Tbh, akhir akhir ini dengan berbagai rumor dan fakta dan berita yang ada, aku kehabisan feels tentang mereka. Susah banget nulis dengan pairing mereka, sedangkan pas nulis tentang pairing lain ngalir aja gitu kek sungai.

But, yeah, I'm holding on guys. And I hope you all did too.

Last but not least, give me some comment to improve next story?

Thanks for reading~

.

.

xoxo, Kim Ara