Preferential Concubine, Chapter 5
Staring : Kim Jongin,Do kyungsoo.
ALL EXO PAIRING.
Special character : Chantae,Taeoh,Taehyung(GS),Taemin.
Author note : Dibaca baik baik chapter ini supaya gak bingung di chapter selanjutnya.
Fast update.
ENJOY READING.
.
.
Chantae meneguk ludahnya perlahan. "Bu-bukan ciapa-ciapa, umma" jawab bocah manis itu.
"Chantae tidak berbohong 'kan?" seru Taemin dari luar kamar.
"Ti-tidak!" jawab Chantae dengan gugup.
"Yasudah, selamat tidur, sayang!"
"Celamat tidul~" sahut Chantae. Bocah itu menghembuskan nafasnya dengan lega sesaat setelah mendengar langkah kaki ummanya yang menjauh.
Chantae mendongak dan menatap Chanyeol dengan mata bulat besarnya. "Paman tidak digigitin nyamuk 'kan?" Tanya Chantae.
Chanyeol berlutut di depan Chantae dan menggeleng. Matanya terasa perih dan butiran airmata mulai jatuh di pipinya. "Tidak Chantae, terimakasih sudah membawa paman ke kamarmu." Chanyeol mengusap rambut Chantae yang memanjang dengan lembut.
"Cama-cama. Paman kenapa menangis? Apa kalena umma tidak suka pada paman?" Chantae menghapus titik-titik airmata Chanyeol dengan tangan mungilnya.
"Tidak…" elak Chanyeol. "Chantae, kalau boleh paman tau, dimana appamu?" Tanya Chanyeol lagi.
Chantae mengerjapkan matanya dengan lucu. "Tidak tau. Kata umma, Chantae cukup memiliki umma. Tidak pellu memiliki appa," jawab Chantae polos.
Chanyeol segera menarik Chantae ke dalam pelukannya. "Tidak sayang… Kau juga butuh appa. Aku appamu, Chantae. Maafkan appa sudah meninggalkanmu…"
"Appa?" ulang Chantae. Ia merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Chanyeol.
"Nae, panggil aku 'appa'. Arra?" Tanya Chanyeol balik. Vampire halfblood itu menangkup pipi Chantae.
"Appa? Cekalang Chantae punya appa?" Tanya Chantae dengan girangnya. Jari telunjuknya mengelilingi wajah Chanyeol. "Mata appa dan mata Chantae cama. Bulat dan besal, tapi walnanya beda…" Chantae mengerucutkan bibirnya.
"Sama ataupun beda, Chantae tetap anak appa, mengerti?" Chanyeol menempelkan dahinya ke dahi Chantae.
"Allaceyo! Appa jangan pelgi lagi, ya!" pinta Chantae.
Chanyeol tersenyum miris. 'Jangan pergi? Lalu bagaimana dengan Baekhyun hyung dan Taehyung? Aku sudah berjanji pada Taehyung untuk tidak pergi terlalu lama. Bagaimana dengan Taemin? Mana mungkin dia membiarkanku dekat dengan Chantae? Arrrggghhh… Kenapa semua jadi begini?' batin Chanyeol kalut.
"Appaaa.." panggil Chantae karena Chanyeol tidak menjawab permintaannya.
Chanyeol tersentak. "Ahhh… sudah malam, Chantae. Kau harus tidur, sayang!" ucap Chanyeol mengalihkan perhatian. Ia menggendong tubuh kecil Chantae lalu merebahkan diri mereka di kasur Chantae. Chanyeol memeluk Chantae karena ranjang Chantae yang berukuran kecil.
"Appa, Chantae tidak bica tidul…" adu Chantae. Ia menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol dan mengusap pipi kanan Chanyeol.
"Eh? Kenapa?" kaget Chanyeol.
"Tidak tau~. Chantae cuma tidul di ciang hali," jawab Chantae.
Chanyeol mengangguk mengerti. Putranya itu sama halnya dengan dia. Tak dapat tidur di malam hari karena mereka adalah bangsa vampire. "Apa ummamu tidak pernah memberitauhumu tentang vampire?" Tanya Chanyeol.
"Pampil? Apa itu?" Tanya Chantae tak mengerti.
Chanyeol memutar otaknya. Mana mungkin ia bilang jika vampire itu makhluk abadi yang selalu menghisap darah manusia? Anaknya itu bisa ketakutan. Sepertinya Taemin pun merahasikan jati diri Chantae yang sebenarnya.
"Vampire itu… Orang yang memakai tabir surya di siang hari dan meminum sirup warna merah," jawab Chanyeol sekenanya.
Kini giliran Chantae yang mengangguk mengerti. "Umma celalu memakaikan Chantae tabil sulya waktu bepelgian. Chantae juga celing minum cilup melah. Cilup stobeli. Jadi Chantae pampil, ya?"
Chanyeol mengecup dahi putranya. "Nae, sayang… Kau vampire" jawab Chanyeol. "Vampire setengah manusia," guman Chanyeol kemudian.
"Apa appa juga pampil?" Tanya Chantae lagi.
"Nae, appa juga vampire."
Dan merekapun terus mengobrol sampai pagi menjelang. Tentunya dengan berbisik agar Taemin tak curiga. Chantae pun semakin lengket pada ayahnya.
.
#
.
Pagi menjelang. Lagi-lagi tak ada mentari yang menyambut aktivitas di istana vampire kepunyaan Jongin. Masih sama seperti biasanya. Hujan deras dan petir yang menggelegar disana-sini.
"Ungghh…" Kyungsoo menggeliat pelan. Tubuhnya terasa pegal akibat aktivitas kemarin pagi. Perutnya sedikit bermasalah karena ia belum makan dari kemarin. Udara yang dingin membuatnya awet bergelung dalam selimut tebal.
Kyungsoo membuka matanya secara perlahan. Samar-samar terlihat sebuah lampu kristal di langit-langit. Kyungsoo melotot kaget. Ia mengucek matanya beberapa kali dan pandangannya semakin jelas. Ia-dapat-melihat!
"Ma-mataku…" lirih Kyungsoo dengan bahagia. Airmata menetes dari matanya yang kini berwarna coklat caramel, bukan putih susu lagi. Ia membungkam bibirnya dan menoleh ke samping.
DEG
Jantung Kyungsoo seakan berhenti berdetak. Didepan matanya kini ada seorang namja berparas sempurna tengah terlelap dengan nyamannya. Poni rambut hitam pekatnya yang menutupi sebagian matanya, juga bibir tipis pucat yang pasti akan sangat tampan saat menyunggingkan sebuah senyuman.
Kyungsoo memberanikan diri untuk menangkup pipi kanan namja tampan itu. Mengusapnya dengan lembut dan tersenyum riang. 'Diakah Kim Jongin? Raja vampire itu? Su-suamiku?' tanyanya dalam hati.
"Terimakasih, Yang Mulia" ucap Kyungsoo. Impiannya untuk dapat melihat seisi dunia dapat terwujud. Walau yang mewujudkannya adalah orang yang menghancurkannya.
Mata Jongin tiba-tiba terbuka dan menatap Kyungsoo dengan fokus. Kyungsoo sontak menjauhkan tangannya dari pipi Jongin begitu namja tampan itu menampakkan eyeliner di sekitar matanya yang menambah kesan tajam dari matanya namun Jongin segera menggenggam tangan Kyungsoo dan menempelkannya lagi di pipinya. Yesaung mengusap-usapkan telapak tangan Kyungsoo dipipinya seperti kucing manja.
"Suka dengan mata barumu, Caramel?" Tanya Jongin.
Kyungsoo mengangguk dengan wajah memerah. Entah kenapa pipinya tiba-tiba terasa panas. "Te-terimakasih…" ucap Kyungsoo.
"Hanya itu balasanmu atas kedermawananku memberikanmu penglihatan?" Tanya Jongin menyeringai.
Kyungsoo menatap Jongin dengan bingung. "Apa yang harus kulakukan untuk memba- ANGHH!" Kyungsoo memekik kaget. Sesuatu yang keras bersarang di dalam holenya dan memasukinya lebih dalam. Kyungsoo menatap horor Jongin.
Jongin terkekeh. "Tidak, Kyungie-ah. Aku tak akan menyentuhmu lagi. Aku sedang lemah untuk saat ini," ucap Jongin. Dengan perlahan ia mengeluarkan miliknya dari dalam tubuh Kyungsoo.
Jongin membelai lembut perut Kyungsoo. "Kau cukup membalasnya dengan menjaga putraku," kata Jongin.
"Putra? Bagaimana kalau bayinya perempuan?" Tanya Kyungsoo.
Mata Jongin yang sebelumnya terlihat melembut kini berubah memancarkan amarah. "Tidak, Kyungsoo! Bayi di dalam perutnya harus namja! HARUS!" ucap Jongin dengan penuh penekanan di kata terakhir.
Kyungsoo hanya dapat menunduk sambil menggigit bibirnya. Tangannya meremas ujung selimut dengan gusar.
Jongin segera bangun dari ranjang dan memakai celananya. Saat akan mencapai pintu, Jongin melirik Kyungsoo dengan sudut matanya. "Ingat, Kyungsoo, kau tidak boleh melahirkan seorang bayi perempuan!" tegas Jongin. Sayap merah keluar dari belahan punggung Jongin. Ia merapalkan sebuah mantera lalu melayang meninggalkan kolam darah.
'Kau tidak boleh melahirkan seorang bayi perempuan, Kyungie. Karena aku tak ingin kehilanganmu…'
.
#
.
Baekhyun termenung memandangi putrinya yang sama sekali tak mau meminum sarapannya pagi ini. Sejak kemarin malam Taehyung tak henti-hentinya merengek menanyakan keberadaan Chanyeol. Tapi apa yang bisa diperbuatnya? Chanyeol telah memilih pergi meninggalkannya.
"Hiks… appa dimana?" Tanya Taehyung sambil menarik-narik lengan baju Baekhyun. Airmata tak pernah lelah membasahi wajahnya.
Baekhyun membelai lembut rambut putrinya. "Appa sedang pergi, Taehyung," jawab Baekhyun seadanya.
"Pelgi kemana? Kenapa tidak pulang-pulang? Kenapa tidak menemani Taehyungie tidul sepelti biasanya? Kenapa tidak meminumkan segelas dalah pada Taehyungie sepelti biasanya? Kenapa malah umma yang melakukannya?" tanya Taehyung bertubi-tubi.
"CUKUP, TAEHYUNG! MEMANGNYA APA BEDANYA UMMA DENGAN APPAMU ITU? KAMI SAMA-SAMA ORANGTUAMU! BERHENTILAH MERENGEK SEPERTI ITU!" Teriak Baekhyun kalap.
Taehyung mundur menjauhi ummanya dengan pandangan terluka. Sekeras apapun Baekhyun, ummanya itu tak pernah membentaknya.
"APA YANG KAU LAKUKAN, BAO XIAN?" Sebuah bentakan yang bahkan lebih keras daripada petir yang bergemuruh di luar istana pun menyentak Baekhyun.
Jongdae menghampiri keponakannya dan menggendongnya. Taehyung menangis semakin keras dan memeluk leher pamannya itu. Jongdae yang selalu membanggakan darah bangsawannya itu sangatlah menyayangi Taehyung meski keponakannya itu memiliki darah manusia. Entahlah, Jongdae memberikan pengecualian pada Taehyung.
Jongdae menatap Baekhyun dengan tajam. "Jangan-pernah-membentak-keponakanku!" ucapnya dingin dan dapat terlihat berbagai ancaman dari setiap penekanan kalimatnya.
Baekhyun mengacak rambutnya denga kesal. "Kau tidak mengerti, Jongdae! Aku sedang banyak masalah!"
"Dan jangan pernah limpahkan kekesalanmu pada anakmu! Kau kekanakkan, hyung!" sinis Jongdae. Ia mengusap punggung Taehyung. Mencoba menenangkannya dan syukur-syukur Taehyung mau berhenti menangis namun sepertinya memang hanya Chanyeol yang dapat menghentikan tangisan Taehyung.
"Ada apa ini?" Jongin berjalan menghampiri kakak serta adiknya yang tengah berada di salah satu gazebo dengan tiang-tiang kristal.
"Tanyakan saja pada kakakmu itu mengapa dia membentak keponakanku!" sahut Jongdae dengan kesal.
Jongin menatap Baekhyun dalam. "Bawa keponakanku itu ke kamarnya, Jongdae-ah. Ada yang ingin kubicarakan dengan Baekhyun hyung."
"Hn" guman Jongdae dan segera meninggalkan gazebo setelah mengambil sebuah payung hitam untuk melindungi tubuhnya dan tubuh Taehyung dari hujan.
"Jongdae sudah pergi, ceritakanlah padaku tentang masalahmu, hyung! Kau tak pernah membentak Taehyung sebelumnya," ucap Jongin.
Baekhyun menunduk dan mulai terisak. Selalu seperti ini, ia tak pernah bisa menyembunyikan segala sesuatu dari Jongin. Dia akan selalu terlihat rapuh di depan Jongin. Jongin pun menghampiri kakak sulungnya. Mengusap pipi kanan Baekhyun dengan tangan kirinya yang bercahaya.
Jongin selalu memberikan kehangatan bagi orang-orang terdekatnya yang sedang bersedih. Dan ia selalu berhasil untuk menenangkan mereka dengan cara itu.
"Chanyeol meninggalkan kami…" lirih Baekhyun.
Jongin tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia hanya mendengarkan seluruh keluhan Baekhyun. "Di-dia pergi dan lebih memilih bersama anaknya dari seorang manusia bernama Taemin. Bahkan dia belum tau tentang kehamilanku. Juga perasaanku terhadapnya.."
Tangan kiri Jongin turun dan membelai perut Baekhyun. Baekhyun memejamkan matanya, merasakan kenyamanan saat kehangatan melingkupi perutnya.
"Perlukah aku membunuhnya untukmu?" Tanya Jongin dengan santai.
Baekhyun sontak membelalakkan matanya dan mendongak. "Tidak! Jangan lakukan itu, Jongin! Kami membutuhkannya!" kata Baekhyun dengan panik.
Jongin menyeringai. "Dia membuat kakakku menangis. Dia menghamili orang lain selain kakakku. Dia meninggalkan kakakku demi masa lalunya. Haruskah kumaafkan seluruh dosanya?" Tanya Jongin dingin.
"Bahkan meskipun ia membuatku seribu kali terpuruk, kau tak boleh membunuhnya! Karena dia lebih berharga daripada hidupku yang abadi…"
Jongin ngengir. Ia mengecup dahi Baekhyun. "Kujanjikan untukmu… Aku akan membawanya pulang malam ini. Siapkan pesta untuk ulang tahun Taeoh dan upacara pemilihan pendamping untuknya malam ini!" ucap Jongin.
"Tapi… ulang tahun Taeoh masih setengah bulan lagi. Diapun belum berumur lima tahun, mana mungkin kau membuat upacara pemilihan pendamping untuknya?" Tanya Baekhyun tak percaya.
"Ulang tahunnya yang ke lima bertepatan dengan usia kandungan Kyungie yang ke tujuh. Bukankah saat itu kau harus meramalkan gender anakku dalam perutnya? Aku hanya tidak ingin merayakan sesuatu di hari yang menegangkan.." jawab Jongin.
"Baiklah…" sahut Baekhyun.
.
#
.
Taemin memandangi pintu rumahnya yang tertutup rapat.
'Apa dia masih diluar?' batin Taemin. Merasa iba juga karena membiarkan ayah dari anaknya (mau tidak mau Taemin harus mengakuinya) itu berada di luar rumah dari sore kemarin. Setelah berpikir cukup lama, Taemin pun memutar kunci rumah dan membuka pintu.
Kosong
Taemin mendengus dan berdecih pelan sambil berjalan keluar. "Tentu saja, mana mungkin dia akan bertahan."
Pandangan Taemin jatuh pada jendela kamar Chantae yang tidak tertutup. Wajah Taemin pucat seketika. Ia segera berlari menuju kamar putranya itu dan mencoba membuka pintu kamar anaknya namun ternyata pintu kamar Chantae terkunci.
"Ishhh… sial!" gerutu Taemin. Ia bergegas mengambil kunci cadangan kamar Chantae di kamarnya. Setelah mendapatkan kunci yang ia butuhkan, Taemin pun kembali ke kamar Chantae dan memasukkan kuncinya ke lubang kunci lalu memutarnya. Pintu pun terbuka.
Mulut Taemin menganga lebar. Ia berlari menghampiri ranjang Chantae dan mendorong sosok bertubuh kekar yang tengah mendekap buah hatinya hingga sosok itu terjatuh dari ranjang.
"Arrrrgggghhh…" Chanyeol menjerit keras. Ia baru tidur sekitar tiga jam dan sekarang malah ada orang yang mendorongnya hingga jatuh dari tempat tidur.
"Sudah kukatakan untuk menjauhi anakku, Park Chanyeol. apa kau tidak mengerti bahasa manusia?" seru Taemin kesal.
Chantae terbangun dari tidurnya karena jeritan ayahnya dan teriakan ibunya. "Ummaaaa…"
Taemin menoleh pada Chantae. "Chantae…" Namja bermata elang itu segera menggendong Chantae. Menaruh kepala Chantae di pundaknya. "Chantae tidak apa-apa, heum?" Tanya Taemin cemas.
"Ummaaa… kenapa menjahati appa?" Tanya Chantae dengan raut sedih.
"Eh? Ap-appa?"
Chanyeol segera bangun dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. "Tidak, Chantae… Umma tidak menjahati appa kok. Chantae jangan sedih, ya!" pinta Chanyeol.
"Benalkah umma?" Tanya Chantae pada Taemin.
Taemin mengangguk dengan setengah hati. "Nae…"
"Uhukk.. uhuukk…" Chantae terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. "Uhhuukk.. Ummaaa… ha… uhhuuukk… hausss…" rengek Chantae. Tiba-tiba saja bocah manis itu menangis.
Mata emerald Chanyeol pun melebar. "Chantae? Taemin, mana darahnya?" Tanya Chanyeol gusar. Chantae menunjukkan gejala anak-anak vampire yang sedang kehausan darah. Biasanya anak-anak vampire tidak mencari mangsa sendiri, mereka akan mendapatkan darah dari buruan orang tuanya.
Taemin langsung panik. "Chantae… Sayang? Kau tak apa?" Tanya Taemin. Ia mengusap punggung Chantae.
"Uhuukk.. hausss…. Ciluppp… uhuukk" ucap Chantae terbata.
"Tunggu sebentar sayang," pinta Taemin. Ia menurunkan Chantae dan mendudukkannya di pinggir ranjang lalu bergegas mengambil persediaan darah yang disimpannya sementara Chanyeol sibuk menenangkan Chantae. Tak lama kemudian Taemin kembali dengan segelas cairan pekat berwarna merah.
Chantae langsung menyambar gelas yang Taemin bawa dan meneguk isinya dengan rakus hingga tak bersisa. "Glukk.. Glukk.. Glukk.. Ahh… cilupnya enak. Chantae cudah tidak hauss…" ucap Chantae setelah ia menenguk habis darah dari Taemin.
Taemin menghela nafas lega. Ia mengusap kepala putranya dengan lembut. "Chantae sudah tidak haus lagi 'kan?" Tanya Taemin.
Chantae mengangguk riang. "Nae, umma. Telimakaciiiihhh…"
"Iya… Chantae mandi sana!" suruh Taemin. Sekali lagi Chantae mengangguk dan menuruti perintah ibunya.
"Appa jangan pelgi ya! Halus tetap cama Chantae!" ucap Chantae memaksa.
Chanyeol mengangguk. "Nae. Appa tidak akan kemana-mana." Chanyeol menepuk pantat Chantae dan bocah itu pun langsung berlari masuk ke kamar mandi dengan tawa riang. Chanyeol menatap Taemin.
"Taeminnie…" panggil Chanyeol.
Taemin membuang muka dan berjalan menjauh. "Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Park Chanyeol!" ketus Taemin.
Chanyeol menahan tangan Taemin sesaat sebelum Taemin keluar dari kamar Chantae. "Taeminnie, please… Forgive me…" pinta Chanyeol memelas.
Taemin menoleh dan menggentakkan tangan Chanyeol yang menggenggam tangannya. "Memaafkanmu? Mudah sekali kau memintanya?"
"Aku tau aku berdosa besar padamu, Taeminnie. But, please… take it easy on me. Can't you see you punished me more than enough already?"
"Aku-tidak-perduli!" sahut Taemin dingin.
"Taeminnie, Chantae juga membutuhkanku, kau bahkan tidak memberitahunya tentang dirinya yang seorang vampire!" ucap Chanyeol.
Taemin mulai hilang kesabaran. Dengan tangan kosong ia meninju pipi kiri Chanyeol hingga namja tampan itu tersungkur seperti hari kemarin. Taemin berjongkok diantara tubuh Chanyeol dan menarik kerah baju Chanyeol hingga namja itu setengah terbangun. "Memberitahunya kau bilang?"
Chanyeol hanya diam. Pasrah dan tidak melawan meski saat ini ia bisa saja membalas Taemin seribu kali dari apa yang Taemin perbuat. "Umm~" jawab Chanyeol akhirnya.
Bugh
Satu pukulan lagi didapatkan oleh Chanyeol. "Apa kau bodoh? Apa kau tidak tau betapa beratnya aku mempertahankannya? Apa kau tau seluruh orang mengejek dan mencemoohku karena aku hamil? Hamil tanpa suami! Apa kau tau bagaimana perjuanganku untuk melahirkannya? Apa kau tau bagaimana aku menghidupi diri kami? Apa kau tau Chantae selalu diejek oleh teman-temannya sebagai anak haram? Anak yang tak memiliki ayah! Satu kesalahanmu dan kami harus menanggungnya selama bertahun-tahun. Dan kini kau bilang 'you see you punished me more than enough already?', huh? Lalu juga bertanya kenapa aku tidak memberitahu Chantae tentang dirinya yang seorang vampire? Apa kata orang nanti? Chantae itu vampire, harus dijauhi karena bisa membunuhmu, begitu? APA KAU SENANG JIKA CHANTAE DIKUCILKAN?"
Taemin terus berteriak dengan airmata yang menetes dari maatelangnya. "Kau jahat, Park Chanyeol. Kau meninggalkanku disaat aku sangat membutuhkanmu. Apa salahku padamu? APA SALAHKU SAMPAI KAU SELALU MENYAKITIKU? Hiks… kau membalas rasa kasihku dengan luka…" Taemin melepaskan kerah baju Chanyeol lalu menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Menangis. Apa lagi yang bisa ia lakukan?
Chanyeol tercekat. 'Sejahat itukah aku terhadapmu, Taeminnie? Seharusnya aku tak meninggalkan orang yang benar-benar mencintaiku demi orang yang sama sekali tak pernah bisa mencintaiku…' batin Chanyeol.
Chanyeol duduk dan memangku Taemin serta memeluknya dengan hangat. "Maaf, Taeminnie… Maafkan aku… Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Tak akan meninggalkanmu dan Chantae. Aku akan selalu bersama kalian…" ucap Chanyeol.
Taemin membalas pelukan Chanyeol dan menangis sejadi-jadinya. "Kau harus menepatinya, hyung! Jangan memberiku harapan palsu! Jangan menyakiti aku lagi!"
Chanyeol mengusap rambut belakang Taemin dan menciumi pundak Taemin guna menenangkannya. "Nae… Akan kulakukan…" jawab Chanyeol.
'Appa… Taehyungie cayang appa…'
DEG
Jantung Chanyeol tiba-tiba terasa nyeri. Suara putri kecilnya bergema di telingnya. 'Taehyung… Maafkan appa, sayang…' batin Chanyeol.
"Appa cama umma belpelukan kenapa Chantae tidak dipeluk juga?" Chantae masuk ke kamar dengan muka cemberut. handuk hijau bergambar kodok melingkar di pinggangnya.
Chanyeol dan Taemin merenggangkan pelukannya. "Aigoooo… Anak appa itu Chantae atau kodok sih?" gurau Chanyeol. ia menarik Chantae dan mendudukkannya diantara dirinya dan Taemin.
"Hyaaa… Chantae itu bukan kodok tau! Cuma cuka caja cama kodok. Tapi Chantae selatus kali lebih tampan dali kodok!" ucap Chantae.
Chanyeol dan Taemin tertawa lebar. "Benarkah?" goda Chanyeol. Ayah dari Chantae itu menggelitik pinggang putranya begitupun dengan Taemin.
"Ahahahahahahahaha… Geli appa.. umma geli! Ahhaahaha… hentikannn.. hahahha…"
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
Matahari mulai tenggelam di barat sana. Chantae kecil tengah asik bermain bola dengan ayahnya sementara Taemin duduk santai di teras sambil memandangi Chanyeol dan anak mereka. Telefon rumah tiba-tiba berbunyi. Taemin pun bergegas masuk ke dalam rumah dan mengangkat telefon.
"Halo…"
"Halo,Lee Taemin… Bisakah aku berbicara dengan Park Chanyeol?" Tanya suara di seberang sana.
Taemin tercekat. Seharusnya tak ada yang tau jika Chanyeol tengah berada bersamanya. "Kau siapa?" Tanya Taemin.
"Katakan ini dari Kim Jongin, dia mengenalku. Dengan sangat baik…" jawab suara itu lagi. Terdengar begitu menyeramkan seakan bisa menelannya hidup-hidup meski itu hanyalah sebuah suara.
Taemin menjatuhkan gagang telefonnya saking takutnya. Ia berseru memanggil nama Chanyeol beberapa kali dan Chanyeol segera menghampirinya.
"Taeminnie, kenapa teriak-teriak?" Tanya Chanyeol heran.
Taemin menunjuk gagang telefon dengan tangan bergetar. "Seseorang menelefonmu. Kim… Kim Jongin."
Kini giliran Chanyeol yang melotot kaget. "Jongin?" ulang Chanyeol.
Taemin mengangguk mengiyakan. Ia memberikan gagang telefonnya pada Chanyeol. Chanyeol pun menerimanya dan menempelkannya di telinganya. "H-Hyung…"
"Apa kabar, Chanyeol-ah? Suka dengan keluarga barumu?" Tanya Jongin dengan ramah namun Chanyeol tau dengan pasti jika Jongin hanya berpura-pura ramah. Jongin adalah vampire terlicik yang pernah ia temui. Satu-satunya vampire yang tak dapat ditebak. Seperti iblis dalam tubuh malaikat.
"Hyung, aku_"
"Kau mau meninggalkan Taehyung, huh? Apa kau tau sejak kemarin ia tak berhenti menangis dan tak mau mengkonsumsi darah karena terus menanyakanmu? Ayah macam apa kau?" potong Jongin.
Chanyeol menunduk sedih. Taehyung sangat bergantung padanya. Sangat…
"Sepertinya Taehyung cukup senang bersama adiknya yang setengah vampire itu. Lihatlah, mereka begitu akrab.." ucap Jongin lagi.
Chanyeol mendongak tak percaya. Ia baru ingat jika ia meninggalkan Chantae sendiri di depan rumah karena bocah itu masih asyik bermain bola. Chanyeol bergegas ke depan rumah dengan gagang telepon nirkabel masih berada di tangannya. Taemin yang cemas pun mengikuti langkah kaki Chanyeol.
"Menurutmu… Apa yang akan dilakukan oleh Taehyung jika dia tau bocah setengah vampire itu merebutmu darinya? Aku harap Taehyung tidak membunuhnya. Karena aku lebih ingin Taehyung menyiksanya secara perlahan…" ucap Jongin lagi. Ia melambaikan tangannya saat Chanyeol telah sampai di depan rumah.
"Tidak… Itu tidak boleh terjadi!" ucap Chanyeol. tangannya terasa lemas dan gagang teleponnya jatuh ke lantai. "CHANTAE!"
TBC
Author note : gimana chapter ini? belum banyak sih kaisoonya. sabar. bagi kalian yang nanya kapan kaisoo momentnya? itu nanti buat kejutan. di ff aslinya juga begini kok alurnya. mulai dari chapter depan dan seterusnya itu akan ngebahas kaisoo dan fokus di kaisoo. tapi juga jangan lupa kalian tetep harus ikutin yang chanbaek,Chenmin, dan Hunhan nya. jangan di skip bacanya soalnya peran mereka bakal nongol terus di inti story kaisoonya. Dan maaf banget atas kesalahan typo yang lupa diperbaiki di chapter chapter kemarin. maklum, updatenya malem dan ngantuk banget sih abisnya kkk.
Soal ending, ini akan ikutin sama persis dari ff aslinya. karena saya sendiri belum izin sama Jeje nya, jadi nanti akan dibicarain lagi. Tapi yang jelas, saya lagi kumpulin ide biar cerita ini happy ending. tenang aja hehehe.
Salam,Drabble wookie.
