Author's note is at the end of the story.
Don't like, don't read it.
.
Disclaimer: Fairy Tail © Hiro Mashima
Trapped in a Dreamland © Miyano Koyuki
Warning: OOC, Typo(s), gak jelas, etc.
.
oOo
.
Chp. 02: Labyrinth
.
.
"Lucy, kau mendengarku? Sadar Lucy, bangun! Oi." Natsu mulai gelisah melihat Lucy yang tak kunjung bangun. Ia menepuk beberapa kali pipi gadis itu hingga terlihat mulai memerah, namun dia tak bergeming.
"Lucy… kenapa kau tidak bangun? Kau tidak mati, 'kan?" suara Happy bergetar. Ia turut berusaha membuat Lucy sadar. Ia beralih ke bagian atas kepalanya. Dengan jari-jari empuknya itu, ia membuka kelopak mata Lucy hingga menampakkan kedua irisnya.
"Happy! Apa yang kamu lakukan?!" Natsu menepis kedua tangan Happy.
Happy terkesiap, lalu wajahnya terlihat sedih. Happy pun mundur, memberi jarak dari Lucy dan menunjukkan wajah menyesal. "Gomen ne, Natsu."
Melihat hal itu, Natsu sadar kalau Happy juga khawatir terhadap Lucy. Tak seharusnya ia bertingkah begitu, apalagi terhadap teman baiknya sendiri. "Maaf, Happy. Aku tahu kita berdua bingung, tapi ada baiknya kalau kita tenang dulu. Lucy m-masih hidup, setidaknya kita tahu itu. Sebaiknya kita membersihkan Lucy dulu, lalu kita beritahu yang lain."
.
.
Natsu mengusap lembut wajah Lucy dengan handuk basah untuk membersihkannya dari coretan yang ia buat sendiri. Untungnya ia menggunakan spidol yang bukan tinta permanen. Happy turut membantunya. Tak lama setelah itu, mereka dikejutkan oleh suara ketukan–lebih tepatnya gedoran–pada pintu depan.
Dak. Dak. Dak
"Lucy!"
Dak. Dak. Dak
"Natsu! Kau di dalam, kan? Cepat buka pintunya!"
Itu suara Erza. Natsu dengan tergesa-gesa mencari kunci pintu Lucy. Segera setelah ia menemukannya tergantung di dinding, ia memasukkannya ke dalam lubang kunci. Saat terdengar bunyi kunci terbuka, pintu langsung dibuka dengan kasar oleh sekumpulan orang dari luar.
Brakk–Dug
"Lucy!" Beberapa orang datang dengan membuka pintu dengan kasar tanpa memperhatikan kalau yang membuka kuncinya masih berada di belakang pintu. Alhasil, wajah Natsu terhantam daun pintu hingga terjengkang jauh ke belakang.
"Ittai.."
"Lu-chan… bagaimana?"
Natsu menggelengkan kepala. "Sepertinya… Lucy belum bangun juga."
"M-maksudmu?" tanya Cana.
Dengan nada agak tinggi, Natsu menjawab dengan pernyataan yang kedengarannya sedikit ambigu. "Segalanya masih sama seperti saat aku meninggalkan kamar ini pagi tadi."
.
.
Levy dan Wendy melanjutkan untuk membersihkan Lucy serta memeriksa keadaannya sekarang. Menurut mereka, wajah hingga bagian leher Lucy masih terasa hangat namun tubuh bagian bawah serta ujung-ujung jarinya terasa dingin. Sedangkan yang lain, mereka kini tengah 'menginterogasi' Natsu, juga Happy.
"Natsu, jelaskan apa maksud perkataanmu tadi bahwa segalanya masih sama seperti 'saat aku meninggalkan kamar ini tadi pagi'!" Erza menekankan kata-katanya di bagian akhir. "sedang apa kau di kamar Lucy pagi-pagi? Saat Lucy masih tidur," lanjutnya.
"Kau berbuat macam-macam, ya, Natsu?" timpal Gray.
"Ti-Tidak…!" ada jeda sekitar 3 detik sebelum Natsu meneruskan perkataannya, "..juga."
Jawaban itu spontan membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh pada si tersangka.
"Apa maksudnya 'tidak juga'? Happy, bisa kau jelaskan apa maksudnya Natsu?"
"Etoo.. Anoo.. Ini bukan salahku.. Natsu yang punya ide, aku hanya disuruh ikut olehnya. Gomenasaii.." ujar Happy dengan nada memelas sambil memeluk kaki Erza.
"Happy! Kau tidak setia kawan..." ujar Natsu sambil merengut.
"Natsu-san… ternyata kau…"
"Nah, Natsu. Jadi…"
"AAAH, baiklah. Baiklah. Aku memang di sini pagi tadi. Aku tidak berbuat macam-macam pada Lucy. Aku hanya melakukan satu macam."
Haah, Natsu… Kata-katamu sungguh menimbulkan kontroversi. Cana yang mendengar hal itu langsung mencengkram syal kotak-kotak di leher Natsu dan memberikan deathglare yang mengerikan. Natsu yang makin merasa bersalah hanya bisa pasrah dan air mata mengalir di pipinya membentuk seperti aliran sungai yang berkelok-kelok.
.
.
.
.
Di suatu tempat yang amat luas, di mana sepanjang mata memandang hanya ada satu warna. Putih. Langitnya pun terlihat putih meski terdapat seberkas cahaya emas yang berusaha menembus lapisan putih yang ada di bawahnya. Mungkin itu adalah cahaya matahari yang ingin membagikan kehangatannya.
Poing. Poing. Poing
Sesosok makhluk kecil melintas di tempat itu. Tubuhnya diliputi rambut yang tak kalah putihnya dengan tempat itu. Yang membuatnya berbeda adalah maniknya yang berwarna merah bak ruby serta pakaian yang dikenakannya–jas hitam dengan ekor dan kemeja merah berdasi kupu-kupu. Makhluk itu berjalan–lebih tepatnya melompat–semakin dekat ke arah seorang anak manusia yang tengah terbaring dengan damai di atas tumpukan awan yang lembut seperti kapas. Gadis bersurai emas itu, tak menyadari segala hal di sekitarnya. Matanya terpejam, menikmati tidurnya di alas yang sangat nyaman itu.
Sosok bertelinga panjang itu kini berdiri tepat di depan wajah gadis itu. Ia memandangi dan meneliti tiap inci wajah tersebut, kemudian ia mendekatkan wajahnya. Cuping hidungnya yang senantiasa bergerak, menyentuh kulit mulus wajah gadis tersebut.
"Nngh…" Gadis itu mulai menggeliat tak nyaman akibat sentuhan-sentuhan asing di wajahnya. Perlahan ia membuka matanya dan mengangkat tubuhnya untuk duduk. "Di mana ini?" Ia menggosok matanya dengan tangan dan melihat ke sekelilingnya. Lalu pandangannya terhenti pada sosok lucu yang berada beberapa puluh senti di sampingnya.
Lucy memiringkan kepalanya dan mengerutkan alisnya. "Kelinci?"
"Halo?!" sapa sosok lucu itu.
"Oh, ha-halo…?" jawab Lucy. Ada jeda beberapa detik sebelum Lucy menyadari hal janggal yang terjadi saat ini. "EEEEEEHHH?!" Lucy membelalakkan matanya dan ia mundur memberi jarak agak jauh pada makhluk di hadapannya.
"Ke-ke-ke-ke-ke-kenapa kelinci bisa bicara?! Da-da-da-dan juga berpakaian seperti itu?! I-i-i-i-i-ini aneh sekali. Ta-tapi Happy, Charle, dan Lily juga kucing yang bisa bicara, 'kan? Mereka ju-juga pakai baju, 'kan? Ta-tapi, ini aneh.. dan dia berdiri dengan kedua kaki di bawah. Tapi Happy, Charle, dan Lily juga, 'kan?" Lucy bergumam sendiri hingga kelinci yang sedari tadi memerhatikannya heran.
"Anda takut pada saya, Lady? Anda terlihat kebingungan. Oh, bicara apa saya ini, tentu saja anda kebingungan melihat hal ini."
Lucy terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
"Oh, ya ampun. Maafkan atas kelancangan saya. Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Pieter deValentino Fiamma. Maaf, terdengar absurd, huh? Fufu. Anda boleh memanggil saya sesuka Anda, Lady," lanjutnya.
"… kalau begitu…, Usagi-san?"
"Usagi-san? Terdengar kekanak-kanakan," jawab kelinci itu, terdengar seperti melecehkan.
'Ugh, dia bilang aku bisa memanggilnya apa saja.' Pelipis Lucy berkedut kesal. "Maaf saja, ya, jika terdengar kekanakan, Tuan Pieter."
"Ha! Terdengar lebih baik. Pieter saja, terima kasih." Ia menundukkan badannya dengan tangan kanannya di dada. Melihatnya, membuat Lucy sweatdrop. "Nah. Kembali ke masalah awal, Lady …"
"Lucy Heartfilia. Lucy saja, tak perlu menggunakan kata 'Lady'."
"Tentu saya tahu. Anda pikir saya tidak mengenal Anda?" jawab Pieter sambil berkacak pinggang.
"…. Kau menyebalkan, ya?"
"Baiklah, mari ikut saya."
Kelinci berdasi itu menjentikkan jarinya, lalu dengan sekejap, tanpa disadari Lucy mereka telah berpindah tempat.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ehm.. Ehem. Tolong putar badan, Lady Lucy," pinta Pieter sambil memberikan gestur tangan agar Lucy berputar arah ke belakang.
Kedua mata Lucy terbuka lebar saat melihat sebuah dinding besar yang terbuat dari rumpun tanaman yang menjalar yang tingginya 3 kali tinggi tubuh Lucy. "Kau yang memindahkan ini kemari, atau…?"
Pieter menepuk dahinya, facepalm. "Kita sudah berpindah tempat, Lucy. Saya yang membawa kita kemari."
Jika dilihat dari sudut pandang Lucy, itu hanya sebuah dinding besar. Namun, jika terlihat dari atas, itu adalah sebuah tempat berbentuk lingkaran yang memiliki ribuan dinding di dalamnya yang membentuk jalur-jalur yang saling berhubungan dan yang saling tidak berhubungan. Dan setiap jalur yang berhubungan, hanya menuju ke satu titik tujuan.
"Lady Lucy Heartfilia, selamat datang di The Labyrinth. Let's play the game."
.
.
.
.
Setelah mendengarkan penjelasan controversial dari Natsu, Levy kini tengah dalam perjalanannya menuju kembali ke guild. Tepatnya ia ingin mencari sebuah buku di perpustakaan guild terkait kasus Lucy kali ini. Tak lupa juga ia membawa Gale-Force reading glasses miliknya.
.
"Untuk apa kau mencoreti wajah Lucy, huh?" tanya Erza dengan nada sedikit membentak.
"Itu.. kami hanya ingin membalas perbuatannya terhadap kami dulu," jawab Natsu menjelaskan.
"Sungguh, kau hanya melakukan itu?"
"Benar! Aku berani bersumpah aku tidak melakukan hal lain lagi. Setelah itu, aku langsung pergi. Dan aku hanya kembali lagi ke sini setelah mendengar kabar bahwa Lucy tidak datang ke guild."
"Apa mungkin ada seseorang yang mengerjai Lucy?" Gray mengusap-usap dagunya, bertanya-tanya.
"Sepertinya tidak. Pintunya masih terkunci dan jendelanya juga. Aku mengganjal jendelanya agar tak terbuka dengan ranting pohon dan itu tak berubah setelah aku meninggalkannya."
.
"Ah, Levy. Bagaimana dengan Lucy?" Maid berambut perak itu menyambutnya saat Levy tiba, bertanya khawatir.
"Maaf, Mira. Tapi aku sedang bergegas. Aku harus mencari tahu sesuatu." Levy berlalu tanpa menjawab pertanyaan Mira dengan pasti. Levy melangkahkan kakinya lebih cepat.
"Oi, chibi." Seseorang di ruangan itu memanggilnya, namun tak dihiraukan dan Levy malah terus berlalu. Tak berapa lama langkahnya terhenti tiba-tiba karena seseorang mencegat jalannya.
"Oh, astaga!" Levy terlonjak saat orang itu muncul secara mendadak dan tengah menyilangkan tangan di hadapannya.
"Chibi, kau tak mendengar aku memanggilmu tadi? Kau terlihat tergesa-gesa."
"Gajeel! Maaf, aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Bisakah kau minggir sedikit, aku ingin lewat."
Gajeel menggeser tubuhnya, namun ia tak membiarkan Levy berlalu begitu saja meninggalkannya. Gajeel mengikuti di belakangnya. "Kau mau ke mana?"
"Perpustakaan," jawab gadis bersurai biru itu singkat.
"Untuk apa?"
"Oh, aku akan mencari spot terbaik agar aku bisa tidur dengan nyenyak di sana," ujar Levy dengan sarkastik. Mendengar jawaban seperti itu, Gajeel tak bertanya lagi. 'Perasaanku saja, atau Levy hari ini memang agak galak?' pikirnya.
Sesampainya di perpustakaan, Levy menghela napasnya dengan keras. "Kau mau membantuku, Gajeel?" Gajeel menjawabnya dengan sebuah anggukan. "Kalau begitu, cari semua buku yang berkaitan dengan tidur,... dan mimpi."
"Tidur dan mimpi?"
"Setelah ini akan aku jelaskan padamu, Gajeel, aku berjanji. Tapi, untuk saat ini kita harus cepat."
"… baiklah." Gajeel segera menuju rak-rak buku untuk menemukan segala yang dibutuhkan Levy. Ia menyisiri satu per satu susunan buku tersebut.
Levy menyisir rambutnya dengan jari dan mengikatnya pony-tail. Lalu ia mengeluarkan kacamata sihirnya dan mengenakannya. "Saatnya mencari solusi."
.
.
.
.
"Labyrinth? Game? Apa maksudmu dengan game?"
"Jika anda khawatir tentang permainan yang menyangkut kematian, maka jangan. Tak akan ada yang mati maupun terluka di sini. Ini hanya 'game', jadi kita akan bersenang-senang di sini."
'Sebenarnya, agak mencurigakan.'
"Jika anda sudah siap, akan saya jelaskan aturan permainannya."
Lucy menghela napas lalu menatap kembali dinding hijau itu. "Oke. Aku… siap."
"Baiklah. Peraturannya adalah… tidak ada peraturan."
"Maksudmu?"
"Ini adalah sebuah labirin. Pastinya anda sudah tahu seperti apa labirin itu. Hanya satu tujuan di dalam sana, yaitu menuju titik akhirnya, dan itu ada di bagian tengahnya. Anda boleh menggunakan pintu masuk yang mana saja dari sini dan boleh kembali keluar. Ada satu yang istimewa dari labirin ini. Di setiap dead end terdapat pintu yang menghubungkan satu jalur dengan jalur lain. Bisa jadi itu menjadi jalan pintas, ataupun mengarahkan anda kepada dead end lainnya. Anda boleh memilih untuk menggunakan pintu itu atau berbalik untuk mengambil jalur lain. Hanya saja…" Kelinci putih itu menggantungkan kata-katanya, seolah ia ragu untuk mengatakannya atau tidak.
"Hanya saja apa?" tanya Lucy.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan muncul di balik pintu itu."
"Apakah di dalam sana.. buruk?"
"Tak ada yang tahu, Lady Lucy. Setelah permainan ini dimulai, saya tak akan mengikuti anda. Untuk informasi anda, saya tidak ikut bermain tapi saya akan menanti anda di titik akhir kemenangan anda."
"Heee.. curang sekali."
"Saya hanya mengantarkan saja," ujar Pieter sambil menundukkan badan.
"Boleh aku membuat peta?"
"Tak ada larangan untuk itu, Lady." Pieter dengan ajaibnya mengeluarkan secarik kertas yang lumayan besar dan sebuah pena dari saku kecilnya.
"Kita akan mulai permainannya, kapan pun anda siap. Tak ada batasan waktu, anda hanya harus mencapai titik akhirnya."
"Sepertinya ini sangat menarik. Aku bersemangat!"
"Kalau begitu, saya akan meninggalkan anda sehingga anda bisa memulainya." Pieter mulai undur diri. Sebelum ia pergi menjauh, Lucy menahannya.
"Tunggu sebentar."
"Ya, Lady Lucy?"
"Apa hadiahnya? Tentu semua permainan ada hadiah untuk pemenangnya, bukan?"
Pieter terdiam sejenak, terlihat seperti berpikir, lalu ia tersenyum–walaupun tak jelas itu senyuman atau bukan–oh, ayolah, dia seekor kelinci.
"Anda akan mengetahuinya saat anda memenangkannya."
Lucy kembali menatapi dinding besar itu. "Ah, Pieter.. uh?" Saat ia berpaling untuk bertanya kembali pada kelinci putih itu, ia sudah tak berada di sana.
"Eerr, apa artinya ini sudah dimulai?"
.
.
.
.
Perpustakaan Fairy Tail.
"Oh, tidak. Aku harus memberitahu yang lain." Levy buru-buru menutup buku terakhir yang ia baca. Karena memakai kacamata sihirnya, ia dapat membaca puluhan buku dengan 18x lebih cepat dari orang normal. Dan dengan kecerdasan yang ia miliki, ia dapat menghubungkan setiap informasi yang didapatnya dari setiap buku. Wajahnya pias setelah membaca belasan buku tersebut, menunjukkan bahwa ia menemukan informasi yang tak mengenakkan.
Gajeel berdiri menghadapi Levy di depan meja sebelum gadis itu beranjak dari posisinya. Kedua tangannya bertumpu pada pinggir meja dan ia menatap lurus pada gadis bertubuh mungil itu. "Levy, kau berutang penjelasan padaku."
"Sebaiknya kau ikut denganku saja. Akan kujelaskan di perjalanan."
"Memangnya kita akan ke mana?"
Levy melepaskan kacamatanya. "Kita akan ke tempat Lucy."
.
.
.
.
Di dunia mimpi.
Lucy mulai memasuki Labyrinth dari sebuah jalur masuk tepat di depannya. Jalan di Labyrinth lumayan lebar, mungkin cukup untuk 6-7 orang dewasa berjalan berjajar. Sambil melalui jalur tersebut, Lucy menggambarkannya di kertas untuk membuat petanya. Semakin ke dalam, ternyata belokannya semakin bertambah. Di dalam jalur tersebut, banyak pula pilihan arahnya. Ke kanan, ke kiri, atau lurus ke depan, harus Lucy pikirkan baik-baik, walaupun akhirnya semua keputusan hanyalah sebuah tebak-tebakan, juga tergantung beruntung atau tidak beruntung.
Untuk percobaan pertama, Lucy menemui dead end alias jalan buntu. Benar kata Pieter. Pada dinding jalan buntu itu terdapat sebuah pintu yang tak kalah besarnya dengan dinding tersebut. Pintu itu berwarna putih keperakan dengan ukiran antik di permukaannya. Pintu tersebut hanya berdaun satu. Mengingat perkataan Pieter, Lucy tak berani untuk memasuki pintu itu. Akhirnya, Lucy memutuskan untuk mencari jalur lain.
Lagi dan lagi, Lucy hanyalah menemukan dead end lainnya. Lucy sudah beberapa kali mencari jalur lain, dan memasuki Labyrinth dari pintu masuk lainnya tapi tetap saja tak ada jalan keluar. Lucy mulai frustasi dan putus asa. Dilihatnya kembali peta yang digambarnya, namun yang terlihat oleh Lucy adalah gambar untaian benang kusut di atas kertas. Ia hampir tak mengerti lagi apa yang telah ia gambar di atas kertas itu.
"Ya ampun... Aku lupa menanyakan seberapa luas dan besar labirin ini." Meski sudah berjalan dalam waktu lama, anehnya Lucy tak merasakan letih sama sekali. Hanya saja, pikirannya lah yang mulai merasa lelah.
Lucy kembali melangkahkan kakinya. Dan lagi-lagi, ia menemui jalan buntu. Lucy mulai terpikirkan untuk menggunakan pintu yang kemungkinan adalah sebuah jalan pintas untuknya.
"Haruskah aku memasuki pintu ini? Bagaimana kalau ini jebakan? Tapi, sepertinya tak ada jalan lain kecuali harus memasuki pintu."
Lucy masih ragu-ragu. Ia mendekati pintu itu. Melalui lubang kunci pada gagang pintu, ia mencoba mengintip, mencari tahu apa yang ada di balik sana. Namun, ia tak dapat melihat apa-apa selain cahaya putih.
Tangan Lucy telah menggenggam kenop pintu itu, namun ia belum berani memutarnya. Lucy menarik dan menghembuskan napas berkali-kali, dan akhirnya ia memutuskan untuk mencoba membuka satu pintu di depannya itu. Lucy pun memutar kenop, dan membukanya.
.
.
Silau. Hal pertama dilihat Lucy adalah sinar putih menyilaukan yang menerpa tubuhnya. Tak berapa lama, cahaya itu memudar dan tergantikan oleh pemandangan hijau dan coklat, khas perkebunan. Saat ia berbalik badan, pintu itu tak ada lagi, hanya terdapat sebuah rumah besar. Lucy merasa familiar dengan rumah tersebut.
Lucy mencoba untuk memasuki rumah tersebut. Ia menggapai gagang pintu berdaun dua di hadapannya, lalu mendorongnya hingga terbuka.
"Lucy, kau dari mana saja?"
Seorang wanita berhambur ke arahnya dan langsung memeluk tubuhnya. Lucy sangat mengenali wanita berambut pirang itu.
"Lucy, jangan membuat semua orang khawatir. Oh, untunglah kau baik-baik saja."
"M-mama?"
"Lain kali, jangan menghilang begitu saja seperti itu. Oke? Oh, Lucy, mama sangat merindukanmu." Wanita itu memeluknya lebih erat. Walau tak melihatnya, Lucy tahu ia tengah menahan air mata dengan mendengar suaranya yang bergetar.
Lucy merasa bahwa sudah lama sekali ia tak mendapatkan pelukan sayang ini. Rasanya sangat rindu. Lucy pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
"Mama! Mama! Aku merindukanmu, mama..!" Tak tertahankan lagi, akhirnya air mata Lucy tertumpah dari pelupuk matanya.
"Oh, mama juga merindukanmu, sayang."
Lucy melepas pelukan itu tanpa berhenti menggenggam lengan sang bunda. Ia menengadah, menatap sang bunda yang lebih tinggi darinya. Pandangannya masih kabur karena air mata tergenang di pelupuk matanya.
"Mama, tadaima!" ucap Lucy.
"Okaeri, Lucy."
Layla menggandeng tangan mungil Lucy menuju ke kamarnya. Di dalam sana, ayahnya telah menunggu dengan perasaan yang tak kalah khawatir dari mamanya. Lucy berlari ke pelukan ayahnya.
Suatu sore di sebuah mansion keluarga Heartfilia. Tanpa disadari Lucy, ia telah kembali ke masa kecilnya.
.
.
つづく(tsudzuku)—to be continued
.
A's Note:
Akhirnya ter-update juga. Gomeen kelamaan, author kena penyakit WB tiba-tiba akibat mood yang naik turun untuk mengerjakan fic ini dan juga kesibukan yang tiada tara #lebay. Beberapa karakter sepertinya jadi OOC, ya, di sini.. gomenasaaaii *bow*. Tak sengaja saya membuat mereka OOC seperti itu, saya hanya mengikuti alur cerita saja #alasan.
Untuk adegan terakhir, saya jadi ikutan terharu karena tiba-tiba saya teringat almh. Mama saya tercinta TT_TT.
Akhir kata, review pleaassee~, supaya saya lebih bersemangat lagi meng-update-nya TT_TT. Saya senang ada silent reader, yang berarti mereka masih minat untuk baca fic saya, tapi saya lebih senang klo fic saya dikritik, dikomentari, atau apapun, yang penting tinggalkan jejak. Oke? Sankyu ne~
##notif: Saya sedikit mengganti pen name saya dengan nama awal Miyano Haibara. Hanya antisipasi siapa tahu ada yang mengira terdapat pelanggaran hak cipta ^_^ ##
