Title: Mood Lifter
.
Author: Kim Ara
Cast: -Huang Zi Tao as Tao
-Wu Yi Fan as Yifan
.
.
The casts belongs to God, but the story all belong to me!
Jika ada kesamaan nama atau jalan cerita, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.
This is Tao and Yifan fanfiction, i'm not accepting any flame for the cast!
.
.
This fic dedicated to: ang always. Thanks for the reviews, baby! Saranghae!
.
Enjoy~
Do you ever feel like breaking down?
Do you ever feel out of place,
Like somehow you just don't belong
And no one understands you?
Sejak tadi pagi, entah kenapa Tao merasa perasaannya campur aduk. Ia jadi membenci semua orang dan ingin meninju mereka di muka hanya karena bernafas terlalu keras. Kalau saja ia perempuan, ia bisa dengan mudah menyimpulkan kalau ia terkena premenstrual syndrome, menstrual syndrome, atau mungkin post menstrual syndrome. Sayangnya, Tao adalah seorang laki-laki dengan penis dan jakun, jadi ia hanya bisa menyalahkan golongan darah AB miliknya yang menyatakan bahwa ia adalah manusia dengan pergantian mood yang ekstrim. Padahal sifat menurut golongan darah kan hanya mitos, sama seperti ramalan bintang kacangan di majalah-majalah remaja.
"NG!"
Tao nyaris memaki mendengar sutradara sialan itu lagi-lagi meneriakkan NG, atau Not Good, tanda kalau adegan itu harus diulang. Padahal ini adegan kissing, dan bibirnya sampai kram gara-gara adegan ini sudah sejuta kali diulang.
Dia, dan otak khas anak mudanya yang hanya bisa berpikir jangka pendek, bekerja sama untuk memerintah tangannya menyambar kunci mobil dari meja, jauh lebih cepat dari sang manajer yang mencoba menghalangi.
Ia segera berlari ke parkiran, terlonjak sendiri karena gas yang terlalu kuat ia injak. Mobil hitam metalik itu melaju secepat kilat ke apartemen mewah di jantung kota. Tao kemudian menaiki elevator menuju lantai 18, sambil terus bertanya-tanya tentang mood swing-nya yang ekstrim akhir-akhir ini.
Salah makan?
Ah tidak. Bukannya makanan justru mood maker yang sempurna?
Kurang tidur?
Tidak juga. Setelah memutuskan untuk bersolo karir, waktu istirahatnya sudah normal kembali kok, atau setidaknya lebih manusiawi, bukan hanya 2-3 jam perhari seperti dulu.
Otaknya masih terus berputar mencari biang kerok masalah ini, ketika ia sampai di depan pintu berukiran nomor 356 yang cantik. Ia memasukkan kartu tipis sebagai kunci, lalu masuk dengan suara cklek keras.
Seketika, ia disambut dengan cahaya terang dari lampu ruang tamu yang dinyalakan semua, membuatnya mengernyit kesilauan. Kebiasaan buruk Xiaowei, manajernya yang selalu lupa mematikan lampu.
Tao sedang menunduk, berusaha melepas sepatu sponsor dengan model aneh dan banyak tali yang membuatnya nyaris gila, ketika tiba-tiba terdengar suara tercekat. Sepasang kaki raksasa berhenti tepat di depan wajahnya yang sedang menghadap lantai, membuat Tao mendongak otomatis.
"Kok sudah pulang?"
"What the fck, Wu Yifan!" Tao buru-buru berdiri, memeluk dan bergelantungan di tubuh kekasihnya seperti anak monyet. "Woah…"
Yifan terkekeh, memeluk Tao erat-erat. "I'm home."
"Okay, okay. Come here, you bastard. Ceritakan tentang Vietnam yang katamu super indah itu." Tao melepaskan pelukannya, berusaha menyeret Yifan ke sofa, dan mendudukannya paksa. "Mau kopi?"
Yifan mengangguk. Ia duduk manis menyaksikan Tao yang sedang membuat segelas Americano untuk disuguhkan dan Macchiato untuk dirinya sendiri. Tao berjalan sambil melompat-lompat kecil, meletakkan dua gelas yang masih mengepulkan uap itu di meja. "Kopi pahit dari Tao yang manisss!"
Yifan terkekeh, menunjukkan gestur muntah sebelum menyesap sedikit kopinya. Ia merangkul Tao mendekat sebelum memulai ceritanya, "Vietnam ya? Yup, super indah. Undescribeable."
"Look at your vocab." Olok Tao geli. "Katamu banyak bangunan bersejarah dan candi-candi begitu kan? How boring."
Yifan menyentil kening Tao yang pura-pura menguap bosan. "Hei!"
Tao terbahak. "Habisnya kau lebih memilih berlibur ke tempat seperti itu sih. Aku kan jadi kesal. Coba kalau ke Los Angeles atau Miami atau kota-kota asyik yang lain, aku pasti mau ikut."
"Bullshit. Syutingmu mau kau kemanakan, hm?" Yifan menatapnya datar.
Tao mengusakkan kepalanya dengan usil ke dada Yifan, "Apa sih yang tidak untuk Yifankuu.."
Yifan mendengus geli, "Yasudah, lain kali aku akan mengajakmu ke Vietnam."
"Tidak mau!" Tao buru-buru menarik kepalanya, kalah cepat dengan tangan Yifan yang reflek memukul tengkoraknya gemas.
"Maumu apa sih? Dasar betina labil."
"Betina katamu?!" Tao melempari Yifan tanpa ampun dengan bantal-bantal sofa. "Kau ingin aku jadi apa kalau ikut ke Vietnam, hm? Ahli sejarah? Atau Arkeolog agar aku bisa menggali candi-candi untuk mas kawin kita?"
Yifan terbahak, menyeka air mata di sudut-sudut matanya karena tertawa. "Bodoh."
Tao mengerucutkan bibirnya sebal, ia baru saja akan mengajukan protes ketika suara familiar butiran air yang berbenturan dengan kaca menyapa pendengarannya. Matanya membulat lucu, Tao bangkit, berlari ke jendela besar di samping tempat tidurnya dengan heboh."Woah, hujan!"
Yifan tersenyum maklum dengan kelakuan Tao yang kekanakan. Ia memutuskan untuk memanaskan minuman mereka yang sudah mulai dingin sebelum bergabung dengan kekasihnya yang sekarang sudah berselimut.
"Sini sini." Tao menyibak selimutnya, menepuk tempat kosong di sampingnya.
Yifan menurut. Ia berbaring terlentang dengan kepala Tao di badannya. "Bahagia sekali, sih?"
"Semua badmood-ku hilang." Tao nyengir lebar.
"Oh ya?" Yifan menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Yup. Aku kabur dari syuting, bisa minum kopi tanpa diomeli Xiaowei gege, diluar hujan, dan –" Tao sengaja menahan kata-katanya. Ia bergelung mendekat, mendekap Yifan hangat, mengeluskan pipinya yang halus ke leher Yifan. " –bisa cuddling dengan pacar LDRku yang paling tampan sedunia. Memangnya ada yang lebih sempurna dari ini?"
Yifan tertawa, mengecup puncak kepala Tao dengan sayang. "Ternyata selama ini kau tidak pms, sayangku."
"Lalu?"
"Sindrom rindu, mungkin?" Yifan tertawa lagi.
Tao tergelak. "Akhirnya aku tahu juga."
"Nah, kemarilah." Yifan menunduk, mengangkat wajah Tao tinggi-tinggi hingga ujung-ujung hidung mereka yang dingin bersentuhan.
"Apa?" Tao mengecup bibir Yifan lembut. "Kenapa?" Sekali lagi, bibirnya bersentuhan dengan milik Yifan, membuatnya tersenyum dari telinga ke telinga. "Hm?"
Yifan menatapnya dengan iris cokelat madu yang berpendar lembut, sarat akan pemujaan.
Tao menutup matanya otomatis, seolah bisa menebak yang terjadi selanjutnya.
"I love you." Yifan mengakhiri confession singkatnya dengan ciuman lembut yang memabukkan. Membuat mereka buta dan tuli akan keadaan sekitar, sepenuhnya mengabaikan dua orang pria setengah baya yang entah sejak kapan mengintip dari celah pintu kamar.
"Ya kan? Sudah kubilang, harusnya kau memasangkan mereka berdua saja di filmmu yang terbaru, jadi ia tidak harus terus menerus mengulang adegan ciuman sialan itu."
"Iya juga ya. Mereka pasti bisa mendapat adegan mengagumkan walau hanya sekali take."
"Sesekali kau harus mendengarkanku juga, sutradara bodoh."
"Seorang manager rendahan tidak pantas memanggilku seperti itu, tapi yah, mungkin mereka akan kucoba di proyek film selanjutnya?"
FIN
Cieee, akhirnya dapet feel juga nyelesaiin tulisan dari jaman jebot ini gara gara nonton Charming Daddy kemarin. Si BeiBei anaknya tao disitu lucuk banget ya, jadi pengen nikahin Tao-nya :') Oh iya, karena yipeng sekarang botak, disini aku jadiin dia macem sejarahwan gitu. Biasanya yang suka mikir masa lalu kan botak /ngawur
Sebenernya masih malu ngelanjutin Living gara-gara typo fatal di chap kemarin /sembunyi di ketek Tao /g
Tapi ya sudahlah, orang biasanya juga gapunya malu/?
Btw yang di ending itu doa ku ya, kalian juga ikut doain kek semoga mereka main film bareng. Threesome gitu, cowoknya aku sama yipeng, tao yang diperkaos/? ga deng, doain aja pokoknya mereka main film. kan sekarang udah sama sama aktor china cieeeeeeee
Btw lagi, karena baca ini gratis, boleh lho dikasih kritik dan saran sebagai bayaran, masa harus typo parah dulu kek kemarin baru kalian mau kritik? :') Yaudah gitu aja, semoga feelnya nyampe ke kalian. sarangeeeeek
.
.
XOXO, Kim Ara
