Preferential Concubine, Chapter 1 Previosly.
… "Pemilik kekuatan tertinggilah yang berhak menjadi raja." Jongin membisikkan sebuah mantera (atau lebih bisa di sebut kata kunci) yang teramat pelan hingga hanya bisa di dengar oleh Kyungsoo dan saat itu juga pintu gerbang terbuka lebar. Awan yang cerah berangsur-angsur menghitam dan mulai terdengar suara kilat dan petir. Butiran air mulai terjatuh dari langit disusul oleh butiran-butiran yang lainnya. Kyungsoo hanya dapat mengernyit heran merasakan perubahan cuaca yang begitu drastis.
Tak berbeda dengan Jongin dan Kyungsoo, seluruh vampire yang berada di depan istana segera memakai payung hitam yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Terbiasa dengan hujan deras dan petir yang datang sesuka hati karena ulah pemimpin mereka. Tanpa ada orang menyadari, Selir Putih membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat setiap petir memamerkan keunggulannya dalam membelah langit…
Preferential Concubine, Chapter 2
By Jenny Kim.
Starring : Kim Jongin ,Do Kyungsoo.
Featured : All EXO Members.
YAOI CONTENT! MALE PREGNANT!. NC21!.
Note : ini double chapter update ya. Chapter 2 dan 3. jangan lupa reviewnya juga double wkwkwk.
ENJOY READING!.
.
.
.
Jongin dan Kyungsoo berjalan dengan langkah tenang menuju pintu utama. Mata para vampire seketika membulat sempurna menatap Kyungsoo yang ternyata buta. Jongin tak memperdulikan para bawahannya itu, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Kyungsoo. Seluruh vampire menatap lapar pada Kyungsoo. Bau darahnya yang khas membuat mereka begitu berhasrat untuk menghisap darah Kyungsoo namun segera mereka urungkan saat melihat tatapan membunuh yang Jongin layangkan.
Vampire dari semua golongan itu mulai menunduk setelah Jongin melewati mereka satu per satu hingga akhirnya Jongin berada tepat di depan Ratu Xi. Ratu Xi, Sehun dan Selir Putih pun membungkukkan badannya menyambut kedatangan sang raja.
Tanpa diduga, Selir Putih langsung menghambur kepelukan Jongin hingga raja ablis itu hampir terjerembab ke belakang. Selir putih memeluk punggung Jongin erat-erat dan menyembunyikan wajahnya yang tak henti mengernyit sakit di dada Jongin.
Seluruh Vampire di istana itu mengernyitkan dahi. Tak biasanya Selir Putih yang terkenal pendiam bertingkah agresif seperti itu. Mungkin karena baru saja kehilangan bayinya, pikir mereka. Jongin melepas genggaman tangannya pada Kyungsoo serta menaruh payungnya lalu membalas pelukan Selir Putih.
"Hei hei hei… bersabarlah sedikit, sayang. Kau begitu merindukankukah?" tebak Jongin menyeringai. Selir Putih hanya menganggukkan kepalanya meski bukan itulah alasan sebenarnya. Ia terlalu takut pada petir yang Jongin ciptakan dan tak ingin ada seorang pun yang tau akan ketakutannya itu sehingga ia menyembunyikan raut ketakutannya yang bercampur sakit ke dalam pelukan Jongin.
Jongdae yang berada di barisan paling ujung hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat. 'Dasar raja bodoh! Bisa-bisanya kau tidak mengenal pendampingmu dengan baik. Damn!'
"Kau tidak ingin berkenalan dengan selir baruku?" Tanya Jongin. Ia merenggangkan pelukannya dan memalingkan wajah Selir Putih agar menatap Kyungsoo.
Selir Putih atau yang bernama manusia Minseok itu tersenyum manis walau tak bisa dipungkiri senyuman itu hanyalah sebuah kamuflase. "Selamat datang, Selir Istimewa. Aku Selir Putih, senang dapat bertemu dengan manusia menarik sepertimu.." ucap Minseok.
Kyungsoo mengangguk canggung. Tak habis pikir mengapa ia dipanggil 'Selir Istimewa'.
Jongin menarik kepala Minseok (nama panggilan kesayangannya untuk Minseok) lagi dan menyembunyikannya di dadanya. "Selir Istimewa? Bagus juga, Minseok. Namun kurasa panggilan itu lebih pantas untukmu, my Minseok, my special.." Jongin memindahkan tubuh Minseok di samping kirinya namun tetap memeluknya sambil berjalan. Tangan kanannya mengusap perut Ratu Xi (atau yang kini bernama Luhan) untuk menyapa anaknya dan mengecup sekilas pelipis ratu vampire itu. "Jaga dia untukku, Lu!" bisik Jongin sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah dan membawa Minseok ke kamar selir berbaju putih itu.
Luhan mengangguk patuh. Para vampire mulai meninggalkan istana satu per satu. Luhan pun berbalik untuk kembali ke kamarnya.
Seorang gadis cantik menghampiri Kyungsoo dengan tatapan marah. "Apa kelebihanmu sampai Yang Mulia Kai mengambilmu menjadi selir, huh?" Tanya Sulli dengan nada tinggi. Kyungsoo yang tidak mengerti hanya dapat menunduk dengan tubuh bergetar. "Gara-gara kau, aku gagal menjadi salah satu pendampingnya!" sambung Sulli. Ia melayangkan tangannya untuk menampar Kyungsoo namun dengan cepat Sehun melindungi Kyungsoo. Akhirnya tangan Sulli malah mendarat di pipi Sehun, bukan Kyungsoo.
"Sehun! Apa yang kau lakukan? Kau mau membelanya, huh?" seru Sulli.
Sehun menatap bola mata Sulli tanpa rasa takut sedikitpun. "Hancurkan aku dulu baru kau bisa menyakitinya!"
Luhan yang belum benar-benar pergi kini berbalik setelah mendengar ucapan Sehun. Hatinya terasa nyeri mendengar Sehun yang begitu melindungi Kyungsoo dengan sepenuh hati. 'Seberharga itukah dia dimatamu, Sehun-ah? Lalu apa artiku di hatimu?'
"KAU!_"
"Hentikan, Sulli!" tukas Luhan.
Sulli menatap Luhan dengan tatapan garang walau menunduk. Biar bagaimanapun Luhan tetaplah seorang ratu yang derajadnya seratus kali lebih tinggi dibanding dirinya. "Tapi Yang Mulia_"
"Kau mau membantah Ratu-mu, Sulli? Sebagai salah satu pendamping sang Raja, aku berhak atasnya!" ucap Luhan tegas. "Dan satu lagi, tengah malam tadi Chanyeol telah mengumumkan peraturan baru tentang nama para vampire, kuharap kau mematuhinya atau aku akan meminta suamiku untuk menghakimimu!" imbuh Luhan.
Sulli menghentakkan kakinya dengan kesal dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa memberi salam hormat terlebih dahulu pada Luhan. Ratu itu hanya dapat menggeleng pelan melihat tingkah Sulli. Masih saja ada yang berani bersikap kurang ajar kepadanya walau ia seorang ratu. Karena dia tidak berasal dari keluarga bangsawan. Ia hanyalah seorang vampire rendahan yang beruntung karena dapat menjadi ratu berkat seorang Kim Jongin.
Luhan menatap Kyungsoo yang memeluk tubuh belakang Sehun dengan sangat erat. Ratu itu menghela nafas perlahan dan mengusap kepala Kyungsoo. "Jangan takut, Kyungsoo-ah. Kau dalam perlindunganku.." ucap Luhan.
Sehun menatap Luhan dengan mata birunya yang berkilat senang. Tak taukah ia jika Luhan merasakan sakit saat melihatnya seperti itu? Sebab kebahagiaan itu tercipta karena Luhan yang berjanji untuk melindungi Kyungsoo.
'Sebegitu senangnyakah dirimu karena aku akan melindunginya, Hun? Kau begitu berharap agar dirinya selalu terlindungi? Aku sakit, Hun. kau menyakitiku terlalu dalam. Inikah pembalasanmu terhadapku?'
Luhan menatap Sehun dengan tatapan kepedihan. Namun pengawal itu sama sekali tak menyadarinya. Ia hanya sedang terlalu senang karena Kyungsoo akan dilindungi oleh orang yang paling ia cintai. Tak taukah mereka jika hati mereka telah salah paham?
"Bawa Kyungsoo ke kamarnya, Hun. Jonginie telah menyiapkannya. Tepat berada di tengah kolam darah. Setelah itu temuilah aku di kamarku. Ada yang ingin kutanyakan" kata Luhan. Ia pun berjalan menuju kamarnya yang tepat berada di sebelah kanan kolam darah.
Sehun tercekat. Kolam darah adalah sebuah kolam khusus milik Jongin dan kedua saudaranya. Sebagai anak-anak raja vampire terdahulu, Jongin, Baekhyun dan Jongdae tidak menghisap darah manusia. Mereka menopang keabadian mereka dengan meminum darah dari kolam darah. Meski Jongin dan Baekhyun pernah melanggarnya. Berbeda dengan Jongin yang menutup-nutupinya, Baekhyun malah terang-terangan mengakuinya. Dan mereka telah menerima akibat yang sungguh fatal dari pelanggaran yang mereka buat.
Kyungsoo menarik-narik baju bagian belakang milik Sehun. "Hun~" panggil Kyungsoo.
Sehun seakan tersadar dari lamunannya dan membalik tubuhnya. "Hm?"
"Apakah kolam darah itu menakutkan? Apakah benar-benar berisi darah? Apakah berbau amis?" Tanya Kyungsoo bertubi-tubi.
Sehun terkekeh pelan. Ia mengambil tongkat Kyungsoo dan melipatnya menjadi kecil lalu memberikannya pada Kyungsoo. Ia menggendong Kyungsoo ke punggungnya. Kyungsoo hanya dapat mengernyit bingung dengan tingkah Sehun.
"Kolam darah itu tidak menakutkan, hyung. Sama saja dengan kolam-kolam lainnya namun airnya berwarna merah. Dan itu memang benar-benar darah. Darah yang berbeda. Tentunya berbau amis.." kata Sehun sambil berjalan menuju kolam darah. Kyungsoo bergidik ngeri membayangkan ia akan tinggal di tengah kolam berisi darah. Seperti tinggal di pulau yang tepat berada di tengah lautan. Sehun berjalan di sepanjang lorong dan mulai berhenti saat sampai di seberang kamar Minseok yang berada di samping kiri kolam darah. Sebuah ruangan seperti rumah bergaya minimalis dengan warna putih mendominasi.
"Sekarang di seberang kanan kita, ada kamar Selir Putih. Letaknya ada di samping kiri kolam darah" ucap Sehun menjelaskan. Kyungsoo hanya mengangguk kecil. Percuma juga ia tau, toh dia tidak dapat melihat.
Sehun pun mulai berjalan lagi. Ia berbelok ke kanan menuju kolam darah. "Hyung, aku lupa bawa payung, kehujanan sedikit tidak apa-apa, ya? Saat sampai di tepi kolam darah, kita tidak akan kehujanan lagi karena Yang Mulia Raja memberikan pengecualian pada kolam darah. Disana cuacanya selalu cerah" terang Sehun.
Kyungsoo menutupi pucuk kepalanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya melingkar erat di leher Sehun. "Kenapa bisa begitu? Mana mungkin cuaca cerah hanya ada di kolam darah dan di ruangan yang lainnya hujan deras seperti ini?"
"Tanyakan saja pada raja sinting itu!" dumel Sehun. Seketika sebuah petir menggelegar membuat Sehun dan Kyungsoo terlonjak kaget. Sehun mendengus. "Iya-iya, raja yang berkuasa. Pemilik kekuatan tertinggi yang wajib kusembah.." cibir Sehun. Ia tak habis pikir, petir pun tak terima jika dirinya mencela Jongin. Jika tau seperti itu, dia hanya akan mencela Jongin di dalam hati.
Kyungsoo terkikik geli mendengar ucapan Sehun. "Kenapa vampire lainnya tidak meminum darah dari kolam darah saja, Hun? Jadi 'kan mereka tidak perlu memangsa manusia.."
"Ada sebuah mantra pelindung di kolam darah, hyung. Vampire yang bukan keturunan langsung raja akan terpental jika mencoba meminum darah dari kolam itu. Seperti pelindung transparan. Hanya keturunan dan menantu ayah Raja Jongin-lah yang tau mantranya" jawab Sehun. Namja itu berhenti saat telah berada dua meter di depan kolam darah.
"Hah? Apa-apaan ini? Tidak ada jembatan yang menghubungkan kolam darah dengan rumahmu, hyung. Kalau sudah begini, bagaimana cara lewatnya?" bingung Sehun.
"Turunkan Kyungsoo-KU, Oh Sehun!" tandas seseorang dari arah kamar Minseok. Jongin berjalan menghampiri Sehun dan Kyungsoo dengan bertelanjang dada.
Sehun menggerutu kecil begitu mendengar kalimat posesif dari bibir Jongin. 'Kyungsoo-KU apanya? Kyungsoo hyung itu milikku kalau kau tidak menghamilinya!' batin Sehun. Ia pun menurunkan Kyungsoo.
Jongin mengepalkan tangannya dengan erat dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Sepasang sayap berukuran besar berwarna merah pun seketika keluar dari balik punggungnya. Sayap seorang pemilik kekuatan tertinggi memang berbeda dengan sayap vampire lainnya, sayapnya berwarna merah, berbeda dengan vampire-vampire biasa yang berwarna hitam. Karena sayap itulah yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang calon raja.
Jongin menarik tangan Kyungsoo dan menggendongnya ala bridal style. "Tugasmu selesai, Sehun-ah. Kembalilah pada Ratu-mu!" suruh Jongin.
Sehun merengut lalu membungkukkan badannya. Memberikan salam terakhir pada Jongin lalu menuju ke kamar Luhan.
Jongin tersenyum devilish melihat Kyungsoo yang menyamankan tubuhnya dalam gendongan Jongin. "Sudah merindukanku lagi, Kyungie-ah? Padahal aku hanya pergi sebentar loh.." gurau Jongin.
Kyungsoo menggeleng dengan muka memerah. "A-anak ini yang membuatku jadi seperti ini.."
"Hm…kuharap lain kali bukan karena anakku tapi karena kau yang memang menginginkannya." Tanpa Kyungsoo ketahui, Jongin membisikkan sebuah mantra. Jongin mengepakkan sayapnya dan mulai melayang masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Ia kembali membisikkan sebuah mantra agar pelindung kaca beraliran listrik segera melindungi kolam darah lagi. Raja Vampire bermata obsidian itu menapakkan kakinya lagi di lantai berukiran bintang delapan segi kemudian menghilangkan sayapnya.
Jongin duduk di sebuah sofa tunggal dan memangku tubuh basah Kyungsoo. Ia mulai membuka baju Kyungsoo namun dengan cepat Kyungsoo menahannya. "Jangan!"
Jongin berdecak sebal. "Aku tidak menerima penolakan, Kyungsoo Kim!" geram Jongin yang telah memberikan nama vampire kepada Kyungsoo meski selirnya itu masih seorang manusia.
Kyungsoo pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Jongin menelanjanginya. Jongin pun menggendong Kyungsoo lagi dan merebahkannya di ranjang tanpa menyelimutinya. "Jangan melakukan pergerakan apapun, sayang!" ucap Jongin dengan nada mengancam. Kyungsoo hanya mengangguk mengiyakan. Jongin berjalan menuju sebuah grand piano berwarna hitam di sebelah kiri ranjang. Ia duduk di kursi kecil di depan piano itu dan membuka penutup tuts-tutus piano.
TING
Jongin menekan salah satu tuts pianonya dengan jari telunjuknya. Tiba-tiba sulur-sulur panjang berwarna merah keluar dari kolam darah. Makhluk-makhluk lengket dan berlendir yang mirip dengan tentakel itu menghampiri Kyungsoo dengan cara melata. Jongin tersenyum menyeringai, ia kembali menekan salah satu tuts berwarna putih dan sulur-sulur itu perlahan naik ke ranjang Kyungsoo.
Kyungsoo terkesiap saat ada beberapa makhluk berlendir melingkar erat di tangannya dan mencengkeramnya di atas kepala. Dua sulur lagi melebarkan kakinya dan mengunci pergerakannya di sudut-sudut ranjang. Lagi, dua sulur menari-nari di dadanya, membasahi nipples-nya dengan cairan lengket yang dihasilkan mereka dari tubuh mereka sendiri.
Kyungsoo menggeliat resah, dua sulur melingkari selakangannya. Memberikan sensasi geli dan dingin serta semakin melebarkan kakinya.
"Ahh!" sebuah sulur meremas kuat kejantanannya. Bergerak naik dan turun, memanja daerah tersensitifnya itu dengan sedemikian rupa.
Sulur-sulur yang sejak tadi berada di kaki Kyungsoo mulai mengangkat kakinya ke udara dan membuatnya dalam keadaan mengangkang lebar. Dua sulur sebesar belut itu bertambah lagi lalu masuk ke dalam rectum Kyungsoo.
"arrgghhh…uhhh…" seru Kyungsoo. Sulur-sulur di dalam lubangnya itu saling berlomba untuk masuk sedalam-dalamnya. Menghujamnya berkali-kali dan mencari titik prostatnya. Belum lagi sulur yang menginvasi kejantanannya. Semakin lama semakin kuat meremasnya, tergantung pada tempo kecepatan Jongin dalam memainkan pianonya.
"aaarrrggghhh…ahh…hhaaagg…uhhh…" teriak Kyungsoo lagi saat bertambah satu sulur memasuki lubangnya lagi. Tiga sulur sudah cukup untuk merobek rectum-nya. Namja mungil itu menangis tersedu-sedu. Ia tersiksa namun tubuhnya begitu menyukai diperlakukan seperti ini.
Suara air hujan yang deras menemani Jongin dalam permainan pianonya. Samar-samar terdengar suara seorang wanita bernyanyi namun tak ada seorangpun wanita di tempat itu. Hanya ada Jongin yang memainkan pianonya saja sambil menikmati pemandangan di depannya. Selir barunya yang tersiksa dalam kenikmatan.
"The rain falls on my windows.. And the coldness runs through my soul.. And the rain falls, oh the rain falls.. I don't want to be alone…"
Rumah itu bernyanyi. Bernyanyi untuk mengiringi Jongin dalam permainan pianonya yang memukau.
"uhhh…ahhh…ahh…ngh~" Kyungsoo yang semula merintih kesakitan karena sodokan-sodokan kasar dari makhluk-makhluk yang Jongin datangkan kini mulai dapat mendesah nikmat setelah tubuhnya beradaptasi dengan sulur-sulur itu.
"I wish that I could photoshop on.. Our bad memories.. Because the flashbacks, oh the flashbacks.. Won't leave me alone…"
"Ahh!" Kepala Kyungsoo mendongak dengan mata terpejam saat sebuah sulur berhasil menumbuk prostatnya. Ia pun mencapai klimaksnya yang pertama.
Jongin menggigit bibirnya menikmati ekspresi Kyungsoo yang benar-benar membuatnya ingin segera memasukkan kejantanannya yang telah mengeras ke dalam rectum Kyungsoo. 'ohh…betapa beruntungnya sulur-sulur merahku itu..' batin Jongin. Namja itu kembali memainkan pianonya membentuk aSullin melodi yang begitu indah.
"If you come back to me, I'll be all that you need.. Baby, come back to me.. Let me make up for what happened in the past..(Come back)
Baby come back to me..(Come back) I'll be everything you need..(Come back) Baby come back to me..(Come back) Boy you're one in a million..(Come back)
Baby come back to me..(Come back) I'll be everything you need..(Come back) Baby come back to me.. (Come back) You're one in a million.. (You're one in a million)"
Bokong Kyungsoo terangkat. Tubuhnya ikut naik turun setiap sulur-sulur itu menghujam rectum-nya. Mereka mulai pintar menemukan prostatnya.
"ahhh…nghh..henn..ahh…hentikhaann…arrgghh…uhhh.."
"Memories I have of Manhattan…She goes shopping for new clothes…And she buys this…And she buys that…Just leave her alone…
I wish that he would listen to her…Side of the story…It isn't that bad…It isn't that bad…And she's wiser for it now…
I admit I cheated…Don't know why I did it…But I do regret it…Nothing I can do or say can change the past.."
"ahh…uhhh…haaahhh..ah-ah-ah…enggghh…akkkhh.." Tubuh Kyungsoo penuh dengan peluh. Entah sudah berapa kali ia mengalami klimaks namun sepertinya Jongin masih enggan untuk menghentikan siksaannya pada Kyungsoo walau selir itu telah kelelahan.
"Baby come back to me..(Come back) I'll be everything you need..(Come back) Baby come back to me..(Come back) Boy, you're one in a million..(Come back).
Baby come back to me..(Come back) I'll be everything you need..(Come back) Baby come back to me..(Come back) You're one in a million.. One in a million
Everything I ever did..Heaven knows I'm sorry but.. I was too young to see.. You were always there for me.. And my curiosity got the better half of me.. Baby take it easy on me
Anything from A to Z.. Tell me what you want to be.. I open my heart to be.. You are more priority.. Can't you see you punished me.. More than enough already.. Baby take it easy on me..Baby take it easy on me
Baby come back to me—
Baby come back to me!"
"akhh…hmmmpph! Emmmhh.." Mata Kyungsoo melebar sempurna. Dua sulur terakhir masuk ke dalam mulutnya. Menjelajahi seluruh isi mulutnya. Memaksa Kyungsoo untuk merasakan lendir di tubuh mereka.
"(Come back) Baby come back to me.. (Come back) I'll be everything you need.. (Come back) Baby come back to me.. (Come back) Boy, you're one in a million.. (Come back)
Baby come back to me.. Come back) I'll be everything you need.. (Come back) Baby come back to me.. (Come back) You're one in a million..One in a million.."
Jongin mulai mengurangi kecepatan tempo bermain pianonya saat melihat Kyungsoo perlahan kehilangan kesadarannya. Sulur-sulur itu pun ikut bergerak pelan.
"lalalala…lalalalalala….lalalalalala…lala…la…" rumah itu pun berhenti bernyanyi setelah menyanyikan lirik terakhir lagu itu dengan suara yang paling menyayat hati.
Setelah Jongin mengakhiri permainan pianonya, satu per satu sulur-sulurnya mulai meninggalkan tubuh Kyungsoo yang telah lemas dan kembali masuk ke kolam darah. Jongin menutup kembali tuts-tuts pianonya dan menghampiri Kyungsoo.
Raja Vampire itu duduk dengan bertumpu pada lututnya di antara paha Kyungsoo. Ia membungkuk dan mengusap peluh di dahi Kyungsoo dan mengecup pucuk hidungnya. "Lelah?" Tanya Jongin.
Kyungsoo hanya mengangguk, masih tetap memejamkan matanya. Jongin melepaskan celana yang dipakainya (karena sebelumnya ia memang sudah bertelanjang dada) dan mengangkat kedua kaki Kyungsoo ke udara lalu menumpukannya di lengannya.
"Keberatan jika aku melakukannya lagi, Kyungie sayang?"
Kyungsoo hanya dapat menggeleng pasrah. Jika dia menolak, dia yakin Jongin pun akan tetap memaksanya.
Jongin nyengir. Ia mulai menuntun kejantanannya untuk masuk ke dalam rectum Kyungsoo.
"akkhh..ssshhh…" Kyungsoo menggigit bibirnya, lukanya yang belum sempat mengering kini terbuka lagi karena sesuatu mulai memasuki manhole-nya lagi. Namun ini berbeda, Jongin melakukannya dengan lembut meski terkesan tergesa-gesa. Berbeda dengan Jongin yang sebelumnya, selalu kasar dan brutal.
Jongin mendesah lega saat kejantanannya tertanam sepenuhnya di manhole Kyungsoo. Ia mulai memaju mundurkan kejantanannya dengan perlahan agar tak terlalu menyakiti Kyungsoo. Sisa-sisa lendir dari hewan peliharaannya tadi memudahkannya untuk melakukan gerakan in-out di dalam manhole Kyungsoo. Tangannya pun mulai memanjakan kejantanan Kyungsoo yang terabaikan.
"ahh…hahh…uhhh..nghh…" Dengan instingnya, Kyungsoo menarik tengkuk Jongin untuk mendekat ke wajahnya dan menyambar bibir Jongin. Jongin menyeringai saat Kyungsoo mulai bertingkah agresif. Namja itu pun melumat bibir Kyungsoo. Mengabsen gigi-gigi Kyungsoo dan menggelitik pangkal kerongkongannya serta mengalirkan salivanya ke dalam mulut Kyungsoo hingga membuat Ryewook beberapa kali hampir tersedak.
Dalam waktu yang singkat, keduanya mencapai klimasknya masing-masing. Kyungsoo segera melepaskan ciuman Jongin karena kebutuhan oksigen. Nafas keduanya terengah-engah, Jongin menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung Kyungsoo.
Jongin mengecup dahi Kyungsoo, mengantarkannya ke alam mimpi tanpa mengeluarkan kejantanannya. Ia juga mengecup kedua kelopak mata Kyungsoo dan meletakkan telapak tangannya di dahi Kyungsoo.
"Kutepati janjiku, sayang!" bisik Jongin. Ia menutup matanya dan sebuah cahaya merah keluar dari telapak tangannya. Sama seperti saat ia menyembuhkan demam Kyungsoo, cahaya itu pun menyebar di seluruh tubuh Kyungsoo kemudian berkumpul menjadi satu di kedua kelopak mata Kyungsoo.
"aarrrrgggggggghhh…" seru Kyungsoo keras, ia terbangun saat rasa sakit yang begitu kuat berpusat di matanya.
"Hahh..hhaah.." nafas Jongin terengah-engah karena menggunakan banyak energinya untuk memberikan penglihatan pada Kyungsoo. Namja manis di bawahnya itu kehilangan kesadarannya tepat saat cahaya energi Jongin mulai memudar.
Jongin terjatuh di samping Kyungsoo. Ia memeluk Kyungsoo erat-erat tanpa memisahkan tubuh bagian selatannya dari Kyungsoo. "Hahh…sepertinya untuk satu bulan kedepan aku tak akan 'menyentuhmu', sayang. Kau harus bertanggung jawab karena membuat tenagaku berkurang drastis!" canda Jongin. Ia pun memejamkan matanya, menyusul Kyungsoo ke dalam mimpi.
.
#
.
"Memanggilku, Yang Mulia?" Tanya Sehun di depan pintu kamar Luhan. Luhan yang sedang duduk santai di ranjangnya pun menengok kearah Sehun.
"Nae, mendekatlah, Hun!" pinta Luhan. Sehun pun mendekat ke arah Luhan dan duduk di kursi di samping kanan ranjang Luhan.
"Ada yang ingin kau katakan, Yang Mulia?" Tanya Sehun. Betapa inginnya dia memeluk Luhan saat ini. Namun itu hanya akan menjadi sebuah mimpi. Luhan sudah bukan Bunny Boy-nya yang dulu. Dia sudah termiliki oleh orang lain. Orang yang paling Sehun benci.
"Kau…bagaimana kau bisa mengenal Kyungsoo?" Tanya Luhan. Sekuat tenaga ia menyembunyikan gurat luka di wajahnya.
Sehun menatap Luhan pedih namun ratu itu tak melihatnya karena terus menunduk. "Kau cemburu?" Tanya Sehun meledek meski di dalam hatinya ia merintih sakit.
'Sebegitu cintanyakah kau pada Raja Vampire itu sampai kau menanyakannya, Lu? Kumohon untuk menjawab 'tidak', Lu. Aku mohon…'
"Ya.. Aku cemburu. Sangat.." lirih Luhan. 'Aku cemburu padanya. karena kau begitu menyayanginya. Bahkan kupikir kau lebih menyayanginya daripada saat kau mencintaiku dulu. Kenapa kau tak pernah mengerti aku, Kyu? Kenapa?'
Tubuh Sehun bagai tersambar petir. Ia tersenyum perih sambil meremas dadanya. "Oh…begitu ya.." gumam Sehun. Ia membuang nafasnya dan mulai menampakkan wajah (pura-pura) ceria. "Aku bertemu dengannya di hari pernikahanmu. Di hari pengangkatanmu menjadi ratu negeri ini.."
.
.
:: Flashback On ::
Sehun menendang sebuah kerikil dengan keras sampai terlempar ke kubangan air tak jauh darinya. Perasaannya sedang kacau. Ia berjalan dengan lunglai di bawah hujan malam itu. Tubuhnya basah kuyup namun nampaknya ia tak mempedulikan hal itu. Bibirnya yang bergetar terus mengeluarkan umpatan-umpatan. Jika saja hajan tak turun, siapapun pasti bisa melihat anak sungai yang mengalir di pipinya.
"Argghh…! Brengsek! Kenapa kau menerima lamarannya, Lu? Tak taukah kau? Kaulah satu-satunya alasanku untuk mau menerima keadaanku yang seorang vampire! Arrrggghhhhhhh! Kau penghianat, Lu" teriak Sehun. Ia jatuh berlutut di tanah.
"ARRRGGGGGHHHH…..Sakiiittt…jangan lakukan itu!"
Sehun terkesiap saat mendengar jeritan seseorang dari balik semak-semak. Dengan sigap ia naik ke atas pohon untuk dapat mengetahui apa yang terjadi. Dilihatnya seorang namja mungil yang telanjang sedang digerayangi oleh tiga orang preman. Salah satu ada yang menyumpal mulut si namja mungil dengan penisnya agar tak berteriak lagi. Yang satunya lagi mengulum nipple-nya dan yang terakhir sedang memasukkan tiga jarinya pada manhole namja di bawahnya. Mencoba untuk melonggarkannya sambil mengulum kejantanan si kecil.
Sehun tak perduli dan hanya menonton kejadian itu tanpa berniat sedikitpun untuk menolong namja lemah itu. 'Apa peduliku? Lebih baik aku membiarkan mereka semua bersenang-senang dulu sebelum menjadikan mereka santapan malamku..'
Namun pikiran Sehun berubah seketika saat melihat sebuah tanda berbentuk bunga delapan segi di bawah pusar namja mungil itu. Tanda Ratu. Dengan gerakan cepat ia turun dari pohon dan menerjang seorang preman yang tengah mencoba untuk memasukkan kejantanannya ke manhole nama mungil itu.
BRUGGKK..
Sehun berada tepat di atas punggung si preman. Tiga orang preman di tempat itu pun terkesiap dan segera melepaskan si namja mungil alias Kyungsoo. Terlebih lagi saat Sehun menancapkan taringnya ke leher preman di bawahnya.
"ARRRGGGHHHH…APA YANG KAU LAKUKAN?" pekik preman berbadan besar yang tengah dihisap darahnya oleh Sehun. Ia berusaha menjauhkan Sehun dari punggungnya namun gagal.
Sehun menyeringai dan terus menghisap darah si preman sampai habis. Ia tersenyum puas saat tubuh si preman sudah tak bernyawa.
Dua preman yang tersisa menatap Sehun syok. Tanpa pikir panjang mereka pun mencoba untuk mengayunkan sebuah kepalan tangan pada Sehun namun dengan sigap Sehun menahannya. Tangan Sehun memelintir tangan salah satu preman itu. Memutarnya sampai terdengar suara gemeretak. Dengan sekejap tangan preman itu patah.
"ARRGGGHHH…" teriak preman yang tangannya telah dipatahkan oleh Sehun.
"Aku sudah kenyang, jadi cepatlah pergi sebelum kalian bernasib sama dengan teman kalian itu!" ucap Sehun.
Dengan sekuat tenaga dua preman itu kabur walaupun masih dalam keadaan telanjang. Tapi bukan Sehun jika memberikan belas kasihan pada seseorang yang tidak perlu. Ia mengeluarkan dua buah belati kecil dari saku celananya. Menaruhnya di sela-sela jarinya lalu melemparkannya ke arah dua preman itu dan hanya dalam hitungan detik, pisau-pisau kecil itu telah menembus jantung kedua preman dari belakang.
"Ups… Aku berubah pikiran" ucap Sehun tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia menghampiri Kyungsoo yang duduk dengan tubuh bergetar sampil memeluk lututnya yang tertekuk.
Sehun berlutut dan memegang tubuh Kyungsoo. Kyungsoo pun meronta saking takutnya. "Sssttt… Tenanglah, aku tak akan menyakitimu.." ucap Sehun.
Kyungsoo pun perlahan mulai tak takut dan mendongak, memperlihatkan sepasang bola mata yang cacat. Mata Sehun melebar. "A-aku takut…" keluh Kyungsoo dengan suara bergetar. Antara takut dan dingin yang menyerangnya.
'Setidaknya dengan kebutaanmu, kau tidak perlu trauma karena melihatku membunuh para preman itu.'
Sehun melepas kemejanya dan memakaikannya pada Kyungsoo lalu memeluknya dengan erat. Ia mengelus belakang kepala Kyungsoo dengan lembut. "Jangan takut! Karena mulai sekarang, aku, Oh Sehun, akan melindungimu untuk seumur hidupku.." bisik Sehun.
'Biarkan aku untuk menjadikannya pelampiasanku, Luhanie. Biarkan aku memberikan rasa sayang yang seharusnya kuberikan untukmu kepadanya. Agar rasa sakitku dapat berkurang. Karena kepada siapapun aku memberikan rasa ini, tetaplah kau yang memilikinya seutuhnya.'
Dan sejak saat itu, Sehun mengambil Kyungsoo dari panti asuhan, menjadikannya kakak dan merubah marganya menjadi 'Oh' serta mengajak Kyungsoo untuk tinggal bersamanya.
:: Flashback Off ::
Sehun tersenyum pedih setelah menyelesaikan ceritanya. Ia menatap Luhan yang tengah membekap mulutnya sendiri.
'Jadi kau masih mencintaiku? Andai aku bisa, aku pun juga ingin mengatakan jika aku juga masih mencintaimu. Tapi aku tidak bisa, Kyu. Tak akan pernah bisa..'
Sehun pun berdiri dari duduknya. "Hanya itu 'kan yang ingin Anda ketahui, Yang Mulia. Kalau begitu saya akan pergi sekarang," ucap Sehun dan membungkukkan tubuhnya lalu beranjak meninggalkan kamar Luhan namun seseorang menahan langkahnya.
Luhan memeluk tubuh Sehun dari belakang. "Maafkan aku. Maaf.." lirik Luhan.
Sekali lagi Sehun tersenyum pedih. "Maaf? Jika saja kata maaf itu bisa menghapus rasaku terhadapmu, Lu. Maka dengan senang hati aku akan memaafkanmu. Tapi tidak, Sebuah kata maaf tak akan bisa menghapus rasa sakitku karenamu. Kau…
…menyakitiku terlalu dalam." Sehun melepaskan pelukan Luhan dan segera meninggalkan kamar Ratu Vampire itu sebelum Luhan menyadari setetes airmata yang lolos dari ekor matanya.
Kini Luhan benar-benar terisak dalam kesendiriannya. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. "Maaf, hun. Maafkan aku… Karena aku juga masih mencintaimu.."
.
#
.
"Umma~" seorang gadis manis berumur sekitar lima tahun menarik-narik baju hitam 'umma-nya' yang tengah menghirup aroma bunga lili putih di sebuah taman.
"Ya, Taehyung?" sahut Baekhyun. Ia mengusap rambut hitam putri semata wayangnya.
"Kenapa setiap seminggu sekali umma selalu membawaku ke taman lili putih ini?" Tanya Taehyung lagi.
"Umm… Bukankah bunga lili putih disini sangat indah?" Tanya Baekhyun balik.
Dengan santai Taehyung menggeleng. "Tidak, Taehyungie lebih suka bunga mawal ungu" jawab Taehyung dengan lidah cadelnya.
Baekhyun mempoutkan bibirnya. "Memang kenapa?"
"Kalena bunga mawal ungu 'kan bunga kesukaan appa. Taehyungie suka semua yang appa sukai kalena Taehyungie anak appa. Appa juga bilang kalau bunga mawal ungu itu adalah simbol dali cinta pada pandangan peltama. Sepelti appa yang mencintai umma pada pandangan peltama" jawab Taehyung dengan polosnya.
Baekhyun tersenyum kecil. 'Tapi ayahmu itu Daehyun, sayang.. Dan ayahmu menyukai bunga lili putih..'
Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang Baekhyun. Chanyeol menaruh dagunya di bahu kiri istrinya itu. "Hai Taehyung sayang, bisakah kau temani sepupumu Taeoh agar dia tidak sendirian? Appa mengajaknya kemari loh.." ucap Chanyeol.
Taehyung mengangguk dengan senyum cerah. Ia sangat suka saat ayahnya memintanya melakukan sesuatu dan dengan apapun caranya, ia akan menyanggupinya.
"Ne, appa." Taehyung pun menggandeng tangan Taeoh, bocah berusia empat setengah tahun yang sejak tadi berada di balik punggung Chanyeol. Ia mengajak Taeoh untuk berjalan-jalan mengelilingi taman. Taeoh pun hanya pasrah mengikuti kakak sepupunya itu.
"Aku… Aku tidak keberatan jika kau mengatakan yang sejujurnya pada Taehyung" ucap Chanyeol. Vampire half-blood itu mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak bisa, Channie. Dia terlalu menyayangimu. Aku tidak ingin dia membencimu.." lirih Baekhyun.
'Tapi kau juga tak pernah bisa untuk mencintaiku seutuhnya. Bayang-bayangnya selalu ada di balik kilat mata black pearl-mu, hyung..'
"Kau masih mencintainya?"
Baekhyun menunduk. "Mana mungkin aku melupakannya" sahut Baekhyun.
Seketika itu juga Chanyeol melepaskan pelukannya. Ia berjalan mundur, menjauhi Baekhyun dengan mata yang mulai berair. Baekhyun berbalik dan membekap mulutnya saat melihat ekspresi Chanyeol.
"Aku selalu mencoba, hyung. Aku selalu bersabar menunggu kau mencintaiku. Aku sudah bertahan selama lima tahun. Tapi kenapa yang ada di hatimu hanya dia? Aku tau, aku bersalah! Tapi aku juga mencintaimu, hyung. KAU ANGGAP APA AKU INI? Kau…
…tak pernah melihatku, hyung.."
.
.
:: Flashback On ::
"Hyunnie!" sebuah suara teriakan mengagetkan vampire berambut putih yang tengah berkutat dengan proposal-proposal pentingnya. Vampire bernama Daehyun itupun segera bangun dari duduknya dan menghampiri istrinya yang telah berada di depan ruang kerjanya.
"Ne, Baekie?" sahut Daehyun. Diusapnya lembut kedua pipi istrinya yang sedikit chubby karena dia tengah hamil delapan bulan.
"Aku ingin melihatmu menghisap darah manusia bermata emerald. Mau ya!" pinta Baekhyun dengan puppy eyes andalannya. Ia mengusap-usap perutnya yang membuncit.
"Hah? Tugasku sedang menumpuk, sayang.." elak Daehyun.
Mata Baekhyun berkaca-kaca dan bibirnya merengut. "Kau tidak mau mengabulkan keinginan anakmu? Jahat!"
Daehyun menghela nafas. Istrinya itu selalu bersikap kekanak-kanakkan sejak mengandung. Ada saja tingkahnya yang menyusahkan Daehyun. Ia bersumpah untuk tak akan membuat Baekhyun hamil lagi. Memakai pengaman lebih baik.
"Baiklah, ayo cari!" ucap Daehyun akhirnya. Baekhyun pun kembali tersenyum cerah dan bergelayut manja di lengan suaminya.
.
.
Setelah berjam-jam mencari, akhirnya Daehyun dan Baekhyun pun menemukan seseorang bermata emerald. Namun sayangnya orang itu adalah pemburu vampire.
"Wah… Senang sekali bisa bertemu dengan dua uhm…maksudku tiga vampire pureblood tanpa harus susah-susah mencari. Jadi apa yang kalian inginkan dariku, Tuan-Tuan Vampire?" Tanya seorang lelaki paruh baya.
Daehyun tersenyum simpul. Ia meminta istrinya untuk menjauh dari area yang akan ia jadikan sebagai tempat pertempuran. "Istriku sedang mengidam. Dia ingin aku menghisap darah seseorang bermata emerald. Kau mau memberikan darahmu untukku atau tidak, Pak Tua?" Tanya Daehyun.
Lelaki yang dipanggil 'Pak Tua' itu terkekeh pelan. "Boleh, jika kau bisa mengalahkanku, kau bisa menghisap darahku sebanyak yang kau mau" jawab Pak Tua. Ia mengeluarkan sebilah pedang perak dari dalam sarungnya yang berada di punggungnya.
Daehyun mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Seketika itu juga sebuah petir menyambar tangannya dan membentuk sebilah pedang. Langit yang awalnya penuh bintang kini tertutup awan gelap. Hujan pun turun membasahi Daehyun, Baekhyun dan si Pak Tua.
TRANG
Kedua pedang bertemu. Terlihat serpihan api yang keluar setiap kedua pedang itu saling bergesekan. Daehyun tak bisa menganggap remeh Pak Tua itu. Meski sudah berkalang tanah, lekaki tua itu tetap kuat dan cukup sulit untuk dikalahkan.
TRANG
Lagi, pedang Daehyun mencoba untuk menusuk perut Pak Tua namun dengan cepat Pak Tua itu menghindar dan menangkis pedang Daehyun dari samping.
Pertarungan berlanjut. Salah satu tak ada yang mau mengalah sampai…
"Arrgghh…" Pak Tua merintih sakit sambil mundur membungkuk memegangi perutnya dengan sebelah tangan. Konsentrasi yang menurun akibat derasnya air hujan membuat perutnya tergores pedang Daehyun.
Melihat lawannya yang mulai kehilangan keseimbangan, Daehyun segera mengangkat tubuhnya dan menusukkan pedangnya ke punggung atas Pak Tua yang tengah terjerembab. Sontak Pak Tua mengerang sakit dan jatuh telungkup. Darah pekat menyembur dari bibirnya.
Baekhyun yang sejak tadi bersandar santai di bawah pohon tak jauh dari tempat Daehyun pun menyeringai kecil. Mengacungi jempol pada suaminya yang berhasil membunuh si tua.
Daehyun mencabut pedangnya sebelum Pak Tua itu benar-benar mati. Ia menarik kerah baju pak tua dan membuatnya berdiri. Si Pak Tua hanya dapat berdiri dalam topangan Daehyun. Tubuhnya lemas karena luka yang sungguh dalam. Ia kehilangan banyak darah.
"Kau kalah, Pak Tua. Jadi tepatilah janjimu!" bisik Daehyun. Sepasang taring tajam keluar dari mulut Daehyun. Ia menancapkannya dengan telak di urat nadi leher Pak Tua.
"Arrrggghhhhhh…." Si Pak Tua mengerang sakit. Ia bisa merasakan darahnya yang terus-menerus di hisap keluar dari tubuhnya sampai habis. Detak jantungnya mulai melemah dan perlahan-lahan matanya terkatup.
Daehyun melepaskan tubuh si Pak Tua yang telah tak bernyawa. Ia sengaja tak menyisakan setetespun darah di tubuh si tua agar dia tidak menjadi vampire seperti Daehyun.
"Selesai." Daehyun menepuk kedua tangannya seakan membersihkan debu yang menempel di telapak tangannya. Ia mulai berjalan menghampiri istrinya namun…
"Akkhh…" sebuah panah perak menusuk bahu kirinya dengan kuat sampai ia terduduk di tanah. Baekhyun memekik kaget.
"Beraninya kau membunuh ayahku, Vampire bedebah!" geram seseorang yang berada cukup jauh dari Daehyun. Seorang lelaki berpakaian serba hitam seperti pastur. Mata emerald-nya berkilat marah dan basah oleh airmata.
Lelaki berparas tegas itu melemparkan crossbow yang ia gunakan untuk memanah Daehyun dan menggantikannya dengan sebuah pistol kecil. Ia mengarahkan mata pistol itu tepat ke dahi Daehyun meski jarak mereka cukup jauh lalu dengan sekali gerakan, ia menarik pelatuk pistolnya.
Sebuah timah perak dengan kecepatan tinggi menembus kepala Daehyun. Darah hitam mengalir deras di dahinya. Bibir vampire itu memuntahkan darah kental yang begitu banyak. Tubuhnya ambruk seketika.
"DAEHYUN!" Teriak Baekhyun histeris. Ia berlari menghampiri suaminya yang bersimbah darah tanpa perduli akan kehamilannya yang sudah cukup tua. Baekhyun menangis dan menghambur ke pelukan Daehyun.
"DAEHYUN~ kumohon bangunlah! Kau tidak boleh meninggalkanku! Tidak boleh…" isak Baekhyun. Ia mengguncang-guncangkan tubuh suaminya itu namun Daehyun tetap tak bangun juga.
"Baekie.." Daehyun mencoba untuk meraih pipi Baekhyun dengan tangannya namun gagal. Tenaganya telah lenyap. Perlahan tubuh Daehyun berubah menjadi abu. Berawal dari ujung kakinya dan berakhir pada helaian rambut putihnya.
Dada Baekhyun bergemuruh. Ia mengambil abu suaminya ke dalam genggaman tangannya dan memeluknya erat. "Tidak… Kenapa semua jadi begini?Hyunnie~ kembali padaku!" racau Baekhyun.
Chanyeol berdiri termenung di tempatnya. Entah mengapa ada perasaan tak rela saat melihat namja cantik yang tengah hamil tua itu menangis. Masih tersisa satu peluru perak di pistolnya. Perlahan Chanyeol menghampiri Baekhyun.
Baekhyun mendongak saat sebuah pistol menyentuh helaian poni di dahinya. Ia berdiri dan menatap penuh kebencian pada Chanyeol. "Apa yang kau tunggu? Ayo bunuh aku! Bunuh aku sama seperti saat kau membunuh suamiku!" seru Baekhyun.
"Aku membunuhnya karena dia membunuh ayahku," balas Chanyeol.
"Dan dia membunuh ayahmu karena aku yang memintanya!" tandas Baekhyun.
Chanyeol menatap Baekhyun tak percaya. "KAU!_"
"Akhhh…" Baekhyun sedikit membungkukkan badannya dan meremas perutnya. Darah hitam mengalir deras dari selakangannya. "Ba-bayiku.." Baekhyun menatap syok darah yang mengalir di sepanjang kakinya.
Chanyeol tak kalah syok. Pistol yang sejak tadi digenggamnya kini terjatuh. Tanpa Baekhyun sadari, ia meremas baju Chanyeol tepat di bagian dadanya.
"Arrrggghh…sakiiitt.." rintih Baekhyun. Airmata semakin deras mengalir di kedua pipinya.
Rasa tak tega memenuhi relung dada Chanyeol. Jika darah hitam itu tak berhenti mengalir di kaki Baekhyun, maka bayi Baekhyun akan mati. Ia tak tau ini akan menjadi pilihan yang buruk atau tidak, tapi yang jelas ia menuruti kata hatinya.
"Gigit aku, sekarang!"
T
B
C
.
NEXT CHAPTER!.
