Tittle : Namja x Cingu
Cast : Oh Sehun , Xi Luhan, Kai, Do Kyungsoo (Hunhan & Kaisoo)
Rate : T (Bisa berubah tergantung mood Author)
Genre : Romance, Hurt Confort.
Warn : Boyslove-yaoi, many typos, alur berantakan
Don't Like , Don't Read !
Enjoy !
Chapter : 3
Luhan merasa matanya seberat besi. Ia begitu ingin membuka matanya namun seperti usahanya sia-sia, akhirnya ia menyerah. Kepalanya serasa ditusuk ribuan jarum. Dicabut dan ditusuk kembali, begitu terus hingga ia kembali tertidur akibat menahan sakit. Ia merasa ada seseorang berada di sebelah tempat tidurnya, Luhan tau itu Kyungsoo yang ia prediksi sedang memeriksa keadaan tubuhnya bersama seorang yang tidak ia kenali.
"Bagaimana kondisinya dok? Apa dia baik-baik saja?" Sehun menghampiri Kyungoo dan dokter begitu mereka keluar dari kamar Luhan.
"Dia baik, dia tertidur kembali setelah mengigau tidak jelas, Sehun." Kyungsoo berkata sambil melewatinya ke arah dapur.
"Sementara biarkan ia istirahat, ia tidak mengalami cedera parah namun setelah sadar akan lebih baik melakukan pengecekan ulang seluruh tubuh hanya untuk mengurangi resiko berkelanjutan" Sang dokter menyampaikan sambil tersenyum menenangkan. "Kalau begitu saya permisi dulu" Ia membungkuk pada Sehun kemudian keluar dari apartmen Luhan.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi di bawah tadi, aku sungguh tidak bermaksud membuatnya celaka. Maaf aku tidak hati-hati melajukan mobilku." Namja itu mengatakan permohonan maafnya dengan tulus dan benar benar menyesal atas kejadian tadi.
"MAAF ? kau bilang maaf saat ini takkan berarti jika dia tidak juga sadarkan diri, jika ada sedikitpun luka ditubuhnya akan kuberi pelajaran kau, kau mengerti?" Sehun merasakan kepalanya mendidih, bagaimana jika Luhan tidak juga bangun? tidak sadarkan diri. Betapa paniknya ia saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Luhan tertabrak oleh mobil lalu pingsan ditempat. Tanpa pikir panjang Sehun langsung mendekap tubuh mungil Luhan dan membopongnya keapartmen Luhan diatas. Sehun tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Luhan, dia tidak akan segan-segan menghabisi orang dihadapannya ini karena kecerobohannyalah yang mengakibatkan Luhan harus menanggung hal hal yang mengerikan. Terlepas dari itu juga dirinya sendirilah yang pantas disalahkan, akibat dirinyalah Luhan marah, Luhan menangis, dan Luhan berlari menjauhinya. Dirinyalah akan pantas disalahkan jika terjadi sesuatu pada Luhan.
"Tenanglah Sehun" Ucap Kyungsoo menenangkan Sehun yang sedang mendidih. Diusapnya dengan lembut punggung lebar Sehun "Tarik nafasmu, Luhan baik-baik saja" Sejenak Sehun memejamkan matanya dan mencoba menetralisir emosinya.
"Ini minumlah, kau juga harus menenangkan dirimu tuan.."
"Kris, Kris Wu. Maaf aku memperkenalkan diri dalam situasi seperti ini"
"Dia baik-baik saja, aku mengecek tubuhnya dan tidak ada memar sama sekali. Kemungkinan dia hanya pingsan karena shock saja." Kata Kyungsoo menenangkan. "sekarang kalian pulanglah, aku akan menjaganya"
Dengan berat hati kedua namja tinggi itu meninggalkan apartemen Luhan dan menyerahkan segala urusan perawatan Luhan kepada Kyungsoo.
"Aku serahkan Luhan padamu Kyungsoo, kau tahu kan aku begitu mengkhawatirkannya?" Ucap Sehun begitu ia tiba di ujung pintu. Kyungsoo tersenyum tanda ia mengerti bagaimana Sehun begitu menjaga Luhan, walaupun wajahnya sangat jauh dari kata ramah namun Sehun memiliki hati yang begitu hangat.
"Kamarku hanya satu tingkat diatas no. 12, segera panggil aku jika terjadi sesuatu oke?" Kyungsoo juga tersenyum padanya. Namja yang menabrak Luhan sangat bertanggung jawab menurutnya.
Kyungsoo kembali memasuki kamar Luhan dan melihat Luhan berusaha membuka matanya. Kemudian ia membantu Luhan untuk duduk bersandar di headbed. Luhan tersenyum begitu melihatnya, tapi Kyungsoo langsung mengatakan hal yang justru membuat Luhan menangis setelahnya "Jangan tersenyum, kau tidak baik-baik saja Luhan. Berhenti menipu dirimu sendiri."
"Hiks.. Kyungii.. akuu.. aku..Hikss Kyungii"
"Luhan tidak akan masuk hari ini" sontak pernyataan Kyungsoo membuat sosok dihadapannya mematung. Namja berkulit tan itu langsung berdiri dan menatap wajah Kyungsoo serius yang juga menatapnya dengan tatapan yang sama seriusnya. Itu menandakan bahwa ia tidak mungkin main-main dengan ucapannya barusan. "Tolong sampaikan itu pada Sehun, aku tidak tahu dimana kelasnya. Aku mencarinya sejak tadi dan tetap tidak menemukannya, aku terlalu malu untuk bertanya pada yang lain." diakhiri dengan suara amat pelan dan kepala yang tertunduk, sama seperti kebiasaan Luhan jika ia sedang malu. Begitu menggemaskan mereka.
"Ada apa ? Apa karena Sehun meninggalkannya kemarin?" Kai merasa apa yang dilakukan Sehun mulai keterlaluan. Kai sudah sangat tau bagaimana Luhan menyukai Sehun bahkan saat pertama kali Kai memandangi Luhan yang sedang memperhatikan Sehun bermain PSP-nya ditaman sekolah. Saat itu Kai baru mengenal Luhan beberapa hari, Kai tau benar karena dia pun merasakan hal yang sama dengan Luhan. Dia takkan pernah menyerah menyukai Luhan yang bahkan tidak pernah melihatnya. Sama seperti Luhan yang tidak pernah menyerah menyukai Sehun yang tidak pernah melihatnya dan selalu berkencan dengan siapapun yang ia sukai.
"Luhan mengalami kecelakaan kemarin, aku tidak tahu persisnya seperti apa karena Luhan maupun Sehun tidak membicarakan tentang masalah ini, Luhan mengalami cedera ringan dikepalanya. Dia bahkan merasa sangat tertekan"
Lalu Kai langsung menarik tangan Kyungsoo dan berlari menuju kelas Sehun yang berada di lorong kiri kelas pertama di dekat tangga gedung. Kai dan Kyungsoo langsung menghampiri Sehun yang terlihat tidak bersemangat namun tetap berusaha mendengarkan celotehan yeoja disebelahnya, Tiffany. Kai mendecih sebal padanya.
"Yak Oh Sehun kau masih bisa bermesra mesraan disini? Kau tidak khawatir dengan keadaan Luhan?" Tanya Kai dengan sarkaktis.
"Tentu aku khawatir tapi apa yang bisa aku lakukan? Dia sendiri yang bilang aku tidak perlu merasa khawatir padanya, dia bilang dia bukan lagi anak kecil yang harus terus menerus diawasi olehku selama 24 jam" Sahut Sehun lirih. Ia merasa dirinya masih terjebak di hari yang lalu. Dimana ia bertengkar dengan Luhan hanya karena namja itu menolak untuk dikhawatirkan olehnya.
"Itu tidak lantas membuatmu tidak peduli Sehun, dia membutuhkan kita orang terdekatnya untuk menyemangatinya, terutama kau" sambung Kyungsoo. "Datanglah siang ini dan kita akan disana menemaninya" ujarnya pelan pada Sehun.
"Tentu saja.."
"TIDAK BISA. Kau sudah berjanji padaku bukan akan menemaniku membeli tas merk keluaran terbaru? Jangan bilang kau akan pergi bersama mereka dan meninggalkanku sendiri?" Tentu saja sedari tadi Tiffany sudah mengetahui kalau ujung-ujungnya Sehun-nyalah yang akan dibujuk untuk menjenguk Luhan. "Meski Sehun tidak memberi tahu aku apapun yang terjadi tapi aku dapat simpulkan bahwa Sehun-ku tidak bersalah tentang kecelakaan itu. Apa aku salah? Siapapun orangnya akan sebal jika temanmu terlalu bergantung padamu, dia takkan bisa mandiri jika saat jatuhpun masih mengharapkan bantuan orang lain. dan bilang padanya berhentilah mengganggu hubungan kami." Kemudian Tiffany noona menyeret Sehun untuk mengikutinya tanpa perlawanan apapun dari Sehun, sedikit pun ia tidak melawan.
"Cih anak itu benar benar tidak peduli. Baiklah aku tidak perlu membujuknya, biar dia lakukan apapun yang dia inginkan dengan wanita jalang itu. AKU TIDAK PEDULI !" Kai tanpa sengaja menendang bangku kosong dihadapannya dan membuat Kyungsoo memekik kaget. Kai langsung menghampirinya "Ahh Kyungsoo aku tidak ingat kau ada disini, mianhae"
Kyungsoo bergetar karena kaget. "gw-gwenchanha, a-aku baik-baik saja, hah" dia berusaha mengontrol deru nafasnya. Seperti inilah Kyungsoo saat ia sedang kaget dan merasa ketakutan. Tubuhnya bisa menggigil hebat karenanya.
"Mian Kyungi, mianhae, jeongmal mianhae" Kai langsung membawa Kyungsoo kedalam pelukannya. Dan perlahan membuat Kyungsoo merasa lebih tenang. "Terimakasih,Kai" katanya masih dalam pelukan hangat Kai. Namun entah mengapa Kai merasa tubuh mungil didekapannya terasa sangat pas untuk ia peluk. Perlahan jantungnya berdebar semakin kencang dan semakin kencang lagi. Tanpa sadar membuatnya lebih mengeratkan pelukannya pada namja yang jauh lebih pendek darinya itu. Kai ingin melindunginya. Melindungi Kyungsoo.
Kai merasa sangat iba melihat Luhan terbaring seperti ini. Tatapan mata kosong dan wajah berantakannya membuat Kai tak kuasa menahan dirinya untuk memeluk namja mungil di hadapannya ini. "Luhan, kau sudah makan?" Tanya Kai akhirnya setelah sekian lama berada di kamar Luhan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Luhan menggeleng
"Kau ingin makan sesuatu? Aku bisa membelikannya untukmu. Kau ingin tteobekki atau pizza atau burger ukuran extra besar? Apapun yang kau mau aku akan segera membelikannya Luhan, katakanlah" Kai baru akan berdiri setelah sesosok mungil memasuki kamar sambil membawakan semangkuk bubur dan sup lezat serta jus jeruk ukuran gelas besar.
"Dia takkan makan junkfood saat bersamaku Kai, karena aku akan memasakkan apapun yang ia inginkan. Benarkan Luhan?" tanya Kyungsoo tersenyum sedikit menggoda Luhan. Ia menaruh nampan makanan di meja sebelah tempat tidur.
Luhan tersenyum memandang Kyungsoo, Kyungsoo memang sangat handal dalam urusan dapur "Umm dia sangat pintar memasak Kai, aku tidak perlu makan diluar lagi sekarang." jawab Luhan tersenyum dengan suara yang sangat lemah.
"Yak itu tidak adil Luhan , kau menjawabnya sementara kau hanya menggeleng untuk menjawabku. Aissh semenjak ada Kyungsoo kau sudah tidak menghiraukan aku ternyata, aku tidak percaya kau melakukakan ini padaku Luhan.. Oh tidak" Kai langsung menampilkan berekspresi cemburu yang begitu berlebihan sehingga membuat ketiganya tertawa.
Kai melihat Luhan tertawa. Begitu menyenangkan rasanya melihat Luhan tersenyum, seperti dulu. Dulu ia selalu bersandar pada Kai saat Sehun begitu sibuk dengan kekasihnya. Luhan hanya bisa menahan semua perasaannya, mengatur ekspresi wajahnya sebaik mungkin agar terlihat tulus dimata Sehun saat namja itu menggandeng kekasihnya dan berciuman mesra dihadapan Luhan. Luhan tau dia takkan pernah punya kesempatan, namun ia tetap mencoba. Mencoba sedikit saja merambat menuju hati Sehun yang jauh dari hatinya. Mencoba beberapa kali sekalipun ia tahu akan percuma, Sehun menyayanginya namun hanya sebatas seorang teman. Karena Luhan tidak punya teman lain selain Sehun, karena Luhan ceroboh dan selalu melakukakan kesalahan. Karena itulah Sehun bersamanya, karena itulah Sehun mengkhawatirkannya. Sekarang ia tahu, sekarang ia paham siapa dirinya bagi orang yang ia cintai.
"Luhan, kau melamun?" Tanya Kai membuyarkan lamunan tentang Sehun dibenaknya.
"Aku? Tidak" Masih ingin terus menyangkal Luhan selalu mengatakan tidak. Kyungsoo sudah pergi keluar kamar.
"Aku meminta Sehun untuk datang tapi…"
"Diam, jangan bicarakan dia. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka." Luhan langsung memalingkan wajahnya.
"Chagiyaa, tas ini bagaimana? Warna biru itu kau tidak suka?" tanya Tiffany pada Sehun yang sedari tadi hanya memainkan handphonenya tanpa peduli apapun disekitarnya. Sehun memang menemani namun tetap tidak peduli pada tiffany.
Dengan nada kesal Tiffany menghampiri Sehun dan merampas handphone itu dari tangannya. "Dengarkan aku, jika tidak aku akan merusak handphonemu" ancam Tiffany.
Sehun menatapnya dengan malas. "Rusak saja jika kau mau, aku bisa beli baru" jawab Sehun acuh.
"Yak Oh Sehun, tidak bisakah kau melihatku? Jika sikapmu terus seperti ini aku akan mengadukanmu pada ayahmu. Kau ingat, ayahmu bilang harus memperlakukan aku dengan baik. Kalian berhutang budi pada keluargaku" Tiffany langsung mengeluarkan handphone ingin menelpon ayah Sehun.
Barulah Sehun luluh berkata lebih lembut pada Tiffany "Baiklah, putuskan sambungannya dulu. Lalu kau ingin aku bagaimana?"
Tiffany langsung memutuskan sambungan teleponnya dan mengembalikan handphone Sehun. "Tidak banyak, kau hanya harus bersamaku seharian ini. Dan jangan pikirkan oranglain selain aku Sehun-ku yang tampan." Ujar Tiffany dengan senyum seduktif namun terlihat menjijikkan dimata Sehun.
Sehun ingin mengatakan sesuatu saat handphonenya berdering. Dia mengeritkan dahi melihat nomor tidak dikenal di layarnya, namun tanpa berlama-lama ia tetap mengangkatnya.
"yeoboseo" Katanya.
"yeoboseo, Sehun ini aku dokter Kim. Aku ingin memberitahukanmu sesuatu" ucap seseorang disana.
"Ada apa? Kenapa anda terdengar begitu serius dokter?" Tanya Sehun yang sudah penasaran. Tiffany hanya memutar mata malas menunggu Sehun menelpon seseorang yang pasti tidak dikenalnya.
"Tentang Luhan" Tambah sang dokter sangat nada serius.
Luhan, batin sehun langsung memanggil nama namja itu. Jantungnya berdetak, hatinya bergejolak, pasti sesuatu terjadi pada Luhan.
"Temannya kemarin melarang aku mengatakan ini padamu, tapi itu salah jika aku melakukannya. Kau harus tetap tahu. Sehun, Luhan mengalami kerusakan otak ringan. Benturan kemarin ternyata cukup keras hingga membuat letak otaknya bergeser. Dia tidak cedera atau memar namun ia akan kesulitan mengingat dan mungkin akan kehilangan beberapa memorinya. Sehun, kesembuhannya hanya tergantung pada terapi. Dan aku akan bersedia membantu jika ia ingin" Jelas sang dokter panjang lebar yang membuat justru Sehun semakin panik. Ia menutup matanya.
Luhan menderita begitu banyak hal karena dirinya. Mengingat karena dirinyalah Luhan berlari, Luhan menangis.
Luhan benar, Sehun egois. Ia bukannya tidak tahu perasaan namja mungil itu untuknya. Ia tahu, karena iapun merasakannya. Ia berusaha tidak menggubris perasaannya terhadap namja itu namun ia tetap egois merasa bahwa namja itu miliknya namun ia tidak pernah menjadikan namja itu miliknya. Ia berusaha melindungi Luhan namun justru dirinyalah sumber rasa sakit yang didapat Luhan.
"Luhan" Ucap Sehun lirih.
"Mwo?" Tiffany hampir mengeluarkan bola matanya mendengar Sehun menyebut namja perusak hubungannya. "Aku baru saja bilang jangan pikirkan orang lain selain aku Sehun, apa kau tidak dengarkan aku?" Tanya Tiffany bembentaknya.
Sehun hanya berusaha sabar pada Tiffany, ia tidak ingin mendapat masalah dengan ayahnya jika Tiffany mengadu pada sang ayah. Ia berjalan meninggalkan Tiffany.
"Yak Oh Sehun, apalagi yang dia lakukan sampai kau seperti ini padaku? Apa tidak cukup aku mengirimkan pesan agar dia tidak berada di sekitarmu lagi?" Sontak pertanyaan Tiffany kali ini menarik perhatiannya. Ia teringat saat ia bertengkar dengan Luhan, Luhan menyebutnya mengirim pesan.
"Apa maksudmu? Apa kau yang mengirim pesan itu pada Luhan?" Tanya Sehun dengan nada marah.
"Ya aku yang melakukannya, kenapa? Seharusnya dia tahu diri siapa namja yang ia coba dekati. Kau milikku Oh Sehun. Dan tidak akan ada yang bisa…" Belum sempat Tiffany mengucapkan kata-katanya Sehun langsung bicara.
"Kita PUTUS! Tidak ada satupun orang yang akan aku izinkan menyakiti Luhan. Sekali itupun kau" Ucap Sehun kemudian meninggalkan Tiffany dengan wajah bodoh belum bisa mencerna apa yang Sehun katakan barusan.
Sehun berlari secepat yang ia bisa ke apartmen Luhan. Ia ingin segera bertemu dengan Luhan. Persetan dengan ayahnya, ia tahu ia akan dapat hukuman karena memperlakukan Tiffany dengan kasar, namun ia tetap berlari. Berlari menuju Luhan yang akan selalu menunggunya, Luhan yang akan selalu tersenyum penuh cinta untuknya.
Kai beralih duduk di ranjang mendekatinya menggenggam tangan Luhan "Luhan aku tahu kau, aku tahu siapa kau. Aku tahu perasaanmu sama sepertiku, kau pun tahu apa yang aku rasakan terhadapmu. Kau begitu menghargaiku karena perasaan sukaku kepadamu dan aku sangat senang karena itu. Sama sepertimu akupun mengenal Sehun, dia sahabatku. Aku lebih lama mengenalnya daripada kau Luhan. Dia sangat dingin terhadap siapapun namun hanya ada satu orang yang begitu ia khawatirkan, Kau Luhan hanya Kau. Dia begitu mengkhawatirkanmu sampai ia rela harus bangun pagi menjemputmu kemudian menunggumu sepulang sekolah dan mengantarmu sampai dirumah. Dia begitu cemas saat kau tidak ada dipandangan matanya, bahkan sekalipun kau bersamaku dia masih akan tetap cemas memikirkanmu. Seperti itulah dia, seperti itulah Sehun yang ku kenal. Dia menyayangimu lebih dari apapun namun ia juga tipe orang yang keras kepala. Pemikirannya juga tidak mudah untuk dirubah, dia sangat egois terhadap perasaanmu. Dia mengambil hatimu lalu mengabaikannya begitu saja seolah itu tidak ada harganya. Kau tahu mengapa dia lakukan itu padamu?"
Luhan menggeleng, ia bahkan sudah menangis sekarang, luhan tidak ingin mengingat Sehun, terlalu menyakitkan. Sangat menyakitkan bila seseorang mengetahui perasaanmu, memberikan seluruh perhatiannya namun tidak memberikan cintanya. Lebih baik jangan beri harapan jika kau tidak bisa memberikan kepastian.
"Kau tidak tahu Luhan? Aku akan memberitahumu alasannya, tapi setelah itu berjanjilah untuk melupakannya. Lupakanlah dia dan jangan memikirkannya lagi. Jangan buat hatimu bertambah sakit."
Kai semakin mendekatkan jaraknya dengan Luhan dan tepat saat wajahnya berada di hadapan wajah Luhan ia berkata "Karena Sehun tidak pernah kehilanganmu, karena Sehun tidak pernah sedetik saja tidak mendapat perhatian darimu. Karena sejauh apapun ia mendorongmu kau akan tetap kembali padanya"
Luhan menangis kemudian menutup matanya membayangkan saat dirinya tengah memperhatikan Sehun. Kai benar, tidak pernah sedetik saja matanya lepas dari Sehun. Apapun yang Sehun lakukan ia akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, membiarkan Sehun melakukan seenaknya pada hatinya. Luhan tau sekarang bahwa ia begitu tidak berharga bagi Sehun, tidak pernah sedikitpun Sehun akan memintanya untuk tetap bersama.
"Hiks.. Sehun.. Sehunnie.. hiks .. hiks.." tangisan Luhan pun akhirnya pecah. Ia melepaskan segala kepenatan yang ada hatinya. Mencurahkan segala ketakutannya dalam tangisan maupun raungannya kali ini. Luhan merasakan sebuah tangan melingkari punggungnya dan membawanya makin dekat dengan Kai. Luhan pasrah ia ingin berbagi perasaannya dengan seorang yang dapat mengerti dirinya. Dia ingin ada orang yang menanyakan perasaannya, dia ingin bersama dengan orang yang menghargai perasaan dan cintanya. Luhan merasakan telapak tangan menyentuh pipinya. Sama seperti yang pernah Sehun lakukan padanya saat ia menangis, namun ini sebuah tangan yang lain. Itu bukan tangan yang sama, namun bukan berarti tangan yang sama akan melakukannya lagi.
"Tatap aku Luhan" perintah Kai dan itu langsung membuat Luhan membuka matanya. Menatap manik hitam dihadapannya.
"Luhan, aku mohon lupakanlah dia. Aku mencintaimu Luhan, maukah kau memberikan aku kesempatan?" Kai semakin mendekatkan dirinya kepada Luhan menyentuh dagunya dan membawanya semakin dekat dengan bibirnya. Luhan memejamkan matanya memberikan Kai keberanian lebih untuk melakukannya. Kai turut memejamkan matanya merasakan deru nafas keduanya hingga akhirnya tidak ada jarak sama sekali. Kai menciumi Luhan dengan sangat lembut yang membuat Luhan terlena sampai sebuah suara membuat Luhan tersadar dan kembali.
"Oh" Suara itu. Kecewa, hancur, tertahan. Suara itu suara orang yang Luhan tunggu tunggu. Suara Sehun.
.
.
.
To Be Contined
Absurd lagiiii... malu sendiri bacanya..
entah kenapa suka banget sama hunhan, kayak gada habisnya bayangan mereka dalam kepalaku.
berasa nyata tapi ga nyata T.T
but I'll still love their love and review pleaseeeee...
biar tambah semangat buat chapter selanjutnya,
kayaknya bakalan end nih chapter depan .. gamau bikin konflik berlanjut..
review juseyooo ^^
