Mereka tiba di depan gerbang sekolah lima belas menit sebelum bel berbunyi.
Sasuke turun dari boncengan sepeda dengan rambut yang acak-acakan; rambutnya memang sudah susah diatur dari dulu, namun kini malah kelihatan semakin parah karena terkena embusan angin sepanjang perjalanan tadi. Ia memang memaksa pria itu untuk mengayuh sepedanya kencang karena alasan tertentu (untuk membuatnya capek dan kesal, terutama). Ditepuknya puncak kepalanya beberapa kali dengan telapak tangannya, sekadar untuk merapikan rambutnya sehingga tidak tampak terlalu menentang gravitasi.
Pria itu menurunkan standar sepedanya, lalu menyerahkan ransel di keranjang pada Sasuke.
Anak itu menerima ranselnya dengan ujung jari—seakan bersentuhan dengan tangan pria itu akan membuatnya terserang tifus mendadak, lalu memakainya terburu-buru. Sejenak kemudian, ia mendongak dengan alis terangkat begitu menyadari bahwa pria itu kini telah turun dari sepeda.
"Kau ngapain turun juga?" tanyanya ketus.
Pria itu tampak tak terpengaruh sama sekali dengan nada suaranya. "Kau mau kuantar ke dalam, Sasuke?"
Anak itu membelalakkan matanya segera, seakan pria tadi baru saja mengajaknya untuk melakukan hal yang mematikan. "Hah? Tidak usah! Memangnya aku anak TK," balasnya seraya bersungut-sungut. Dibalikkannya badannya segera, lalu berjalan ke arah gerbang tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Sasuke!"
Sasuke menghentikan langkahnya sejenak, lalu memutuskan untuk tidak menghiraukan pria itu. Ngapain panggil-panggil, sih.
"Sasuke!"
Terdengar suara langkah kaki terburu-buru yang menyusul di belakangnya. Tanpa menghentikan jalannya, Sasuke memandang berkeliling—dan mendapati bahwa anak-anak dari kelas lain yang juga sedang berjalan di dekat situ menatapnya ingin tahu.
Huh. Sekarang ia malah jadi pusat perhatian begini.
Dengan kesal, ia menghentikan langkahnya mendadak, lalu berbalik dan menatap pria itu dengan pandangan berapi-api.
"Apa?" balasnya sewot.
Pria itu merogoh-rogoh sesuatu dari sakunya, sebelum kemudian mengeluarkan dompet kain berwarna biru tua dan menyerahkan beberapa lembaran uang yang dilipat-lipat padanya.
"Aku belum memberimu uang jajan."
Sasuke memandang uang yang disodorkan oleh pria itu dengan alis terangkat, lalu meraihnya dan memasukkannya ke saku tanpa mengucapkan apapun.
"Selamat belajar, Sasuke," pria itu mengangkat tangannya perlahan—namun anak itu segera berbalik dan berlari memasuki gerbang, keningnya berkerut dengan kesal karena mengira bahwa pria itu pasti akan menjentikkan dahinya lagi seperti kemarin.
Di kelas, ia berjalan ke bangkunya dan menaruh ransel dengan muka yang kusut.
Naruto, yang sudah tiba lebih dulu dan menempati tempat yang menempel dengan dinding seperti biasa—mengangkat kepalanya dari meja dan menatap saudara tiri sekaligus teman sebangkunya itu dengan mata berair. Dipandanginya Sasuke selama beberapa detik dengan mata biru yang tak berkedip.
"Mukamu kelihatan bete banget." gumamnya dengan nada mengantuk.
Sasuke duduk tanpa suara, lalu menaruh tangannya di meja untuk menopang dagunya. "Hn. Wajahmu seperti orang tidak tidur seminggu," balasnya cuek.
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menggosok-gosoknya dengan punggung tangan. "Hehehe," ia menyeringai lebar, "semalam aku habis menonton film bersama Tou-san sampai jam satu. Film doku...dokum, uhm, yah pokoknya itulah."
"Dokumenter?" Sasuke mengoreksi sambil lalu.
"Nah, itu," Naruto tertawa, lalu menggaruk-garuk tengkuknya sedikit. Sasuke menoleh padanya dengan alis terangkat.
"Tumben, kau biasanya bosan kalau menonton film dokumenter koleksi Otou-san."
Naruto hanya terkekeh geli, mata birunya berkilat-kilat gembira. "Sebenarnya aku ikutan menonton karena Tou-san beli ramen instan, sih. Jadi kita menonton sambil makan ramen sepuasnya, haha!"
Sasuke melempar pandangannya ke samping seraya menghela napas panjang. Oh, pantas. Ada ramennya ternyata.
"Okaa-san tidak marah kau begadang?" ia menoleh lagi, menaikkan alisnya dengan sorot ingin tahu. Biasanya ibu... uhm, ibu tirinya selalu ketat dalam mengingatkan mereka untuk tidur jam sembilan tepat supaya besok tidak kesiangan.
Naruto bersandar di kursinya, lalu menyeringai lebar. "Kaa-san sudah tidur duluan, jadi tidak ketahuan deh," ia mengangkat bahunya santai. "Lagipula dari dulu aku ingin mencoba begadang, tidur cepat kan hanya untuk anak bayi."
Sasuke memalingkan wajahnya segera, keningnya berkerut dalam dan pipinya terasa panas mendadak. Cih. Entah kenapa kalimat Naruto barusan malah membuatnya kesal...
"Huh," gumamnya tanpa sadar. Di sebelahnya, Naruto buru-buru menegakkan posisi duduknya dan menatapnya bingung.
"Oi, oi, Sasuke, kenapa kau mendadak cemberut begitu?"
Hari berlalu dengan cepat hari itu, dan tanpa terasa bel pulang berbunyi. Setelah berdoa menjelang pulang dan kelas dibubarkan, Naruto bangkit dari bangkunya segera, lalu buru-buru memakai ranselnya seraya tersenyum lebar.
"Hei, nanti kau mau ikut berenang tidak?"
Sasuke meraih botol minumnya dari kolong meja, lalu memasukkannya ke samping ranselnya dengan gerakan malas. "Hn..." ia terdiam sejenak, mendadak ragu akan suatu hal.
"Oh, nanti kau habis ini ke rumah kerabatmu itu lagi, ya? Kalau begitu ajak saja dia ikut," balas saudara tirinya itu antusias. Sasuke menahan keinginan untuk memijat pelipisnya yang mendadak terasa berkedut-kedut pusing.
"Tidak bisa, Naruto."
"Hah? Memangnya kenapa?" sepasang mata biru itu menatapnya bingung.
Sasuke menghela napas panjang seraya berjalan keluar. Naruto menyusul, berusaha menjejeri langkahnya yang terburu-buru. "Jangan ajak dia."
"Lho? Semakin ramai kan makin seru, hmm. Lagipula kayaknya dia baik, buktinya dia memberimu uang jajan yang banyak."
Sasuke menuruni tangga dengan langkah lebih keras dari biasanya, ekspresinya bersungut-sungut. "Dia mengesalkan, baka. Kau belum tahu saja..." gumamnya pelan, seolah tengah berbicara pada dirinya sendiri.
"Hah? Sasuke, kau bilang apa barusan?"
Sasuke menghela napas panjang dalam hati, lalu mengusap pelipisnya yang berkeringat dengan gerakan terlalu keras. "Hn. Lupakan."
Di depan gerbang, pria itu ternyata sudah menantinya.
Sial.
Sasuke sejenak mempertimbangkan untuk berbalik lagi ke dalam, namun menyadari kalau dirinya sudah terlalu dekat dengan gerbang untuk melakukan hal itu. Di sampingnya, Naruto berkata dengan antusias; 'eh, itu kerabatmu yang kemarin, Sasuke!' lalu melambaikan tangannya ceria ke arah pria itu.
Diam-diam Sasuke menahan keinginan untuk marah-marah dengan frustasi pada saudara tirinya itu.
"Hn, iya, lihat kok," balasnya singkat, berusaha membuat nada suaranya sedatar mungkin. Aslinya mood-nya sedang meledak-ledak tak karuan sekarang.
Huh. Buyar sudah rencananya untuk langsung pulang ke rumah bersama Naruto tanpa sepengetahuan pria itu.
Pria itu mengangkat wajahnya, dan membalas melambaikan tangannya balik pada Naruto—meskipun lambaiannya terlihat canggung dan kaku seperti orang yang tidak pernah melambaikan tangan sebelumnya.
Sasuke memperhatikan hal itu dengan alis terangkat.
Naruto tiba lebih dulu di gerbang, dan tak lama kemudian sudah berada di depan pria itu. "Kau pasti datang kemari untuk menjemput Sasuke, ya?" tanyanya ceria. Sasuke menahan keinginan untuk segera menarik tangan saudara tirinya itu dan menyeretnya pergi dari situ segera.
"Hmm," pria itu menundukkan badannya sedikit, lalu tersenyum ramah pada Naruto. "Sebenarnya aku ingin mengajak kau dan Sasuke makan ramen hari ini. Kau mau kan, Naruto?"
Sepasang mata biru milik saudara tirinya itu langsung berkilat-kilat cerah. "Benarkah?"
Oh, ini buruk. "Kami tidak ikut," potong Sasuke cepat. "Naruto dan aku mau pergi berenang setelah ini, iya kan Naruto?"
Pria itu berpaling ke Sasuke, senyum kecil tak hilang dari wajahnya. "Kushina-san bilang kalau kalian pergi jam 4 nanti," ia memberitahu anak itu dengan kalem. "Aku sudah memberitahunya kalau aku mengajak kalian berdua makan ramen sepulang sekolah."
Sasuke menatapnya dengan sorot gusar.
Di sampingnya, Naruto langsung berseri-seri. "Masih lama, Sasuke, berarti kita masih sempat makan ramen dulu kalau begitu..." katanya seraya tersenyum lebar. Ia segera menoleh lagi ke pria yang dikenalnya sebagai 'kerabatnya Sasuke' itu.
"Sasuke dan aku ikut, tentu saja! Oh iya," Naruto terdiam mendadak, lalu menggaruk-garuk dagunya dengan ekspresi termenung. "Omong-omong aku memanggilmu apa, nih? Paman? Kak? Pak?"
.
Di sisi lain, Sasuke merengut kesal dan yakin setengah mati bahwa pria menyebalkan itu pasti tengah berusaha mengambil hati saudara tirinya itu. Dasar licik. Licikliciklicik. Ini tidak boleh dibiarkan!
"Oi, Sasuke? Kau kenapa bengong disitu? Ayooo!" sebelum ia sempat membalas, tangannya keburu ditarik dengan tenaga kelewat antusias—sehingga ia harus buru-buru menyeimbangkan badannya agar tidak terseret.
"…"
.
Oh, iya. Sejak kapan ia lupa kalau saudara tirinya yang konyol itu langsung lupa segala hal kalau sudah mendengar tentang ramen?
.
.
Bersambung...
A-N: Terima kasih kepada efi astuti1, yassir2374, Yue aoi, Fura-chan Sawayaka, Jasmina DaisynoYuki, dan SaSaSarada-chan yang telah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^
Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D
