Beberapa blok dari jalan tempat sekolah mereka, ternyata ada stan ramen yang baru dibuka.

Sebelum ia memutuskan untuk melemparkan diri ke dalam keruwetan ini (tangannya ditarik dengan tenaga kuda dan ocehan seorang maniak ramen yang menggaruk-garuk gendang telinganya), ia berpikir untuk langsung pulang ke rumah—dan membiarkan Naruto ikut bersama pria itu makan ramen. Tapi…

Sebelum niatan itu sempat dilaksanakan, sebuah pikiran yang mencemaskan tercetus di kepalanya. Bagaimana kalau pria mencurigakan ini bukannya membawa Naruto ke restoran ramen, tapi malah membawanya naik mobil ke tempat antah-berantah? Bagaimana kalau Naruto diculik, lalu dijual ke pasar gelap?

Meskipun ia meragukan hal yang terakhir. Huh, itu cukup mustahil untuk terjadi… kecuali kalau ada orang yang tahan menculik Naruto, saudara tirinya yang super bawel itu.

Hn, lupakan. Sepertinya ia terlalu terpengaruh dengan adegan-adegan dari komik detektif yang dikoleksinya bersama Naruto. Ini dunia nyata, tahu.

"Sasuke, kok diam saja? Kenapa mukamu kusut begitu?"

"..."

Ugh. Tapi tetap saja ia tidak percaya pada pria itu. Bukannya ia terlalu perhatian pada saudara tirinya atau apa, tapi kalau terjadi hal yang aneh-aneh pada Naruto, ia tak yakin bisa tahan menghadapi kepanikan dari seorang Namikaze Kushina.

"Hei, Sasukee?" kini saudara tirinya itu menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahnya dengan kening berkerut.

Ia mendengus pelan. "Suaramu kayak terompet, baka. Berisik sekali dari tadi."

Naruto menghentikan obrolannya (Sasuke tidak tahu kenapa pria itu dan saudara tirinya tiba-tiba langsung akrab begitu saja) dengan pria yang dikenalnya sebagai 'kerabatnya Sasuke' itu, lalu berpaling ke anak itu dengan wajah sewot. "Hah, apa kau bilang? Enak saja," ia meninju pundak saudara tirinya itu main-main, namun Sasuke hanya mengacuhkannya—terlalu pusing untuk membalas.

Sayangnya, ketika Naruto sedang lengah dan mengalihkan perhatiannya kembali ke hal yang sedang diceritakannya pada pria itu—sesuatu yang keras menyodok pinggangnya, mengakibatkannya reflek langsung memekik geli bercampur kaget.

"Aw—ih!" kepala pirang itu menoleh ke samping, mendapati saudara tirinya sedang memandang langit dengan tangan dimasukkan ke saku dan raut tanpa dosa. "Sasukeeeeee! Curang, tahuuu..." ia mengangkat tangannya, berusaha untuk membalas dengan cara menjitak saudara tirinya itu.

Namun dengan tangkas, Sasuke langsung berkelit—dan kepalanya lolos dari jitakan tadi. "Fufu, salah sendiri, baka," balasnya cuek, tapi senyum puas yang hanya bertahan selama beberapa detik mampir sebentar di raut datarnya.

'PUK!'

"Hei! Sudah impas, baka!"

Lidah terjulur. "Weeek! Coba balas kalau bisa, hahahaha."

"Hn…"

'PLAK'

"Hei, menggebuk pipi hanya dilakukan oleh anak perempuan, tahu! Sasuke bodooooh."

"Hn, sepertinya ada yang berbicara…"

"Arrgh, kau menyebalkan! Tapi tenang saja, aku lebih keren darimu, huahahaha…"

"…"

.

.

Di sebelah mereka berdua, pria itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah keduanya—kilatan geli menari-nari di mata hitamnya yang monoton dari tadi.


Begitu sampai di kedai ramen, Naruto langsung mengambil tempat di meja paling dekat yang dijumpainya—sementara Sasuke tanpa berpikir panjang segera menempati kursi di sebelah saudara tirinya. Di sisi lain, pria itu—yang tiba paling belakang,mengambil kursi yang tersisa di sisi lain meja itu, sehingga posisi mereka kini saling berhadapan.

"Kalian mau pesan apa?" pria itu bertanya sambil menatap mereka berdua secara bergantian. Sasuke dan Naruto saling berpandangan.

"Miso—"

"Miso ramen, yeah!"

Pria itu tertawa kecil melihat jawaban mereka yang hampir berbarengan—sementara Naruto memandangi saudara tirinya dengan seringai lebar hingga gigi-giginya terlihat. "Oke, miso ramen dua, ya. Minumnya?"

"Jus jeruk, es batunya yang banyak ya!" sahut Naruto antusias.

"Hn, terserah," gumam Sasuke datar, dalam hati berpikir kalau pria itu cocok sekali untuk menjadi pelayan restoran.

"Oh?" pria itu menaikkan alisnya, menatap Sasuke dengan ragu sejenak. Ketika anak itu hanya mengacuhkannya, akhirnya ia mengatakan, "baiklah, kalau begitu kusamakan dengan pesanan Naruto saja, ya?"

"…"

Setelah menyadari kalau balasan dari Sasuke tak datang juga, pria itu akhirnya bangkit dari kursinya dan pergi ke konter untuk memesan. Naruto mengedarkan pandangannya berkeliling dengan antusias, sesekali mengomentari warna cat, dekorasi,atau apapun di kedai ramen itu—yang hanya ditimpali oleh Sasuke dengan 'hn' singkat. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali, lalu duduk di meja menunggu pesanan mereka datang.

Ia tak menghiraukan tatapan tajam yang sedari tadi dilontarkan Sasuke kepadanya; sehingga membuat anak itu menahan kesal setengah mati.

Naruto yang bingung melihat tingkah saudara tirinya itu, berpaling dan menatap Sasuke dengan mata biru yang melebar.

"Sasuke, mood-mu lagi jelek, ya?"

"...Hn." Anak itu menghela napas panjang, sebelum kemudian membuang pandangannya ke samping dengan dengusan pelan. Pria itu sebenarnya punya emosi tidak, sih? Dasar orang aneh.


Lima menit kemudian, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka ke meja. Naruto segera mengambil ramennya secepat kilat, meraih sumpit dan mencelupkannya ke dalam kuah ramennya yang masih mengepul panas. Sasuke sendiri menggeser mangkuk ramennya perlahan ke hadapannya, diam-diam melirik pesanan pria itu lewat ekor matanya. Oh, pria itu memesan shoyu ramen dan ocha. Hmm.

Ketika mereka bertiga mulai menyantap ramen masing-masing—diiringi ucapan itadakimasu keras-keras dari Naruto—mendadak suara dering ponsel terdengar.

Naruto dan Sasuke mengangkat kepalanya berbarengan, berpaling ke pria itu yang tengah mengambil sesuatu dari sakunya. Naruto hanya melirik pria itu sekilas, sebelum kemudian berpaling ke ramennya lagi—sementara Sasuke memperhatikan pria itu bangkit dari kursinya dan pergi dengan ponsel yang menyala di tangan; raut wajahnya tampak terkejut samar.

Hmm. Sasuke mengangkat alisnya, memandangi pria itu yang kini tengah berjalan keluar dengan langkah terburu-buru. Mengapa ia tak menjawab teleponnya disini saja?

Perhatiannya teralihkan ketika mendadak Naruto mengambil botol kecap yang berada di depannya, sebelum kemudian mengeluh ketika tak ada kecap yang keluar sewaktu ia menuangkan itu ke ramennya.

"Yah, kecapnya habis, Sasuke." Naruto mengernyitkan keningnya, lalu berpaling ke saudara tirinya dengan pandangan kecewa.

"Minta saja lagi," balasnya seraya menunjuk ke konter.

"Oh, iya," Naruto segera bangkit dan berjalan ke konter, meninggalkan Sasuke sendirian di meja. Ketika ia menatap botol kecap yang kosong, dengan botol kecap asin dan tube berisi cabe bubuk yang ada di dekatnya, pikirannya segera menyala terang dengan ide yang menarik.

…Nah.

Diliriknya pria itu, yang masih ada di depan entah menjawab telepon dari siapa, dan Naruto yang tengah memanggil pelayan di konter. Oke, kesempatan bagus. Harus cepat-cepat!

Diraihnya botol kecap asin yang ada depannya, lalu menuangkan isinya banyak-banyak. ke mangkuk berisi shoyu ramen milik pria itu. Ketika dirasanya cukup, ia mengambil tube berisi bubuk cabe, lalu menaburkan serbuk merah itu sebanyak-banyaknya—dan mengaduk-aduk ramennya dengan terburu-buru.

Dikembalikannya posisi sumpit ke tempat semula, berusaha membuat mangkuk ramen itu tampak seperti posisi sebelumnya tanpa bergeser sama sekali.

Fufufu. Nah, beres.

Ketika Naruto kembali ke meja dengan kecap di tangan, Sasuke tengah mengunyah ramennya dengan ekspresi biasa. Namun sebelum duduk, rupanya saudara tirinya melihat sekilas shoyu ramen yang dipesan pria itu.

"Loh, aku baru tahu kalau shoyu ramen kuahnya sepekat ini," Naruto berhenti sejenak dan menatap ramen pria itu dengan alis terangkat.

Sial. "Disini shoyu ramennya berbeda, mungkin," balasnya asal. Ia menghela napas lega dalam-dalam (fuuuh) ketika melihat kalau saudara tirinya sepertinya langsung percaya dan tak membahas lagi hal itu lebih jauh.

Nah, sekarang tinggal menunggu. Ia menyeringai lebar dalam hati, ketika melihat pria itu telah selesai menelepon dan kini berjalan kembali ke meja.


"Kenapa kau tidak menerima teleponnya disini saja?" sergah Sasuke mendadak ketika pria itu telah duduk kembali di meja. Pria itu tampak terkejut sedikit mendengar pertanyaan tiba-tiba itu—sebelum kemudian meraih sumpitnya dan menatap anak itu dengan sorot kalemnya yang biasa.

"Di luar sinyalnya lebih jelas," balasnya tenang, lalu mengalihkan pandangannya ke ramennya tanpa menambahkan lebih jauh.

Sasuke tak melewatkan gerakan tangan pria itu yang mengaduk-ngaduk ramennya terburu-buru ketika menjawab pertanyaan tadi—seolah berusaha menyembunyikan sesuatu. Cih. Sasuke mencibir dalam hati. Kalau mau bohong sebaiknya pakai alasan yang lebih masuk akal sedikit, kali.

Di sebelahnya, Naruto masih sibuk mencairkan kuning telur dari telur rebus yang jadi topping ramennya hingga larut menyatu dengan kuah—tanpa menyadari kalau saat ini Sasuke tengah menyeringai lebar di balik gelas jus yang tengah diminumnya.

Sasuke mengawasi pria itu menyantap ramennya tanpa curiga.

.

.

—ketika mendadak wajahnya berubah pucat, dan ia menghentikan kunyahannya.

Sasuke menahan napas dengan dada berdebar-debar.

Sedetik setelahnya, pria itu langsung menaruh sumpitnya lalu meraih gelas ocha di sebelahnya—dan menghabiskan isinya dengan dua kali teguk.

Fufu, rasakan itu. Di sisi lain meja, Sasuke segera menundukan wajahnya, berpura-pura tengah mengaduk-aduk ramennya—padahal saat ini kakinya tengah gemetaran karena menahan tawa.

Wajah pria itu kini sudah memucat sepenuhnya, keringat muncul membasahi pelipisnya. Napasnya terengah-engah, mengakibatkan Naruto yang duduk di seberang meja menyadari hal itu dan menatapnya dengan bingung.

"Eh, kau kenapa?!" tanyanya panik. "Kepedasan? Minum jusku saja, es batunya banyak jadi bisa mendinginkan lidahmu," Naruto buru-buru menyorongkan gelas jus jeruknya yang masih berisi setengah pada pria itu.

Sejenak Sasuke mengira kalau pria itu akan memanggil pelayan untuk meminta air putih, namun ternyata pria itu segera bangkit dari kursinya dan menggumamkan 'tidak,terima kasih' pada Naruto—sebelum kemudian berlalu ke arah kamar mandi.

Sasuke menyeringai puas dalam hati. Hahaha, rasakan itu!


Naruto memandangi kepergian pria itu dengan terkejut bercampur bingung, sebelum kemudian berpaling ke saudara tirinya di sebelahnya.

"Sasuke, ia kenapa?"

Yang ditanya hanya mengangkat bahu. "Shoyu ramen disini pedas sekali, mungkin," balasnya cuek, namun Naruto dapat melihat kilatan aneh yang menari-nari di mata hitam saudara tirinya itu.

"He? Setahuku shoyu ramen kuahnya tidak pedas, deh…"

Di sampingnya, Sasuke hanya membalas 'hn, mungkin disini lain' seraya tertawa-tawa kejam dalam hati.


.

.

Bersambung...


A-N: Terima kasih kepada yassir2374, Sapa aja dah v, Orchidflen, efi astuti1, SaSaSarada-chan, Nagisa Yuuki, Hinata no hanabi, Yue aoi, dan mashiro kurama yang telah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^

Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D


Notes:

shoyu ramen: ramen dengan kuah kaldu yang dicampur shoyu (kecap Jepang)

miso ramen: ramen dengan kuah yang dicampur dengan pasta kedelai yang difermentasi.

Notes 2:

Iya, chapter 7 akan saya usahakan lebih panjang ya, hehe. Terima kasih masukannya! ^^