Mereka melintasi pinggiran jalan raya, berbelok ke tikungan, melintasi jalan kecil—Sasuke dalam hati menghitung berapa kali mereka melewati polisi tidur yang melintas di jalan, atau undakan lain yang ada—dan memperhatikan betapa pria itu adalah pengemudi, err, pengendara sepeda yang lihai karena selalu berhasil memelankan sepedanya di detik-detik terakhir menjelang melewati sebuah undakan di semacamnya, hingga guncangannya hampir tak terasa.
Bukan berarti ia menikmati perjalanan konyol ini, sih.
Pinggangnya keram.
Sasuke menghela napas panjang keras-keras, lalu mengeluh dalam hati. Kapan sampainya ini. Kenapa pria itu tidak beli motor saja kalau tahu tempat tinggalnya begitu… jauh.
Dalam jarak sedekat ini, ia dapat memperhatikan sosok pria itu lebih jelas dan tentunya lebih detil. Walaupun hanya dari belakang sih, dan yang kelihatan punggungnya saja—tapi dari hasil pengamatannya, Sasuke dapat menyimpulkan beberapa hal.
Satu, pria itu selalu mengenakan baju lengan panjang. Sekarang ia tengah mengenakan kaus biru tua dengan kerah putih, ujung lengannya yang melebihi pergelangan tangan tidak digulung sama sekali. Padahal kebanyakan orang akan menggulung lengan bajunya kalau kepanjangan, terlebih jika mereka sedang melakukan suatu aktivitas. Tapi sepertinya pria ini tidak termasuk dalam kategori 'kebanyakan orang', hn...
Dua, pria itu tidak memiliki tubuh yang (terlihat kuat?) kekar. Badannya ramping dan biasa saja, bahkan bisa dibilang kurus. Bahunya tidak bidang, dan kelihatan agak turun. Ketika ia mencondongkan badannya sedikit untuk mengubah kecepatan sepedanya, Sasuke dapat melihat bayangan samar dari otot-otot punggung yang menonjol di balik kaus yang dipakainya. Pria itu orang yang kurus sekali, kalau begitu.
Tiga, rambutnya tidak kotor. Dari jarak sedekat ini, Sasuke memperhatikan kalau rambut pria itu, yang pendek sebatas pangkal leher, terlihat halus dan tidak berminyak sama sekali. Sepertinya pria itu tipe yang rajin keramas dan selalu memperhatikan kebersihan dirinya. Ehm, 'rajin keramas' sama sekali bukan fakta yang penting, sih.
Empat, dari jarak sedekat ini, Sasuke dapat mencium kalau pria itu berbau seperti… roti bakar.
Iya, roti bakar. Bukan bau yang cocok untuk seorang bapak-bapak, emm… maksudnya, seorang pemuda, sih. Bau seperti itu lebih cocok untuk dimiliki seorang ibu-ibu yang hobinya memasak, atau… yah pokoknya seperti itu, lah.
Ia merasa konyol begitu menyadari alur berpikirnya yang terhenti seketika lalu macet mendadak. Cih. Padahal barusan ia merasa seperti seorang detektif profesional yang jago banget menebak banyak hal dari seorang tersangka cuma sekadar melihat penampilannya saja.
Dari sekian hasil pengamatannya di atas, ia tak bisa menyimpulkan sesuatu yang penting dan terdengar mengejutkan. Cuma sekadar fakta-fakta remeh saja…
.
Seraya mendengus pelan, Sasuke menggaruk rambutnya yang terasa sedikit gatal—dan menghela napas keras-keras.
Hari sudah menjelang petang ketika pria itu membawa sepedanya melintasi sebuah distrik perbelanjaan—jalanan ramai dengan deretan pedagang kaki lima dan stan-stan kecil di sisi-sisinya. Sasuke terkejut sejenak ketika menyadari kalau pria itu telah memelankan laju sepedanya, sebelum kemudian berhenti dan menoleh untuk berbicara padanya.
"Sasuke, kau mau beli apa untuk makan malam?"
Pria itu memandanginya lekat-lekat dengan mata hitamnya yang kalem, menunggu jawabannya dengan sabar sementara ia melihat-lihat berkeliling. Selang beberapa detik kemudian, ia menghela napas pendek dan akhirnya memutuskan pilihannya.
"Yakitori."
"Oh? Hmm," pria itu tersenyum, mata hitamnya yang kalem menyipit sehingga hampir serupa bulan sabit ketika ia melakukan itu—dan Sasuke buru-buru melempar pandangannya ke samping. Ia tak tahu apa yang membuat pria itu tampak begitu bahagia (ceria? senang?) hanya karena mendengar sepatah kata yang diucapkannya tadi.
Baka… dasar orang tidak jelas.
Mereka tiba di stan yang menjual yakitori beberapa saat kemudian. Pria itu turun dari sepeda dan menurunkan standarnya, lalu menghampiri stan untuk memesan dengan Sasuke yang berdiri seraya menjaga jarak di sampingnya.
"Kau mau berapa tusuk, Sasuke?"
Ia terdiam sejenak. "Dua," balasnya singkat.
Pria itu menaikkan alisnya. "Dua saja? Nanti keburu habis sebelum kau menghabiskan nasimu."
"…"
Sasuke hanya melempar pandangannya ke samping tanpa menjawab pertanyaan pria itu. Kalau dua ya dua, ngapain tanya-tanya lagi sih. Orang ini ternyata bawel juga.
Namun rasa terganggunya segera lenyap seketika dan berubah menjadi ekspresi bingung ketika mendengar pria itu bilang "pesan tiga, ya," pada si penjual.
Sasuke mengangkat wajahnya, lalu memandang pria itu dengan kening berkerut. "Tadi kan kubilang dua."
Pria itu hanya mengangguk, seraya mengeluarkan gumaman samar seperti tanda setuju.
"Terus ngapain pesan tiga?" ia bertanya dengan nada sewot, sebelum kemudian sebuah kesimpulan mendadak terbersit di pikirannya. "Oh, satunya lagi untukmu, ya. Hn."
Di luar perkiraannya, pria itu menggeleng. "Bukan."
"Terus buat siapa? Aku kan cuma pesan dua—"
Sebuah jentikan mendadak mampir di dahinya, dan kali ini Sasuke berjengit dengan kentara—kaget sekaligus kesal karena tak sempat mengelak. "Hei! Sudah ku—"
"Tentu saja itu buatmu," potong pria itu lembut sebelum ia sempat marah-marah lebih jauh. Mata hitamnya menyipit lagi—hampir serupa bulan sabit—seiring dengan senyuman hangat yang melintas di wajahnya. "Kau sedang dalam masa pertumbuhan, jadi harus makan banyak."
Ia mengalihkan pandangannya lagi dari Sasuke setelah itu, mengambil yakitori-nya dan membayar, lalu menaruh kantong kertas berisi yakitori ke keranjang sepedanya. Standar dinaikkan, lalu ia mengambil tempat di sadel—seraya mengisyaratkan Sasuke untuk naik ke belakang, tanpa mempedulikan tatapan sewot yang diberikan anak itu padanya.
"Pegangan ya, Sasuke—"
"Argh! Aku minta turun, nih!"
"…"
Di luar dugaan, ternyata sepeda melaju hanya sekitar beberapa meter dari situ, dan berhenti di depan penjual dango. Sasuke turun tanpa mengatakan apapun, sementara pria itu menghampiri si penjual.
"Kau mau dango, Sasuke?" tawarnya, suaranya ramah seperti biasa. Sasuke membayangkan ia pasti sedang tersenyum lagi saat ini. Dalam hati ia berharap bibir pria itu pegal agar ia berhenti tersenyum-senyum mengesalkan seperti itu lagi.
"Tidak."
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan ramai itu, sementara pria itu memesan. Di sebelah penjual dango, ada penjual jagung bakar… setelahnya, stan kecil yang menjual aksesoris ponsel, lalu ada stan yang menjual DVD.
Pandangannya berhenti pada stan terakhir.
Deretan film-film keluaran terbaru dari berbagai genre terpajang di display. Film kartun, film horor, film cinta-cintaan, film action, bahkan anime—semuanya ada. Ia menggeser posisinya beberapa langkah ke samping seraya memicingkan matanya untuk melihat cover-cover film yang ada dengan lebih jelas.
"…semalam aku habis menonton film bersama Tou-san sampai jam satu."
"Lagipula dari dulu aku ingin mencoba begadang, tidur cepat kan hanya untuk anak bayi."
Kata-kata Naruto tadi pagi sewaktu di kelas kembali terngiang di kepalanya tiba-tiba. Ia menyeringai dalam hati. Fufu. Inilah saat yang tepat! Nanti malam ia bisa begadang sepuasnya nonton film, melebihi jam tidur Naruto kemarin. Pria itu pasti tak akan memarahinya, mengingat tingkahnya yang kelewat lembut seperti itu... kayaknya sih dia sama sekali bukan tipe yang galak dan bisa marah-marah. Nanti malam pasti bisa bebas tidur jam berapa saja semaunya karena tidak ada ibunya yang super tegas itu.
Fufufu.
Duh, sepertinya di balik keterpaksaannya menginap saat ini ternyata ada untungnya juga, ya.
Mata hitamnya yang terpicing masih menuruni display DVD yang dipasang menggantung ke bawah—hingga mendadak pandangannya berhenti di sebuah judul dengan cover seorang anak berkacamata berambut mencuat yang sangat dikenalnya, berlatar piano dan pantai dengan langit malam.
OVA 4 – The Moonlight Sonata Murder Case
Serial detektif kesukaannya dan Naruto. Itu pasti OVA yang terbaru…!
Begitu pria itu selesai membeli dangonya, ia mendapati Sasuke tengah berdiri dengan mata terpicing fokus pada sesuatu—dan ia mengikuti arah pandangan anak itu.
Oh.
"Sasuke, kau mau beli DVD?" tawarnya segera tanpa berpikir panjang. Bukan sifatnya yang biasa—ia selalu menimbang matang-matang sebelum melakukan atau menawarkan sesuatu pada orang lain, namun ketika berhadapan dengan Sasuke; entah kenapa ia kadang berubah jadi agak… impulsif.
Anak itu segera mengangguk, kilatan antusias membayang kentara di mata hitamnya—dan sedetik setelahnya ia menemukan dirinya mengikuti anak itu menghampiri stan DVD, seraya menuntun sepedanya.
"Kau mau film apa, Sasuke?" tanyanya seraya melihat deretan DVD yang terpasang di display. Tanpa basa-basi, anak itu langsung menunjuk sebuah DVD anime dengan cover seorang anak laki-laki berkacamata—berlatar sebuah grand piano dan pantai di belakangnya, serta langit malam yang membentang di bagian atas cover.
Ia hampir berjengit sedikit begitu membaca judul yang terpampang.
OVA 4 – The Moonlight Sonata Murder Case.
Kata yang depannya M dan diakhiri dengan R itu langsung menyita perhatiannya segera.
"Sasuke, kau yakin mau menonton yang ini?" Ia mengedarkan pandangannya ke deretan judul lain yang ada, berusaha menemukan rekomendasi lain yang lebih… ehm, bersahabat untuk anak seusia Sasuke. "Bagaimana kalau yang ini saja?" Ia menunjuk DVD yang cover-nya bergambar dinosaurus berleher panjang dengan latar belakang kerlap-kerlip.
Sasuke menggeleng sengit. "Tidak mau. Itu film untuk anak TK, tahu," balasnya setengah mencibir.
Oke, waktunya cari rekomendasi lain. "Kalau yang ini?" ia menunjuk DVD lain, cover-nya bergambar panda yang tengah berpose menendang, dengan latar belakang pagoda dan langit senja di belakangnya.
Sasuke menggeleng lagi. "Basi, aku sudah pernah menonton yang itu sama Naruto," balasnya seraya menyeringai lebar. Pria itu terdiam sejenak, lalu buru-buru mencari rekomendasi lain lagi—
"Percuma, pokoknya aku mau yang ini." ia tetap berkeras pada pilihannya dari awal. Namun sejurus kemudian, ekspresinya berubah. "Kalau kau tidak mau membelikan aku DVD, bilang saja," ia menghela napas panjang dengan nada kecewa.
Kilatan yang menyerupai rasa bersalah muncul di mata hitam pria itu sekilas—dan ekspresinya langsung melunak. "Bukan begitu, Sasuke… hanya saja film yang tadi itu bukan untuk anak seusiamu. A—"
"Kenapa memangnya? Itu kan anime, bukan film cinta-cintaan atau semacamnya."
Pria itu melempar pandangannya ke samping selama beberapa detik, sebelum kemudian menatap Sasuke lekat-lekat. Ekspresinya tampak lelah, dan cekungan tipis yang ada di bawah matanya terlihat lebih dalam. "Ada pembunuhannya. Sasuke."
Sasuke hanya mengangkat bahu, ekspresinya acuh tak acuh. "Itu serial detektif, wajar saja kalau ada pembunuhannya, kan," tukasnya santai. "Aku dan Naruto sudah mengikuti serial ini dari dulu, kok."
Pria itu mengerjapkan matanya sekali, lalu menatap Sasuke dengan intens selama beberapa detik—dan menghela napas panjang akhirnya sebelum kemudian memutuskan kontak mata itu.
.
"Aku ambil yang ini," ia berpaling ke penjual yang dari tadi memperhatikan mereka berdua di konter. "Berapa harganya?"
Mereka tiba di flat ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Selesai menaruh ransel dan makanan yang baru dibeli tadi di meja, pria itu menawarkan Sasuke untuk mandi lebih dulu.
Sasuke menaikkan alis seraya menyeringai tipis. "Aku sudah mandi disana tadi, habis berenang." Sejurus kemudian ia terdiam, mendadak teringat sesuatu.
"Kau berbau seperti roti bakar," gumamnya spontan.
Pria itu menaikkan alis, kilatan geli muncul di mata hitamnya.
"Oh, ya?"
Sasuke mengangguk, namun tidak membalas apapun. Dalam hati ia merasa konyol—duh, kenapa ia malah memberitahu hal tidak penting begitu, sih.
Namun pria itu sepertinya menganggap itu hal yang biasa, dan tertawa kecil setelahnya. Setelah meraih handuk yang ada di gantungan dan membuka lemari untuk mengambil beberapa lembar pakaian ganti—pria itu berlalu ke kamar mandi.
.
.
Kini tinggal Sasuke sendirian di ruang utama flat itu.
Ia menyeringai senang dalam hati. Nah…
Jadi, sementara menunggu pria itu mandi, Sasuke memutuskan kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan 'penyelidikan'nya. Dimulai dari barang-barang pria itu—ia pasti takkan leluasa melakukannya kalau si pemilik ada bersamanya saat ini.
Pemeriksaannya diawali dari meja belajar yang ada di ruangan itu. Ada buku-buku yang disusun berdiri dengan standing dari besi sebagai penahannya, kaleng berlapis karton yang berisi alat tulis, dan tumpukan kecil kertas, yang berada di atasnya. Ia menelusuri judul-judul buku yang ada, membacanya satu-persatu dalam hati. Kimia Dasar. / Kumpulan Resep Camilan Praktis. / No System is Safe (itu buku tentang apa?). / Teori Perkembangan: Mekanisme dan Pembahasan. / Kue-kue Kering untuk Hari Raya. / Bertanam Tomat dalam Pot. / Atlas Dunia. / Apa Yang Anak Inginkan? / Tips Membuat Pastry Enak & Renyah. / Kompilasi Teka-Teki Silang Edisi Spesial. / Serba-serbi Roti dan Cake untuk Pemula / …
"…"
.
.
Duh. Koleksi bukunya benar-benar tak bisa ditebak. Sasuke memicingkan matanya,seraya berpikir dalam hati. Hmm. Ia tidak bisa menemukan satu tema yang menghubungkan semua judul-judul tadi—karena topiknya terlalu bermacam-macam. Namun sepertinya, ia dapat menyimpulkan satu hal dengan pasti.
Pria itu memiliki ketertarikan dalam memasak.
Sekarang ia tahu kenapa pria itu berbau seperti roti bakar sewaktu di sepeda tadi. Pria itu bekerja di bakery,dan kelihatannya ia juga bertugas membuat roti-roti yang dijual disana. Atau mungkin, sekadar memanggangnya saja dan menata di etalase. Hmm. Sepertinya sih ia mengerjakan dua-duanya.
Perhatiannya beralih ke tumpukan kecil kertas yang ada di sudut meja, dan melihat isi dari beberapa lembar kertas yang teratas. Laporan Penjualan - Agustus. Daftar Belanja Senju Bakery - Juli. Daftar Belanja Senju Bakery – September. Laporan Penjualan – Juli. Daftar Inventaris Barang…
"…"
Sasuke memutuskan kalau kertas-kertas yang berada setelahnya pasti memiliki isi hampir sama, dan ia tak tertarik. Waktunya mungkin tinggal sedikit lagi sebelum pria itu selesai mandi. Dengan mengabaikan kertas-kertas selanjutnya, ia langsung mengambil kertas paling bawah—berpikir kalau isinya mungkin berbeda, dan memiliki petunjuk menarik.
…Eh?
Ia tertegun sejenak. Sesuatu yang nampak seperti lembar kertas ulangan tergenggam di tangannya, dengan deretan angka dan simbol-simbol disertai tanda panah yang tertulis di bawah setiap pertanyaan. Soalnya essai.
Ia membaca tulisan yang tertera di bagian atasnya. Kimia. Ulangan Harian – Redoks. Tanggalnya; bulan Maret dua tahun lalu. Lalu di sudut paling kanan, tertulis dengan tinta merah: 90.
Sasuke mengernyitkan keningnya, namun tertegun sejenak ketika melihat nama yang tertulis di sudut atas paling kiri kertas itu.
.
.
Uchiha Itachi.
10 – A.
'Uchiha…?'
.
Sasuke menahan napas. Ini… kertas ulangan milik siapa? Apa—
Fokusnya segera buyar begitu mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. Dengan panik yang kentara ia segera menaruh kertas itu lagi di atas meja—bahkan tak sempat untuk menaruhnya di paling bawah seperti sebelumnya—dan buru-buru menarik tangannya lagi, lalu berjalan beberapa langkah menjauhi meja itu.
"Sasuke… maaf jadi membuatmu menunggu," pria itu menghampiri Sasuke seraya tersenyum—rambutnya tampak masih agak basah, dan kini ia mengenakan kaus lengan panjang berwarna abu-abu dengan bahan serupa sweater sebagai ganti bajunya yang tadi. Dijemurnya handuk di sandaran kursi yang ada di depan meja belajar, dan berpaling ke Sasuke—namun langsung mengernyitkan keningnya begitu melihat ekspresi Sasuke yang tampak waspada dan agak pucat.
"Ada apa, Sasuke?" ia menatap anak itu lekat-lekat, nada cemas terselip di suaranya.
"Tidak…" Sasuke melempar pandangannya ke samping, sebelum kemudian menyilangkan tangannya di depan dada dengan gestur defensif sekaligus cuek.
"Tidak apa-apa."
Pria itu menaikkan alisnya, lalu terdiam sejenak. "Apa… ada yang membuatmu kurang nyaman dsini?" tanyanya beberapa detik kemudian. "Kalau ada, katakan saja," ia menambahkan seraya tersenyum kecil.
Sasuke menggeleng lagi.
Namun kemudian—
"Siapa Uchiha Itachi?"
…pertanyaan itu muncul spontan sebelum ia sempat mengerem mulutnya.
.
.
.
.
Hening.
Sasuke melempar pandangannya ke samping, tanpa sadar menghentikan pandangannya di kertas ulangan (sialsial) yang kini terpampang begitu saja di meja, berada di tumpukan paling atas dari kertas yang ada.
Seharusnya ia jangan mengalihkan matanya kesitu.
Secara otomatis, pria itu mengikuti arah pandangannya—dan terdiam, sebelum kemudian raut wajahnya melunak—seolah mengerti. Namun ekspresinya tak berubah. Sepasang mata hitamnya hanya menatap kertas itu pasif tanpa emosi tertentu yang dominan disana.
Ekspresinya tak terbaca.
"Oh," ia mengalihkan pandangannya lagi ke Sasuke, sebelum kemudian menaruh sebelah tangannya di pundak anak itu yang tegang—dan membungkukkan tubuhnya hingga mata mereka berdua kini sejajar.
"Ia kakakmu," balasnya kalem, namun ada nada asing yang terselip dalam suaranya—sesuatu yang tak bisa Sasuke jelaskan. Mata hitam itu tengah menatapnya dengan pandangan yang sekilas terlihat sayu, entah kenapa.
Sasuke memperhatikan kalau pria itu mendadak terlihat begitu lelah.
"Kakakku…?"
Pria itu melepaskan tangannya dari pundak Sasuke, lalu menegakkan tubuhnya lagi dan beranjak ke ruang makan untuk mengambil sesuatu. "Ya," katanya tanpa menoleh. Terdengar suara denting sendok dan piring, lalu suara kertas yang dibuang. Setelahnya, pria itu keluar dengan sapu dan selembar tikar mini di tangan.
"Sasuke," ia berjalan ke ruang depan dengan santai, lalu membuka pintu dan menoleh ke anak yang masih tampak kaget itu seraya tersenyum—seakan tak terjadi apa-apa.
"Kita habiskan makan malamnya di luar, yuk? Malam ini langitnya cerah."
.
.
.
Bersambung…
A-N: Terima kasih kepada yassir2374, Kanar sasku, dan AbigailItaSasu yang telah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^
Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D
p.s: terima kasih untuk Yassir-san, Kanar-san, dan Abigail-san yang sudah menjawab pertanyaan saya tentang warna mata Kushina di chapter kemarin. ;)
