Jarum jam di dinding kamar flat itu baru menunjukkan pukul setengah lima pagi ketika ponsel yang ada di meja berdering.
Pria itu segera membuka matanya pada deringan yang ketiga, dirinya memang tipe orang yang gampang dibangunkan jika ada suara tiba-tiba. Ia buru-buru bangkit dari futon dengan hati-hati dan meraih ponsel di meja, khawatir jika suara deringnya membangunkan Sasuke yang masih tidur.
Setelah melihat nama penelepon di layar, ia mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Halo? Kau sudah menemuinya? Bagaimana? Kau bilang apa? Eh, omong-omong kau benar jadi bertemu dengannya kan?"
Ia memijat pelipisnya yang mendadak berkedut sedikit, lalu menghela napas perlahan. "Ini… masih pagi," balasnya dengan suara yang masih mengantuk. "Kau bertanya seperti orang menginterogasi, kurasa."
Tawa geli terdengar dari ujung sambungan, sebelum kemudian kalimat tanya lagi. "Oh, kau baru bangun? Maaf, aku tidak tahu."
Ia membalas dengan gumaman 'hmm' pelan.
"Kau jadi menemuinya?" suara dari ujung sambungan bertanya lagi.
"Hm, ya."
"Lalu?" nada suara dari seberang kali ini terdengar bersemangat. Pria itu menghela napas panjang, lalu menggosok-gosok matanya perlahan.
"Aku senang."
Terdengar suara dengusan pelan yang mirip suara tawa yang ditahan dari seberang. "Cuma senang saja?"
Dihiraukannya sarkasme tersirat tadi, lalu membalas dengan tenang. "Sekarang ia sedang menginap disini."
Hening sebentar. Sejurus kemudian, terdengar suara tawa bersemangat dari ujung telepon. "Oh, wah, baguslah! Tak kusangka secepat itu," balasnya antusias. "Kelihatannya kalian berdua langsung dekat, padahal baru pertama bertemu."
Ia menelan ludah. Kata-kata yang dilontarkan orang yang meneleponnya itu entah kenapa menimbulkan rasa tidak nyaman yang menusuk. Seperti mendengar sebuah ironi yang dinyatakan langsung di hadapannya.
"Ah, ya…" nada kalemnya kali ini terdengar canggung, "bisa dibilang begitu." Selagi berbicara, ia berbalik ke belakang, dan ponsel itu bergeser sedikit dari genggaman tangannya yang mendadak berkeringat ketika ia melihat kalau ada yang tengah memperhatikannya.
Sasuke sudah bangun.
Ia tidak menyadari itu daritadi. Diturunkannya telepon yang masih dipegang menempel di telinganya, lalu panggilan segera diputus. Dalam hati ia meminta maaf pada orang yang menelepon itu—mungkin nanti ia akan mengiriminya pesan saja untuk memberitahu.
"Oh, Sasuke," ia terdiam sejenak, mendadak bingung mau berbicara… apa. "Kau sudah bangun."
Anak itu mengerjapkan matanya sekali, lalu menatapnya dengan mata hitam yang tak berkedip.
"Kenapa langsung dimatikan?"
Ia tak melepaskan genggamannya pada ponselnya, dan jari-jarinya menggenggam benda itu lebih erat tanpa disadarinya—ketika mendengar pertanyaan Sasuke tadi. "Pembicaraannya sudah selesai," balasnya kalem. Matanya bahkan tak menunjukkan sorot khawatir sama sekali.
Namun anak itu kelihatannya tidak langsung percaya. "Oh, begitu," balasnya dengan alis terangkat.
Ia mengira topik itu sudah selesai, tapi ternyata Sasuke bertanya lagi beberapa detik kemudian.
"Kau menelepon siapa?"
Ia menekan tombol shortcut untuk mode silent di ponselnya tanpa melihat, khawatir kalau orang itu akan menelepon lagi. Bukannya ia tidak mau menjawab, tapi setidaknya ia tak ingin menerima telepon itu di hadapan Sasuke. "Ada seorang teman dekat yang menelepon."
Sasuke mengernyitkan keningnya, namun tak bertanya lebih jauh. Ia hanya menatap pria itu dengan sorot menyelidik selama beberapa detik, sebelum kemudian bangkit dari futon dan berjalan ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun.
Dinyalakannya keran air yang ada di wastafel, lalu Sasuke membasuh wajahnya beberapa kali.
Selagi menggosok-gosok matanya yang terkena air, ia berpikir tentang pembicaraan yang didengarnya tadi. Ehm, tidak sepenuhnya didengarnya secara keseluruhan, sih. Yang diingatnya adalah ia terbangun mendadak ketika mendengar suara langkah kaki berisik di lantai, dan ketika ia membuka matanya—dilihatnya pria itu sedang berbicara di telepon sembari mondar-mandir, seakan cemas pada sesuatu.
Sasuke mengambil sikat giginya yang kemarin ditaruhnya di wadah yang ada di pinggir bak, lalu membasahinya dan mengolesinya dengan odol. Sembari menyikat giginya, ia mengira-ngira siapa yang menjadi lawan bicara pria itu tadi. Dari cara pria itu menjawab dan nada suaranya, sepertinya ia tengah berbicara dengan orang yang sudah dikenal dekat.
Sasuke berkumur beberapa kali, lalu menambahkan odol lagi ke sikat giginya. Naruto sering mengomentari kalau ia menyikat gigi memerlukan waktu setengah abad, tapi ia membalas kalau hal itulah yang menyebabkan giginya tidak ada yang berlubang sampai sekarang—sementara Naruto sudah menerima dua tambalan di giginya.
Sebenarnya, yang membuatnya menjadi curiga adalah sewaktu ia mendengar pria itu berkata; "ia sedang menginap disini". Sasuke langsung mengambil kesimpulan kalau 'ia' yang dimaksud pria itu adalah dirinya; memangnya siapa lagi yang sedang menginap disini sekarang? Kecuali kalau ia menyembunyikan satu tamu lagi di dalam lemari—oh, tentu saja hal itu tidak mungkin. Sepertinya ia terlalu banyak membaca komik detektif yang dikoleksinya bersama Naruto.
Sasuke berkumur sekali lagi, lalu mencuci sikat giginya. Dibasahinya dagunya yang terkena busa dari odol, lalu mencuci mukanya sekali lagi—ketika mendadak sesuatu yang mengejutkan tiba di pikirannya.
Siapa tahu kalau yang menelepon tadi… istri pria itu, kan? Ehm, maksudnya ibu kandungnya.
Sasuke mengernyitkan keningnya sedikit pada frase 'ibu kandungnya' yang tadi melintas di pikirannya, merasa kalau itu terdengar aneh. Selama ini, ia sudah terbiasa menganggap kalau ibunya adalah Namikaze Kushina seorang, dan saat ini pandangannya terhadap wanita itu masih tetap sama—meskipun ia sudah tahu kalau wanita itu bukan ibu kandungnya.
Kenapa pria itu langsung mematikan teleponnya tadi?
Sasuke mematikan keran air, lalu terdiam sebentar sembari memandangi permukaan wastafel yang kelihatannya selalu digosok sampai mengkilap. Ia ingin menanyakan pada pria itu untuk menemukan benar atau tidaknya tebakan—ehm, perkiraannya tadi. Apakah yang menelepon itu adalah ibunya?
Tapi lima detik kemudian Sasuke langsung mencoret rencana itu dari pikirannya. Kalau ia bertanya tentang hal tadi, nanti ia pasti ketahuan telah menguping. Ia menghela napas dalam-dalam dengan sedikit kesal, sebelum kemudian membuka pintu kamar mandi dan keluar.
Pria itu, yang sedang berdiri di depan kompor sembari merebus sesuatu, menoleh ketika ia membuka pintu. "Kau tidak mandi, Sasuke?"
Ia mengernyitkan keningnya, lalu membalas dengan nada ketus. "Aku mau ambil handuk dulu."
Pria itu menambahkan sesuatu di panci yang sepertinya isinya telah mendidih, dan beberapa detik kemudian bau teh yang pekat menguar di dapur sekaligus ruang makan itu. "Handuknya sudah kusiapkan di gantungan."
Sasuke diam sebentar. Oh, ya? Ia tidak melihatnya tadi, tapi sepertinya itu karena ia tidak memperhatikan saja. "Itu bukan handukmu, kan?"
Pria itu mematikan kompor, lalu mengambil saringan di rak. "Bukan. Aku mengambilnya dari ranselmu."
Sasuke merasa puas dalam hati. Oh, baguslah. Tentu saja ia ogah memakai handuk bekas pria itu. Ia baru saja hendak masuk ke kamar mandi lagi, ketika mendadak teringat kalau ia belum mengambil bajunya.
"Seragammu sudah disiapkan di atas meja," pria itu memberitahu tanpa menoleh, seakan bisa membaca pikirannya. Sasuke tak merespon apapun dan meneruskan berjalan ke ruang depan untuk mengambil baju.
Ketika ia melewati ruang makan lagi dengan seragam yang terlipat di tangannya, pria itu menghentikan kegiatannya menuang teh ke dalam teko sejenak dan menatapnya dengan alis terangkat.
"Kau biasanya berpakaian di dalam kamar mandi?" tanyanya.
Sasuke menggenggam seragam di tangannya lebih erat, lalu baru menjawab setelah terdiam beberapa detik. "Iya. Memangnya kenapa?" balasnya galak.
"Oh," pria itu meneruskan kegiatan menuang tehnya lagi ke dalam teko hingga habis. "Kau bisa berpakaian di luar saja kalau kau khawatir bajumu terkena air." Ia menutup teko, lalu berpaling pada Sasuke. "Tenang saja, aku tidak akan melihat."
Wajahnya langsung terasa memanas—sementara pikirannya dipenuhi rasa heran mengapa pria itu seakan bisa menebak apa yang dihindarinya. Cih, pria itu bahkan tahu kalau ia tengah berbohong tadi. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja…
.
Sasuke segera masuk ke kamar mandi dengan langkah gusar, dan menutup pintunya kasar setelahnya.
Ketika ia selesai mandi dan sudah berpakaian, hal pertama yang dilihatnya ketika keluar ke ruang depan adalah pria itu yang sedang menyetrika.
"Oh, kau sudah rapi," pria itu menoleh ketika menyadari kehadirannya. "Sarapan sudah ada di meja, ya. Tehnya belum ditambahkan gula, kalau kau mau gulanya ada di samping kompor."
Sasuke hanya mengangguk singkat, dan buru-buru ke meja makan setelahnya. Entah kenapa, sikap pria itu padanya membuatnya merasa sedikit bersalah dalam hati. Apakah ia memang benar-benar baik dari sananya, atau ia berlaku baik karena mereka berdua baru kenal saja?
Disingkirkannya pertanyaan tadi dari pikirannya, memutuskan kalau ia tidak ambil pusing. Yang mana saja terserah, yang penting apa yang dilakukan orang itu menguntungkan untuk dirinya. Benar, kan?
Sasuke menarik kursi perlahan, lalu duduk dan membuka tudung saji. Ada sepiring roti bakar dengan keju dan susu kental manis, lalu segelas teh tawar di sampingnya. Diam-diam ia merasa puas, meski itu tidak ditunjukkannya. Baguslah, untung bukan mie instan lagi. Ia sama sekali tak berminat untuk makan mie pagi-pagi begini.
Selagi mengunyah rotinya, ia teringat sesuatu. Ah ya… pria itu tidak makan? Namun ia buru-buru mengabaikan pertanyaan itu. Paling pria itu sudah makan tadi ketika ia sedang di kamar mandi.
Sasuke menggigit rotinya lagi, kali ini dengan tekanan yang terlalu keras. Bukannya ia khawatir pada pria itu atau apa, hanya saja...
Ia mengernyitkan keningnya dengan kesal, lalu menancapkan garpu ke rotinya. Kenapa ia jadi memikirkan tentang pria itu, sih. Ia sama sekali tak peduli pria itu sudah sarapan atau tidak, dia kan orang dewasa—pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Lagipula, Sasuke juga hanya menganggap pria itu sebagai orang asing di matanya. Jangan kira ia langsung bisa dekat begitu saja dengan orang yang meninggalkannya dan baru menemuinya lagi bertahun-tahun kemudian, Sasuke tidak senaif itu. Kalau Naruto mungkin iya, tapi ia sedikit banyak mengerti kalau saudara tirinya itu memang orang yang kelewat optimis.
Ia juga bisa menginap di tempat ini bukan atas kemauannya sendiri, melainkan atas paksaan tidak langsung dari seorang Namikaze Kushina. Tapi ia tahu percuma saja berdebat dengan ibu—ehm, ibu angkatnya itu... dan satu-satunya orang yang pernah Sasuke lihat berani memprotes wanita itu secara terang-terangan—dan tahan menghadapi konsekuensinya, cuma Naruto seorang.
.
Sasuke menghabiskan rotinya dengan terburu-buru, seraya menghiraukan perasaaan tak mengenakkan yang muncul di hatinya samar-samar. Ia tidak peduli pria itu sudah makan atau tidak, kok... tentu saja ia tidak memusingkan hal itu sama sekali, iya kan.
Begitu ia keluar dari ruang makan, pria itu segera mencabut kabel setrikanya dari stop kontak, lalu mengambil ranselnya yang ada di meja.
"Bukunya sudah lengkap, kan?"
Sasuke mengangguk. Semalam ketika ia membuka ranselnya untuk mengambil sikat gigi, ia menemukan buku pelajaran untuk keesokan harinya sudah disiapkan di dalam. Pasti Naruto yang menyiapkannya kemarin. Mereka berdua sekelas di sekolah.
Sejenak ia mengira pria itu akan menyerahkan ranselnya kepadanya, namun ternyata pria itu langsung berjalan ke pintu depan dan membuka kunci, lalu mengisyaratkan Sasuke untuk keluar.
"Kita langsung berangkat sekarang?" tanyanya setelah melihat jam. Sekarang baru jam enam lewat lima, biasanya ia dan Naruto baru berangkat jam setengah tujuh lebih sedikit.
Pria itu mengangguk. "Jadi kau tidak terlambat," balasnya seraya mengunci pintu, "karena jarak sekolahmu dari sini cukup jauh, Sasuke."
Sasuke mendengus pelan, frasa 'cukup jauh' yang digunakan pria tadi sepertinya lebih cocok untuk diganti dengan 'jauh sekali'.
Ia melangkah perlahan mengikuti pria itu menyusuri koridor, matahari masih belum terlalu terang sepenuhnya, dan saat itu ia berharap dalam hati agar pinggangnya tidak kram ketika sampai di sekolah—karena terlalu lama duduk di boncengan.
.
.
Bersambung…
A-N: Terima kasih kepada Yue aoi, Nagisa Yuuki, yassir2374, dan Fura-chan Sawayaka yang telah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^
Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D
