Mereka baru sampai ketika matahari hampir terbenam.
Sasuke turun dari sepeda, dan memperhatikan pria itu memarkir sepedanya, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke bangunan yang ada di depannya. Mereka turun di sebuah flat, yang sebenarnya lebih mirip seperti kompleks asrama yang pernah dilihatnya di serial ber-setting akademi yang ditontonnya bersama Naruto. Semenit kemudian, Sasuke merasa tangannya dipegang dan ia menoleh, melihat kalau pria itu telah selesai mengunci sepedanya dan bersiap-siap masuk. Ransel Sasuke disampirkannya di pundaknya.
Pria itu tak mengatakan apapun, hanya tersenyum kecil dan mengisyaratkan padanya untuk mengikutinya. Sasuke terdiam sebentar, namun akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti langkah pria itu.
Mereka menaiki tangga yang agak berdebu dan berbau lembab. Sasuke mengernyitkan hidungnya sedikit, mengira-ngira kapan terakhir kali tangga ini dipel. Ia tak pernah berurusan dengan tempat-tempat semacam ini, dan rumah keluarga Namikaze selalu terjamin rapi serta emm… higienis.
Mereka tiba di lantai dua. Sejenak Sasuke mengira kalau mereka akan segera berbelok dan berjalan di koridor yang melintasi kamar-kamar, namun ternyata pria itu tetap meneruskan langkahnya menaiki tangga berikutnya.
Sasuke melongo—hanya dalam hati, tentu saja, tak menyangka kalau kamar yang dituju mereka masih berada entah berapa lantai lagi.
Setelah mereka tiba di lantai selanjutnya, barulah pria itu berbelok dan melintasi koridor, ,lalu berhenti di depan pintu kamar paling ujung. Dikeluarkannya kunci dari saku celananya, sementara Sasuke memperhatikan pemandangan yang tampak dari balkon.
Pintu terbuka. Pria itu masuk lebih dulu, lalu keluar lagi ketika mendapati Sasuke masih berdiri di depan.
"Sasuke? Masuklah." Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, "tak usah sungkan begitu."
Sasuke membalikkan badannya, lalu menatap keset kaki yang ada di depan pintu seraya mengangkat alis. Siapa yang sungkan? Ia tenang-tenang saja, kok.
Pria itu membuka pintu lebih lebar, dan akhirnya menggenggam pergelangan tangan Sasuke perlahan. Anak itu segera berjengit, lalu melepaskan tangannya dengan kasar dan masuk ke dalam tanpa menoleh ke belakang.
Pria itu tak berkomentar apapun, dan dalam hati Sasuke sedikit kesal karenanya.
Ia mendengar suara pintu yang ditutup dan suara selot yang dikunci, lalu saklar lampu yang dinyalakan. Cahaya lampu menerangi ruangan itu, dan Sasuke segera mengedarkan pandangannya untuk mengamati sekeliling. Flat tempat pria itu tinggal tidak terlalu luas, dengan sekali lihat Sasuke dapat menentukan kalau flat itu hanya memiliki dua ruangan yang dipisahkan oleh sebuah partisi sebagai sekat, dan kamar mandi yang berada di paling belakang. Ruangan tempatnya berada saat ini mungkin berfungsi sebagai ruangan utama sekaligus tempat tidur, karena ada sebuah futon yang terletak di samping lemari. Ruangan itu berlantai ubin licin yang kelihatan sekali telah dipel dengan sungguh-sungguh, dan tak ada karpet yang melapisinya. Di sisi yang lain ada sebuah meja berlaci yang terlihat seperti meja belajar—tumpukan kecil kertas dan beberapa buku yang disusun berada di atasnya. Di balik pintu, ada gantungan baju yang berisi sebuah jaket dan handuk. Selain lemari baju, meja belajar, dan meja pendek tempat menaruh barang-barang—tak ada perabot lain di ruangan itu.
Bahkan Sasuke tak melihat adanya televisi sama sekali.
Pria itu berjalan ke belakang, mengisyaratkan Sasuke untuk mengikutinya. Mereka berhenti di depan pintu kamar mandi. Ternyata pria itu menyuruh Sasuke untuk mencuci tangan dan kaki. Sasuke lega ketika melihat kamar mandinya bersih (dan wangi!). Pada awalnya ia sudah curiga kalau kamar mandinya pasti kotor dan bau, karena waktu melihat kondisi tangga flat yang berdebu ia sudah berpikiran yang buruk-buruk saja.
Tapi ia tak merasa puas dulu. Masih banyak hal lain yang perlu dinilai, tahu; pikirnya dalam hati.
Ia duduk diam di kursi meja makan, menunggu pria itu menyiapkan makan malam. Entah apa yang dibuatnya.
Sasuke memperhatikan gerak-gerik pria itu, lalu beralih ke penampilannya secara keseluruhan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, merasa ada yang aneh. Pria itu… mungkin akan lebih pas jika ia menyebutnya sebagai 'pemuda'. Wajahnya, postur tubuhnya, di mata Sasuke ia tampak seperti seorang re… remaja. Ah ya, remaja.
Orang di depannya sama sekali tak tampak seperti bapak-bapak.
Sasuke mengernyitkan keningnya, bingung mengapa ayahnya terlihat sangat muda. Ia kelihatan seperti hampir seumuran dengan Shizune-neechan, tetangga sebelah rumah yang terkadang suka mengantarkan kue ke rumah keluarga Namikaze. Sasuke terdiam, dan mengerjapkan matanya beberapa kali—dalam hati menebak-nebak berapa umur ayahnya sebenarnya.
Ia menggaruk-garuk dagunya sedikit sembari merenung. Kenapa pria di depannya itu jadi kelihatan misterius seperti ini, sih? Sasuke sama sekali tak habis pikir.
Makan malam disajikan ke meja lima belas menit kemudian.
Sasuke menyipitkan matanya begitu melihat makanan yang dihidangkan. Mie instan?
Ia tak mengambil mangkuk yang disodorkan pria itu padanya, dan hanya memandanginya seakan-akan itu adalah sesuatu yang bisa meledak.
"Kau tidak suka mie, Sasuke?" pria itu tampak cemas, terdengar hampir kentara dari nada suaranya. Sasuke mengangkat wajahnya, lalu menatap pria itu dengan dahi berkerut.
"Aku tidak biasa makan mie instan," balasnya singkat. Sebenarnya bukan itu, hanya saja biasanya Kushina selalu memasak lauk yang enak setiap kali makan malam, dan tak pernah menyajikan mie instan.
Pria itu hanya diam, namun cekungan tipis yang ada di bawah matanya tampak menjadi lebih dalam.
"Kau mau makan apa?"
Sasuke menaikkan alisnya. "Kau mau masak buatku?"
Pria itu menggeleng. "Tidak. Kita beli di luar."
Oh. Sasuke tidak mengira hal itu.
Ia menatap mangkuk berisi mie yang kuahnya masih mengepul itu, lalu akhirnya menghela napas panjang dan menariknya mendekat.
"Tidak usah. Aku makan ini saja."
Ia malas kalau harus turun naik tangga lagi dan berkeliling naik sepeda mencari apapun itu di luar. Pinggangnya sudah keram karena duduk lama sekali di boncengan tadi. Dengan kening berkernyit, ia meraih sumpitnya dan memotong-motong telur rebus yang ada di mie itu, sembari menatap mienya dengan sengit seakan itu adalah gumpalan cacing yang harus dilenyapkan.
.
Makan malam berlangsung tenang sesudah itu, tanpa ada protes apapun yang dilontarkan oleh Sasuke. Emm, setidaknya tidak secara eksplisit, sih.
Sambil mengunyah, Sasuke diam-diam melemparkan tatapan menyelidik pada pria itu ketika dikiranya orang itu sedang tidak melihat. Ada suatu hal yang mengusik pikirannya, dan ia ingin menanyakannya langsung pada orang itu dibanding menebak-nebak tanpa kepastian.
"Ehm…" ia terdiam, tak tahu harus memanggil pria itu apa. Ayah? Oh, nanti dulu. Uchiha-san? Terlalu sopan. Fu… siapa namanya waktu itu? Oh ya, Fugaku. Fugaku-san? Nama itu kedengaran aneh di dalam pikirannya, dan ia buru-buru mencoret pilihan yang itu.
Tapi pria itu sepertinya menyadari apa yang dipikirkannya. Oh, lupakan, mungkin ia telah berdeham-deham tidak jelas terlalu lama.
"Ada apa, Sasuke?"
Ia meletakkan sumpitnya, lalu menatap mata orang di depannya lekat-lekat, dan berkata seserius mungkin—yah, paling tidak menggunakan mimik paling mengintimidasi yang bisa diperlihatkan seorang anak SD.
"Berapa umurmu?"
Pria itu meletakkan sumpitnya segera, terlalu cepat—gestur yang bagi Sasuke langsung dilabeli sebagai 'mencurigakan'.
"Kenapa kau bertanya tentang itu?"
Sasuke terdiam sejenak, berusaha menyusun alasan paling meyakinkan yang bisa dibuatnya sebagai jawaban. Huh, ia sama sekali tidak menduga pria itu akan bertanya balik. Pada awalnya ia mengira pria itu akan langsung menjawab dengan mudah.
"Jawab saja." tukasnya setengah memaksa.
Pria itu memandangi mangkuknya dengan tatapan tak terbaca, lalu meraih sumpitnya lagi. "Yang pasti lebih tua darimu," balasnya ringan, dan ia melanjutkan makannya lagi.
Sasuke merasa ingin membalik mangkuknya dengan kesal saat itu juga.
"Kau tidak memberikan jawaban sama sekali," Sasuke menjaga nada suaranya setenang mungkin, pria ini tak usah tahu kalau saat ini ia sedang merasa sewot setengah mati. "Berapa umurmu? Tinggal jawab saja, apa susahnya."
Pria itu menurunkan sumpitnya lagi, lalu bangkit dari duduknya perlahan. Sasuke bersiap-siap akan reaksi apapun yang akan diterimanya, namun sebagai gantinya…
'Tap'.
Pria itu hanya menjentikkan jari ke dahinya pelan, sebelum kemudian tersenyum dan bilang; "maaf ya, Sasuke. Lain kali saja."
Setelahnya pria itu duduk lagi dan meneruskan makannya seakan tak terjadi apapun, meninggalkan Sasuke yang masih diam terpaku karena kaget—dan beberapa detik kemudian menggosok-gosok dahinya dengan kesal.
"Jangan sembarangan!" tukasnya sengit seraya bersungut-sungut, namun pria itu hanya tersenyum kecil padanya seraya menuangkan ocha untuk mereka berdua.
"Ugh," ia tak bisa menahan emosinya lagi. Masa bodoh kalau ia terlihat konyol saat ini. "Kau menyebalkan!"
Setelah makan malam, ia menggosok giginya dengan sikat gigi dan odol yang sudah disiapkan Kushina dalam ranselnya, sementara pria itu membereskan meja dan mencuci piring. Ia sengaja berlama-lama di kamar mandi, sekadar untuk membuat pria itu kesal—meskipun sepertinya hal itu tidak berefek apapun sama sekali.
Ketika ia keluar, ia mendapati pria itu tengah menggelar futon di ruang depan. Sasuke mengernyitkan keningnya. Oh, sudah waktunya tidur? Cepat sekali.
Pria itu menaruh bantal dan selimut di atas futon, lalu menoleh ke arahnya yang masih berdiri di dekat sekat pembatas ruangan.
"Kita tidur sekarang ya, Sasuke. Besok kan kau sekolah."
Sasuke hanya memandangi futon yang baru saja digelar itu dengan dahi berkerut—sebelum kemudian menyadari sesuatu. Oh, iya. Futon-nya kan cuma ada satu. Nanti ia tidur dimana?
"Aku tidur dimana?" tanyanya seraya menaikkan alis.
Pria itu memandanginya dengan bingung. "Disini, tentu saja," ia menepuk-nepuk futon itu dengan tangannya.
Eh?
Sasuke mengernyitkan keningnya. "Nanti kau tidur dimana?" balasnya spontan—dan kemudian menyesal telah mengatakan hal tadi. Bukannya ia peduli pada pria itu atau bagaimana…
Pria itu menunjuk ke tempat di sebelah futon, dan Sasuke menemukan selembar kain lebar seperti seprai yang digelar disana. Ia memicingkan matanya segera—sama sekali tak mengira hal itu.
Sekarang kan, musim hujan… pasti lantainya dingin. Apalagi bila hanya dialas dengan seprai seperti itu.
Sasuke buru-buru menyingkirkan hal itu dari pikirannya. Masa bodoh, ia tak peduli. Kan pria itu sendiri yang mau.
Ia membaringkan tubuhnya di futon yang sudah dirapikan tanpa mengatakan apapun lagi, lalu menarik selimut dan berbalik membelakangi pria itu.
Sasuke dapat mendengar suara pria itu yang berbaring di tempat di sebelahnya. Sejenak ia mengira-ngira apakah pria itu tidur dengan memakai bantal, karena setahunya bantal yang ada kini telah digunakan olehnya. Ia menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya. Tidak usah dipikirkan. Pria itu pasti punya bantal yang lain.
Sasuke memejamkan matanya segera dan berusaha menghiraukan rasa tidak nyaman yang perlahan muncul di dadanya.
Usahanya untuk terlelap tidur tidak bertahan lama.
Dengan gusar, ia segera membuka matanya, lalu bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di futon. Pria di sampingnya, yang tampaknya masih belum tertidur, membuka matanya segera begitu mendengar gerakannya tadi.
"Sasuke?" panggilnya perlahan, dan Sasuke mencatat dalam hati kalau nada suaranya sama sekali tidak terdengar seperti mengantuk. "Kenapa belum tidur?"
Sasuke melempar pandangannya ke samping, merasa kesal sendiri meskipun ia tak tahu apa alasan pastinya. "Kau tidur juga disini," tukasnya galak, seraya menggeser duduknya ke samping. Beberapa detik kemudian ia menyesal telah mengatakan kalimat itu, karena itu membuatnya terdengar seperti… seperti ia khawatir pada pria itu.
Sasuke mendengus dalam hati. Tentu saja tidak. Pria itu hanya orang asing yang aneh.
Ia terkejut sedikit ketika pria itu menegakkan tubuhnya perlahan, lalu mengubah posisinya menjadi duduk. Mata hitamnya menatap Sasuke dengan sorot lembut, sebelum kemudian menggeleng.
"Nanti kau jadi sempit. Aku tidur disini saja."
Sasuke mendengus gusar. Ugh, kenapa ia jadi tambah kesal, sih! Ia menatap pria itu dengan sorot paling tajam yang bisa diperlihatkan matanya. "Kau pindah kesini," ia berkata dengan nada perintah absolut. "Kalau tidak, aku tak mau tidur!"
Eh? Kalimat yang tadi itu hampir tidak disengaja, sih, tapi biar saja! ia merasa perlu menambahkan bumbu ancaman.
Pria itu hanya menaikkan alisnya sedikit, sebelum kemudian tersenyum kecil. Ada sorot geli yang melintas di matanya.
"Yakin kau tidak akan kesempitan nanti, Sasuke?"
Sasuke menghembuskan napas keras-keras. "Jangan banyak komentar," balasnya galak. Pria itu tersenyum lagi, menganggapnya sebagai jawaban 'ya'.
Ia melipat lagi seprai yang tadi digelarnya di lantai, lalu pindah ke tempat yang sudah disediakan Sasuke di atas futon. Tentu saja ia membaringkan tubuhnya di bagian sepinggir mungkin, sehingga anak itu bisa mendapatkan tempat yang lebih lega.
"Oyasumi, Sasuke."
Sasuke, yang kini sudah membaringkan tubuhnya ke arah yang berlawanan dengan posisi pria itu, hanya membalas dengan 'hn' pelan.
Sasuke membuka matanya perlahan. Terdengar suara hujan turun di luar. Ia menaikkan selimutnya, merasa bahwa suhu udara sepertinya telah bertambah dingin.
Ia tak bisa tidur, entah kenapa. Biasanya ia tidur dengan posisi telentang atau menghadap sebelah kiri, bukan menghadap ke kanan seperti sekarang ini. Tapi kalau ia mengubah posisi tidurnya dan berbalik, nanti ia tidur berhadapan dengan pria itu.
Sasuke menghela napas panjang, lalu menoleh ke samping sedikit. Oh. Sepertinya pria itu sudah tidur.
Ia tersenyum dalam hati. Nah, aman. Kalau begitu ia bisa mengubah posisi tidurnya menjadi seperti biasa.
Sasuke meluruskan kakinya, lalu mengubah posisi berbaringnya perlahan sehingga sekarang ia menghadap ke kiri. Ia lega begitu melihat pria itu tengah tidur dengan posisi telentang, sehingga wajah mereka tidak perlu berhadapan satu sama lain.
Ia membetulkan posisi selimutnya, lalu berusaha terlelap. Luas futon yang kecil mengakibatkan tubuh mereka berdua kini saling berhimpitan, dan Sasuke merasa wajahnya hampir menyentuh pundak pria itu.
Dari jarak sedekat ini, mau tak mau ia bisa mencium bau yang menempel di pakaian pria itu, atau pada dirinya. Ketika Sasuke menghela napas, ia dapat mencium bau teh samar yang menguar dari pria di dekatnya. Sasuke memejamkan matanya perlahan. Pria itu berbau seperti ocha hangat, dan meski ia benci mengakuinya—entah kenapa hal itu membuatnya merasa nyaman.
Sasuke menghela napas dalam-dalam sekali lagi, dan tertidur dengan bau ocha yang tinggal di memorinya—sebelum kemudian ia terlelap sepenuhnya.
.
.
Bersambung…
A-N: Terima kasih kepada yassir2374, efi astuti1, dan Hitam Putih yang sudah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^
Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D
