Previously, Preferential Concubine, Chapter 3

.

.

.

Baekhyun memejamkan matanya dan memusatkan pikirannya. Bibirnya menggumamkan mantera-mantera aneh lalu ia membuka kelopak matanya. Semua orang tercekat, termasuk Changmin yang sedari tadi tak perduli dan hanya menjilati ice creamnya. Buru-buru bocah itu menghampiri ummanya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang umma.

Mata black pearl Baekhyun berubah warna menjadi keunguan. Hanya mata sebelah kananlah yang berubah warna namun mata kirinya masih tetap sama. Masih berwarna black pearl.

"Ma-mataku.."

"Kau masih bisa meramal dengan satu mata, Yang Mulia. Namun tak dapat dipungkiri jika ramalanmu tak akan seakurat dulu." Yunho memangku Changmin yang sejak tadi ketakutan. "Tidak apa-apa, Minnie~" bisik Yunho di telinga Changmin.


Preferential Concubine, Chapter 4

.

.

Staring : Kim Jongin & Do Kyungsoo.

All exo,bts and shinee character.

Note : ini masih flashback dari chapter chanbaek dan balik lagi ke masa dimana si ratu krystal (istri jongin sebelum luhan,xiu sama kyungsoo di nikahin) terus end flashback nya balik lagi ke chapter 2 pas si taehyung sama taeoh lagi main main ya.

masih ngebahas chanbaek sih, semoga gak bosen. karena di ff aslinya, memang kaya gini. karakter chanbaek dan Chenmin nanti bakal jadi peranan penting di inti story kaisoo menjelang chapter chapter akhir dan cerita sequelnya.

New entry character : ChanTae. (anaknya chanyeol sama taemin).

ENJOY READING!.

.

.

"Hahhhhh… merepotkan saja" dumel Jongin. Jongin kembali mendekati Baekhyun dan menyodorkan bayi perempuannya. "Gendong!" suruhnya sok.

Baekhyun mengembalikan matanya ke keadaan semula dan membuang muka. "Tidak mau!"

Jongin mengernyitkan alis. "Bukan salahnya memiliki mata dan kulit seperti manusia itu. Sepenuhnya kesalahan berakar darimu. Kau yang menghisap darah manusia itu. Jangan salahkan bayimu!" ucap Jongin menasehati.

"Aku melakukannya agar bayiku tetap hidup!"

"Percuma dia tetap hidup jika pada akhirnya kau tak menginginkannya. Atau kubunuh saja dia?" Jongin mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Perlahan kuku-kuku hitamnya memanjang dan meruncing.

Baekhyun mendongak. "Jangan!" pekik Baekhyun. Ia segera merebut bayinya. Menggendongnya dengan posesif. "Dia anakku! Kau tidak boleh membunuhnya!"

"Siapa suruh tadi tak mau menginginkannya. Belajarlah untuk menerima apa yang tidak kau sukai, hyung. Dan kau juga harus belajar untuk menerima Chanyeol." Jongin menasukkan kedua tangannya di saku celana armaninya.

"Hah?"

"Aku yakin kau tidak menghisap darahnya sepenuhnya. Jika kau melakukannya, pasti sekarang kau benar-benar kehilangan kedua mata amethyst-mu. Dan karena Chanyeol telah kau gigit, otomatis dia telah menjadi bagian dari kita. Dia juga menjadi rakyatku" ucap Jongin menjelaskan. Ia mengeluarkan tangan kirinya lagi dari saku celenanya dan mengusap pipi bayi Baekhyun. "Pipimu semerah buah ceri, mulai sekarang, namamu adalah Taehyung Park. Selamat datang, keponakanku sayang…" Jongin tersenyum manis. Cahaya kemerahan keluar dari telapak tangannya. Taehyung menggeliat kecil, bibirnya seakan mengatakan sesuatu. Seakan ingin berterimakasih atas kehangatan yang Jongin salurkan dari cahaya merahnya.

"Aku harus pergi, ada yang ingin kulakukan." Jongin pun beranjak meninggalkan rumah YunJae setelah para penghuninya memberikan salam hormat kepadanya.

.

#

.

Malam telah larut, Chanyeol mulai terbangun dari tidurnya. Wajahnya telah berubah menjadi pucat, buku-buku jarinya pun menghitam. Ia menghela nafas, berusaha menyesuaikan dengan keadaannya yang telah berbeda. Dia bukan manusia lagi.

Chanyeol menoleh ke samping dan matanya membulat sempurna. Reflek ia terduduk bangun. "Arggghh… apa yang kulakukan pada Taemin? Shit… kenapa aku jad tidak bisa mengontrol tubuhku sih?" dumel Chanyeol sambil memandangi tubuh Taemin yang telanjang dengan ranjangnya yang sungguh berantakan. Jangan lupakan cairan sperma yang telah mongering di sana-sini.

Tok! Tok! Tok!

Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Chanyeol. namja tampan itu segera membenahi pakaiannya, mencuci muka dan berlari ke arah ruang tamu. Ia membuka pintu dengan perlahan.

"Hai, Park Chanyeol" sapa seseorang setelah pintu terbuka lebar.

Chanyeol mencium sesuatu yang tidak beres. "Pureblood (darah murni)?" tebak Chanyeol.

"Tepat sekali. Aku Kai Kim adik dari Bao Xian, vampire yang telah menggigitmu. Ikutlah denganku, Park Chanyeol!" pinta Jongin. Tak sulit untuknya melacak keberadaan vampire baru.

"Apa? Kau gila! Aku_"

"Pemburu vampire? Oh ayolah… jangan naïf, Park Chanyeol! Sekarang kau bagian dari kami, bangsa vampire. Penghisap darah manusia. Jadi, disini bukanlah tempatmu. Kau ingin membunuh bangsamu sendiri, huh?" Jongin tersenyum nyengir.

"A-aku…" Chanyeol nampak bimbang.

"Jika kau tidak ikut denganku, akan ada seorang bayi perempuan yang tak dapat merasakan kasih sayang ayahnya."

Chanyeol tercekat. "Apa maksudmu?"

"Bayi kakakku memiliki darahmu dalam tubuhnya karena Bao Xian menghisap darahmu. Secara tidak langsung, kau juga menjadi ayah Taehyung, keponakanku" jawab Jongin.

'Bayiku… bayiku dengan vampire cantik itu lagi? Jadi… jadi aku bisa bertemu dengannya lagi?' batin Chanyeol senang.

Jongin berbalik untuk meninggalkan Chanyeol namun dengan cepat Chanyeol menghentikannya.

"Tu-tunggu! Aku ikut!" ucap Chanyeol.

Jongin kembali tersenyum nyengir. "This way, pease…" ucap Jongin sesopan mungkin. Ia berjalan beberapa langkah di depan Chanyeol dan Chanyeol pun mengikutinya.

Chanyeol menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Memandangi rumah yang telah ia tinggali sejak lahir. 'Maafkan aku, Taemin-ahh..'

.

#

.

Seminggu sudah Chanyeol berada di istana vampire. Ia baru tau jika Kai alias Jongin adalah raja dari para vampire. Jongin pun telah memberinya nama vampire, Chan Lie Park. Vampire halfblood itu harus menyesuaikan diri. Berita tentang dirinya yang membunuh Daehyun sang perdana menteri telah tersebar. Tak sedikit vampire yang mencaci dan mencemoohnya namun tak sedikit pula yang takut padanya. Mungkin karena dulunya dia adalah seorang pemburu vampirn-ahh

Tak pernah ada waktu untuk memikirkan nasib Taemin setelah ia meninggalkannya. Hari ini adalah hari kepulangan Bao Xian (Baekhyun) dan bayinya, Taehyung Park. Chanyeol sungguh tak sabar menunggu kedatangan Bao Xian dan bayi mereka. Oke, mungkin terlalu berlebihan jika mengatakan 'bayi mereka'. Taehyung adalah anak Daehyun. Menjadi anak Chanyeol bukanlah suatu keinginan Baekhyun. Chanyeol yakin dengan sangat jika Heehul pasti akan membencinya setengah mati. Bahkan mungkin juga akan membunuhnya.

"Mengurung diri di kamar, Chan Lie (Chanyeol)?" Tanya Jongin yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Chanyeol.

Chanyeol yang tengah diam di ranjangnya sambil memandangi pepohonan lewat jendela kamarnya pun menoleh. Ia berdiri dan memberikan salamnya pada Jongin. Sampai sekarang namja bermarga Park itu tak penah mengerti jalan pikiran Jongin. Jongin tak membencinya seperti vampire lain. Apalagi takut padanya. Itu tak mungkin. Meski jelas-jelas Chanyeol-lah yang membunuh kakak iparnya.

"Tidak, Yang Mulia. Hanya mencari tempat yang nyaman saja," jawab Chanyeol seadanya.

Jongin duduk di pinggir ranjang. "Tempat yang nyaman? Apa karena di luar sana kau dihujat para vampire, jadi kau merasa tak nyaman berbaur dengan mereka?"

Chanyeol menunduk. "Kurasa begitu. Bukan salah mereka jika membenciku. Seharusnya kau juga membenciku, Yang Mulia."

Jongin tertawa pelan. "Karena membunuh kakak iparku? Aku pun akan melakukan hal yang sama jika ayahku dibunuh. Rakyatku saja yang terlalu kekanakan. Lebih baik kau mengambil hati kakakku daripada memikirkan tentang mereka!" kata Jongin.

Chanyeol mendongak. "Eh?"

"Apa? Kau menyukai kakakku 'kan, Chan Lie? Kelihatan kok," ucap Jongin santai.

Chanyeol kembali menunduk. Terlalu malu untuk mengakuinya. "A-aku_"

"Kakakku itu susah untuk ditaklukkan, Chan Lie. Kau harus memiliki kesabaran ekstra. Sudah sana temui dia di kamarnya. Dia sudah kembali bersama 'anak kalian' sejak tiga menit yang lalu," kata Jongin memotong ucapan Chanyeol. "Dasar kakak menyebalkan. Pulang saja tidak mengabariku. Awas saja, kalau kuambil anaknya baru tau rasa," dumel Jongin sambil berjalan meninggalkan kamar Chanyeol.

Chanyeol tersenyum geli. Untungnya dia telah mengetahui kamar Baekhyun. Dengan rasa tak yakin, Chanyeol pun pergi ke kamar Baekhyun.

.

#

.

"oeekk… oeekkk.. oeekkk.." Bayi Baekhyun tak henti-hentinya menangis. Namja cantik itupun bingung di buatnya. Baekhyun mencoba untuk memberi Taehyung darah dalam botol dotnya namun bayi itu tak mau meminumnya. Mengecek popoknya namun Taehyung sama sekali tak mengompol. Baekhyun mengacak rambutnya frustasi sambil menggendong bayi mungilnya. 'Taehyung tak pernah rewel saat di rumah YunJae, tapi sekarang mengapa tak mau berhenti menangis?' Tanya Baekhyun dalam hati.

Tokk… tokk.. tok..

Baekhyun menengok ke arah pintu kamarnya yang diketuk. "Nae, masuklah!" ucap Baekhyun tanpa perduli siapa tamunya.

"Annyeong…" sapa si pengetuk pintu setelah masuk ke kamar Baekhyun.

"Kau? Kenapa kemari? Cepat keluar dari kamarku!" seru Baekhyun sebal.

"oeekkk… oeekkk…" Taehyung menangis semakin keras.

Baekhyun menatap khawatir wajah putrinya. Tangan kirinya menimang tubuh kecil Taehyung dan tangan kanannya menepuk-nepuk pantat Taehyung. "Cup.. anak umma kenapa menangis? Diam ya, sayang…" pinta Baekhyun.

Chanyeol berjalan ragu. Ia mendekati Baekhyun dengan perlahan.

"Hei! Apa yang kau_" baru saja Baekhyun akan memaki Chanyeol karena namja itu mengambil Taehyung dari gendongannya namun diurungkannya saat Taehyung tiba-tiba diam setelah Chanyeol mnggendongnya.

"Hai, Taehyung sayang… kau ingin appa menggendongmu ya?" Tanya Chanyeol dengan lembut. Ia mengusap pipi merah Taehyung.

"A-appa?"

Taehyung mengerjapkan mata emeraldnya yang besar dan cerah. Bayi kecil itu tertawa memamerkan gusi-gusinya yang sama sekali tak memiliki gigi kecuali gigi taringnya yang mulai tumbuh. Chanyeol terperangah, melihat matanya yang menurun pada Taehyung.

"Ma-matanya_"

"Aish… kembalikan bayiku!" seru Baekhyun kesal. Ia memcoba mengambil Taehyung namun dengan sigap Chanyeol menghalanginya.

"Aku masih ingin bersama bayiku, Bao Xian hyung. Please…" pinta Chanyeol. Ia mendekap Taehyung dengan erat.

"Bayimu? Dia anakku! Jangan mengakuinya sembarangan! Dan jangan memanggilku 'hyung'!" seru Baekhyun lagi.

"Dia memiliki darah dan mataku! Aku juga ayahnya!" balas Chanyeol.

"Tidak! Pokoknya tidak! Taehyung hanya anakku dan Daehyun!"

"Ada apa sih ribut-ribut?" Tanya Jongin yang baru saja masuk ke dalam kamar Baekhyun bersama Krystal, permaisurinya dan Sulli, adik iparnya.

"Kalau bertengkar terus nanti jadinya malah jatuh cinta lohh…" goda Krystal.

"Diam kau, Krystal!"

"Jaga bicaramu, Bao Xian. Dia Ratumu!" ucap Jongin dengan nada dingin.

Baekhyun menunduk. "Maafkan aku…"

"Tidak apa-apa, oppa… huweekkk.." Krystal menutup mulutnya. Rasa mual dan pusing benar-benar menyerangnya dengan tiba-tiba.

"Eonni…" panggil Sulli cemas.

Jongin menoleh acuh pada Krystal. "Sudah kukatakan untuk tidak ikut, Krystal. Kau harus beristirahat! Aku tidak ingin anakku kenapa-kenapa!" kesal Jongin.

"Maaf…" lirih Krystal. Ia mengusap perutnya. Tempat janin berusia dua bulan di rahimnya, putra seorang raja vampire.

"Kembali ke kamarmu!" suruh Jongin.

Krystal pun mengangguk patuh dan kembali ke kamarnya ditemani oleh Sulli.

"Jangan terlalu dingin pada Krystal. Biar bagaimanapun dia istrimu!" ujar Baekhyun menasehati.

"Mendiang ayah 'kan yang memilihnya? Jadi dia istri ayah," jawab Jongin tak perduli. "Jangan terlalu jahat pada Chanyeol. Biar bagaimanapun dia ayah dari Taehyung juga," balas Jongin.

Baekhyun merengut. "Kau menyindirku?"

"Hanya menasehatimu," jawab Jongin santai.

Chanyeol terkikik geli. Ia kembali menatap wajah damai putrinya yang ternyata sudah tertidur lelap.

"Pokoknya aku tidak mau dia mendekati anakku!" Baekhyun menunjuk Chanyeol dengan sinis.

Chanyeol mengangkat bahu. "Apa boleh buat." Namja tampan itu pun menaruh Taehyung di box bayi namun Taehyung kembali terbangun dan menangis.

"Taehyung!" Baekhyun kembali panik. Ia mendorong Chanyeol menjauh dan mengambil Taehyung dari boxnya lalu menggendongnya namun lagi-lagi Taehyung tak mau diam. Mata emeraldnya tertuju pada Chanyeol.

"Dia rindu tuh pada appanya, makanya ingin selalu digendong ayahnya. Sudah sana berikan!" goda Jongin.

Baekhyun menggeleng keras. "Tidak mau!"

"OEEEKKK… OEEEKK…" Taehyung menangis semakin kencang. Chanyeol pun nyengir. Tangannya melambai pada Taehyung sambil berbisik tanpa suara. 'Anak ayah jangan menangis, ya!'

"Aishhh… kau gadis nakal, Taehyung Park!" dumel Baekhyun sambil memberikan Taehyung pada Chanyeol.

Chanyeol menggendong Taehyung dengan senang. "Anak gadis appa memang pintar. Taehyung Park yang terpintar, neee?" kata Chanyeol sambil mencolek hidung mancung Taehyung.

Baekhyun mendelik sedangkan Jongin tertawa lebar. "Apa-apaan itu? Kau anak umma, Taehyung! Harusnya kau nurut pada umma, bukan namja sialan itu! Dan kau, Park Chanyeol! namanya Taehyung Park, bukan Taehyung Park!"

"Segeralah menikah dengan Chan Lie, hyung!" suruh Jongin dengan cengiran lebarnya.

"MWO?" Teriak Baekhyun tak suka.

"Taehyung membutuhkannya. Kau ingin Taehyung terus menangis karena kau menjauhkannya dari ayahnya, huh?" ledek Jongin. Ia pun berlalu meninggalkan kamar Baekhyun.

Chanyeol berjalan menghampiri Baekhyun sambil menepuk-nepuk punggung Taehyung. Ia meletakkan dada Taehyung di dada kirinya.

CHU~

"Aku setuju lhoh dengan pendapat Yang Mulia Kai…" ucap Chanyeol tanpa rasa berdosa sedikitpun setelah mengecup pipi Baekhyun. Ia pun segera kabur sebelum Baekhyun membantainya.

"HYAAAA! KUBUNUH KAU, PARK CHANYEOL!" Teriak Baekhyun dengan muka memerah. Pandangannya terhenti pada foto Daehyun dengan dirinya saat menikah dulu.

'Daehyunnie, salahkah aku menyukainya? Menyukai orang yang membunuhmu?'

:: Flashback End ::

"Chanyeol-ahh, bukan begitu maksudku… aku_"

"Cukup, hyung! Aku… sudah lelah untuk berusaha.." lirih Chanyeol. Beberapa titik airmata menetes dari mata emeraldnya. Ia berbalik dan menoleh pada Baekhyun. "Aku menyerah, hyung. Aku menyerah sekarang…" sambungnya lalu melangkah pergi.

"Appaaaaa~" Taehyung berlari menghampiri Chanyeol sedangkan Taeoh menggenggam tangan Baekhyun. Memintanya untuk menggandengnya.

"Appa mau kemana?" Tanya Taehyung setelah berada di depan ayahnya.

Chanyeol berlutut dan mengusap rambut hitam putrinya. "Appa tidak kemana-mana, sayang. Temuilah ummamu, appa hanya ingin pergi sebentar."

"Jinjja?" Tanya Taehyung tak yakin. Ia menghapus airmata di pipi Chanyeol namun enggan bertanya mengapa ayahnya itu menangis.

"Iya, anakku sayang" jawab Chanyeol. ia memeluk Taehyung sekilas, mengecup puncak kepalanya lalu meninggalkan putrinya itu.

"Taehyung.." panggil Baekhyun namun matanya tertuju pada punggung Chanyeol yang semakin menjauh.

"Nae, umma?" jawab Taehyung seraya menghampiri ummanya.

"Bawa Pangeran Taeoh pulang bersamamu, umma akan menemui appamu, mengerti?"

Taehyung mengangguk. "Ciap, umma!" sahut Taehyung. Dia pun mengeluarkan sayap hitamnya lalu meminta Taeoh melakukan hal yang sama. Kedua bocah kecil itu pun terbang kembali ke istana yang mereka tempati.

Baekhyun bergegas mengejar Chanyeol dengan langkah lebar. Tidak, dia tidak berlari. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada nyawa baru di dalam rahimnya. "Tidak, Chanyeol-ahh. Kau tidak boleh meninggalkanku! Kau tidak boleh meninggalkan kami!"

"ukhh…" tak sengaja Chanyeol menabrak seorang bocah lelaki yang tengah memakan ice creamnya di pinggir taman lili putih. Bocah itu jatuh terduduk dan ice creamnya jatuh ke tanah namun bocah itu hanya memandangi ice creamnya tanpa menangis sedikitpun.

"Maafkan paman ya, anak manis. Paman tidak sengaja. Adakah yang sakit? Kau ingin paman membelikanmu ice cream yang baru?" Tanya Chanyeol. Ia berjongkok dan membantu bocah itu berdiri.

"Tidak pellu, paman. Chantae bica minta pada umma" jawab bocah bernama Chantae itu.

"Oh… Nae. Dimana ummamu, Chantae?"

"Taemin!" panggil seseorang tak jauh dari Chanyeol dan Chantae. Chantae pun berbalik dan melambaikan tangan pada ibunya sementara Chanyeol mendongak.

"Umma!" panggil Chantae balik.

"Taemin?" kaget Chanyeol.

"Chanyeol hyung…" lirih Taemin tak kalah syok. "Kemari, Chantae!" suruh Taemin.

Chantae menatap bingung pada ummanya. "Tapi, umma_"

"Umma bilang kemari, Park Chantae! Apa kau tidak dengar?" seru Taemin marah.

Chantae menunduk dan mulai menghampiri ummanya. "Mianhae, umma."

GREP

Chanyeol menarik tangan Taemin. Bocah itu pun menoleh pada Chanyeol. "Park?" Chanyeol mengulang nama marga Taemin. 'Kenapa sama dengan margaku? Ja-jangan-jangan…' panik Chanyeol dalam hati.

Taemin menutup mulutnya. 'Sial! Kenapa bisa keceplosan?' batin Taemin.

"Paman kenal umma Taemin?" Tanya bocah berumur empat tahun lebih itu.

Chanyeol menatap Taemin dengan serius. Ia baru saja menyadari bau darah Chantae. Setengah manusia, setengah vampire. "Min_"

BUGH!

Taemin meninju pipi kiri Chanyeol sampai namja tampan itu tersungkur. Taemin pun menggendong Chantae kedalam pelukannya.

"Jauhi anakku, Park Chanyeol!" Taemin berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Chanyeol. Tangan kiri Chantae memeluk leher ummanya dengan erat sementara tangan kanannya berusaha menggapai Chanyeol sambil memanggilnya 'paman' berkali-kali.

Chanyeol memegangi pipinya yang sedikit nyeri. "Taemin, apa dia anakku?" seru Chanyeol.

Taemin berhenti dan berbalik. "Anakmu? Anakmu kau bilang? Dia anakku, Chanyeol hyung! Kau telah meninggalkanku. Kau telah menelantarkan kami! Apa kau masih pantas menyebutnya anakmu? Apa hakmu?" sinis Taemin.

"A-aku_"

"Kau telah meninggalkanku, hyung. Setelah kau mengambil semuanya dariku. Pikiranku, hatiku, cintaku, bahkan tubuhku…" ujar Taemin. "Kau… tak memiliki hak atasnya!"

Chantae hanya diam. Dirinya yang masih terlalu kecil dan polos tak mengerti dengan kata-kata yang dilontarkan ibunya. Yang ia tau, ibunya tidak menyukai 'paman' itu. 'Kenapa umma tidak suka pada paman? Bukankah paman itu olang baik?' batin Chantae.

Taemin pun kembali berbalik dan meninggalkan Chanyeol. Chanyeol bangun dan bergegas mengejar Taemin namun suara Baekhyun menghentikan langkahnya.

"Chanyeol-ahh!" panggil Baekhyun yang sejak tadi mendengar semua yang diucapkan Taemin, namja yang dulu memapah tubuh Chanyeol saat Baekhyun baru saja menghisap darahnya.

"Jangan pergi, Chanyeol-ahh… Please…" pinta Baekhyun.

Chanyeol hanya menoleh sedikit. "Maaf, hyung…" Chanyeol pun segera mengejar Taemin tanpa memperdulikan Baekhyun.

Baekhyun terduduk lemas dengan airmata yang membasahi pipinya. "Akankah kau tetap meninggalkanku jika kukatakan ada keturunanmu di perutku, Chanyeol-ahh? Akankah kau kembali padaku jika kukatakan aku mencintaimu, Park Chanyeol? I love you so badly, tapi kau tak pernah mengerti. Salahku yang tak menyadari perasaanku lebih awal padamu. Aku… kalah…"

.

#

.

"Taemin-ahh! Buka pintunya, pleaseee…" Chanyeol mengetuk (atau lebih tepatnya menggedor-gedor) pintu rumah Taemin berkali kali namun Taemin sama sekali tak menghiraukannya. Malam semakin larut namun Chanyeol tak menyerah. Ia harus bertemu dengan Taemin. Jika benar Taemin adalah anaknya, ia harus bertanggung jawab.

Sementara itu, Taemin hanya diam sambil menonton televisi di ruang tengah. Chantae melahap serealnya sambil memandangi Taemin. "Umma, kasihan paman Chanyeol kalau di lual telus… nanti digigitin nyamuk lhohhh…" ucap Taemin dengan polosnya.

"Biarkan saja, Chantae! Setelah menghabiskan serealmu, cepatlah tidur! Arraseo?" ujar Taemin.

Chantae mengangguk lesu. Dia 'kan tidak bisa tidur di malam hari. Meskipun ia tak tau mengapa dirinya tak bisa tidur di malam hari seperti anak-anak lainnya. "Allaceo.." sahut Chantae.

Chantae menaruh mangkuk bekas serealnya di dapur dan segera masuk ke kamarnya. Mencuci muka dan menggosok gigi serta memakai piyama bergambar keroronya lalu naik ke tempat tidur. Samar-samar ia masih mendengar teriakan Chanyeol.

Chantae mengendap-endap mengunci pintu kamarnya lalu membuka jendela kamarnya. Ia menengok ke samping, tempat teras rumah yang artinya tempat Chanyeol mengetuk err… menggedor pintu rumahnya.

"Paman! Cccttt… paman!" panggil Chantae dengan suara pelan.

Chanyeol berhenti menggedor pintu rumah Taemin dan berusaha mencari sumber suara yang memanggilnya.

"Cccttt… Dicini, paman!" bisik Chantae lagi sambil melambaikan tangannya.

Chanyeol menengok ke samping kirinya dan mendapati sebuah tangan kecil melambai-lambai padanya. "Chantae" sahut Chanyeol dengan berbisik pula.

"Umm~ kemaliii…" suruh Chantae. Chanyeol pun mengendap-endap menghampiri jendela kamar Chantae dan masuk lewat jendela.

"Chantae?" panggil Taemin dari balik pintu.

Chanyeol dan Taemin menoleh ke arah pintu kamar dengan wajah memucat. Atau kulit mereka memang pucat? Entahlah, yang pasti jantung mereka berdengup kencang sekarang.

"Chantae, siapa di dalam?"

TBC


Author Note : Kenapa taehyung dimasukin jadi anaknya chanbaek? kenapa dia harus di GS jadi yeoja? karena emang gak ada siapapun lagi yang terlintas dipikiran saya selain dia wkwk.

Chantae adalah anak chanyeol sama taemin. Kenapa saya jadiin taemin di sligtnya chanbaek? karena semua karakter exo udah kepake dicerita ini. dan chanyeol kalo di ff yaoi itu pasti sightnya si kyungsoo kan sedangkan kyungsoo udah dipake jadi pemeran utama.

Tenang aja, Official pairnya tetep Kaisoo,Chanbaek,Chenmin,Hunhan,SuLay (di chapter depan). Staytune aja!