Previously, Preferential Concubine, Chapter 2

"Akhhh…" Baekhyun sedikit membungkukkan badannya dan meremas perutnya. Darah hitam mengalir deras dari selakangannya. "Ba-bayiku.." Baekhyun menatap syok darah yang mengalir di sepanjang kakinya.

Chanyeol tak kalah syok. Pistol yang sejak tadi digenggamnya kini terjatuh. Tanpa Baekhyun sadari, ia meremas baju Chanyeol tepat di bagian dadanya.

"Arrrggghh…sakiiitt.." rintih Baekhyun. Airmata semakin deras mengalir di kedua pipinya.

Rasa tak tega memenuhi relung dada Chanyeol. Jika darah hitam itu tak berhenti mengalir di kaki Baekhyun, maka bayi Baekhyun akan mati. Ia tak tau ini akan menjadi pilihan yang buruk atau tidak, tapi yang jelas ia menuruti kata hatinya.

"Gigit aku, sekarang!"

.

.

.

Preferential Concubine, Chapter 3

ENJOY READING.

Slight chara : Taemin & Chanyeol. Daehyun Baekhyun.

Note : chapter ini fokus sama chanbaek ya. masa lalu mereka.

.

.

Baekhyun tercekat. Baru saja namja di depannya itu membunuh suaminya namun sekarang? Namja di depannya itu malah ingin menyelamatkan bayinya. "A-apa tujuanmu menolongku, huh?" Tanya Baekhyun sambil meringis kesakitan.

Chanyeol nampak salah tingkah. Ia memegang tangan dingin Baekhyun yang masih meremas dadanya. Menggenggamnya dengan erat dan mengalirkan sebuah kepercayaan. "Aku menuruti kata hatiku.." jawab Chanyeol dengan polos.

Baekhyun tersenyum melecehkan meski rasa sakit terus menyiksanya. "Keturunan raja sepertiku tidak menghisap darah manusia!"

"Itu pilihanmu, baiklah, aku pergi. Jangan salahkan aku untuk kematian anakmu. Satu-satunya peninggalan dari suamimu yang paling berharga," sahut Chanyeol santai. Ia pun berbalik untuk meninggalkan Baekhyun.

Namja bermata black pearl itu terkesiap. Ia tidak perduli apa yang akan terjadi padanya jika melanggar peraturan, yang terpenting adalah menyelamatkan anaknya. Anaknya dengan Daehyun.

GREP

Baekhyun memeluk Chanyeol dari belakang. "Aku membencimu…

…tapi aku juga membutuhkanmu.." bisik Baekhyun.

Chanyeol tersenyum simpul namun senyumannya berubah menjadi ringisan saat sesuatu yang runcing menusuk lehernya. Anak pemburu vampire itu memejamkan matanya erat-erat.

'Tuhan, aku tau, aku berbuat salah. Ayah, maafkan aku, aku tak bisa menjadi anak yang kau banggakan. Maafkan aku, tapi aku tak menyesali kesalahan ini. Aku tak percaya pada rasa ini. Tapi sepertinya, aku memang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang salah. Jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya kumusnahkan. Jatuh cinta pada seorang vampire..'

Tubuh Chanyeol ambruk dan terasa sangat lemas setelah Baekhyun menghisap darahnya. Baekhyun sengaja tak menghisap seluruh darah Chanyeol, hanya ¾-nya saja. Itu semua ia lakukan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang ada. Perlahan darah yang mengucur di kaki Baekhyun pun berhenti. Namja cantik itu mengusap perutnya dengan lega. Ia berlutut di samping tubuh Chanyeol dan membaliknya.

Baekhyun mengusap pipi Chanyeol dengan kuku-kuku hitamnya yang panjang. "Separuh hatiku ingin kau mati karena kau telah membunuh suamiku. Tapi separuh hatiku yang lain melarangku. Untuk pertama kalinya aku berhutang budi pada seorang anak Adam. Karena kau telah menyelamatkan anak kami, terimakasih.."

Chanyeol yang masih belum kehilangan kesadarannya pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Baekhyun. Sebuah benda yang tajam menyentuh leher belakang Baekhyun. Seperti sebuah tombak. Baekhyun dapat mencium bau manusia dari orang di belakangnya.

"Apa yang kau lakukan pada Chanyeol, pureblood?" desis seseorang di belakang Baekhyun. Ia sedikit menekan tombaknya pada leher Baekhyun dan nyaris menusuknya.

"Menggigitnya. Kau mau aku gigit juga?" Tanya Baekhyun tak kalah ketus.

"Taemin-ahh~" lirih Chanyeol dengan suara parau. Ia menatap Taemin seperti mengatakan jangan-sakiti-dia-please…

"Perasaan hanya akan membuatmu lemah, hyung!" dengus Taemin. 'Dan karena perasaan jugalah, aku akan selalu menurutimu. Meski jalan yang kau tempuh adalah jalan yang salah'.

Taemin mendorong tubuh Baekhyun dengan sedikit keras agar namja itu menjauh dari Chanyeol. Syukur-syukur terjatuh sekalian namun nampaknya kekuatan Baekhyun telah pulih kembali. Dia hanya bergeser sedikit dari posisinya.

Taemin pun menarik tubuh Chanyeol kemudian memapahnya. Meninggalkan Baekhyun sendirian. Baekhyun pun kembali berlutut di abu suaminya. Mengusapnya dengan lembut dan airmatanya kembali menetes. "Hannie… maafkan aku. Aku yang telah membunuhmu. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak berguna. Maaf… hikss.."

Tiaba-tiba saja mata kiri Baekhyun terasa perih dan perutnya kembali berdenyut sakit. Baekhyun menjerit kesakitan sambil menutup kelopak mata kirinya dengan tangannya sementara tangan kanannya meremas perutnya.

"Arrrrggghh… sakiiitt…" rintih Baekhyun. Efek samping dari darah yang ditelannya telah bekerja. Baekhyun terduduk lemas masih tetap memegangi perutnya.

Sepasang suami istri berjalan di tengah malam yang sunyi. Mereka adalah vampire penjaga daerah perbatasan. Menggantikan orang tua Minseok yang telah meninggal. Tugas mereka adalah menjaga perbatasan antara daerah vampire dengan daerah manusia. Mereka tidak tinggal di istana seperti vampire lainnya namun tinggal di lingkungan manusia biasa. Berbaur dengan mereka Taeminaknya manusia normal pada umumnya. Mereka pun tak pernah memakai nama vampire mereka.

Mata indah sang istri tak sengaja mendapati tubuh ringkih seseorang tak jauh di depan mereka. Semakin ia cermati, ia semakin yakin jika dirinya mengenal orang itu.

"Yunnie~ itu… itu Yang Mulia Bao Xian 'kan?" tebah si namja cantik dengan tatap khawatir. Ia mengguncang-guncangkan lengan suaminya.

"Mana mungkin dia ada di sini, Boo?" ucap Yunho tak yakin.

"Tapi itu memang dia!" kekeuh Jaejoong. Ia pun berlari menghampiri Baekhyun yang masih tetap menjerit kesakitan.

"Boo!" seru Yunho. Ia pun berlari mengejar istrinya.

"Omo… Yang Mulia!" teriak Jaejong histeris. Ia meremas pundak Baekhyun. "Yang Mulia, kau tak apa?" panik Jaejoong.

Keremangan cahaya malam membuat Baekhyun harus berusaha lebih untuk menatap orang yang memegangi pundaknya dengan satu matanya. "J-jae?"

"Ne, Yang Mulia. Ini aku! Ada apa denganmu?" Tanya Jaejoong.

Baekhyun menggeleng. Terlalu panjang untuk menceritakan semuanya. "To-tolong…" lirih Baekhyun. Lambat laun ia mulai kehilangan kesadarannya.

Mata Jaejoong membulat sempurna. "Yang Mulia! Irreona!" seru Jeajoong. Ia berbalik dan menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Yun… Apa yang harus kita lakukan?"

Yunho mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Tenanglah, Boo. Kita obati dia di rumah, neee?" usul Yunho. Ia pun menggendong Baekhyun dengan gaya bridal dan mereka membawa Baekhyun pulang.

.

.

#

.

.

"Ummaaaaa~" teriak seorang bocah laki-laki berbadan kurus dari dalam sebuah kamar yang ditempati Baekhyun saat namja cantik itu mulai membuka matanya.

Bocah bernama Jung Changmin itu segera berlari menghampiri ummanya yang berada di ruang keluarga sambil menimang seorang bayi mungil berparas cantik dengan pipi semerah buah ceri.

"Ada apa, Minnie?" Tanya Jaejoong dengan lembut. Ia mengusap kepala anaknya yang baru berusia tiga tahun itu dengan sebelah tangannya.

"Umma~ bibi cantik cudah bangun~!" girang bocah cadel itu.

Mata Jaejoong berbinar senang. Yunho tengah berangkat bekerja sekaligus memberitahukan masalah yang menimpa Baekhyun pada Jongin sebagai raja utama. Namja yang tak kalah cantik dengan Baekhyun itu pun bangun dengan hati-hati agar tak membangunkan bayi dalam gendongannya dan berjalan menuju kamar yang Baekhyun tempati. Changmin menggenggam tangan kanannya dan ikut berjalan di sampingnya.

"Yang Mulia…" sapa Jaejoong. Ia duduk di samping ranjang dan Changmin pun naik ke atas ranjang. Mencermati lekuk wajah pucat Baekhyun lekat-lekat.

"Bibi cantik~. Bibi cudah bangun, ya?"

Baekhyun memegangi kepalanya yang berdenyut sakit dengan mata yang belum terbuka sempurna. "Ukh… apa yang terjadi?"

Baekhyun memegangi perutnya yang terasa perih. Matanya tiba-tiba terbelalak lebar. "Anakku?" paniknya. Ia mengusap perutnya yang sudah tak buncit dan ada jahitan yang masih baru disana.

"Tenanglah, Yang Mulia…" pinta Jaejoong. Ia meremas bahu kiri Baekhyun. "Anakmu aman dalam gendonganku. Aku terpaksa mengeluarkannya dari perutnya sebelum waktunya demi menyelamatkan kalian" ucap Jaejoong lagi.

Baekhyun menoleh pada Jaejoong dengan mata berkaca-kaca. Tangannya terulur untuk menyentuh bayinya. Jaejoong pun mendekatkan bayi dalam gendongannya agar Baekhyun dapat melihat wajah cantik putrinya. Bayi itu perlahan-lahan bangun menampilkan mata yang indah meski matanya belum dapat sepenuhnya terbuka.

"Dia bayi perempuan yang sangat cantik. Tapi_"

Tangan Baekhyun yang sebelumnya terulur untuk mengusap pipi putrinya kini malah membekap mulutnya yang terisak. "Ma-mata dan kulitnya…" Baekhyun tak dapat meneruskan kata-katanya.

"Nae, matanya berwarna hijau terang. Mata emerald. Dan kulitnya putih kemerahan. Seperti bayi manusia. Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?" Tanya Jaejoong prihatin.

"A-aku… aku menghisap darah seorang manusia. Manusia yang membunuh Daehyun-ku… hiksss… ta-tapi kenapa anakku malah memiliki mata sepertinya?"

.

.

#

.

.

Cahaya matahari yang begitu menyilaukan masuk ke dalam sebuah kamar lewat jendela yang tirainya telah terbuka. Chanyeol mulai terbangun dari 'tidur' panjangnya. Buru-buru ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Sudah bangun?" terka sebuah suara dari samping kanan ranjang Chanyeol. Chanyeol pun mengintip orang itu dari balik selimutnya.

"Taemin-ahh~ tutup tirainya!" seru Chanyeol.

Taemin, namja yang menjadi partner Chanyeol dalam memburu vampire pun mendengus kesal. "Tiga hari kau tidak bangun dan sekarang kau sudah benar-benar berubah, hyung! Hyungku yang dulu selalu bangun pagi dan selalu menikmati cahaya matahari kini takut pada cahaya matahari. Sekarang hanya ada Park Chanyeol si vampire halfblood, ck! Namja bodoh!" ucap Taemin dengan sinis. Ia pun beranjak bangun dan menutup tirai hingga sinar matahari tak bisa masuk ke dalam kamar itu lalu kembali menghampiri Chanyeol dan duduk di pinggir ranjang.

Chanyeol membuka selimutnya dengan lega. "Terimakasih, Taemin-ahh~" ucap Chanyeol namun sedetik kemudian ia menarik Taemin kedalam pelukannya. Memeluknya dari belakang sambil bersandar pada kepala ranjang. "Taemin-ahh~"

"AHH! H-hyung!" Taemin menutup matanya rapat-rapat. Bibirnya pun digigitnya untuk menahan desahan. Chanyeol mencium dan menggigit perpotongan lehernya lalu menjilatnya. Bias dipastikan sebuah bekas merah akan tertinggal disana.

"Taemin-ahhhh~" Chanyeol memeluk erat dada Taemin. Bau tubuh Taemin terasa manis di penciumannya.

"Ngh… ceritakan padaku apa yang terjadi! Akhh.." Taemin menggenggam erat lengan kiri Chanyeol yang memeluk dadanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya meremas sprei. Jemari Chanyeol bermain-main di titik tersensitif di dada kanannya. Mencubitnya dengan sedikit kasar meski ia masih memakai kaos biru lautnya. Perlahan titik di dadanya itu mengeras dan menonjol di kaosnya.

Chanyeol tak pernah melakukan semua ini terhadapnya. Chanyeol selalu menganggapnya adik, tak lebih dari itu. Dilema merajai hatinya. Apakah Chanyeol mencintainya? Atau Chanyeol hanya terbuai nafsu sesaat karena dia telah menjadi vampire?

Chanyeol berhenti sejenak namun akhirnya kembali menandai leher Taemin dengan kissmark dan memilin nipple kanan Taemin. "Aku… membunuh seorang vampire yang membunuh ayah.."

"ummhh… ahh… Apa? Paman Park terbunuh? Anghh… la-lalu?"

"Umm~ Lalu istri dari vampire itu syok dan mengalami pendarahan.." Chanyeol melepas kaos yang Taemin pakai.

"Uhhh… setelah itu?"

"Aku… Aku memintanya untuk menggigitku agar darah bayinya yang telah keluar bisa tergantikan oleh darahku. Kau tau? Dia anak raja vampire terdahulu.." ucap Chanyeol.

Mata Taemin terbuka lebar. "W-what? Anghh… Chanyeol Hyunggg.."

Chanyeol melepaskan celana Taemin berikut dengan celana dalamnya hingga tubuh Taemin benar-benar naked. Meremas kejantanan mungil Taemin dengan keras dan memompanya dengan cepat.

"Ahhh… uhhh… mmmhhh… hyunggghhh…" Taemin melebarkan kakinya dan menekuknya. Kejantanannya menegang dan precum mulai keluar dari lubang penisnya.

"Taemin-ahh…" Chanyeol mendorong tubuh Taemin hingga namja manis itu menungging. Ia melepas kancing celananya dan menurunkan resletingnya kemudian memelorotkan celananya. Satu tangannya mencengkeram pinggul Taemin dan tangannya yang lain menuntun kejantanannya untuk masuk ke dalam manhole Taemin.

"AARRRRGGGHH… Sa-sakiit, hyung… arrghh… akh-akh-akh.." tubuh Taemin bergerak tak nyaman. Lubang anusnya robek cukup lebar karena kejantanan Chanyeol yang besar dan panjang memasukinya dengan kasar dan tanpa menunggu waktu, Chanyeol segera mengeluar-masukkan kejantanannya dengan cepat.

"akkhh.. akkhh… uhh… ummmhh.. ahh… HYUNGGG!" teriak Taemin. Cairan putih mengucur deras dari lubang kejantanannya.

Kejantanan Chanyeol yang berada di dalam manhole Taemin pun terasa seperti dipijat oleh lubang sempit itu. Ia membalikkan tubuh Taemin menjadi terlentang tanpa mengeluarkan kejantanannya. Hal itu membuat Taemin kembali meringis kesakitan.

Chanyeol mengangkat kedua kaki Taemin dan menumpukannya di pundaknya. Ia menarik kejantanannya dan hanya menyisakan kepalanya saja lalu menghujam manhole Taemin dengan kuat dan keras.

"AHH!" Butiran kristal jatuh dari mata elang Taemin. Terasa sangat sakit namun juga bercampur nikmat saat Chanyeol berhasil menumbuk prostatnya. Ia bagaikan seorang masochist karena sebuah sex.

Chanyeol menyeringai. Sesuatu yang tak pernah Taemin lihat sebelumnya. Namja bertubuh sixpack itu menghujam prostat Taemin lagi dan lagi.

"AHH! AHH! AHH! UHH! ANGHHH… UWAAA…" Taemin mendongak dengan mata terpejam. Kedua tangannya meremas sprei yang telah kusut sedari tadi. Airmata semakin membanjiri matanya. Berkali-kali Chanyeol menusuk prostatnya hingga ia tak tau mana rasa sakit dan mana rasa nikmat.

"ahh… uhh.. ummhh… H-hyung… ahhhhh.." Taemin mengeluarkan sarinya untuk yang kedua kalinya.

"Uhhmmm… Taemin-ahhhh~" lenguh Chanyeol. Ia mencapai klimaksnya dan menumpahkan seluruhnya di manhole Taemin.

Taemin mendesah lega. Manhole-nya terasa penuh dan hangat karena Chanyeol telah memenuhinya dengan spermanya.

Dengan masih menumpukan kaki Taemin di pundaknya, Chanyeol maju dan melumat bibir Taemin dengan ganas. Kembali memaju mundurkan kejantanannya dengan brutal.

"Ahh! Ahh… uhh.. ummhh… cu-cukup, hyung! Aku lelahhh.." keluh Taemin setelah berhasil memutuskan ciuman Chanyeol. Punggungnya terasa sakit karena terus bergesekan dengan kain sprei apalagi posisinya sekarang seperti orang yang sedang melakukan sikap lilin.

"Sekali lagi, Taemin-ahh~" pinta Chanyeol. ia menghujamkan kejantanannya dengan telak dan terus mengenai sweetspot Taemin.

"uhh… anggghhh… ummmmhhh… hhaahhh…" Taemin menggeleng frustasi. Chanyeol memasukkan puting susunya ke dalam mulutnya dan menggigitinya dengan sedikit kasar.

"uhhh… ahhhh… nghhh… angghhh… ah-ah-ah-ah… ukkhh…aarrrrggghhh…" Taemin datang untuk kesekian kalinya. Tubuhnya tergolek lemas dan ia pun mulai kehilangan kesadarannya.

Chanyeol pun berusaha ekstra untuk dapat menyodok lubang Taemin karena lubang itu semakin menyempit. Ia terus menusuk sweetspot Taemin walau namja di bawahnya itu telah pingsan. Beberapa sodokan terakhir dan Chanyeol pun mencapai klimaksnya. Ia kembali memenuhi lubang Taemin dengan benihnya. Tak berhenti, Chanyeol kembali menyodok lubang sempit Taemin berkali-kali dan mengalami klimaks yang berkali-kali juga. Melakukan penetrasi dengan segala macam gaya tanpa perduli tubuh Taemin yang benar-benar telah lemas. Bergerak seperti orang yang kesetanan dan berhenti saat tubuhnya telah lemas.

.

.

#

.

.

"Kai(Jongin)!" Baekhyun menghambur ke pelukan adiknya yang baru saja masuk ke dalam rumah Yunho.

Jongin mengusap rambut pirang kakaknya dengan lembut. "Aku disini, hyung. Menangislah sepuasmu dalam dekapanku.." sebelah tangan Jongin menepuk-nepuk punggung Baekhyun.

"Hiks… a-aku penyebab kematian Daehyun, Kai. Karena akulah dia mati… hikss…" Baekhyun menyembunyikan kepalanya di dada sang adik.

Jongin sedikit tersentak namun kembali tersenyum lembut. "Mana mungkin kau melakukannya? Jika pun itu terjadi, aku yakin kau tak akan melakukannya dengan sengaja. Aku tau sebesar apa kau mencintainya."

"Hiks… maaf.." bisik Baekhyun.

"Tidak perlu minta maaf, hyung. Kau bisa memberitahuku apa yang terjadi?" Tanya Jongin. Ia mengajak Baekhyun untuk duduk di kursi.

"Dia… menghisap darah seorang manusia, Yang Mulia" sahut Jaejoong karena Baekhyun hanya diam. Ia menghampiri Jongin dan Baekhyun dan duduk di samping suaminya sambil menggendong bayi Baekhyun.

Untuk sejenak, raut wajah Jongin berubah menjadi terkejut namun sedetik kemudian ia kembali pada wajah stoicnya. "Hm… keponakanku sudah lahir? Kenapa aku tak menyadarinya" gurau Jongin dengan santai. Ia melepas pelukan Baekhyun dan menghampiri Jaejoong lalu mengambil bayi mungil itu ke dalam gendongannya.

"Cantik, seperti ibunya" puji Jongin.

Baekhyun melotot. "Matamu bermasalah, Kai? Dia berparas manusia! Apalagi matanya…" kesal Baekhyun.

Jongin menaikkan satu alisnya. "Hn? Jadi orang yang kau gigit itu bermata Emerald? Mata yang indah, sangan kontras dengan mataku yang berwarna awan hitam" sahut Jongin asal. "Jaejoong, apa yang bisa kau simpulkan?" Tanya Jongin sambil melirik Jaejoong.

Jaejoong berpikir sejenak. "Karena Yang Mulia Bao Xian menghisap darah manusia, bayinya ikut memiliki DNA manusia itu. Singkatnya, bayi perempuan itu menjadi pureblood setengah manusia. Anda bisa melihatnya dari mata dan kulitnya. Sama dengan 'ayahnya'."

"Menarik, jadi dia punya dua ayah, ya? Daehyun sebagai penanam benih dan manusia itu sebagai pemberi DNA. Berapa presentasenya?" Tanya Jongin lagi.

"Dari yang kuteliti, ada 45% pureblood dan 55% manusia" jawab Jaejoong.

"Apa?" seru Baekhyun tak percaya. "Dia anakku dan Daehyun! Bukan Chanyeol!" imbuhnya semakin kesal. Beruntung dia masih mengingat nama pembunuh suaminya itu.

"Che, siapa suruh menghisap darahnya? Sekarang putrimu juga menjadi putrinya. Seperti threesome ya?" Jongin terkekeh geli.

"KAI!"

"Oke oke… jangan marah, hyung. Aku hanya bercanda. Kau tidak terkena efek samping dari darah manusia bernama Chanyeol itu?" Tanya Jongin. Ia menimang-nimang akankah ia memberitahu Jordan (Jongdae) tentang masalah ini. Namja yang selalu berbangga atas darah bangsawannya itu pasti akan mengamuk.

"Aku… aku baik-baik saja.." sahut Baekhyun tak yakin.

"Benarkah?" selidik Jongin tak percaya.

"Ia kehilangan mata amethyst kirinya" ucap Yunho yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

"Hah? Ti-tidak mungkin!" ucap Baekhyun.

"Mata itu butuh darah bangsawan yang suci. Dan darahmu telah tercemar. Jika tidak percaya, Yang Mulia dapat membuktikannya" jawab Yunho.

Baekhyun memejamkan matanya dan memusatkan pikirannya. Bibirnya menggumamkan mantera-mantera aneh lalu ia membuka kelopak matanya. Semua orang tercekat, termasuk Changmin yang sedari tadi tak perduli dan hanya menjilati ice creamnya. Buru-buru bocah itu menghampiri ummanya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang umma.

Mata black pearl Baekhyun berubah warna menjadi keunguan. Hanya mata sebelah kananlah yang berubah warna namun mata kirinya masih tetap sama. Masih berwarna black pearl.

"Ma-mataku.."

"Kau masih bisa meramal dengan satu mata, Yang Mulia. Namun tak dapat dipungkiri jika ramalanmu tak akan seakurat dulu." Yunho memangku Changmin yang sejak tadi ketakutan. "Tidak apa-apa, Minnie~" bisik Yunho di telinga Changmin.

TBC.

Author note : Haiii! gimana nih, udah aku update nih chapter 3 nya. sebenernya kemarin mau double chapter dan emang udah diupdate. tapi kayaknya kehapus deh sama ffn soalnya pas aku cek gak ada di screenplays update. jadi aku update satu satu ya tapi cepet.

maaf banget lama updatenya. saya kesibukannya banyak banget. kerja dan kuliah, belum lagi calon suami/? yang suka ribet. ya begitulah wkwk. semoga kalian suka ya. jangan lupa review.