"Dari mana kau tahu kalau aku suka… tomat?"

Tawa kecil yang hangat meluncur pelan dari bibirnya, dan sedetik kemudian—ia telah menemukan jarinya mendarat di dahi Sasuke, gestur yang segera menghasilkan omelan gusar dari anak itu.

"Itu rahasia," ia tersenyum kecil, mengabaikan Sasuke yang kini tengah merengut kesal. Digigitnya yakitorinya lagi, lalu mengunyahnya perlahan. Hmm. Enak juga.

"Sudah kubilang, jangan sentuh jidatku lagi! Ugh!"

Jentikan pelan sekali lagi, disusul tawa renyah—dan; "maaf ya, Sasuke."

"ARGH! Kau menyebalkan!" lalu, sebuah tinju kecil mendarat di lengannya.

Ia hanya tertawa sekali lagi, ekspresi sewot anak itu membuatnya geli sekaligus merasa hangat. Ya, dadanya terasa hangat saat ini. Tapi tentu saja, ia tak akan mengatakan hal itu pada Sasuke.

.

.

(Aku harap kau menjalani kehidupan yang bahagia. Semoga kau selalu bahagia.)


Paper Clips

.

.

[ chapter 11 ]


Selagi pria itu mencuci piring di belakang, Sasuke berdiri diam di balik pintu yang kini sudah tertutup—dalam hati merasa seperti orang bodoh.

Ngapain ia beli DVD tadi? Pria itu kan tidak punya televisi.

Ia menahan keinginan untuk menepuk dahinya keras-keras, lalu melirik ke arah jam dinding yang tergantung. Sekarang jam setengah sembilan. Belum terlalu malam, dan itu waktu yang terlalu cepat untuk tidur…

Berpikir kalau ia bisa bosan kalau tak ada yang bisa dikerjakan—dan memeriksa barang-barang milik pria itu sudah dicoret dari pilihan karena saat ini sang pemilik sedang ada di tempat—akhirnya Sasuke menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar di pintu, lalu melangkahkan kakinya ke dapur perlahan.

Ia berhenti di dekat partisi, dan untuk beberapa saat—hanya berdiri diam disitu, mengamati gerak-gerik orang di depannya yang kini sedang mengelap pinggir wastafel dengan lap basah, lalu memerasnya dan menggantungnya di dekat keran. Selang beberapa detik berlalu, pria itu sepertinya menyadari kehadirannya—dan menoleh ke belakang.

"Oh, Sasuke," ia mengelap tangannya di serbet, lalu tersenyum tipis. Sejurus kemudian, keningnya berkerut sedikit. "Kau bosan, ya?"

Menurutmu? Sasuke ingin mengatakan itu keras-keras, namun sebagai gantinya hanya mengangkat alis dengan sarkasme tersirat.

Pria itu terkekeh kecil, lalu menatapnya dengan sorot kalem seperti biasa. "Mau lihat film yang kau beli tadi? Kau sudah tidak sabar, ya," ia menghela napas pendek—lalu tersenyum kecil, mata hitamnya yang tenang kini diwarnai dengan sorot geli.

Namun Sasuke sama sekali tak terhibur.

"Kau bercanda, huh? Sudah jelas filmnya tidak bisa disetel disini," ia menyilangkan tangan di dadanya, lalu membuang muka dengan bibir ditekuk rapat.

Pria itu menaikkan alisnya sedikit.

"Kenapa tidak bisa?"

Sekilas Sasuke menganggap kalau orang ini tengah berpura-pura bego atau mungkin sedang menggodanya sekarang—namun ketika ia melirik pria itu dengan ekor matanya, yang tampak di wajahnya hanyalah ekspresi ingin tahu biasa.

Oh, berarti pria itu benar-benar tipe orang yang suka telat dalam berpikir, mungkin.

"Disini kan, tidak ada TV," Sasuke berkata lambat-lambat. "Menurutmu, nanti menontonnya pakai apa? Mesin cuci?" balasnya sekenanya.

Pria itu memandanginya sejenak, sebelum kemudian sebuah tawa kecil pecah di ruang makan itu.

"Hmm, Sasuke," ia bergumam samar, ekspresinya tampak kalem bercampur geli—dan sejurus kemudian anak itu merasakan pergelangan tangannya digamit oleh jari-jari kurus yang lembab. Cih, tangan orang ini belum kering habis acara cuci piring tadi—Sasuke berjengit sedikit dalam hati.

Pria itu menuntunnya ke ruang depan, lalu berkata singkat, "kau tunggu di depan, ya," dan berlalu lagi ke ruang makan.


Sasuke, mencium gelagat mencurigakan—seperti biasa, tidak mematuhi pernyataan tadi. Tak sampai lima detik, ia langsung berbalik dan menyusul pria itu ke belakang.

Hal pertama yang dijumpainya adalah sosok orang itu yang tengah membuka lemari makan dan kini tangah mengambil sesuatu di rak teratas dengan berjinjit, sebelum kemudian mengeluarkan benda yang diambilnya tadi dan menaruhnya di atas meja makan.

Pintu lemari tertutup dengan bunyi derit pelan, dan ketika mata mereka berdua bertemu—pria itu hanya meliriknya sekilas, lalu menghela napas pendek—sama sekali tak protes akan tingkahnya yang melanggar perintah tadi.

Sasuke melangkah lebih dekat ke meja makan—dan mendapati kalau benda yang ditaruh pria itu tadi adalah sebuah tas pipih berbentuk persegi panjang warna hitam. Seperti tas… laptop.

Ia mengernyitkan keningnya.

"Oh, aku tidak tahu kalau kau punya… ini," ia berpaling ke arah pria itu, yang kini tengah berjongkok mengambil sesuatu dari kontainer yang ada di bawah wastafel—dan berdiri lagi dengan selembar kain lap di tangan.

"Kenapa ditaruh di dalam situ?" ia bertanya seraya mengedikkan dagunya ke arah lemari makan.

Pria itu membuka retsleting softcase-nya, lalu mengeluarkan barang yang ada di dalamnya dan menaruhnya di meja. Dilipatnya kain lap yang ada di tangannya hingga tinggal selebar saputangan kecil—lalu mengelap permukaan laptop itu beberapa kali.

"Supaya aman," ia menjawab singkat, tanpa menghentikan kegiatannya. Sasuke mengangkat alis, berpikir bahwa jawaban tadi terdengar agak aneh. Selang beberapa detik kemudian, pria itu menaruh lap dan mengangkat laptop tadi hati-hati, meninggalkan softcase-nya begitu saja di atas meja.

.

Sasuke mengikutinya ke ruang depan.


Pria itu menaruh laptop yang dibawanya di atas meja belajar, dan berpaling ke Sasuke dengan mata hitam yang tampak lebih hidup dari biasanya—namun ada sedikit keengganan disana. "Selesai menonton, kau akan langsung tidur, kan?" ia bergumam pelan—lebih kepada dirinya sendiri.

Sebelum Sasuke sempat menjawab, pria itu sudah berjalan ke seberang ruangan, lalu membuka gulungan futon yang ada di samping lemari. Ia menaikkan alisnya sedikit—tadinya menyangka kalau pria itu akan menggelar tikar mini yang dipakai saat makan tadi untuk alas mereka saat menonton—namun ternyata tidak. Hmm.

Ia menyeringai puas dalam hati. Enakan pakai futon, kan. Lebih empuk. Fufufu.

Ia menyandarkan badannya ke pinggir meja, mengawasi pria itu menggelar futonnya. Ia tidak membantu tidak apa-apa, kan… lagipula pria itu tidak memintanya untuk—

Sebuah suara derit pelan yang muncul dari belakangnya mengalihkan perhatiannya segera. Ia berbalik, dan mendapati kalau sumber suara getaran tadi adalah dari ponsel yang ada di atas meja. Layarnya menyala…

Ha.

Tanpa basa-basi, Sasuke langsung berbalik dan mencondongkan badannya sedikit—membaca notifikasi yang ada di layar tanpa mengangkat ponsel tadi dari atas meja.

Oh, ada satu pesan. Dari…

Dibacanya nama pengirim yang terpampang di bawah notifikasi tadi. Oh. Nama pria. Dikiranya tadi si pengirim pesan adalah istri orang itu—(atau mungkin…kekasihnya?)—namun ternyata perkiraannya salah.


.


"Hei," pria itu mendengar suara Sasuke yang memanggilnya pelan—dan ia menjeda kegiatannya merapikan futon sejenak, lalu menoleh.

"Tadi ponselmu menyala," ia mendengar anak itu bergumam santai, seraya mengedikkan dagunya ke arah meja. Mendadak tenggorokannya terasa kering.

"Ada pesan, hn. Dari… hm, nama pengirimnya 'Shisui'."


.

.

.

Bersambung…


maaf chapter kali ini rada lama. maaf juga kalau misalnya saya pernah php sama readers. :")

Terima kasih untuk illyachan, Yue aoi, efi astuti1, Tomari Ryuu, yassir2374, Kanar sasku, Fura-chan Sawayaka, Orchidflen, dan PoetryItaSasu yang sudah mereview chapter kemarin. makasih banyak yaaa! ^^

- btw, makasih banyak yang udah baca filler kemarin. kalau misalnya kelewatan, bisa dibaca disini ya; tiny. cc /pc-filler01 (hapus spasi)


p.s: sebenernya ane rada gapuas sama chapter yang ini mungkin akan diedit ulang ugh maaf ya kalo mengecewakan -_-"