Title : Something Wrong

Genre : school life, romance, gender switch, AU

Pairing : HunHan, ChanBaek, KaiSoo, SuLay.

Rate : Teens

Length & type : Chaptered

.

.

Disclaimer : Cast murni bukan milik author tapi cerita ini milik author.

so...

DON'T BE SIDERS

DON'T PLAGIAT

DON'T BASH

.

.

WARNING! GENDER SWITCH & TYPO!

.

.

.

.

.

Summary :

Keinginannya untuk pindah ke Korea membuat ia bertemu dengan si namja 'beasiswa' yang selalu di bully oleh teman-temannya karena bersekolah di sekolah tempat orang-orang kaya. Namun apa yang akan mereka katakan jika ternyata si namja tampan 'beasiswa' itu ternyata anak kandung dari keluarga Oh -keluarga terkaya sedaratan Asia Timur-?

.

.

.

"Kau..." ucap Kai tak percaya dengan nada menggantung.

"Wae? Aku benar kan?" Tanya Sehun dingin.

"Meski kita bukan saudara kandung tapi kita tetap saudara Oh Sehun! Kita telah bersama sejak umur kita 10 tahun!" Hardik Kai sambil bangkit dari tempat duduknya dan menatap Sehun nyalang sambil jari telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah Sehun dengan emosi.

"Bagaimanapun juga kita akan tetap jadi saudara tiri. Meski kita bersama 100 tahun pun kenyataan itu tak kan berubah bukan?!"

.

.

.

CHAPTER 2

Sarapan pagi ini terasa sangat mencekam dan canggung apalagi dengan 2 tuan muda yang dari tadi gerak geriknya sangat geradak-geruduk seakan sedang emosi atau sebagainya membuat adik bungsu mereka dan tuan besar di rumah itu menatap mereka risih juga heran.

"Kalian kenapa?" Tanya tuan Oh tenang sambil tetap menyantap sarapannya.

"Ani" jawab mereka berdua ketus.

"Kai oppa. Kau kenapa? Ketularan Sehun oppa ya? Kenapa wajahmu jadi ikutan masam begitu?" Tanya Sehyun polos.

"Aku selesai" ucap Sehun dingin sambil meletakkan pisau dan garpu secara kasar di meja.

"Aigo" desah tuan Oh lelah saat melihat Sehun berjalan keluar dan membuka pintu garasi dengan kasar untuk mengambil sepeda kesayangannya.

"Sebenarnya ada apa, Jongin-ah?" Tanya Tuan Oh menatap Jongin yang sedang melahap roti nya dengan tatapan nyalang.

"Tidak ada" jawab Kai dingin kemudian mengambil tasnya dan beranjak pergi.

"KAI OPPA! ANTARKAN AKU!" pekik Sehyun heboh kemudian berdiri lalu mencium pipi ayah kesayangannya sebelum akhirnya melesat pergi mengikuti Kai yang berada di garasi untuk mengambil mobilnya.

"Hhh.. anak-anak cepat dewasa" gumam Tuan Oh sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi makan.

"Sajangnim" Tuan Oh menoleh dan mendapati asistennya yang ia suruh untuk mengawasi Sehun dan Jongin sudah berdiri di belakangnya.

"Ya, tuan Seo. Ada apa?" Tanya Tuan Oh.

"Kemarin tuan muda Sehun pulang dengan keadaan seragam yang kotor dan penampilan yang acak-acakan" lapor tuan Seo sopan.

"Mwo? Ada apa dengannya? Apa anak-anak disekolah membully nya lagi?" Tanya tuan Oh sedikit geram.

"Sepertinya begitu, sajangnim" jawab tuan Seo pelan.

"Lalu... apa kau tahu apa yang terjadi dengan Sehun dan Kai?" Tanya Tuan Oh tanpa menatap asistennya itu.

"Saya tidak tahu sajangnim. Tapi, kemarin saya lihat tuan muda Jongin memasuki kamar tuan muda Sehun dengan wajah kalem namun beberapa menit kemudian saya melihat tuan Jongin keluar dari kamar tuan Sehun dengan wajah merah dan ia membanting pintu kamar tuan muda Sehun dengan cukup keras" jelas tuan Seo panjang lebar membuat tuan Oh sedikit-sedikit mengerti akar dari permasalahan kedua putra nya itu.

"Sepertinya mereka bertengkar" gumam tuan Oh sambil memijat pelipisnya.

.

.

.

Sehun memasuki gerbang sekolahnya dengan mengayuh sepeda kesayangannya namun baru beberapa meter dari dekat gerbang, ia langsung terjatuh dari sepedanya karena ada sebuah tali tambang yang tiba-tiba saja terentang di depannya.

Beberapa saat kemudian mulai bermunculan siswa yeoja maupun namja yang tertawa puas melihat Sehun terduduk di aspal dengan celana di bagian tumitnya yang sobek dan tumitnya mengalirkan banyak darah begitupun dengan sikutnya yang tertutup jas almamater.

"Hahahahaaa.. dasar namja beasiswa!" Tawa mereka semakin menjadi-jadi saat seseorang diantara mereka menyiram tubuh Sehun dengan air seember menyebabkan tubuh Sehun basah kuyup.

"Bawa korek api nya!" Perintah namja berambut merah yang dibajunya terdapat name tag bertuliskan 'Kim Seok Jin'

Salah satu dari mereka menyerahkan sebuah pematuk api pada namja bernama Kim Seokjin itu lalu seorang yeoja menyiramkan sebuah cairan dari sebuah botol pada sepeda Sehun.

Seokjin pun menyalakan pematuk api itu dan melemparnya ke sepeda Sehun dan…

WUUUSHHHH

Seketika sepeda Sehun terbakar dengan kobaran api yang sangat besar membuat tawa puas terdengar dari mereka semua.

Sehun melihat di depan matanya sendiri sepeda kebanggaannya terbakar begitu saja membuat hatinya hancur berkeping-keping.

"Sehun.. kemarilah sayang.." harabeoji memanggil Sehun kecil yang tengah bermain mobil-mobilan di halaman mansion mereka yang mewah bak istana ini.

Sehun menoleh dengan wajah polos kemudian menghampiri sang kakek yang sudah terlihat tua dan ringkih.

"Ne halabeoji?" Tanya Sehun yang masih cadel. Ia memeluk kaki harabeoji nya erat.

"Kakek ingin memberikan itu untuk Sehunie" harabeoji menunjuk sepeda yang tengah dituntun oleh seorang namja ber-jas hitam ke arah mereka.

"Sepeda?" Tanya Sehun kecil bingung dan hanya dibalas anggukan oleh sang kakek "tapi Sehunie masih kecil, halabeoji! Sepeda itu kan besal"

"Sehunie bisa belajar menaikinya jika Sehunie sudah besar nanti, ne?" Tanya sang kakek lembut sambil mengelus surai hitam legam milik cucu laki-lakinya ini.

"Ne halabeoji"

'Harabeoji..' batin Sehun menatap kosong ke arah sepedanya yang sudah hangus terbakar dimakan si jago merah.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak seorang yeoja bersurai coklat keemasan yang turun dari mobil limousine nya bersama seorang yeoja bersurai hitam yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan dan Baekhyun.

Luhan berlari menghampiri Sehun yang terdiam membatu sambil terduduk di aspal dengan tatapan kosong ke arah sepedanya yang sudah terbakar.

"Sehun-sshi" panggil Luhan sambil berjongkok di hadapan Sehun kemudian memegangi kedua bahu Sehun dan mengguncangnya pelan.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! KALIAN GILA, EO?!" teriak Luhan sambil berdiri dan menatap mereka dengan tatapan garang.

"Mau apa kau anak baru? Minggir!" Ucap salah seorang siswi berambut pirang sebahu.

"Kalian ini benar-benar tidak bermoral!" Desis Luhan dengan wajah yang sudah memerah sementara Sehun di belakangnya masih duduk dengan tatapan kosong.

"Memangnya kau siapa, eo?!" Tanya namja bernama Kim Seokjin meremehkan.

"Jin, dia putri tunggal Xi Qie Wa" bisik Jeon Jongkook tepat di telinga Seokjin membuat tubuhnya tiba-tiba kaku.

"Ayo Sehun-sshi.. kita pergi" ujar Luhan lembut namun Sehun tetap diam dan menatap kosong ke arah sepeda nya.

Luhan tak tahu kenapa Sehun begitu terlihat sangat kehilangan sepeda nya namun Luhan mengira Sehun merasa kehilangan karena mungkin sepeda itu adalah satu-satunya teman yang ia punya dan Luhan kira Sehun berfikir bahwa dia tak bisa membelinya lagi.

"Baek.. tolong bantu aku" ucap Luhan sambil berbalik menatap Baekhyun penuh harap.

Baekhyun segera menghampiri Sehun dan segera membantunya berdiri bersama Luhan dan menuntunnya untuk masuk ke limousine dan mereka pun berbalik pergi dari sekolah menuju apartemen Baekhyun di daerah Hakdong yang tak jauh dari mansion kakek mereka.

Tanpa mereka ketahui seorang yeoja berambut hitam sepinggang menatap kejadian dimana Luhan menolong Sehun dari balkon lantai 2 sekolah ini dengan pandangan tidak suka.

"Kau kenapa Krys?" Tanya seorang yeoja sambil menepuk bahu yeoja itu.

"Ani" jawabnya singkat.

"Wahh.. wahh.. Seokjin CS memang tak berperasaan ya dalam membully si anak beasiswa itu. Tapi aku senang" ujarnya sambil melihat ke arah dimana sepeda Sehun dibakar tapi ia tak tahu kemana sekarang sang pemilik sepeda karena dia sama sekali tak melihatnya di sekitar sana.

"Tck" decak yeoja berambut hitam itu yang membuat temannya itu heran.

"Wae? Jangan bilang kau menyukai namja beasiswa yang miskin itu, Krystal Jung?" Tanya yeoja bername tage Luna itu dengan tatapan memicing.

"What? I-itu tak mungkin lah! Kau jangan mengada-ada!" Sangkal Krystal gengsi kemudian melengos begitu saja meninggalkan Luna yang masih penasaran itu.

"Baek.. dimana kotak obatnya?" Tanya Luhan panik sambil mencoba mencari kotak P3K di laci-laci nakas dan lemari yang ada di apartemen mewah Baekhyun ini.

"Kurasa aku tidak punya, Lu. Kau tahu kan jika aku jarang berada disini?!" Jawab Baekhyun yang mendudukan tubuh tinggi semampai milik Sehun di sofa empuknya. Baekhyun tak sadar dengan tatapan Luhan yang kesal padanya "biar aku beli saja Lu. Di bawah sana kurasa ada apotek. Kau tunggu sebentar ya?" Ucap Baekhyun kemudian mengambil tas selempangannya dan berlari keluar dari apartemen yang ada di lantai 17 ini.

"Astaga. Kuharap Baekhyun cepat datang" gumam Luhan cemas sambil menghampiri Sehun yang hanya duduk diam di sofa dengan pandangan kosong.

Ia bisa melihat darah yang mulai mengering di tulang pipi Sehun, sikut dan juga tumit nya yang seputih salju itu.

Luhan mengambil kotak tissue basah lalu membersihkan darah pada luka Sehun dengan hati-hati namun tetap menyebabkan erangan kecil dari Sehun karena merasa perih saat luka nya yang masih basah terkena tissue basah.

"Mianhae.. aku akan lebih hati-hati" ucap Luhan dengan wajah menyesal kemudian melanjutkan membersihkan darah yang mulai mengering itu sampai di tulang pipi namja bermarga Oh ini.

Ia merasa jantungnya bekerja tidak normal saat melihat paras tampan Sehun dengan rambut yang sedikit acak-acakan menambah kesan seksi pada namja berkulit pucat ini apalagi saat Sehun menatap manik matanya membuat Luhan salah tingkah dan untungnya tepat pada saat itu Baekhyun datang dengan membawa sekantung obat-obatan dan alat yang diperlukan Sehun membuat ia bisa menghilangkan rasa canggungnya.

"Eo? Kau sudah membersihkan luka Sehun dengan tissue?" Tanya Baekhyun saat melihat luka Sehun hanya meninggalkan bekas kemerah-merahan yang membuatnya ngilu sendiri "ige.. bersihkan lagi dengan alkohol" ujar Baekhyun sambil menyerahkan kantung plastik itu pada Luhan.

"Ssshh.." ringis Sehun begitu Luhan membersihkan lukanya -untuk yang kedua kalinya- menggunakan alkohol.

"Sakit ya?" Tanya Luhan dengan wajah innocent nya membuat Sehun merasa malu sendiri tapi disisi lain juga kesal karena pertanyaan konyol Luhan.

"Oh ya Lu... hari ini kita membolos, bagaimana?" Tanya Baekhyun sambil menggigiti kuku jari nya "Chanyeol pasti akan mengamuk kalau dia sampai tahu aku membolos" gumam Baekhyun yang masih dapat di dengar oleh Sehun juga Luhan.

'Dia kekasihnya Chanyeolie?' Batin Sehun sambil melirik Baekhyun dengan ekor matanya.

"Molla. Telepon saja Yixing atau Kyungsoo. Katakan kalau kita ada kepentingan mendadak" jawab Luhan sambil memberi obat merah pada luka Sehun membuat sang empu kembali meringis di buatnya.

"Hmm.. aku akan telepon Kyungsoo saja. Yixing jarang mengangkat telpon kalau aku menelponnya" dengus Baekhyun kemudian mengambil ponsel canggihnya.

"Oh ya.. apa yang terjadi sebenarnya hingga mereka membakar sepedamu?" Tanya Luhan hati-hati dan langsung mendapat tatapan tajam dari Sehun "oh baiklah kalau kau tak mau bicara. Tak apa" ucap Luhan cepat dengan senyum anehnya.

"Lu.. kira-kira Sehun suka apa ya?" Bisik Baekhyun di telinga sepupu imutnya itu saat Luhan telah selesai mengobati luka Sehun dan membalutnya dengan kain kasa juga plester.

"Maksudmu?" Tanya Luhan tak mengerti.

"Aish. Sehun pasti butuh makanan, Lu" ujarnya tetap berbisik takut Sehun mendengarnya.

'Cerdas sekali Baekhyun. Aku bahkan tak kefikiran untuk memberi Sehun makanan' batin Luhan.

"Entahlah. Orang sakit biasanya makan apa?" tanya Luhan balas berbisik.

"Bubur paling" jawab Baekhyun cuek.

"Yasudah beli itu saja sana!" Usir Luhan.

"Eh? Aku lagi?" Tanya Baekhyun tak percaya "yasudahlah. Nikmati saja ya wajah Oh Sehun itu" ejek Baekhyun sambil tersenyum jahil dan dengan sengaja mengeraskan suaranya membuat Sehun dapat mendengarnya dan langsung menatap mereka berdua dengan tatapan datar namun ekspresi penuh tanya.

"YAKK!" teriak Luhan tak terima namun Baekhyun sudah duluan kabur dan memilih untuk membeli makanan untuk Sehun.

"Kenapa kau menolongku?" Cicit Sehun dengan suara datarnya ketika Luhan sedang membereskan alat-alat yang baru saja digunakan untuk mengobati luka Sehun.

"Eo?! Aku hanya... eunggg.. entahlah.. mungkin karena aku tak suka penindasan" jawab Luhan gelagapan. Ia juga tidak tahu kenapa hatinya begitu tergerak saat melihat Sehun dibully.

"Kukira semua orang kaya sama saja" sindir Sehun membuat Luhan menatap namja tampan itu dengan tatapan tak mengerti.

"Jangan samakan aku dengan orang lain. Aku tidak suka" balas Luhan. Ia memang sangat sensitif jika ada orang -siapapun itu- yang menyamakan dirinya dengan orang lain, ia sangat tidak suka dibanding-bandingkan karena ia bukan barang.

Luhan melengos pergi meninggalkan Sehun di ruang tamu dan pergi ke kamar yang tak jauh dari sana.

Ia mengambil sebuah baju laki-laki yang berukuran mungkin sama dengan Sehun yang berwarna biru dongker dengan celana jeans selutut bermotif tentara kemudian kembali lagi ke hadapan Sehun dan memberikan pakaian itu.

"Ganti pakaian mu. Bajumu itu basah, kau bisa masuk angin gara-gara itu" ucap Luhan ketus karena ia masih kesal akan perkataan Sehun tadi.

Sehun mengambil baju yang entah milik siapa itu, ia berfikir mungkin baju itu milik kekasih Luhan. Ia tak ambil pusing karena perkataan Luhan memang benar, ia membutuhkan baju ganti dan Sehun pun segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi setelah sebelumnya ia menanyakan letak kamar mandi nya pada Luhan meski dijawab ketus oleh Luhan.

Sehun kembali beberapa menit kemudian dengan pakaian yang sudah ia ganti. Pakaian yang diberikan Luhan memang agak kebesaran tapi tidak terlalu juga, namun Luhan melihat pakaian itu cocok ditubuh Sehun apalagi dengan warna baju nya yang kontras dengan kulit Sehun yang putih.

Hanya satu kata yang saat ini terlintas di otak yeoja blasteran Korea-China itu, 'tampan'.

"Apa yang kau lihat?" Tanya Sehun dingin ketika merasa Luhan memperhatikan dirinya dengan tatapan yang errrrrrrrrhhh.. terpana mungkin?

"Tidak ada" jawab Luhan ketus sambil memalingkan wajahnya yang sudah merona karena tertangkap basah oleh Sehun tengah memperhatikan wajah tampannya.

Tit ~

Untungnya Baekhyun selalu menjadi penyelamat Luhan di saat keadaan canggung seperti ini.

"Itu kan bajunya Kris gege? Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Baekhyun heran saat melihat Sehun tengah memakai pakaian sepupunya, Baekhyun masuk sambil membawa sekantung 3 makanan cup yang diduga Luhan adalah bubur.

"Seharusnya aku yang bertanya. Kapan Kris ge menginap disini?" Tanya Luhan sambil memicingkan matanya.

"Entahlah. Kalau tidak salah saat liburan musim panas tahun lalu" jawab Baekhyun acuh sambil meletakkan kantung plastik itu di meja.

"Kenapa tidak di mansion saja? Seperti tidak punya keluarga saja" decak Luhan.

"Kau tahu lah Kris ge bagaimana" balas Baekhyun cuek "ini.. makanlah Sehun-sshi" ujar Baekhyun sambil menyerahkan satu cup bubur pada Sehun, satu pada Luhan dan satu lagi untuknya.

"Tidak, terimakasih" tolak Sehun dingin.

"Dasar keras kepala" desis Luhan sebal kemudian mengambil cup bubur Sehun dan membukanya lalu berusaha menyuapi Sehun namun namja itu menolak.

Sehun tidak suka bubur karena menurutnya bubur itu identik dengan orang sakit meski bubur yang dibelikan Baekhyun ini terlihat sangat enak karena ditambah dengan toppings yang lengkap, yaitu potongan daging ayam, daging sapi, telur dan ati ampela serta sayuran yang dipotong kecil-kecil.

"Kau harus makan Sehun" paksa Luhan keukeuh namun Sehun juga sama keukeuhnya untuk tetap menutup bibir tipisnya rapat-rapat.

"Cium saja dia agar membuka bibirnya" celetuk Baekhyun santai sambil tetap menyantap buburnya.

Luhan dan Sehun sontak menoleh pada Baekhyun dan melayangkan tatapan death glare mereka.

"Aku selesai. Sebentar ya aku mau kebawah dulu" ujar Baekhyun mengambil tas selempangnya dan pergi keluar apartemen begitu saja seolah tidak melakukan apapun.

"Ayolah Oh Sehun. Satu suap saja" bujuk Luhan namun Sehun tetap enggan membuka mulutnya.

"Kenapa sih kau begitu memaksa?" Tanya Sehun menatap Luhan jengah.

"Aku hanya..." Luhan menggantungkan ucapannya, ia sendiri tidak tahu kenapa ia begitu ingin Sehun mengisi perutnya "...khawatir" bisik Luhan yang tak dapat terdengar oleh Sehun.

Luhan mengambil ponselnya dan mencari kontak bernama 'Kim Jong Hyun' kemudian menekan tombol 'call'

"Yeobosseo Jonghyun-sshi"

"Emm.. aku mau minta tolong"

"Kau punya kartu kredit cadanganku kan? Harabeoji pasti memberinya kan?"

"Tolong kau belikan seragam sekolahku untuk laki-laki"

"Emm.. untuk ukurannya... kau tahu kan Kris gege?"

"Iya ukurannya kurang lebih ukuran bajunya Kris gege"

"Yasudah.. terimakasih ya"

Pip ~

Luhan menatap Sehun dengan tatapan setengah kesal kemudian melengos begitu saja menuju dapur membuat Sehun mengernyit.

'Yeoja aneh' fikir Sehun.

"AAAAAAAAAAA" Teriak Luhan dari arah dapur membuat Sehun kaget lalu bergegas menghampiri yeoja imut itu takut terjadi apa-apa dengannya.

Eh? Takut terjadi apa-apa? Memang apa peduli Sehun?

"Ada apa sih?" Tanya Sehun datar saat melihat Luhan sudah meringkuk takut diatas meja dapur.

"I-itu.. ada kecoak. Aku takut Sehun..." ucap Luhan takut sambil menunjuk lantai dapur yang memang disana Sehun bisa melihat ada seekor kecoak yang berkeliaran.

Sehun memutar bola matanya malas kemudian menatap Luhan dengan tatapan yang seolah mengatakan 'kau sangat keterlaluan! Masa ketakutan seperti itu hanya karena seekor kecoak'

"Buang kecoak itu Sehun" pinta Luhan setengah merengek.

Sehun berjalan menghampiri kecoak yang berjalan dengan cepat itu lalu menginjaknya dengan kaki telanjangnya sampai kecoak itu mati.

Sehun mengambil kecoak itu dan memegang bagian tanduknya yang panjang kemudian mendekatkan kecoak itu pada Luhan.

"YAKKK! JAUHKAN ITU OH SEHUN!" pekik Luhan histeris membuat Sehun menyeringai dan semakin menjahili Luhan sampai yeoja itu menangis sesenggukan.

"Hey.. sudahlah.. hentikan air matamu itu! Aku jadi terlihat seperti seorang namja brengsek yang memperkosa siswi SMA" gerutu Sehun yang langsung mendapat pukulan-pukulan dari bantal sofa yang dilayangkan oleh Luhan.

"Kau.. hikss.. jahat.. hikss" ucap Luhan sesenggukan. Ia masih shock akan insiden kecoak di dapur beberapa menit lalu dan sampai saat ini belum bisa menghentikan tangisannya apalagi dengan kata-kata pedas dari Sehun yang semakin membuat ia menangis.

"Aishh! Jinjja" gumam Sehun jengah kala melihat Luhan terus menumpahkan sungai air mata di pipi mulusnya.

Dan entah mendapat ilham darimana, Sehun mendekat ke arah Luhan dan menghapus air mata di pipi Luhan dengan kedua ibu jarinya yang kokoh membuat Luhan terdiam membisu.

"Jangan menangis lagi ne? Maafkan aku soal kecoak tadi. Aku hanya bercanda" bisik Sehun sambil menatap Luhan tepat di manik matanya membuat Luhan terdiam membisu.

Ting Tong ~

Ting Tong ~

Suara bel apartemen Baekhyun memecahkan kecanggungan Luhan saat ini, ia sangat bersyukur dalam hati ada seseorang yang menekan bel itu membuat Luhan mempunyai alasan untuk menghindari Sehun untuk beberapa menit.

Luhan pun menghapus sisa air matanya dan beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang karena Baekhyun tidak mungkin menekan bel terlebih dahulu jika ingin masuk ke apartemen nya sendiri.

Pip ~

"Jonghyun-sshi?" Gumam Luhan dengan suara seraknya.

"Nona.. ini seragamnya" ujar Jonghyun sedikit ragu saat melihat wajah Luhan yang sembab.

"Ne.. terimakasih ya Jonghyun-sshi" balas Luhan sambil menerima paper bag yang diberikan oleh Jonghyun kemudian menutup kembali pintu apartemen Baekhyun membuat Jonghyun mengernyit heran.

"Ini" Luhan menaruh paper bag itu disebelah Sehun dengan ketus membuat namja itu menaikkan sebelah alisnya.

"Ige mwoya?" Tanya Sehun bingung.

"Itu seragam. Aku sengaja belikan untuk mengganti seragammu yang lama karena sudah tak layak pakai" ujar Luhan sambil mengambil seragam Sehun yang sudah lusuh dan sobek kemudian membuangnya ke tong sampah.

"Tapi akuㅡ"

"Sudahlah Oh Sehun! Sekali ini saja terima kebaikanku" potong Luhan dengan wajah ditekuk kesal.

Sehun hanya terdiam setelah Luhan berkata demikian lalu menatap paper bag berisi seragam itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

.

.

.

Kyungsoo berjalan berdua bersama Yixing menuju ke perpustakaan dengan saling berbincang-bincang.

"Sebenarnya Baekhyun dan Luhan pergi kemana ya? Aku tidak yakin jika mereka ada kepentingan mendadak" ujar Kyungsoo sambil memiringkan kepalanya lucu.

"Kau tidak tahu ya? Pagi tadi Luhan dan Baekhyunㅡ ahh lebih tepatnya Luhan menolong Sehun yang kembali di bully" jelas Yixing yang langsung membuat Kyungsoo berhenti berjalan dan melebarkan kedua mata owl nya.

"Jinjjayo?" Tanya Kyungsoo dengan ekspresi yang menurut Yixing sangat errrrr.. berlebihan mungkin?

"Kurasa setelah ini akan ada masalah" ucap Yixing sambil menatap lurus kedepan tanpa menghiraukan pertanyaan Kyungsoo.

.

.

.

Seorang namja tinggi berambut pirang baru saja keluar dari bangunan sekolah mewah yang sudah menjadi tempatnya menuntut ilmu selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini.

Ia duduk di kelas akhir sebuah sekolah seni bernama Modern High School yang terletak di LA.

Sekolah yang mendapat label sebagai sekolah termahal dan termewah kedua di dunia ini sudah menjadi tempatnya menuntut ilmu selama ini.

Dia kaya? Tentu saja.

Tampan? Sudah pasti.

Pintar? Sudah sangat terbukti.

Namja itu memasuki mobil Mclaren P1 berwarna kuning kebanggaannya dengan tanpa lepas dari tatapan takjub banyak yeoja yang berpakaian seksi yang terus mengikuti setiap langkah kakinya.

Tentu saja, siapa yang tidak tertarik? Paras tampan, tinggi semampai, blasteran, keturunan konglomerat, dan berotak encer. Dia sempurna Demi Tuhan! Namun sayang, yang menjadi cacatnya adalah sikapnya yang dingin dan sekeras batu terkecuali jika dihadapkan dengan kedua sepupunya yang amat ia sayangi.

Ia mengambil ponselnya di dashboard mobil sambil tetap fokus mengemudi karena merasa jika ponselnya berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.

"Hallo, Baek" raut wajah namja blasteran ini berubah ramah saat menerima telepon dari salah satu sepupu tersayangnya.

"I don't know"

"Yes, of course"

Namja itu mematikan sambungan teleponnya lalu melajukan mobilnya semakin cepat menuju apartemennya.

.

.

.

Sehun melangkahkan kakinya memasuki mansion mewah yang menjadi tempal tinggalnya selama ini.

Suasana mansion ini sangat sepi mengingat sekarang masih tengah hari dan pasti semua anggota keluarganya sedang sibuk melakukan aktifikas mereka di luar sana termasuk asistennya yang menyebalkan itu -karena selalu mengadukan segalanya pada ayahnya- pasti dia juga sedang sibuk bekerja di kantor.

Hanya terlihat beberapa maid yang tengah membersihkan mansionnya yang sebenarnya sudah bersih ini tapi karena pekerjaan mereka maka mau tidak mau mereka harus tetap membersihkan mansion ini meskipun sudah sebersih apapun.

"Tuan muda. K-kenapa anda sudah pulang?" Tanya salah seorang maid gelagapan.

"Aku tidak sekolah. Tidak enak badan" bohong Sehun yang melengos begitu saja menuju kamar mewahnya.

Sehun berdiri di depan cermin besar di hadapannya dan menatap lekat seragam yang saat ini ia kenakan. Tidak.. seragam ini tidak aneh. Bahkan masih baru.

Hanya saja...

Ini pemberian Luhan.

Ya, Xi Luhan.

Yeoja yang sempat ia buat menangis hanya karena seekor kecoak.

Entah kenapa Sehun merasa tubuhnya bereaksi tidak normal ketika dirinya memikirkan Luhan.

Yeoja sok tahu yang selalu memaksanya ini itu dan membuat kesan pertama Sehun terhadapnya miring karena sempat mengotori seragam Sehun dengan ban mobil mewahnya.

Tapi Sehun akui, bahwa Luhan memang berbeda.

Saat pertama kali bertemu, Luhan meminta maaf karena telah membuat seragam Sehun basah dan kotor bahkan yeoja mungil itu sempat menawarkan sapu tangan yang berhiaskan nama 'Xi Luhan' itu untuk membersihkan seragamnya hanya saja Sehun mengabaikannya dan memilih pergi begitu saja. Sementara mungkin jika orang lain yang membuat kesalahan maka tak akan meminta maaf padanya apalagi siswa siswi di sekolahnya yang menganggap rendah padanya karena ia dikenal sebagai namja beasiswa yang miskin.

Dan tadi pagi Luhan menolongnya saat ia kembali di bully dengan keterlaluan oleh siswa siswi disekolahnya.

Bahkan Luhan sempat berteriak pada mereka yang membully Sehun padahal Luhan tidak tahu apa-apa dan ia yakin bahwa teman-teman barunya yang tak lain dan tak bukan adalah Yixing dan Kyungsoo ataupun Baekhyun juga pasti sudah memberitahu siapa dia tapi anehnya ia tetap menolongnya meski sudah tahu Sehun adalah namja beasiswa yang miskin.

Entah kenapa sisi lain di diri Sehun mengatakan bahwa Luhan berbeda dengan yeoja lain yang selalu di anggap Sehun sama saja karena melihat harta tapi ego Sehun menolak pernyataan itu dan tetap beranggapan bahwa Luhan itu sama dengan mereka, yeoja yang hanya memandang harta dan sombong.

Gadis itu bahkan sempat kesal padanya karena menyamakannya dengan yang lain tadi pagi.

"Jangan samakan aku dengan orang lain. Aku tidak suka"

Ahh.. tapi apa peduli Sehun? Luhan suka atau tidak dengan bagaimana anggapan Sehun terhadapnya kan itu bukan urusannya.

Sehun mendudukkan dirinya di ranjang empuk miliknya, terlalu enggan untuk memikirkan tentang Luhan lebih jauh lagi.

Sehun tertegun mendapati sebuah bingkai foto sebuah sepeda gunung berwarna putih yang terdapat dalam foto itu yang terpajang di nakas sebelah ranjangnya.

Ingatannya kembali terputar pada kejadian tadi pagi dimana sepeda kesayangannya dan kebanggaannya itu dibakar begitu saja didepan matanya dan bodohnya ia tak bisa melakukan apapun, hanya dapat menatap kejadian itu dalam diam.

"Harabeoji! Jangan tinggalkan Sehun! Harabeoji harus bertahan.. hikss"

"Sehunie.. uljima.. uhukk.. kau itu namja jadi tak boleh menangis ne? Uhuk.. uhukk.."

"T-tapi.. har-aahh-beo-hhhji.. Sehun tak ingin kehilangan harabeoji.. hikkss.. jangan pergi.. hikss"

"Ssstt.. semua yang hidup pasti akan kembali pada-Nya Hunie.. maafkan Harabeoji karena tak bisa menjaga Sehunie lebih lama"

"A-ahh-and-whhhaaee! hiks.. J-jha-jangan bicara seperti itu harabeoji. Sehun tak ingin kehilangan harabeoji. Hikkss.. hikss"

"Harabeoji tak akan pergi Sehunie.. harabeoji akan selalu ada di hati Sehunie, percayalah sayang"

"T-tapi... hikkss"

"Ssstt.. jangan menangis lagi. Harabeoji ingin Sehun berjanji sesuatu pada harabeoji"

"Hikss.. a-apa itu harabeoji?"

"Jagalah sepeda yang harabeoji berikan untuk Sehunie.."

"Ne harabeoji.. Hunie pasti akan menjaganya"

"Terimakasih kalau begitu, Sehunie sayang. Uhuk.. uhuk.. uhukk uhuuukkk"

"Harabeoji... harabeoji! HARABEOJI! IREONA! ANDWAEEEE!"

"hiks.. harabeoji.. mianhae" gumam Sehun sambil menangis pilu serta memeluk bingkai foto sepeda itu kala mengingat jika permintaan terakhir kakeknya tak bisa ia penuhi.

"Sehun memang bodoh harabeoji. Maafkan Sehunie" tangis Sehun sambil memejamkan matanya erat berharap rasa sakit hatinya dapat ikut keluar bersama mengalirnya air matanya.

.

.

.

"Attention please!" Pinta yang berumur sekitar 30 tahunan itu sambil menatap lekat 40 muridnya yang senang sekali mengobrol saat belajar.

Seketika suara berisik di kelas hilang saat mereka menyadari tatapan tajam dari yang membuat mereka naik ke mode 'siaga'.

"Okay, can we start studying for today, my students?" Tanya dengan menekannya kata 'my students'-nya barusan.

"Yes, sir" jawab semua serempak termasuk Luhan yang sebenarnya sedang tidak mood itu.

"Okay, thank you. Please, open your book page 117" titahnya yang langsung dilakukan oleh seluruh siswa didalam kelas 12 Language 1 ini.

"Please, make a group with your friends! The group comprises for a maximum 5 people and for a minimum is 3 people. You understand?" Tanya serius.

"Yes, sir" jawab seluruh siswa dan langsung saja membuat sebuah kelompok sementara Luhan dan Yixing hanya terdiam di bangku mereka karena tak tahu akan berkelompok dengan siapa.

Tiba-tiba saja seorang namja tampan berambut hitam dengan bentuk wajah yang seperti kotak itu duduk di hadapan mereka.

"Watashi wa, anata no gurūpu ni sanka suru koto wa dekimasu ka? (Bolehkah aku bergabung dengan kelompok kalian?)" Tanyanya yang membuat Yixing gelagapan.

"Yeah, no problem" jawab Yixing kaku membuat namja itu mengernyit.

"Kenapa menjawabnya dengan bahasa inggris?" Tanya namja bername tag Kim Jong Dae itu.

"Aku.. aku hanya mengerti bahasa jepang namun tidak bisa merangkai kata-katanya" jawab Yixing sambil mengangkat bahunya.

"Oh baiklah" jawab Jongdae cuek "annyeonghaseyo. Kim Jong Dae imnida. Kita baru bertemu kali ini ya? Saat kau pindah kesini aku tidak masuk sekolah dan kemarin malah kau yang tidak masuk jadi kita baru bertemunya hari ini" celoteh Jongdae panjang lebar sambil mengulurkan tangannya membuat Luhan senang dengan sikap Jongdae yang sepertinya cerewet ini.

"Ne, Xi Luhan imnida" balas Luhan ramah sambil membalas uluran tangan Jongdae dan saling berjabat tangan.

"Panggil saja aku Chen. Kau orang China ya?" Tanya Jongdae atau Chen antusias.

"Hmm.. begitulah. Aku peranakan China-Korea" jawab Luhan enggan "kau sepertinya sudah sangat hafal bahasa Jepang" Lanjutnya.

"Tentu saja. Dia juga peranakan sepertimu. Hanya saja dia peranakan Jepang-Korea seperti Baekhyun" sambar Yixing yang berusaha berbaur.

"Oh benarkah? Aku tak tahu jika di sini banyak blasteran" kekeh Luhan tanpa menyadari jika sejak tadi memperhatikan mereka dengan tatapan tajam.

"Xi Luhan! Can you do presentation result about your discussing group in front of class?" Tanya dengan sebelah alis terangkat.

Luhan yang tengah larut dalam percakapan nya dengan Yixing dan Chen pun langsung kaget begitu mendengar pertanyaan yang lebih seperti sebuah instruksi.

"Y-yes, sir. I can do it" jawab Luhan gelagapan.

'Sial.. sial.. sial.. Apa yang harus aku Presentasikan? Berdiskusi saja tidak' batin Luhan sambil mengambil buku paketnya dan menuju ke depan kelas berharap dewi fortuna sedang memihak padanya.

.

.

.

"Kalian bisa melihat hasil ulangan kalian di mading" ujar seorang wanita berparas cantik namun sayang wajahnya sangat datar dan dingin.

Setelah berkata barusan sebagai penutup dari sesi mengajarnya kali ini, Ia pun melangkah pergi dari kelas 12 Sains 1 ini.

Setelah kepergian , keadaan dikelas jadi agak berisik dengan bisikan-bisikan sinis penghuni kelas 12 sains 1 yang tengah ribut membicarakan siapa yang mendapatkan nilai terbesar di ulangan kali ini.

Mereka harap kali ini bukan lagi Sehun ㅡsi namja beasiswaㅡ atau Suho ㅡsi namja berkepribadian gandaㅡ yang mendapat nilai ulangan terbesar.

Meski mereka semua satu kelas, tapi di kelas Sains 1 yang merupakan kelas unggulan ini sama sekali tidak ada yang namanya pertemanan atau sebagainya.

Mereka saling bersaing satu sama lain sekalipun itu Suho yang kelihatan santai-santai saja namun sebenarnya ia juga sangat bersaing dengan Oh Sehun yang selalu dapat menyainginya apalagi setelah Suho tahu identitas asli Sehun beberapa bulan lalu saat ia masih duduk di kelas 11.

Saat itu malam minggu dan Suho mendapat amanat dari Appanya untuk mengantarkan adik sepupunya Kim Tae Hee ke sekolahnya karena katanya disekolah Taehee ㅡSeoul of Performing Artsㅡ sedang mengadakan sebuah acara drama musical yang menampilkan berbagai talenta siswa SOPA dan Taehee pun menjadi bagian dari pertunjukan itu.

"Hyung.. terimakasih telah mengantarku. Aku jadi merasa merepotkanmu" ujar Taehee tak enak saat mereka telah sampai di gerbang SOPA.

"Aigo. Jangan sungkan padaku Tae-ya. Santai saja" balas Suho sambil mengusap surai coklat sepupu yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri ini.

"Kau memang selalu baik hyung" ucap Taehee yang hanya dibalas senyuman manis oleh Suho.

Tiba-tiba saja pandangan Suho terpaku pada seorang namja berkulit pucat yang baru saja keluar dari mobil sportnya bersama seorang yeoja yang memakai pakaian seragam sama seperti Taehee.

"Kau mengenalnya Taehee?" Tanya Suho sambil menunjuk kepada namja dan yeoja yang tengah mengobrol di dekat mobil sport yang diduga milik sang namja.

"Yang mana? Yeoja itu? Atau yang namja?" tanya Taehee bingung.

"Keduanya" jawab Suho cepat.

"Yang yeoja itu satu kelas denganku, namanya Oh Se Hyoon dan yang namja aku kurang tahu. Banyak yang bilang itu kakaknya Sehyun tapi itu masih rumor" jawab Taehee membuat Suho mengernyit.

"Maksudmu yeoja itu putri bungsu tuan Oh Se Yong?" Tanya Suho tak percaya.

"Iya"

"Lalu namja itu.. apa dia sering mengantar yeoja itu?"

"Tidak hyung. Aku hanya pernah melihat beberapa kali Sehyun dijemput olehnya dengan mobil itu saat Sehyun pulang lebih dari jam 8 malam karena kelas kami terkadang suka mendapat acara tambahan. Dan aku selalu lihat ia memakai pakaian seragam yang sama sepertimu hyung. Namja itu tak pernah menunjukan dirinya secara gamblang, kadang ia seperti artis yang diikuti paparazi dan memakai kacamata, masker atau topi" jelas Taehee panjang lebar membuat Suho yakin jika ia tidak salah lihat "memangnya ada apa? Hyung mengenalnya?" Tanya Taehee membuat Suho menggeleng cepat.

"Tidak. Cepat kau masuk nanti acaranya keburu dimulai" ucap Suho sambil tersenyum menyembunyikan raut herannya.

"Ne.. sekali lagi terimakasih telah mengantarkanku hyung. annyeong" Taehee pun membuka pintu mobil Suho dan berlari kedalam sekolahnya sementara Suho masih tetap terdiam tanpa melajukan mobilnya kala melihat mobil seorang namja yang ia curigai sudah melesat pergi dari kawasan SOPA.

"Oh Se Hyoon? Oh Se Hoon? Bahkan nama mereka mirip" gumam Suho sambil memijat pelipisnya.

Suho yakin matanya tak salah lihat, namja yang bersama teman sekelas Taehee Sehyoontadi adalah Oh Sehun.

Ia sudah bersama dengan namja itu selama 2 tahun kurang di kelas yang sama dan Suho yakin jika namja tadi adalah Sehun jika dilihat dari ciri-cirinya apalagi tadi Taehee bilang ia pernah melihat namja itu memakai seragam yang sama seperti Suho.

Marga Sehun dan Sehyoon sama, bahkan nama mereka hampir sama.

Siapa sebenarnya Oh Sehun itu?

'Apa tujuanmu menyamar seperti ini Oh Sehun?' batin Suho menatap Sehun yang sedang duduk sambil membaca buku dibangkunya di pojok belakang dengan tatapan tajam

Tidak, Suho tidak benci pada Sehun. Hanya saja ia merasa risih dengan Sehun yang sebenarnya adalah putra sulung kandung dari Oh Se Yong yang merupakan orang terkaya nomor 1 di Asia Timur malah menyamar menjadi namja miskin dan dibully seperti ini dengan tidak elite nya.

Bayangkan saja bagaimana reaksi seluruh siswa disini yang gemar membully Sehun saat tahu jika sebenarnya Sehun adalah putra dari pemilik sekolah ini.

'Dasar Oh Sehun babo'

"Kaja kita ke kelas seni dulu, Lu" ajak Yixing sambil menepuk bahu Luhan yang wajahnya terlihat sangat pucat pasi "Aigo.. sudahlah.. lagipula presentasi mu bagus Lulu" ujar Yixing yang mengerti jika Luhan masih shock karena presentasi mendadaknya beberapa menit lalu yang menurut Yixing dan Jongdae cukup bagus karena Luhan tidak menyiapkan materinya terlebih dahulu.

"Kaja" Yixing menarik Luhan agar tak terus memikirkan tentang presentasi barusan menuju ke kelas Kyungsoo namun di tengah jalan Luhan menghentikan langkah kakinya membuat Yixing yang menarik lengannya heran kemudian berbalik menatap Luhan.

"Waeyo Lu?" Tanya Yixing heran.

"Ada apa itu, Yixing-ah?" Tanya Luhan sambil menatap selembar kertas berisi tulisan yang tak terlihat ㅡkarena ia berdiri di kejauhanㅡ yang baru saja ditempel oleh seorang yeoja berpakaian guru di sebuah mading.

"Eh? Entahlah. Mungkin semacam pengumuman atau nilai hasil ulangan. Disini memang begitu, Lu. Setiap data nilai hasil ulangan selalu di tempel di mading oleh guru yang bersangkutan" jawab Yixing acuh.

"Aku ingin lihat" Luhan melepas genggaman tangan Yixing kemudian berjalan mendekat ke arah papan pengumuman.

"Siapa yang nilainya paling besar?" Tanya Yixing sambil menghampiri Luhan.

"Eh? Oh Se Hoon?"

-To Be Continue-

Next Part :

"tentu saja Lu. Makanya dia ada dikelas unggulan. Kau juga tahu kan dia mendapat beasiswa penuh selama 3 tahun? Itu karena otaknya yang seencer minyak sayur, Lu"

"tapi.. tunggu, bukannya kau bilang 'couple dance'? Berarti berpasangan kan? Nugu? Siapa yang menjadi pasanganmu?"

"Maaf Bomi-sshi. Tapi jalan kita sudah berbeda dan aku tidak lagi mengharapkan mu. Aku sudah punya yeojachingu jadi kumohon jangan usik kehidupanku lagi. Lagipula kita sudah berakhir bukan? Dan itu keinginanmu kan?!"

"Aaaaa... Luhan jatuh cinta... jatuh cinta.. jatuh cinta pada Oh Sehun!"

"Hey.. kau buta? Kau tak lihat aku sedang apa?"

"Aku bersyukur seandainya mulut beracunku ini dapat meracunimu"

"Sehun.. bukan hanya appa yang akan marah. Tapi juga Sehyoon. Dia pasti akan sangat kecewa jika tahu kau kembali balapan liar"

"Kau fikir aku laki-laki apa Kai? Ini soal harga diri! Jika aku mundur maka si GD itu akan mudah memperolokku"

"Yes, I'm sure. General Byun wanted me comeback to Korea."

"Kenapa Lu? Baru tahu Jongin putra tuan Oh?"

"Jadi.. Luhan, apa hobby mu? Apakah senjata api seperti Baekhyun?"

'Astaga! Aku lupa tuan Sehun ada disini. Kenapa dia bisa ceroboh begitu'

"YAKKK! KIM JOON MYEON! ENYAH KAU DARI DUNIA INI!"

"Kau kan sepupunya, KIM KAI!"

"nan mollayo. Mungkin dia akan semakin mengamuk jika saja aku menanyakan hal itu. Jadi benar yeoja itu Park Bomi? "

"tentu saja, aku sepupumu Luhan! Bukankah diantara kita tak ada yang disembunyikan?!"

Note :

Makasih yang udah review di chapter 1. Ya Meski pun terhitung sangat sedikit tapi author tetep seneng. Yaaaa.. author anggap ini sebuah permulaan untuk karier author di dunia fanfiction (?).

Sedih juga sebenernya banyak siders di ff author soalnya pas liat views nya banyak banget tapi yang review cuma beberapa.

Tapi.. author akan tetep lanjutin ff ini kok. Author gak akan ngecewain kalian para reader-nim.

Oh ya, untuk kata yang bercetak miring itu artinya suara batin atau kata yang penting atau janggal (?)

Kalau yang bercetak miring plus di bold, itu tandanya masa lalu alias flash back.

Annyeong..

See ya..