Kushina menatap kepergian pria itu dengan sorot lembut di matanya. "Dadah!" katanya seraya melambaikan tangannya ceria. Namun begitu ia berbalik, ia menemukan Sasuke yang tengah berdiri menatapnya dengan mata melebar menyaingi bola pingpong.

"O…okaa-san—?"


Paper Clips

.

.

[chapter 8!]


"O…okaa-san—?"

Kushina memiringkan kepalanya sedikit, sebelum kemudian menghampiri anak itu dengan raut bingung. "Eh? Kenapa mukamu kaget begitu, Sasuke?"

Sasuke mengatupkan mulutnya yang tadi setengah terbuka dengan terburu-buru, lalu membukanya lagi untuk mengatakan sesuatu—namun yang keluar hanya gumaman tidak jelas. Sial. Akhirnya setelah beberapa detik berlalu dan Kushina yang raut wajahnya tampak makin bingung—anak itu melemparkan pandangannya ke samping dan menghela napas keras-keras.

"Ehm…" ia menatap Kushina dengan kening berkerut, mata hitamnya membulat lebar. "Okaa-san, kenapa…" terdiam sejenak, Sasuke melempar pandangannya ke samping sebelum kemudian menatap wanita itu lagi. "Kenapa Okaa-san mencium…" alisnya berkerut dalam seakan itu adalah sebuah kata yang mengesalkan, "…pria itu?"

Sasuke buru-buru menggosok-gosok bibirnya dengan punggung tangan setelahnya, heboh sendiri seakan ia baru saja mengucapkan sebuah kata yang beracun.

Kushina mengangkat alisnya, memandangi wajah anak angkatnya yang tampak seakan baru saja menonton sebuah adegan di film horor, sebelum kemudian mata violetnya melebar sedikit—dan ia tertawa terbahak-bahak setelah itu.

Sasuke melongo.

"Huahahahahaha… oh, Sasuke," Kushina berkata di sela-sela tawanya seraya menggeleng-gelengkan kepala, sebelum kemudian tawanya mereda—namun kilatan geli tidak hilang dari sepasang mata violetnya. "Ckckck, memangnya kenapa? Mukamu sampai jadi horor begitu," ia mencondongkan badannya sedikit, lalu mengacak rambut anak itu seraya terkekeh kecil.

"Hah…?" Sasuke buru-buru mengatupkan mulutnya lagi, dan bibirnya berubah menjadi segaris tipis dengan sudut-sudut yang menekuk ke bawah. "T-tapi, Okaa-san…!"

Kushina memiringkan kepalanya sedikit, sebelum kemudian membungkukkan badannya dan berlutut hingga tinggi mereka berdua kini sejajar. "Tadi sama saja seperti ketika aku mencium dahimu dan Naruto sebelum tidur, Sasuke sayang," wanita itu menatap anak laki-laki di depannya lekat-lekat, senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Tapi, dia kan—hmmph!"

Sebuah jari telunjuk yang lentik menempel di bibir tipis anak itu, sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya. Sasuke menatap ibu angkatnya dengan raut terkejut bercampur bingung.

"Sasuke… apa kau percaya kalau dia itu benar-benar Ayahmu?" bisik Kushina seraya tersenyum lembut.

Sepasang mata hitam milik Sasuke melebar dalam keterkejutan pada pertanyaan tiba-tiba barusan.

"Aku…" ia menghela napas panjang sejenak, sebelum kemudian wajahnya kembali ke ekspresi tenang seperti biasa. Ia mencoba mengontrol emosinya sepenuhnya.

"Aku tidak yakin… Okaa-san."

Di luar dugaan, Kushina tampak puas dengan jawaban itu.

"Heheh, kau ini memang anak yang kritis, ya?" wanita itu terkekeh geli, lalu bangkit berdiri dan mengacak rambut Sasuke seraya tersenyum lebar. "Nah, mana Naruto? Oh, disana. Ayo kita tarik dia sebelum dia sempat minta jajan macam-macam…"

Sejurus kemudian, Sasuke mendapati jari-jari lentik Kushina sudah menggandeng pergelangan tangannya erat—namun mendadak, ibu angkatnya menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arahnya dengan sorot lembut yang menari-nari di matanya.

"Oh ya, Sasuke? Tenang saja, kau tidak perlu khawatir…" Kushina tersenyum ceria, menghiraukan ekspresi Sasuke yang kini tampak bingung sepenuhnya. "Dia itu anak yang baik."


.

.



Selesai berenang, pria itu sudah menunggunya di pintu keluar—persis seperti yang diduga Sasuke. Hn. Ia tak tahu harus merasa ingin tertawa atau kesal karena ketepatan perkiraannya itu.

"Wah, tuh kerabatmu sudah datang, Sasuke," Naruto dengan ceria melambaikan tangannya sambil nyengir lebar pada pria itu—yang menanggapinya dengan balas melambai canggung. "Kau habis ini ke rumahnya dia lagi, kan? Pasti asyik ya menginap di tempatnya, orangnya baik sih."

"…"

Sasuke hanya meringis kecil seraya menekan-nekan pelipisnya yang mendadak berdenyut-denyut. Entah karena ocehan berisik saudara tirinya atau melihat muka datar pria itu, ia tidak tahu.

(Mungkin dua-duanya.)

"Oh, kau langsung kesini dari tempat kerja, ya?" Kushina segera menghampiri pria itu, meninggalkan Naruto dan Sasuke yang kini berada beberapa langkah di belakangnya. "Pasti capek sekali. Ayo duduk dulu," mata violetnya memandang berkeliling mencari tempat duduk yang kosong di sekitar situ. "Kubelikan minuman hangat… hmm, kau mau apa? Kopi atau ocha?"

"Aku mau beli soda susu, Kaa-san!"

"Hush, aku tidak tanya kau, Naruto," Kushina menjitak kepala bocah berambut pirang itu pelan, sementara yang dijitak cuma cengengesan. Sasuke hanya menonton dengan pasif, sesekali melempar tatapan awas pada pria yang berada beberapa langkah di depannya itu.

"Terima kasih untuk tawarannya, Kushina-san," pria itu menjawab sopan, seraya menggeleng sedikit. "Tidak usah repot-repot," ia mengibaskan tangannya beberapa kali, memberikan gestur menolak secara halus. Namun hal itu sepertinya direspon lain oleh Kushina.

"Jangan begitu, kau tidak merepotkan sama sekali, kok," Kushina memprotes pernyataannya barusan. "Atau kau mau beli minuman dingin saja?"

"—Tapi aku tadi tidak boleh, Kaa-san!" Naruto merengut, menghasilkan satu jitakan lagi yang mendarat di kepalanya. "Aw!"

'Baka…' Sasuke di sebelahnya mengomentari dalam hati, mengabaikan Naruto yang meringis sebelum kemudian mengalihkan perhatiannya kembali ke pria itu.

"Tidak usah, terima kasih, Kushina-san," pria itu menolak lagi, kali ini dengan nada lebih serius. "Sasuke boleh menginap di tempatku lagi kan malam ini, Kushina-san? Jika Kushina-san tidak keberatan…"

(Sialsial.)

"Ooooh, tentu saja boleh! Ngapain minta izin lagi, sih, kan kemarin sudah kubilang kalau ia pulang hari Minggu," Kushina berkata ceria seraya menepuk-nepuk pundak pria itu bersemangat. "Santai saja, ehm… Uchiha-san. Sasuke juga senang kok, iya kan Sasuke?" mata violet wanita itu segera beralih ke bocah berambut hitam di belakangnya, memasang senyuman lebar yang Sasuke tahu betul apa artinya.

'Bilang iya atau kau rasakan akibatnya.'

Sasuke pikir ia masih cukup pintar untuk menjaga keselamatan dirinya, jadi sebagai gantinya ia hanya mengangguk dan Kushina pun menyeringai puas.

"Nah, selamat menginap, Sasuke!" ibu angkatnya itu menggandeng pergelangan tangannya mendadak, sebelum kemudian menariknya mendekat ke arah pria itu—mengabaikan ekspresi Sasuke yang kini tengah meringis dengan kentara.

"Dadah, Sasuke! Pulang bawa oleh-oleh yaa!" Naruto melambai ceria dari belakang.

Kushina memasang senyum terbaiknya pada pria itu dan dirinya—namun Sasuke dapat melihat dengan jelas kilatan tegas yang berada di mata violet ibu angkatnya itu. "Baik-baik ya disana! Jangan nakal, Sasuke," ia mewanti-wanti dengan senyum, ehm, lebar.

Sasuke menelan ludah.

"Terima kasih sudah mengizinkan Sasuke menginap lagi, Kushina-san," pria itu membungkuk sopan, sebelum kemudian tersenyum pada Naruto. "Sampai ketemu besok sore, Kushina-san, Naruto-kun."

Kushina maju selangkah, lalu mengacak rambut pria itu ringan. "Hati-hati di jalan!"

.

.

Di sisi lain, Sasuke hanya bisa menggerutu dalam hati. Sialsialsial. Ia sama sekali tidak punya pilihan…


Pria itu menggandeng tangannya perlahan ke tempat parkir, mengabaikan Sasuke yang dari tadi meronta-ronta minta dilepas—bahkan sampai mencengkeram tangan pria itu hingga meninggalkan bekas kuku. Begitu sampai di tempat parkir, pria itu baru melepaskan tangannya.

Sasuke mengernyitkan keningnya dengan curiga begitu pria itu melewati deretan motor, dan berhenti di sudut tempat sesuatu beroda dua yang sangat dikenalnya terparkir.

"Sepeda lagi…?" Sasuke mendelikkan mata hitamnya pada pria itu, yang hanya merespon dengan anggukan disertai senyuman kecil. "Kukira kau kesini bawa motor!"

Jentikan pelan mampir di dahinya segera—sebelum ia sempat mengelak. "Maaf ya, Sasuke. Lain kali aku akan mengganti jok boncengannya jadi yang lebih empuk—"

"…Berhenti menyentuh jidatku seperti itu! Argh!"


Dan, perjalanan panjang penuh tekanan dan menguji kesabaran—setidaknya bagi Sasuke—pun kembali dimulai.


.

.

Bersambung…


Next chapter—

.

.

"Kau berbau seperti roti bakar."

.

.

.

"Semua orang suka manis, bukankah begitu?"

"Cih, aku tidak."

"Tentu saja, kau adalah pengecualian spesial."

.

.

.

"Kau paling suka rasi bintang yang mana?"

"Tidak ada."

"Sungguh?"

"Kubilang, tidak ada. Bagiku itu cuma kayak titik-titik tak jelas."

.

.

"Lihat. Yang itu pundaknya, sedangkan sudut yang di sebelah situ membentuk panahnya."

"…"

.

.

.

"Apa kau benar-benar Ayahku…?"


.

.


dari yang ngetik:

sebelumnya, maaf kalo Author Notes kali ini lebih panjang dari biasanya. ada beberapa hal yang pengen ane sampaikan...

- maaf kalo update-nya agak lama. lagi hectic di RL minggu2 ini.

- sori word per-chapternya masih gak panjang. ane ga sempet ngetik lama2, dan serius, karena laptop-nya pinjem2an jadi waktu makenya dijatahin.

- btw warna matanya Kushina sebenernya apa, sih? -_-"

- kalau ada typo atau kesalahan EYD, jangan ragu buat ngoreksi, ya! ;)

dan juga...

- makasih buat yang udah ngereview, nge-fave, nge-follow, dan buat siapapun yang udah sabar ngikutin cerita ini. untuk yang ngereview, makasih banyak, bacain komen sama masukan dari anda beneran bikin ane bahagia. :')


A-N: Terima kasih kepada yassir2374, Fura-chan Sawayaka, Kanar sasku, efi astuti1, dan AbigailItaSasu yang telah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^

Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D