Panas memenuhi rongga mulutnya.

Rasa panas yang membakar memenuhi rongga mulutnya; dan pria itu memutar keran di wastafel terburu-buru dengan jari yang berkeringat. Ia menangkupkan telapak tangannya, menggunakannya untuk menampung air sebelum kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya sebanyak mungkin. Setelah berkumur beberapa kali, dibuangnya air itu—dan diulanginya proses tadi sampai rasa pedas yang memenuhi rongga mulutnya berkurang.

Tapi panasnya tidak hilang.

Ia menghela napas beberapa kali dengan terengah-engah, lalu membasahi bibirnya banyak-banyak dengan air tanpa berpikir panjang. Mungkin sekarang bagian atas bajunya sudah basah terkena cipratan air, tapi ia tidak terlalu peduli lagi.

Dibasuhnya mulutnya lagi beberapa kali, hingga rasa panas yang menyelubungi lidah dan bibirnya berangsur-angsur hilang. Ugh. Apapun yang dimasukkan anak itu ke dalam kuah ramennya—pasti jumlahnya tidak kira-kira. Ia sudah menduga kalau Sasuke pasti memasukkan cabe bubuk ke ramennya tadi, entah sebanyak apa—hingga menghasilkan rasa pedas yang tidak karuan di kuah ramennya.

Hmm…

Diputarnya keran hingga airnya berhenti, setelah itu ia mengangkat wajahnya dan menatap refleksinya yang ada di cermin. Wajahnya kini basah sepenuhnya, sekilas tampak seperti orang yang habis mandi.

Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan keras-keras, hingga tampak lebih kering dan tidak sekuyup tadi. Dalam hati, ia mengira-ngira mengapa reaksinya tampak berlebihan begini. Bagaimanapun juga, ia kan sudah bukan anak kecil lagi.

Kalau Sasuke melihatnya sekarang…

Pria itu menghela napas panjang,dan mengusap wajahnya lagi dalam diam.

.

'Sasuke, kenapa kau seperti itu…?'


Begitu pria itu kembali lagi ke meja, Sasuke mendapati kalau ia tidak menyentuh ramennya lagi setelah itu.

Sewaktu mata mereka berdua bertemu, pria itu hanya menatapnya dengan pandangan tak terbaca—sebelum kemudian ia menyesap ocha yang baru dipesannya lagi dan memutuskan kontak mata mereka berdua. Mangkuk berisi shoyu ramen yang isinya masih banyak terabaikan di hadapannya.

Naruto, yang kini sudah menghabiskan ramennya, melirik sekilas ke arah pria itu, mangkuk ramennya yang isinya masih banyak, lalu ke pria itu lagi—sebelum kemudian membuka mulutnya dan bertanya.

"Sudah tidak kepedasan lagi?" saudara tirinya bertanya dengan nada cemas, mata birunya menatap pria itu lekat-lekat dengan penuh perhatian—dan membuat Sasuke yang melihatnya merasa bersalah. Ehm, sedikit.

Kenapa Naruto harus mencemaskan pria itu,sih? Maksudnya, mereka berdua kan baru kenal tidak sampai beberapa jam… belum sampai sehari, bahkan. Sasuke tidak habis pikir.

Pria itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Naruto tadi, ekspresinya tidak tampak seperti orang yang baru habis kepedasan sama sekali. "Sudah tidak. Sepertinya aku menambahkan cabe bubuk terlalu banyak ke kuahnya tadi, haha," ia terkekeh kecil, mata hitamnya yang datar tampak menyipit sedikit ketika ia tertawa tadi.

Sasuke mengangkat alisnya; ia tahu kalau pria tadi berbohong (sudah yang keberapa kalinya, ya?) dan tawanya palsu, namun itu terdengar seperti... sungguhan.

"Oh, 'gitu ya," Naruto menyeruput habis kuah ramennya hingga tetes terakhir, sebelum kemudian mengunyah es batu yang tersisa di gelasnya. Sasuke di sebelahnya berjengit sedikit ketika mendengar bunyi gemeretak keras yang ditimbulkan saudara tirinya itu. Tidak heran kalau giginya keropos, dasar baka.

Pria itu lalu membuka ponselnya lagi, sejenak Sasuke mengira kalau ia hendak membalas pesan-namun ternyata ia hanya mengecek jam. "Sudah jam tiga. Kalian mau langsung kesana atau mau duduk-duduk dulu disini sebentar?"

"Langsung kesana," Sasuke membalas cepat. Pria itu mengangguk tanpa berkomentar apapun, lalu beranjak ke kasir untuk membayar.

"Ng... Sas'ke," Naruto menelan sisa es batu di mulutnya dengan terburu-buru, sebelum kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi dengan malas. "Hoaahm, aku masih kekenyangan, nih. Tunggu makanannya turun dulu," ia bergumam setengah mengantuk.

Sasuke melempar pandangan tajam padanya segera. "Tidak, baka," katanya tegas dengan nada tak bisa diganggu gugat, "Nanti makanannya juga turun sendiri kalau kau berjalan."

Naruto menegakkan posisi tubuhnya lagi, dan berdiri perlahan dengan setengah merengut. "Tsk, buru-buru sekali, sih," ia bangkit dari kursinya dengan ogah-ogahan, sebelum kemudian mengikuti Sasuke yang sudah berjalan lebih dulu keluar.

Beberapa langkah di depan, Sasuke berjalan dengan tangan dimasukkan ke saku, dalam hati bertanya-tanya; mengapa ia merasa kalau pria itu menyembunyikan sesuatu darinya. Entah apa, ia masih mengira-ngira akan hal itu.

Orang itu benar-benar membingungkan.


Begitu mereka tiba di pintu masuk kolam renang (naik bus, Sasuke lega mereka kesana tidak naik sepeda konyol itu lagi), Kushina sudah menunggu disana, dan segera menghampiri mereka seraya melambaikan tangannya ceria.

Sasuke memperhatikan pakaian yang dikenakan ibu…ehm, ibu angkatnya itu: kemeja putih dengan motif bunga-bunga dan topi pantai yang menempel di kepalanya. Ia tersenyum tanpa sadar. Ibu angkatnya terlihat benar-benar cantik, dan ia senang begitu memikirkan hal itu.

Duh, kenapa ia malah jadi senyum-senyum sendiri, sih.

"Terima kasih sudah mengantar mereka," Kushina tersenyum ceria pada pria itu, namun sejurus kemudian ekspresinya berubah dan ia terdiam sebentar, "…Uchiha-san."

"Sama-sama, Ku…" hah, kenapa pria itu malah tergagap? Meski hampir tak kentara, namun Sasuke dapat menangkap hal itu. "…Kushina-san. Terima kasih sudah mengizinkan Sasuke dan Naruto makan ramen bersamaku," ia membungkuk sopan, sebelum kemudian tersenyum kecil pada wanita itu.

Eh. Kenapa tingkahnya formal begitu?

Sasuke mencatat hal itu dalam hati: Pria itu bertingkah formal kepada Ibunya—padahal kalau dilihat-lihat sepertinya mereka berdua sudah saling kenal sejak lama.

Hmm.

"Oh, bukan apa-apa, U...chiha-san!" Kushina mengibaskan tangannya terburu-buru, lalu tertawa santai. "Seharusnya aku yang berterima kasih." Wanita itu melirik sekilas ke arah Naruto dan dirinya, sebelum kemudian mengernyitkan kening. "Naruto tidak menambah terlalu banyak, kan?"

Pria itu hanya tertawa kecil, sebelum kemudian menggeleng—sementara Naruto yang mendengar hal itu hanya melempar cengiran lebar pada Ibunya. "Tidak, Kushina-san. Sepertinya Naruto sangat suka ramen ya, ahaha," pria itu menaikkan tangannya perlahan dan mengacak rambut Naruto lembut, sementara Kushina tertawa geli melihat hal itu.

Sasuke menunggu dalam diam, sebelum kemudian menelan ludah. He? Itu saja? Pria itu tidak menyinggung tentang 'insiden cabe' yang tadi sama sekali…

Diliriknya pria itu diam-diam—namun sialnya, mata mereka berdua bertemu. Mata hitam pria itu memandanginya dengan tatapan penuh arti selama beberapa detik, sebelum kemudian Sasuke buru-buru melemparkan pandangannya ke arah lain.

Sial. Ia menyadari kalau pria itu tengah menatapnya dengan ekspresi seolah sedang… menahan senyum.

.

Ia tak tahu harus merasa kesal atau lega karena hal itu.


"Habis ini kau mau langsung pergi?" Kushina menghampiri pria itu—yang tengah berdiri menunggu di dekat pintu masuk—setelah mereka membeli tiket dan makanan kecil untuk di dalam.

Pria itu mengangguk. "Iya, Kushina-san. Aku mau langsung ke toko setelah ini."

Sasuke mengawasi pembicaraan mereka berdua dengan mata menyipit, sementara beberapa meter di sebelahnya—Naruto tengah melihat-lihat display kacamata renang yang dipajang di etalase seraya menenteng tas bawaan mereka.

"Oh? Kau masih bekerja di bakery yang waktu itu, kan?"

Pria itu mengangguk. "Aku pergi dulu, Kushina-san," ia membungkuk sopan—namun sebelum ia pergi, tanpa disangka-sangka Kushina menarik pelan tangannya.

"Eits, tunggu dulu," wanita itu menggoyang-goyangkan jarinya dengan alis berkerut. "Sini sebentar."

Pria itu terdiam sejenak, sebelum kemudian mendekat ke Kushina dengan ekspresi bingung.

Kushina membungkukkan badannya sedikit, dan memegang dagu pria itu dengan tangannya cepat—sebelum kemudian mengecup dahinya. "Jaga dirimu. Selamat bekerja, ya!"

Sasuke melongo.

Di sisi lain, pria itu tampak mematung selama beberapa detik—sebelum kemudian mengusap-usap bagian bawah hidungnya dengan canggung,dan menatap Kushina dengan rona kemerahan yang bersemu di pipi pucatnya.

"Terima kasih, Kushina-san! Maaf merepotkan," ia membungkuk pada Kushina sekali lagi; kali ini lebih dalam—sebelum kemudian berbalik dan berjalan ke pintu keluar.

Kushina menatap kepergian pria itu dengan sorot lembut di matanya. "Dadah!" katanya seraya melambaikan tangannya ceria. Namun begitu ia berbalik, ia menemukan Sasuke yang tengah berdiri menatapnya dengan mata melebar menyaingi bola pingpong.

"O…okaa-san—?"


"Nona Tsunade, maaf aku terlambat," pria itu menutup pintu kaca di belakangnya dengan bunyi denting pelan dari lonceng yang menggantung di atas pintu itu—sebelum kemudian memasuki toko perlahan dan berhenti ketika mendapati pemandangan yang ada di konter.

Si pemilik toko sedang tertidur di meja kasir, botol sake yang isinya tinggal seperlimanya berada di samping mesin pencetak struk.

Pria itu terdiam sejenak, dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sepertinya rekan kerjanya yang satu lagi sedang tidak ada. Ia membalikkan badannya dan melirik ke arah pintu, mendapati kalau papan penanda yang menempel disana sedang memajang tulisan "TUTUP" yang mengarah ke depan.

Oh. Ia tidak tahu apakah wanita itu memang lupa membalik papan penandanya, atau toko itu memang belum buka dari seharian tadi.

Atau mungkin, papan itu lupa dibalik sehabis istirahat siang.

Pria itu mengecek persediaan roti dan cupcake yang ada di etalase—mendapati kalau beberapa di antaranya sudah kosong. Oh, berarti toko itu memang sempat buka tadi pagi. Ia mengambil sapu yang ada di tempat penyimpanan di bagian belakang toko, lalu menyapu lantai tanpa suara. Dalam hati ia menambahkan catatan untuk mengepel toko itu sepulang kerja, karena lantainya kelihatannya sudah agak… kusam dan berdebu.

Selesai membuang debu hasil sapuannya tadi ke tempat sampah di belakang toko—ia menghampiri pemilik toko itu yang masih tertidur di meja kasir untuk membangunkannya.

"Nona Tsunade," ia mengguncang pundak wanita itu perlahan. "Sudah sore."

Wanita itu masih tidak bergeming.

"Nona Tsunade…" ia mengguncang pundak wanita itu lagi beberapa kali—sebelum akhirnya wanita itu berjengit dan membuka matanya perlahan.

"Ng…" ia menguap, lalu menggosok-gosok matanya selama beberapa detik. "Oh? Kau sudah datang, Uchiha," ia menguap sekali lagi, sebelum kemudian bangkit dan menyandarkan badannya ke kursi.

Pria itu menatapnya tanpa mengatakan apapun, mendapati kalau mata wanita itu tampak merah dan berair. Pelipisnya basah oleh keringat dan napasnya berbau alkohol. Efek kebanyakan sake, seperti biasa. Ia menghela napas panjang dalam hati. Bukan hal yang mengagetkan kalau mengenal kebiasaan wanita pemilik tempat kerjanya itu.

"Aku ambilkan air," ia segera berbalik, lalu mengambil segelas air dari dispenser yang ada di belakang toko. Air yang ada di galonnya sudah hampir habis, dan ia mencatat dalam hati untuk mengganti galon airnya besok.

Wanita itu segera menghabiskan airnya dalam tiga tegukan begitu menerima gelas tadi. "T'rima kasih, Uchiha," katanya seraya mengelap sisa air yang menempel di bibir dan dagunya, sementara pria itu memperhatikan kalau suara wanita itu terdengar seperti agak diseret-seret. Sebenarnya ia tadi minum berapa banyak; pria itu mengira-ngira dalam hati.

Sebenarnya ia sudah beberapa kali menyarankan wanita itu untuk melepaskan kebiasaan minumnya—belum lagi rekan kerjanya yang tak bosan-bosannya mengingatkan wanita itu, pagi - siang - sore; bahkan sampai menyembunyikan persedian sakenya. Namun sepertinya usahanya nihil. Wanita itu, Tsunade Senju, tetap saja setia pada kebiasaan minumnya yang gila-gilaan.

Kadang-kadang pria itu diam-diam mengira-ngira mengapa wanita itu tidak pernah terkena maag atau semacamnya. Pengetahuan medisnya memang tidak terlalu memadai, namun ia tahu kalau terlalu banyak alkohol bisa melukai lambung.

"Tadi Shizune pulang jam dua," wanita itu menaruh gelasnya di meja, menatapnya dengan mata cokelat yang masih memerah karena efek alkohol. "Sebenarnya kalau kau mau tidak masuk hari ini tidak apa-apa, Uchiha…" tukasnya santai, "kita bisa tutup lebih awal, fufufu."

Pria itu terdiam sejenak, sebelum kemudian berkedip sekali. "Hm, rotinya belum habis, Nona Tsunade," ia melirik sekilas ke etalase. "Kita buka sebentar lagi saja, sampai jam enam, mungkin."

Kadang-kadang ia bingung mengenai jam operasional toko itu sebenarnya, yang ditentukan oleh Tsunade dengan sesuka hati.

"Ng…" wanita itu menggosok-gosok matanya lagi, sebelum kemudian menyingkirkan beberapa helai rambut yang mengenai wajahnya. "Yah, terserah kau saja," Tsunade menegakkan badannya sedikit, dan beranjak ke belakang untuk mengambil air lagi. Tapi sebelum ia membuka pintu, ia menghentikan langkahnya sejenak—dan berbalik menatap pria itu yang kini sedang menata susunan roti di etalase.

"Hei, Uchiha? Mukamu tampak berseri-seri hari ini," ia mengangkat alisnya sedikit, sebelum kemudian menyeringai samar. "Biasanya mukamu sedatar aspal, hm…"

Pria itu menghentikan kegiatannya sejenak, sebelum kemudian tersenyum kecil. "Oh? Biasa saja, Nona Tsunade."

Wanita itu mengangkat alisnya lebih tinggi, sebelum kemudian terkekeh pelan. "Habis bertemu seseorang, ya? Hoh, tidak kusangka kalau kau bisa punya pacar, fufu."

Pria itu mengangkat wajahnya sedikit, lalu menggeleng tanpa menghentikan kegiatannya. "Bukan pacar, Nona Tsunade. Tapi… seseorang," ia terdiam sejenak, sebelum kemudian menatap wanita itu dengan senyum yang membayang di mata hitamnya. "Seseorang yang sudah lama tidak bertemu."


.

.

Bersambung…


A-N: Terima kasih kepada yassir2374, Kanar sasku, efi astuti 1, Fura-chan Sawayaka, dan SaSaSarada-chan yang telah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^

Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D


nb: there is no romance in this story, in case you're wondering. ;)