Tittle : Namja x Cingu

Cast: Oh Sehun, Xi Luhan, Kai, Do Kyungsoo (Hunhan & Kaisoo)

Rate : T (Bisa berubah tergantung mood Author)

Genre: Romantis, Terluka Confort.

Warn : Boyslove-yaoi, many typos, alur berantakan.

Jangan Suka, tidak Baca!

Menikmati !


Chaper: 2

Hidup memang tidak selalu berjalan mulus seperti yang diharapkan. Selalu ada rintangan ketika kebahagiaan itu ada di depan mata. Pagi ini contohnya ketika dengan semangat perjuangan membara yang ada pada diri Luhan tiba-tiba menguap hilang begitu saja setelah melihat pendangan yang sangat menyakitkan baginya. Sehun dengan Tiffany sedang jalan berdua dengan mesra dan bergandengan tangan di hadapannya. Tidak bisa Luhan pungkiri jika Tiffany sangat cantik dan sangat pantas bila disandingkan dengan sosok tinggi Sehun. Jauh berbeda dengannya, yang pendek dan tidak menarik. Lalu ia melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan tertunduk. Luhan hampir menabrak dinding kelas jika saja seseorang tidak membalikkan badannya, memegang pundaknya dan membuat ia harus mendongak menatap seseorang itu. Orang itu Sehun, yang lagi lagi mencegahnya dari kecerobohan konyol yang mungkin akan ia lakukan.

"Sehuniee" lirih Luhan.

"Ada apa denganmu Luhan? Kau ingin mendapat cedera pagi dengan menabrakkan diri ketembok huh?" tanya Sehun sedikit marah, baru beberapa jam Luhan tidak berada dalam pengawasannya, dan lihatnya anak itu hampir mendapat cedera karena kecerobohannya.

"Ani, aku hanya sedang menghitung jumlah keramik disetiap jalan yang aku lalui hehee.." Kata Luhan masih tetap menyangkal perasaannya di depan Sehun. Berpura-pura mengembangkan senyum tegarnya.

"Sudahlah Ayo masuk kelas" Sehun hanya bisa terkekeh melihat gelagat Luhan dan kemudian menggenggam jemari namja yang lebih pendek darinya untuk masuk ke kelas.


Sehun selalu seperti itu. Selalu menjaga Luhan, selalu melindungi Luhan. Apapun yang terjadi dengan Luhan dia pikir adalah tanggung jawabnya. Seperti sekarang ini, saat jam makan siang Sehun akan bersama Kai mengambilkan dan memilihkan makan siang yang enak untuk Luhan. Sementara Luhan akan duduk manis dibangku kantin sambil mengetukkan jarinya sambil menyanyikan beberapa lagu dengan pelan.

"Jjah makanlah Luhan aku mengambil banyak sayuran, kau suka sayuran kan?" tanya sehun sambil menggumpalkan beberapa helai daun selada dan menyuapkannya kemulut Luhan. "Aaaa"

Langsung saja Luhan membuka mulutnya memberi akses Sehun agar menyuapinya. "Mmm enak" katanya dengan mulut yang penuh makanan.

"Kau tidak pernah menyuapiku Sehun" kali ini Kai yang bersuara.

"Aku jijik melakukaanya padamu" Sahut Sehun kemudian. Sontak hal itu membuat ketiganya kembali tertawa.

Tawa mereka berhenti seketika mendengar suara seseorang yang tidak diharapkan kedatangannya. "Eum Chagiya, apa bisa aku bergabung?" itu Tiffany yang baru saja menghampiri meja mereka.

"Oh tentu , duduklah chagi" sambut Sehun sangat hangat pada kekasihnya. Tapi terdengar sangat menyakitkan bagi Luhan.

"Tapi aku ingin duduk disebelahmu chagi, suruh temanmu itu pindah ketempat lain" katanya dengan angkuh mengusir Luhan yang memang selalu duduk disamping Sehun.

"Disebelah Kai ada bangku kosong, duduk disana sajalah" Ujar Sehun masih tetap menyantap makanannya.

"Andwee ! aku yang harusnya duduk disampingmu, bukan namja ini!" bentaknya pada Sehun.

Luhan merasa Sehun hanya tidak mungkin mengusirnya, maka dengan kesadaran diri ia berkata "Baiklah, biar aku pindah Sehun. Tak apa" ucap Luhan kemudian. Begitu kesal rasanya mengapa harus ada orang lain yang menempati posisi duduk disebelah Sehun dan itu bukan dirinya. Sehun bahkan tidak berusaha menghentikannya.

Namun rasa kesalnya tergantikan dengan kehadiran seseorang yang sedang berjalan melewati kantin dengan seorang guru disebelahnya. Sontak Luhan berdiri dan berlari menghampiri orang tersebut.

"Yak Luhan kau mau kemana? Habiskan makan siangmu dulu" Namun teriakan Sehun teredam oleh suara siswa yang lainnya hingga Luhan hampir tidak mendengarkannya.

"Biarkan saja chagiya, agar dia tidak mengganggu kita" kata Tiffany. Kai yang mendengarnya begitu muak tapi tetap melanjutkan makan siang gratisnya.

Sementara Luhan terus berlari mengejar sosok yang ia lihat di kantin tadi, sosok namja mungil yang tidak mungkin dia salah kenali sebagai orang lain. "Do Kyungsoo, yak Do Kyungsoo" Namja yang dipanggil membalikkan badannya dan dalam sekejab tubuhnya langsung terhuyung kebelakang tidak siap menerima terjangan pelukan dari Luhan.

"Sedang apa kau disini hah? Kau bilang akan menghubungiku kemarin dan aku menunggu namun tetap tidak ada panggilan apapun darimu " Luhan langsung menyerangnya dengan pertanyaan.

"Maaf luhan aku lupa nomor ponselmu, aku tidak sengaja menghilangkan ponselku dan aku lupa memberitahukanmu." Sesal Kyungsoo.

"Ya ya" jawab Luhan malas "Sedang apa kau disini?"

"Eomma tiriku sedang mengurus kepindahanku ke sekolah ini, dan mulai sekarang aku akan hidup sendiri. Eomma tiriku tidak ingin aku tinggal satu rumah dengan mereka, jadi sementara aku akan tinggal di rumah lama ibuku sampai kontaknya habis" ucap Kyungsoo kali ini dengan nada yang sangat sedih, menahan tangis. Dia menjalani hidup dengan berbagai kesulitan namun ayahnya lebih mementingkan istri barunya ketimbang anaknya sendiri. Cukup bagi Kyungsoo saat ibunya harus menderita sakit dan meninggalkan ia dengan uang tabungan yang bisa ia gunakan dalam beberapa waktu kedepan.

"Sudah aku bilang lebih baik kau tinggal denganku saja. Mama dan baba pasti akan mengizinkannya kyung, lagipula aku sangat kesepian di apartmen itu. Aku tidak punya teman lain untuk diajak tinggal bersama" ujar Luhan.

Sejenak Kyungsoo berfikir takut merepotkan Luhan, namun saat ia melihat Luhan keraguannya langsung hilang. "Baiklah" akhirnya Kyungsoo setuju. "Tapi aku tidak merepotkanmu bukan?"

"Tentu saja tidak" Luhan sangat senang mendengarnya. Mulai sekarang ia akan punya teman dirumah. Ia tidak akan sendirian lagi. Luhan langsung memeluk Kyungsoo erat.

"LUHAN" panggilan itu serentak membuat keduanya menoleh melihat siapa pemanggilnya. Dan ternyata itu Sehun disampingnya ada seorang yeoja yang menempel erat memeluk lengannya. "Aku mencarimu kemana-mana ternyata kau malah berdiri di depan ruangan kepala sekolah" kata Sehun dengan dingin namun cemas seperti biasa.

"Eungh itu aku berlari begitu melihat Kyungsoo tadi dan …" belum sempat Luhan melanjutkan kalimatnya si yeoja tidak tahu malu ini malah memotong pembicaraannya.

"Sudah aku katakan bahwa ia akan baik-baik saja chagi, jadi berhentilah memikirkannya dan kau bertingkahlah seperti anak normal lainnya dan jangan buat Sehun-ku panik hanya karena kebodohanmu. Cih menyebalkan sekali kau ini. Seharusnya kau punya baby sitter yang menjagamu selama 24 jam dan memakaikanmu popok, dasar bodoh " Ucapnya sambil membawa Sehun pergi bersamanya.

Luhan merasa sangat terpukul apakah Sehun mencemaskannya hanya karena dia bodoh? Sebodoh itukah dirinya? Sampai harus Sehun khawatirkan setiap menit dan detik? Sehun bahkan tidak membelanya tadi? Apa itu artinya memang benar?

"Luhan, kau tak apa?" Kyungsoo berusaha menenangkannya. "Kenapa dia berkata seperti itu? Namja disebelahnya itu temanmu yang kemarin kan?"

Luhan mengangguk. Dia temanku hanya teman jawabnya dalam hati "Dia berkata seperti itu karena aku bodoh Kyungi" Luhan merasa amat sesak. Namun ia berusaha menahannya. Luhan tersenyum atau lebih tepatnya berpura-pura tersenyum "Aku baik Kyungi, jangan dipikirkan. Ayo aku antar kekelasmu"

Kemudian Luhan mengantarkan Kyungsoo kekelasnya yang kebetulan sekali sekelas dengan Kai.

"Wow senang sekelas denganmu manis" goda Kai langsung pada Kyungsoo yang justru membuat wajahnya semerah tomat.

"Jangan menganggunya Kai, awas kau!" ancam Luhan pada Kai sambil bercanda. "Aku kekelas dulu, tunggu aku setelah pulang ya" Ucap Luhan kemudian menghilang dibalik pintu kelasnya. Kemudian ia melirik namja tan dibelakang kursinya yang tengah tersenyum teramat mempesona bagi Kyungsoo. Kyungsoo hanya bisa tersenyum malu dibuatnya.


Tepat seperti yang dijanjikan, saat pulang sekolah siapapun yang pulang terlebih dahulu akan menunggu di depan pohon mahoni paling rindang dihalaman sekolah. Luhan keluar kelas paling awal kali ini dan menunggu Sehun disana. Namun sepertinya namja yang sedang ditunggu takkan muncul dihadapannya karena sedang dalam perjalan pulang bersama kekasihnya. Luhan memandangi lagi ponselnya yang berisikan pesan singkat dari Sehun disana yang mengabarkan bahwa ia akan pulang bersama kekasihnya dan Luhan harus pulang sendirian kali ini.

-Luhan, apa kau masih menungguku? Jika iya pulanglah sekarang. karena aku akan mengantarkan Tiffany pulang terlebih dahulu. Pulanglah sekarang Luhan dan jangan menungguku lagi-

Itulah isi pesan singkat yang Sehun berikan kepada Luhan. Ingin rasanya ia menangis. Menangisi dirinya sendiri untuk tidak lebih berani melarang Sehun lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya. Atau jika itu hal yang mustahil untuk dia lakukan ia ingin menghapus rasa yang baginya sudah sangat salah ini. Mencintai Sehun membuat ia mau tidak mau menahan keinginan dalam hatinya untuk pria itu. Setetes bening lolos dari pertahanannya ketika kembali ia membaca pesan singkatnya.

"HIks.. Hiks.. menyebalkan.. Kau begitu menyebalkan !" teriaknya tanpa sadar di halaman depan sekolah dengan menghentak hentakkan kakinya dan tentu saja itu mengundang perhatian beberapa siswa yang sedang berjalan didekatnya.

Karena malu Luhan langsung menundukkan mukanya yang sudah memerah dan berusaha sekuat mungkin menahan tangisnya. Hingga dua orang yang tengah memperhatikannya mulai berjalan menghampirinya.

"Yak Luhan ada apa hmm?" tanya Kyungsoo yang langsung memeluknya kemudian perlahan mengusap punggungnya. Tepat dibekalangnya ada Kai yang memandangi mereka berdua.

Luhan hanya menggeleng

"Apa Sehun meninggalkanmu lagi Lu?" sontak pertanyaan Kai membuat yang ditanya bungkam seribu bahasa. "tidak perlu menunggunya kalau begitu aku akan mengantarmu pulang" ujar Kai lalu menarik tubuh Luhan sontak membuat keduanya kaget bersamaan. Luhan lalu melepaskan tangan Kai di tubuhnya dan berbalik menghadap Kyungsoo.

"Kyungsoo, ayo pulang" Luhan menarik Kyungsoo dan berjalan mendekati Kai yang menunggunya.


Luhan sedang didapur saat seseorang menghampirinya. Diam diam membuka lemari es dan mengambil air dingin disana.

"Kyungsoo-ya mengapa kau terlihat canggung seperti itu. Kau bukanlah orang lain bagiku, mungkin iya aku baru mengenalmu tapi apakah tidak cukup saat eommamu mengatakan kau masih memiliki keluarga disini dan itu aku. Bagaimana mungkin kau memperlakukan aku seperti aku adalah orang lain soo." Luhan marah. Mengapa dia diperlakukan seperti orang lain. Kyungsoo adalah satu satunya sepupu yang ia miliki disini. Jelas Luhan sudah sangat tahu apa yang terjadi dengan namja bermata bulat ini. Bagaimana ayahnya mengkhianati ibunya dan menikahi seorang wanita yang bahkan tidak menginginkan Kyungsoo hadir di tengah tengah mereka. Kyungsoo begitu rapuh sepeninggalan ibunya. Ia bahkan slalu mengurung diri semenjak itu dan hilang dari pandangan luhan berbulan bulan. Luhan mencarinya dan pegawai lain dicafe memberitahukan bahwa kyungsoo mungkin tidak akan kembali lagi. Namun beberapa hari lalu ia bertemu kembali dengan sepupunya ini.

"Maafkan aku Lu, aku hanya belum terbiasa dengan semuanya" Kyungsoo hanya belum terbiasa mendapat begitu banyak perhatian dari Luhan. Luhan begitu bersemangat saat ia tahu memiliki sepupu dan orang tuanya langsung memberi izin agar Kyungsoo tinggal bersamanya.

"Sekarang biasakanlah Kyungsoo" Luhan mendekati Kyungsoo dan memeluknya. Berharap Kyungsoo bisa lebih tegar karena keberadaannya. Ia ingin berbagi dengan Kyungsoo. "Aku akan berbelanja sebentar Kyungi, kau tunggulah."

"Ne"


Luhan berjalan memasuki lift saat ia didalam ia dihadapkan dengan seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini. Sehun. Ia ingin berbalik dan mengindari tatapan namja yang membuatnya menangis hari ini. Sesaat ia akan berbalik lengan Sehun mencekram erat kedua pundak mungilnya.

"Luhan, syukurlah. Aku menelponmu tapi nomormu tidak aktif dan aku tidak mengantarkanmu pulang tadi. Aku merasa sangat cemas karena tidak tahu apakah kau sudah pulang atau belum sampai saat ini." Jelas sekali Sehun mengkhawatirkannya dilihat dari raut wajahnya yang sangat lega ketika bertemu dengan Luhan di lift. Dia bahkan tidak bisa mengatur deru nafasnya sendiri.

"Aku baik-baik saja Sehun, berhenti mengkhawatirkan aku." ucap Luhan dengan nada sedih yang tentunya dapat ditangkap oleh telinga tajam Sehun.

"Tidak, kau tidak baik. Ada apa Luhan? Seseorang menyakitimu?"

Ya, kau menyakitiku. Jangan pergi bersama orang lain lagi, itu menyakitiku. Jangan berpacaran dengannya, itu menyakitiku. Ingin sekali kata-kaya itu keluar dari mulutnya. Tapi dia tidak pernah seberani itu mengucapkannya.

"Anio Sehun, aku bilang berhenti mengkhawatirkan aku." kali ini dengan nada yang ia buat sedikit lebih keras dan memaksa Sehun melepaskan cengkramannya. "Berhenti mengawasiku kehadiranny, aku bukan anak kecil yang harus terus menerus dijaga selama 24 jam. Aku langsung pulang begitu membaca pesan darimu" kali ini Luhan benar benar merasa ingin menangis. Kepalanya begitu sakit saat mengingat ucapan tiffany tadi siang bahwa Sehun hanya memperhatikannya karena ia begitu bodoh. Lalu mengingat pesan Sehun yang seakan akan terbebani oleh kehadirannya.

"Tidak, bagiku kau bukan anak kecil dan aku tidak pernah mengirim pesan. Aku menyayangimu Luhan, aku sangat menyayangimu" Luhan langsung mendongakkan kepalanya menatap Sehun mencari kebenaran dari tatapan mata tajam itu. Tak kuasa Luhan menahan airmatanya begitu ia melihat manik hazel milik namja yang dicintainya, bagaimana kebenaran bahwa Sehun begitu khawatir dengan keadaannya.

Sehun kembali mencengkeram pundaknya "Kau mau kemana, aku temani ya?"

"Aku akan ke supermarket dibawah, hanya membeli beberapa makanan untuk makam malam bersama Kyungsoo. Tunggulah didalam aku akan segera kembali." Luhan berkata dengan nada selembut mungkin.

"Kyungsoo?" Sehun membeo.

"Mmm Kyungsoo, dia tinggal denganku sekarang. jadi pulanglah dan jangan khawatirkan aku lagi Sehun. Kau sudah punya kekasih dan aku tidak ingin dia salah paham dengan kehadiranku" Luhan membentaknya kali ini.

"Kekasih? Tiffany?" Rentetan pertanyaan balik dari Sehun sontak membuat Luhan mendidih. Sehun seolah tidak tahu apa yang sedang terjadi.

"Cukuplah Sehun, jangan egois dan berhenti berpura-pura tidak tahu perasaanku." Kali ini Luhan merasa benar-benar seperti orang bodoh. Dipermainkan oleh Sehun dan dirinya sendiri. Memainkan peran sebagai orang yang menyukai Sehun dan berfikir mungkin Sehun tidak tahu tentang hal itu. Namun itu salah, Sehun tidak mungkin tidak tahu apa yang ia rasakan. Akan lebih mudah bagi Luhan jika Sehun tidak peduli padanya seperti ini, akan lebih mudah bagi Luhan jika Sehun membiarkan ia menangis. Bukannya melindunginya seperti ini, bersikap baik dan mengkhawatirkannya setiap hari. Semua perlakuan Sehun justru membuatnya salah faham tentang perasaannya. Luhan menangis, ia tidak tahu mengapa ia membentak Sehun, mengapa ia berbalik menyalahkan Sehun. Ia hanya butuh waktu, waktu untuk melupakan Sehun.

Luhan berjalan sangat cepat sampai ia tidak lagi menghiraukan Sehun yang berusaha menyusulnya dan Luhan melihat Sehun yang berada di belakangnya yang mengatakan sesuatu tapi ia kembali berbalik mengabaikannya dan begitu ia berlari…

Brakk

.

.

.

To Be Continued


kalo yang ini gimana ? suka gimana gitu ngeliat Sehun ama Luhan , kadang greget kadang baper -_- kemudian terjadilah ff nista ini.

maaf kalo banyak typo bertebaran, hehehee ngetiknya kalang kabut, but I still do better every chap.

jangan lupa review readers..

and lets see the next chapter.. ^^