Ia berdiri di ambang pintu dengan badan setengah bersandar di dinding—mengawasi pria itu menyapu lantai balkon depan kamar yang ditempati mereka, sebelum kemudian menggelar tikar mini berbahan karet disana. Seperti tikar… piknik.
Sasuke menaikkan alisnya sedikit, namun tidak berkomentar apapun. Tikar itu berwarna biru pucat dengan motif kotak-kotak putih di pinggir-pinggirnya. Sekilas, terlihat seperti motif kertas kado.
"Mau pakai meja atau tidak?"
Ia tersadar dari lamunannya, dan menatap pria itu dengan pandangan acuh tak acuh. Padahal dalam hati sebenarnya agak antusias, sih. Jarang-jarang ia bisa lihat acara semacam piknik malam-malam begini. Di tempat tinggi, lagi.
"Terserah."
Pria itu mengangguk singkat, berlalu ke dalam—dan keluar lagi dengan nampan berisi semangkuk nasi, dua piring kecil tempat dango dan yakitori, dan dua gelas ocha hangat. Ia mengisyaratkan Sasuke untuk duduk, sementara ia menata makan malam di atas tikar itu.
"Hmm, langitnya cerah," ia berpaling ke Sasuke, yang tampak seolah masih enggan. "Sini, Sasuke. Tenang saja, tidak ada nyamuk kok."
Sasuke berjengit sedikit (baka, siapa juga yang memikirkan soal nyamuk, sih), namun memutuskan untuk menurut dan akhirnya duduk juga. Setelah menjaga jarak sebelumnya, tentunya.
Pria itu menutup pintu, lalu mengambil tempat berhadapan dengan Sasuke. Diambilnya piring dangonya perlahan, dan menggeser mangkuk berisi nasi ke hadapan anak di hadapannya.
Sasuke mengangkat alis.
"Kau tidak makan nasi?"
Bukannya ia peduli atau apa sih, cuma baginya itu hal yang… janggal.
Pria itu mengunyah dangonya dalam diam, menatap Sasuke dengan mata hitamnya yang intens selama beberapa detik—sebelum kemudian menjawab.
"Tidak."
Ia memakan dangonya lagi dengan kalem setelah itu.
Sasuke tak bisa menahan balasan setengah menuduh yang muncul dari mulutnya beberapa saat kemudian; "pantas saja kau kurus."
Pria itu mengangkat alis, tampak tak kaget sama sekali pada respon Sasuke barusan.
"Aku," ia menurunkan tusukan dangonya tanpa suara, "memang sudah kurus dari dulu, Sasuke."
Sasuke menyipitkan matanya, ekspresinya terlihat menantang. "Oh, ya?"
Kalau ada ibu angkatnya sekarang, ia pasti sudah dijitak karena bertingkah tidak sopan pada orang yang lebih tua seperti ini.
Pria itu menaruh tusukan dangonya yang telah kosong ke piring, dan mengambil yang baru—raut mukanya tetap tak berubah. Dalam hati Sasuke mengira-ngira entah orang ini memang super sabar dari sananya, atau hanya sedang berpura-pura cuek saja.
"Ya, Sasuke," ia mengangguk tenang, sebelum kemudian mengunyah dangonya lagi. Mata hitamnya melirik sekilas ke mangkuk berisi nasi milik Sasuke yang dari tadi belum disentuh, dan mengernyitkan keningnya. "Nasimu tidak dimakan? Nanti keburu dingin."
Sasuke melempar tatapan tajam pada pria itu, namun meraih sumpit dan memakan nasinya juga pada akhirnya. Ia mengambil yakitori-nya dua tusuk, menurunkan isinya dengan bantuan sumpit dan memotong-motongnya di atas nasinya—lalu menaruh tusukan yang telah kosong itu ke piring tadi lagi.
Pria itu mengamatinya dalam diam, sebelum kemudian mengangkat wajah dan menatapnya dengan iris hitam yang tampak antusias. "Aku ada saus tomat di dalam. Mau?"
Sasuke menghentikan kunyahannya, bingung pada perubahan ekspresi mendadak pada pria itu dan tawaran tiba-tiba tadi. Tapi…
(Tentu saja, memangnya siapa yang akan menolak bayangan yakitori gurih dengan saus tomat manis yang lezat?)
Dengan rona cerah di wajahnya yang tak bisa ditutup-tutupi lagi, Sasuke mengangguk segera. Pria itu tersenyum kecil, lalu bangkit dari duduknya dan berlalu ke dalam.
.
Ketika pria itu keluar lagi dengan sebotol saus tomat di tangan, Sasuke mendadak teringat sesuatu.
Tunggu…
.
.
Sejak kapan pria itu tahu kalau ia adalah seorang penggemar tomat…?
Selagi menuangkan saus tomat dengan pola zigzag ke atas yakitori-nya, ekor matanya diam-diam mencuri pandang ke pria yang duduk di dekatnya. Orang itu tengah mengunyah dangonya perlahan—tusuk dango yang isinya tinggal satu masih tergenggam di tangan kanannya—sembari menengadahkan kepalanya sedikit, menatap langit di atas dengan fokus yang nyata. Entah apa yang begitu menarik perhatiannya, Sasuke tak tahu.
Di sela-sela rasa campuran rasa manis, gurih, dan asam yang mendominasi mulutnya saat ini—ia masih terpikir akan insiden 'kertas ulangan' tadi. Nama yang ada di kertas itu. Reaksi pria itu ketika melihatnya memegang kertas tadi, bagaimana mata hitamnya yang selalu tenang itu melebar sedikit; yang meskipun terlihat biasa saja, bagi Sasuke terlihat agak janggal.
Nama yang ada di kertas itu—(Uchiha Itachi). Kakaknya.
Ia bahkan tidak tahu kalau ia punya seorang kakak…
.
.
Setelah menelan makanannya, ia menimbang-nimbang sejenak—dan akhirnya memutuskan untuk menyuarakan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Hei," ia menyentuh lengan pria itu sedikit dengan ujung jarinya—sebelum kemudian menarik tangannya lagi buru-buru. "Pemilik kertas ulangan tadi itu kakakku, kan? Apa ia tinggal disini juga?"
.
.
Malam ini langitnya cerah.
Kalau titik-titik di sebelah sana dihubungkan, mungkin bisa membentuk garis-garis dari Leo…
.
(—Sebuah sentuhan kecil di lengan membuyarkan fokusnya.)
"Pemilik kertas ulangan tadi itu kakakku, kan? Apa ia tinggal disini juga?"
Tusukan dango yang tergenggam di tangannya hampir terjatuh mendadak.
Tapi seperti biasa, ia bukan orang yang mudah panik, ia jarang sekali panik—dan ketika ia menoleh untuk menatap mata anak di sebelahnya (kesayangannya), yang anak itu lihat hanyalah sepasang mata hitam pasif yang tak menunjukkan emosi dramatis sama sekali.
"Kenapa kau menanyakan itu, Sasuke?"
Anak itu (dia memang pintar) menatapnya lekat-lekat dengan alis terangkat, lalu mendengus kesal. "Jangan bertanya balik," tukasnya sewot.
Ia tak menanggapi langsung, hanya diam—menunggu anak itu mengatakan respon selanjutnya. Seperti dugaannya, pernyataan lain yang ditunggu itu pun datang.
…Atau lebih tepatnya,bukan pernyataan; melainkan keluhan yang diucapkan dengan nada gusar.
"Kau selalu seperti itu dari kemarin," Sasuke menyilangkan tangannya di depan dada, lalu membuang muka dengan raut kesal. "Tidak pernah menjawab pertanyaanku. Selalu mengelak sambil tersenyum, memangnya apa yang lucu!" Nadanya perlahan meninggi, namun anak itu sepertinya segera menyadarinya—dan buru-buru mengatupkan mulutnya lagi setelah itu.
Sebagai gantinya, sepasang mata hitam kekanak-kanakkan yang berapi-api kini menatapnya dengan sorot kesal setengah mati.
(Sasuke, maaf ya.)
Sejenak tangannya terangkat perlahan, reflek yang hampir familiar—sebelum kemudian ia tersadar, dan menurunkannya lagi segera. Yang pasti, Sasuke tak akan senang bila dahinya disentuh lagi saat ini—dan ia cukup tahu diri untuk tidak memanas-manasi anak itu lebih jauh.
Ia menghela napas panjang, sorot lelah sekilas membayang di mata hitamnya—lalu ditatapnya anak itu lekat-lekat, memaksakan diri untuk menatap Sasuke langsung di matanya. Ia sanggup, tentu saja.
"Kau ingin bertemu dengannya, Sasuke?"
Anak itu terkejut sedikit, mata hitamnya melebar samar—dan ekspresinya berubah segera menjadi rasa ingin tahu yang kentara.
"Eh?" Sasuke terdiam sebentar, lalu mengangguk perlahan. "Hn," gumaman samar, lalu; "Aku… ingin lihat seperti apa orangnya."
"Kau tak akan senang bertemu dengannya, Sasuke."
"Huh? Tahu darimana?"
"Aku mengenalnya. Ia… bukan orang yang baik."
"Tentu saja kau kenal dengannya," tukas anak itu sewot, lalu terdiam sebentar—seolah memikirkan sesuatu. "Apa kau tidak menyukai kakakku? Kau berbicara tentangnya seperti kau kesal dengan kakak…ku itu."
"Mungkin," ia memiringkan kepalanya sedikit, "mungkin aku memang kesal dengannya," ia terdiam sejenak. Anak itu terlihat kaget pada pernyataannya tadi, atau itu hanya pendapatnya saja?
"Maaf ya, Sasuke."
"Hn, ngapain minta maaf?" anak itu melempar pandangannya ke samping, sebelum kemudian menatapnya lagi—kali ini dengan mata menyipit. "Ia tinggal dimana sekarang?"
Pria itu mengangkat alis. "Kakakmu?"
Sasuke mendengus sewot. "Siapa lagi?" balasnya sarkastis.
Ia menghela napas pendek.
"Hidupnya tidak jelas, Sasuke," ia mengangkat bahu, "Ja—"
"…Kau tak tahu ia tinggal dimana?"
"Kakakmu," ia membalas tanpa menjawab pertanyaan tadi, "ia tahu kau tinggal dimana."
Alis Sasuke menukik turun—ekspresinya tampak sedikit tersinggung. "Oh. Kalau tahu, kenapa ia tak mencoba menemuiku?"
"Sasuke…"
"—Kakak macam apa yang tak pernah menemui adiknya?" tukas Sasuke sinis seraya mendengus pelan. Ia hanya diam, menaruh tusuk dango yang telah kosong dan mengambil yang baru—lalu menggigit satu bola tepung beras dengan saus kacang merah itu perlahan.
"Kakak yang pengecut," balasnya singkat, entah kepada siapa. Suaranya hampir terdengar seperti desisan pelan ketika mengatakan itu—dan tanpa sadar, ia sedikit khawatir apakah Sasuke menangkap kata-katanya atau tidak. Itu bukanlah sesuatu yang tepat untuk diucapkan di depan seorang anak kecil; firasatnya berkata begitu.
Namun sepertinya, anak itu mendengar kata-katanya tadi.
"Hn," Sasuke bergumam pelan, lalu meraih gelas ocha-nya dan menyesapnya perlahan. Ia melirik mangkuk nasi anak itu—dan mendapati isinya masih ada.
"Sasuke, kau belum menghabiskan nasimu," katanya seraya mengernyitkan kening sedikit. "Nanti keburu dingin."
Sasuke hanya membalas dengan gumaman 'hn' singkat, namun meraih sumpit dan mulai melanjutkan makannya lagi. Ia tersenyum dalam hati. Diliriknya piring kecil tempat ia menaruh yakitori tadi, dan mengerutkan dahinya ketika mendapati kalau yakitorinya belum habis.
"Oh, yakitori-nya masih ada satu. Kau sudah kenyang?"
Sasuke menjeda kegiatan mengunyahnya sejenak. "Itu buatmu."
Ia mengangkat alis sedikit, berpikir bahwa anak itu seharusnya menghabiskan yakitorinya. Ia sedang dalam masa pertumbuhan, kan? Jadi harus makan banyak.
"Sa—"
"Kubilang, itu buatmu," potong Sasuke, nada suaranya menyiratkan sesuatu yang tak bisa diganggu gugat. Ia memandangi yakitori yang tinggal satu itu dengan sorot menimbang-nimbang.
"Hmm," gumamnya samar, nadanya terdengar agak kecewa—sebelum akhirnya meraih yakitori itu dan menggigitnya sedikit.
"Terima kasih, Sasuke," ia tersenyum kecil; ada noda samar dari bumbu olesan yakitori itu yang menempel di bibir atasnya.
Anak itu hanya membalas dengan 'hn ' singkat, namun beberapa detik kemudian—ia mengangkat wajahnya mendadak, dan menatapnya dengan kening yang berkerut. "Tunggu…"
"Hm?"
"Darimana kau tahu kalau aku suka… tomat?"
Oh.
Tawa kecil yang hangat meluncur pelan dari bibirnya, dan sedetik kemudian—ia telah menemukan jarinya mendarat di dahi Sasuke, gestur yang segera menghasilkan omelan gusar dari anak itu.
"Itu rahasia," ia tersenyum kecil, mengabaikan Sasuke yang kini tengah merengut kesal. Digigitnya yakitorinya lagi, lalu mengunyahnya perlahan. Hmm. Enak juga.
"Sudah kubilang, jangan sentuh jidatku lagi! Ugh!"
Jentikan pelan sekali lagi, disusul tawa renyah—dan; "maaf ya, Sasuke."
.
"ARGH! Kau menyebalkan!" lalu, sebuah tinju kecil mendarat di lengannya.
Ia hanya tertawa sekali lagi, ekspresi sewot anak itu membuatnya geli sekaligus merasa hangat. Ya, dadanya terasa hangat saat ini. Tapi tentu saja, ia tak akan mengatakan hal itu pada Sasuke.
(Aku harap kau menjalani kehidupan yang bahagia. Semoga kau selalu bahagia.)
.
.
.
.
Di atas, langit malam berkelip cerah, kelam sekaligus gemerlap di saat yang bersamaan.
.
.
.
Bersambung...
A-N: Terima kasih kepada efi astuti1, Nagisa Yuuki, Kanar sasku, Orchidflen, dan yassir2374 yang telah membaca dan mereview chapter kemarin. ^^
.
p.s: iya, ada author note lagi. (skip aja klo misalnya kepanjangan)
- dari awal, apa Sasukenya terkesan antagonis banget disini? ane berusaha untuk gak OOC, btw ga kebayang juga sih sebenernya (buat ane) kalo liat Sasuke jadi bocah manis polos2 positive-thinking gitu. klo menurutmu gmn?
- btw kenapa ga ada yang nebak kalo si 'orang itu' Obito, sih? ciri2nya matching, loh. :v (author note macam apa ini)
- coba deh baca ulang chapter ini sambil dengerin lagunya Owl City - Vanilla Twilight. ;)
- ...udah. itu aja.
Ada kritik atau pesan yang ingin disampaikan? Ditunggu komentarnya, ya. Sampai jumpa di chapter depan! :D
